Anda di halaman 1dari 17

Pentalaksanaan Diabetes Militus Tipe 2

Fridolyn Edgar Enggartiarso Ngila 102014063, Calvin Augurius 102016074, Sisca Natalia
102013221, Irma Suryani 102016005, Gracela Salurante 1022016055, Margaretha Gonizales
Sasaka 102016135, Sarah Claudia Yosephine Simanjuntak 102016204, Raz Arissa Nabilah
Razali 102016266.
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 06, Jakarta Barat, 11510, Indonesia

Pendahuluan

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang sudah tidak asing lagi di lingkungan
masyarakat. Sudah banyak sekali orang yang menderita penyakit ini yang diperkirakan sekitar
14,57% kelompok pada usia 45-54 tahun meninggal akibat DM. Angka ini menduduki
ranking kedua penyebab kematian di daerah perkotaan. Indonesia adalah dengan jumlah
penderita DM tertinggi di dunia. Tingginya angka penderita DM ini disebabkan oleh banyak
faktor. Salah satunya adalah pola hidup dan pola makan yang tidak teratur. Selain karena
faktor pola makan dan gaya hidup yang tidak diatur dengan baik, DM bisa timbul karena
kelainan yang terjadi pada sistem tubuh yang berfungsi untuk mengatur pengeluaran
insulin.Sistem tubuh yang mengalami kelainan tersebut adalah reseptor hormon insulin dan
juga bisa terjadi pada sel  pankreas.1 Jika kelainan ini terjadi, maka organ tubuh tidak akan
bisa melakukan tugasnya sebagai pengatur kadar gula dengan baik. Jika pengaturan ini tidak
berjalan baik, orang akan bisa mengalami DM. Sesuai dengan skenario, seorang laki-laki 35
tahun datang untuk berkonsultasi karena ia merasa makin lemas sejak 2 minggu lalu. Pasien
memiliki riwayat diabetes sejak 5 tahun lalu. Maka dari itu, untuk mengetahui secara lengkap
dan jelas, penulis akan membahas tentang diabetes melitus mulai dari anamnesa, pemeriksaan
fisik, diagnosis dan lain sebagainya.

Anamnesis

Diabetes mellitus merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa di dalam darah
tinggi. Ada beberapa gejala klinis yang dapat timbul pada penderita diabetes yang
membawanya memeriksakan diri kepada dokter. Oleh karena itulah, perlu ditanyakan
beberapa pertanyaan berikut pada anamnesis yang dapat mengarahkan diagnosis kepada
diabetes mellitus, yaitu :

1. Identitas pasien
Menanyakan nama, tempat dan tanggal lahir, usia, pekerjaan, alamat, ras, suku, agama

1
dan jenis kelamin pemberi informasi  (misalnya pasien atau keluarga).
2. Keluhan yang dialami pasien :
a. Gejala polidipsi, polifagia, dan poliuria
b. Penurunan berat badan
c. Rasa baal pada ekstremitas
d. Luka yang lama masa penyembuhannya
e. Terjadi disfungsi ereksi pada pria / keputihan pada wanita
f. Lemas
g. Gangguan penglihatan
h. Hipertensi
i. Napas cepat dan dalam, takikardia, dehidrasi
3. Riwayat penyakit dahulu :
a. Riwayat terdiagnosa sebagai penderita diabetes
b. Riwayat pernah dirawat inap di rumah sakit dan sebabnya
c. Riwayat pemeriksaan glukosa darah, HbA1C, glukosa urin
d. Riwayat penyakit vascular perifer, neuropati perifer, penyakit jantung,
retinopati
4. Riwayat penyakit keluarga dan pengobatan :
a. Riwayat diabetes mellitus di dalam keluarga
b. Pernah menjalani / sedang menjalani terapi untuk diabetes
c. Alergi terhadap obat tertentu
5. Riwayat sosial :
a. Pola makan dan olahraga sehari-hari
b. Kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol

