Anda di halaman 1dari 13

PERSPEKTIF KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Diabetes Melitus

Pembimbing : Ns. Harmilah, S.Pd.,S.Kep.,M.Kep.,Sp.KMB

Disusun Oleh :

Abiyyu Naufal Susanto (P07120217001)

Aga Rahma Putri (P07120217002)

Aisah Khusnul Isma’iyah (P07120217003)

Aisyah Ayu Melati Sugiharto (P07120217004)

Aisyah Kusumaningrum (P07120217005)

Angelika Maya Widyaningrum (P07120217006)

Anisa (P07120217007)

Anita Listya Indrayani (P07120217008)

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN YOGYAKARTA

2020
A. Pengertian Keperawatan Diabetes
Keperawatan diabetes membahas terkait konsep, teori, model dan penerapan
asuhan keprawatan pada pasien Diabetes Melitus (DM). Pelayanan keperawatan
profesional yang ditujukan kepada klien yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar
dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan proses
keperawatan.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya
peningkatan kadar gula dalam darah disertai dengan pengeluaran kadar glokusa pada
urine. Menurut Sugondo (2009) diabetes mellitus terjadi jika didalam tubuh tidak
menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah tetap normal.
Diabetes mellitus merupakan keadaan hiperglikemik kronik disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik
pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam
pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Bilous, 2002). Prevalensi penderita Diabetes
mellitus semakin meningkat dari tahun ketahun.WHO memprediksikan jumlah penderita
diabetes di dunia akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah
penduduk. Jumlah penderita diabetes di Indonesia diprediksikan akan semakin
meningkat. Data WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2004 jumlah penderita diabetes
di Indonesia mencapai 8.426.000 penderita dan pada tahun 2030 diprediksi jumlah
penderita diabetes di Indonesia mencapai 21.257.000. Berdasarkan data International
Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2014, Indonesia menempati urutan kelima jumlah
penderita diabetes setelah negara Cina, India, Amerika dan Brazil.

