Anda di halaman 1dari 43

KARAKTERISTIK ARSITEKTUR TROPIS PADA RUMAH

KOLONIAL BELANDA DI KOTA MEDAN

PROPOSAL

OLEH

RIZKI NAMIRA LUBIS (160406082)

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK ARSITEKTUR
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
DAFTAR ISI

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia pernah dijajah oleh beberapa negara Eropa seperti Portugis,

Perancis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Dari kelima negara Eropa tersebut,

Belanda merupakan negara yang paling lama menjajah Indonesia. Menurut Resink

(2013), Belanda membutuhkan waktu sekitar 300 tahun lebih untuk menaklukkan

hampir seluruh wilayah Indonesia. Kedatangan Belanda ke Indonesia baru terjadi

pada tanggal 22 Juni 1596 yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman di Pelabuhan

Banten. Pada masa penjajahan, Indonesia mengalami pengaruh budaya barat dari

berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah di dalam perencanaan permukiman

dan perkotaan serta bangunan-bangunan dengan konsep arsitektur tradisional

belanda yang diterapkan oleh arsitek dan pengelola kota yang berasal dari Belanda.

(Wardani, 2009). Perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia berawal

dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an (Handinoto, 1996). Sedangkan menurut

Soekiman (2011), arsitektur Belanda berkembang di Indonesia selama Indonesia

masih di bawah kekuasaan Belanda yaitu sekitar awal abad ke 17 sampai tahun

1942, dan menurutnya arsitektur kolonial belanda merupakan arsitektur cangkok

Eropa yang artinya adalah sebuah arsitektur dari Belanda yang dikembangkan di

Indonesia. Arsitektur kolonial sendiri memiliki pemikiran “dari rakyat untuk

rakyat”, yang artinya arsiteknya dilahirkan dari karya arsitek Belanda dan

diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia pada masa sebelum

kemerdekaan Indonesia. Walaupun begitu, bangunan kolonial di Indonesia ramai

3
dikunjungi oleh masyarakat lokal karena bangunannya yang ikonik dan bersejarah.

Menurut Sumalyo (1995), bangunan kolonial di Indonesia adalah suatu fenomena

unik karena adanya percampuran budaya antara budaya penjajah dan budaya

Indonesia yang tidak akan didapatkan di tempat lain, termasuk negara yang

merupakan bekas jajahan. Selama masa penjajahan, bangunan kolonial banyak

dibangun dengan berbagai macam tipologi dan bentuk yang dikembangkan. Dan

dari situ, masyarakat Indonesia banyak yang mengadopsi dan menerapkan design

maupun detail-detail tertentu, terutama pada rumah tinggalnya. Gaya kolonial pada

rumah tinggal dinilai sebagai cerminan kedudukan ekonomi atau kebangsawanan

pemilik rumah. Sehingga kini gaya arsitektur kolonial sudah menjadi bagian dari

gaya rumah tinggal di Indonesia. Selain rumah tinggal, jenis bangunan arsitektur

kolonial yang ada di Indonesia adalah bangunan perkantoran, bangunan pusat

pemerintahan, stasiun, rumah sakit, rumah tinggal, gereja, dan sebagainya.

Bangunan kolonial juga banyak tersebar di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang

mana kedua pulau tersebut merupakan daerah penting dari segi ekonomi selama

masa penjajahan Belanda di Indonesia. Salah satu kota yang memiliki banyak

bangunan bersejarah dan rumah tinggal bernuansa kolonial belanda adalah Kota

Medan. Sebagai ibukota dari provinsi Sumatera Utara, Kota Medan memiliki

sejarah yang panjang terkait penjajahan Belanda. Kota yang dibangun pada tahun

1590 Masehi oleh Guru Patimpus ini dulunya merupakan pusat pemerintahan

kolonial Belanda. Oleh sebab itu, hal tersebut berpengaruh kepada perkembangan

arsitektur kolonial yang cukup pesat di Kota Medan dari masa sebelum

kemerdekaan Indonesia sampai sesudah kemerdekaan.

4
Menurut Safeyah (2006), arsitektur yang muncul pada awal masa setelah

kemerdekaan Indonesia banyak dipengaruhi oleh arsitektur kolonial Belanda, di

samping adanya pengaruh dorongan para arsitek Indonesia untuk terlihat berbeda

dari arsitektur kolonial yang sudah ada. Namun, tentunya terdapat beberapa aspek

yang menjadi perhatian para arsitek dalam membangun dan mengembangkan

konsep-konsep arsitektur kolonial baik di masa penjajahan Belanda maupun masa

pasca penjajahan Belanda di Indonesia. Aspek terpenting yaitu adalah kondisi iklim

dan cuaca di Indonesia yang sangat berbeda dengan Eropa (Belanda). Indonesia

hanya memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan sedangkan Eropa

memiliki 4 musim yaitu musim panas, musim salju, musim semi, dan musim gugur.

Maka dari itu, arsitektur kolonial dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kondisi

iklim tropis Indonesia.

Arsitektur tropis sendiri menjadi pilihan untuk sebuah jawaban atas kondisi

lingkungan di Indonesia yang mencoba memecahkan permasalahan iklim tropis.

Arsitektur tropis berpedoman pada lingkungan sekitar dan memanfaatkan potensi

lingkungan yang ada, baik pemecahan masalah terhadap iklim dan segala hal yang

berhubungan dengan sekitarnya (Lippsmeier, 1997). Arsitektur tropis

mengutamakan bangunan agar menghasilkan perancangan pasif yaitu dengan cara

meminimalisir penggunaan energi pada bangunan. Rancangan pasif mengandalkan

kemampuan arsitek untuk mengantisipasi permasalahan iklim luar.

Pengaruh yang paling utama adalah dari kondisi suhu dan tingkat

kelembaban yang mengarah kepada kenyamanan dalam ruangan bagi penghuni dan

pengguna ruangan. Arsitektur tropis seringkali didefinisikan dalam segi bentuk

(tipologi) dan tampilan saja seperti penggunaan material alami ataupun

5
pemanfaatan vegetasi yang mana hal tersebut sebenarnya belum cukup

merepresentasikan nilai dari arsitektur tropis. Terdapat hal lain seperti sistem

bangunan yang harus dipertimbangkan dalam sebuah design arsitektur tropis. Mulai

dari penggunaan material, pencahayaan, sirkulasi udara, dan sebagainya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis karakteristik

arsitektur tropis pada beberapa rumah kolonial yang berada di Kota Medan serta

menjadi tolak ukur pengetahuan tentang arsitektur tropis yang mana sangat

dibutuhkan dalam merancang sebuah bangunan dengan keadaan iklim tropis

Indonesia. Selain itu, kajian ini bertujuan untuk menelaah mengapa rumah-rumah

bergaya kolonial masih banyak yang bertahan sampai sekarang dan masih banyak

digunakan sebagai desain alternatif dari banyakanya gaya arsitektur yang lain.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka dapat disimpulkan bahwa

rumusan masalahnya yaitu :

1. Apakah rumah kolonial di Kota Medan memenuhi karakteristik arsitektur

tropis?

