Anda di halaman 1dari 9

Kerajaan Islam di Papua dapat dibuktikan melalui sumber tradisi lisan yang sudah ada sejak

kedatangan Islam di Papua yang berasal dari keturunan Raja-Raja di daerah Rajaampat-
Sorong, Fak-Fak, Kaimana dan Teluk Bintuni-Manokwari. Kemudian, ada beberapa
pendapat yang berbeda mengenai kedatangan Islam di Papua. Di bawah ini akan dijelaskan
setiap pendapat beserta Penjelasannya, yaitu sebagai berikut:
[1]        Pertama, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam datang di Papua pada
tahun 1360 yang diperkenalkan oleh  Mubaligh asal Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu
Abdul Gafar. Abdul Ghafar pernah berdakwah selama 14 tahun (1360-1374) di Rumbati dan
sekitarnya. Lalu, Ia wafat pada tahun 1374 dan jenazah-nya dimakamkan di belakang masjid
Kampung Rumbati.

[2]        Kedua, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam di Papua pertama kali
diperkenalkan oleh Jazirah Onin (Patimunin_Fak-Fak) oleh seorang Sufi bernama Syarief
Muaz Al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari Arab Saudi. Penyebaran agama Islam
diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-16 dengan bukti adanya Masjid Tunasgain
yang berumur sekitar 400 tahun atau dibangun sekitar tahun 1587.

[3]        Ketiga, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam di Papua,- khususnya di


daerah Fak-Fak diperkenalkan dan dikembangkan oleh Pedagang-Pedagang Bugis melalui
Banda dan Seram Timur oleh seorang pedagang dari Arab bernama Haweten Attamimi.
Penyebaran agama Islam di Papua dilakukan dengan cara Khitanan. Dari kegiatan khitanan
tersebut, sekian banyak ancaman dari penduduk setempat jika orang yang disunat mati,
kedua Mubaligh akan dibunuh. Namun, akhirnya rencana mereka berhasil dalam kegiatan
khitanan sehingga penduduk setempat berbondong-bondong masuk agama Islam.

[4]        Keempat, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam di Papua berasal


dariBacan. Pada masa pemerintahan Sultan Mohammad Al-Bakir, Kesultanan Bacan
mencanangkan syiar Islam ke seluruh Nusantara, seperti Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara
dan Sulawesi bahkan sampai ke Mancanegara yaitu Filipina. Menurut Thomas Arnold, Raja
Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memiliki masa
pemerintahan pada tahuun 1521. Kemudian, Sultan Bacan memperluas kekuasaannya
hingga ke Semenanjung Onin Fak-Fak, di barat laut Papua pada tahun 1606. 

[5]        Kelima, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam di Papua berasal dari
Maluku Utara (Ternate-Tidore). Sumber sejarah Kesultanan Tidore mengatakan bahwa pada
tahun 1443 yaitu Sultan Ibnu Mansur selaku Sultan Tidore X atau Sultan Papua I, memimpin
ekspedisi di daratan Papua. Setelah tiba di wilayah Pulau Misool dan Raja Ampat, kemudian
Sultan Ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawar yakni Putera dari Sultan Bacan dengan
gelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi). Kapita Gurabesi kemudian menikah dengan
Puteri Sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah. Setelah pernikahan tersebut, berdiri 4
Kerajaan Baru di Kepulauan Raja Ampat yaitu: [1]Kerajaan Salawati ; [2]Kerajaan Misool /
Kerajaan Sailolof ; [3]Kerajaan Batanta dan [4]Kerajaan Waigeo.

            Berdasarkan penjelasan seluruh pendapat di atas dapat diberikan kesimpulan bahwa


proses penyebaran dan pengenalan agama Islam di Tanah Papua, terutama di daerah
Pesisir Barat pada pertengahan abad ke-15 sangat dipengaruhi oleh Kerajaan-Kerajaan
Islam di daerah Maluku yakni Bacan, Ternate dan Tidore. Hal ini juga didukung oleh faktor
letak dan kedudukan lokasi yang strategis sekaligus merupakan jalur perdagangan rempah-
rempah (Spices Road) di Nusantara maupun di Mancanegara.

A.   Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati dan Kerajaan Sailolof.

              Pembahasan mengenai 4 (Empat) kerjaan Islam di Papua tersebut karena sumber-sumber yang
kami baca dan pelajari bahwa keempat kerajaan Islam tersebut merupakan adalah :

1.         Merupakan wilayah kekuasaan kerjaan-kerajaan Islam dari Maluku

2.         Merupakan kerajaan-kerajaan yang memperoleh pengaruh dari kerajaan-kerajaan yang berada di


Maluku.