Hal-hal diatas jika ditanyakan dengan benar dapat mengarahkan kepada diagnosis
diabetes beserta dengan beberapa komplikasinya.2

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum adalah yang paling pertama kita perhatikan dalam melakukan
pemeriksaan fisik. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital, yaitu
tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nadi, dan frekuensi pernapasan. Inspeksi didahului pada
daerah tungkai bawah yaitu melihat apakah terdapat luka ataupun ulkus, lalu dilanjutkan
inspeksi keseluruhan bagian tubuh untuk melihat adakah tanda-tanda dehidrasi akibat

2
hiperglikemia. Perhatikan juga apakah terdapat tanda takipnea atau pernapasan Kussmaul.
Selain itu pemeriksaan juga dilakukan pada mata yaitu pemeriksaan ketajaman penglihatan
dan respons pupil mata. Pada pemeriksaan fisik di bagian tungkai bawah juga penting untuk
mendeteksi apakah terdapat neuropati dengan tes raba halus menggunakan monofilament dan
tes refleks fisiologis. Palpasi juga dapat dilakukan untuk meraba adanya pulsasi terutama
pada tungkai bagian bawah.2

Dari pemeriksaan fisik, hasil yang didapat adalah:

 Keadaan umum : Baik


 Tekanan darah : 120/80
 Denyut nadi : 88x/menit
 Frekuensi Napas : 16x/menit
 Indeks Massa Tubuh : 22,5
 Lipatan leher dan ketiak : Hiperpigmentasi

Pemeriksaan Penunjang

Kegunaan dari pemeriksaan penunjang adalah untuk keakuratan diagnosis suatu


penyakit. Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk kasus ini adalah.

 Glukosa Darah

Nilai normal glukosa darah puasa bervariasi antara 60 hingga 110 mg/dL (3,3-6,1
mmol/L). Kadar plasma atau serum adalah 10-15% lebih tinggi karena komponen-komponen
struktural sel darah dihilangkan, sehingga akan lebih banyak glukosa perunit volume. Jadi,
nilai normal glukosa plasma atau serum puasa adalah 70-120 mg/dL (3,9-6,7 mmol/L).
Penentuan kadar glukosa darah penuh dilakukan di tempat untuk menguji glukosa pada
keadaan-keadaan darurat dan juga pada prosedur pemantauan sendiri glukosa kapiler. Suatu
teknik yang telah diterima luas dalam penatalaksanaan diabetes melitus.3

 Uji Toleransi Glukosa Oral:

Tes ini digunakan untuk mendiagnostik DM awal secara pasti, namun tes ini tidak
dibutuhkan untuk penapisan dan sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan manifestasi
klinik DM dan hiperglikemia.3

3
 Pemeriksaan HbA1C

HbA1C merupakan hemoglobin terglikosilasi dan dikenal juga sebagai gliko-


hemoglobin yang terbentuk secara perlahan melalui reaksi non-enzimatik dari hemoglobin
dan glukosa. Reaksi non-enzimatik ini berlangsung terus-menerus sepanjang umur eritrosit
sehingga eritrosit tua mengandung A1C lebih banyak daripada eritrosit muda. Proses
glikosilasi non-enzimatik ini dipengaruhi oleh kadar glukosa di dalam darah. Berdasarkan
waktu paruhnya yaitu sekita setengah dari usia eritrosit maka pemeriksaan kadar A1C
digunakan untuk memantau keadaan glikemik untuk kurun waktu 2-3 bulan yang lalu. Nilai
normal kadar A1C adalah 5-8% dari kadar Hb total. Pemeriksaan A1C digunakan untuk
menilai efek pengobatan 8-12 minggu sebelumnya tetapi tidak dapat dipakai untuk menilai
hasil pengobatan jangka pedek. Pemeriksaan ini dianjurkan sedikitnya dilakukan 2 kali dalam
setahun.4

