Anda di halaman 1dari 58

KRITERIA, PENEMPATAN BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN

JENIS BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

1. Komponen Tata Ruang


A. Kebijakan Tata Ruang
B. Penggunaan Lahan
C. Transportasi
D. Kegiatan lain di sekitar

2. Komponen Fisik
A. Fisiografi
B. Iklim
C. Kualitas Udara dan Kebisingan
D. Hidrooceanografi
E. Kualitas Air Laut dan Sedimen Laut
F. Kualitas air permukaan dan air tanah
G. Geologi
H. Geohidrologi

3. Komponen Biologi
A. Biota terestrial
B. Biota Akuatik

4. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya

KRITERIA BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 1|P a g e
POTENSI DAMPAK YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN UNTUK
DIKAJI
1. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan
2. Penurunan Kualitas Udara dan Peningkatan Kebisingan
3. Penurunan Kualitas Air Laut dan Kualitas Air Permukaan
4. Perubahan Pola Arus Laut, gelombang, sedimentasi, dan garis
pantai
5. Gangguan terhadap biota perairan

RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN


1. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan
2. Penurunan Kualitas Udara dan Peningkatan Kebisingan
3. Penurunan Kualitas Air Laut dan Kualitas Air Permukaan
4. Perubahan Pola Arus Laut, Gelombang, Sedimentasi, dan Garis
Pantai
5. Gangguan terhadap biota perairan

PENEMPATAN BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

PENUTUP
LAMPIRAN

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 2|P a g e
KRITERIA, PENEMPATAN BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN

JENIS BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

1. Komponen Tata Ruang


A. Kebijakan Tata Ruang
B. Penggunaan Lahan
C. Transportasi
D. Kegiatan lain di sekitar

2. Komponen Fisik
A. Fisiografi
B. Iklim
C. Kualitas Udara dan Kebisingan
D. Hidrooceanografi
E. Kualitas Air Laut dan Sedimen Laut
F. Kualitas air permukaan dan air tanah
G. Geologi
H. Geohidrologi

3. Komponen Biologi
A. Biota terestrial
B. Biota Akuatik

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 3|P a g e
4. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya

KRITERIA BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

POTENSI DAMPAK YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN UNTUK


DIKAJI
6. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan
7. Penurunan Kualitas Udara dan Peningkatan Kebisingan
8. Penurunan Kualitas Air Laut dan Kualitas Air Permukaan
9. Perubahan Pola Arus Laut, gelombang, sedimentasi, dan garis
pantai
10. Gangguan terhadap biota perairan

RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN


6. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan
7. Penurunan Kualitas Udara dan Peningkatan Kebisingan
8. Penurunan Kualitas Air Laut dan Kualitas Air Permukaan
9. Perubahan Pola Arus Laut, Gelombang, Sedimentasi, dan Garis
Pantai
10. Gangguan terhadap biota perairan

PENEMPATAN BANGUNAN DAN INSTALASI LAUT

PENUTUP
LAMPIRAN

BAB I

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 4|P a g e
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dianugerahi ruang laut dengan


sumberdaya kelautan yang berlimpah di dalamnya. Dengan panjang
garis pantai sejauh 95.181 kilometer dengan jumlah pulau sebanyak
17.480, dan posisi geografis di perlintasan dua samudera, sudah pasti
Indonesia memiliki posisi penting di antara negara-negara di dunia.
Belum lagi kekayaan hayati laut tropis terkaya di dunia dan kekayaan
non hayati dalam berbagai bentuk, sudah seharusnya bangsa
Indonesia menjaga warisan bersama umat manusia tersebut dengan
penuh integritas. Sayangnya, dalam banyak hal sektor kelautan
belumlah menjadi mainstream (pengarus-utamaan) dalam
pembangunan selama ini. Akibatnya sektor kelautan memberikan
kontribusi yang kecil terhadap pembangunan dan kesejahteraan
masyarakat.

Pembangunan kelautan hingga saat ini masih menghadapi berbagai


kendala di dalam pelaksanaannya. Kendala tersebut dapat ditemukan,
baik pada lingkup perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, serta
pengendalian.Oleh karena itu diperlukan regulasi yang secara
komprehensif mengatur keterpaduan berbagai kepentingan di wilayah
laut Sebagai contoh dampak pembangunan struktur pantai yang
menimbulkan masalah erosi pantai karena belum mempertimbangkan
kelestarian sumberdaya pesisir. Contoh lain adalah pemanfaatan
offshore platform/instalasi lepas pantai lainnya yang sudah tidak
beroperasi perlu pengaturan lebih lanjut.

Undang-Undang No 1 Tahun 2014 dan UU No 32 Tahun 2014


merupakan payung hukum untuk mengatur pemanfaatan laut secara

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 5|P a g e
komprehensif dan terintegrasi. Kehadiran Undang-Undang No 1
Tahun 2014 ini semakin mempertegas keterpaduan kebijakan dan
peraturan yang ada.

Bangunan laut, pipa dan kabel bawah laut, sebagaimana terdapat


dalam Pasal 19 Undang-Undang No 1 Tahun 2014 merupakan suatu
wilayah kewenangan yang tidak hanya milik KKP, namun juga lintas
Kementerian dan Lembaga, yaitu Kementerian Perhubungan,
Kementerian Komunikasi, Telekomunikasi dan Informatika,
Perusahaan Listrik Negara, TNI-Angkatan Laut, dan sektor-sektor
lainnya.
UU No 32 Tahun 2014 tentang Kelautan pasal 32 ayat 5 menyatakan
bahwa Pendirian dan/atau penempatan bangunan Laut wajib
mempertimbangkan kelestarian sumber daya pesisir dan pulau-pulau
kecil. Bengen (2000) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan
merupakan suatu strategi pembangunan yang memberikan suatu
ambang batas (limit) pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta
sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Ambang batas tersebut
tidak bersifat mutlak, melainkan merupakan batas yang luwes yang
bergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang
pemanfaatan sumberdaya alam, serta kemampuan biosfir untuk
menerima dampak kegiatan manusia. Dengan kata lain,
pembangunan berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan
ekosistem alamiah sedemikian rupa sehingga kapasitas fungsionalnya
untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia tidak rusak

1.2 Tujuan Dan Sasaran


Tujuan :
Penyusunan petunjuk teknis penyusunan analisis daya dukung
lingkungan laut untuk kegiatan bangunan dan instalasi laut ini
bertujuan untuk memberikan panduan dan pedoman teknis kepada

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 6|P a g e
pemerintah daerah, dan stakeholder dalam melaksanakan analisa
daya dukung penggunaan ruang bagi kegiatan bangunan dan instalasi
laut.
Sasaran :
1. Tersusunnya indikator-indikator yang digunakan untuk menganalisa
daya dukung lingkungan laut untuk kegiatan bangunan dan instalasi
laut
2. Tersusunnya metode pendekatan analisis daya dukung lingkungan
laut dalam unit satuan daya dukung.

1.3 Ruang Lingkup


Lingkup materi dalam pedoman analisis daya dukung wilayah pesisir
ini antara lain dibatasi pada komponen-komponen kegiatan penataan
ruang laut antara lain :
1. Pendahuluan
2. Gambaran Umum Wilayah Laut
3. Daya Dukung Lingkungan
4. Kriteria Penilaian Daya Dukung Kegiatan Bangunan dan Instalasi
Laut
5. Metode Penilaian Daya Dukung

BAB II
GAMBARAN UMUM RUANG LAUT

2.1 Kondisi dan Karakteristik Ruang Laut

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 7|P a g e
Laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan
daratan dengan daratan dan bentuk- bentuk alamiah lainnya, yang
merupakan kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur
terkait, dan yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan dan hukum internasional.