Penjelasan tentang keempat kerajaan tersebut kami temui secara kolektif tanpa terpisah-pisah
atau dibahas satu-persatu, baik latar belakang lahirnya setiap kerajaan tersebut maupun proses
keislamannya.

       1.    Latar Belakang Lahirnya Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati dan Kerajaan
Sailolof.

       Sejak abad ke-16, selain di Kepulauan Raja Ampat yang termasuk wilayah kekuasaan
SultanBacan dan Sultan Ternate, kawasan lain di Papua yaitu daerah pesisir Papua dari pulau Biak
(serta daerah sebaran orang Biak) sampai Mimika merupakan bagian dari wilayah mandala
Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berdekatan dengan wilayah Papua. Tidore menganut
adat Uli-Siwa (Persekutuan Sembilan), sehingga propinsi-propinsi Tidore seperti Biak, Fakfak dan
sebagainya juga dibagi dalam sembilan distrik (pertuanan).

       Berdasarkan sejarah, di Kepulauan Raja Ampat terdapat empat kerajaan tradisional, masing-
masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; kerajaan
Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; kerajaan Sailolof dengan pusat
kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misool, dengan pusat kekuasaan di
Lilinta, pulau Misol. Penguasa Kerajaan Lilinta/Misol (sejak abad ke-16 bawahan kerajaan Bacan).

2.    Proses Masuknya Islam di Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati dan Kerajaan
Sailolof.

Islamisasi di Papua, khususnya di Fakfak dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui


Banda dan Seram Timur oleh seorang pedagang dari Arab bernama Haweten Attamimi yang telah
lama menetap di Ambon. Proses pengislamannya dilakukan dengan cara khitanan. Di bawah
ancaman penduduk setempat jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh akan dibunuh, namun
akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut kemudian penduduk setempat berduyun-duyun
masuk agama Islam.
Islam di Papua berasal dari Bacan. Pada masa pemerintahan Sultan Mohammad al-Bakir,
Kesultanan Bacan mencanangkan syiar Islam ke seluruh penjuru negeri, seperti Sulawesi, Fiilipina,
Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Thomas Arnold, Raja Bacan yang pertama kali
masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521.

Pada masa ini Bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulaupulau di sebelah barat
lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati. Sultan Bacan kemudian meluaskan
kekuasaannya hingga ke semenanjung Onin Fakfak, di barat laut Papua tahun 1606. Melalui
pengaruhnya dan para pedagang muslim, para pemuka masyarakat di pulau-pulau kecil itu lalu
memeluk agama Islam. Meskipun pesisir menganut agama Islam, sebagian besar penduduk asli di
pedalaman masih tetap menganut animisme.

       Secara geografis tanah Papua memiliki kedekatan relasi etnik dan kebudayaan dengan Maluku.
Dalam hal ini Fakfak memiliki kedekatan dengan Maluku Tengah, Tenggara dan Selatan, sedangkan
dengan Raja Ampat memiliki kedekatan dengan Maluku Utara. Oleh karena itu, dalam membahas
sejarah masuknya Islam ke Fakfak kedua alur komunikasi dan relasi ini perlu ditelusuri mengingat
warga masyarakat baik di Semenanjung Onim Fakfak maupun Raja Ampat di Sorong, keduanya telah
lama menjadi wilayah ajang perebutan pengaruh kekuasaan antara dua buah kesultanan atau
kerajaan besar di Maluku Utara (Kesultanan Ternate dan Tidore). Nampaknya historiografi Papua
memperlihatkan bahwa yang terakhir inilah (Kesultanan Tidore) yang lebih besar dominasinya di
pesisir pantai kepulauan Raja Ampat dan Semenajung Onim Fakfak.

