Anda di halaman 1dari 69

KATA PENGANTAR

ُ‫ال َّسالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكاتُه‬


ِ ‫صالَةُ َوال َّسالَ ُم َعلَى أَ ْش َر‬
‫ف‬ َّ ‫ َوال‬، َ‫اَ ْل َح ْم ُد ِهللِ َربِّ ْال َعالَ ِم ْين‬
‫ْاألَ ْنبِيَا ِء َو ْال ُمرْ َسلِ ْينَ َسيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َو َعلَى اَلِ ِه َواَصْ َحبِ ِه‬
. َ‫أَجْ َم ِع ْين‬
Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan
Maha Melihat hamba-hambanya. Alhamdulillah karena
berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan buku ulumul Qur’an  ini. Adapun maksud
dan tujuan saya disini yaitu  menyajikan beberapa hal
yang menjadi materi dari buku Saya yang berjudul.
“Artiekel Ulumul Qur’an”. Buku ini menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti untuk para pembacanya.
Saya menyadari bahwa didalam buku saya ini masih
banyak kekeurangan, saya mengharapkan kritik dan
saran demi menyempurnakan buku saya agar lebih baik
dan dapat berguna semaksimal mungkin. Akhir kata saya
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam proses penyusunan dan
penyempurnaan buku ini.
Pekanbaru, 18 November 2018

Muhammad Hanif Rizki

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................. i
DAFTAR ISI................................................................ ii
METODE TAHFIDZUL QUR'AN........................... 1
A. Pengertian Tahfidz Qur’an...................................... 1
B. Metode Tahfidzul Qur’an....................................... 4
C. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an.......................... 7
D. Etika Menghafal Al-Qur’an.................................... 11
E. Pengertian Tadabbur............................................... 14
F. Keutamaan Tadabbur Al-Quran.............................. 18
G. Adab Membaca Al-Quran....................................... 21
KESIMPULAN
AL MUNASABAT DAN URGENSINYA DALAM
MEMAHAMI AL QUR’AN....................................... 26
A. Pengertian Munasabah............................................ 26
B. Sejarah Ilmu Munasabah......................................... 27
C. Macam-Macam Munasabah.................................... 28
D. Urgensi dan Manfaat Ilmu Munasabah................... 42
KESIMPULAN
NIKMAT ALLAH DAN CARA MENSYUKURINYA
....................................................................................... 48
A. Kajian Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya....................................................... 48
B. Ayat al-Qur’an Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya....................................................... 49
C. Hadits Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya....................................................... 60

ii
D. Cara Mensyukuri Nikmat Allah Ta’ala...................62
DAFTAR PUSTAKA

iii
METODE TAHFIDZUL QUR'AN
A. Pengertian Tahfidz Qur’an
1. Pengertian Tahfidz
Tahfidz Qur’an terdiri dari dua suku kata, yaitu Tahfidz
dan Qur’an, yang mana keduanya mempunyai arti yang
berbeda. Yaitu tahfidz yang berarti menghafal.
Menghafal dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab
hafidza-yahfadzu-hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu
selalu ingat dan sedikit lupa.
Sedangkan menurut Abdul Aziz Abdul Rauf definisi
menghafal adalah “proses mengulang sesuatu baik
dengan membaca atau mendengar. ” Pekerjaan apapun
jika sering diulang, pasti menjadi hafal.
Seseorang yang telah hafal Al-Qur’an secara keseluruhan
di luar kepala, bisa disebut dengan juma’ dan huffazhul
Qur’an. Pengumpulan Al-Qur’an dengan cara menghafal
(Hifzhuhu) ini dilakukan pada masa awal penyiaran
agama Islam, karena Al-Qur’an pada waktu itu
diturunkan melalui metode pendengaran. Pelestarian Al-
Qur’an melalui hafalan ini sangat tepat dan dapat
dipertanggung jawabkan.
Allah berfirman QS. Al A’raaf 158 :

1
‫قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي َرسُو ُل هَّللا ِ إِلَ ْي ُك ْم َج ِميعًا الَّ ِذي‬
‫ض ۖ اَل إِ ٰلَهَ إِاَّل هُ َو يُحْ يِي‬ ِ ْ‫ت َواأْل َر‬ ِ ‫اوا‬ َ ‫ك ال َّس َم‬ ُ ‫لَهُ ُم ْل‬
‫يت ۖ فَآ ِمنُوا بِاهَّلل ِ َو َرسُولِ ِه النَّبِ ِّي اأْل ُ ِّم ِّي الَّ ِذي‬ ُ ‫َويُ ِم‬
)158( ‫ون‬ َ ‫ي ُْؤ ِم ُن بِاهَّلل ِ َو َكلِ َماتِ ِه َواتَّبِعُوهُ لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْهتَ ُد‬
Artinya : “Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku
adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang
mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan
dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya)
dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".
Rasulullah amat menyukai wahyu, Ia senantiasa
menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu
menghafal dan memahaminya, persis seperti dijanjikan
Allah.
Allah berfirman QS. Al-Qiyamah 17:

)17( ُ‫إِ َّن َعلَ ْينَا َج ْم َعهُ َوقُرْ آنَه‬

2
Artinya :”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya.”
Oleh sebab itu, Ia adalah hafidz (penghafal) Qur’an
pertama merupakan contoh paling baik bagi para sahabat
dalam menghafalnya. Setiap kali sebuah ayat turun,
dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab
bangsa arab secara kodrati memang mempunyai daya
hafal yang kuat. Hal itu karena dilakukan dengan catatan
hati mereka. umumnya mereka buta huruf, sehingga
dalam penulisan berita-berita, syair-syair dan silsilah
mereka dilakukan dengan catatan hati mereka.
2. Pengertian Qur’an
Al-Qur’an ialah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT
kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat dan
petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya,
menurut harfiah, Qur’an itu berarti bacaan.
Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an adalah
kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW. sebagai mukjizat yang tertulis dalam lembaran-
lembaran, yang diriwayatkan secara mutawattir, dan
membacanya merupakan ibadah.
QS. Al-Qiyamah:17-18 :

3
)17( ُ‫إِ َّن َعلَ ْينَا َج ْم َعهُ َوقُرْ آنَه‬
Artinya : ”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya.”

)18( ُ‫فَإِ َذا قَ َر ْأنَاهُ فَاتَّبِ ْع قُرْ آنَه‬


Artinya :”Apabila Kami telah selesai membacakannya
maka ikutilah bacaannya itu.”
Setelah melihat pengertian tahfidz/menghafal dan Al-
Qur’an diatas dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-
Qur’an adalah suatu proses untuk memelihara, menjaga
dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan
kepada Rasulullah Saw.

B. Metode Tahfidzul Qur’an


Metode yaitu cara teratur yang digunakan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai dan sesuai
dengan yang dikehendaki. Setiap aktivitas memiliki
metode yang berbeda. Metode tersebut memiliki plus
minus, namun perlu diketahui bahwa metode hanya
sekadar tawaran cara. Tahfidzul Qur’an atau menghafal
Al-Qur’an juga mempunyai metode tersendiri. Metode
hanyalah tawaran jalan, maka bagi yang tidak cocok

4
dengan satu metode, jangan sampai hal tersebut
menghambat pengahafal untuk mencapai satu tujuan.
Cara dalam tahfidzul qurt’an atau mengahafal Al-Qur’an.
Diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Metode Wahdah
Metode Wahdah yaitu menghafal satu persatu
terhadap ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai
hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh
kali atau dua puluh kali, atau lebih sehingga proses ini
mampu membentuk pola dalam bayangannya. Dengan
demikian, penghafal akan mampu mengondisikan ayat-
ayat yang dihafalkannya. Bukan saja dalam
bayangannya, akan tetapi hingga benar-benar
membentuk gerak refleksi pada lisannya.
2. Metode Kitabah
Kitabah artinya menulis. Metode ini memberikan
alternatif lain daripada metode yang pertama. Pada
metode ini, penulis terlebih dahulu menulis ayat-ayat
yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah ia
sediakan. Kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya
sehingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkannya.
Kelebuhan dari metode ini adalah cukup praktis dan
baik, karena disamping membaca dengan lisan, aspek
visual menulis juga akan sangat membantu dalam
mempercepat terbentuknya pola hafalan dalam

5
bayangannya. Dan sekaligus melatih penghafal untuk
meniulis tulisan Arab.
3. Metode Sima’i
Sima’i artinya mendengar. Yang dimaksud dengan
metode ini ialah mendengarkan suatu bacaan Al-Qur’an
untuk dihafalkannya. Metode ini sangat efektif bagi
penghafal yang memiliki daya ingat ekstra, terutama
bagian penghafal tuna netra, atau anak-anak yang masih
dibawah umur yang belum mengenal tulisan dan bacaan
Al-Qur’an
4. Metode gabungan
Metode ini merupakan gabungan antara metode
pertama, dan metode kedua, yakni metode wahdah dan
metode kitabah. Hanya saja kitabah di sini lebih
memiliki fungsional sebagai uji coba terhadap ayat yang
sudah dihafalnya. Maka dalam hal ini, setelah penghafal
selesai menghafal ayat yang dihafalkannya, kemudian ia
mencoba menulisnya di atas kertas yang disediakan
untuknya dengan hafalan pula.
5. Metode Jama’i
Metode jama’I artinya metode ini cara menghafal
yang dilakukan secara bersama-sama dipimpin oleh
seorang instruktur/pembimbing. Adapun caramya yaitu:
Pertama, pembimbing membaca satu ayat atau
beberapa ayat dan siswa menirukan secara brsama-sama.
6
Kemudian pembimbingnya dengan mengulang kembali
ayat-ayat tersebut dan penghafal mengikutinya.
Kedua, setelah ayat-ayat itu dapat mereka baca
dengan baik dan benar, selanjutnya mereka mengikuti
bacaan pembimbing dengan sedikit demi sedikit
mencoba melepaskan mushaf, demikian seterusnya
sampai ayat-ayat itu benar-benar hafal.
Pada prinsipnya semua metode di atas baik sekali
untuk dijadikan pedoman menghafal Al-Qur’an, baik
salah satu di antaranya, atau dipakai semuanya sesuai
dengan kebutuhan dan sebagai alternatif daripada cara
menghafal yang terkesan monoton. Sehingga dengan
demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses
menghafal Al-Qur’an.

C. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an


Banyak hadis Rasulullah saw. yang mendorong untuk
menghafal Al-Qur’an atau membacanya diluar kepala,
sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari
suatu bagian dar kitab Allah SWT.
Sebagaimana hadis Rasulallah saw. yang berbunyi:

7
‫ان الذي ليس في جوفه شيء من القران كا البيت‬
œ‫الخرب‬
“Orang yang tidak mempunyai hafalan al-Qur’an
sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau
runtuh.”
Adapun keutamaan-keutamaan menghafal Al-Qur’an
adalah sebagai berikut:
1. Penghafal Al-Qur’an akan Memakai Mahkota
Kehormatan
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: :
“Penghafal Al Qur’an akan datang pada hari kiamat,
kemudian Al Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku,
bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota
karamah (kehormatan).”
2. Dapat membahagiakan kedua orang tua serta
memperoleh pahala khusus
Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca Al
Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka
dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat,
cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya
dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah
didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami
dipakaikan jubah ini: dijawab: “Karena kalian berdua

8
memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al
Qur’an
3. Akan menempati Tingkatan yang Tinggi di Surga
Allah
Dari Anas r.a Ia berkata bahawa Rasulullah saw
bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga
yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi,
lalu Rasulullah saw bertanya: “Siapakah mereka itu
wahai Rasulullah.” Baginda menjawab: “Ia itu ahli
Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Al- Qur’an
dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah
dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.
4. Menjadi Orang yang Arif di Surga Allah
Dari Anas r.a Bahawasanya Rasulullah Shallallahu
saw bersabda; “Para pembaca Al Qur’an itu adalah
orang-orang yang arif di antara penghuni surga,”
5. Hatinya Terbebas dari Siksa Allah
Dari Abdullah Bin Mas’ud r.a Dari Nabi
Muhammad saw Baginda bersabda: “Bacalah Al Qur’an
kerana Allah tidak akan menyiksa hati orang yang hafal
Al Qur’an. Sesungguhanya Al Qur’an ini adalah
hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan
aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Qur’an maka
hendaklah ia bergembira.”
6. Mereka Lebih Berhak Menjadi Imam Salat
9
Dari Ibnu Mas’ud r.a Dari Rasulullah saw beliau
bersabda; “Yang menjadi imam dalam solat suatu kaum
hendaknya yang paling pandai membaca (hafalan) Al
Qur’an.”
7. Dapat memberi Syafa’at Kepada Keluarga
Dari Ali Bin Abi Thalib k.w: “Barang siapa
membaca Al Qur’an dan menghafalnya, maka Allah akan
memasukkannya kedalam surga dan memberikannya hak
syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana
mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka.”
8. Merupakan Bekal yang Terbaik
Dari Jabir bin Nufair, katanya Rasulullah saw
bersabda; “Sesungguhnya kamu tidak akan kembali
menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling
baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al
Qur’an.”
9. Hafidz Al-Qur’an Adalah Keluarga Allah yang
Berada di Bumi
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara
manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka
wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Para ahli Al-
Qur’an. Mereka lah keluarga Allah dan pilihan-
pilihanNya.” (H.R. Ahmad)
10. Menghormati Penghafal Al-Qur’an berarti
Mengagungkan Allah
10
“Sesungguhnya termasuk megagungkan Allah
menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al-
Qur’an yang tidak melampau batas (di dalam
mengamalkan dan memahaminya) dan tidak
menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya),
dan penguasa yang adil. (H.R. Abu Daud)

D. Etika Menghafal Al-Qur’an


Etika ini perlu ini perlu diperhatikan. Mengingat
bahwasannya orang yang sedang membaca ataupun
menghafal Al-Qur’an ibarat berdialog dengan Allah, zat
yang maha tinggi. Dalam kitab Al-Tibyan fi Adab
Hamalat Al-Qur’an karya Imam Nawawi ada beberapa
poin penting menegenai etika menghafal Al-Qur’an yaitu
sebagai berikut :
1. Usahakan Selalu Suci
Disunnahkan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an
untuk selalu dalam keadaan suci. Maka mereka yang
sedang menghafalkannya dalam keadaan hadats (tidak
suci) berarti telah kehilangan keutamaannya, bahkan
makruh menurut Imam Haramin. Sedangkan orang yang
junub dan sedang haid diharamkan baginya memegang
dan membaca Al-Qur’an, baik satu ayat atau
setengahnya. Tetapi diperbolehkan baginya mengulang
hafalannya atau membaca dalam hati tanpa
melafalkannya.
11
Tidak ada larangan bagi orang yang junub atau haid
untuk melafalkan ayat Al-Qur’an selama itu
dimaksudkan tidak membaca AL-Qur’an. Seperti halnya
membaca “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” ketika
sedang ada musibah. Sebagaimana diperbolehkan
melafalkan ayat Al-Qur’an di dalam hati selama
dimaksudkan untuk berdzikir (mengingat). Terlebih, bagi
penghafal Al-Qur’an yang memiliki tanggungan.
2. Menghadap Kiblat
Alangkah eloknya jika orang membaca atau
sedang menghafal Al-Qur’an dengan menghadap kiblat,
yang mana itu merupakan kesunnahan.
Rasulallah saw. bersabda :

‫اكرم المجالس ما استقبل به القبلة‬


“Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”
(H.R. Hakim dan Thabrani)
Tentu saja menghafal Al-Qur’an dengan menghadap
kiblat harus disertai dengan rasa khusyuk., tenang, seraya
duduk memantaskan diri, tunduk, dan menjaga tata
krama meskipun sendirian. Seolah-olah dia sedang
berada di depan gurunya, orang yang mengajarnya.
Itulah adab uang paling utama, meskipun tidak ada
larangan membaca Al-Qur’an dengan cara berdiri, tidur-
tiduran atau dalam keadaan lainnya.

12
3. Memulai dengan Ta’awudz dan Basmalah
Allah SWT menyunnahkan membaca ta’awudz setiap
hendak membaca Al-Qur’an. Ini berdasarkan firman
Allah:

‫فاذا قراءت القران فاستعذ باهلل من الشيطان‬


“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu
meminta perlindungan kepada Allah dari setan yabg
terkutuk.”
Sebagaimana ulama salaf berpendapat bahwa
pembacaan ta’awudz ini dilakukan setelah selesai
membaca Al-Qur’an. Akan tetapi mayoritas ulama
berpendapat bahwa ta’awudz dibaca ketika hendak
membaca Al-Qur’an.
Selain ta’awudz, hendaknya orang yang membaca
atau sedang menghafal Al-Qur’an juga membaca
basmalah di setiap awal surat kecuali surat Baro’ah (At-
taubah). Mayoritas ulama berpendapat bahwa basmalah
merupakan bagian dari ayat Al-Qur’an. Karenanya, jika
ia tidak membacanya berarti telah meninggalkan
sebagian ayat Al-Qur’an.
4. Menartilkan Bacaan Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an dengan tartil merupakan
anjuran bagi siapa saja. Rasulullah saw., sendiri,
13
sebagaimana diungkapkan oleh oleh Ummu Salamah,
setiap membaca Al-Qur’an, beliau membacanya secara
jelas huruf demi huruf (tartil). Salah seorang sahabat,
Ibnu Abbas r.a berkata: “membaca satu surat secara tartil
lebih aku sukai daripada membaca satu Al-Qur’an penuh
(tanpa tartil).
Para ulama’ berpandangan bahwa melafalkan Al-
Qur’an secara tartil akan memudahkannya dalam
mentadabburinya. Si penghafal dapat menghadirkan
dirinya dan merenungi kandungannya. Ketika melafalkan
ayat-ayat rahmat ia akan berdoa untuk meraihnya, dan
ketika melafalkan ayat-ayat azab ia akan berlindung
darinya. Kalaupun si penghafal tidak mengetahui maksud
kandungannya, itu menjadi sebuah penghormatan
darinya atas Al-Qur’an.
Lebih dari itu, melafalkan Al-Qur’an secara tartil
akan menjadikan ayat-ayat yang dibaca membekas dan
menempel dalam ingatan dam hati. Sehingga
memudahkan bagi orang yang menghafalkannya. Selain
itu dengan seringnya membaca secara tartil, tanpa
disadari akan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.
Maka sebisa mungkin bagi para pengahafal Al-Qur’an
agar membacanya dengan tartil.
E. Pengertian Tadabbur
Tadabbur adalah salah satu cara untuk memahami Al-
Qur’an. Kitab-kitab Tafsir yang kita kenal dan kita baca

14
sekarang adalah hasil usaha yang optimal dari para ulama
dalam mentadabburi dan memahami Aquran.
Tadabbur menurut bahasa berasal dari kata ‫ دبــر‬yang
berarti menghadap, kebalikan membelakangi. Tadabbur
menurut ahli bahasa Arab adalah ‫ الـتـفـ ّكـر‬memikirkan.
Maka, tadabbur bisa berarti memikirkan akibat dari
sesuatu atau memikirkan maksud akhir dari sesuatu.
Sedangkan, tadabbur menurut istilah adalah “penelaahan
universal yang bisa mengantarkan kepada pemahaman
optimal dari maksud suatu perkataan “.
Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh yang
menghubungkan kepada maksud sebuah ungkapan dan
makna-makna yang mendalam .
DenganTadabbur maka seluruh isi Al Quran itu bisa
memberikan pengaruh, memberikan kesan di setiap
waktu dan kondisi apapun selama allah menghendaki hal
tersebut.
Ibnu Taimiyah berkata : ” Barangsiapa yang tadabur al
Quran untuk mendapatkan petunjuk dariNya maka jalan
kebenaran akan menjadi jelas baginya ”)
Al Qurthubi berkata : ” Apabila seorang hamba
mendengarkan ayat-ayat Kitabullah dan sunnah Nabi
dengan niat yang benar sesuai dengan yang diridhai oleh
Allah, maka Allah akan memahamkannya sebagaimana
lazimnya dan menjaduikan dalam hatinya cahaya ”

15
Ibnu Masud : ” Sesungguhnya al Quran itu adalah
perjamuan Allah, makaa ambillah semampu
kalian….sesungguhnya hati yang tidak ada sedikitp[un al
Quran adalah hati yang rusak seperti rusaknya rumah
yang tidak berpenghuni
Ibnu masud juga berkata : ” Sesungguhnya hati ini ibarat
wadah, maka isilah ia dengan Al Quran dan jangan isi
dengan yang lain
Ibnu Abbas : Saya membaca surah al baqarah, surah Ali
Imran, dengan mentadabbur ayat-ayatnya lebih baik
daripada aku membaca sampai khatam tanpa
mentadabbur ayat-ayatnya
Tadabbur (penelaahan) Al-Qur’an diperintahkan oleh
Allah swt dan ini adalah salah satu cara berinteraksi
(ta’amul) dengan Al-Qur’an. Allah berfirman pada surat
As Shaad : 29 :

‫ك لِيَ َّدبَّرُوا آيَاتِ ِه َولِيَتَ َذ َّك َر‬


ٌ ‫ار‬ َ ‫ِكتَابٌ أَ ْن َز ْلنَاهُ إِلَ ْي‬
َ َ‫ك ُمب‬
)29( ‫ب‬ ِ ‫أُولُو اأْل َ ْلبَا‬

Artinya :”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan


kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”
16
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah
menurunkan Alquran kepada Rasulullah dan pengikut-
pengikutnya. Alquran itu adalah kitab yang sempurna
mengandung bimbingan yang sangat bermanfaat kepada
umat manusia. Bimbingan itu menuntun agar hidup
sejahtera di dunia dan berbahagia di akhirat. Dengan
merenungkan isinya, manusia akan menemukan cara-
cara mengatur kemaslahatan hidup di dunia. Tamsil
ibarat dan kisah dari umat terdahulu menjadi pelajaran
dalam menempuh tujuan hidup mereka dan menjauhi
rintangan dan hambatan yang menghalangi. Alquran itu
diturunkan dengan maksud agar direnungkan kandungan
isinya, kemudian dipahami dengan pengertian yang
benar, lalu diamalkan sebagaimana mestinya. Pengertian
yang benar diperoleh dengan jalan mengikuti petunjuk-
petunjuk Rasul, dengan dibantu oleh Ilmu Pengetahuan
yang dimiliki, baik yang berhubungan dengan bahasa
ataupun yang berhubung dengan perkembangan
kemasyarakatan. Begitu pula dalam mendalami petunjuk-
petunjuk yang terdapat dalam kitab itu, hendaknya
dilandasi tuntunan Rasul serta berusaha berpengalaman
dengan ilmu pengetahuan hasil pengalaman dan
pemikiran mereka.
Untuk memberikan pengertian yang lebih terperinci
mengenai pengertian ayat ini baik kiranya dikemukakan
pendapat Hasan Basry.

