Anda di halaman 1dari 11

Aswaja Dalam aqidah dan seputar bid’ah

• KELOMPOK
• Arsyad Danial Haq
• [103190002]
• M. Hamzah Fansuri
• [103190001]
• M. Sandria
• [103190030]
Aqidah Aswaja
• Pada zaman rasullulah SAW masih ada perbedaan perbedaan pendapat
diantara kaum muslimin(sahabat)langsung dapat diselesaikan dengan kata
akhir dari kanjeng Nabi Muhammad. Tetapi setelah beliau wafat,
penyelesaian semacam itu tidak ditemukan. Perbedaan sering mengendap
lalu muncul lagi sebagai pertentangan permusuhan diantara mereka.
Sesungguhnya pada mulanya, persengketa akibat pertentangan imamah,
bukan persoalan aqidah. Dari situ mulai merambah kedalam wilayah agama.
Terutama seputar hokum seorang muslim yang berbuat dosa besar dan
bagai mana statusnya ketika mati apakah tetap mukmin atau kafir.
• Pembicaraan tentang aqidah masa berikutnya meluas pada persoalan Tuhan
dan manusia. Ditengah pertentangan itu, lahir dua kelompok moderat yang
berusaha mengkompromikan keduanya. Kelompok ini kemudian dinamakan
Ahlus sunnah wa al jama’ah(aswaja). Dua kelompok itu adalah Asy’ariah yang
didirikan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’AriH(lahir di Basrah, 260 H/873 M.
wafat di Baghdad 324 H/935 M) dan Maturidiyah yang didirikan oleh Imam
Abu Mansur al- Maturidi (lahir di Maturid Samarkand, wafat 333H).
Dua Kelompok ASWAJA
• Konsep Aqidah Asy’ariyah
Aqidah Asy’riyah merupakan jalan tengah(tawasuth) diantara kelompok –kelompok
keagaman yang berkambang pada masa itu. Yaitu kelompok Jabariyah dan Qadariyah
yang dikembangkan oleh Mu’tazilah. Kelompok Jabariyah berpendapat bahwa seluruh
perbuatan manusia, diciptakan oleh Allah dan manusia tidak memiliki peranan apa pun.
sedangkan kolompok Qadariyah memandang bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh
manusia itu sendiri terlepas dari Allah. Dengan begitu, bagi Jabariah kekuasaan Allah
adalah mutlak dan bagi Qadariyah kekuasaan Allah adalah terbatas.
Sikap tawasuthditunjukan oleh Asy’ariyah dengan konsepal –kasb(upaya). Menurut
Asy’ari, perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia memiliki peranan
dalam perbuatannya. Kash juga memiliki makna keaktifan dan bahwa manusia
bertanggu jawab atas perbuatannya.
Dengan konsep kash tersebut, aqidah Asy’ariyah menjadikan manusia selalu berusaha
secara kreatif dalam kehidupannya, akan tetapi tidak melupakan bahwa Tuhan lah yang
menentukan semuanya.
• Sikap tasammuh (toleransi) ditunjukan oleh Asy’ariyah dengan
antara lain ditunjukan dalam konsep kekuasaan mutlak Tuhan. Bagi
Mu’tazilah, Tuhan wajib berlaku adil dalan memperlakukan makhluk
Nya. Tuhan wajib memasukan orang baik kedalam surga dan
memasukan orang jahat kedalam neraka. Hal ini ditolak oleh Asy.
ariyah. alasanya kewajiban telah terjadi pembatasan terhadap
kekuasaan Tuhan, padahal tuhan memiliki kekuasaan mutlak, tidak
ada yang bisa membatasi kehendak dan kekuasan Tuhan. Meskipun
dalam al-Quran Allah berjanji akan memasukan orang yang baik
dalam surga dan orang yang jahat kedalam neraka, namun tidak
berarti kekuasaan Allah terbatasi. Segala keputusan tetap ada pada
kekuasaan Allah.
• Jika dalam pahan Mu’tazilah posisi akal di atas wahyu, Asy’ariyah
berpendapat wahyu di atas akal. Meskipun wahyu di atas akal,
namun akal tetap diperlukan dalam memahami wahyu.
• Konsep Aqidah Maturidiyah