       Di Kepulauan Raja Empat sendiri terdapat beberapa Distrik Kerajaan-Kerajaan Islam yaitu :

a.        Kerajaan Namatota

       Dari silsilah Raja Namatota diketahui bahwa Raja Namatota pertama yakni Ulan Tua, telah
memeluk Islam hingga sekarang diketahui merupakan generasi kelima. Lamarora merupakan raja
kedua kerajaan Namatota diperkirakan hidup pada tahun 1778-1884. Raja Lamarora selanjutnya
datang ke daerah Kokas dan disana beliau telah menyebarkan agama Islam dan kawin dengan
perempuan bernama Kofiah Batta, selanjutnya pasangan ini merupakan cikal-bakal Raja-raja
Wertuar. Salah seorang Raja Wertual (Kokas) bernama M. Rumandeng al-Amin Umar Sekar 1934,
dengan gigih pernah menentang pemerintah Belanda dengan tidak mau menyetor uang tambang
minyak kepada mereka. Akibatnya dia dipenjara di Hollandia (Jayapura) sebelum kemudian
dibebaskan.

b.        Kerajaan Komisi

       Seorang Putera Mahkota Raja Komisi bernama Hakim Achmad Aituararauw .menyebutkan
bahwa kerajaan Islam pertama didirikan di Pulau Adi pada tahun 1626 dengan nama Eraam Moon,
yang diambil dari bahasa Adi Jaya yang artinya “Tanah Haram”. Raja pertamanya bernama Woran.
Namun jauh sebelumnya pada abad ke XV (1460-1541) penguasa pertama di pulau Adi, Ade Aria
Way, telah menerima Islam yang dibawa oleh Syarif Muaz yang mendapat gelar Syekh Jubah Biru,
yang menyebarkan Islam di utara dan kawasan itu. Namun sambutan positif lebih banyak diterima di
pulau Adi dalam hal ini di daerah kekuasaan Ade Aria Way. Setelah masuk Islam Ade Aria Way
berganti nama menjadi Samai. Kemudian Samai mencatat bahwa pada tahun 1760 Ndovin yang
merupakan generasi kelima dari Samai mendirikan kerajaan Kaimana dan bertahta di sana dengan
gelar Rat Umis As Tuararauw yang kemudian dikenal dengan nama Raja Komisi

c.         Kerajaan Fatagar

       Keterangan yang diperoleh dari Raja Fatagar, Arpobi Uswanas 1997, menceritakan bahwa
Fatagar I yaitu Tewal, diperkirakan hidup pada tahun 1724-1814. Raja Tewal bertahta di daerah Tubir
Seram, yang hijrah dari Rumbati (daerah Was). Pada saat kerajaan Fatagar masih di Rumbati, disana
Islam sudah ada dan berkembang dengan ditemukannya puing-puing bekas reruntuhan masjid. Itu
berarti Islam sudah masuk di daerah Rumbati sebelum tahun 1724. Sementara itu, berdasarkan
keterangan Raja Rumbati ke 16, H. Ibrahim Bauw 1986, bahwa Islam masuk di Was pada tahun 1506
melalui perang besar antara Armada Kesultanan Tidore yang dipimpin Arfan dengan Kerajaan
Rumbati.

d.        Kerajaan Ati-Ati

       Di Kabupaten Fakfak pada masa awal masuknya agama Islam ada empat raja yang berkuasa
diantaranya Raja Ati-ati, Ugar, Kapiar dan Namatota (sekarang masuk dalam wilayah kabupaten
Kaimana). Masing-masing raja tersebut mendirikan mesjid dan mesjid tersebut yang digunakan
sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam. Akan tetapi mesjid yang didirikan oleh raja Ati-ati
pada saat itu pada umumnya terbuat dari kayu sehingga tidak bisa lagi ditemukan wujud maupun
sisa-sisanya. Satu-satunya mesjid yang ditunjukkan oleh keturunan Raja Ati-ati adalah mesjid
Werpigan yang dibangun pada tahun 1931 oleh Raja ke-9.

e.         Kerajaan Rumbati

       Salah satu raja mantan raja dari kerajaan Rumbati adalah Patipi. Beliau sudah memerintah sejak
lama. Beliau dikenal karena keinginannya memperkenalkan dan membawa Islam kepada orang-
orang disekitarnya. Keberadaan dinasti raja ini adalah dinasti kedua yang mana pernah memerintah
di Patipi

f.         Kerajaan Pattipi

       Masuknya Islam di Papua, khususnya di Teluk Patipi, memiliki keterkaitan dengan masuknya
agama Islam di Papua. Masuknya Islam di tanah Papua terdiri dari tujuh versi, yaitu versi orang
Papua, Aceh, Arab, Jawa, Banda, Bacan, serta versi Tidore dan Ternate. Masing masing dengan
argumentasinya yang berbeda-beda. Menurut orang asli Papua Fakfak, yang masih kuat dengan adat
dan legendanya, Islam bukan dibawa dan disebarkan oleh Kerajaan Tidore, Arab, Jawa, atau
Sulawesi. Akan tetapi, Islam sudah berada di Pulau Papua sejak pulau ini diciptakan oleh Tuhan.  