17
“Banyak hamba Allah dan anak-anak yang tidak
mengerti makna Alquran, walaupun telah membacanya
di luar kepala. Mereka ini hafal betul hingga tak satupun
huruf yang ketinggalan. Mereka mengabaikan ketentuan-
ketentuan Alquran itu hingga salah seorang di antara
mereka mengatakan. “Demi Allah saya telah membaca
Alquran, hingga tak satu hurufpun yang kulewatkan.”
Sebenarnyalah orang demikian itu telah melewatkan
Alquran seluruhnya, karena pengaruh Alquran tak
tampak pada diri orang itu, baik pada budi pekertinya
maupun pada perbuatannya. Demi Allah apa gunanya ia
menghafal setiap hurufnya, selama mereka mengabaikan
ketentuan-ketentuan Allah. Mereka itu bukan ahli
hikmah dan ahli Pemberi pengajaran. Semoga Allah
tidak memperbanyak jumlah orang yang seperti itu”.
Allah berfirman pada surat Muhammad:24

)24( ‫ب أَ ْقفَالُهَا‬
ٍ ‫آن أَ ْم َعلَ ٰى قُلُو‬
َ ْ‫ُون ْالقُر‬
َ ‫أَفَاَل يَتَ َدبَّر‬

Artinya :”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al


Quran ataukah hati mereka terkunci?”
F. Keutamaan Tadabbur Al-Quran
1. Memperoleh Pahala Berlipat Ganda

18
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf
dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Sedangkan
kebaikan dibalas dengan sepuluh kali kelipatannya. Aku
tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi
Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”
(HR At-Tirmidzi)
2. Bersanding dengan Malaikat yang Mulia
Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Orang yang mahir dalam Al-Qur’an bersama-sama
dengan Malaikat yang mulia lagi baik. Sedangkan orang
yang membaca Al-Qur’an dengan gagap dan dia
kesulitan dalam membacanya, dia mendapat dua pahala.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3. Memperoleh Syafaat dari Al-Qur`an
Abu Umamah Al-Bahili berkata, “Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Bacalah Al-Qur`an. Karena
pada Hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat bagi
pembacanya.” (HR. Muslim)
4. Al-Qur`an adalah Hidangan Allah
Abdullah bin Mas’ud mengatakan, Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya
Al-Qur`an adalah hidangan Allah. Maka terimalah
hidangan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al-
Qur’an adalah tali Allah yang kuat, cahaya yang

19
menerangi, obat yang bermanfa’at, menjaga orang yang
berpegang kepadanya dan menyelamatkan orang yang
mengikutinya. Ia (al-Qur’an) tidak melenceng sehingga
di caci maki, tidak bengkok sehingga diluruskan, tidak
akan pernah habis keajaibannya, tidak rusak dikarenakan
oleh banyaknya bantahan, sesungguhnya Allah akan
mengganjar kalian karena telah membacanya. Setiap
huruf adalah sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan
Alif Lam Mim adalah satu huruf, akan tetapi (masing-
masing) Alif, Lam, dan Mim (adalah satu huruf).” (HR
Al-Hakim)
5. Menuntun Jalan Menuju Surga
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Al-
Qur`an akan menjadi sesuatu yang memberi syafaat dan
syafaatnya diterima. Menjadi pejalan dan membenarkan.
Barangsiapa yang meletakkan Al-Qur`an di hadapannya,
maka Al-Qur`an akan menuntunnya ke surga; Dan
barangsiapa yang meletakkan Al-Qur`an di belakang
punggungnya, maka Al-Qur`an akan menggiringnya ke
dalam neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
6. Menjadi Tombo Ati
Seorang ulama mengatakan bahwa tombo ati (obat
penyakit hati) ada lima: yaitu membaca Al-Qur`an
sekaligus mentadabburinya, shalat tahajjud, dzikir di
malam hari, perut yang lapar, dan bersahabat dengan
orang-orang saleh. Selain keutamaan di atas, dengan

20
mentradisikan membaca dan mentadabburi Al-Qur`an
akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-
nilai Al-Qur`an. Hal tersebut merupakan salah satu cara
agar kita bisa
menteladani Rasulullah saw, karena akhlak beliau
sebagaimana dikatakan oleh Sayyidah Aisyah adalah Al-
Qur`an.
G. Adab Membaca Al-Quran
Ketika membaca Al-Qur'an, maka seorang muslim
perlu memperhatikan adab-adab berikut ini
untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam
membaca Al-Qur'an:
1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk
yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur'an seseorang dianjurkan
dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia
membaca dalam keadaan terkena najis. Imam
Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur'an
dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan
hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan
sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Dianjurkan agar, membacanya dengan pelan
(tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati
ayat yang dibaca.

21
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang
membaca Al-Qur'an (khatam) kurang dari tiga hari,
berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para
penyusun kitab-kitab Sunan). Sebagian sahabat
membenci pengkhataman Al-Qur'an sehari semalam,
dengan dasar hadits di atas. Rasulullah SAW telah
memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk
mengkhatamkan Al-Qur'an setiap satu minggu
(HR.Bukhori,Muslim). Sebagaimana yang dilakukan
Abdullah bin Mas'ud, Utsman bin Affan, Zaid
bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al Qur'an
sekali dalam seminggu.
3. Membaca Al-Qur'an dengan khusyu', dengan
menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang
dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Ta'ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat
hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur
atas muka mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyu'.” (QS:Al-Isra':109). Namun demikian
tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura
menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sabda Rasulullah SAW,“ Hiasilah Al-Qur'an dengan
suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di
dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku
orang yang tidak melagukan Al-Qur'an.” (HR. Bukhari

22
dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-
Qur'an dengan susunan bacaan yang jelas dan
terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan,
tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan
seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di
luar kemampuannya.
5. Membaca Al-Qur'an dimulai dengan isti'adzah.
Allah berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan
membaca Al-Qur'an, maka mintalah perlindungan
kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang
terkutuk.” (QS.An-Nahl:98). Membaca Al-Qur'an
dengan tidak mengganggu orang yang sedang
shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara
yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang.
Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu'.
Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah bahwasanya
setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya,
maka janganlah salah satu dari kamu
menggangguyang lain, dan salah satu dari kamu tidak
boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada
saat membaca (Al-Qur'an).” (HR. Abu Dawud, Nasa'i,
Baihaqi dan Hakim). Wallohu a'lam.

23
KESIMPULAN
Pengertian Tahfidz : Tahfidz Qur’an terdiri dari dua
suku kata, yaitu Tahfidz dan Qur’an, yang mana
keduanya mempunyai arti yang berbeda. Yaitu tahfidz
yang berarti menghafal. Menghafal dari kata dasar hafal
yang dari bahasa arab hafidza-yahfadzu-hifdzan, yaitu
lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa.
Setelah melihat pengertian tahfidz/menghafal dan Al-
Qur’an diatas dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-
Qur’an adalah suatu proses untuk memelihara, menjaga
dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan
kepada Rasulullah Saw. diluar kepala agar tidak terjadi
perubahan dan pemalsuan serta dapat menjaga dari
kelupaan baik secara keseluruhan ataupun sebagiannya.
Pengertian Qur’an : Al-Qur’an ialah kitab suci yang
diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW
sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam hidup
dan kehidupannya, menurut harfiah, Qur’an itu berarti
bacaan.

24
Diantara keutamaan-keutamaan dari mengahafal Al-
Qur’an itu adalah sebagai berikut:
1. Orang yang hafal Al-Qur’an itu termasuk ke dalam
golongan orang-orang yang berilmu.
2. Hafal Al-Qur’an menjadi sumber keselamatan dunia
dan akhirat.
3. Orang yang hafal Al-Qur’an itu berada di barisan
paling depan/paling dahulu di dunia dan akhirat.
4. Orang yang hafal Al-Qur’an itu memperoleh derajat
tinggi di syurga.
5. Al-Qur’an akan memberikan syafaat di hari kiamat
bagi orang yang membaca, menghafal dan
mengamalkannya.
Pengertian Tadabbur : Tadabbur adalah salah satu cara
untuk memahami Al-Qur’an. Kitab-kitab Tafsir yang kita
kenal dan kita baca sekarang adalah hasil usaha yang
optimal dari para ulama dalam mentadabburi dan
memahami Aquran.
Keutamaan Tadabbur Al-Quran:
1. Memperoleh Pahala Berlipat Ganda
2. Bersanding dengan Malaikat yang Mulia
3. Memperoleh Syafaat dari Al-Qur`an
4. Al-Qur`an adalah Hidangan Allah
25
5. Menuntun Jalan Menuju Surga
6. Menjadi Tombo Ati
Tadabur Al-Quran adalah perenungan dan
pencermatan ayat-ayat Al-Quran untuk tujuan difahami,
diketahui makna-maknanya, hikmah-hikmahnya serta
maksudnya.
AL MUNASABAT DAN URGENSINYA DALAM
MEMAHAMI AL QUR’AN
A. Pengertian Munasabah
Munasabah berasal dari kata ‫ ُمنَا َسبَة‬، ُ‫َاسب‬ َ ‫ نا َ َس‬yang
ِ ‫ يُن‬،‫ب‬
berarti dekat, serupa, mirip, dan rapat. Kesamaan kata
munasabah dapat mengacu pada tiga kata kunci yaitu: al-
muqarabat (berdekatan), al-musyakalat (berkemiripan),
al-irtibat (bertalian). Secara istilah, munasabah berarti
pengetahuan tentang berbagai hubungan di dalam al-
Qur’an. Lebih rincinya dapat dijelaskan bahwa
munasabah adalah usaha pemikiran dalam menggali
rahasia hubungan antara ayat atau surat dalam al-Qur’an
ang dapat diterima oleh akal. Hadi Abu Bakar Ibnu
Araby mengemukakan, munasabah adalah pengetahuan
tentang segala sesuatu yang mempunyai hubungan antara
ayat yang satu dengan ayat lainnya, sehingga semuanya
menjadi seperti satu kata, yang maknanya serasi dan
susunannya teratur.