 Kadar Insulin

Untuk mengukur kadar insulin saat melakukan uji toleransi glukosa, maka serum atau
plasma perlu dipisahkan dalam waktu 30 menit sesudah pengambilam spesimen sebelum
diassay. Kadar insulin imunoreaktif normal berkisar antara 5 - 20µU/mL dalam keadaan
puasa, dan mencapai 50 – 130 µU/mL sesudah satu jam, dan biasanya turun kembali dibawah
30µU/mL sesudah 2 jam. Kadar insulin selama TTGO jarang memiliki manfaat klinis karena
alasan-alasan berikut ini : bila kadar glukosa puasa melampaui 120 mg.dL, hiperinsulinemia
dapat timbul secara terlamabat sebagai akibat resistensi insulin pada penderita DM II; akan
tetapi juga dapat terjadi pada bentuk ringan ataupun fase-fase awal dari DM I dimana
pelepasan insulin dini yang lambat dapat menyebabkan hiperglikemia tertunda yang dapat
merangsang pelepasan insulin berlebihan setelah 2 jam.3

Homeostasis Model of Assessment - Insulin Resistance (HOMA-IR):

Merupakan parameter untuk mengukur kualitas / mutu insulin. Jika Homa IR dibawah
nilai normal, berarti kualitas insulin bagus, maka otomatis HbA1C turun sehingga Gula darah
2 jam PP pasti turun. Artinya Homa IR dikatakan baik jika hasilnya < Nilai normal (2,77)

• International Formula: fasting glucose (mmol/L) x fasting insulin (mU/L) / 22.5


• US Formula: fasting glucose (mg/dL) x fasting insulin (µU/mL) / 405

4
Tabel 1. Diagnosis DM Tipe 2 (ADA, 2011)

State Glukosa Darah Puasa TTGO HbA1C


(GDP)
Normal < 100mg/dL < 140mg/dL < 5.7 %
Pre- 100-125mg/dL 140-199mg/dL 5.7 – 6.4%
diabetes
Diabetes ≥ 126mg/dL ≥ 200mg/dL >6.5%

Selain berdasarkan kriteria dari ADA, DM bisa dilihat dari hasil glukosa darah
sewaktu (GDS) dan glukosa darah puasa (GDP). Kriteria DM tipe 2 ini bisa ditegakan
berdasarkan:3

- Gejala klasik DM + GDS ≥ 200mg/dL (cukup u/ menegakan WD)


- Gejala klasik DM + GDP ≥ 126mg/dL (mudah dilakukan)
- TTGO ≥ 200mg/dL (TTGO dilakukan jika gejala klasik tidak terlihat)
Berdasarkan skenario didapatkan hasil pasien sebagai berikut:
GDS = 252mg/dL, HbA1C = 10%, HOMA-IR = 8

Working Diagnosis

Diabetes Mellitus Tipe 2

Resistensi insulin dan sekresi insulin abnormal adalah pusat dari perkembangan DM
tipe 2. Walaupun kelainan utamanya masih kontroversial, kebanyakan studi mendukung
pandangan bahwa resistensi insulin mendahului kecacatan sekresi insulin tetapi diabetes
hanya berkembang jika sekresi insulin tidak memadai. DM tipe 2 mungkin mencakup
sekelompok kelainan dengan fenotipe mirip dengan hiperglikemia. DM tipe 2 dicirikan
dengan kelainan insulin sekresi, resistensi insulin, produksi glukosa oleh hati yang berlebihan
dan kelainan metabolisme lemak.1,4

Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,


disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan
pembuluh darah. Apabila terdapat gejala khas DM dengan pemeriksaan glukosa darah yang
abnormal 1 kali sudah cukup untuk diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan jika tidak
ditemukan gejala khas diabetes maka diperlukan lebih dari 1 kali pemeriksaan glukosa darah
yang abnormal hasilnya. Diagnosis terhadap DM dapat ditegakkan dengan kriteria berikut :

