Anda di halaman 1dari 11

FAKTOR AGENT, HOST, ENVIRONMENT

PADA PENYAKIT GINGIVITIS

KELOMPOK 2 :

RISDA ALVIA

P1337425319007

DAMANHURI AFSY P1337425319008

MARIA SINTA SITANGGANG P1337425319012

RISNAENI P1337425319017

UTARI ZULKAIDAH P1337425319019

NIA AFDILA P1337425319021

SUCIYATI SUNDU P1337425319023

DEWI SARTIKA P1337425319025

NURAWALI PUTRI ZAINAL P1337425319028

PROGRAM STUDI MAGISTER TERAPIS GIGI DAN MULUT

PROGRAM PASCASARJANA POLITEKNIK KESEHATAN

KEMENTERIANKESEHATAN SEMARANG

2019

BAB I

1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang penting dalam

kehidupan setiap individu termasuk, karena gigi dan gusi yang rusak dan

tidak dirawat akan menyebabkan rasa sakit, gangguan pengunyahan, dan

dapat mengganggu kesehatan tubuh lainnya. Masalah gigi dan mulut pada

anak dapat juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak

(Kantohe dkk, 2016). Gingivitis merupakan suatu inflamasi yang melibatkan

jaringan lunak di sekitar gigi yaitu jaringan gingiva. Gambaran klinis

gingivitis adalah munculnya warna kemerahan pada margin gingiva,

pembesaran pembuluh darah di jaringan ikat subepitel, hilangnya keratinisasi

pada permukaan gingiva dan pendarahan yang terjadi pada saat dilakukan

probing (Diah, 2018). Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun

2018 sebanyak 16,6% masyarakat Indonesia memiliki masalah gusi yang

membengkak, dan 19 % masyarakat di Indonesia memiliki masalah gusi

mudah berdarah.

Penyebab gingivitis dibagi menjadi dua, yaitu penyebab utama dan

penyebab predisposisi. Penyebab utama gingivitis adalah penumpukan

mikroorganisme yang membentuk suatu koloni kemudian membentuk plak

gigi yang melekat pada tepi gingiva. Penyebab sekunder gingivitis berupa

faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal meliputi karies, restorasi yang

gagal, tumpukan sisa makanan, gigi tiruan yang tidak sesuai, pemakaian alat

orthodonsi dan susunan gigi geligi yang tidak teratur, sedangkan faktor

2
sistemik meliputi faktor nutrisional, faktor hormonal, hematologi, gangguan

psikologi dan obatobatan.

Faktor hormonal yang menjadi faktor predisposisi gingivitis tersebut

salah satunya adalah ketidakseimbangan hormon yaitu peningkatan hormon

endokrin pada usia pubertas. 3 Peningkatan hormon endokrin selama usia

pubertas dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatnya

kepekaan iritasi lokal, seperti biofilm plak bakteri, yang mengakibatkan

gingivitis pubertas. Gingivitis pubertas adalah salah satu jenis dari gingivitis

yang kadang-kadang berkembang pada anak-anak dan pubertas dengan

keadaan plak yang sedikit dan bahkan sangat sedikit.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Gingivitis

Gingivitis adalah peradangan pada gusi (gingiva) dengan keadaan

gingiva yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk, warna serta

konsistensi gingiva.

B. Mekanisme Tahap-tahap Terjadinya Gingivitis

1. Stage I Gingivitis: Inisial Lesion

Manifestasi pertama dari inflamasi ginggiva adalah perubahan

vaskularisasi yaitu dilatasi kapiler dan peningkatan aliran darah. Perubahan

inflamasi awal ini terjadi, dalam respon terhadap aktivasi mikroba dari

resident leukosit dan stimulasi dari sel endothelial. Secara klinis, respon

awal ginggiva terhadap bakteri plak ini tidak kelihatan. Secara

mikroskopik, beberapa ciri klasik inflamasi akut dapat dilihat pada jaringan

ikat dibawah epithelial junction. Ciri morfologi perubahan pembuluh darah

(pelebaran kapiler dan venula) dan adheren dari neutofil terhadap dinding

pembuluh (marginasi) terjadi dalam 1 minggu dan kadang-kadang lebih

cepat 2 hari setelah plak dapat terakumulasi. Leukosit, Polymorphonuclear

Neutrophils (PMN`s) utama, meninggalkan pembuluh darah kapiler dengan

bermigrasi melewati dinding ( diapedesis, emigrasi ). Mereka dapat terlihat

dalam jumlah banyak pada jaringan ikat, epithelial junction, dan sulkus gusi.