Struktur ruang laut merupakan susunan pusat pertumbuhan


kelautan dan sistem jaringan prasarana dan sarana laut yang
berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat
yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Pola ruang
laut meliputi kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi,
alur laut, dan kawasan strategis nasional tertentu. Apabila
perencanaan dan pengelolaan sumberdaya laut tidak dilakukan
secara terpadu, maka dikhawatirkan sumberdaya tersebut akan
rusak bahkan punah, sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk
menopang kesinambungan pembangunan nasional dalam
mewujudkan bangsa yang maju, adil dan makmur.  Dengan
demikian, tuntutan terhadap upaya penataan wilayah laut haruslah
dilakukan secara terintegrasi, dan saling terkait sebagai satu
kesatuan dengan kata kunci yaitu keterpaduan.

Penataan ruang wilayah laut untuk pengelolaan wilayah laut dan


pesisir secara terpadu (Integrated Coastal Management)
dituangkan dalam Chapter 17 Agenda 21 menyatakan bahwa
lingkungan laut (the marine environment) merupakan komponen
penting sistem penyangga kehidupan global. Fakor pertumbuhan
penduduk dan eksploitasi terhadap sumber daya ayam secara terus
menerus menyebabkan wilayah laut dan pesisir memerlukan
pengelolaan, perlindungan terhadap sumber daya alamnya dan
dikembangkan sesuai dengan peruntukkannya untuk keberlanjutan
sumber daya bagi generasi mendatang.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 8|P a g e
Integrated Coastal Management, merupakan pengelolaan
pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan
(environment servis) yang terdapat di kawasan pesisir dan laut,
dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (comprehensive
assessment) terhadap sumber daya alam dan jasa, lingkungan yang
terdapat di alamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan,
dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan
pemanfaatannya, guna mencapai pembangunan yang optimal dan
berkelanjutan.

2.2 Bangunan dan Instalasi Laut


2.2.1 Bangunan dan instalasi laut untuk fungsi hunian, keagamaan,
sosial dan budaya

Hunian berbasis perairan laut adalah keseluruhan aspek dari


komunitas manusia, lengkap dengan kehidupan sosial, material,
elemen organisasi masyarakat, elemen spiritual dan budaya yang
bertempat di wilayah perairan laut sebagai ruang beraktifitas.

Berdasarkan letaknya, bangunan dan instalasi laut untuk fungsi


hunian, keagamaan, sosial dan budaya berbasis perairan laut
terbagi :
a. Daerah tepi laut (pesisir), yaitu pemukiman yang bangunannya
terletak di daerah tepian laut. Lokasi ini memberikan keuntungan
akses dan transportasi dari air dan darat. Selain itu, daerah tepi
laut lebih dangkal dari daerah tengah, sehingga pada bangunan
struktur panggung, kestabilan lebih mudah diperoleh karena air
pada kolom pondasi lebih kecil.
b. Daerah tengah laut (offshore), yaitu pemukiman yang
bangunannya terletak di daerah tengah laut. Pemukiman jenis ini
memiliki beberapa tantangan seperti tekanan air yang besar,
akses bangunan-daratan cukup jauh, dan ombak yang lebih

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 9|P a g e
besar. Akan tetapi, terdapat keuntungan yang tidak dimiliki
pemukiman yang tidak berada di tengah lingkungan laut, seperti
perubahan suhu lingkungan lebih stabil dan keuntungan
keindahan lingkungan.

Bangunan hunian merupakan bangunan untuk rumah tinggal


tunggal, rumah tinggal deret dan rumah tinggal sementara, seperti
bangunan permukiman masyarakat hukum adat. Selain untuk
tempat tinggal, bangunan di perairan laut juga berupa bangunan
keagamaan seperti masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng
serta bangunan sosial dan budaya antara lain berupa bangunan
untuk kebudayaan, laboratorium, dan lainnya. Masyarakat yang
bertempat tinggal di atas laut mulai membangun, bermukim dan
menetap lama diatas perairan laut ini. Mereka yang tinggal dan
bermukim sejak lama di wilayah ini tentu sudah menganggap
bahwa wilayah tersebut adalah milik mereka, sebagaimana orang
yang tinggal di wilayah daratan, karena mereka sudah merasa
turun temurun bermukim di tempat tersebut

Gambar 2.1. Contoh bangunan laut yang berfungsi hunian,


keagamaan,
sosial budaya

2.2.2. Daya Dukung bangunan dan instalasi laut untuk fungsi


perikanan
Bangunan laut untuk fungsi perikanan dapat berupa pelabuhan
perikanan, alat penangkapan ikan yang bersifat pasif dan statis,
karamba jaring apung (KJA), struktur budidaya laut, terumbu

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 10 | P a g e


buatan, dll.
a. pelabuhan perikanan
pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan
dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai
tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis
perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan
bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang perikanan.
b. Alat penangkap ikan yang bersifat pasif dan statis antara lain
berupa alat penangkapan ikan jaring angkat (lift net) dan alat
penangkapan ikan perangkap (trap).
c. Keramba Jaring Apung
Keramba Jaring Apung adalah sarana pemeliharaan ikan atau
biota air yang mengapung diatas air. Fungsi: untuk pembibitan
atau budidaya ikan dan biota laut
d. Struktur Budidaya Laut
Struktur di laut untuk budidaya laut, yang terdiri dari kegiatan
pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Struktur budidaya
laut antara lain struktur sea ranching dan struktur sea farming.

Gambar 2.2 : Contoh struktur budidaya laut sea ranching, sea farming

e. Instalasi pengambilan air laut untuk budidaya ikan dan garam


antara lain berupa pipa bawah laut.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 11 | P a g e


f. Terumbu buatan
Terumbu karang buatan adalah benda yang di turunkan
kedasar perairan sehingga berfungsi layaknya habitat ikan.
Banyak bentuk konstruksi dan jenis material yang diaplikasikan
pada terumbu buatan, dari balok kayu biasa, papan, concrete
semen, besi dan kapal, bus bekas, PVC dan bahkan ban
bekas.

Gambar. 2.3 Terumbu buatan

2.2.3 Bangunan dan instalasi laut untuk fungsi wisata bahari


a. Akomodasi
Secara struktural, bangunan air relatif sangat adaptif dan
responsif terhadap kondisi topografi, geologi, dan klimatologi di
lingkungannya, namun sangat rawan terhadap pengaruh angin,
tsunami dan gempa karena proses konstruksinya dilakukan
dengan keterbatasan sumber daya dan pengetahuan.
b. Jalan Pelantar
Jalan pelantar merupakan jalan yang menghubungkan antar
bangunan hunian, akomodasi atau bangunan laut lain yang
terapung di laut.

c. ponton wisata;
Ponton wisata suatu jenis kapal yang dengan lambung datar
atau suatu kotak besar yang mengapung, digunakan untuk

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 12 | P a g e


mengangkut barang dan ditarik dengan kapal tunda atau
digunakan untuk mengakomodasi pasang-surut seperti pada
dermaga apung.

Gambar 2.4. Ponton wisata di Nusa Lembongan, Bali

d. Pelabuhan Wisata;
Pelabuhan wisata menurut Budiartha (2011) adalah meliputi
seluruh konsep pariwisata pantai, tetapi juga termasuk wisata
perairan seperti rekreasi memancing yang dalam dan yacht
cruising.

e. Titik labuh (mooring buoy);


Titik labuh adalah lokasi perhentian sementara/mooring system
yang berdekatan dengan pantai untuk melabuhkan kapal dengan
tujuan tertentu. Tujuan dari Mooring System ini juga untuk
mempermudah yacht yang datang untuk berlabuh, jadi mereka
tidak perlu lagi mencari tempat untuk berlabuh.