5
1. Gejala khas DM + glukosa darah sewaktu (GDS) ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
2. Gejala khas DM + glukosa darah puasa (GDP) ≥ 126 mg/dL (7,0 mmol/L)
3. Glukosa plasma 2 jam setelah makan dengan TTGO ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L)4

Differential Diagnosis

Diabetes Mellitus Tipe 1

Diabetes tipe 1 dulu dikenal sebagai tipe juvenile-onset dan tipe dependent insulin;
namun kedua tipe ini dapat muncul pada sembarang usia. Insidens diabetes tipe 1 sebanyak
30.000 kasus baru setiap tahunnya dan dapat dibagi dalam dua subtipe: (a) autoimun, akibat
disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel beta; dan (b) idiopatik, tanpa bukti adanya
autoimun dan tidak diketahui sumbernya. Penderita diabetes mellitus tipe I (diabetes yang
tergantung kepada insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan
insulin. Sebagian besar diabetes mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun. Para ilmuwan
percaya bahwa faktor lingkungan (mungkin berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa
kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil
insulin di pankreas.Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik. Pada diabetes
tipe I, 90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi
kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara
teratur. Biasanya orang yang mengalami DM tipe ini di haruskan menggunakan insulin
( Injeksi pastinya) sebagai pengobatannya, penggunaan insulin ini, agar jumlah gula yang
menumpuk tadi, jadi berkurang akibat penambahan insulin ini.5

Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY)

MODY merupakan defek primer pada fungsi sel ß yang mengenai transkripsi insulin
atau massa sel ß. MODY ditandai dengan pewarisan autosomal dominan sebagai defek
monogenic dengan penetransi yang tinggi. Onset yang dini biasanya sebelum usia 25 tahun
sehingga berbeda dengan onset sesudah usia 40 tahun pada sebagian besar pasien diabetes
mellitus tipe 2.Beberapa bentuk Mody menghasilkan hiperglikemia signifikan dan tanda-
tanda dan gejala khas diabetes: meningkatnya rasa haus dan buang air kecil (polidipsia dan
poliuria). Sebaliknya, banyak orang dengan Mody tidak memiliki tanda-tanda atau gejala dan
didiagnosis secara tidak sengaja, ketika glukosa yang tinggi ditemukan selama pengujian
karena penyebab lain, atau pemeriksaan penyaring yang positif pada kerabat dari orang yang
ditemukan memiliki diabetes. Penemuan hiperglikemia ringan selama tes toleransi glukosa

6
rutin untuk kehamilan juga menjadi sangat khas. Di bawah ini merupakan pembagian tipe-
tipe MODY, yaitu :

- MODY 1
o Pada kromosom 20, HNF4-alfa
o Produksi insulin menurun
o Insulin / Sulfonil urea
- MODY 2
o Pada kromosom 7, glukokinase
o Hiperglikemia puasa ringan sepanjang hidup (peningkatan sedikit kadar
glukosa)
o Olahraga dan pengaturan diet
- MODY 3
o Kromosom 12, HNF1-alfa
o Ambang ginjal rendah terhadap glukosa
o Sulfonil urea
- MODY 4
o Kromosom 13, IPF-1
o Terkait dengan agenesis pancreas
o Insulin
- MODY 5
o Kromosom 17, HNF1-beta
o Atrofi pankreas dan beberapa bentuk penyakit ginjal
o Insulin / sulfonil urea
- MODY 6
o Kromosom 2, Neuro D1-beta 2
o Mutasi dari gen untuk faktor transkripsi disebut sebagai neurogenik
diferensiasi 1
o Insulin
- MODY 7-11
o KLF 11, CEL, PAX4, INS, BLK (B-lymphocyte tyrosine kinase)
o Mutasi faktor transkripsi, insufisiensi eksokrin pancreas & DM, mutasi faktor
transkripsi, neonatal diabetes, pancreatic islet cells

