Anda di halaman 1dari 12

Pengertian lapisan batas adalah daerah dimana aliran mengalami hambatan

karena adanya tegangan geser yang besar pada permukaan benda, sehingga partikel-

partikel fluida terpaksa berhenti pada sekitar permukaan benda karena geseran viskos.

Aliran fluida sejati mana pun selalu menunjukkan adanya suatu daerah yang

alirannya terhambat, yaitu dekat batas yang kecepatannya relatif terhadap batas

bervariasi antara nol pada batas hingga suatu harga yang dapat diduga dari solusi

aliran potensial di titik yang agak jauh dari situ. Daerah yang alirannya terhambat ini

disebut lapisan batas (boundary layer) dan ketebalan lapisan batas itu sendiri

dinyatakan dengan δ.

Proses pembentukan lapisan batas mungkin poling baik bila divisualisasikan

dengan membayangkan aliran di sepanjang sebuah pelat rata. Misalkan ada aliran

seragam sebuah fluida tak dapat mampat mendekati pelat dengan kecepatan arus

bebas us. Ketika fluida mencapai tepi sebelah depan, tegangan geser yang besar

terbentuk dekat dengan permukaan pelat karena partikel-partikel fluida yang tiba di

situ terpaksa berhenti dan partikel-partikel yang cukup dekat dan normal terhadap plat

dihambat oleh geseran viscous.

Lapisan batas menebal dalam arah yang sama dengan arah aliran, akibatnya

perubahan kecepatan dari nol di permukaan pelat hingga us pada jarak δ semakin jauh

menjadi semakin besar. Laju perubahan kecepatan tadi menentukan gradient

kecepatan di permukaan plat dan karena itu tegangan gesernya juga.


Pada jarak memanjang tertentu di sepanjang pelat xc, aliran dalam lapisan batas

laminer. Jika kecepatan us untuk suatu fluida bertambah, xc justru berkurang

sedemikian rupa sehingga hasil kali us xc pada dasarnya tidak berubah. Harga tetapan

ini bervariasi secara langsung menurut viskositas kinematik fluida yang

Us . Xc
bersangkutan, dan bila fluida yang digunakan berbeda, nisbah v boleh

dikatakan tidak berubah. Nisbah ini adalah salah satu bentuk angka Reynolds.

Peralihan dari lapisan batas laminar ke lapisan batas turbulen bergantung pada

kekasaran pelat don tingkat turbulensi dalam arus bebas, selain bergantung pada

nisbah us xc / v. Baik kekasaran pelat, tingkat turbulensi yang tinggi dalam arus

bebas, atau jika arus bebas tidak seragarn, perlambatan yang dialami oleh arus bebas

akan menyebabkan terjadinya peralihan di daerah dekat pangkal pelat (dengan harga

xc lebih kecil).

Apabila suatu fluida mengalir maka akan kehilangan energi akibat adanya gaya

tahanan yang ditimbulkan oleh adanya pemisahan aliran. Dalam kategori pertama,

tahanan disebabkan secara langsung oleh efek viskos. Jadi oleh tegangan tangensial

disebut tekanan viska atau tahanan gesek. Kategori sedikit walaupun tak secara

langsung oleh efek viskositas disebabkan karena tekanan jadi oleh gaya-gaya normal

dan disebut tahanan bentuk oleh tahanan tekanan.

Aliran berlapis sangat tahan terhadap gradien merugikan dibelakang silinder dan

pemisahan terjadi pada θ = 82˚. Sudah tentu dapat diramalkan dengan teori aliran alur
ombak buritan yang melebur dan tekanan yang sangat rendah pada daerah berlapis

yang menimbulkan seretan sebesr CD = 1,2.