26
Sebagian ulama mengemukakan definisi munasabah
sebagai berikut :
1. Menurut Al-Zarkasyi (1998: 61) munasabah adalah

‫المـناسبة أمر معـقـو ٌل إذا ُعــِ ِرض عـلى الـمـقـول‬


‫تـلـقّــتـه بــاالـقـبـُول‬
Artinya :”Munasabah adalah satu urusan yang dapat
dipahami, apabila ia dikemukakan kepada akal, niscaya
akal akan menerimanya.”
2. Menurut Al-Qaththan (1973: 97) munasabah adalah

‫اإلرتـبــاط بـين الجـمـلـ ِة والجـمـلـ ِة فى األيـ ِة‬


ِ ُ‫وجـه‬
‫الـواحــدة أوبـين األيـة واأليــة فـي األيــة‬
.‫بــين الســورة والســـورة‬َ ‫الـمـتـعــدد ِة أو‬

Artinya :”Munasabah adalah sisi keterikatan antara


beberapa ungkapan didalam satu ayat, antara ayat pada
beberaapa ayat atau antara surat (didalam Al-Qur’an).”

B. Sejarah Ilmu Munasabah

27
Sebenarnya tidak diketahui secara pasti tahun berapa
tepatnya lahir ilmu Munasabah ini, namun dari literatur
yan ditemukan, para ahli cenderung berpendapat bahwa
kajian ini pertama kali dimunculkan oleh Al-Imam Abu
Bakr ‘Abd Allah bin Muhammad al-Naysaburi (w. 324
H) di kota Baghdad (as-Suyuthi, 1995: 243). Namun
karya besarnya itu dalam tafsir sulit ditemui.
Perhatiannya pada ilmu ini tampak ketika ia
mempertanyakan alasan dan rahasia penempatan ayat
dan surah secara kritis terhadap ulama Baghdad pada
masa itu.

Upayanya menjadikan ia dikenal sebagai pelopor


munasabah maka ia dinobatkan sebagai peletak dasar
ilmu munasabah, sebagaimana diakui oleh Syaihk Abu
al-Hasan al-Ayahrabanni seperti dikutip al-Ma’i. Hal ini
dikuatkan dari pernyataan al-Naysaburi setiap kali ia
dibacakan Al-Qur’an, “Mengapa ayat ini diletakkan di
samping ayat ini, dan apa rahasia diletakkan surat ini di
samping surat ini?” (Chirzin, 2003: 51).

C. Macam-Macam Munasabah
1. Munasabah antar kata dengan kata dalam satu
ayat
Dalam surah Al-Hadid ayat 4 :

28
‫ض فِي ِستَّ ِة أَي ٍَّام ثُ َّم‬ َ ْ‫ت َواألر‬ ِ ‫ق ال َّس َما َوا‬َ َ‫هُ َو الَّ ِذي َخل‬
‫ض َو َما‬ ِ ْ‫ش يَ ْعلَ ُم َما يَلِ ُج فِي األر‬ ِ ْ‫ا ْستَ َوى َعلَى ْال َعر‬
‫يَ ْخ ُر ُج ِم ْنهَا َو َما يَ ْن ِز ُل ِم َن ال َّس َما ِء َو َما يَ ْع ُر ُج فِيهَا‬
)٤( ‫صي ٌر‬ ِ َ‫ون ب‬ َ ُ‫َوهُ َو َم َع ُك ْم أَي َْن َما ُك ْنتُ ْم َوهَّللا ُ بِ َما تَ ْع َمل‬

Artinya :” Dia mengetahui apa yang masuk kedalam


bumi dan apa yang keluar dari padanya dan apa yang
turun dari langit dan apa yang naik padanya.”

Dari ayat diatas terlihat bahwa kata ‫( يَلِ ُج‬masuk)


dihubungkan dengan huruf ‘athaf waw dengan kata ‫يَ ْخ ُر ُج‬
(keluar). Disini jelas adanya hubungan perlawanan
(munasabah attadhadat). Demikian juga kata ‫( يَ ْن ِز ُل‬turun)
dan kata ‫( يَ ْع ُر ُج‬naik).

2. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu


surah yang sama
Dalam surah Al-Fatiha ayat 6

)٦(‫ا ْه ِدنَا الصِّ َراطَ ْال ُم ْستَقِي َم‬


29
Artinya :” Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
Ayat ini bermunasabah dengan ayat berikutnya yakni
ayat 7 surah al-fatihah

ِ ‫ت َعلَ ْي ِه ْم َغي ِْر ْال َم ْغضُو‬


‫ب َعلَ ْي ِه ْم‬ َ ‫ين أَ ْن َع ْم‬
َ ‫ص َراطَ الَّ ِذ‬
ِ
)٧(‫ين‬ َ ِّ‫َواَل الضَّال‬

Artinya :” yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri


nikmat kepada mereka, bukan jalan yang dimurkai dan
bukan pula jalan yang sesat.”

Munasabah yang dimaksud dalam kedua ayat diatas


adalah bahwa ayat 6 itu sesuai dan berhubungan
(bermunasabah) dengan ayat 7, karena ayat 7 sebagai
penjelas dari ayat 6, yakni ketika diminta tunjukilah jalan
yang lurus pada ayat 6, maka dijawab oleh ayat 7 bahwa
jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat.

3. Munasabah antar ayat dengan ayat pada surah


yang berbeda

30
Dalam surah Al-fatihah ayat 6 dengan surah al-baqarah
ayat 2

)٦(‫ا ْه ِدنَا الصِّ َراطَ ْال ُم ْستَقِيم‬

Artinya :”Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

)٢(‫ْب فِ ْي ِه هُدًى لِّ ْل ُمتَّقِي َْن‬ œُ َ‫ك ْال ِكت‬


َ ‫اب الَ َري‬ َ ِ‫َذل‬

Artinya :” kitab (al-qur-an) itu tidak ada keraguan


padanya.”
Menurut para ulama:”manusia memohon hidayah
(petunjuk) kepada Allah akan jalan yang lurus dan
benar(surah al-fatiha ayat 6), maka pada ayat 2 surah Al-
Baqarah dijelaskan kepada mereka bahwa jalan yang
lurus dan benar yang mereka minta itu ada dalam” kitab
itu”(‫ ) َذلِكَ ْال ِكتَاب‬yakni kitab al-Qur’an.

4. Munasabah antara ayat pada akhir surah dengan


awal surah berikutnya
Dalam surah Al-Waqiah ayat 96

31
﴾٩٦﴿ ‫فَ َسبِّحْ ِباس ِْم َرب َِّك ْال َع ِظ ِيم‬

Artinya :” Maka bertasbilah dengan(menyebut) nama


Tuhan mu yang maha besar.”
Jika diperhatikan, maka akan dijumpai munasabah
dengan awal surah berikutnya, meskipun tidak mudah
untuk mencarinya. Umpamanya pada permulaan surah
Al-Hadid ayat 1 dimulai dengan tasbih ‫ َسبَّ َح‬.

‫ض َوهُ َو ْال َع ِزي ُز‬


ِ ْ‫ت َواألر‬ َ ‫َسب ََّح هَّلِل ِ َما فِي ال َّس َم‬
ِ ‫اوا‬
)١( ‫ْال َح ِكي ُم‬

Artinya :” semua yang berada dilangit dan dibumi


bertasbih kepada Allah”.
Atau pada contoh lain yaitu pada akhir surah al-Fatiha
ayat 7:

‫ب َعلَي ِه ْم‬ َ ‫ين أَن َع‬


ِ ‫مت َعلَي ِه ْم َغ‬
ِ ‫ير ال َمغضُو‬ َ ‫ص َراطَ الَّ ِذ‬
ِ
﴾٧﴿ ‫ين‬ َ ِّ‫َوالَ الضَّال‬

32
Artinya :”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat.”
Ayat ini bermunasabah dengan awal surah berikutnya :

َ ِ‫ْب فِي ِه هُدًى لِّ ْل ُمتَّق‬


﴾٢﴿ ‫ين‬ َ ‫ك ْال ِكتَابُ الَ َري‬
َ ِ‫﴾ َذل‬١﴿ ‫الم‬

Artinya :”Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak


ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.”(QS.Al-Baqarah:2)

Munasabah ayat tersebut terletak pada adanya jawaban


atas pertanyaan”jalan yang telah diberi nikmat…dsb. itu
adanya haya pada kitab Al-Qur’an.

5. Munasabah antara nama surah dengan isi


kandungannya
Nama surah Al-Qur’an selalu menjadi tema
pembicaraan dari isi kandungannya. Umpamanya nama
surah Al-Baqarah(sapi betina) sangat jelas tercermin dari
isi kandungannya khususnya pada ayat 67-71 berikut :

33
‫ال ُمو َسى لِقَ ْو ِم ِه إِ َّن هَّللا َ يَأْ ُم ُر ُك ْم أَن تَ ْذبَحُوا‬ ‫َوإِ ْذ قَ َ‬
‫ون ِم َن‬ ‫ال أَ ُعو ُذ ِباهَّلل ِ أَ ْن أَ ُك َ‬‫بَقَ َرةً قَالُوا أَتَتَّ ِخ ُذنَا هُ ُز ًوا قَ َ‬
‫ك يُبَيِّن لَّنَا َما ِه َي‬ ‫ع لَنَا َربَّ َ‬ ‫ين {‪ }67‬قَالُوا ا ْد ُ‬ ‫ْال َج ِهلِ َ‬
‫ان بَي َْن‬ ‫ارض ٌَوالَ بِ ْك ٌر َع َو ٌ‬ ‫ال إِنَّهُ يَقُو ُل إِنَّهَا بَقَ َرةٌ الَّ فَ ِ‬ ‫قَ َ‬
‫ك‬‫ع لَنَا َربَّ َ‬ ‫ُون {‪ }68‬قَالُوا ا ْد ُ‬ ‫ك فَا ْف َعلُوا َماتُ ْؤ َمر َ‬ ‫َذلِ َ‬
‫ص ْف َرآ ُ‪œ‬ء‬
‫ال إِنَّهُ يَقُو ُل إِنَّهَا بَقَ َرةٌ َ‬ ‫يُبَيِّن لَّنَا َمالَ ْونُهَا قّ َ‬
‫ك‬ ‫ع لَنَا َربَّ َ‬ ‫ين {‪ }69‬قَالُوا ا ْد ُ‬ ‫فَاقِ ٌعلَ ْونُهَا تَسُرُّ النَّا ِظ ِر َ‬
‫يُبَيِّن لَّنَا َما ِه َي إِ َّن ْالبَقَ َر تَ َشابَهَ َعلَ ْينَا َوإِنَّا إِن َشآ َء هَّللا ُ‬
‫ال إِنَّهُ يَقُو ُل إِنَّهَا بَقَ َرةٌ الَّ َذلُولٌتُثِي ُر‬ ‫ون {‪ }70‬قَ َ‬ ‫لَ ُم ْهتَ ُد َ‬
‫ث ُم َسلَّ َمةٌ الَّ ِشيَةَ فِيهَا قَالُوا‬ ‫ض َوالَ تَ ْسقِي ْال َحرْ َ‪œ‬‬ ‫ْاألَرْ َ‬
‫ون {‪}71‬‬ ‫ق فَ َذبَحُوهَا َو َما َكا ُدوا يَ ْف َعلُ َ‬ ‫ت بِ ْال َح ِّ‬
‫ان ِج ْئ َ‬ ‫ْالئَ َ‬