2. Apa persamaan dan perbedaan antara sesama rumah kolonial belanda di Kota

Medan berdasarkan karakteristik arsitektur tropis?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah rumah kolonial di Kota Medan sudah memenuhi

karakteristik arsitektur tropis

6
2. Untuk mengkaji persamaan dan perbedaan dua rumah kolonial belanda di Kota

Medan berdasarkan karakteristik arsitektur tropis.

1.4 Batasan Masalah

Penelitian ini hanya membahas mengenai bangunan kolonial Belanda dengan studi

kasus rumah yang ditinjau dari karakteristik arsitektur tropis.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini baik bagi penulis dan pembaca adalah berupa ilmu

untuk mengetahui karakteristik arsitektur tropis yang terdapat pada bangunan

kolonial Belanda yang mana hal tersebut menjadi acuan dalam menjawab

pertanyaan tentang mengapa arsitektur kolonial Belanda dapat bertahan dari zaman

penjajahan Belanda sampai sekarang.

7
1.6 Kerangka Berpikir

Latar Belakang
• Sejarah singkat penjajahan Belanda di Indonesia
• Perkembangan arsitektur kolonial
• Pemahaman singkat mengenai arsitektur tropis

Judul Penelitian
Karakteristik Arsitektur Tropis Pada Bangunan Kolonial Belanda

Rumusan Masalah
• Apa hubungan antara bangunan kolonial dan arsitektur tropis?
• Apakah bangunan kolonial belanda sudah memenuhi karakteristik arsitektur tropis?

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk dapat mengetahui hubungan antara bangunan kolonial dan
arsitektur tropis dan mengkaji karakteristik arsitektur tropis pada bangunan kolonial

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi serta pengetahuan mengenai
arsitektur tropis dan arsitektur kolonial belanda serta karakteristik arsitektur tropis pada
bangunan kolonial Belanda di Indonesia

Kajian Pustaka

Metode Penelitian

8
1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan keseluruhan laporan penelitian ini terdiri dari 6 bab

dengan uraian masing-masing bab sebagai berikut:

• Bab I (Pendahuluan)

Bab ini membahas tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, batasan penelitian, kerangka berfikir, dan sistematika penulisan.

• Bab II (Tinjauan Pustaka)

Bab ini membahas tentang teori yang digunakan guna melakukan penelitian. Tinjauan yang

dimaksud adalah mengenai sejarah kedatangan Belanda, sejarah arsitektur kolonial

Belanda, perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia, periodesasi arsitektur

kolonial Belanda di Indonesia, dan arsitektur tropis.

• Bab III (Metodologi Penelitian)

Bab ini membahas tentang tata acara yang akan dilaksanakan pada penelitian. Penelitian

ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif berupa pemecahan masalah yang ada pada

saat ini berdasarkan data-data dan menganalisis serta mendeskripsikan objek penelitian.

• Bab IV (Deskripsi Objek dan Kawasan Penelitian)

Bab ini membahas tentang deskripsi objek yaitu rumah bangunan kolonial belanda yang

akan diteliti serta orientasinya. Dan bab ini juga membahas mengenai detail bangunan dan

lingkungan sekitar.

• Bab V (Hasil dan Pembahasan)

Bab ini membahas tentang hasil dan pembahasan penelitian secara sistematis yang didasari

dengan kerangka berfikir serta landasan teori dan metodologi penelitian yang digunakan

untuk mengkaji pokok permasalahan dan studi kasus yang diteliti. Hasil dari pembahasan

juga berupa deskripsi serta pengkajian arsitektur tropis pada arsitektur kolonial Belanda.

• Bab VI (Kesimpulan dan Saran)

Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran dari hasil dan pembahasan penelitian

9
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Rumah

Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal (Kamus Bahasa

Indonesia, 1997). Namun sebenarnya, rumah bukan hanya sebuah

bangunan (struktural) melainkan tempat kediaman yang memenuhi

syarat-syarat kehidupan layak yang dapat dilihar dari berbagai segi

kehidupan masyarakat. Rumah dapat diartikan sebagai tempat

perlindungan untuk menikmati kehidupan, beristirahat dan berkumpul

bersama keluarga. Penghuni memperoleh kesan pertama dari

kehidupannya di dalam rumah. Rumah juga harus menjamin

kepentingan keluarga yaitu untuk tumbuh, bersosialisasi dengan

tetangga, dan terlebih lagi rumah harus memberikan ketenangan,

kesenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan pada segala peristiwa

hidupnya. (Frick, 2006:1)

Rumah juga merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi antar

individu dalam perkenalan norma dan adat kebiasaan yang berlaku di

suatu masyarakat. Setiap perumahan memiliki sistem nilai yang berlaku

bagi warganya dan sistem tersebut berebda antara satu perumahan

dengan perumahan lainnya. Tergantung pada daerah dan masyarakat

setempatnya. (Sarwono dalam Budiharjo, 1998 : 148).

10
2.2 Sejarah Kedatangan Belanda ke Indonesia

Peristiwa jatuhnya Ibu Kota Romawi Timur, Konstantinopel, pada

tahun 1453 merupakan peristiwa yang mempengaruhi jalannya sejarah

dunia. Konstantinopel merupakan benteng terdepan Eropa untuk

membendung masuknya agama islam di Benua Eropa. Namun pada

akhirnya Kota Konstantinopel dapat ditaklukkan oleh Kerajaan Turki

Utsmani. Hal tersebut merupakan mimpi buruk bagi Eropa karena hubungan

antara dunia Barat dan dunia Timur terputus, yang mana hal tersebut juga

membuat jalur perdagangan antara keduanya terputus (Djakariah, 2014).

Hal tersebut mengakibatkan Eropa kesulitan untuk mendapatkan barang-

barang yang sangat dibutuhkan termasuk rempah-rempah. Akhirnya,

bangsa Eropa mulai melakukan penjelajahan ke wilayah yang dipelopori

oleh Portugis dan Spanyol, yaitu Benua Afrika dan Asia hingga sampai ke

Nusantara, yang tujuan awalnya hanya untuk berdagang. Namun, Bangsa

Eropa menyadari bahwa Bangsa Afrika dan Bangsa Asia lemah dan

akhirnya timbul niat untuk melakukan Kolonialisme dan Imperialisme.

Kolonialisme sendiri menurut Wikipedia adalah suatu sistem yang

dilakukan negara-negara penguasa dalam rangka menguasai suatu wilayah

untuk mendapatkan sumber daya negara yang dikuasainya sedangkan

Imperialisme merupakan sebuah kebijakan dalam dunia politik yang

tujuannya untuk menguasai negara lain dalam memperoleh kekuasaan dan

keuntungan dari negara yang dikuasainya.

