Anda di halaman 1dari 18

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Penelitian

Pada bab ini dibahas hasil penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 6 Kota

Bengkulu sebanyak 11 siswa kelas XI IPA B dan sebagai kelompok ekperimen dan 11

siswa kelas IPA C sebagai kelompok kontrol. Perbedaan kelas pada kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan untuk mencegah terjadinya interaksi. Waktu

pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2018. Secara spesifik penelitian

ini adalah untuk mengetahui efektivitas setting kelompok dengan pendekatan Cognitive

Behavior Modivication menggunakan audio visual untuk meningkatkan pemahaman

kesehatan reproduksi remaja. Data-data yang diperoleh adalah hasil dari pretest dan

posttest berkaitan dengan pemahaman kesehatan reproduksi remaja. Deskripsi data

dilakukan pada setiap kelompok penelitian (kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol).

1. Hasil Data Pemahaman Keshatan Remaja Kelompok Eksperimen

Data penelitian yang diperoleh pada kelompok eksperimen berdasarkan

instrumen yang telah diberikan kepada 11 orang siswa kelompok eksperimen

sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest).

a. Hasil Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen

Berikut disajikan skor masing-masing pemahaman kesehatan reproduksi

remaja kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan pada

Tabel 6.
Tabel 8. Perbandingan Pemahaman Kesehatan Reeproduksi Siswa
Kelompok Eksperimen Pretest-Posttest

Kode Pretest Posttest


No
siswa Skor Kategori Skor Kategori
1 E1 110 Sedang 143 Tinggi
2 E2 122 Sedang 156 SangatTinggi
3 E3 130 Tinggi 148 Tinggi
4 E4 111 Sedang 149 SangatTinggi
5 E5 134 Tinggi 168 SangatTinggi
6 E6 114 Sedang 157 SangatTinggi
7 E7 127 Tinggi 142 Tinggi
8 E8 118 Sedang 147 Tinggi
9 E9 106 Sedang 163 SangatTinggi
10 E 10 105 Sedang 167 SangatTinggi
11 E 11 117 Sedang 172 SangatTinggi
Rata-rata 117.63 Sedang 155.63 Sangat Tinggi

Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa pemahaman kesehatan reproduksi

siswa kelompok eksperimen mengalami perubahan atau peningkatan setelah

diberikan setting kelompok menggunakan pendekatan CBM menggunakan

audio visual Sebelum diberikan setting kelompok menggunakan pendekatan

CBM menggunakan audio visual, rata-rata skor pretest sebesar 117.63 dan

berada pada kategori sedang. Selanjutnya, setelah diberikan setting kelompok

menggunakan pendekatan CBM menggunakan audio visual, rata-rata skor

posttest meningkat menjadi sebesar 155.63 dan berada pada kategori sangat

tinggi.

Perbedaan frekuensi kondisi kelompok eksperimen dari hasil pretest dan

posttest tentang pengetahuan kesehatan reproduksi remaja dapat dilihat pada

Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Pretest dan Posttest Pemahaman Kesehatan Remaja Kelompok
Eksperimen

Pretest Posttest
Interval Kategori
Frekuensi % Frekuensi %
148 < X ≤ 185 Sangat Tinggi 0 0 7 63.63
123,33 < X ≤ 148 Tinggi 3 27.27 4 36.37
98,67 < X ≤ 123,33 Sedang 8 72.73 0 0
74 < X ≤ 98,67 Rendah 0 0 0 0
37 < X ≤ 74 Sangat Rendah 0 0 0 0
 Jumlah 11 100 11 100

Berdasarkan Tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan

pemahamankesehatan reproduksi remaja pada kelompok eksperimen sebelum dan

setelah mendapat perlakuan. setting kelompok menggunakan pendekatan CBM

menggunakan audio visual. Pemahaman kesehatan remaja pada saat pretest berada

pada kategori tinggi sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 27.27%, dan 8

orang siswa dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 72.73 %. Setelah

diberikan perlakuan terjadi perubahan di mana dapat dilihat dari hasil posttest

sebanyak 7 orang siswa berada dalam kategori sangat tinggi dengan persentase

sebesar 63.63%, dan 4 orang siswa berada dalam kategori tinggi dengan persentase

sebesar 36.37%

Berdasarkan Tabel 9, terlihat 11 orang anggota kelompok eksperimen yang

dilibatkan dalam perhitungan, mengalami peningkatan skor dari pretest dan posttest

atau mengalami perubahan setelah diberikan setting kelompok menggunakan

pendekatan CBM menggunakan audio visual. Untuk melihat kondisi masing-masing

pengtahuan kesehatan reproduksi remaja dari kelompok pretest dan posttest dapat

dijelaskan pada Gambar 6.