7
Karakteristik seseorang dapat didiagnosis menderita MODY adalah hiperglikemia
ringan-sedang (130-250 mg / dL) ditemukan sebelum usia 30 tahun, riwayat keluarga
menderita MODY, tidak ada riwayat menderita penyakit autoimun pada pasien maupun
keluarga, tidak adanya obesitas atau masalah lain yang terkait dengan diabetes tipe 2 atau
sindrom metabolik (misalnya, hipertensi, hiperlipidemia, sindrom ovarium polikistik),
riwayat penyakit ginjal kistik pada kerabat pasien atau pasien sendiri, diabetes neonatal non-
transien / jelas diabetes tipe 1 dengan onset sebelum usia enam bulan, riwayat adenoma hati
atau hepatocellular carcinoma pada Mody tipe 3. Diagnosis Mody dikonfirmasi dengan tes
gen tertentu yang tersedia melalui laboratorium komersial.5

Diabetes Autoimun Laten pada Dewasa (LADA)

Latent Autoimmune Diabetes of Adults (LADA) adalah sebuah konsep yang


diperkenalkan pada tahun 1993 untuk menggambarkan slow-onset autoimun DM tipe 1 pada
dewasa. Biasanya individu dewasa yang menderita LADA sering salah didiagnosa menderita
DM tipe 2 karena mungkin pengaruh dari umur tetapi bukan etiologi. Pasien dengan LADA
memiliki gejala lebih sedikit dibanding DM tipe 2. Ciri khas lainnya adalah pada pasien
LADA ada kesulitan untuk mengontrol kadar glukosa darah menggunakan obat standar
hipoglikemi oral.Pasien LADA memiliki marker autoimmun dalam darahnya seperti marker
pada DM tipe 1 tetapi bisanya pada awal diagnosis, pasien LADA tidak membutuhkan terapi
insulin – bukan insulin dependen. Tetapi ketika kelainan metaboliknya terus berlanjut, maka
pasien dengan LADA akan membutuhkan terapi insulin (insulin dependen) seperti pada DM
tipe 1. Gejala ketoasidosis juga mulai timbul pada keadaan lanjut pasien dengan LADA yang
tidak terkontrol.5

Berdasarkan The UK Prospective Diabetes Study menemukan bahwa antibodi spesifik


LADA dapat ditemukan pada 6% - 10% pasien yang didiagnosis menderita DM tipe 2.
Diagnosis LADA ditegakkan ketika ditemukan peningkatan kadar marker autoantibodi dalam
darah pasien seperti pada DM tipe 1.

Karakteristik LADA yang mungkin dapat digunakan pada diferensial diagnosis :

 Onset biasanya umur 25 tahun atau lebih tua.


 Bergejala awal seperti DM tipe 2 pada orang yang bukan obese. (pasien LADA
biasanya memiliki berat badan yang ideal.

8
 Sering tetapi tidak selalu, pasien LADA jarang memiliki riwayat DM tipe 2 dalam
keluarganya.
 Individu dengan LADA kelihatannya seperti resisten insulin.
 HLA gen berhubungan dengan DM tipe 1 bukan DM tipe 2.
 Biasanya sekitar 12 tahun setelah salah didiagnosa sebagai DM tipe 2, pasien LADA
akan dependen insulin.5

Etiologi

Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis yang lebih sering terjadi, tetapi jauh lebih
sedikit yang telah dipahami karena bersifat multifaktorial. Defek metabolik karena gangguan
sekresi insulin atau karena resistensi insulin di jaringan perifer. Agaknya, diabetes melitus
tipe 2 terjadi ketika gaya hidup diabetogenik (yaitu, asupan kalori berlebihan, pengeluaran
tidak memadai obesitas, kalori) yang ditumpangkan di atas genotipe rentan. Indeks massa
tubuh di mana berat badan berlebih meningkatkan risiko untuk diabetes bervariasi dengan
kelompok-kelompok ras yang berbeda. Sekitar 90% pasien yang mengidap diabetes mellitus
tipe 2 adalah obesitas.5