g.        Kerajaan Sekar

       Informasi atau tentang situs-situs khusus Kerajaan Sekar sulit diperoleh, namun dapat diyakini
bahwa Kerajaan Sekar merupakan salah satu kerajaan dari 9 kerajaan Islam yang berada di
Kepulauan Raja Empat.

h.        KerajaanWertuar

       Raja Wetuar ke X yakni Musa Haremba, bahwa Raja pertama Wertuar adalah Vijao. Penduduk
meyakini bahwa asal muasal Raja Vijao ini dari cahaya, sedang Raja kedua bernama Ukir. Selanjutnya
Raja ketiga bernama Winey yang beristrikan Boko Kopao dari Namatoria. Dari susunan Raja-raja
Wertuar, yang dilantik Sultan Tidore adalah Raja ketujuh yakni Lakate pada tahun 1886. Namun
pendapat lain mengatakan bahwa yang dilantik adalah Raja Wertuar keenam, yakni Sanempe.
Hubungan Lakate dengan Sanempe adalah hubungan saudara dan bukan hubungan bapak anak,
yang berarti mereka hidup dalam satu zaman. • Terlepas dari siapa yang dilantik dari kedua raja
tersebut, kedua sumber tadi menjelaskan bahwa Raja Wertuar tersebut dilantik oleh Sultan Tidore
yang bernama Muhammamd taher Alting pada tahun 1886 di Karek, Sekar Lama. Turut hadir dalam
peristiwa pelantikan adalah Raja Rumbati, Abdul Jalil, dan Raja Misool Abdul Majid.

i.          Kerajaan Arguni.

       Di Semenanjung Onin terdapat tiga kerajaan tradisional, yaitu kerajaan Rumbati, kerajaan


Fatagar, dankerajaan Atiati.
Di samping tiga kerajaan tersebut di atas ada pula beberapa kerajaan lain yaitu kerajaan-kerajaan
yang pada mulanya berada di bawah kekuasaan kerajaan Rumbati, tetapi kemudian berhasil
memperoleh pengakuan sebagai kerajaan tersendiri terutama pada masa awai pax neerlandica
(1898).

1.        Kerajaan Patipi,

2.        Kerajaan Sekar,

3.        Kerajaan Wertuar dan

4.        Kerajaan Arguni.

Seperti halnya Kerajaan Sekar, informasi ataupun data lengkap dari kerajaan ini sulit ditemukan.

      
3.    Pengaruh Islam pada Masa Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati dan Kerajaan
Sailolof.

                     Pengaruh Agama Islam Dalam Kehidupan Potret suasana keagamaan di daerah Papua sangat unik,
karena di satu sisi agama Islam telah merupakan ”agama resmi” bagi kerajaan-kerajaan di kepulauan
Raja Ampat, Semenanjung Onin dan di daerah Kowiai (Kaimana). Hal ini ditandai dengan raja dan
keluarganya telah memeluk agama Islam, serta adanya institusi resmi yang berkaitan pengaturan
kehidupan masyarakat. Pengaruh raja umumnya sangat besar dalam membantu tersebarnya Islam di
daerah ini. Akan tetapi di sisi lain tampak pengamalan ajaran Islam sebagian penduduk Papua masih
kurang mendalam sehingga terjadi keadaan yang kontradiktif. Diterimanya Islam sebagai agama dan
jalan hidup masyarakat Papua, maka pranata-pranata kehidupan sosial budaya memperoleh warna
baru. Keadaan ini terjadi karena penerimaan mereka kepada Islam sebagai agama, tidak terlalu
banyak mengubah nilai-nilai, kaidah-kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah ada
sebelumnya. Apa yang dibawa oleh Islam pada mulanya datangnya, hanyalah urusan-uruasan
‘ubudiyah (ibadat) dan tidak mengubah lembaga-lembaga dalam kehidupan masyarakat yang ada.
Islam mengisi sesuatu dari aspek kultural mereka, karena sasaran utama dari pada penyebaran awal
Islam hanya tertuju kepada soal iman dan kebenaran tauhid.