200
180
160
140
120
100 Pretest
80 postest
60
40
20
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Gambar 6. Histogram Hasil Pretest dan Posttest Pemahaman Kesehatan


Reproduksi Remaja Kelompok Eksperimen

Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa terdapat pemahaman

kesehatan remaja sebelum dan setelah diberi perlakuan setting kelompok

menggunakan pendekatan CBM dengan audio visual. Dari 11 orang siswa yang

mendapat perlakuan, semua siswa mengalami peningkatan pemahaman kesehatan

reproduksi remaja.

2. Hasil Data Pemahaman kesehatan reproduksi remaja Kelompok Kontrol

Hasil data penelitian yang diperoleh pada kelompok kontrol berdasarkan

instrumen yang telah diberikan kepada 11 orang siswa kelompok kontrol sebelum

perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest).

a. Hasil Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol

Berikut disajikan skor masing-masing pengetehuan kesehatan reproduksi

remaja siswa kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan perlakuan pada

Tabel 10.

Tabel 10. Perbandingan Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja


Kelompok Kontrol Pretest-Posttest
Kode Pretest Posttest
No
Siswa Skor Kategori Skor Kategori
1 K1 130 Tinggi 140 Tinggi
2 K2 113 Sedang 138 Tinggi
3 K3 137 Tinggi 135 Tinggi
4 K4 113 Sedang 133 Tinggi
5 K5 118 Sedang 148 Tinggi
6 K6 119 Sedang 139 Tinggi
7 K7 102 Sedang 158 SangatTinggi
8 K8 120 Sedang 136 Tinggi
9 K9 130 Tinggi 138 Tinggi
10 K 10 113 Sedang 128 Tinggi
11 K 11 108 Sedang 129 Tinggi
Rata-rata 118.45 Sedang 138.36 Tinggi

Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa pemahaman kesehatan remaja

kelompok kontrol mengalami perubahan atau peningkatan setelah diberikan sttting

kelompok tanpa menggunakan pendekatan CBM dan audio visual. Sebelum

diberikan setting kelompok rata-rata skor pretest sebesar 118.45 dan berada pada

kategori sedang. Selanjutnya, setelah diberikan setting kelompok tanpa

menggunakan pendekatan CBM dan audio visual. rata-rata skor posttest sebesar

138.36 dan mengalami peningkatan ke dalam kategori tinggi. Hasil peningkatan

yang terjadi pada kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan dengan kelompok

eksperimen dan memiliki selisih rata-rata sebesar 19.91.

Perbedaan frekuensi kondisi kelompok kontrol dari hasil pretest dan posttest

tentang pemahaman kesehatan reproduksi remaja dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Pretest dan Posttest Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja
Kelompok Kontrol
Pretest Posttest
Interval Kategori
Frekuensi % Frekuensi %
148 < X ≤ 185 Sangat Tinggi 0 0 1 9.09
123,33 < X ≤ 148 Tinggi 3 27.27 10 90.91
98,67 < X ≤ 123,33 Sedang 8 72.73 0 0
74 < X ≤ 98,67 Rendah 0 0 0 0
37 < X ≤ 74 Sangat Rendah 0 0 0 0
 Jumlah 11 11 100 11

Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan

pemahamanksehatan reproduksi remaja pada kelompok kontrol sebelum dan setelah

mendapat perlakuan setting kelompok tanpa menggunakan pendekatan CBM mlalui

audio visual. Pemahaman kesehatan rproduksi remaja pada saat pretest berada pada

kategori tinggi sebanyak 3 orang siswa dengan persentase sebesar 27.27%, 8 orang

siswa berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 72.73%, setelah

diberikan perlakuan setting kelompok tanpa menggunakan pendekatan cbm melalui

audio visual maka pemahaman kesehatan reproduksi siswa mengalami peningkatan

dengan kategori sangat tinggi sebanyak 1 orang siswa dengan persentase sebesar

9.09%, 10 orang siswa berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar

90.91%,

Berdasarkan Tabel 11, terlihat 11 orang anggota kelompok kontrol yang

dilibatkan dalam perhitungan, mengalami peningkatan skor dari pretest dan posttest

atau mengalami perubahan setelah diberikan layanan informasi tanpa menggunakan

model CBM dan audio visual. Untuk melihat kondisi masing-masing perencanaan

karier siswa dari kelompok pretest dan posttest dapat dijelaskan pada Gambar 7.