Gambar 2.5. Titik labuh kapal wisata

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 13 | P a g e


f. Bangunan untuk kuliner
Bangunan kuliner di laut dapat berupa rumah makan, restoran
apung yang seluruh sarana dan aktivitasnya ada di lokasi
tersebut, antara lain dapur, sistem pembuangan limbah maupun
sistem air bersihnya.

Gambar 2.6. bangunan kuliner di ruang laut

2.2.4 Bangunan dan Instalasi Laut untuk Fungsi Perhubungan


a. Pelabuhan
Pelabuhan adalah wilayah yang terdiri atas daratan dan
perairan dengan batas tertentu sebagai tempat kegiatan
pemerintah dan kegiatan ekonomi yang di pergunakan sebagai
tempat bersandar, berlabuh,naik-turunnya penumpang dan
atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas
keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang serta sebagai
tempat perpindahan intra dan antar moda.

Gambar 2.7 Pelabuhan Umum

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 14 | P a g e


Jenis-jenis pelabuhan berdasarkan alamnya :
 Pelabuhan terbuka
Kapal dapat merapat langsung tanpa bantuan pintu
air,umumnya berupa pelabuhan yang bersifat tradisional.
 Pelabuhan Tertutup
Kapal masuk harus melalui pintu air seperti dapat kita temui
di Liverpool, Inggris dan terusan Panama.

Jenis-jenis pelabuhan berdasarkan pelayanannya :


 Pelabuhan Umum
Diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat yang secara
teknis dikelola oleh Badan
 Usaha Pelabuhan (BUP).
Pelabuhan Khusus
Dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan
tertentu, baik instansi

b. Jetty
Jetty adalah bangunan tegak lurus pantai yang diletakan di kedua
sisi muara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan
alur oleh sedimen pantai.
Fungsi utama bangunan ini adalah menahan berbeloknya muara
sungai dan mengkonsentrasikan aliran pada alur yang telah
ditetapkan untuk bisa mengerosi endapan, sehingga apada awal
musim penghujan di mana debit besar (banjir) belum terjadi, muara
sungai telah terbuka.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 15 | P a g e


Gambar 2.8 Jetty

2.2.5 Bangunan dan instalasi laut untuk fungsi telekomunikasi


Salah satu cara yang digunakan adalah komunikasi dengan kabel
berupa kabel telekomunikasi bawah air.
Kabel komunikasi bawah laut adalah kabel yang diletakkan
di bawah laut untuk menghubungkan telekomunikasi antar negara-
negara. Komunikasi kabel bawah laut pertama membawa data
telegrafi. Generasi berikutnya membawa komunikasi telepon, dan
kemudian data komunikasi.
Kabel bawah laut untuk keperluan komunikasi biasanya memiliki
diameter 17 mm hingga 70 mm. Serat optik terdiri dari dua bagian
utama yaitu bagian inti (core) dan cladding. Kedua bagian inilah
yang memungkinkan terjadinya total internal reflection pada serat
optik sehingga gelombang elektromagnetik (biasanya pada panjang
gelombang inframerah) dapat merambat dan mengalami
“pemanduan” didalamnya. Bagian inti serat optik yang ada saat ini
untuk keperluan jaringan kabel bawah laut dilindungi oleh lapisan
baja dimana lapisan baja tersebut dilindungi lagi oleh beberapa
lapisan baja dan polietilen untuk keperluan insulasi termal dan
elektromagnet.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 16 | P a g e


Gambar 2.9. Kondisi kabel bawah laut

2.2.6 Bangunan dan instalasi laut untuk fungsi pengamanan pantai


a. Krib (krib (groin)
Groin adalah struktur pengaman pantai yang dibangun menjorok
relatif tegak lurus terhadap arah pantai. Bahan konstruksinya
umumnya kayu, baja, beton (pipa beton), dan batu. Pemasangan
groins menginterupsi aliran arus pantai sehingga pasir
terperangkap pada “upcurrent side,” sedangkan pada
“downcurrent side” terjadi erosi, karena pergerakan arus pantai
yang berlanjut .

Gambar 2.10. Krib (groin)

b. Revetment
Revetment atau perkuatan lereng merupakan tumukan batuan pada
suatu lereng yang berfungsi melindungi suatu tebing alur pantai
atau permukaan lereng dan secara kesuluruhan berperan
meningkatkan stabilitas alur pantai atau tubuh tanggul yang
dilindungi. Secara khusus, dinding pantai atau revetment juga dapat
didefinisikan sebagai bangunan yang memisahkan daratan dan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 17 | P a g e


perairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai dinding pelindung
pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke
darat.
Klasifikasi Revetment berdasarkan lokasi :
 Perkuatan lereng tanggul (levee revetment)
Dibangun untuk melindungi tanggul terhadap gerusan
gelombang pantai.
 Perkuatan tebing sungai (low water revetment)
Berfungsi untuk melindungi tebing dari gerusan gelombang
dan   mencegah proses meander pada tebing pantai. Dan
bangunan ini akan terendam air seluruhnya pada saat banjir.
 Perkuatan lereng menerus (high water revetment)
Dibangun pada lereng tanggul dan tebing secara menerus atau
pada bagian pantai yang tidak ada bantarannya.

Gambar 2.11. Titik labuh kapal wisata

c. Tanggul laut (sea dikes):


Tanggul laut dapat berfungsi sebagai proteksi banjir atau dapat
juga berfungsi sebagai proteksi erosi. Bangunan ini dapat berupa
beberapa tipe. Bisa berupa tanggul tanah (clay dike), yang
bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap serangan
banjir yang disebabkan oleh limpasan gelombang dan elevasi
pasang surut yang ekstrim. Walau demikian, bangunan ini dapat
juga menjadi tanggul besar yang bisa ditempatkan di garis pantai,
untuk menanggulangi banjir harian dan melindungi dari erosi jangka

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 18 | P a g e


panjang dan jangka pendek. Tanggul laut dan dasar tanah akan
menjadi subjek kemungkinan terjadinya penurunan muka tanah.

Gambar 2.12. Contoh Tanggul sea ( sea dike)

d. Tembok Laut (Sea wall)


Seawall adalah struktur vertikal yang biasanya berukuran massive
dan dibuat vertikal sejajar dengan pantai. Berfungsi sebagai
pelindung/penahan terhadap kekuatan gelombang. 

Jenis-Jenis Sea Wall :


e.1 Curved Sea Wall
Curved Seawall biasanya berbentuk struktur besar dan dibuat
dengan campuran beton. Curved Seawall memiliki bentuk kurva
cekung yang dirancang untuk membelokkan energi gelombang
yang datang ke arah atas dan menjauh dari bagian bawah
seawall, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi gerusan di
dasar dinding. 
e.2 Gravity Sea Wall
Gravity Sea Wall merupakan konstruksi yang bergantung pada
berat bahan material yang menyusunnya untuk memberikan
stabilitas terhadap gaya gelombang yang datang.
e.3 Steel Sheet Pile Sea Wall

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 19 | P a g e


Steel Sheet Pile Seawall merupakan jenis seawall yang
menggunakan baja lembaran yang ditancapkan ke dalam
tanah. Seawall jenis ini biasanya digunakan di daerah yang
intensitas gelombangnya relatif kecil
e.4 Concrete Block and Rock Walls
Concrete Block and Rock Walls dibangun dari blok-blok beton
dan batu-batu yang dipasang di lereng buatan manusia.
Konstruksi ini biasanya memiliki biaya operasi yang lebih
rendah dari seawall jenis lainnya dan memiliki usia layan yang
tidak lama. Bentuk lereng yang landai akan menghilangkan
kekuatan gelombang sedangkan batu-batu yang telah disusun
akan menyerap energi gelombang dan membagi gelombang
utama yang datang menjadi gelombang yang lebih kecil

Gambar 2.14. a. Curved Sea Wall; b: Gravity Sea Wall; c. Concrete


Block and Rock Walls;
d. Steel Sheet Pile Sea Wall

Breakwater atau pemecah gelombang lepas pantai adalah


bangunan yang dibuat sejajar pantai dan berada pada jarak tertentu
dari garis pantai. Pemecah gelombang dibangun sebagai salah

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 20 | P a g e


satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan
menghancurkan energi gelombang sebelum sampai ke pantai,
sehingga terjadi endapan dibelakang bangunan.
Breakwater dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
 Pemecah Gelombang Sambung Pantai merupakan Digunakan
pada perlindungan perairan pelabuhan
 Pemecah Gelombang Lepas Pantai merupakan Perlindungan
pantai terhadap erosi.