Faktor risiko utama untuk diabetes mellitus tipe 2 adalah sebagai berikut:
 Umur lebih dari 45 tahun (meskipun, seperti disebutkan di atas, diabetes mellitus tipe
2 terjadi dengan frekuensi yang meningkat pada orang muda)
 Bobot yang lebih besar dari 120% dari berat badan yang diinginkan
 Riwayat keluarga diabetes tipe 2 pada seorang saudara tingkat pertama (misalnya,
orang tua atau saudara)
 Sejarah toleransi glukosa terganggu sebelumnya (IGT) atau glukosa puasa terganggu
(IFG)
 Hipertensi (> 140/90 mm Hg) atau dislipidemia (high-density lipoprotein [HDL]
tingkat kolesterol <40 mg / dL atau tingkat trigliserid> 150 mg / dL)
 Sejarah diabetes mellitus gestasional atau melahirkan bayi dengan berat lahir ≥ 4000
gram
 Sindrom ovarium polikistik (yang mengakibatkan resistensi insulin)5

Epidemiologi

9
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh
dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya terus
meningkat dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka ini akan bertambah
menjadi 366 juta atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun
lebih sering (terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens terbesar
terjadi di Asia dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup,
seperti pola makan “Western-style” yang tidak sehat. Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun,
10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa
selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus
yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM
maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada
golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Daerah dengan angka penderita
DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan
kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%. Beberapa hal yang
dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral), hipertensi, kurangnya
aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.5,6

Patofisiologi

Diabetes mellitus tipe 2 tampaknya terjadi karena sekumpulan cacat genetic yang
masing-masing menimbulkan risiko predisposisinya sendiri dan dimodifikasi oleh faktor-
faktor lingkungan. Berbeda dengan tipe 1, pada diabetes tipe 2 tidak ada bukti yang
menunjukkan dasar autoimun. Dua defek metabolic utama yang menandai diabetes tipe 2
adalah resistensi inslin dan disfungsi sel ß.6

 Resistensi Insulin

Resistensi insulin merupakan keadaan berkurangnya kemampuan jaringan perifer


untuk berespons terhadap hormone insulin. Sejumlah penelitian fungsional pada orang-orang
dengan resistensi insulin memperlihatkan sejumlah kelainan kuantitatif dan kualitatif pada
lintasan penyampaian sinyal insulin yang meliputi penurunan jumlah reseptor insulin,
penurunan fosforilasi reseptor insulin serta aktivitas tirosin kinase, dan berkurangnya kadar
zat-zat antara yang aktif dalam lintasan penyampaian sinyal insulin. Resistensi insulin diakui
sebagai sebuah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor genetic serta
lingkungan. Sebagian besar faktor genetic yang berkaitan dengan resistensi insulin masih

10
menjadi misteri karena mutasi pada resptor insulin itu sendiri sangat sedikit menyebabkan
seseorang mengidap diabetes tipe 2. Diantara faktor-faktor lingkungan, obesitas memiliki
korelasi yang paling kuat. Korelasi obesitas dengan DM tipe 2 telah dikenali selama beberapa
decade dan resistensi insulin menjadi kelainan yang mendasarinya. Risiko terjadinya diabetes
meningkat seiring indeks massa tubuh yang meningkat, dan keadaan ini mennunjukkan
korelasi dosis-respons antara lemak tubuh dan resistensi insulin. Faktor-faktor yang
mempengaruhi resistensi insulin pada obesitas meliputi kadar asam lemak bebas yang tinggi
di dalam darah yang beredar dan intrasel. Kadar asam lemak bebas yang tinggi di dalam
darah dan sel ini dapat mempengaruhi fungsi insulin (lipotoksisitas) dan sejumlah sitokin
yang dilepaskan oleh jaringan adipose (adipokin); sitokin ini meliputi leptin, adiponektin dan
resistin, PPAR-ɣ (suatu reseptor nukleusadiposit yang diaktifkan oleh kelas preparat
antidiabetik baru yang dinamakan thiazolidinedion dapat memodulasi ekspresi gen dalam
adiposity dan hal ini akhirnya akan mengurangi resistensi insulin.6