180
160
140
120
100
Petest
80
Postest
60
40
20
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Gambar 7. Histogram Hasil Pretest dan Posttest Pemahaman Kesehatan
Reproduksi Remaja Kelompok Kontrol

Berdasarkan Gambar 5 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan

pemahaman kesehatan reproduksi remaja sebelum dan setelah diberi perlakuan

setting kelompok tanpa menggunakan pendekatan cbm dan audio visual. Dari 11

orang siswa yang mendapat perlakuan, semua siswa mengalami perubahan atau

peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi remaja

B. Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis digunakan uji parametrik dengan rumus Uji paired

sample t- test dan Uji independent sample t- test dengan menggunakan bantuan program

SPSS versi 23.00. Uji paired sample t- test digunakan untuk menganalisis hasil-hasil

pengamatan yang berpasangan dari dua data apakah berbeda atau tidak. Sedangkan untuk

dua data yang independen digunakan rumus Independent Sample t- test. Adapun

hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman kesehatan reproduksi remaja

kelompok eksperimen sebelum dan setelah diberikan perlakuan setting kelompok

melalui pendekatan CBM dengan menggunakan audio visual.

2. Terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman kesehatan reproduksi remaja

kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan perlakuan setting kelompok tanpa

melalui pendekatan CBM melalui audio visual .

3. Terdapat perbedaan yang signifikan pemahamankesehatan reproduksi remaja yang

signifikan siswa kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan setting kelompok


menggunakan pendekatan CBM melalui audio visual, dengan kelompok kontrol yang

diberikan setting kelompok tanpa menggunakan pendekatan cbm dan audio visual.

Adapun kriteria keputusan pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:

1. Terima H0 dan tolak H1 apabila probabilitas (sig 2-tailed) > alpha

(α = 0.05)

2. Tolak H0 dan terima H1 apabila probabilitas (sig 2-tailed) < alpha

(α = 0.05)

1. Pengujian Perbedaan Pretest Pemahaman Kesehatan Reproduksi Kelompok


Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Sebelum dilakukan perlakuan, skor kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol harus setara dan tidak terdapat perbedaan. Oleh karena itu, hasil data pretest

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dianalisis menggunakan uji Independent

sampel-test melalui program komputer SPSS versi 23.00. Berdasarkan hal tersebut

didapatkan hasil perhitungan seperti yang terangkum pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Analisis Independent Samples test pretest Pemahaman Kesehatan
Reproduksi Remaja Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Independent Sample t Test


Levene's Test
for Equality
of Variances t-test for Equality of Means
Std. 95% Confidence
Mean Error Interval of the
Sig. (2- Differen Differen Difference
F Sig. T Df tailed) ce ce Lower Upper
Nilai Equal
variances .005 .947 .191 20 .851 .818 4.287 -8.124 9.760
assumed
Equal
19.89
variances not .191 .851 .818 4.287 -8.126 9.763
9
assumed

Berdasarkan Tabel 10 diperoleh Asymp. Sig.(2-tailed) sebesar 0.851 atau

probabilitas di atas 0.05. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan data kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol tidak memiliki perbedaan yang signifikan atau

berada pada kategori yang sama.