Breakwater menurut bentuknya terdiri dari 3 jenis yaitu :


1. Rubble Mound Breakwater (breakwater sisi miring)
Pemecah gelombang ini lebih cocok digunakan pada kondisi
tanah yang lunak dan tidak terlalu dalam. Breakwater ini bersifat
fleksibel karena jika serangan gelombang kerusakan yang terjadi
tidak secara tiba-tiba, meskipun beberapa butiran longsor.

Gambar 2.15. Rubble Mound Breakwater

2. Breakwater Sisi Tegak


Breakwater  tipe ini biasanya ditempatkan di laut dengan
kedalaman lebih dalam dangan tanah dasar keras. Karena
dinding breakwater tegak, maka akan terjadi gelombang diam
atau  klapotis  yaitu superposisi antara gelombang datang dan
gelombang pantul. 

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 21 | P a g e


Gambar 2.15. Breakwater Sisi Tegak

3. Breakwater Gabungan
Breakwater  campuran dibuat apabila kedalaman air sangat
besar dan tanah dasar tidak mampu menahan beban dari
pemecah gelombang sisi tegak. Pada waktu air surut bangunan
berfungsi sebagai pemecah gelombang sisi miring, sedang pada
waktu air pasang berfungsi sebagai pemecah gelombang sisi
tegak.

Gambar 2.16. Breakwater gabungan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 22 | P a g e


Gambar 2.17. Breakwater

2.2.7 Bangunan dan instalasi laut untuk kegiatan usaha minyak dan
gas bumi
a. Anjungan Lepas Pantai (offshore platform);
Anjungan lepas pantai (offshore platform)/bangunan adalah
struktur atau bangunan yang di bangun di lepas pantai untuk
mendukung proses eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang
maupun mineral alam. Fungsi utama dari bangunan lepas
pantai adalah untuk eksplorasi dan produksi minyak dan gas
bumi. Adapun faktor lingkungan laut yang berpengaruh untuk
rancangan struktur bangunan laut terdiri dari kedalaman
perairan, angin, gelombang, arus, kondisi dasar laut,
penggerusan dan tektonik (gempa bumi). antara lain berupa
Tension Leg Platform (TLP), Drilling Platform, atau
Production/Treatment Platform.

Gambar 2.19. Anjungan Lepas Pantai

b. Anjungan apung;

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 23 | P a g e


Adapun secara umum fungsi dari struktur bangunan terapung
adalah merupakan anjungan pengeboran (drilling), anjungan
pendukung operasi (support vessel), fasilitas pendukung
pemasangan pipa (Pipe Layer), fasilitas akomodasi, fasilitas
produksi khususnya di marginal field dan shorter time.
Anjungan apung antara lain berupa Floating Production Unit
(FPU), Mobile Offshore Production Unit/Mobile Offshore Drilling
Unit (MOPU/MODU), floating storage and offloading (FSO),
floating production storage and offloading (FPSO), single point
mooring, floating liquified natural gas (FLNG); atau floating
storage regasification unit (FSRU).

c. Anjungan bawah laut (sub sea system), antara lain berupa


sumur pengeboran bawah air (Subsea Wellhead Platform)
Pipa bawah laut dan/atau instalasi minyak dan gas atau Pipa
bawah laut dan/atau instalasi minyak dan gas bumi, antara lain
berupa Pipe Line End Manifold (PLEM) atau pipa minyak dan
gas bumi.

Gambar 2.20. Pipa bawah laut

d. fasilitas penunjang kegiatan usaha minyak dan gas bumi


Fasilitas penunjang kegiatan usaha minyak dan gas bumi
antara lain berupa dermaga.
Pelabuhan Perminyakan Pelabuhan minyak adalah suatu
pelabuhan yang direncanakan khusus untuk muatan bahan cair

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 24 | P a g e


yang disalurkan melaului pipa-pipa untuk mencapai ke kapal. 
Tipe pelabuhan ini biasanya digunakan tipe jetty dan memerlukan
mooring dolphin serta rumah pompa untuk keperluan pemindahan
muatan cair dan dilengkapi dengan instansi perpipaan untuk
keperluan tersebut. Konstruksi dermaga/pelabuhan minyak dapat
dibuat dari konstruksi beton, kayu atau pipa baja.

2.2.8 Bangunan dan instalasi laut untuk kegiatan usaha


pertambangan mineral dan batubarauntuk kegiatan usaha
pertambangan mineral dan batu bara
Bangunan untuk tempat penampungan sementara mineral dan batu
bara; atau fasilitas penunjang kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batu bara. Tempat penampungan sementara mineral
dan batu bara antara lain berupa struktur terapung untuk kegiatan
ship to ship mineral atau batu bara
Fasilitas penunjang kegiatan usaha minyak dan gas bumi antara
lain berupa dermaga batu bara.

2.2.9 Bangunan dan instalasi laut untuk instalasi ketenagalistrikan


a. Pembangkit Listrik
Pembangkit Listrik Energi Gelombang, Pembangkit Listrik
Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Terapung (PLTS Terapung), Ocean Thermal Energi Conversion
(OTEC), pembangkit listrik energi pasang surut, pembangkit
listrik energi arus laut, mobile power plant, serta bangunan
penyangga kabel saluran udara.
Pembangkit Listrik Energi Gelombang antara lain berupa
Oscillating Water Column Wave Energy Converter (OWC-
WEC). Oscillating Water Column Wave Energy Converter
(OWC-WEC)” adalah struktur di laut untuk mengkonversi energi
gelombang laut menjadi energi listrik yang berbentuk struktur

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 25 | P a g e


tetap atau struktur osilasi berongga yang terbuka dan berada di
bawah permukaan air yang memerangkap udara diatas pada
bagian dalam permukaan bebasnya. Ocean Thermal Energi
Conversion (OTEC)” merupakan struktur di laut untuk
menghasilkan listrik dengan menggunakan metode konversi
perbedaan suhu antara laut dalam dan laut permukaan.

b. Fasilitas penunjang instalasi ketenagalistrikan


Fasilitas penunjang instalasi ketenagalistrikan antara lain
berupa :
o Jeti untuk pembangkit listrik dan pemecah gelombang untuk
pelindung pembangkit.
o Saluran saluran air (water canal intake/outlet) antara lain
berupa pipa bawah air untuk sirkulasi pendinginan
Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

2.2.10 Bangunan dan instalasi laut untuk fungsi khusus


a. Terowongan bawah laut
b. Jembatan
c. Bangunan penelitian
Bangunan penelitian antara lain berupa stasiun penelitian atau
stasiun pengamatan
d. Bangunan pertahanan dan keamanan;
Bangunan pertahanan dan keamanan antara lain berupa pos
militer dan suar
e. Pipa bawah laut, berupa:
1. Instalasi penyediaan air bersih
Instalasi penyediaan air bersih antara lain berupa pipa air
bersih

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 26 | P a g e


Pipa fluida lainnya antara lain berupa submarine tailing
disposal atau pipa bawah laut untuk pembuangan tailing di
laut.