B. Perkembangan Keperawatan Diabetes Melitus


Diabetes melitus telah dikenal sejak 1500 tahun sebelum masehi, dan dikenal
pertama kali oleh bangsa Mesir kuno. Kala itu diabetes melitus dianggap sebagai suatu
keadaan yang aneh dimana seseorang buang air kecil secara berlebihan dan mengalami
penurunan berat badan secara drastis. Istilah diabetes melitus merefleksikan keadaan
bahwa urin yang dikeluarkan penderita memiliki rasa manis. Istilah tersebut
diperkenalkan oleh Aretaeus seorang tabib Yunani yang hidup pada sekitar tahun 80-138
sesudah masehi. Tahun 1776 Mathews Dobson melakukan pengukuran glukosa dalam
urin penderita tersebut dan menemukan adanya konsentrasi gula yang tinggi pada
penderita tersebut.
Diabetes melitus mulai diakui sebagai sebuah entitas klinis sejak didirikannya
New England Journal of Medicine and Surgery pada tahun 1812. Prevalensi diabetes
melitus ini pada saat itu belum terdokumentasikan, dan belum ada pengetahuan tentang
mekanisme yang bertanggung jawab atas terjadinya penyakit ini. Pengobatan yang efektif
juga belum tersedia. Selama 200 tahun proses intervensi terhadap diabetes melitus ini,
berbagai perkembangan pengetahuan, upaya pendekatan terapi dan pencegahannya telah
mengalami kemajuan pesat. Berbagai upaya terapi dan pencegahan telah terbukti mampu
meningkatkan produktivitas dan mencegah komplikasi pada penderitanya. Berbagai studi
dan penelitian seputar diabetes melitus dan penyakit gangguan metabolisme lainnya
berkembang dengan sangat pesat.
Ironisnya, meski berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan terapi diabetes melitus
telah berkembang sangat pesat, namun upaya penyembuhannya masih sulit untuk
dipahami. Pada sekitar 2 abad yang lalu hanya pasien dengan defisiensi insulin yang
parah yang akan terdeteksi sebagai penderita diabetes melitus, sedangkan pasien dengan
defisiensi insulin yang lebih ringan mungkin akan lolos dari vonis diagnosa tersebut.
Sedangkan saat ini, hanya ada sedikit pasien diabetes melitus yang mengalami
defisiensi/kerusakan insulin parah, melainkan lebih banyak diantaranya merupakan
penderita diabetes melitus dengan gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin.
Prevalensi diabetes melitus meningkat drastis pada kurun waktu 3-4 dekade terakhir,
yang menyebabkan diabetes melitus menjadi salah satu epidemi yang paling umum dan
serius yang dijumpai dimasyarakat.
Berbagai kemajuan ilmu pengetahuan seputar diabetes melitus tak lepas dari
peran serta aktif para peneliti yang selalu melakukan penelitian-penelitian penting.
Beberapa peneliti diantaranya berhasil memenangkan Hadiah Nobel. Para peneliti yang
berhasil memenangkan Hadiah Nobel seputar diabetes melitus diantaranya:
1. F.G. Banting and J.J.R. Macleod yang memenangkan Nobel pada tahun 1923 dalam
kontribusinya sebagai penemu insulin (kategori obat)
2. C.F. Cori and G.T. Cori pada tahun 1947 memenangkan Nobel dalam kontribusinya
sebagai penemu jalur konversi katalitik glikogen (kategori obat)
3. B.A. Houssay tahun 1947 memenangkan Nobel dalam kontribusinya sebagai penemu
peran hormon yang dilepaskan lobus hipofisis anterior dalam metabolisme gula
(kategori obat)
4. F. Sanger tahun 1958 memenangkan Nobel dalam kontribusinya sebagai penemu
struktur protein terutama insulin (kategori kimia)
5. E.W. Sutherland tahun 1971 berkontribusi pada penemuan mekanisme kerja hormon
(kategori obat)
6. R. Yalow tahun 1977 berkontribusi pada pengembangan pada peptida hormon
(kategori obat)
7. E.H. Fischer and E.G. Krebs tahun 1992 berkontribusi pada penemuan mengenai
fosforilasi protein reversibel sebagai mekanisme pengaturan biologik (kategori obat)