Apabila suatu fluida mengalir maka akan kehilangan energi akibat adanya gaya

tahanan yang ditimbulkan oleh adanya pemisahan aliran. Dalam kategori pertama,

tahanan disebabkan secara langsung oleh efek viskos. Jadi oleh tegangan tangensial

disebut tekanan viska atau tahanan gesek. Kategori sedikit walaupun

Lapisan Batas Pada tahun 1904, Prandtl memperkenalkan hipotesa lapisan batas,

yang menjelaskan mengapa kedua tahanan bentuk dan tahanan friksi muncul dalam

aliran bilangan Reynolds tinggi. Perhatikan aliran pada suatu benda tipis panjang,

seperti pelat datar paralel atau airfoil. Prandtl berpendapat bahwa bagaimanapun

kecilnya viskositas, fluida semestinya masih tetap memenuhi kondisino-slippada

permukaan. Dengan demikian kecepatan fluida harus meningkat dari nol pada

permukaan ke suatu nilai yang mendekati besarnya kecepatan aliran bebas pada jarak

yang pendek diatas permukaan. Daerah dimana kecepatan meningkat dari nol ke

harga aliran bebas ini disebut lapisan batas (boundary layer). Prandtl mencatat bahwa

semakin tinggi bilangan Reynoldsnya, lapisan batasnya semakin kecil, yang

diperlihatkan dalam hubungan.

dimana :

ᵹ = tebal lapisan batas (m)

L = panjang karakteristik (m)


V = viskositas kinematik fluida(m/s)

Vꚙ = kecepatan fluida relatif terhadap obyek(m/s)

Re = Reynolds number

Dalam hal ini tentu saja, semakin tipis lapisan batas, semakin besar nilai dari ∂u/∂y di

dalam lapisan batas tersebut. Terdapat tegangan geser yang penting di dalamfluida

lapisan batas, meskipun viskositasnya kecil.

Selama lapisan batas tersebut tipis, keberadaannya memiliki efek kecil pada

distribusi tekanan atau pola aliran dekat benda. Untuk pelat datar atau air foil tipis,

bentuk-bentuk garis arus (streamline shapes)pada dasarnya tidak berubah oleh adanya

lapisan batas tersebut. Oleh karena lapisan batas adalah suatu daerah dimana fluida

mengalami deformasi geser, alirannya bisa laminar atau turbulen bergantung pada

nilai bilangan Reynoldsnya. Aliran di dalam lapisan batas dekat ujung depan (leading

edge)dari suatu pelat selalu laminar karena bilangan Reynoldsnya (lokal) kecil; jika

pelatter sebut cukup panjang, transisi ke turbulensi terjadi dan aliran tersebut turbulen

pada daerah hilir dari pelat tersebut. Jika aliran diganggu oleh kekasaran atau

turbulensi dalam aliran di luar lapisan batas, transisi tejadi lebih dekat lagi ke ujung

depan (leading edge). Gambar2.9 mengilustrasikan secara kualitatif pertumbuhan

lapisan batas pada pelat datar tersebut. Dikarenakan oleh pencampuran yang

meningkat dalam aliran turbulen, lapisan batas turbulen memiliki tegangan geser
yang lebih besar dari pada lapisan batas laminar. Seperti halnya, permukaan kasar

mengalami tegangan yang lebih besar dari pada permukaan halus.

Gambar 2.1 Lapisan batas pada suatu pelat datar (ketebalan vertikal sangat dilebih-

lebihkan)

Fakta ini menerangkan perilaku koefisien tahanan untuk suatu pelat datar

yangsejajar dengan aliran seperti diperlihatkan pada Gambar 2.1dan Gambar 2.2.

Padabilangan Reynolds rendah, aliran dekat pelat adalah laminar dan koefisien

tahanannya lebih kecil. Pada bilangan Reynolds tinggi, aliran dekat pelat adalah

turbulen pada sebagian besar dari panjang pelat dan koefisien tahanannya lebih tinggi

karena tegangan gesernya lebih besar. Transisi antara kurva laminar dan kurva

turbulen bukanlah merupakan garis tunggal tetapi sekumpulan garis yang bergantung

pada kekasaran pelat dan tingkat turbulensi aliran fluida di atas pelat tersebut. Pada
setiap harga bilangan Reynolds tertentu, pelat datar paralel halus memiliki koefisien

drag yang paling kecil dari semua bentuk.