‫‪Artinya :”(67)Dan (ingatlah), ketika Musa berkata‬‬


‫‪kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu‬‬
‫‪menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata:‬‬
‫"?‪"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan‬‬
‫‪Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar‬‬
‫‪tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".‬‬
‫‪(68) Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu‬‬
‫‪untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi‬‬

‫‪34‬‬
betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya
Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu;
maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
(69) Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu
untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa
warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang
kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan
orang-orang yang memandangnya."(70) Mereka berkata:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia
menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina
itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi
kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat
petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."(71) Musa
berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi
betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai
untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi
tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka
berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat
sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka
menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak
melaksanakan perintah itu.”
Munasabah pada ayat tersebut adalah adanya
hubungan antara judul surah sapi betina (al-baqarah)
dengan adanya perintah Allah kepada kaum Nabi Musa
untuk menyembelih sapi betina sebagaimana tercermin
pada ayat ke-67 diatas dan ayat berikutnya. Disamping
35
itu dalam surah al-baqarah ini juga mengandung inti
pembicara tentang kekuasaan Tuhan membangkitkan
orang mati. Dengan perkataan lain tujuan surah ini
adalah menyangkut kekuasaan Tuhan dan keimanan pada
hari kemudian.

6. Munasabah antara awal dengan akhir surah yang


sama
Jenis munasabah ini terdapat dalam surah al-
Qashshah yang diawali dengan penjelasan tentang
perjuangan Nabi Musa ketika menghadapi kekejaman
raja Fir’aun. Maka dengan pertolongan dari Allah, Nabi
Musa berhasil keluar dari Mesir setelah mengalami
berbagai kekerasan yang dilakukan raja Fir’aun. Diawal
surah ini juga dijelaskan bahwa Nabi Musa tidak akan
menolong orang yang kafir. Sedangkan pada akhir surah
Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi
Muhammad yang menghadapi kesulitan dalam
perjuangannya bahwa Nabi akan memperoleh
kemenangan.
Inti munasabah disini terletak dari adanya kesamaan
kondisi yang dihadapi oleh Nabi Musa As dan Nabi
Muhammad SAW pada awal dan akhir perjuangannya.

36
7. Munasabah antara kelompok ayat dengan
kelompok ayat berikutnya
Dalam munasabah jenis ini dapat dilihat kelompok ayat
pada surah al-Baqarah ayat 1 sampai 5, disini Allah
menjelaskan kelompok ayat tentang kebenaran dan
fungsi al-Qur’an bagi orang-orang yang bertaqwa serta
cirri-cirinya. Inilah kelompok ayat tersebut:

﴾٢﴿ ‫ين‬ َ ِ‫دًى لِّ ْل ُمتَّق‬œ ُ‫ ِه ه‬œ ‫ْب فِي‬ َ ‫ك ْال ِكتَابُ الَ َري‬ َ ِ‫﴾ َذل‬١﴿ ‫الم‬
‫الةَ َو ِم َّما‬œœœ‫الص‬ َّ ‫ون‬œœœَ ‫ب َويُقِي ُم‬ ْ ِ‫ون ب‬œœœ
ِ ‫ال َغ ْي‬œœœ َ ُ‫ين ي ُْؤ ِمن‬ َ ‫الَّ ِذ‬
َ ‫نز َل إِلَ ْي‬
‫ك‬ ُ َ ُ‫ين ي ُْؤ ِمن‬ َ ‫﴾ والَّ ِذ‬٣﴿ ‫ون‬ َ ُ‫َر َز ْقنَاهُ ْم يُنفِق‬
ِ ‫ون بِ َما أ‬
﴾٤﴿ ‫ون‬œœ َ ُ‫اآلخ َر ِة هُ ْم يُوقِن‬œœ ِ‫ك َوب‬œœَ ِ‫ز َل ِمن قَ ْبل‬œœ‫ن‬ ُ
ِ ِ ‫ا أ‬œœ‫َو َم‬
﴿ ‫ُون‬ َ ‫ك هُ ُم ْال ُم ْفلِح‬ َ ِ‫ك َعلَى هُدًى ِّمن َّربِّ ِه ْم َوأُ ْولَـئ‬ َ ِ‫أُ ْولَـئ‬
﴾٥

Artinya :” Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak


ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang
ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al
Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab
yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin
37
akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang
tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan
merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS.Al-
Baqarah:1-5).
Pada kelompok ayat berikutnya yakni pada ayat 6
dan 7 setelah menjelaskan tentang kondisi dan cirri-ciri
orang taqwa, maka Allah SWT, menggambarkan tentang
keadaan orang kafir serta sifat-sifatnya. Berikut ini
ayatnya:

‫ُوا َس َوا ٌء َعلَ ْي ِه ْم أَأَن َذرْ تَهُ ْم أَ ْم لَ ْم تُن ِذرْ هُ ْم‬


ْ ‫ين َكفَر‬
َ ‫إِ َّن الَّ ِذ‬
‫﴾ َختَ َم هّللا ُ َعلَى قُلُوبِه ْم َو َعلَى َس ْم ِع ِه ْم‬٦﴿ ‫ون‬ َ ُ‫الَ ي ُْؤ ِمن‬
﴾٧﴿ ‫عظي ٌم‬ِ ٌ‫ار ِه ْم ِغ َشا َوةٌ َولَهُ ْم َع َذاب‬ َ ‫َو َعلَى أَب‬
ِ ‫ْص‬

Artinya :”Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja


bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri
peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah
mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan
penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang
amat berat.”(QS.Al-Baqarah:6 dan 7).

38
‫‪Pada kelompok ayat selanjutnya yakni kelompok ayat‬‬
‫‪8-20 Allah menjelaskan pula keadaan dan sifat-sifat‬‬
‫‪orang munafik secara panjang lebar :‬‬

‫اس َمن يَقُو ُل آ َمنَّا بِاهّلل ِ َوبِ ْاليَ ْو ِم اآل ِخ ِر َو َما‬ ‫َو ِم َن النَّ ِ‬
‫ين آ َمنُوا َو َما‬ ‫ون هّللا َ َوالَّ ِذ َ‬
‫ين ﴿‪ ﴾٨‬ي َُخا ِد ُع َ‬ ‫هُم بِ ُم ْؤ ِمنِ َ‬
‫ُون ﴿‪ ﴾٩‬فِي قُلُوبِ ِهم‬ ‫ون إِالَّ أَنفُ َسهُم َو َما يَ ْش ُعر َ‬ ‫يَ ْخ َد ُع َ‬
‫َّم َرضٌ فَ َزا َدهُ ُم هّللا ُ َم َرضا ً َولَهُم َع َذابٌ أَلِي ٌم بِ َما َكانُوا‬
‫وا فِي األَرْ ِ‬
‫ض‬ ‫يل لَهُ ْم الَ تُ ْف ِس ُد ْ‬‫ُون ﴿‪َ ﴾١٠‬وإِ َذا قِ َ‬ ‫يَ ْك ِذب َ‬
‫ُون ﴿‪ ﴾١١‬أَال إِنَّهُ ْم هُ ُم‬ ‫وا إِنَّ َما نَحْ ُن ُمصْ لِح َ‬ ‫قَالُ ْ‬
‫ُون ﴿‪َ ﴾١٢‬وإِ َذا قِي َل لَهُ ْم‬ ‫ون َولَـ ِكن الَّ يَ ْش ُعر َ‬ ‫ْال ُم ْف ِس ُد َ‬
‫وا أَنُ ْؤ ِم ُن َك َما آ َم َن ال ُّسفَهَاء‬ ‫وا َك َما آ َم َن النَّاسُ قَالُ ْ‬ ‫آ ِمنُ ْ‬
‫ون ﴿‪َ ﴾١٣‬وإِ َذا‬ ‫أَال إِنَّهُ ْم هُ ُم ال ُّسفَهَاء َولَـ ِكن الَّ يَ ْعلَ ُم َ‬
‫وا آ َمنَّا َوإِ َذا َخلَ ْو ْا إِلَى َشيَا ِطينِ ِه ْم‬ ‫وا قَالُ ْ‬‫ين آ َمنُ ْ‬ ‫وا الَّ ِذ َ‬ ‫لَقُ ْ‬
‫ون ﴿‪ ﴾١٤‬هّللا ُ‬ ‫وا إِنَّا َم َع ْك ْم إِنَّ َما نَحْ ُن ُم ْستَه ِْزئُ َ‬ ‫قَالُ ْ‬
‫ُون ﴿‪﴾١٥‬‬ ‫ئ بِ ِه ْم َويَ ُم ُّدهُ ْم فِي طُ ْغيَانِ ِه ْم يَ ْع َمه َ‬ ‫يَ ْستَه ِْز ُ‬
‫ضالَلَةَ بِ ْالهُ َدى فَ َما َربِ َحت‬ ‫ين ا ْشتَ ُر ُو ْا ال َّ‬ ‫ك الَّ ِذ َ‬ ‫أُ ْولَـئِ َ‬
‫ين ﴿‪َ ﴾١٦‬مثَلُهُ ْم َك َمثَ ِل الَّ ِذي‬ ‫تِّ َجا َرتُهُ ْم َو َما َكانُ ْ‬
‫وا ُم ْهتَ ِد َ‬
‫ور ِه ْم‬ ‫ب هّللا ُ بِنُ ِ‬ ‫اءت َما َح ْولَهُ َذهَ َ‬ ‫ض ْ‬ ‫ا ْستَ ْوقَ َد نَاراً فَلَ َّما أَ َ‬

‫‪39‬‬
‫ص ٌّم بُ ْك ٌم‬ُ ﴾١٧﴿ ‫ُون‬ َ ‫ْصر‬ ِ ‫ت الَّ يُب‬ ٍ ‫َوتَ َر َكهُ ْم فِي ظُلُ َما‬
‫ب ِّم َن ال َّس َما ِء‬ ٍ ِّ‫صي‬َ ‫﴾ أَ ْو َك‬١٨﴿ ‫ُون‬ َ ‫ُع ْم ٌي فَهُ ْم الَ يَرْ ِجع‬
‫ون أَصْ ابِ َعهُ ْم فِي‬ َ ُ‫ق يَجْ َعل‬ ٌ ْ‫ات َو َر ْع ٌد َوبَر‬ ٌ ‫فِي ِه ظُلُ َم‬
ٌ‫ت وهّللا ُ ُم ِحيط‬ ِ ‫ق َح َذ َر ْال َم ْو‬ ِ ‫آ َذانِ ِهم ِّم َن الص ََّو‬
ِ ‫اع‬
‫صا َرهُ ْم ُكلَّ َما‬ َ ‫ف أَ ْب‬ ُ َ‫ق يَ ْخط‬ ُ ْ‫﴾ يَ َكا ُد ْالبَر‬١٩﴿ ‫ين‬ َ ‫بِ ْالكافِ ِر‬
‫وا َولَ ْو َشاء‬ ْ ‫ظلَ َم َعلَ ْي ِه ْم قَا ُم‬ْ َ‫ضاء لَهُم َّم َش ْو ْا فِي ِه َوإِ َذا أ‬ َ َ‫أ‬
‫ار ِه ْم إِ َّن هَّللا َعلَى ُك ِّل َش ْي ٍء‬ َ ‫ب بِ َس ْم ِع ِه ْم َوأَب‬
ِ ‫ْص‬ َ َ‫هّللا ُ لَ َذه‬
﴾٢٠﴿ ‫قَ ِدي ٌر‬