 Disfungsi sel ß

Disfungsi sel ß bermanifestasi sebagai sekresi insulin yang tidak adekuat dalam
menghadapi resistensi insulin dan hiperglikemia. Disfungsi sel ß bersifat kualitatif (hilangnya
pola sekresi insulin normal yang berayun/osilasi dan pulsatil serta pelemaan fase pertama
sekresi insulin cepat yang dipicu oleh peningkatan glukosa plasma) maupun kuantitatif
(berkurangnya massa sel ß, degenerasi pulau Langerhans, dan pengendapan amiloid dalam
pulau Langerhans).6

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis diabetes klasik adalah rasa haus yang berlebihan yang
mengakibatkan banyak minum (polidipsi), sering kencing (poliuria) terutama pada malam
hari (nokturia) yang dapat mengganggu kehidupan, banyak makan (poliphagi) tapi berat
badan menurun dengan cepat. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan
pada jari tangan dan kaki (neuropati), cepat lapar, penglihatan jadi kabur, gairan seks
menurun, infeksi dan luka yang sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas
4 kg.5,6

Penatalaksanaan

11
Pengobatan dibagi atas atas medicamentosa (menggunakan obat–obat yang di minum)
dan juga non-medicamentosa (tidak mengonsumsi obat). 7

Medikamentosa

A. Macam-macam Obat Hipoglikemik Oral:


1) Golongan Insulin Sensitizing
o Biguanid
Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin.
o Glitazone
Golongan Thiazolidinediones atau glitazone adalah golongan obat yang juga
mempunyai efek farmakologis untuk meningkatkan sensitivitas insulin.
2) Penghambar Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di
dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan
glukosa dan menurunkan hiperglikemia postprandial. Obat ini bekerja di lumen
usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar
insulin.
3) Golongan Sekretagok Insulin
Sekretagok insulin mempunyai efek hipoglikemik dengan cara stimulasi sekresi
insulin oleh sel beta pancreas. Golongan ini meliputi sulfonylurea dan glinid.
o Sulfonilurea
Sulfonylurea sering digunakan sebagai terapi kombinasi karena
kemampuannya untuk meningkatkan atau mempertahankan sekresi insulin.
o Glinid
Repaglinid dapat menurunkan glukosa darah puasa walaupun mempunyai
masa paruh yang singkat karena lama menempel pada kompleks
sulfonylurea sehingga dapat menurunkan ekuivalen A1C pada SU. Sedang
nateglinid mempunyai masa tinggal lebih singkat dan tidak menurunkan
glukosa darah puasa. Sehingga keduanya merupakan sekretagok yang
khusus menurunkan glukosa postprandial dengan efek hipoglikemik yang
minimal.7
B. Insulin

12
Insulin diberikan melalui subkutan dan digunakan pada semua pasien dengan diabetes
tipe 1 dan sebagian pasien dengan diabetes tipe 2. Obat hipoglikemik oral (misalnya
metformin) terkadang diberikan bersama terapi insulin untuk penderita diabetes tipe 2 untuk
memperbaiki sensitivitas terhadap insulin.7

Non-medica mentosa

Modalitas yang ada pada penatalaksanaan diabetes mellitus terdiri dari: terapi non
farmakologis yang meliputi perubahan gaya hidup dengan melakukan pengaturan pola makan
yang dikenal sebagai terapi gizi medis, meningkatkan aktivitas jasmani dan edukasi berbagai
masalah yang berkaitan dengan penyakit diabetes yang dilakukan secara terus menerus. kedua
terapi farmakologis, yang meliputi pemberian obat ati diabetes oral dan injeksi insulin. 7