Gambar 2.2 Variasi koefisien tahanan terhadap bilangan Reynolds untuk suatu

pelatdatar halus dalam aliran.

Aliran Laminer Dan Turbulen

Aliran laminer dikarakteristi oleh lapisan (lamina), dalam hal ini terjadi pada gerakan

udara pada kecepatan dan arah yang sama. Tidak ada pertukaran fluida antar lapisan

dan alirannya mengikuti pola garis lurus. Semakin dekat lapisan pada permukaan

airfoil maka kecepatannya semakin rendah. Pada aliran turbulen, garis arus atau pola

alirannya tidak teratur dan terjadi pertukaran fluida antar area. Juga terjadi pertukaran

momentum seperti terlihat pada partikel fluida yang bergerak lebih cepat memberikan
momentum pada partikel yang lebih lambat. Hampir semua aliran fluida

menunjukkan

beberapa derajat turbulensi [Tufts University; halaman 1]. Pada gambar bawah,

lapisan batas turbulen terjadi pada jarak lebih jauh pada arah hilir. Pemisahan

lapisan turbulen terjadi jika tegangan Reynold lebih besar daripada gaya viskos.

Aliran turbulen adalah salah satu fenomena fisik yang komplek dan menarik

minat banyak peneliti. Tennekes dan Lumley (1972) menyatakan bahwa aliran

turbulen tidak dapat didefenisikan, tetapi dapat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifat

turbulensi. Beberapa sifat turbulensi tersebut adalah :

1. Tidak beraturan

Salah satu sifat aliran turbulen adalah tidak beraturan atau random.

2. Dispersif

Aliran turbulen akan cenderung menyebar (dispersif) sehingga menyebabkan

aliran turbulen memiliki kemampuan yang tinggi dalam proses pencampuran

(mixing), perpindahan panas, perpindahan momentum dan perpindahan massa.

3. Disipatif

Turbulen memiliki energi internal berupa pusaran besar (large scale Eddy) dan

pusaran kecil (small scale Eddy). Energi pusaran besar didapat dari aliran utama

(free stream) dan energi pusar kecil ditransfer dari pusaran besar. Proses ini

dikenal sebagai energy cascade. Energi yang dikandung di pusaran kecil akan

melemah karena efek gesekan fluida akibat viskositas fluida.


4. Bilangan Reynolds yang tinggi

Aliran turbulen selalu memiliki bilangan Reynolds yang tinggi. Nilai absolut

dari bilangan Reynolds untuk turbulen selalu relatif terhadap konfiguarsi aliran.

Misalnya aliran eksternal akan memiliki bilangan Reynolds yang lebih tinggi

daripada aliran internal, tetapi nilai relatif bilangan Reynolds aliran turbulen

selalu lebih tinggi daripada aliran laminar.

5. Vortisitas tiga dimensi

Aliran turbulen selalu memiliki vortisitas/pusaran tiga dimensi. Pembentukan

lapisan batas antara aliran dan dinding selalu berawal pada kondisi laminar.

Vortisitas aliran laminar bersifat dua dimensi dari dinding ke arah free stream.

Semakin ke arah hilir (downstream) lapisan batas akan mengalami transisi dan

berubah menjadi turbulen. Transisi dari laminar ke turbulen merupakan

mekanisme kompleks yang mengubah vortisitas laminar (dua dimensi) menjadi

vortisitas turbulen (tiga dimensi).

6. Kontinum

Aliran turbulen adalah bagian dari disiplin ilmu mekanika fluida. Dalam

analisanya, mekanika fluida selalu menggunakan pendekatan bahwa fluida

sebagai kontinum, suatu ukuran fluida yang jauh lebih besar dari ukuran molekul,

tetapi lebih kecil dari partikel. Karena itu Eddy yang terkecil dari turbulensi,

ukurannya masih jauh lebih besar daripada ukuran molekul.