Eksudat dari cairan sulkus ginggiva dan protein serum ekstravaskular

terdapat disini.

4
2. Stage II Gingivitis : The Early Lesion

The early lesion berkembang dari initial lesion dalam 1 minggu

setelah permulaan akumulasi plak. Secara klinis, early lesion mugkin

tampak seperti gingivitis awal, yang berkembang dari inisial lesion. Seiring

berjalannya waktu, tanda-tanda klinis eritema dapat terlihat, terutama

proliferasi kapiler dan peningkatan formasi loop kapiler antara rete pegs

atau ridges. Perdarahan pada pemeriksaan mungkin juga terjadi. Aliran

cairan gingiva dan jumlah dari leukosit yang bertransmigrasi mencapai

jumlah maksimum antara 6 sampai 12 hari setelah onset dari gingivitis

klinik.

3. Stage III Gingivitis : The Established Lesion

Established lesion karakteristiknya berupa predominan sel plasma

dan limfosit B dan kemungkinan berhubungan dengan pembentukan batas

poket gingival kecil dengan poket epithelial. Sel B yang ditemukan dalam

established lesion predominan oleh imunoglobin G1 (IgG1) dan G3 (IgG3).

Pada gingivitis kronis (stage III), yang terjadi 2 atau 3 minggu

setelah permulaan akumulasi plak, pembuluh darah menjadi engorged dan

padat, vena kembali dirusak, dan aliran darah menjadi lambat. Hasilnya

adalah anoxemia ginggiva local, yang ditandai dengan adanya corak kebiru-

biruan pada gusi yang merah. Ekstravasasi dari sel darah merah kedalam

jaringan ikat dan terganggunya haemoglobin dalam komponen pigmen dapat

juga memperdalam warna kekronisan inflamasi ginggiva. Established lesion

dapat dijelaskan secara klinis selayaknya inflamasi ginggiva pada

umumnya.

5
4. Stage IV Gingivitis : The Advanced Lesion

Perluasan lesi kedalam tulang alveolar merupakan karakter dari stage ke

empat yang disebut advanced lesion. Secara mikroskopik, terdapat fibrosis

pada gingival dan manifestasi inflamasi yang menyebar dan kerusakan

jaringan imunopatologi. Pada dasarnya,dalam advanced lesion, sel plasma

berlanjut mendominasi jaringan ikat, dan neutrofil berlanjut mendominasi

epithelial junction dan celah gingival. Gingivitis akan mengalami progress

menjadi periodontitis hanya pada individu yang rentan. Bagaimanapun,

apakah periodontitis dapat terjadi tanpa didahului gingivitis atau tidak,

belum diketahui saat ini.

C. Faktor-Faktor Penyebab Gingivitis

Penyebab gingivitis kelainan yang terjadi dalam rongga mulut

disebabkan karena ketidakseimbangan faktor-faktor, yaitu: host, agent,

environment.

1. Agent

Menurut Be (1987) di dalam plak bakteri terdapat bakteri-bakteri

jenis coccus, filament, spiril dan spirochaeta dapat menyebabkan terjadinya

peradangan gingiva yang disebut gingivitis. Gingivitis berawal dari daerah

margin gusi yang dapat disebabkan oleh invasi bakteri atau rangsang

endotoksin. Endotoksin dan enzim dilepaskan oleh bakteri Gram negatif

yang menghancurkan substansi interseluler epitel sehingga menimbulkan

ulserasi epitel sulkus. Selanjutnya enzim dan toksin menembus jaringan

pendukung di bawahnya. Peradangan pada jaringan pendukung sebagai

akibat dari dilatasi dan pertambahan permeabilitas pembuluh darah,

6
sehingga menyebabkan warna merah pada jaringan, edema, perdarahan, dan

dapat disertai eksudat.

Bagian gingiva yang mengisi ruang interproximal antara dua gigi

yang bersebelahan, dari arah fasio-lingual, bagian ini berbentuk konkaf,

melekuk seperti sadel, dan dinamakan col. Interdental papila terdiri dari

unattached dan attached gingiva, bila ada diastema interdental papila

melekat erat dengan processus alveolaris, jadi tidak ada unattached gingiva.

