Anda di halaman 1dari 3

3.2.

1 Kondisi Lingkungan (Rona Lingkungan Hidup)


3.2.2.1 Komponen Fisik Kimia

A. Iklim
Salah satu kondisi lingkungan yang selalu dipertimbangkan dalam berbagai perencanaan
pembangunan adalah iklim. Keadaan lingkungan fisik ini antara satu tempat dengan tempat
lainnya berbeda-beda. Perbedaan kondisi keadaan iklim suatu tempat sangat dipengaruhi oleh
unsur pengendali iklim itu sendiri. Untuk daerah tropis seperti di Indonesia pada umumnya
faktor pengendali iklim yang sangat berperan adalah letak suatu daerah tersebut terhadap
pegunungan dan lautan serta ketinggian di atas permukaan laut. Iklim sangat menentukan
keberhasilan suatu rencana pembangunan.
Iklim merupakan salah satu aspek kondisi lingkungan atmosfer yang sangat besar pengaruhnya
terhadap berbagai aspek kehidupan dipermukaan bumi, terutama aspek fisik yang selanjutnya
akan mempengaruhi aspek sosial dan budaya. Dari segi aspek fisik pengaruh iklim terutama
dalam hal kegiatan manusia seperti transportasi baik darat, laut, maupun udara dan kegiatan
lainnya. Sebaran jenis vegetasi, fauna, dan kebiasaan atau keadaan sosial dan budaya
masyarakat sesuatu suku atau bangsa juga sangat ditentukan oleh kondisi iklimnya. Kabupaten
Aceh Selatan termasuk dalam wilayah iklim tropika basah, yang dicirikan oleh curah hujan, suhu
udara dan kelembaban nisbi yang cukup tinggi dan merata sepanjang tahun dengan fluktuasi
yang rendah.
Pada daerah Kabupaten Aceh Selatan belum ada fasilitas cuaca yang standar sehingga
informasi tentang iklim di daerah ini masih sangat terbatas dan untuk mendapatkan gambaran
tentang iklim di wilayah ini menggunakan data-data klimatologi berdasarkan pada pengamatan
yang tercatat pada Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dien Meulaboh, Kabupaten Nagan Raya.
Pengamatan iklim di daerah kajian, data iklim yang disajikan untuk Kabupaten Aceh Selatan
meliputi data Keadaan Suhu, Kelembaban, Curah Hujan, Lama Penyinaran Matahari, Kecepatan
Angin dan arah Angin Kabupaten Aceh Selatan (2009-2018) yang diperoleh dari Stasiun
Meteorologi Cut Nyak Dien Meulaboh, Kabupaten Nagan Raya dapat ditabulasikan pada Tabel
3.10.

Tabel 3.10. Rata-Rata Keadaan Suhu, Kelembaban, Curah Hujan, Lama Penyinaran Matahari,
Kecepatan Angin dan arah Angin Kabupaten Aceh Selatan Tahun (2009-2018).
Keadaan iklim di lokasi sangat dipengaruhi oleh angin musim yang bertiup dengan kecepatan
rendah sampai dengan sedang yang datang dari arah barat laut dan barat daya, dan biasanya
akan dimulai pada bulan November sampai bulai Mei. Menurut Schmidt dan Ferguson (1951)
tipe iklim kawasan ini adalah tipe iklim A (sangat basah) dimana pada musim kemarau masih
terjadi hujan dengan jumlah curah hujan rata-rata >55 mm. Klasifikasi tipe hujan menurut
Schmidt dan Ferguson sering digunakan untuk pengembangan tanaman perkebunan dan
kehutanan. Kriteria yang digunakan adalah dengan menentukan nilai Q, yaitu rasio antara
jumlah bulan kering (BK) dan bulan basah (BB) dalam setahun dikalikan 100%. Bulan basah
adalah bulan dengan curah hujan > 100 mm, dan bulan kering adalah bulan dengan curah
hujan <60 mm. Rata-rata, curah hujan terendah di wilayah ini terjadi pada bulan Juni yaitu 104
mm, sedang curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret yakni 331 mm.
- Curah Hujan

Curah hujan adalah penggambaran jumlah air yang jatuh di permukaan bumi dalam
periode/waktu tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm). Curah Hujan dapat
dipergunakan sebagai salah satu indikator penentuan iklim suatu wilayah – seperti curah hujan
dengan tinggi > 200 mm tergolong iklim basah – dalam kurun waktu tertentu.
Berdasarkan hasil pencatatan untuk tahun 2009-2018 dari Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dien
Meulaboh, diketahui bahwa curah hujan di wilayah studi tergolong curah hujan tinggi yakni
rata-rata 2.528 mm/Tahun.
- Suhu udara
Suhu udara merupakan faktor unsur iklim yang sangat mempengaruhi kenyamanan suatu
wilayah. Suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah dapat mengganggu kegiatan manusia.
Berdasarkan data pengukuran suhu dalam kurun waktu 10 tahun, diketahui bahwa rata-rata
suhu udara berkisar antara 26,3OC - 26,8OC. Gambaran suhu udara tersebut tergolong suhu
dalam kondisi basah. Dengan suhu udara yang demikian maka berbagai tumbuhan dan hewan
dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan baik. Demikian pula manusia dapat beraktivitas
dengan baik, dimana suhu udara tidak panas dan tidak terlalu dingin.
- Kelembaban Udara

Kelembaban yaitu banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Angka kelembaban relatif dari 0
- 100%, dimana 0% artinya udara kering, sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan uap air
dimana akan terjadi titik-titik air. Di Indonesia kelembaban tertinggi dicapai pada musim hujan
dan terendah pada musim kemarau. Berdasarkan data kelembaban udara dalam kurun waktu
10 tahun terakhir (2009 – 2018) diketahui bahwa rata-rata kelembaban udara berkisar antara
84,7% - 91,1%. Persentase tersebut menunjukkan jumlah kandungan uap air di udara
mencapai >80% atau tergolong tinggi.

- Kecepatan dan Arah Angin

Data angin diperoleh dari Stasiun Meteorologi Cut Nyak Dien Meulaboh, Aceh yang diunduh dari
website BMKG, menunjukkan kecepatan angin umumnya berada pada kisaran 0,94 – 1,91
m/detik dengan arah angin dominan bergerak dari barat menuju barat laut. Kecepatan angin
maksimum terbesar selama 10 tahun terakhir (2009 – 2018) terjadi pada tahun 2009 yaitu 4,45
m/detik dan kecepatan angin maksimal terkecil terjadi pada tahun 2011 yaitu 3,05 m/detik.