Pada tahun 1596, Belanda masuk ke Pelabuhan Banten yang

dipimpin oleh Cornelis De Houtman. Namun, kedatangan bangsa Belanda

11
tidak disambut baik oleh masyarakat setempat Pelabuhan Banten karena

sikap Belanda yang kasar dan sombong. Bangsa Belanda mencoba datang

kembali ke Maluku pada bulan Maret tahun 1599 di bawah kepemimpinan

Jacob Van Neck dan Wybrecht Van Waerwyck. Hal tersebut semakin

memperkuat keinginan berbagai perusahaan di Belanda untuk

memberangkatkan kapalnya ke Indonesia. Pada waktu itu, ada 14

perusahaan Belanda yang telah memberangkatkan 62 kapal ke Indonesia

(Adi Sudirman, 2014). Hal tersebut menjadikan persaingan di antara sesama

pedagang Belanda semakin tinggi. Selain itu, mereka harus menghadapi

persaingan dengan bangsa Portugis, Spanyol, dan Inggris. Karena kondisi

tersebut, pedagang Belanda mengalami kerugian. Terlebih lagi perampokan

oleh bajak laut sering terjadi. Tujuan kedatangan bangsa-bangsa Eropa di

Indonesia pada awalnya hanya untuk berdagang dan hubungan yang terjadi

antara pedagang dan juga pembeli juga setara. Namun, keadaan tersebut

perlahan-perlahan berubah karena tingginya persaingan perdagangan antar

negara Eropa dan hal tersebut semakin mendorong mereka untuk menguasai

wilayah sumber-sumber rempah.

Pada 20 Maret 1602, atas inisiatif dari pangeran Maurits dan Johan

Van Olden Barnevelt, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde Oost

Indische Compagnie – VOC (Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia

Timur). Pada masa itu juga terjadi persaingan sengit di antara negara-negara

Eropa yaitu Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, dan juga Belanda untuk

memperebutkan kekuasaan perdagangan di Asia Timur. VOC pertama kali

membuka kantor dagangnya pada tahun 1602 di Banten dan dipimpin oleh

12
Francois Wittert (Wildan Herdiansyah, 2010). Tujuan awal dibangunnya

VOC adalah untuk menghindari persaingan antar perusahaan dan pedagang

Belanda dan bisa menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama

Spanyol dan Portugis (Adi Sudirman, 2014). Dan VOC dibangun untuk

kepentingan perdagangan lalu kemudian mulai melakukan monopoli

perdagangan hingga pada akhirnya mengembangkan kekuasaannya di

beberapa wilayah di Nusantara. Namun pada akhirnya bubar pada tanggal

31 Desember 1799.

Belanda tidak pernah mengalami penyerangan yang begitu

berpengaruh dari masyarakat Indonesia selama masa penjajahannya di

Indonesia. Namun, hal itu berubah saat Jepang berhasil menyerang Pearl

Harbour pada tanggal 8 Maret 1941 yang mengakibatkan Belanda hengkang

dari Indonesia. Kemudian, Jepang menyerbu pihak Belanda pada tanggal 10

Januari 1942 di Indonesia dan hal tersebut benar-benar mengakhiri

kekuasaan Belanda pada tanggal 8 Maret 1942 di Pulau Jawa. Pasukan

Belanda di Jawa juga menyerah kepada Jepang (Ricklefs, 2008: 401-402).

2.3 Sejarah Arsitektur Kolonial Belanda

Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia awalnya muncul pada abad

ke 16. Percampuran antara budaya pendatang dan budaya Indonesia yang

beraneka ragam menjadikan arsitektur kolonial Belanda sebagai fenomena

budaya yang unik (Sumalyo, 1993). Pengaruh percampuran kebudayaan

Barat dan Timur tersebut diterapkan oleh bangsa Belanda ke dalam

arsitektur bangunan.

13
Menurut Wirawan (2014), Arsitektur kolonial Belanda lebih banyak

mengadopsi gaya neo-klasik yang mana gaya tersebut berorientasi pada

bentuk dasar bangunan dengan trap-trap tangga naik (cripedoma), dan

kolom-kolom doric, ionic, dan Corinthian dengan berbagai bentuk ornamen

kapitalnya, bentuk pedimen yakni bentuk segitiga dengan relief yang

mengandung mitos Yunani atau Romawi di atas deretan kolomnya. Bentuk

bentuk konstruksi dinding berbentuk segitiga atau setengah lingkaran

(tympanum) diletakkan di atas pintu dan jendela yang berfungsi sebagai

hiasan.

Jika diteliti lebih jauh, arsitektur kolonial yang tersebar di Indonesia

mempunyai perbedaan dan karakteristik tersendiri antara satu tempat

dengan tempat yang lainnya. Namun, masih banyak sampai sekarang

perumahan-perumahan yang masih menggunakan sentuhan arsitektur

kolonial pada bangunannya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa

arsitektur kolonial merupakan suatu peninggalan dan telah menjadi bagian

dari kebudayaan bangsa Indonesia yang merupakan sebuah aset besar dalam

perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

2.3.1 Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia

Pada awal kedatangannya, Belanda tidak langsung diterima oleh

bangsa Indonesia yang mana tujuan Belanda adalah untuk berdagang

rempah-rempah. Namun seiring berjalannya waktu, kedatangan Belanda

disambut oleh bangsa Indonesia hingga sampai akhirnya dijajah. Bangsa

Belanda banyak yang membangun rumah dan permukimannya di dekat

pelabuhan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Dinding awal

14
bangunan rumah tinggal mereka terbuat dari papan dan bahan ijuk. Namun,

karena sering terjadinya konflik maka dibangunlah sebuah benteng yang

sudah mulai menggunakan material batu bata. Material batu bata dan para

tukang didatangkan khusus dari Belanda ke Indonesia. Mereka mulai

membangun rumah tinggal, gereja, dan bangunan-bangunan umum lainnya

dengan bentukan yang sama dengan negara asal mereka. Setelah memiliki

pengalaman yang cukup dalam membangun rumah dan bangunan lainnya,

bangsa Belanda sudah mulai memikirkan untuk memodifikasi model

bangunan sebagai bentuk penyesuaian terhadap iklim tropis yang dapat

menciptakan kenyamanan saat berada di dalam bangunannya.

2.3.1.1 Periodesasi

Menurut Handinoto (2012), dalam perkembangannya gaya

arsitektur kolonial di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu; Indische Empire

Style (Abad 18-19); Arsitektur Transisi (1890-1915) dan Arsitektur

Kolonial Modern (1915-1940). Berikut penjelasannya:

A. Arsitektur Indische Empire Style (Abad 18-19)

Indische Empire Style menurut Handinoto (2008) dibawa oleh Herman Willen

Daendels yang posisinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811).