Regio interdental berperan sangat penting karena merupakan daerah stagnasi

bakteri yang paling resisten dan strukturnya menyebabkan daerah ini sangat

peka, daerah ini biasanya timbul lesi awal pada gingivitis (Manson dan Eley,

1993).

Gingivitis adalah proses inflamasi yang mengenai jaringan gingiva

tetapi tidak meluas kearah tulang alveolar, ligamentum periodontal, atau

cementum. Penyebab gingivitis dibagi dalam tiga kelompok yaitu

disebabkan nekrosis, tidak berhubungan dengan plak, dan akumulasi bakteri

dalam plak2-4. Bakteri yang menyebabkan gingivitis adalah bakteri gram

negatif, yaitu Porphyromonas gingivalis, Tannerella fosythia, Treponama

denticola Actinomyce viscosus, Selemonas noxia, Aggregatibacter

actinomycetemcomitans dan bakteri gram positif Streptococcus sanguinis,

Streptococcus mutans, A. Viscosus, Spirochaeta. Gingivitis pada tahap awal

ditandai dengan peningkatan kadar polymorphonuclear leukocyte / Leukosit

PMN. Peningkatan Leukosit PMN akan meningkatkan radikal bebas dalam

proses fagositosis terhadap bakteri yang akan menimbulkan kerusakan lebih

lanjut. Gingivitis pada tahap lanjut ditandai dominasi sel limfosit, tetapi

7
masih terdapat migrasi neutrophil dan makrofag. Pada gingivitis kronis

terjadi peningkatan kadar sel plasma, limfosit B, dan makrofag . Leukosit

adalah sel yang akan melawan bakteri patogen pada gingiva. Leukosit PMN

memiliki kemampuan untuk menyerang dan menghancurkan bakteri, virus

dan bahan-bahan yang merugikan lain yang menyerbu masuk ke dalam

tubuh.

2. Host

Penyebab gingivitis sangat bervariasi, mikroorganisme dan produknya

berperan sebagai pencetus awal gingivitis. Host yaitu rongga mulut yang

ditentukan oleh gusi dan adanya akumulasi bakteri plak yang bersifat

pathogen yang menempel pada gusi. Plak merupakan lapisan tipis biofilm yang

mengandung bakteri, produk metabolisme bakteri, dan sisa makanan.

Akumulasi plak ini akan merangsang respon inflamasi pada gingiva yang dapat

menyebabkan kerusakan jaringan pada daerah akumulasi sejumlah organisme

patogen. Proses infeksi ini dimulai dari adanya invasi oral patogen yang

berkolonisasi pada biofilm plak gigi

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Gingivitis adalah peradangan atau infeksi pada gusi / gingiva. Suatu

keadaan dapat disebut gingivitis bila ada perdarahan disertai

pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan kontur normal.

Peradangan pada gusi disebabkan akumulasi plak dalam waktu yang

cukup lama yang mengelilingi gigi. Gingiva menjadi mudah berdarah

karena rangsangan yang kecil seperti saat menyikat gigi, atau bahkan tanpa

rangsangan, pendarahan pada gusi dapat terjadi kapan saja. gingivitis

(peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat akan meluas dari

gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang

lebih luas pada jaringan periodontal.

gingivitis yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan karena

ketidakseimbangan faktor-faktor, yaitu: host, agent, environment.

1. Agent

Agentnya yaitu bakteri yang terdapat didalam plak. bakteri-bakteri

tersebut adalah jenis coccus, filament, spiril dan spirochaeta dapat

menyebabkan terjadinya peradangan gingiva yang disebut gingivitis.

2. Host

9
Host yaitu rongga mulut yang ditentukan oleh gusi dan adanya

akumulasi bakteri plak yang bersifat pathogen yang menempel pada gusi

yang akan merangsang respon inflamasi pada gingiva yang dapat

menyebabkan kerusakan jaringan.

3. Environment

B. Saran

Dibutuhkan penyuluhan yang lebih efektif dari puskesmas baik di dalam

puskesmas tersebut maupun ke sekolah-sekolah, posyandu, ataupun

PUSTU (Puskesmas Pembantu) untuk peningkatan pengetahuan akan

pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Di butuhkan pula

tindakan perawatan komprehensif dan berkala untuk tetap menjaga

kebersihan gigi dan mulut sejak usia dini dengan control setiap 6 bulan

sekali, dan perhatian khusus dari orangtua dan orang sekitar untuk lebih

memperhatikan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya.

10
REFERENSI

11