2. 3 Peraturan Perundang-undangan
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002
Tentang Bangunan Gedung.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014
Tentang Kelautan.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun
2009 Tentang Kepelabuhan.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
1974 Tentang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi dan
Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi Di Daerah Lepas Pantai.
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
2010 Tentang Kenavigasian.
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun
2010 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim.
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007
Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan.
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 09/PRT/M/2010
Tentang Pedoman Pengamanan Pantai.
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006
Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
11. Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor
01 Tahun 2011 Tentang Pedman Teknis Pembongkaran
Instalasi Lepas Pantai Minyak Dan Gas Bumi.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 27 | P a g e


12. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor
28/PERMEN-KP/2015 Tentang Penghentian Sementara
(Moratorium) Perizinan Survey Dan Pengangkatan Benda
Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam.
13. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 17 Tahun
2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan
Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah
14. Peraturan terkait kewenangan PEMDA dan tata ruang

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 28 | P a g e


BAB V

PERSYARATAN DAN KRITERIA


PENEMPATAN BANGUNAN DAN INSTALASI
DI LAUT

5.1 Persyaratan pendirian bangunan dan instalasi di laut


5.1.1 Bangunan dan Instalasi di Laut dengan fungsi hunian, keagamaan,
sosial dan budaya meliputi:

a. bangunan hunian
 memiliki sistem sanitasi;
 memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga;
memiliki jalan pelantar; dan
 memenuhi persyaratan teknis lain yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang bangunan gedung

b. bangunan keagamaan, sosial dan budaya


 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan
Bangunan dan Instalasi di Laut;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 memiliki rencana detail;
 menggunakan material yang sesuai dengan kondisi
salinitas;
 menggunakan bahan pelapis anti teritip yang ramah
lingkungan;
 memiliki sistem sanitasi;

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 29 | P a g e


 memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga; dan
 memiliki jalan pelantar;
 memenuhi persyaratan teknis lain yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang bangunan gedung.

5.1.2 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi perikanan;


 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan
Bangunan dan Instalasi di Laut;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 memiliki rencana detail;
 menggunakan material yang ramah lingkungan;
 menggunakan bahan pelapis anti teritip yang ramah
lingkungan pada fasilitas pelabuhan perikanan yang
memerlukan;
 mempertimbangkan arah gerak dan volume sedimen
pantai; dan
 melaksanakan penilaian risiko

5.2.2.1 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi wisata


bahari;
 memiliki rencana pendirian dan rencana detail Bangunan
dan Instalasi di Laut, yang memuat: letak geografis; data
hidrografi dan oseanografi, meliputi batimetri, pasang-
surut, gelombang, arus, kualitas air (pH, kekeruhan,
kecerahan, BOD/oksigen terlarut); dan/atau geomorfologi
dan geologi laut, meliputi kondisi geomorfologi, jenis dan
struktur batuan, substrat dasar laut;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 menggunakan material yang sesuai dengan kondisi
salinitas untuk pendirian jalan pelantar

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 30 | P a g e


 menggunakan cat pelapis anti teritip yang ramah
lingkungan
 berdasarkan hasil analisis daya dukung dan daya
tampung lingkungan;
 memiliki sistem sanitasi;
 memiliki sistem pengolahan limbah;
 menghindari pendirian dan/atau penempatan di atas
terumbu karang untuk ponton wisata
 memperhitungkan penempatan tali tambat agar tidak
mengakibatkan kerusakan ekosistem laut.
 memperhatikan tegangan tali tambat dengan interval
pasang surut.
 memiliki dokumen perencanaan pembangunan
pelabuhan pariwisata untuk pendirian pelabuhan wisata,
meliputi :studi kelayakan; dan desain rinci (detail
engineering design);
 menggunakan bahan pelapis anti teritip yang ramah
lingkungan; dan
 mempertimbangkan arah gerak dan volume sedimen
pantai.
 menggunakan material yang ramah lingkungan untuk
penempatan marine scapping
 memasang penanda keberadaan marine scapping
dengan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran; dan
 menghindari kerusakan ekosistem.

5.1.3 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi perhubungan


laut;

5.1.4 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi perhubungan


darat;

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 31 | P a g e


 melaksanakan studi kelayakan berupa :kelayakan teknis;
dan kelayakan sosial-ekonomi;
 melaksanakan penilaian risiko;
 memiliki rencana kontijensi;
 melakukan analisa terhadap data konduktifitas,
temperatur, dan kedalaman (conductivity, temperature,
depth (CTD));
 berdasarkan hasil survei kondisi tanah/geoteknik yang
meliputi sifat-sifat fisis dan mekanis lapisan tanah;
 melakukan analisa profil dasar laut (sub-bottom profile);
 memenuhi persyaratan ruang aman (clearance) terhadap
keselamatan pelayaran, yang berupa: clearance, untuk
pendirian jembatan; atau draught kapal dan under keel
clearance, untuk terowongan bawah laut;
 persyaratan teknis lain yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
perhubungan, kelautan dan perikanan, dan pekerjaan
umum

5.1.5 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi telekomunikasi


berupa kabel telekomunikasi bawah air.
 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan
Bangunan dan Instalasi di Laut;
 memiliki rencana detail;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 mempertimbangkan keberadaan sumber daya laut dan
jalur ruaya biota laut dalam penentuan landing points;
dan
 memenuhi persyaratan teknis lain yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 32 | P a g e


undangan di bidang perhubungan.

5.1.6 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi pengamanan


pantai;
 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan Bangunan
dan Instalasi di Laut;
 menyusun studi kelayakan teknis yang berupa tata letak;
 memiliki pradesain;
 memiliki rencana detail desain yang memperhatikan
ancaman dan kala ulang bencana di Laut;
 hasil survei kondisi tanah/geoteknik yang meliputi sifat fisis
dan mekanis lapisan tanah; dan
o memenuhi persyaratan teknis lain yang ditetapkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pekerjaan umum
5.1.7 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi kegiatan usaha
minyak dan gas bumi;
a. anjungan lepas pantai (offshore platform);
b. anjungan apung;
c. anjungan bawah laut (sub sea system);
d. pipa bawah laut dan/atau instalasi minyak dan gas bumi;
atau
e. fasilitas penunjang kegiatan usaha minyak dan gas bumi.

5.1.8 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi kegiatan usaha


pertambangan mineral dan batu bara;
a. bangunan untuk tempat penampungan sementara mineral
dan batu bara;
b. fasilitas penunjang kegiatan usaha pertambangan mineral
dan batu bara; dan
c. pipa fluida lainnya.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 33 | P a g e


5.1.9 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi instalasi
ketenagalistrikan;
 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan Bangunan
dan Instalasi di Laut;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 memiliki rencana detail;
 memperhatikan ancaman bencana di laut;
 memperoleh rekomendasi teknis dari instansi terkait di
bidang ketenagalistrikan; dan
5.1.10 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi pengumpulan
data dan penelitian;
a. alat pengumpulan data oseanografi;
b. bangunan penelitian sumber daya ikan; dan
c. bangunan penelitian kelautan.
5.1.12 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi pertahanan dan
keamanan;
 memiliki rencana pendirian dan/atau penempatan Bangunan
dan Instalasi di Laut;
 menyusun studi kelayakan teknis;
 memiliki rencana detail; dan
 memperhatikan ancaman bencana di laut.

5.1.13 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi penyediaan


sumber daya air.
instalasi penyediaan air bersih.
 tidak mengubah titik dasar dan titik referensi di pulau-pulau
kecil terluar; dan
 mengikuti persyaratan teknis lain yang ditetapkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
pertahanan dan keamanan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 34 | P a g e


5.2 Kriteria Bangunan dan Instalasi di Laut
Bangunan dan instalasi di laut, memiliki kriteria umum dan kriteria
desain, yaitu :

5.2.1 Kriteria Umum Bangunan dan Instalasi di laut berupa:


Kriteria umum pendirian Bangunan dan Instalasi di laut dapat dilihat
tabel 5.2.1 berikut:

Tabel : Kriteria Umum Bangunan dan Instalasi Laut


Kriteria Deskripsi
Konstruksi Struktur keras atau struktur lunak
Posisi Berada diatas atau dibawah
permukaan laut
Menempel atau tidak menempel
pada daratan
Kesesuaian Lokasi dengan a. Rencana Tata Ruang Laut
ketentuan mengenai Nasional;
pemanfaatan ruang b. Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
atau
c. Rencana Zonasi Kawasan
Laut.