2. Pengujian Hipotesis Pertama yaitu Perbedaan Pretest dan Posttest Pemahaman


kesehatan reproduksi remaja Kelompok Eksperimen

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ialah “Terdapat perbedaan

yang signifikan pemahaman kesehatan reproduksi remaja kelompok eksperimen

sebelum dan setelah diberikan perlakuan setting kelompok menggunakan pendakatan

cbm dan audio visual. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan teknik analisis

statistik paired sampel test melalui program komputer SPSS versi 23.00. Berdasarkan

hal tersebut didapatkan hasil perhitungan seperti yang terangkum pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Analisis paired sampel Test Perbedaan Pemahaman Kesehatan
Reproduksi Remaja pada Pretest dan Posttest Kelompok
Eksperimen

Paired Samples t Test


Paired Differences
95% Confidence
Interval of the
Std. Std. Error Difference Sig. (2-
Mean Deviation Mean Lower Upper T df tailed)
Pair 1 pretest –
-19.909 14.802 4.463 -29.853 -9.965 -4.461 10 .001
posttest

Berdasarkan Tabel 11 di atas, terlihat bahwa angka probabilitas Asymp. Sig.(2-

tailed) pemahaman kesehatan reproduksi remaja kelompok eksperimen sebesar 0.04,

atau probabilitas di bawah alpha 0.05 (0.001 < 0.05). Dari hasil tersebut maka Ho

ditolak dan HI diterima. Dengan demikian, maka hipotesis pertama yang diuji dalam

penelitian ini dapat diterima, yaitu “Terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman

kesehatan reproduksi remaja kelompok eksperimen, sebelum dan setelah diberikan

perlakuan setting kelompok menggunakan pendekatan cbm melalui audio visual”.


3. Pengujian Hipotesis Kedua yaitu Perbedaan Pretest dan Posttest Pemahaman
Kesehatan Reproduksi Remaja Kelompok Kontrol

Pada hipotesis kedua yang diuji dalam penelitian ini adalah “Terdapat

perbedaan yang signifikan pemahaman kesehatan reproduksi remja kelompok kontrol

sebelum dan setelah diberikan setting kelompok tanpa menggunakan pendekatan cbm

dan audio visual. Hipotesis kedua penelitian ini juga akan diuji menggunakan analisis

stastistik dengan teknik paired Sampel Test dengan bantuan SPSS versi 23.00.

Analisis ini dipilih karena teknik ini menggunakan data yang berpasangan dengan dua

sampel yang berhubungan. Adapun hasil perhitungan terangkum pada Tabel 12.

Tabel 12. Hasil Analisis Test Pemahaman Kesehatan Reproduksi Remaja pada
Paired Sampel Test dan Posttest Kelompok Kontrol
Paired Samples t Test
Paired Differences
95% Confidence
Interval of the Sig. (2-
Std. Std. Error Difference T Df tailed)
Mean Deviation Mean Lower Upper
Pair 1 pretestE –
-38.000 15.225 4.591 -48.228 -27.772 -8.278 10 .000
posttestE

Berdasarkan Tabel 12 di atas, terlihat bahwa angka probabilitas Asymp. Sig.(2-

tailed) pemahaman kesehatan rproduksi remaja kelompok kontrol sebesar 0.003, atau

probabilitas di bawah alpha 0.05 (0.000 < 0.05). Dari hasil tersebut maka Ho ditolak

dan HI diterima. Dengan demikian, maka hipotesis kedua yang diuji dalam penelitian

ini tidak dapat diterima, yaitu “Terdapat perbedaan yang signifikan permahaman

kesehatan remaja kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan perlakuan setting

kelompok tanpa menggunaka pendekatan cbm melalui audio visual. Selanjutnya,

untuk melihat arah perbedaan tersebut, apakah pretest atau posttest yang lebih tinggi,

dapat dilihat berdasarkan pada Tabel 12.


4. Pengujian Hipotesis Ketiga yaitu Perbedaan Posttest Pemahaman Kesehatan
Reproduksi Remaja Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ialah “Terdapat perbedaan

yang signifikan perencanaan karier yang signifikan siswa kelompok eksperimen yang

diberikan perlakuan setting kelompok menggunakan pendekatan CBM melalui audio

visual. dengan kelompok kontrol yang diberikan setting kelompok tanpa

menggunakan menggunakan pendekatan CBM melalui audio visual”. Untuk menguji

hipotesis ketiga ini digunakan teknik independent Sampel Test dengan menggunakan

bantuan SPSS versi 23.00. Berdasarkan hal tersebut didapatkan hasil pengujian seperti

terangkum pada Tabel 13.