Artinya :” 8.Di antara manusia ada yang mengatakan:


"Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian",
padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang
yang beriman.9. Mereka hendak menipu Allah dan
orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.10.
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka berdusta.11. Dan bila dikatakan
kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami
orang-orang yang mengadakan perbaikan."12. Ingatlah,
sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat
kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.13. Apabila

40
dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu
sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka
menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-
orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah,
sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi
mereka tidak tahu.14. Dan bila mereka berjumpa dengan
orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami
telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-
syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya
kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-
olok".15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka
dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam
kesesatan mereka.16. Mereka itulah orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung
perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat
petunjuk.17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang
yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari)
mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak
dapat melihat.18. Mereka tuli, bisu dan buta, maka
tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).19.
atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari
langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka
menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena
(mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan
Allah meliputi orang-orang yang kafir. 20. Hampir-
hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap
kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di

41
bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka
berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia
melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”
Jadi jelaslah dari beberapa ayat diatas antara
kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya
secara berurutan terdapat munasabah tentang tiga macam
tipe kualitas manusia yakni orang taqwa, orang kafir,
orang munafik.

D. Urgensi dan Manfaat Ilmu Munasabah


Munasabah di dalam memahami Al-Qur’an sangatlah
penting, karena dengan dikuasainya ilmu ini maka akan
dapat merasakan secara mendalam bahwa Al-Qur’an
merupakan satu kesatuan yang utuh dalam untaian kata-
kata yang harmonis dengan makna yang kokoh, tepat,
dan akurat sehingga sedikitpun tak ada cacat. Selain itu,
dengan munasabah dapat memberikan gambaran yang
semakin terang bahwa Al-Qur’an itu betul-betul kalam
Allah, tidak hanya teksnya, melainkan susunan dan
urutan ayat-ayat dan surat-suratnya pun atas petujuk-
Nya.
Sebagaimana Asbabun Nuzul, Munasabah dapat
berperan dalam memahami Al-Qur’an. Muhammad
Abdullah Darraz berkata : ”Sekalipun permasalahan yang
diungkapkan oleh surah-surah itu banyak, semuanya
42
merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan
akhirnya saling berkaitan. Maka bagi orang yang hendak
memahami sistematika surah semestinya dia
memperhatikan sebagaimana juga memperhatikan
permasalahannya.”\

Ada dua urgensi munasabah yaitu:


1. Dari sisi balaghah, hubungan antara ayat dengan ayat
menjadi keutuhan yang indah dalam tata bahasa Al-
Qur’an.
2. Memudahkan orang dalam memahami makna ayat
atau surah.
Dengan mempelajari munasabah terdapat beberapa
manfaat antara lain:
1. Dapat membantah anggapan sebagian orang yang
menyatakan bahwa tema-tema Al-Qur’an kehilangan
korelasi antara satu bagian ayat dengan bagian ayat
yang lainnya, padahal ternyata rangkaian ayat-
ayatnya memiliki keterkaitan yang menakjubkan.
Contohnya firman Allah SWT berikut:

43
‫اس َو ْال َح ِّج‬ ِ َّ‫يت لِلن‬ُ ِ‫ك َع ِن األ ِهلَّ ِة قُلْ ِه َي َم َواق‬ َ َ‫يَسْأَلُون‬
ِ ‫ُوت ِمن ظُه‬
‫ُورهَا َولَـ ِك َّن‬ َ ‫ْس ْالبِرُّ بِأ َ ْن تَأْتُ ْو ْا ْالبُي‬
َ ‫َولَي‬
ْ ُ‫ُوت ِم ْن أَب َْوابِهَا َواتَّق‬
َ ‫وا هّللا‬ َ ‫وا ْالبُي‬ ْ ُ‫ْالبِ َّر َم ِن اتَّقَى َو ْأت‬
﴾١٨٩﴿ ‫ُون‬ َ ‫لَ َعلَّ ُك ْم تُ ْفلِح‬

Artinya :”Mereka bertanya kepadamu tentang bulan


sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda
waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah
kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,
akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang
bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari
pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
beruntung.”(QS.Al-Baqarah:189)
Membaca ayat ini orang akan bertanya-tanya ”apakah
korelasi antara pembicaraan bulan sabit dengan
mendatangi rumah?. Ketika menjelaskan munasabah
kedua ayat ini Az-Zarkasyi (1957: 41) mengatakan :
“sudah diketahui bahwa ciptaan Allah mempunyai
hikmah yang jelas dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-
Nya, maka tinggalkan pertanyaan tentang hal itu, dan
perhatikan sesuatu yang engkau anggap sebagai
kebaikan, padahal sama sekali bukan merupakan
kebaikan.” Dari sini dapat dipahami bahwa dari satu ayat
tersebut dapat menjawab dua pertanyaan sahabat baik

44
tentang bulan pelaksanaan ibadah haji maupun tentang
orang taqwa.
2. Dapat menolak pandangan akan adanya tidak teratur
dalam penyusunan al-Qur’an, misalnya mengapa
surah al-Fatihah diletakkan pada awal surah dan
bukan surah al-A’laq, padahal secara historis awal
surah inilah yang terlebih dahulu diturunkan.
Sebaliknya mengapa surah an-Naas diletakkan pada
akhir surah, bukan surah al-Maidah ayat 3, padahal
secara hitoris surat inilah yang terakhir diturunkan.

3. Dapat membantu untuk memudahkan pemahaman al-


Qur’an baik antara ayat dengan ayat maupun surah
dengan surah dalam al-Qur’an.(Chirzin,1998: 58).
4. Dapat menggantikan sebab nuzulnya apabila sebab-
sebab tersebut tidak disebut dalam bentuk nyata. Hal
ini dikerenakan keterpautan antara satu ayat dengan
ayat dapat menggambarkan sesuatu yang kita
maksudkan dan tidak perlu lagi mengetahui sejarah
nuzulnya satu persatu.
5. Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan
kehalusan bahasa (mutu dan tingkat balaghah al-
Qur’an) serta dapat membantu dalam memahami
keutuhan makna al-Qur’an itu sendiri.

45
Menurut Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’I, MA, manfaat
mempelajari munasabah, antara lain sebagai berikut :
1. Menghindari kekeliruan dalam menafsirkan Al-
Qur’an, sebab munculnya kekeliruan dalam
menafsirkan Al-Qur’an adalah karena tidak
mengetahui munasabah.
2. Intensifikasi pengertian Al-Qur’an.
Mengingat peran penting munasabah sebagaimana
digambarkan di atas, maka masuk akal bila pakar ulama
tafsir seperti Ibn al-‘Arabi menyatakan bahwa kajian
munasabah adalah suatu ilmu yang besar dan mulia,
hanya orang-orang tertentu yang dapat menggalinya. Al-
Zarkasyi juga mengakui pentingnya ilmu ini dengan
menyatakan secara tegas bahwa munasabah adalah ilmu
yang amat mulia yang dapat memelihara dan meluruskan
pola pikir serta mengenal kadar kemampuan seseorang
dalam berbicara.

46
KESIMPULAN

Setiap penyusunan ayat, surat, maupun juz dalam


al-Qur’an memiliki keterkaitan antara satu dengan yang
lainnya. Maka, mempeajari munasabah akan sangat
membantu dalam penafsiran maupun pemahaman
kandungan ayat dan surat dalam al-Qur’an. Munasabah
sangatlah berperan dalam menafsirkan al-Qur’an karena
tanpa mempelajari dan mengetahui munasabah, akan
sangat sulit untuk menguak isi kandungan dalam setiap
ayat karena tidak semua ayat bisa dipahami secara
komprehensif hanya dengan mengetahui asbab an-
Nuzulnya saja.
Namun sayangnya, banyak yang tidak mengetahui
ilmu ini dan terkesan menomorduakan denga asbab an-
47
Nuzul dalam al-Qur’an. Padahal, penguasaan atas
munasabah akan sangat membantu dalam penyimpulan
dan penafsiran al-Qur’an. Mempelajari munasabah tidak
hanya akan menambah wawasan saja, akan tetapi juga
akan melatih kepekaan seseorang untuk melihat suatu
kaitan dalam berbagai hal.

NIKMAT ALLAH DAN CARA MENSYUKURINYA


A. Kajian Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah
dikaruniakan Allah kepada kita. Setiap hari silih berganti
kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada
nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak
membayangkan sebelumnya akan terjadi dan
mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak
bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih
apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk
menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang

48
Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita
kehidupan, kita menemukan keadaan yang
memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam
keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat.
Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan
makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh
kepada Allah.
Syukur berarti ucapan sikap, dan perbuatan
terimakasih kepada allah swt, dan penggakuan yang tulus
atas nikmat dan karunia yang diberikannya. Nikmat yang
diberikan sangat banyak dan bentuknya bermacam-
macam, disetiap detik yang dilalui maninusia tidak
pernah lepas dari nikmat allah, nikmatnya sanggat besar.
Sehingga mausia tidak akan dapat menghitungnya.
B. Ayat al-Qur’an Tentang Nikmat Allah dan Cara
Mensyukurinya
1. Surat az-zukhruf ayat 9-13