Perlindungan Sumber Daya a. hasil analisa daya dukung dan


Kelautan daya tampung lingkungan;
b. wilayah penangkapan ikan;
c. wilayah budidaya perikanan;

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 35 | P a g e


d. keberadaan alur migrasi biota
laut;
e. keberadaan kawasan
konservasi perairan;
f. keberadaan spesies sedenter;
dan/atau
g. keberadaan ekosistem pesisir
dan pulau-pulau kecil.

Keamanan terhadap bencana di a. riwayat atau sejarah kejadian


laut gempa di laut;
b. keberadaan zona penunjaman
dan tumbukan;
c. keberadaan sesar (fault) di
dasar laut;
d. keberadaan gunung api dasar
laut; dan/atau risiko bencana
dan pencemaran
Keselamatan pelayaran dan a. alur-pelayaran;
lingkungan laut b.jalur penangkapan ikan dan
jalur migrasi biota laut;
c. perairan wajib pandu;
d.Sarana Bantu Navigasi-
Pelayaran dan fasilitas
Telekomunikasi-Pelayaran;
dan/atau
e.sisa-sisa bangunan di Laut.

Perlindungan Masyarakat a.keberadaan Masyarakat Hukum


Adat dan Masyarakat Lokal;
b.ruang penghidupan dan akses
kepada Nelayan Kecil, Pembudi

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 36 | P a g e


Daya Ikan Kecil, dan Petambak
Garam Kecil; dan/atau
c. akses Masyarakat menuju dan
ke laut.

Wilayah Pertahanan Keamanan a. daerah latihan militer;


b. daerah uji coba peralatan dan
persenjataan militer;
c. daerah penyimpanan barang
eksplosif dan peralatan
pertahanan berbahaya lainnya;
d. daerah disposal amunisi dan
peralatan pertahanan
berbahaya lainnya; dan/atau
e. daerah ranjau laut.

5.2.2 Kriteria Desain Bangunan dan Instalasi di laut


5.2.2.1 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi hunian,
keagamaan, sosial dan budaya;
a. bangunan hunian
Kriteria Deskripsi
Desain desain bangunan hunian
ramah lingkungan
Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan
halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
hunian
Resiko Resiko banjir, arus,
gelombang dll
Bangunan Penyangga
Sanitasi
Fasilitas air bersih

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 37 | P a g e


b. bangunan keagamaan, sosial dan budaya
Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : makam,
situs budaya,
Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan
halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
bangunan
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Sanitasi
Fasilitas air bersih

5.2.2.2 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi


perikanan;
(1) Desain umum
a. Bahan yang digunakan kompatibel dengan alam
 Diutamakan Bahan alami seperti kayu (tidak diolah
dengan bahan kimia) dan batuan
 Selain kayu dapat menggunakan beton, concrete,
fiberglass, Struktur buatan dapat dibentuk dengan
menggunakan katoda wire mesh modular
(electrodeposition), geotextile

Bahan yang tidak disarankan:

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 38 | P a g e


 Polistirena karena bisa rusak seiring berjalannya
waktu dan berbahaya untuk dimakan melalui
konsumsi.
 Ban dan ban karet karena kekhawatiran tentang
dampak lindi petrokimia dan logam berat terhadap
lingkungan.
 Kayu yang diolah dengan bahan kimia (misalnya
creosote, copper napthenate, dll) karena bahan ini
dapat melepaskan zat berbahaya ke dalam air.
 Semen yang tidak diawetkan karena tingkat pHnya
yang tinggi (karena kandungan kapur) dapat menjadi
racun bagi invertebrata hingga 12 bulan (Lukens dan
Selberg, 2004).

b. Kompleksitas habitat
Kompleksitas fisik struktur harus dimaksimalkan sedapat
mungkin untuk meningkatkan ketersediaan habitat.
Struktur yang lebih kompleks secara fisik dapat digunakan
untuk eksploitasi (tempat berlindung, perlindungan, dll)
oleh biota (United States Army Corps of Engineers, 1989).
Contoh sederhana untuk meningkatkan kompleksitas
habitat meliputi:

 Bagian miring pada struktur akan meningkatkan luas


permukaan.

 Permukaan terendam tidak beraturan (kasar,


bertekstur, dll) memberikan lebih banyak habitat
daripada struktur homogen seperti baja vertikal dan
lembaran beton padat.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 39 | P a g e


 Struktur yang berliku-liku atau berkelok-kelok lebih
disukai daripada garis lurus, yang memberi lebih
sedikit luas permukaan dan habitat yang lebih sedikit.

c. Keanekaragaman habitat
Struktur mencakup peningkatan habitat dan komunitas
biologis yang lebih beragam dan dapat mendukung
berbagai jenis dan tahap siklus hidup di dan sekitarnya.

d. Kedalaman air.
Struktur yang dibangun di perairan dalam dapat
mendukung flora dan fauna yang lebih beragam, karena
zonasi biologis vertikal lebih mungkin terjadi daripada di
perairan dangkal (United States Army Corps of Engineers,
1989). Struktur yang dibangun melalui berbagai
kedalaman (misalnya dari pantai ke laut) dapat
mendukung komunitas ikan yang berbeda pada
kedalaman dan jarak yang berbeda dari pantai.

e. Persyaratan habitat spesies lokal.


Penyempurnaan habitat buatan harus disesuaikan agar
sesuai dengan spesies dan komunitas lokal. Struktur yang
ramah ikan akan mendapatkan keuntungan dari proses
desain yang mencakup penilaian spesies lokal dan
preferensi habitat mereka. Hal ini mungkin sangat penting
bagi spesies yang ditargetkan dan ikonik. Misalnya, daerah
dengan lobster batu, kepiting atau krustasea samar yang
serupa dapat memanfaatkan peningkatan habitat yang
mencakup 'gua' untuk spesies ini untuk didiami.
Persyaratan teritorial alami hewan mungkin perlu
dipertimbangkan sehingga spesies sasaran dapat

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 40 | P a g e


memanfaatkan perangkat lunak ramah ikan sebaik-baiknya
(mis. untuk menghindari efek crowding).
f. Mengurangi risiko dari spesies hama.
Perancangan struktur buatan agar kurang menarik bagi
potensi hama, namun tetap menyediakan habitat bagi
spesies lokal yang diinginkan.

g. Aliran air dan pergerakan ikan.