Tabel 13. Hasil Analisis Independent Samples Test Pemahaman Kesehatan


Reproduksi Remaja Kelompok Eksperimen dan Kontrol

Independent Sample t Test


Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Std. 95% Confidence
Mean Error Interval of the
Sig. (2- Differenc Differen Difference
F Sig. T df tailed) e ce Lower Upper
nilai Equal
variances 1.855 .188 -4.211 20 .000 -17.273 4.102 -25.830 -8.716
assumed
Equal
variances not -4.211 19.082 .000 -17.273 4.102 -25.856 -8.689
assumed

Berdasarkan Tabel 13, Dari hasil perhitungan uji independent samplet-test

diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai sig. kurang dari 0,05 maka Ho

diterima. Artinya ada perbedaan rata-rata posttest pengetahuan tentang kesehatan

reproduksi pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.


Pada bagian deskripsi data terlihat rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi

dibandingkan kelompok kontrol. Pemahaman kesehatan remaja kelompok eksperimen

mengalami peningkatan dan berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai rata-rata

sebesar 155.63. Kelompok kontrol juga mengalami peningkatan dan berada pada

kategori tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 138.36 Berdasarkan hasil rata-rata

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki selisih sebesar 17.27. Dengan

adanya hal tersebut, maka terdapat perbedaan dari hasil perlakuan kelompok

eksperimen yang diberikan setting kelompok menggunakan pendekatan CBM

melalui audio visual dan kelompok kontrol yang diberikan setting kelompok tanpa

menggunakan pendekatan CBM melalui audio visual. Jadi dapat disimpulkan setting

kelompok menggunakan menggunakan pendekatan CBM melaui audio visual lebih

efektif dalam meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi remaja.

C. Pembahasan

1. Perbedaan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi siswa antara kelompok

eksperimen sebelum (pretest) dan setelah (posttest) diberikan perlakuan.

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut

sistem, fungsi dan proses reproduksi remaja berbagai permasalahan kesehatan

reproduksi remaja antara lain: kehamilan tidak dikehendaki, kehamilan dan

persalinan usia muda, ketergantungan napza dan resiko terkena penyakit menular

seksual. Permasalahan tersebut disebabkan kurangnya informasi, pemahaman dan

kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Masalah kesehatan

reproduksi selain berdampak secara fisik, juga dapat berpengaruh terhadap

kesehatan mental, emosi, keadaan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Permasalahan kesehatan reproduksi remaja antara lain: kehamilan tidak

dikehendaki (KTD), kehamilan dan persalinan usia muda, masalah ketergantungan


napza yang meningkatkan resiko penyakit menular seksual (termasuk infeksi

HIV/AIDS), dan kekerasan seksual. Permasalahan remaja yang berkaitan dengan

kesehatan reproduksi berasal dari kurangnya informasi, pemahaman dan

kesadaran untuk mencapai keadaan sehat secara reproduksi. Orang tua yang

diharapkan remaja dapat dijadikan tempat bertanya atau dapat memberikan

penjelasan tentang masalah kesehatan reproduksi, ternyata tidak banyak berperan

karena masalah tersebut masih dianggap tabu untuk dibicarakan dengan anak

remajanya.

Guru, yang juga diharapkan oleh orang tua dan remaja dapat memberikan

penjelasan yang lebih lengkap kepada siswanya tentang kesehatan reproduksi,

ternyata masih menghadapi banyak kendala dari dalam dirinya, seperti: tabu,

merasa tidak pantas, tidak tahu cara menyampaikannya, tidak ada waktu, dan lain

sebagainya. Solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah

dengan pemberian pendidikan mengenai kesehatan reproduksi.

Penelitian PKBI pada tahun 2005 yang dilakukan di 4 kota besar yaitu

Jabotabek, Bandung, Surabaya, dan Medan tentang perilaku seksual

remajamenyatakan remaja yang telah melakukan hubungan seks pranikah di

Jabotabek 51%, Bandung 54 %, Surabaya 47% dan Medan 52% dengan kisaran

umur pertama kali melakukan hubungan seks pada umur 13-18 tahun, 60% tidak

menggunakan alat kontrasepsi, dan 85% dilakukan di rumah sendiri. Berdasarkan

data PKBI (2006), didapatkan 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per

tahun, 27% dilakukan oleh remaja, sebagian besar dilakukan dengan cara tidak

aman, 30-35% aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu atau Maternal

Mortality Rate (MMR).


Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan subjek

penelitian pada kelompok eksperimen (pretest) masih memiliki pengetahuan

tentang kesehatan reproduksi yang sedang dan tiga subjek memiliki pengetahuan

tentang kesehatan yang tinggi. Selanjutnya pada posttest menunjukkan bahwa

delapan subjek penelitian pada kelompok eksperimen sudah memiliki

pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang sangat tinggi dan tiga orang

memiliki pengetahuan yang tinggi. Artinya terdapat perubahan pemahaman

kesehatan reproduksi remaja pada pretest dan posttest.

2. Perbedaan perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi belajar siswa antara

kelompok kontrol sebelum (pretest) dan setelah (posttest) diberikan perlakuan

setting kelompok (setting kelompok biasa).

Pengetahaun tentang kesehatan reproduksi di perlukan remaja untuk bisa

bersikap dan berperilaku sehat serta mampu menjaga dirinya dari pergaulan

bebas. Seiring dengan perkembangan zaman, pergaulan remaja pada saat ini

semakin mengkhawatirkan. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja

sangat diperlukan untuk menjaga remaja dari pergaulan bebas Tingkat

pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dapat mempengaruhi sikap

dan perilaku responden tentang seks. Responden yang memiliki pengetahuan

yang baik tentang seks akan berusaha untuk menghidari perilaku seks bebas,

sedangkan responden yang tidak memiliki pengetahuan yang baik mempunyai

kemungkinan untuk melakukan penyimpangan seksual.

(Cunningham, 2007) menjelaskan bahwa perilaku seks pada remaja yang

tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup dan dengan tingkat emosi yang

masih labil dapat mengakibatkan efek yang sangat fatal, seperti ancaman

terhadap kesehatan terutama pada alat reproduksi wanita muda, ialah ketika
mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilannya yang tidak diinginkan

walaupun pengguguran tidak dibenarkan oleh hukum dan agama.

Masalah reproduksi remaja selain berdampak secara fisik, juga dapat

berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi, keadaan ekonomi dan

kesejahteraan sosial dalam jangka panjang. Dampak jangka panjang ter-sebut

tidak hanya berpengaruh terhadap remaja itu sendiri, tetapi juga ter-hadap

keluarga, masyarakat dan bangsa pada akhirnya. Permasalahan kesehatan

reproduksi pada remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut: (1) perilaku

berisiko, (2) kurangnya akses pelayanan kesehatan, (3) kurangnya informasi yang

benar dan dapat dipertanggungjawabkan, (4) banyaknya akses pada informasi

yang salah tanpa tapisan, (5) masalah PMS termasuk infeksi HIV/AIDS, (6)

tindak kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, pelecehan seksual dan transaksi

seks komersial, (6) kehamilan dan persalinan usia muda yang berisiko kematian

ibu dan bayi. dan (7) kehamilan yang tak dikehendaki, yang sering kali menjurus

kepada aborsi yang tidak aman dan komplikasinya. Menurut Biran (1980)

kehamilan remaja kurang dari 20 tahun berisiko kematian ibu dan bayi 2-4 kali

lebih tinggi dibanding ibu berusia 20-35 tahun. Penyebab mendasar dari keadaan

tersebut adalah: (a) rendahnya pendidikan remaja, (b) kurangnya keterampilan

petugas kesehatan, (c) kurangnya kesadaran semua pihak akan pentingnya

penanganan kesehatan remaja.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan subjek

penelitian pada kelompok kontrol (pretest) masih memiliki pengetahuan tentang

kesehatan reproduksi yang sedang dan tiga orang berada pada kategori tinggi.

Selanjutnya pada saat posttest sembilan subjek penelitian pada kelompok kontrol

sudah memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang tinggi dan dua
orang berada pada kategori sangat tinggi. Artinya pretest dan posttest

pemahaman kesehatan reproduksi mengalami perubahan.

3. Perbedaan pengetahuan kesehatan reproduksi belajar siswa antara kelompok

kontrol dan eksperimen sebelum (pretest) dan setelah (posttest) perlakuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas layanan setting

kelompok menggunakan CBM pada kelompok eksperimen dan pelaksanaan

layanan setting kelompok tanpa menggunakan CBM pada kelompok kontrol

dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap kesehatan repsoduksi siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada kelompok

eksperimen yang diberikan layanan setting kelompok menggunakan CBM dan

pada kelompok kontrol yang diberikan layanan setting kelompok tanpa

menggunakan model CBM.