ِ ‫س ِم هَّللا ِ ال َّر ْح َم ِن ال َّر ِح‬


‫يم‬ ْ ِ‫ب‬
َّ‫ض لَيَقُولُن‬ َ ‫ت َو ْاألَ ْر‬ ِ ‫س َما َوا‬ َّ ‫ق ال‬َ َ‫سأ َ ْلتَ ُهم َّمنْ َخل‬ َ ‫َولَئِن‬
‫ض‬ َ ‫} الَّ ِذي َج َع\\ َل لَ ُك ُم ْاألَ ْر‬9{ ‫َخلَقَ ُهنَّ ا ْل َع ِزي\\ ُز ا ْل َعلِي ُم‬
}10{ ‫ُون‬ َ ‫س\بُالً لَّ َعلَّ ُك ْم تَ ْهتَ\د‬ُ ‫َم ْه\ ًدا َو َج َع\ َل لَ ُك ْم فِي َه\\ا‬
ً‫س َمآ ِء َمآ ًء بِقَ َد ٍر فَأَنش َْرنَا بِ\ ِه بَ ْل\ َدة‬ َّ ‫َوالَّ ِذي نَ َّز َل ِم َن ال‬
َ ‫ق ْاألَ ْز َو‬
‫اج‬ َ \ َ‫} َوالَّ ِذي َخل‬11{ ‫ون‬ َ \‫َّم ْيتً\\ا َك\ َذلِ َك تُ ْخ َر ُج‬
49
{ ‫ون‬ َ ُ‫\ام َم\\ات َْر َكب‬ ِ \‫ُكلَّ َه\\ا َو َج َع \ َل لَ ُكم ِّم َن ا ْلفُ ْل \ ِك َو ْاألَن َع‬
‫ستَ ُوا َعلَى ظُ ُهو ِر ِه ثُ َّم ت َْذ ُك ُروا نِ ْع َمةَ َربِّ ُك ْم إِ َذا‬ ْ َ‫} لِت‬12
‫س َّخ َر لَنَا َه\\ َذا‬ َ ‫ان الَّ ِذي‬ َ ‫س ْب َح‬ ُ \‫ست ََو ْيتُ ْم َعلَ ْي ِه َوتَقُولُوا‬ ْ ‫ا‬
}13{ ‫ين‬ َ ِ‫َو َما ُكنَّا لَهُ ُم ْق ِرن‬
Terjemah Ayat:
(09) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka:
"Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya
mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh
yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".
(10) Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat
menetap dan dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk
kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
(11) Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar
(yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu
negeri yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan
(dari dalam kubur).
(12) Dan yang menciptakan semua yang berpasang-
pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang
ternak yang kamu tunggangi.
(13) Supaya kamu duduk di atas punggungnya Kemudian
kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu Telah duduk
di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci
Tuhan yang Telah menundukkan semua Ini bagi kami
padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,
50
a. Makna Mufrodat

Kalian akan
dikeluarkan/ Dan sungguh
dibangkitkan ‫تُ ْخ َر ُج ْو َن‬ apabila ْ‫َو َل ِءىن‬
(dari kubur)
Dan Dia Kamu
yang tanyakan
ْ ‫َوالَّ ِذ‬
‫ي‬ kepada ‫سا َ ْلتَ ُه ْم‬
َ
mereka
Telah (tentang)
menciptakan َ َ‫َخل‬
‫ق‬ siapa ْ‫َّمن‬
Pasangan- (yang) telah
pasangan َ ‫ااْل َ ْز َو‬
‫اج‬ menciptakan َ َ‫َخل‬
‫ق‬
(atas) semua Semesta
makhluk ‫ُكلَّ َها‬ langit ‫ت‬
ِ ‫س َم َو‬ َّ ‫ال‬
Dan Dia
‫َوااْل َ ْر‬
telah ‫َو َج َع َل‬ Dan bumi
menciptakan ‫ض‬َ
Untuk kalian Niscaya
‫لَ ُك ْم‬ mereka َّ‫لَيَقُ ْولُن‬
menjawab
(Berupa) (yang) telah
menciptakan
ْ‫ِّمن‬ langit dan َّ‫َخلَقَ ُهن‬
bumi
Kapal-kapal (Allah) yang
‫ْالفُ ْل ِك‬ maha ‫ا ْل َع ِز ْي ُز‬
perkasa

51
Dan hewan- Maha
hewan ternak ‫َوااْل َ ْن َع ِام‬ mengetahui ‫ا ْل َعلِ ْي ُم‬
(sebagai)
sarana ‫َما‬ Dia yang ‫ي‬ْ ‫الَّ ِذ‬
(yang) kalian
Telah
dapat ‫ت َْر َكبُ ْو َن‬ menciptakan ‫َج َع َل‬
tnggangi
Supaya
kalian dapat ‫ستَ ُوا‬
ْ َ‫لِت‬ Untuk kalian ‫لَ ُك ْم‬
duduk/berada
Diatas ‫َع َل‬ Bumi َ ‫ااْل َ ْر‬
‫ض‬
Punggung- (sebagai)
punggungnya tempat
‫ظُ ُه ْو ِر ِه‬ menetap/tidu ‫َم ْه ًدا‬
r
Kemudian Dan Dia
‫ثُ َّم‬ telah ‫َّو َج َع َل‬
menciptakan
Kalian
mengingat ‫ت َْذ ُك ُر ْوا‬ Untuk kalian ‫لَ ُك ْم‬
Nikmat Didalam
َ‫نِ ْع َمة‬ bumi
َ ‫فِ ْيحا‬
Tuhan
pencipta ‫َربِّ ُك ْم‬ Jalan-jalan َ‫سبُال‬
ُ
kalian
Ketika Supaya
‫اِ َذا‬ kalian ‫لَّ َعلَّ ُك ْم‬
Kalian telah ‫ست ََو ْيتُ ْم‬ ْ َ‫ا‬ Mendapat ‫تَ ْهتَد ُْو َن‬
duduk berada petunjuk/tida

52
k tersesat
Diatasnya Dan Dia
‫َعلَ ْي ِه‬ yang ْ ‫َوالَّ ِذ‬
‫ي‬
Dan supaya
kalian Telah
mengucapka ‫َوتَقُ ْولُ ْوا‬ menurunkan ‫نَ َّز َل‬
n
Maha suci ‫س ْب َح َن‬ ْ‫ِمن‬
ُ Dari
Dia yang ~‫س َما‬ َّ ‫ال‬
ْ ‫الَّ ِذ‬
‫ي‬ Langit
‫ِء‬
Telah
menundukan ‫س َخ َر‬
َ Air (hujan) ‫َما~ ِء‬
Untuk kami (sesuai)
‫لَنَا‬ dengan ‫بِقَ َد ٍر‬
ukuran
(Semua) ini Lalu kami
‫َه َذا‬ hidupkan/sub ‫فَا َ ْنش َْرنَا‬
urkan
Dan tidaklah Dengan air
‫َو َما‬ itu ‫بِ ِه‬
Kami dahulu Sebuah
‫ُكنَّا‬ negeri
ً‫بَ ْل َدة‬
Terhadap (Yang)
semua ini ُ‫لَه‬ mati/tandus ‫َّم ْيتًا‬
(adalah)
orang-orang
yang mampu ‫ُم ْق ِرنِ ْي َن‬ Seperti itulah َ‫َك َذلِك‬
menguasai

53
b. Penjelasan Ayat
Ayat ke 9, menurut Abu Ja’far Muhammad maksud
ayat ini adalah jika kamu tanyakan hai Muhammad
kepada orang-orang Musyrik dari kaummu itu, “Siapa
yang menciptakan langit dan bumi, mengadakan dan
membentuknya?” Niscaya mereka menjawab,
“Semuanya diciptakan oleh yang maha Perkasa dalam
pengaruh kekuasaan dan balasan-Nya terhadap musuh-
musuhNya, yang maha mengetahui semua ciptaan itu
dengan segala yang ada di dalamNya. Tidak ada sesuatu
pun yang tersembunyi bagiNya.
Sedangkan Menurut Syekh Imam AL-Qurtubi dalam
ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir pun
mengakui bahwa pencipta langit dan bumi beserta isinya
adalah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana,
namun demikian mereka menyembah selain Allah dan
mengingkari kekuasaan-Nya.
Penjelasan ayat ke 10, maksudnya adalah Allah yang
menjadikan bumi terhampar bagimu.Dia menjadikan
bumi bagimu pijakan yang dapat kamu pijak dengan
telapak kakimu dan kamu dapat berjalan di atasnya
dengan kakimu. Allah membuatkan jalan-jalan yang
landai di atas bumi, yang dapat kamu tempuh dari satu
negeri ke negeri lain untuk keperluan penghidupan dan
pendengaranmu.

54
Sedangkan menurut Syekh Imam Al-Qurtubi bahwa ayat
ini menjelaskan bahwa Allah menyifati Dzat-Nya yang
maha suci dengan kekuasaan yang sempurna.Firman
Allah ini merupakan awal pemberitahuan dari Allah
tentang dzatNya.Supaya kalian mengakui nikmat Allah
yang diberikan kepada kalian dan supaya kalian
mendapat petunjuk menuju penghidupan kalian.
Ayat ke 11 dan 12, maksudnya adalah bahwa Allah
menurunkan air dari langit menurut kadar (yang
diperlukan), artinya menurut Ibnu Abbas yang dikutip
oleh AL-Qurtubi yakni air yang diturunkan itu bukan
seperti air yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh yang
tidak menurut ukuran yang diperlukan sehingga air itu
menenggelamkan mereka. Akan tetapi air yang
diturunkan itu sesuai dengan kadar yang diperlukan,
bukan berupa badai yang menenggelamkan bukan pula
kurang dari apa yang dibutuhkan sehingga ia dapat
menjadi penghidupan bagi kalian dan binatang ternak
kalian.
Ayat 12 dan 13 maksudnya adalah Dia yang
menciptakan segala sesuatu, lantas menjadikannya
berpasang-pasangan yaitu dengan menciptakan
perempuan sebagai pasangan laki-laki, dan menciptakan
laki-laki sebagai pasangan perempuan. … َ‫ َل لَ ُك ْم ِمن‬œœœ‫َو َج َع‬
ِ ‫الفُ ْل‬maksudnya
‫ق‬œ ْ adalah bahwa Allah menjadikan kapal-
kapal bagimu yang dapat kamu kendarai di laut kea rah
yang kamu kehendaki dalam perjalananmu di laut untuk

55
memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupmu. Sedangkan
hewan ternak dapat kamu kendarai di darat ke arah
manapun yang kamu tuju, seperti unta, kuda, bighal dan
keledai.[6][6] …‫وْ ِر ِه‬œœœُ‫تَوُوْ ا عَلى ظُه‬œœœ‫لِت َْس‬supaya kamu dapat
berada di atas punggung hewan yang kamu kendarai.
Kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu yang
dianugerahkan kepadamu, berupa ditundukannya semua
fasilitas kendaraan itu bagimu di darat dan di laut.
2. Surat Al-Ankabut Ayat 17

‫اِنَّ َما تَ ْعبُ ُد ْو َن ِم ْن ُد ْو ِن هللاِ اَ ْوثَا نًا َّوتَ ْخلُقُ ْو َن اِ ْف ًكا‬


ِ ‫اِ َّن الَّ ِذي َْن تَ ْعبُ ُد ْو َن ِم ْن ُد ْو ِن‬
‫هللا اَل يَ ْملِ ُك ْو َن لَ ُك ْم ِر ْزقًا‬
‫ق َوا ْعبُ ُد ْوهُ َوا ْش ُكر ُْوا لَهُ اِلَ ْي ِه‬ َ ‫فَا ْبتَ ُغ ْوا ِع ْن َد هللاِ الرِّ ْز‬
‫تُرْ َجع ُْو َن‬
Artinya : ”Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain
Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta.
Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak
mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah
rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan
bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu
akan dikembalikan.”
a. Makna mufrodat