Aliran air dan pasang surut yang ada harus dipertahankan
semaksimal mungkin untuk membantu menjaga proses
biologis alami. Hambatan migrasi ikan dapat terbentuk
dengan struktur terus menerus di bawah rata-rata air
rendah. Aliran aliran saat ini berpotensi merusak habitat
ikan seperti padang lamun dan padang lamun, dan
mempengaruhi pengangkutan telur, larva dan propaganda
mangrove. Struktur terapung atau struktur dengan celah
akan memudahkan aliran air dan jalur ikan yang lebih baik
daripada struktur padat.

h. Pemeliharaan.
Bahan bangunan harus tangguh dan sesuai dengan
lingkungan untuk meminimalkan persyaratan perawatan.
Secara umum, struktur harus dibiarkan tidak dibersihkan
jika memungkinkan untuk meningkatkan pertumbuhan
biotik dan untuk mendukung kesehatan ekosistem perairan
(Kapitzke et al., 2002). Dalam beberapa kasus, program
perawatan rutin mungkin diperlukan untuk memastikan
bahwa struktur tetap berfungsi sebagai habitat ikan (mis.
Untuk mencegah pembekuan fitur ramah ikan oleh lumpur)
dan untuk mengurangi gaya tarik dari gelombang dan arus.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 41 | P a g e


i. Struktur kekuatan dan daya tahan.
Komponen ramah ikan dari infrastruktur perairan harus
dirancang untuk bertahan dalam kondisi fisik yang ada,
seperti beban angin dan gerakan gelombang, untuk
mencegah bagian-bagian yang terlepas dari keseluruhan
integritas struktural (Kapitzke et al., 2002). Bahan yang
digunakan juga harus tahan terhadap degradasi karena
kekuatan kimia lingkungan perairan.

j. Bangunan (misalnya gudang) tidak boleh ditempatkan di


atas air. Bangunan cenderung membutuhkan struktur
perairan dengan tapak pembangunan yang lebih luas.

k. Zona penyangga Zona penyangga dapat digunakan untuk


mengurangi dampak konstruksi dan operasional
infrastruktur perairan pada habitat ikan terdekat. DPI & F
merekomendasikan lebar penyangga minimum generik
100 m antara perkembangan dan lahan pasang surut, dan
50 m antara perkembangan dan daerah air tawar (Bavins
et al., 2000). Struktur akuatik, bagaimanapun, harus
ditempatkan di air dan jarak pemisah yang tepat dari
habitat ikan yang berdekatan penting paling tepat
ditentukan pada basis spesifik situs. GBRMPA
merekomendasikan jarak penyangga berikut antara
struktur dan 'lingkungan sensitif' (Great Barrier Reef
Marine Park Authority, 2004):

 Ponton turis, observatorium, bantuan navigasi (<50


m);

 Dermaga pontoon, dermaga, fasilitas pendaratan (50

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 42 | P a g e


sampai 499 m); dan

 marina, groyne (> 500 m).

Beberapa modul mungkin menyediakan lebih dari satu


fungsi habitat, sementara yang lainnya dirancang khusus
untuk tujuan tertentu (misalnya kotak pemijahan untuk
spesies ikan bersarang). Di Jepang, berbagai struktur
dirancang untuk tujuan khusus untuk meningkatkan
perikanan (Stone et al., 1991). Misalnya, blok pemecah
gelombang beton dapat dimaksudkan untuk bertindak
sebagai pegangan rumput laut, sementara struktur bilik
dapat dirancang untuk meningkatkan produksi ikan, dan
rakit bambu untuk menarik ikan pelagis.
Beberapa struktur dirancang untuk melekat pada
infrastruktur yang ada, sementara yang lain berdiri sendiri
di substrat di bawah atau berdekatan dengan infrastruktur.
Modul, atau varian ini, dapat digabungkan ke dalam
rancangan infrastruktur baru atau ditambahkan ke struktur
yang ada. Sebagian besar modul 'independen' dapat
dimodifikasi untuk digantung dari infrastruktur perairan.
Modul yang tersuspensi dari infrastruktur bisa berbentuk
'kebun gantung' (Lennon, 2003). Modul juga bisa melekat
pada infrastruktur dan berlabuh ke substrat untuk memberi
stabilitas tambahan pada lingkungan energi yang lebih
tinggi. Stabilitas struktural modul di perairan pasang surut
dan dalam kondisi badai dan banjir merupakan
pertimbangan penting
Ada berbagai desain modular untuk struktur yang meniru
habitat terumbu karang. Modul dapat memiliki desain

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 43 | P a g e


piramid, kubah, kubah atau silindris, dan sebagian besar
memiliki dinding grid atau bukaan di panel samping untuk
memungkinkan aliran air dan akses ikan dengan cara
Reef Ball ™. Meskipun ada ratusan variasi desain
modular, struktur biasanya terbuat dari beton atau baja,
yang mencerminkan kebutuhan akan ketahanan dan daya
tahan, terutama di lingkungan laut dengan energi lebih
tinggi (Grove et al., 1991).

5.2.2.3 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi wisata


bahari;

Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : akomodasi,

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 44 | P a g e


jalan pelantar,ponton wisata,
pelabuhan wisata, titik labuh
(mooring buoy); bangunan
untuk kuliner; atau marine
scaping.

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan


halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
menggunakan cat pelapis anti
teritip yang ramah lingkungan

Rencana Detail dan studi letak geografis; data hidrografi


kelayakan teknis dan oseanografi, meliputi
batimetri, pasang-surut,
gelombang, arus, kualitas air
(pH, kekeruhan, kecerahan,
BOD/oksigen terlarut);
dan/atau geomorfologi dan
geologi laut, meliputi kondisi
geomorfologi, jenis dan
struktur batuan, substrat dasar
laut
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Sanitasi memiliki sistem sanitasi;
memiliki sistem pengolahan
limbah
Fasilitas Pendukung memperhitungkan penempatan
tali tambat agar tidak
mengakibatkan kerusakan
ekosistem laut.

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 45 | P a g e


memperhatikan tegangan tali
tambat dengan interval pasang
surut
Fasilitas air bersih
memasang penanda
keberadaan marine scapping
dengan Sarana Bantu Navigasi
Pelayaran; dan
menghindari kerusakan
ekosistem
memperhitungkan penempatan
tali tambat agar tidak
mengakibatkan kerusakan
ekosistem laut.

Umur pakai Minimal 25 tahun

(1) Desain umum


 Umur pakai minimal 25 tahun
 Menggunakan material ramah lingkungan dan bebas
korosi
(2) Dimensi
 Lebar jalan pelantar 2400 – 2500 mm diukur dari sisi
terluar modul apung meliputi aluminium walers
terintegrasi tetapi tidak termasuk bolted waler dan
fender
 Panjang jalan pelantar minimum dan maksimum
sesuai dengan gambar
 Panjang
 Freeboard minimal 375 – 500 mm

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 46 | P a g e


a. ponton wisata;

b. pelabuhan wisata;
Pelabuhan wisata atau marina umumnya berada di sepanjang
pantai untuk menambatkan kapal rekreasi di lokasi yang terlindung
dengan akses darat menunjang aktivitas memancing dan rekreasi
berperahu .
1. Pemilihan lokasi Marina diutamakan :
 memanfaatkan atribut alami dengan sedikit
gangguan terhadap habitat alami. Misalnya,
memilih lokasi dengan potensi transportasi
sedimen rendah sehingga dapat meminimalkan
pengerukan.
 Menjaga kualitas air pada pembilasan air
Desain dalam rangka peningkatan aliran air:

 Situs di perairan terbuka atau di mulut


perairan memiliki tingkat pembilasan yang
lebih tinggi daripada yang terjadi di hulu.
 Bentuk cekungan harus 'pas' (yaitu
mempertahankan) pola aliran alami.
 Hindari bujur sangkar atau buntu untuk
memberikan sirkulasi air yang cukup untuk
proses biologis.
 Cekungan harus lebih dangkal daripada
saluran akses.
 Pintu masuk harus lebar dan dalam dengan
kedalaman yang menurun secara bertahap ke
inner harbour untuk pembilasan dan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 47 | P a g e


menghindari lubang dalam yang terisolasi
dengan air yang stagnan.
 Struktur hars memastikan aliran air, tetap
meningkatkan migrasi ikan, peredaran air dan
transportasi littoral larva, propaganda
mangrove dan bahan biologis lainnya
meskipun desain (tumpukan terbuka,
pemecah gelombang mengambang, gorong-
gorong, dll).
 Pelabuhan dengan berbagai kedalaman akan
mendukung biota yang lebih beragam.
Misalnya, habitat vegetasi dangkal di
pelabuhan dapat digunakan oleh ikan kecil
dan dapat menyerap nutrisi untuk menjaga
kualitas air, sementara ikan yang lebih besar
dapat menghuni perairan yang lebih dalam di
dalam pelabuhan.