Pemahaman siswa terhadap kesehatan reproduksi mengalami perubahan

atau peningkatan terlihat dengan adanya perubahan tingkat pemahaman siswa

terhadap kesehatan reproduksi. Pemahaman tersebut terlihat dari kemampuan

siswa dalam mengungkapkan pendapatnya ketika pelaksanaan layanan setting

kelompok.

Berdasarkan pelaksanaan layanan setting kelompok menggunakan CBM,

pada kelompok eksperimen siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan layanan,

hal ini terlihat dari seriusnya siswa mengikuti diskusi kelompok. Selanjutnya,

siswa mampu memecahkan masalah dari pertanyaan yang telah diberikan, siswa

juga dapat menyampaikan hasil diskusi kelompoknya dengan baik. Berbeda

dengan kelompok kontrol yang kegiatan layanannya juga membentuk kelompok,

peneliti hanya memberikan layanan setting kelompok biasa sehingga siswa

kurang aktif menyampaikan hasil pemahamannya.


Berdasarkan penjelasan di atas, Guru BK atau Konselor seharusnya

semakin kreatif dalam memberikan pelayanan BK khususnya dalam memberikan

layanan terkait pemahaman tentang kesehatan reproduksi remaja. Penggunaan

metode atau pendekatan dalam layanan disesuaikan dengan berbagai kriteria

sebagaimana yang telah dijelaskan dalam rangka mendukung tujuan pembelajaran

yang dilaksanakan Guru BK atau Konselor di sekolah.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa layanan setting

kelompok menggunakan CBM lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman

kesehatan reprosuksi siswa. Keefektifan ini terlihat dari jumlah keseluruhan

analisis yang dilakukan dimana skor hasil pemahaman reproduksi siswa

kelompok eksperimen mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan

kelompok kontrol. Dengan demikian penggunaan metode mengajar yang

bervariasi dan inovatif dalam pelaksanaan layanan setting kelompok mampu

mengarahkan siswa untuk berpikir lebih terarah. Berdasarkan hasil analisis data

di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan setting kelompok menggunakan CBM

dapat mieningkatkan pemahaman reproduksi siswa.

D. Keterbatasan Penelitian

Suatu penelitian dikatakan sempurna apabila sesuai dengan perencanaan dan

memenuhi syarat penelitian. Akan tetapi keterbatasan dapat terjadi baik yang

bersumber dari peneliti, subjek penelitian dan lain sebagainya. Adapun keterbatasan

dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Penelitian ini memiliki keterbatasan terutama dalam waktu pelaksanaan penelitian

yang hanya satu jam pembelajaran dan relatif singkat, maka dengan waktu yang

singkat tersebut peneliti mencoba memaksimalkan dalam memberikan layanan.


2. Pelaksanan penelitian pada kelompok eksperimen lebih dahulu diberikan

perlakuan pada pagi hari. Sedangkan, pada kelompok kontrol diberikan

perlakuan pada siang harinya. Hal ini dapat mempengaruhi dari hasil perlakuan

yang diberikan. Sebaiknya pelaksanaan penelitian pada kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol dilaksanakan dengan bergantian.

3. Pelaksanaan eksperimen pada penelitian ini tidak dapat mengontrol variabel

moderator, dalam artian peneliti tidak mampu mengukur variabel-variabel lain

yang mempengaruhi pemahaman siswa terhadap kesehatan reproduksi kelompok

eksperimen di luar perlakuan yang diberikan. Hal ini disebabkan keterbatasan

untuk melakukan kontrol penuh terhadap subjek penelitian. Berbeda dengan

penelitian eksperimen yang memungkinkan untuk mengontrol subjek

penelitiannya setiap saat secara penuh.

4. Aspek perubahan pemahaman siswa terhadap kesehatan reproduksi terjadi melalui

pelaksanaan pola layanan setting kelompok menggunakan CBM. Aspek ini masih

bisa dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti selanjutnya dengan pemilihan

pendekatan, model dan metode yang lainnya sehingga dapat meningkatkan

pemahaman reproduksi remaja.

5. Penelitian ini hanya memaparkan hasil pretest dan posttest subjek penelitian,

tanpa adanya pengamatan langsung hasil observasi dan pendalaman penelitian

untuk melihat perkembangan pemahaman reproduksi siswa selanjutnya.