Tidak mereka
memiliki
‫اَل يَ ْملِ ُك ْو َن‬ Sungguh apa
yang
‫اِنَّ َما‬

56
(mampu
Memberi)
‫َت ْعبُ ُد ْو‬
Untuk kalian ‫لَ ُك ْم‬ Kalian sembah
‫َن‬
Rezeki ‫ِر ْزقًا‬ Dari ‫ِم ْن‬
Maka
carilah/mintal ‫َف ْبَتغُ ْوا‬ Selain ‫ُد ُو ِن‬
ah
Disisi ‫ِع ْن َد‬ Allah ِ
‫اهلل‬
Allah ِ
‫اهلل‬ (hanya) berhala-
‫اَ ْوثَا ًن‬
berhala
Dan kalian ‫َوتَ ْحلُ ُق‬
Rezeki ‫ال ِر ْز َق‬ menciptakan(me
ngatakan) ‫ْو َن‬
Dan
sembahlah
Dia(beriman ُ‫َوا ْعبُ ُد ْوه‬ Kebohongan ‫اِفْ َكا‬
dan taat
Dan
bersyukurlah ‫َوا ْش ُك ُر ْوا‬ Sesungguhnya ‫اِ ِّن‬
kalian
Kepada-Nya ُ‫لَه‬ Yang ‫الَّ ِذيْ َن‬
Kepada-Nya
‫اِلَ ْيي ِه‬ Kalian sembah
‫َت ْعبُ ُد ْو‬
57
‫َن‬
Kalian akan
dikembalikan
‫ُت ْر َجعُ ْو َن‬ Dari ‫ْم ْن‬
Selain ‫ُد ْو ِن‬
Allah ِ
‫اهلل‬

b. Penjelasan ayat
(Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah
itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta)
kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala
itu adalah sekutu-sekutu Allah. (Sesungguhnya yang
kalian .sembah selain Allah itu tidak mampu
memberikan rezeki kepada kalian) maksudnya mereka
tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian (maka
mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu
kepada-Nya (dan sembahlah Dia dan bersyukurlah
kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan
dikembalikan).

c. Asbabunnuzul ayat
Pada mulanya ayat 17 surah al-Ankabut ini,
menceritakan umat Nabi Ibrahim yang tidak mau
menyembah Allah. Bahkan mereka menyembah patung-
patung buatan mereka sendiri. Dengan demikian Allah

58
menjelaskan bahwa patung-patung atau lainnya yang
mereka sembah selain diri-Nya, tidak bias berbuat apa-
apa. Apalagi memberi rezeki untuk kehidupannya.Hanya
dari sisi Allahlah rezeki itu didapat. Oleh karena itu
sehrusnya mereka hanya menyembah Allah dan
bersyukur kepada-Nya, sebab mereka pun akan
dikembalikan kepada-Nya.
M.Quraish Shihab mengatakan bahwa ayat tersebut
adalah teguran kepada umat Nabi Ibrahim, yang
menyembah berhala-berhala untuk mengharap mendapat
rezeki dari apa yang disembahnya. Lalu ditegaskan
bahwa berhala-berhala itu tidak mampu memberikan
rezeki dan tidak patut untuk disembah. Sebagaiman
Allah menggunakan kata ”rizqoo” yang konteks
kalimatnya adalah menafikan kemampuan berhala.
Kemudian Allah menggunakan kalimat “fabtaghuu”
artinya mintalah.Dan “arrizqi´ artinya rezeki secara
umum (segala bentuk rezeki). Dan adanya penambahan
huruf ”ta” pada kalimat “fabtaghuu” digunakan sebagai
penegasan bahwa untuk mendapatkan rezeki Allah itu
hendaknya dengan berusaha sungguh-sungguh. Di ayat
itu juga Allah mempertegas agar kita menyembahnya,
karena hanya Dia yang patut disembah.Dia yang
memberikan segala rezeki kepada oleh karena itu Allah
melanjutkan firman-Nya dengan perintah untuk
mensyukurinya.

59
Begitu banyak nikmat yang telah kita terima dari
Allah SWT.Negara ini telah mendapatkan nikmat lahan
yang subur, kandungan sumber daya alam melimpah, dan
masyarakat Muslim yang sangat banyak.Diri-diri kita
telah mendapatkan nikmat hidup berkecukupan, anak-
anak yang sehat dan cerdas, pasangan hidup yang
beriman. Bukan itu saja, masih banyak nikmat-nikmat
yang lain, yang jika kita mencoba menghitungnya,
niscaya tidak akan mampu. Allah SWT berfirman:

ْ ُ‫ ْوهَا اِ َن هللاَ لَ َغف‬œœ‫ص‬


‫و ُر‬œœ ُ ْ‫هللا الَ تُح‬
ِ ُ‫ه‬œœَ‫ ُّد ْوا نِ ْع َمت‬œœُ‫َواِ ْن تَع‬
‫َّر ِح ْي ٌم‬
Artinya :“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat
Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”(QS An Nahl : 18).

C. Hadits Tentang Nikmat Allah dan Cara


Mensyukurinya
Hadits Tentang Cara Mensyukuri Nikmat
1. Teks Hadits

ُ‫صلَّى هللا‬ َ ِ‫ال َرسُو ُل هللا‬ َ َ‫ ق‬:‫ قَا َل‬،َ‫َع ْن أَبِي هُ َر ْي َرة‬
‫ َواَل‬،‫ ا ْنظُرُوا إِلَى َم ْن أَ ْسفَ َل ِم ْن ُك ْم‬:‫َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬

60
‫ فَهُ َو أَجْ َد ُر أَ ْن اَل‬،‫تَ ْنظُرُوا إِلَى َم ْن هُ َو فَ ْوقَ ُك ْم‬
‫تَ ْز َدرُوا نِ ْع َمةَ هللاِ َعلَ ْي ُك ْم‬
2. Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu
dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka
hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah
atasmu. (Muutafaq ‘Alaih)
3. Penjelasan Hadits
Dalam hadits di atas, nabi menyuruh kaum muslimin
agar memandang orang memandang orang yang berada
di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa
tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan
kekayaannya maupun yang lain-lainnya. Dengan cara
demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik
keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah
standar nasib mereka. Sebaliknya nabi saw. melarang
kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka
sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri
dan bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan rasa
kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan
yang buruk kepada Allah swt. bahwa Dia tidak
memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam
pemberian nikmat. Kaum muslimin dibenarkan melihat
orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam

61
masalah ketaatan kenjalankan agama (dalam hal
kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu
pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai
agama.
D. Cara Mensyukuri Nikmat Allah Ta’ala
Bersyukur kepada Allah ta’ala artinya adalah
menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara
menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan
segala larangan-Nya.
Bersyukur kepada Allah ta’ala atas nikmat-nikmat-
Nya bukanlah sekedar dengan mengucapkan hamdalah
atau bersujud syukur. Akan tetapi ada cara lain yang
lebih umum untuk bersyukur kepada Allah ‘azza wa
jalla. Ada tiga cara bersyukur yang disebutkan oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
rahimahullah di dalam kitab Al Qaulul Mufid (1/268),
yaitu:
1. Bersyukur dengan hati.
Yaitu dengan meyakini dan mengakui bahwa segala
nikmat yang dia dapatkan pada hakikatnya adalah berasal
dari Allah subhanahu wa ta’ala semata. Adapun peran
manusia yang memberikan suatu kemanfaatan kepada
kita, semua itu hanyalah suatu sebab dan perantara yang
mana semuanya itu sangat bergantung kepada izin dari
Allah ta’ala.

62
Allah ta’ala berfirman:

ِ ‫َو َما بِ ُك ْم ِم ْن نِ ْع َم ٍة فَ ِم َن هَّللا‬

“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, Maka dari Allah-
lah (datangnya).” [QS An Nahl: 53]
2. Bersyukur dengan lisan.
Yaitu dengan membicarakan kepada orang lain
tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya sebagai
bentuk rasa syukur dan pengakuan kepada Allah, bukan
dengan tujuan untuk membanggakan diri dan
menimbulkan rasa iri kepada orang lain.
Allah ta’ala berfirman:

ْ ‫َوأَ َّما ِبنِ ْع َم ِة َرب َِّك فَ َحد‬


‫ِّث‬

“dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu


siarkan.” [QS Adh Dhuha: 11]
Contohnya adalah kisah seorang yang buta lalu
disembuhkan oleh Allah dan dianugerahi kambing yang
banyak. Ketika datang seorang malaikat utusan Allah
untuk mengujinya dengan meminta seekor kambingnya,
lelaki itu menjawab: “Dahulu aku adalah seorang yang
buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku

63
kepadaku. Dahulu aku adalah seorang yang miskin, lalu
Allah memberikan kekayaan kepadaku.
3. Bersyukur dengan anggota tubuh.
Yaitu dengan cara menggunakannya untuk melaksanakan
berbagai ketaatan kepada Allah ta’ala.
Demikianlah cara-cara bersyukur kepada Allah ‘azza wa
jalla atas nikmat-Nya. Dengan bersyukur, maka nikmat
Allah akan semakin bertambah. Sebaliknya, jika tidak
bersyukur, maka azab dari Allah akan datang
mengancam. Allah berfirman:

‫لَئِ ْن َش َكرْ تُ ْم أَل َ ِزي َدنَّ ُك ْم َولَئِ ْن َكفَرْ تُ ْم إِ َّن َع َذابِي لَ َش ِدي ٌد‬

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan


menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.” [QS Ibrahim: 7]
Mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada
orang lain adalah bentuk mensyukuri nikmat ilmu.
Menafkahkan harta di jalan Allah adalah bentuk
mensyukuri nikmat harta.Mengonsumsi makanan untuk
menyehatkan tubuh dan tidak membuangnya adalah
bentuk mensyukuri nikmat makanan.Demikianlah
seterusnya.

64
KESIMPULAN
Bersyukur berarti kita mensyukuri apa yang diberikan
ALLAH SWT kepada kita dengan kekuatan iman dan
meyakini bahwa segala sesuatu tidak ada yang sia- sia.
Kita dapat mensyukuri nikmat dengan cara berdzikir,
dengan lisan kita dapat mengucapkan alhamdulillah,
dengan hati yaitu meyakini bahwa segala bentuk nikmat
& berkah datangnya semata hanya dari ALLAH SWT
dan kita dapat mensyukuri nikmat ALLAH SWT dengan
perbuatan kita dengan melaksanakan segala perintah dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Segala bentuk syukur kita merupakan rasa terimakasih
kita kepada ALLAH SWT, dan manusia yang tidak mau
bersyukur maka ia akan rugi karena ALLAH SWT tidak
membutuhkan rasa syukurpun dia tidak akan dirugikan
yang pada dasarnya ALLAH SWT maha kaya akan
sesuatu melainkan orang yang bersyukur ia mensyukuri
untuk dirinya sendiri.

65
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.


Litera AntarNusa. Bogor. 2012.
Syadali, Ahmad. Ulumul Quran. Pustaka
Setia.Bandung.2000
Direktorat Pendidkan Madrasah. Tafsir untuk Kelas XII
MAK. Aceh Besar. 2011.

66