Pada prinsipnya, aqidah Maturidiyah memiliki keselarasan dengan aqidah


Asy’ariyah. Yang sedikit membedakan keduanya, bahwa Asy’ariyah fiqhnya
menggunakan mzhab Imam Syafi’I dan Imam Maliki, sedangkan Maturidiyah
menggunakan mazhab Imam Hanafi.
Sikap tawasyuth yang ditunjukan oleh Maturidiyah adalah upaya perdamaian antara
al naqli dan al’aqli(nas dan akal). Menggunakan ‘aql sama pentingnya dengan
menggunakan naqli. Sebab akal yang dimiliki oleh manusia juga berasal dari Allah,
karena itu dalam al Quran Allah memperintahkan umat islam untuk menggunakan
akal dalam memahami tanda-tanda (al-ayat) kekuasaan Allah yang terdapat di
alam raya ini.
Dengan begitu manusia yang dikehendaki adalah manusia yang selalu kreatif,
tetapi kreatifitasi itu tidak menjadikan makhuk sombong karena merasa mampu
menciptakan dan mewujudkan. Tetapi manusia yang kreatif dan pandai bersyukur.
Karena kemampuannya melakukan sesuatu tetap dalam ciptaan Allah.
Pengertian Bid’ah
•           Kata bid’ah berasal dari kata bada’ah. Kata ini memiliki
pengertian. “membuat sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada
sebelumnya.Bid’ah secara bahasa semua perkara baru yang belum
pernah ada sebelumnya.Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah
segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada
zaman Nabi SAW. Jadi dapat disimpulkan bahwa bid’ah adalah
sesuatu perkara baru yang belum ada sebelumnya yang diadakn
oleh ulama yang belum ada sumbernya dari hadis dan alqur’an.
Pengertian tersebut di atas didapati pada antara lain
Macam-macam Bid’ah
•    1. Bid’ah hasanah
 Yaitu : Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak
bertentangan dengan Al Qur'an, Sunnah, pendapat sahabat
atau Ijma
Contohnya sholat tarawih , pengumpulan mushaf
•    2. Bid’ah dhalalah
Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur'an,
Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk
bid'ah yang sesat.
Pendapat ulama mengenai amalan yang
tidak ada contoh sebelumnya dari Nabi SAW
• 1. Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada dua macam sebagaimana
pernyataan beliau :
“Setiap perbuatan yang diadakan kemudian dan menyalahi kitab, sunnah, ijmak
dan atsar adalah bid’ah yang sesat dan setiap perbuatan yang baik diadakan
kemudian, tidak menyalahi sesuatupun dari demikian adalah bid’ah terpuji

• 2. Ibnu Mulaqqan mengatakan :


“Bid’ah adalah mengada-adakan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Maka
yang menyalahi sunnah adalah bid’ah dhalalah dan yang sepakat dengan
sunnah adalah bid’ah al-hudaa (terpetunjuk/benar.
•  3. Syaikh Abu Muhammad bin Abdussalam dalam Kitabnya, al-Qawa’id
membagi bid’ah dalam lima pembagian, yaitu : wajib, haram, makruh,
mustahabbah dan mubah. Sayyed ad-Dimyathi setelah mengutip
pernyataan Ibnu Abdussalam di atas, memberikan contoh-contoh bid’ah,
yaitu sebagai berikut : contoh wajib : membukukan al-Qur’an dan syari’at
apabila dikuatirkan hilang, contoh haram : bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh
orang-orang dhalim seperti memungut pajak, contoh makruh : menghiasi
mesjid dan mengkhususkan ibadah malam hanya malam Jum’at, contoh
mustahabbah : melaksanakan Shalat Tarawih dengan berjama’ah,
membangun perkumpulan dan madrasah-madrasah dan contoh mubah :
berjabatan tangan setelah Shalat Subuh dan Ashar
• 4. Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan :
“Yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW, “setiap bid’ah adalah sesat” adalah
sesuatu yang diada-adakan dan tidak ada dalil secara khusus atau umum dari
syara’.”[52]
• 5. Menurut Sayyed Alwi bin Ahmad As-Saqaf
, setiap perkataan atau perbuatan ataupun keadaan yang tidak dukung oleh dalil syari’at yang
sah adalah bid’ah yang tertolak. Pelakunya adalah orang yang tertipu, maksudnya adalah
bid’ah menurut syara’ sebagaimana disebutkan dalam al-Fatawa al-Haditsah. Adapun bid’ah
menurut bahasa terbagi dalam hukum yang lima, yaitu :
a. wajib kifayah seperti belajar ilmu Arabiyah yang tergantung padanya pemahaman kitab
dan sunnah seperti Nahu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, loghat, tidak termasuk ‘Arudh dan Qawafii
dan lainnya.
b. haram seperti semua sikap ahli bid’ah yang berselisih dengan Ahlussunnah wal Jama’ah
c. sunat seperti setiap kebaikan yang tidak dikenal pada zaman awal dan seperti
pembahasan yang mendalam dalam Tasauf.
d. makruh seperti menghiasi mesjid dan menghiasi mashaf
e. mubah seperti berlapang-lapang pada melezatkan makanan dan minuman.[53]
Sayyed Alwi bin Ahmad As-Saqaf sebagaimana uraian di atas, meskipun berpendapat bahwa
bid’ah menurut syara’ hanya terbatas bid’ah dhalalah, namun beliau tetap mengakui bahwa
perbuatan yang tidak ada contoh dari Nabi SAW terbagi sesuai dengan hukum syara’, yaitu
wajib, mubah, haram, sunnah dan makruh. Bid’ah yang terbagi lima ini menurut Sayyed Alwi
bin Ahmad As-Saqaf adalah bid’ah menurut bahasa. Penjelasan Sayyed Alwi bin Ahmad As-
Saqaf ini pada hakikatnya juga mengakui adanya pembagian bid’ah kepada bid’ah dhalalah
dan bid’ah hasanah.
SEKIAN
&
TERIMA KASIH