Indische Empire Style merupakan suatu style arsitektur yang berkembang pada

abad ke-18 sampai akhir abad ke-19. Indische Empire Style awalnya muncul di

daerah pinggiran kota Jakarta (dahulu Batavia) yang munculnya karena suatu

kebudayaan Indische Culture yang sedang berkembang di Hindia Belanda.

Kebudayaan Indische adalah percampuran merupakan campuran antara

15
kebudayaan Eropa, Indonesia, dan sedikit kebudayaan orang China Peranakan.

Ciri-ciri arsitektur Indische Empire Style antara lain:

• Bentuk atap perisai dengan penutup atap genteng

• Konstruksi utama dari batu bata (baik kolom maupun tembok)

• Kuda-kuda, kusen, maupun pintu menggunakan kayu

• Tidak terlalu banyak menggunakan material kaca

• Denahnya berbentuk simetris penuh dan di tengah terdapat “central

room” yang berhubungan langsung dengan teras depan dan belakang

(voor galerij dan achter galeri) serta terdiri dari kamar tidur utama dan

kamar tidur lainnya.

• Memiliki dinding yang tebal, langit-langit tinggi, serta terdapat gevel

dan tower di atas

• Lantai berbahan marmer

• Ukuran terasnya biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan

kolom bergaya Yunani (Doric, Ionic, Corinthian).

• Kamar mandi, dapur, gudang, dan area service lainnya letaknya ada di

belakang dan merupakan bagian yang terpisah dengan bangunan

utama.

• Dan terkadang di samping bangunan utama terdapat paviliun yang

digunakan sebagai kamar tidur tamu.

• Jika rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada tanah luas

yang memiliki kebun di samping dan belakang

16
B. Arsitektur Transisi (1890-1915)

Arsitektur transisi di Indonesia berlangsung cukup singkat

menurut Handinoto (2012) yaitu pada akhir abad ke-19 sampai awal

abad 20 antara tahun 1890-1915. Hindia dipenuhi dengan perubahan

dalam masyarakatnya saat peralihan dari abad 19 ke abad 20. Penemuan

teknologi baru dan perubahan sosial akibat kebijakan politik pemerintah

kolonial berdampak pada perubahan bentuk dan gaya dalam bidang

arsitektur. Peralihan gaya dari gaya arsitektur Indische Empire menuju

Kolonial Modern sering terlupakan. Ciri-ciri arsitektur transisi menurut

Handinoto (2012) antara lain:

• Konstruksi atap pelana dan perisai

• Bahan utama bangunan yaitu kayu dan batu bata

• Bentuk atap tinggi dengan kemiringan besar antara 45o-60o

• Banyak menggunakan bentuk lengkung

• Kolom-kolom sudah memakai kayu dan beton dan dinding pemikul

• Denah masih mengikuti style Indische Empire yaitu simetri penuh

• Teras keliling pada denahnya masih dipakai tetapi berusaha untuk

menghilangkan style kolom Yunani

• Gevel-gevel pada arsitektur Belanda terletak di tepi sungai muncul

kembali

• Terdapat tower pada pintu masuk utama untuk memberikan kesan

romantis pada tampak

• Menggunakan konstruksi tambahan sebagai ventilasi pada atap

(dormer)

17
• Pemakaian bahan kaca terutama pada jendela masih sangat sedikit

C. Arsitektur Kolonial Modern (1915-1940)

Arsitektur modern adalah sebuah bentuk protes yang diutarakan

oleh arsitek-arsitek Belanda sesudah tahun 1900 atas gaya Empire Style.

Arsitek-arsitek Belanda yang berpendidikan akademis mulai

bermunculan ke Hindia Belanda dan mereka mendapatkan suatu gaya

arsitektur yang cukup asing dikarenakan Empire Style yang berkembang

di Perancis tidak mendapatkan respon yang baik di Belanda.

Berikut adalah ciri-ciri aristektur modern :

• Denah lebih bervariasi

• Atap berbahan dasar beton

• Pemakaian gevel horizontal

• Menggunakan besi cor

• Bentuk simetri banyak dihindari

• Tidak lagi menggunakan teras keliling

• Penggunaan elemen penahan sinar

• Penggunaan warna putih sangat dominan

• Form follows function

• Bentuk atap perisai dan pelana dengan bahan penutup sirap atau genting

• Penggunaan material kaca sudah banyak digunakan

• Sebagian bangunan berkonstruksi beton

18
2.3.1.2 Gaya dan Karakteristik Bangunan

Secara etimologi, kata gaya merupakan padanan dari Bahasa

Inggris yaitu Style, yang berarti alat pengores. Gaya atau style adalah suatu

tanda dimana seorang peneliti dapat mengamati dan memperkirakan serta

memperhatikan gaya melalui ciri-ciri khasnya. Gaya atau style muncul

karena dipengaruhi oleh lingkungan, kebutuhan, dan seniman pelakunya.

Dorongan seseorang berdasarkan perasaannya untuk melakukan sesuatu

yang lebih dari invidu lainnya atau melakukan sesuatu yang baru dari yang

lainnya adalah alasan mengapa gaya muncul. Lahirnya gaya mengacu pada

gaya yang sedang dianut dan mengadopsi gaya sebelumnya kemudian

diterapkan sesuai dengan kemampuan diri yang akhirnya melahirkan gaya

baru (Gustami, 2000). Sedangkan karakteristik menurut Adenan (2012)

adalah atribut pembentuk yang membedakan sebuah individu atau sebuah

kelompok dengan individu dengan kelompok lainnya.

Berikut adalah karakteristik bangunan kolonial Belanda dalam arsitektur

kolonial belanda menurut Handinoto dan Soehargo (1996):

1. Gevel/Gable

Gevel atau Gable merupakan sebuah ventilasi pada fasad bangunan serta

berbentuk segitiga yang mengikuti bentuk bangunan atap.

19
Berbg

Berbagai bentuk Gable atau Gevel


(Sumber: Handinoto, 1996)

2. Tower/Menara

Menara pada bangunan kolonial belanda memiliki bentuk yang beragam

mulai dari lingkaran, segi empat ramping, segi enam, atau bentuk-bentuk

geometris lainnya. Bahkan pada beberapa bangunan ada yang

memadukannya dengan gevel di depan. Tower atau menara berfungsi

sebagai penanda pintu masuk bagian depan.

Ilustrasi Tower Gereja


(Sumber: Leatima dan Hasbi, 2019)

20
3. Dormer

Dormer merupakan model jendela atau bukaan lain yang terdapat pada atap

bangunan dan mempunyai atap sendiri. Fungsinya untuk penghawaan dan

pencahayaan.

Bentuk-bentuk Dormer
(Sumber: Handinoto, 1996)

4. Windwijzer

Windwijzer merupakan penunjuk angin yang letaknya berada di atas

menara atau atap dan dapat berputar mengikuti arah angin.

Bentuk Windwijzer
(Sumber: Google)

21
5. Nok Acroterie

Nok Acroterie merupakan hiasan puncak atap yang paling tinggi letaknya.