Pendekatan preventif dan kuratif terhadap diabetes melitus telah berubah sejak
ditemukannya insulin. Perkembangannya sangat pesat. Beberapa penelitian fokus pada
biosintesis insulin manusia yang telah meniadakan reaksi merugikan pada tempat
penyuntikan hingga penemuan jarum suntik yang sangat kecil yang memberikan
kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaannya, penemuan alat yang bukan hanya
memantau glukosa darah tetapi juga melakukan pengukuran hemoglobin terglikasi.
Strategi pengobatan dan komplikasi diabetes juga telah mengalami perbaikan
yang mengesankan. Efek yang menguntungkan telah terbukti pada penggunaan pemblok
reseptor angiotensin, ACE inhibitors, dan pembatasan protein terbukti mampu
mengurangi resiko komplikasi nefropati. Transplantasi ginjal juga telah terbukti mampu
meningkatkan harapan hidup pasien dengan penyakit ginjal diabetikum stadium lanjut.
Selain itu fotokoagulasi laser telah menolong jutaan pasien diabetes dengan komplikasi
retinopati. Kemajuan transplantasi sel islet pankreas juga sangat mengesankan. Studi
terbaru juga melaporkan bahwa pembedahan bariatrik untuk menurunkan berat badan
lebih efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan terapi medis
standar pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2.
Perawatan diabetes telah sedemikian rupa mengalami perbaikan dengan
melibatkan banyak bidang keahlian kesehatan mulai dari dokter, apoteker, perawat,
nutrisionis, podiatris dan lain-lain. Peningkatan kontrol glukosa telah terbukti
mengurangi resiko komplikasi mikrovaskular pada pasien dengan diabetes melitus tipe 1.
Pengobatan diabetes melitus dan hasilnya pada penurunan resiko kematian dan
komplikasi kardiovaskular adalah satu isu penting. Studi Steno-2 yang menunjukan
bahwa intervensi multifaktor yang bertujuan untuk melakukan kontrol glukosa terbukti
mampu menurunkan resiko kematian akibat komplikasi kardiovaskular sebesar 50%.
Tampaknya peningkatan perbaikan upaya pencegahan dan pengobatan diabetes
melitus tidak dibarengi dengan semakin membaiknya kondisi kesehatan masyarakat.
Prevalensi diabetes melitus diseluruh dunia meningkat secara drastis. Kesulitan dalam
menerapkan kebiasaan pencegahan diabetes melitus menjadi tantangan tersendiri
ditemukannya suatu pola yang dapat mengubah prilaku masyarakat untuk hidup dengan
gaya yang lebih sehat, sehingga prevalensi diabetes melitus diharapkan akan menurun.
Mengingat lonjakan populasi masyarakat dengan diabetes melitus yang meningkat
tajam agaknya menjadi tantangan tersendiri bagi para ilmuan untuk mengembangkan
metode baru yang dapat mencegah munculnya generasi-generasi baru dengan diabetes
melitus. Ada banyak kesempatan untuk mengimplementasikan upaya pencegahan publik.
Evaluasi dan pembatasan yang ketat terhadap kandungan trans fatty acids pada produk
makanan, mengurangi item makanan dengan komposisi kalori tinggi, mengenakan pajak
khusus bagi makanan dengan kandungan gula tinggi, dan pembatasan peredaran makanan
dengan kandungan lemak tinggi dapat menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh
pemerintah guna menurunkan angka prevalensi diabetes melitus. Modifikasi gaya hidup
menjadi kunci utama pada pencegahan diabetes, namun tentu saja hal ini tidak mudah
untuk dilakukan.

C. Ruang Lingkup Keperawatan Diabetes Melitus


Mempelajari tentang berbagai hal yang berkaitan dengan diabetes melitus,
meliputi definisi, anatomi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, tanda dan gejala,
penatalaksanaan, komplikasi, hingga asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes
melilitus.
D. Paradigma Keperawatan Diabetes Melitus

1. Manusia
Orang yang memiliki faktor risiko, yaitu pada orang yang memiliki berat badan diatas
normal, hipertensi, dislipidemia, usia lebih dari 40 tahun, memiliki riwayat kehamilan
dengan gula darah tinggi, memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lebih
dari 4 kg, dan memiliki riwayat keturunan keluarga menderita diabetes.
2. Lingkungan
Lingkungan sosial (keluarga dan masyarakat), budaya
3. Sehat
Dinamis (fungsi optimal dan adaptif)
4. Keperawatan
Keperawatan diabetes sebagai pelayanan professional
E. Lingkup Pelayanan
1. Rumah Sakit
2. Puskesmas
3. Komunitas
F. Lingkup wewenang dan Tanggung Jawab
1. Fokus pada pemenuhan kebutuhan klien
2. Melaksanakan asuhan keperawatan dengan pendekatan keluarga
3. Merujuk kepada tim kesehatan lain untuk kondisi yang membutuhkan penangganan
lebih lanjut
4. Pelaksaan asuhan keperawatan dengan kerja sama tim
G. Implementasi Keperawatan
1. Promotif
Serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang menitikberatkan pada kegiatan yang
bersifat promosi kesehatan , contohnya penyuluhan mengenai pencegahan penyakit
diabetes
2. Preventif
Kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan, contohnya rutin melakukan
pemeriksaan gula darah / medical check up
3. Kuratif
Serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk mengendalikan penyakit,
contohnya pemberian insulin, perawatan ulkus
4. Rehabilitatif
Usaha untuk mengembalikan penderita ke dalam masyarakat, sehingga ia dapat
kembali menjalankan perannya sebagai masyarakat, contohnya senam kaki DM
H. Peran Perawat Diabetes
1. Pemberi asuhan / praktisi
Peran perawat dalam memenuhi kebutuhan dasar pasien dengan pendekatan proses
keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan dilakukan dari yang sederhana sampai
dengan kompleks.
2. Pendidik / Edukator
Peran dalam membantu pasien untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan
melalui pendidikan kesehatan atau edukasi kepada pasien
3. Advokat
Peran didalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain yg berkaitan dengan
pengambilan keputusan (persetujuan), serta melindungi hak – hak pasien.
4. Koordinator
Peran dalam mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan
sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah sesuai kebutuhan pasien.
5. Kolaborator
Peran dalam bekerjasama dengan tim kesehatan lain untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan pasien
6. Konsultan
Peran sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang
tepat untuk pasien.