B.   TEORI MASUKNYA ISLAM DI PAPUA

1.    Teori Papua

Teori ini merupakan pandangan adat dan legenda yang melekat di sebagaian rakyat asli Papua,
khususnya yang berdiam di wilayah Fakfak, Kaimana, Manokwari dan Raja Ampat (Sorong). Teori ini
memandang Islam bukanlah berasal dari luar Papua dan bukan di bawa dan disebarkan oleh
Kerajaan Ternate dan Tidore atau pedagang Muslim dan da’I dari Arab, Sumatera, Jawa, maupun
Sulawesi. Namun Islam berasal dari Papua itu sendiri sejak pulau Papua diciptakan oleh Allah Swt.
mereka juga mengatakan bahwa agama Islam telah terdapat di Papua bersamaan dengan adanya
pulau Papua sendiri, dan mereka meyakini kisah bahwa dahulu tempat turunya Nabi Adam dan
Hawa berada di daratan Papua.

2.    Teori Aceh

Studi sejarah masukanya Islam di Fakfak yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten Fakfak pada
tahun 2006, menyimpulkan bahwa Islam datang pada tanggal 8 Agustus 1360 M, yang ditandai
dengan hadirnya mubaligh Abdul Ghafar asal Aceh di Fatagar Lama, kampong Rumbati Fakfak.
Penetapan tanggal awal masuknya Islam tersebut berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh
putra bungsu Raja Rumbati XVI (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati XVII (H. Ismail Samali
Bauw), mubaligh Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374 M) di Rumbati dan
sekitarnya, kemudian ia wafat dan di makamkan di belakang masjid kampong Rumbati pada tahun
1374 M.
3.    Teori Arab

       Menurut sejarah lisan Fakfak, bahwa agama Islam mulai diperkenalkan di tanah Papua, yaitu
pertamakali di Wilayah jazirah onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-
Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab, yang di perkirakan terjadi pada abad
pertengahan abad XVI, sesuai bukti adanya Masjid Tunasgain yang berumur sekitat 400 tahun atau di
bangun sekitar tahun 1587. Selain dari sejarah lisan tadi, dilihat dalam catatan hasil Rumusan
Seminar Sejarah Masuknya Islam dan Perkembanganya di Papua, yang dilaksanakan di Fakfak
tanggal 23 Juni 1997, dirumuskan bahwa :

a.         Islam dibawa oleh sultan abdul qadir pada sekitar tahun 1500-an (abad XVI), dan diterima oleh
masyarakat di pesisir pantai selatan Papua (Fakfak, Sorong dan sekitarnya)

b.        Agama Islam datang ke Papua dibawa oleh orang Arab (Mekkah).

       4.    Teori Jawa

       Berdasarkan catatan keluarga Abdullah Arfan pada tanggal 15 Juni 1946, menceritakan bahwa
orang Papua yang pertama masuk Islam adalah Kalawen yang kemudian menikah dengan siti hawa
farouk yakni seorang mublighat asal Cirebon. Kalawen setelah masuk Islam berganti nama menjadi
Bayajid, diperkirakan peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1600. Jika dilihat dari silsilah keluarga
tersebut, maka Kalawen merupakan nenek moyang dari keluarga Arfan yang pertama masuk Islam.

5.    Teori Banda

Menurut Halwany Michrob bahwa Islamisasi di Papua, khusunya di Fakfak dikembagkan oleh
pedagang-pedagang Bugis melalui banda yang diteruskan ke fakfak melalui seram timur oleh
seorang pedagang dari Arab bernama haweten attamimi yang telah lama menetap di ambon. Microb
juga mengatakan bahwa cara atau proses Islamisasi yang pernah dilakuka oleh dua orang mubaligh
dari banda yang bernama salahuddin dan jainun, yaitu proses pengIslamanya dilakukan dengan cara
khitanan, tetapi dibawah ancaman penduduk setempat yaitu jika orang yang disunat mati, kedua
mubaligh tadi akan dibunuh, namun akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut kemudian
penduduk setempat berduyun-duyun masuk agama Islam.

6.    Teori Bacan

Kesultanan bacan dimasa sultan mohammad al-bakir lewat piagam kesiratan yang dicanangkan
oleh peletak dasar mamlakatul mulukiyah atau moloku kie raha (empat kerajaan Maluku: ternate,
tidore, bacan, dan jailolo) lewat walinya ja’far as-shadiq (1250 M), melalui keturunannya keseluruh
penjuru negeri menyebarkan syiar Islam ke Sulawesi, philipina, Kalimantan, nusa tenggara, Jawa dan
Papua.