Bentuknya runcing dan berbahan material besi. Nok Acroterie memberikan

simbol keselamatan dan kemakmuran pemilik bangunan tersebut.

Bentuk-bentuk Nok Acroterie


(Sumber:Soekiman, 2011)

6. Geveltoppen

Geveltoppen merupakan hiasan yang terdapat pada puncak atap bagian

depan rumah.

Contoh bentuk Geveltoppen


(Sumber:Soekiman, 2000)

22
7. Ragam Hias Pasif Bermaterial Logam

Ragam hias bermaterial logam biasanya berupa pagar serambi, penyangga

atap bagian depan dan belakang, penunjuk arah mata angina, lampu

halaman, lampu dinding, kursi kebun.

Contoh Ragam Hias Pasif


(Sumber:Soekiman, 2000)

8. Balustrade

Balustrade berfungsi sebagai teras yang memiliki fungsi sebagai pagar

pembatas balkon ataupun dek bangunan. Balustrade biasanya terbuat

beton cor ataupun bahan metal.

Macam-macam Balustrade
(Sumber:Google)

23
9. Tympanum

Tympanum merupakan sebuah hiasan dengan bentukan geometri yang

berbentuk segitiga dan terkadang setengah lingkaran. Letak tympanum

berada di atas pintu, jendela, portico (serambi depan). Tympanum

merupakan simbol pra-kristen.

Tympanum
(Sumber: Google)

10. Kolom yang Berjajar

Karakteristik arsitektur kolonial memiliki kolom yang berderet di bagian

fasad serta kolom-kolomnya menerapkan gaya klasik Yunani yaitu

Doric, Ionic, Corinthian.

Kolom Doric, Ionic, Corinthian)


(Sumber: Google)

24
2.4 Arsitektur Tropis

Masyarakat Indonesia masih banyak yang mengartikan arsitektur tropis

identik dengan arsitektur tradisional (vernakular). Dan tidak sedikit pula yang

menyatakan bahwa arsitektur tropis merupakan sebagian dari sejarah

arsitektur Indonesia. Pemikiran-pemikiran tersebut masih bisa dipahami

namun tidak semuanya tepat.

Arsitektur tradisional yang juga mencakup arsitektur vernakular dirancang

sedemikian rupa untuk mengantisipasi serta menjawab permasalahan iklim

setempat. Namun, teknologi yang dikuasai oleh masyarakat vernakular masih

terbatas dan cenderung mengacu pada teknologi rancangan pasif untuk

mengatasi iklim. Teknologi pasif yang dimaksud adalah teknologi yang

dikembangkan hanya sebatas bagaimana cara memodifikasi bentuk bangunan

dan menggunakan material yang terbatas secara tepat sehingga pengguna

bangunan terlindung dari iklim yang terkadang tidak bisa dikehendaki.

Pada wilayah yang memiliki iklim tropis lembab, masyarakat

tradisionalnya banyak melakukan aktivitas hariannya di luar bangunan.

Mereka masih mengandalkan teknologi sederhana dan menggantungkan

hidupnya pada alam. Penggunaan sumber daya alam dan energi terkait

bangunan sangat rendah dan hampir tidak ada dampak negatif atau

konsekuensi terhadap pencemaran lingkungan. Teknologi pemanas atau

pendingin ruangan juga belum tersedia untuk memfilter udara luar yang tidak

nyaman. Udara panas dan dingin yang masuk ke dalam bangunan difilter

melalui pendekatan pasif rancangan arsitektur vernakular agar lebih sejuk dan

pengguna bangunan juga merasakan kenyamanan. Oleh sebab itu, tidak salah

25
jika arsitektur vernakular di Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dengan

berbagai corak dan bentuknya yang cenderung menjawab permasalahan iklim

tropis diidentikkan dengan arsitektur tropis.

Arsitektur tropis bukan hanya menjawab permasalahan iklim, namun

juga mencoba menjawab berbagai tuntutan nilai-nilai dalam tatanan

kemasyarakatan seperti sistem kepercayaan, tradisi, sistem

kemasyarakatan, tata perilaku, serta tata nilai lain.

Arsitektur tropis merupakan sebuah tema design yang berorientasi

terhadap kenyamanan kondisi iklim alam serta cuaca. Arsitektur tropis juga

mengedepankan orientasi bangunan dan maintenance bangunan sesuai

dengan iklim dan cuaca tropis. Dengan kata lain, arsitektur tropis adalah

bagaimana sebuah bangunan dirancang dengan memiliki sistem

penghawaan alami, sistem kenyamanan di dalam ruang yang memiliki

struktur dan utilitas yang baik serta efisien, menggunakan material-material

pilihan yang dapat bertahan pada iklim tropis, serta memberikan tampilan

bangunan yang sesuai dengan lingkungan yang ada di lingkungan

sekitarnya dan juga menghasilkan suatu bangunan yang tanggap terhadap

iklim dengan cara memperhatikan kenyamanan thermal. Maka dari itu,

bentuk arsitektur tropis tidak terlalu mengacu pada keestetikan. Walaupun

begitu, bentuk bangunan yang dirancang dengan baik akan memberikan

kualitas arsitektur yang estetik.

Corsini (1997) mengatakan bahwa untuk mencapai bangunan yang

fleksibel terhadap perubahan suhu dan kelembaban udara, maka dibutuhkan

sebuah konsep yang dapat menghindari pemancaran serta pemantulan panas

26
matahari serta perhatian terhadap utilitas mesin bangunan, memilih material

dan bahan yang tepat, ventilasi yang baik dan tersebar ke seluruh sudut

ruangan, pemakaian bahan bangunan alami, penanaman vegetasi yang

cukup untuk produksi oksigen dan menurunkan suhu udara, posisi langit-

langit yang lebih tinggi agar udara panas dapat terminimalisir, serta

organisasi ruang yang tepat untuk mengefisienkan gerakan di dalam

bangunan.

Tekstur permukaan yang halus serta warna pada bahan bangunan sangat

menentukan iklim mikro di sekitar bangunan. Pemilihan warna cerah dan

permukaan yang halus atau licin dapat memantulkan sinar matahari dengan

baik serta dapat menaikkan suhu sekitar. Sedangkan warna gelap dan

permukaan yang kasar dapat meredam dan menyerap panas matahari. Bahan

atau material bangunan yang berpori mudah mengeluarkan atau

meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara sekitar

menurun. Oleh karena itu, pemilihan bahan-bahan yang alami untuk pelapis

dinding dan lantai adalah salah satu langkah yang tepat untuk dilakukan.