I. Data Hasil Riskesdas Tahun 2018


Berikut ini adalah data hasil riskesdas tahun 2018 terkait penyakit tidak menular diabetes
melitus di Indonesia :
Penyakit diabetes merupakan salah satu penyakit mematikan terbukti pada tahun 2012
angka kematian akibat penyakit ini sebesar 1,5 juta jiwa di seluruh dunia. Berdasarkan data
dari badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2014 terdapat 422 juta orang dewasa hidup
dengan diabetes melitus. Prevalensi diabetes melitus pada populasi dewasa meningkat dari
4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2018. Data membuktikan bahwa diabetes
melitus terus meningkat prevalensinya di beberapa negara berpenghasilan rendah lebih cepat
dibandingkan pada negara berpenghasilan tinggi.
Prevalensi penderita diabetes melitus usia di atas 15 tahun periode 2013 s/d 2018
NO PROVINSI PREVALENSI 2013 PREVALENSI 2018
1. DKI Jakarta 2,5% 3,4%
2. DI Yogyakarta 2,6% 3,1%
3 Kalimantan Timur 2,4% 3,1%
4. Sulawesi Utara 2,3% 3,0%
5. Jawa Timur 2,1% 2,6%

Prevalensi penderita diabetes berdasarkan usia, jenis kelamin, dan domisisli tahun 2018
NO USIA PREVALENSI
1. Di atas 75 tahun 3,30%
2. 65 tahun s/d 74 tahun 6,03%
3. 55 tahun s/d 64 tahun 6,30%
4. 45 tahun s/d 54 tahun 3,90%
5. 35 tahun s/d 44 tahun 1,10%
6. 25 tahun s/d 34 tahun 0,20%

NO JENIS KELAMIN PREVALENSI


1. Laki-Laki 1,2%
2. Perempuan 1,8%

NO DOMISILI PREVALENSI
1. Pedesaan 1,0%
2. Perkotaan 1,9%

Prevalensi penderita diabetes melitus berdasarkan status pendidikan tahun 2018


NO STATUS PENDIDIKAN PREVALENSI
1. Tidak sekolah dan belum sekolah 1,6%
2. Tidak tamat SD 1,4%
3. Tamat SD 1,8%
4. Tamat SMP 1,4%
5. Tamat SMA 1,6%
6. Tamat DI/DII/DIII/DIV 2,8%

Prevalensi penderita diabetes melitus berdasarkan status pekerjaan tahun 2018


NO STATUS PEKERJAAN PREVALENSI
1. ASN/TNI/POLRI/BUMN/BUMD 4,2%
2. Tidakkerja 2,9%
3. Lainnya 2,6%
4. Wiraswasta 2,6%
5. Nelayan 1,3%
6. Petani 1,2%
7. Buruh/Supir/Asisten Rumah Tangga 1,1%
8. Pegawai Swasta 1,1%
9. Siswa/Mahasiswa 0,1%