Menurut Arnold, raja bacan yang pertama masuk Islam bernama zainal abiding yang
memerintah tahun 1521 M, telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau disebelah barat
lautnya, seperti waigeo, misool, waigama dan salawati. Kemudian sultan bacan meluaskan
kekuasaannya sampai ke semenanjung onin fakfak, di barat laut Papua pada tahun 1606 M, melalui
pengaruhnya dan para pedagang muslim maka para pemuka masyarakat pulau – pulau tadi
memeluk agama Islam. Meskipun masyarakat pedalaman masih tetap menganut animisme, tetapi
rakyat pesisir menganut agama Islam.

Dari sumber – sumber tertulis maupun lisan serta bukti – bukti peninggalan nama – nama
tempat dan keturunan raja bacan yang menjadi raja – raja Islam di kepulauan raja ampat. Maka
diduga kuat bahwa yang pertama menyebarkan Islam di Papua adalah kesultanan bacan sekitar
pertengahan abad XV. Dan kemudian pada abad XVI barulah terbentuk kerajaan – kerajaan kecil di
kepulauan raja ampat itu.

7.    Teori Maluku Utara (Ternate-Tidore)

Dalam sebuah catatan sejarah kesultanan Tidore yang menyebutkan bahwa pada tahun 1443 M
Sultan Ibnu Mansur ( Sultan Tidore X atau sultan Papua I ) memimpin ekspedisi ke daratan tanah
besar ( Papua ). Setelah tiba di wilayah pulau Misool, raja ampat, maka sultan ibnu Mansur
mengangkat Kaicil Patrawar putra sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi ( Kapita Gurabesi ).
Kapita Gurabesi kemudian di kawinkan dengan putri sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah.
Kemudian berdiri empat kerajaan dikepulauan Raja Ampat tersebut adalah kerajaan Salawati,
kerajaan Misool/kerajaan Sailolof, kerajaan Batanta dan kerajaan Waigeo. Dari Arab, Aceh, Jawa,
Bugis, Makasar, Buton, Banda, Seram, Goram, dan lain – lain.

Di peluknya Islam oleh masyarakat Papua terutama didaerah pesisir barat pada abad
pertengahan XV tidak lepas dari pengaruh kerajaan – kerajaan Islam di Maluku ( Bacan, Ternate dan
Tidore ) yang semakin kuat dan sekaligus kawasan tersebut merupakan jalur perdagangan rempah –
rempah ( silk road ) di dunia. Sebagaimana ditulis sumber – sumber barat, Tomé Pires yang pernah
mengunjungi nusantara antara tahun 1512-1515 M. danAntonio Pegafetta yang tiba di tidore pada
tahun 1521 M. mengatakan bahwa Islam telah berada di Maluku dan raja yang pertama masuk Islam
50 tahun yang lalu, berarti antara tahun 1460-1465. Berita tersebut sejalan pula dengan berita
Antonio Galvao yang pernah menjadi kepala orang – orang Portugis di Ternate (1540-1545 M).
mengatakan bahwa Islam telah masuk di daerah Maluku dimulai 80 atau 90 tahun yang lalu.

Proses masuknya Islam ke Indonesia tidak dilakukan dengan kekerasan atau kekuatan militer.
Penyebaran Islam tersebut dilakukan secara damai dan berangsur-angsur melalui beberapa jalur,
diantaranya jalur perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren dan lain
sebagainya, akan tetapi jalur yang paling utama dalam proses Islamisasi di nusantara ini melalui jalur
perdagangan, dan pada akhirnya melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin
dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas hanya di
sekitar kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar
pengaruhnya di tempat-tempat baru itu.
Bukti-bukti peninggalan sejarah mengenai agama Islam yang ada di pulau Papua ini, sebagai
berikut:

a.         Terdapat living monument yang berupa makanan Islam yang dikenal dimasa lampau yang masih
bertahan sampai hari ini di daerah Papua kuno di desa Saonek, Lapintol, dan Beo di distrik Waigeo.

b.        Tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang
kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih.

c.         Naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno.

d.        Di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan delapan manuskrip kuno brhuruf Arab. Lima manuskrip
berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40
cm, yang berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai
menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa,
merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada
tahun 1214 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah darikerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai
ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.
Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka
saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas
bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah
Indonesia Timur.

e.         Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja
Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.