Selain itu, iklim mikro di sekitar bangunan dapat dikendalikan dengan

penanaman vegetasi yang berdaun gelap dan lebat. Jika 30%-70% volume

ruang lahan bangunan terisi dengan tanaman hijau, maka hal tersebut dapat

dikatakan sangat ideal. Begitu juga dengan 30%-70% luasan permukaan

tanah yang tidak ditutupi material keras. Penggunaan warna-warna alami

pada elemen bangunan akan menimbulkan suasana santai dan tidak

menyerap cahaya sehingga membantu pengurangan kenaikan suhu udara

mikro di sekitar bangunan.

27
Bentuk secara makro yaitu dengan memperhatikan faktor panas dan hujan

yang mana sebagai solusinya arsitektur tropis memperhatikan agar

bangunan tidak panas dan pada saat musim hujan air tidak masuk ke dalam

bangunan.

2.4.1 Kondisi Yang Mempengaruhi Arsitektur Tropis

Menurut Dr. Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang berpengaruh dalam

perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah:

1. Kenyamanan Thermal

Kenyamanan thermal merupakan suatu kondisi yang dirasakan manusia

secara psikologis, fisiologis, dan perilaku seseorang merasa nyaman dalam

melakukan aktivitas tertentu di sebuah lingkungan.. Untuk mencapai

kenyamanan thermal adalah meminimalisir panas yang masuk ke dalam

bangunan, memberikan aliran udara yang cukup, dan membawa panas ke

luar bangunan, serta mencegah radiasi panas baik yang langsung dari

matahari maupun dari permukaan dalam yang panas.

Penggunaan bahan atau material yang mempunyai tahan panas

yang besar dapat mengurangi panas yang masuk ke dalam bangunan

dan perputaran aliran panas yang masuk akan terhambat. Atap adalah

permukaan yang paling besar menerima panas. Sedangkan bahan atau

material atap mempunyai daya dan kapasitas untuk menahan panas

yang lebih kecil daripada dinding. Atap dapat dimanfaatkan untuk

menahan panas dengan beberapa cara, misalnya dengan rongga plafon,

penggunaan pemantul panas reflektif. Cara lain untuk meminimalisir

panas yang masuk di antara lain:

28
• Luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat diperkecil

• Melindungi dinding dengan alat peneduh

• Memperkecil penyerapan panas melalui permukaan atap

Pemilihan warna pada bangunan juga berpengaruh terhadap penyerapan

matahari. Warna terang akan lebih sedikit menyerap radiasi matahari.

Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan

naik dan akan berdampak pada temperatur udara luar yang jauh lebih

besar.

2. Sirkulasi Udara

Prinsip perancangan bangunan tropis harus mempertimbangkan

pemanfaataan alam sebanyak mungkin diantaranya upaya pemikiran

penghawaan alami untuk memenuhi aliran udara yang baik pada

bangunan tersebut. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada bukaan,

yang memiliki manfaatnya sebagai berikut:

• Sebagai penyedia oksigen, membawa asap dan uap air keluar

bangunan, mengurangi konsentrasi gas-gas, dan menghilangkan

bau-bau

• Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan

panas, membantu mendinginkan bagian dalam bangunan

Aliran udara dapat terjadi karena adanya gaya thermal yakni terdapat

perbedaan temperatur antara udara di dalam dan di luar ruangan dan

perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Hal tersebut dapat

diterapkan guna mendapatkan kuantitas aliran angin yang diinginkan.

Selain itu, jumlah aliran udara yang masuk dapat memenuhi

29
kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil dari yang dibutuhkan

untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama

sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap selalu terbuka. Untuk

memenuhi syarat kedua, sebaiknya digunakanlubang ventilasi yang

bukaannya dapat diatur.

Prinsip Aliran Udara Sistem Ventilasi Silang


(Sumber:Syarif dkk, 2017 (Sumber:Syarif dkk, 2017

3. Radiasi Panas

Radiasi panas didapat dari sinar matahari yang masuk ke dalam

bangunan dan dari permukaan yang lebih panas dari sekitarnya. Untuk

mencegah hal tersebut terjadi, dapat dilakukan langkah sebagai

berikut:

• Penggunaan Sun Shading Device dapat dimanfaatkan sebagai alat

peneduh.

30
Beberapa jenis Shading Device
(Sumber:Syarif dkk, 2017

• Membuat dinding lapis (berongga) yang diberi ventilasi pada

rongganya

• Menempatkan area service yang (toilet, gudang, dapur, dsb) pada

bagian yang terpapar radiasi matahari secara langsung yaitu pada sisi

timur dan barat

• Memberikan ventilasi pada ruang antara atap dan plafon pada bangunan

rendah agar tidak terjadi akumulasi panas pada ruangnya karena jika

hal tersebut tidak diterapkan, panas yang terkumpul akan ditransfer ke

ruang yang ada di bawahnya. Ventilasi atap ini berarti untuk pencapaian

suhu ruang yang rendah

Panas yang terpancar dari suatu permukaan akan memberikan

ketidaknyamanan bagi penghuni jika temperatur udaranya

melebihi 40oC. Hal ini sering terjadi pada permukaan bawah

plafon atau permukaan bawah atap.

4. Penerangan Alami

Pemanfaatan cahaya matahari sangat dibutuhkan untuk bangunan

tropis namun tidak secara langsung. Dalam arti, cahaya matahari yang

31
masuk langsung ke dalam bangunan tidak baik karena akan menimbulkan

panas dan silau, kecuali sinar matahari pagi. Dan juga dibutuhkan tingkat

penyinaran dalam bangunan yaitu dengan mengatur ketinggian lubang

cahaya, lebar lubang cahaya, dan kedalaman ruang (jarak batas ruang

terluar dengan batas sinar). Selain itu, penerangan yang dapat

dimanfaatkan adalah cahaya langit.

Untuk bangunan yang memiliki lantai banyak, makin tinggi lantai

bangunan, makin kuat potensi cahaya langit yang dapat dimanfaatkan.

Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi dalam tiga

komponen:

• Komponen langit

• Komponen refleksi luar

• Komponen refleksi dalam

Dari ketiganya, komponen tersebut memberikan bagian yang terbesar pada

tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya. Faktor-

faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja

tersebut adalah:

• Luas dan posisi lubang cahaya

• Lebar teritis

• Penghalang yang ada di muka lubang cahaya

• Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan

• Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya

Untuk bangunan yang memiliki lantai banyak, makin tinggi

bangunan maka makin berkurang pula kemungkinan adanya

penghalang di muka lubang cahaya. Berdasarkan penelitian, baik

32
model bangunan dalam langit buatan maupun rumah sederhana,

faktor penerangan pada siang hari rata-rata 20% dan dapat diperoleh

dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan posisi

lubang cahaya dinding pada ketinggian normal pada langit, lebar

sekitar 1 meter faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan

dalam ruang sekitar 50%-60% tidak ada penghalang di muka lubang

dan kaca penutup adalah kaca bening.