Distribusi Tekanan

Kecepatan dan tekanan saling berkaitan satu sama lain, berdasarkan persamaan

Bernoulli p + ½ V2 +

gh = konstan Keterangan,

p = tekanan

 = densitas

V = kecepatan

g = percepatan gravitasi

h = elevasi Pengukuran kecepatan aliran diawali dengan pengukuran densitas

udara, yaitu dari persamaan gas ideal [Hollman, JP; 1985; 270]

p = RT Keterangan:

p = tekanan udara luar

T = temperatur udara luar

R = konstanta gas = 287 J kg-1 K-1

Viskositas udara dihitung dengan hukum Sutherland

Drag Aerodinamika Kendaraan

Drag adalah besarnya gaya yang bergerak diatas sebuah objek yang memiliki

posisi sejajar dengan aliran bebas. Drag pada suatu benda diakibatkan oleh dua hal

yaitu gesekan antara fluida dengan permukaan benda dan beda tekanan. Drag karena

gesekan disebut hambatan gesek (friction drag) yang tergantung pada besar
permukaan yang bersentuhan dengan fluida, tegangan geser, viskositas, gradien

kecepatan, kekasaran permukaan dan streamline body. Sedangkan drag karena beda

tekanan disebut form drag tergantung pada bentuk, ukuran, distribusi tekanan, wake,

bilangan Reynolds dan bluff body dari benda yang dikenakan aliran.

Gaya drag (hambatan) diekspresikan sebagai hasil kali koefisien drag, tekanan

dinamis arus bebas dan luas karakteristik yang dapat dituliskan dalam bentuk sebagai

berikut

Drag Force & Streamline Body Benda yang terbenam dalam aliran fluida yang

bergerak (immersed bodies) akan mengalami gaya-gaya akibat interaksi dengan

fluida. Gaya yang ditimbulkan ini akibat adanya normal stresses (tegangan normal

dan shear stress (tegangan geser) yang disebabkan oleh viskositas fluida. Pada aliran

2 dimensi, gaya-gaya yang sejajar dengan aliran fluida disebut drag forces (gaya

hambat). Gaya hambat yang terjadi dapat berupa skin friction drag (FDf) yaitu gaya

hambat akibat gaya geser yang menyinggung permukaan secara tangensial yang

timbul sebagai akibat adanya viskositas (tegangan geser antara fluida dan permukaan

benda) dan pressure drag (FDp) yaitu gaya hambat akibat gaya tekan yang tegak lurus

terhadap permukaan benda.


Gambar 5. Ilustrasi drag terhadap airfoil tanpa angle of attack

Silinder sirkular adalah salah satu contoh dari bluff body dua dimensi. Meskipun

geometrinya relatif sederhana, aliran yang melintasinya akan menjadi kompleks dan

senantiasa berubah seiring dengan berubahnya bilangan Reynolds. Pada aliran

melintasi silinder sirkular, fluida memberikan gaya drag pada permukaan akibat efek

viscous. Gaya hambat yang timbul akibat perbedaan tekanan pada arah normal

terhadap permukaan tersebut dikenal sebagai pressure drag dan bila tangensial

terhadap permukaan disebut skin friction drag. Streamline body digunakan dengan

tujuan untuk mengurangi adverse pressure gradient dibelakang titik maximum

thickness dari body, yang akan menyebabkan terjadinya penundaan titik separasi,

penyempitan daerah wake dan akan mengurangi gaya drag yang terjadi. Tetapi

penambahan bentuk streamline body menyebabkan penambahan surface area dari

body tersebut, hal ini menyebabkan skin fricktion drag bertambah. Maka hanya

penambahan streamline yang optimum yang akan memberikan gaya drag total yang

minimum
Gambar 6. Aliran Fluida Melalui Streamlined Body

Bilangan Reynold

Kondisi aliran laminer atau turbulen dapat dibedakan dengan bilangan Reynolds.

Bilangan Reynolds adalah suatu bilangan tak berdimensi yang merupakan

perbandingan antara gaya inersia dari bodi terhadap gaya geser yang ditimbulkan oleh

aliran fluida

ρU ∞ L
Re =
u

Keterangan:

 : Densitas fluida

U : Kecepatan aliran free stream fluida

L : Panjang karakteristik yang diukur pada medan aliran

 : Viskositas absolut fluida