 Memaksimalkan lansekap vegetasi. Dalam


beberapa kasus, dimungkinkan untuk
merevegetasi dinding penstabil dengan
tanaman yang sesuai untuk memberi
kekuatan tambahan dan meningkatkan habitat
ikan.
 Gunakan dermaga berbentuk T atau L untuk
memisahkan aktivitas yang berbeda (misalnya
lalu lintas kapal, lalu lintas pejalan kaki,
berenang dan area duduk / melihat) dan
mengurangi keruwetan. Hal ini memungkinkan
penggunaan yang sama untuk dicapai dalam
tapak yang lebih kecil, sehingga mengurangi

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 48 | P a g e


gangguan habitat alami, stabilitas dermaga
meningkat dan biaya yang lebih rendah
(Burns, 2001).
 Pertimbangkan masalah keselamatan di mana
berenang dan menyelam diizinkan di dekat
infrastruktur. Hindari menggunakan struktur di
mana perenang dan penyelam cenderung
terjerat. Mungkin perlu untuk mencegah akses
publik ke struktur penyempurnaan habitat di
bawah dermaga (misalnya dengan memagari
area yang disempurnakan) tempat berenang
dan menyelam diizinkan.

5.2.2.4 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi


perhubungan laut;

Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa mercusuar
Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan
halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
bangunan
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll

5.2.2.5 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi


perhubungan darat

Kriteria Deskripsi

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 49 | P a g e


Desain Bangunan berupa :
terowongan bawah laut dan
jembatan
Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan
halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
bangunan
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Sanitasi

5.2.2.6 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi


telekomunikasi;

Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa kabel
telekomunikasi bawah air.
Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan
halaman radius minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
bangunan
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Sanitasi
Fasilitas air bersih

5.2.2.7 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi


pengamanan pantai;

Desain umum

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 50 | P a g e


 Bahan yang direkomendasikan (United States Army Corps
of Engineers, 1995) meliputi:

 Rubble toe atau ripap revetment akan memberi lebih


banyak habitat biota daripada struktur homogen seperti
beton halus.

 Batu baja besar lebih stabil dengan keragaman struktur


habitat yang lebih besar (ruang interstisial) daripada batu
yang lebih kecil.

 Ukuran batuan variabel dalam suatu struktur menciptakan


keragaman habitat yang lebih besar melalui ruang yang
lebih besar dan lebih bervariasi (Lennon, 2003).

 Perlindungan kaki pada struktur terendam memberikan


habitat 'terumbu karang' yang lebih beragam.

 Vegetasi garis pantai harus dipertahankan bila


memungkinkan dan ditanam bila sesuai. Vegetasi
menyediakan ikan dengan habitat tambahan, naungan
untuk menjaga suhu air yang sesuai dan aliran bahan
organik (daun, buah, serangga, dll).

Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : krib (groin);
pengarah arus aliran sungai dan
arus pasang

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 51 | P a g e


surut;revetmen;tanggul laut (sea
dike);tembok laut (sea wall); atau
pemecah gelombang
(breakwater).

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan


instalasi pengaman radius
minimal m
Material ramah lingkungan
Akses akses dari dan ke jaringan
bangunan
Resiko Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Sanitasi
Fasilitas air bersih

5.2.2.8 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi kegiatan


usaha minyak dan gas bumi dan pertambangan ;
Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : anjungan
lepas pantai (offshore
platform); anjungan apung;
anjungan bawah laut (sub sea
system); pipa bawah laut
dan/atau instalasi minyak dan
gas bumi; atau fasilitas
penunjang kegiatan usaha
minyak dan gas bumi,
bangunan untuk tempat
penampungan sementara
mineral dan batu bara; fasilitas
penunjang kegiatan usaha
pertambangan mineral dan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 52 | P a g e


batu bara; danpipa fluida
lainnya

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan


instalasi pengaman radius
minimal m
Material ramah lingkungan
Beban dan stabilitas akses dari dan ke jaringan
bangunan
Modul Apung Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Tiang Pancang
Bangunan Pendukung

5.2.2.9 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi instalasi


ketenagalistrikan;

Kriteria Deskripsi
Desain desain instalasi pembangkit
listrik energi arus laut yang
akan digunakan
Akses akses dari dan ke jaringan
ketenagalistrikan
Resiko Resiko banjir, arus, gelombang

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 53 | P a g e


dll
Bangunan Penyangga memiliki rencana kontijensi;
melakukan analisa terhadap
data konduktifitas, temperatur,
dan kedalaman (conductivity,
temperature, depth (CTD));
tambahkan berdasarkan hasil
survei kondisi tanah/geoteknik
yang meliputi sifat-sifat fisis
dan mekanis lapisan tanah;
tidak mengganggu Alur
Pelayaran dan Alur Laut
Kepulauan Indonesia;
memenuhi persyaratan vertical
clearance untuk penempatan
kabel saluran udara terhadap
keselamatan pelayaran dan
keselamatan penerbangan;
memenuhi persyaratan ruang
bebas dan jarak bebas
minimum;
mempertimbangkan kajian
teknis terkait dampak
elektromagnetis dari kabel
saluran udara;
melaksanakan penentuan titik
koordinat awal dan akhir;
melaksanakan penilaian
risiko;
melaksanakan studi
kelayakan, yang berupa:

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 54 | P a g e


1. kelayakan teknis; dan
2. kelayakan sosial-
ekonomi;
memperhatikan keberadaan
sumber daya laut dan jalur
ruaya biota laut.

Penempatan saluran air mempertimbangkan


(water canal intake/outlet) keberadaan sumber daya laut
dan jalur ruaya biota laut dalam
penentuan landing points
peraturan perundang-
undangan di bidang
perhubungan, perhubungan,
kelautan dan perikanan, energi
dan sumber daya mineral,
pekerjaan umum; dan
ketenagalistrikan

5.2.2.10 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi pengumpulan


data dan penelitian;
Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : alat
pengumpulan data
oseanografi, bangunan
penelitian sumber daya ikan;
bangunan penelitian kelautan

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 55 | P a g e


instalasi pengaman radius
minimal m
Material ramah lingkungan
Beban dan stabilitas akses dari dan ke jaringan
bangunan
Modul Apung Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Tiang Pancang
Bangunan Pendukung

.
5.2.2.11 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi pertahanan
dan keamanan;

Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa : anjungan
lepas pantai (offshore
platform); anjungan apung;
anjungan bawah laut (sub sea
system); pipa bawah laut
dan/atau instalasi minyak dan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 56 | P a g e


gas bumi; atau fasilitas
penunjang kegiatan usaha
minyak dan gas bumi,
bangunan untuk tempat
penampungan sementara
mineral dan batu bara; fasilitas
penunjang kegiatan usaha
pertambangan mineral dan
batu bara; danpipa fluida
lainnya

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan


instalasi pengaman radius
minimal m
Material ramah lingkungan
Beban dan stabilitas akses dari dan ke jaringan
bangunan
Modul Apung Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Tiang Pancang
Bangunan Pendukung

5.2.2.12 Bangunan dan Instalasi di Laut memiliki fungsi penyediaan


sumber daya air.
Kriteria Deskripsi
Desain Bangunan berupa instalasi air
bersih

Dimensi dan material Bangunan dilengkapi dengan

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 57 | P a g e


instalasi pengaman radius
minimal m
Material ramah lingkungan
Beban dan stabilitas akses dari dan ke jaringan
bangunan
Modul Apung Manajemen terhadap Resiko
banjir, arus, gelombang dll
Tiang Pancang
Bangunan Pendukung

Pedoman Penentuan Kriteria dan Persyaratan Bangunan dan Instalasi Laut 58 | P a g e