2.4.2 Karakteristik Arsitektur Tropis

Menurut Hakim (2017), sebuah bangunan juga mempunyai

ciri-ciri atau karakteristik bangunan yang mempertimbangkan iklim

dan faktor alam lainnya seperti curah hujan, sinar matahari,

kelembaban, panas, angin, dll. Berikut adalah ciri-cirinya:

1. Jenis Atap

Atap merupakan penutup yang melindungi sebuah bangunan terutama

bangunan rumah tinggal dari panas, hujan, dan keadaan lainnya.

Masyarakat vernakular terdahulu berpikir bahwa air hujan akan mengalir

dengan mudah dari bagian atap yang tinggi di tengah ke bagian atap yang

di rendah pada bagian tepi yang kemudian akhirnya jatuh ke tanah. Dari

situlah muncul ide jenis atap pelana, limasan, dan kerucut. Dalam arti,

bentuk-bentuk atap tersebut adalah bentuk yang paling memungkinkan

untuk digunakan pada iklim tropis Indonesia.

33
2. Kemiringan Sudut Atap

Atap harus memiliki kemiringan yang cukup yaitu dengan rata-rata

kemiringan lebih besar dari 30 derajat. Disaat panas terik matahari

dengan sudut kemiringan yang cukup, maka akan tercipta efek

thermal udara sejuk di ruang bawahnya.

3. Material Penutup Atap

Penggunaan material penutup atap disesuaikan dengan daerah

dimana bangunan didirikan. Untuk daerah yang cukup panas,

material yang digunakan salah satunya adalah genting yang

berbahan dasar tanah. Bahan ini jika terkena musim panas akan

mampu meredamnya dan panas tersebut tersimpan di dalam genting

di siang hari dan sebaliknya di malam hari panas tersebut akan

dilepas sehingga ruang di bawahnya tidak terlalu dingin. Namun,

jika musim hujan terlalu panjang, maka genting akan lembab dan

cukup sulit atau lama melepaskan kelembabannya. Untuk di daerah

yang cukup tinggi seperti pegunungan, maka material penutup atap

yang baik adalah seng karena material tersebut mudah melepas

panas dan mudah juga melepaskan kelembaban.

4. Bukaan

Bukaan yang dimaksud adalah dalam bentuk lubang yang mampu

mendatangkan efek thermal udara di dalam ruang bangunan seperti

lubang angina untuk perputaran udara segar dan tiupan angina,

34
jumlah bukaan yang cukup dan mampu dibuka tutup, pintu jendela

yang diletakkan pada kutub mata angina yang tidak secara langsung

terpapar lintasan sinar matahari. Tidak banyak menggunakan

material kaca karena akan mampu menghantar panas sinar matahari

sampai dengan 90% yang akan berakibat pada ruang yang menjadi

panas. Bukaan pada bangunan yang berada di daerah tropis

cenderung lebih banyak untuk mengatasi kelembaban yang tinggi

namun tetap mengindahkan efek thermal udara yang dihasilkan.

5. Material Dinding

Material dinding bangunan yang terdapat di daerah tropis banyak

menggunakan unsur bahan alam seperti batu-bata, kayu, batu kali,

dan bambu, yang mana bahan material tersebut mudah didapat, dan

mudah dirawat, dan material tersebut mampu menciptakan efek

thermal (pengkondisian udara ruang) secara alami

6. Teritisan Atap

Teritisan atap memiliki fungsi untuk menepis air hujan sehingga

meminimalisir tampias disaat hujan turun. Teritisan juga berfungsi

sebagai “topi” agar ruang dapat terlindungi dari sinar matahari

langsung dan menepis panas yang akan jatuh ke dalam ruang. Di

samping itu, dinding luar bangunan tidak secara langsung terkena

curah hujan yang berakibat lembab dan rusak. Ukuran teritisan atap

yang baik adalah 70cm-100cm.

35
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penyajian kualitatif-deskriptif.

Deskriptif kualitatif bertujuan untuk memahami suatu permasalahan dalam

konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi

komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.

Penelitian deskriptif maksudnya adalah penelitian yang bertujuan untuk

mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek secara sistematis, faktual,

dan akurat. Pendekatan kualitatif digunakan sebagai pemahaman mengenai

aspek-aspek yang mengandung suatu karakteristik atau ciri dalam design pada

bangunan tersebut. Dalam hal ini, deskriptif dinyatakan sebagai hasil catatan

lapangan (observasi), dokumenter (dokumentasi), eksplorasi, dan transkripsi

yang tertulis. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji karakteristik

arsitektur tropis pada arsitektur kolonial belanda. Tujuan utama dalam

melakukan penelitian ini adalah sebagai upaya untuk mengkaji serta

memahami apakah arsitektur kolonial di Indonesia sudah memenuhi kriteria

arsitektur tropis.

Dalam studi ini, Penelitian ini bertujuan untuk mencapai studi yang bersifat

observasi dan dokumentasi. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk

memahami hasil kajian mengenai karakteristik arsitektur tropis pada arsitektur

kolonial.

36
Studi ini mendeskripsikan tentang arsitektur tropis pada arsitektur kolonial

berdasarkan pemahaman arsitektur tropis dengan berfokus pada

karakteristiknya agar dapat mengetahui apakah arsitektur kolonial yang sudah

lama berdiri di Indonesia sudah memenuhi kriteria arsitektur tropis.

Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji dan membahas hal-hal yang

berkaitan dengan latar belakang arsitektur kolonial Belanda mengenai sejarah

dan budaya serta style bangunan.

3.2 Objek Penelitian

Objek pada penelitian ini adalah dua rumah kolonial belanda yang berada

di Jl. Brigjend Katamso (RISPA), Kampung Baru, Kecamatan Medan

Maimun, Kota Medan

3.3. Variabel Penelitian

Sebelum menentukan variabel, harus dilakukan kajian pustaka mengenai

karakteristik arsitektur tropis kemudian dirincikan menjadi beberapa topik.

Teori-teori yang dipilih merupakan identifikasi dasar permasalahan-

permasalahan dalam penelitian.

37
Indikator yang digunakan pada tiap variabel adalah interpretasi terhadap

indikator-indikator yang berasal dari tinjauan pustaka. Maka dari itu,

berdasarkan variabel pertama didapat dari hasil kajian literatur mengenai

karakteristik kemudian pada sub-variabelnya diperoleh rincian sampai

akhirnya diperoleh indikatornya.

Variabel Sub-Variabel Indikator

Karakteristik • Atap • Jenis atap

Bangunan • Kemiringan

sudut atap

• Material atap

• Teritisan atap

• Dinding • Jenis dinding

• Material

• Pemilihan warna

dinding

• Bukaan • Prinsip aliran

udara

• Sistem ventilasi

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data menggunakan

sumber data yang didapatkan dengan lisan maupun tertulis. Pada penelitian ini,

38
metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literature, observasi,

dan wawancara.

Pada penelitian ini, data mengenai studi literature, observasi, dan wawancara

dengan pemilik rumah kolonial Belanda dikumpulkan dan dilakukan secara

langsung. Data-data mengenai sejarah bangunan, riwayat fisik, serta gambar

arsitektur rumah kolonial belanda juga dikumpulkan dengan

mempertimbangkan metode pengumpulan data.

3.4.1 Studi Literatur

Studi literatur menjadi acuan dasar dalam pengumpulan data sekunder.

Kegiatan studi literatur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu

mengumpulkan data dengan mengkaji teori-teori mengenai objek penelitian

melalui buku dan jurnal, mencari sumber informasi melalui internet agar

menambah pengetahuan mengenai penelitian ini. Menelaah dokumen dan

sejarah dengan cara melihat data atau bukti sejarah yang berkaitan dengan

objek penelitian.

3.4.2 Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang diperoleh melalui

pengamatan terhadap objek penelitian. Terdapat dua cara dalam melakukan

observasi yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi

langsung yaitu kegiatan yang dilakukan dengan cara mengamati objek

penelitian secara langsung, sedangkan observasi tidak langsung merupakan

suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara mengamati objek yang terdapat dari

hasil rekaman berupa buku atau catatan. Dalam penelitian ini, studi banding

dilakukan secara langsung menuju lokasi penelitian dan bangunan sekitarnya

39
sebagai acuan dasar dalam memahami kondisi dan permasalahan yang ada pada

saat ini. Pengambilan data fisik dan kondisi terkini bangunan dengan cara

dokumentasi di lapangan secara langsung.

Data yang Diperlukan Metode

• Kemiringan Sudut • √Alas2 + Tinggi2


Atap • Survey langsung ke lokasi penelitian
• Material atap
dan meneliti material atap yang

digunakan

• Jenis dinding • Survey langsung ke lokasi penelitian

• Material dinding dan meneliti jenis, material, dan

• Pemilihan warna pemliihan warna dinding

dinding

• Prinsip aliran • Survey langsung ke lokasi penelitian

udara dan meneliti prinsip aliran udara dan

• Sistem ventilasi sistem ventilasi pada rumah kolonial

yang akan diteliti

3.4.3 Wawancara Dengan Narasumber

Wawancara merupakan interaksi secara lisan yang dilakukan antara dua orang

atau lebih untuk membahas atau menanyakan tentang suatu informasi guna

mendapatkan tujuan yang diinginkan. Atau dapat dikatakan untuk mendapatkan

informasi tambahan mengenai objek yang akan diteliti. Pada penelitian ini,

peneliti melakukan wawancara dengan individu pemilik rumah kolonial Belanda

40
yang akan menjadi informan untuk mengetahui sejarah rumah dan data fisik

bangunan tersebut.

3.5. Metode Analisa Data

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif yang

menjadi dasar bagi peneliti dalam menginterpretasi data atau kesimpulan yang

didapatkan secara verbal dan menggunakan analisa data secara deduktif yang

artinya adalah melakukan analisis terhadap teori-teori yang berkaitan dengan

objek penelitian agar dapat ditarik kesimpulan.

Penelitian ini menggabungkan antara deskripsi dan analisis dimana peneliti

mengumpulkan data serta mendeskripsikan yang akan dibahas mengenai

rumah kolonial belanda.

Berikut tahap-tahap penelitian yang dapat dilakukan:

• Data-data yang telah dibutuhkan dikumpulkan dan dianalisa. Dalam tahap

ini, data studi pustaka yang telah dikumpulkan dianalisis dengan hasil

observasi dan dokumentasi di lapangan untuk mendapatkan data fisik

untuk mengetahui rumah kolonial belanda tersebut

• Menganalisis data yang didapat kemudian melakukan kajian mengenai

karakteristik arsitektur tropis pada rumah kolonial tersebut

• Membahas dengan mendeskripsikan rumah kolonial belanda kemudian

menelaahnya dengan karakteristik arsitektur tropis

• Menjabarkan hasil penelitian pada evaluasi agar dapat menentukan

kesimpulan dan saran

41
DAFTAR PUSTAKA

Resink, M.G.J 2013. Bukan 350 Tahun Dijajah.

Djakariah. 2014. Sejarah Indonesia II. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Hal.64


Murtomo, B.Adji.2008. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman:


Semarang. Enclosure. Vol.7. http://eprints.undip.ac.id/20151/1/1.pdf. 2 Juni.

Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis: Dari zaman Kompeni sampai Revolusi.
Depok: Komunitas Bambu

Wardani, Laksmi K. (2009). Gaya Desain Kolonial Belanda Pada Interior Gereja
Katolik Hati Kudus Yesus Surabaya. Jurnal Desain Interior.

Sumalyo, Y. (1995) Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Gajah Mada


University Press. Jogyakarta.

Handinoto (1996), Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial belanda di


Surabaya 1870-1940, Andi Press, Jogjakarta.

Safeyah, Muchlisiniyati. 2006. Jurnal Perkembangan “Arsitektur Kolonial” di


Kawasan Potroagung: Surabaya. http://eprints.upnjatim.ac.id/1275/1/TA-
Muchlisiniyati_31.pdf

Lippsmeier, G. 1997. Bangunan Tropis. Erlangga: Jakarta

Lapian, A.B (Dalam Kata Pengantar) G.J.Resink. 2013. Bukan 350 Tahun Dijajah.
Depok: Komunitas Bambu Hal.xxi

M.C. Ricklefs. 2007. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press. Hal.35

Wildan Herdiansyah. 2010. VOC Negara Dalam Negara. Bogor: PT. Regina
Eka Utama. Hal.9


42
Wildan Herdiansyah. 2010. Op.cit. Hal.17

Adi Sudirman. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia .Jogjakarta: Diva Press.


Hal. 250

Sumalyo, Y. (1993). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press

Adam, Asvi Warman. Seabad Kontroversi Sejarah. 2007.


Wirawan, I Gede. Jurnal Arsitektur Kolonial. 2014.

Adi Sudirman. 2014. Op.cit. Hal. 251

Gustami, S.P. (2000). Studi Komparasi Gaya Seni Yogya – Solo.


Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia.

Wirawan, I made Yuridha. Penerapan Konsep Infill Pada Bangunan Museum


Dalam Kawasan Heritage di Banjarmasin. E-Journal Graduate Unpar. 2014

Wirawan, I Gede. Jurnal Arsitektur Kolonial. 2014.

Adenan, Khaerani, Etc. (2012). Karakter Visual Arsitektur A.F. Aalbersdi


Bandung (1930-1946)- Studi Kasus: Kompleks Villa’s dan Woonhuizen.
Bandung. Jurnal lingkungan binaan Indonesia.

Soekiman, Djoko. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat


Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX). Yayasan Bentang
Budaya. Yogyakarta.

Handinoto & Soehargo, P. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial


Belanda di Malang. Surabaya: Lembaga

Soekiman, D. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat


Pendukungnya di Jawa. Bentang: Yogyakarta.

43