- Terapi Gizi

Terapi gizi medis ini pada prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola makan yang
didasarkan pada status gizi diabetisi dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan
individual.Beberapa manfaat yang telah terbukti dari terapi gizi medis ini antara lain:

1. menurunkan berat badan


2. menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik
3. menurunkan kadar glukosa darah
4. memperbaiki profil lipid
5. meningkatkan sensitivitas reseptor insulin
6. memperbaiki system koaguasi darah7

Komplikasi

Komplikasi akut sebagai penyulit pada diabetes melitus adalah :

1. Ketoasidosis diabetik
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi-kekacauan metabolik
yang ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh
defisiensi insulin absolut atau relatif. KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi
akut diabetes melitus (DM) yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat.
Akibat diuresis osmotik, KAD biasanya mengalami dehidrasi berat dan bahkan dapat
sampai menyebabkan syok. Pada pasien KAD dijumpai pernapasan cepat dan dalam

13
(Kussmaul), berbagai derajat dehidrasi (turgor kulit berkurang, lidah dan bibir kering),
kadang-kadang disertai hipovolemia sampai syok. Bau aseton dari hawa napas tidak
terlalu mudah tercium. Bila dijumpai kesadaran koma perlu dipikirkan penyebab
penurunan kesadaran lain (misalnya uremia, trauma, infeksi, minum alkohol). Infeksi
merupakan faktor pencetus yang paling sering.5
2. Hiperosmolar Hiperglikemik non ketotik
Sindrom HHNK ditandai oleh hiperglikemia, hiperosmolar tanpa disertai adanya
ketosis. Gejala klinis utama adalah dehidrasi berat, hiperglikemia berat dan seringkali
disertai gangguan neurologis dengan atau tanpa adanya ketosis. Perjalanan klinis
HHNK biasanya berlangsung dalam jangka waktu tertentu (beberapa hari sampai
beberapa minggu), dengan gejala khas meningkatnya rasa haus disertai poliuri,
polidipsi dan penurunan berat badan. Koma hanya ditemukan kurang dari 10% kasus.
HHNK biasanya terjadi pada orang tua dengan DM, yang mempunyai penyakit
penyerta yang mengakibatkan menurunnya asupan makanan.5
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia pada pasien diabetes tipe 1 (DMT 1) dan diabetes tipe 2 (DMT 2)
merupakan faktor penghambat utama dalam mencapai sasaran kendali glukosa darah
normal atau mendekati normal. Tidak ada definisi kendali glukosa darah yang baik
dan lengkap tanpa menyebutkan bebas dari hipoglikemia. Risiko hipoglikemia timbul
akibat ketidaksempurnaan terapi saat ini, di mana kadar insulin di antara dua makan
dan pada malam hari meningkat secara tidak proporsional dan kemampuan fisiologis
tubuh gagal melindungi batas penurunan glukosa darah yang aman. Faktor paling
utama yang menyebabkan hipoglikemia sangat penting dalam pengelolaan diabetes
adalah ketergantungan jaringan saraf pada asupan glukosa yang berkelanjutan.5

Prognosis

Sepanjang dapat dikontrol dengan baik, prognosis DM dapat memuaskan. Selain itu juga
ketaatan pasien sangat menentukan juga prognosis kelainan ini. Kadar glukosa darah harus
dijaga agar selalu optimal; tidak berlebihan ataupun kekurangan. Pencegahan atau
penanganan komplikasi yang cepat juga dapat menurunkan angka mortalitas dari penyakit
ini.7

Pencegahan

14
Pencegahan primer memiliki sasaran yaitu masyarakat yang masih sehat. Semua pihak
di dalam masyarakat harus mengembangkan dan membudayakan pola hidup sehat dan
menghindari pola hidup yang meningkatkan risiko DM. Mengkampanyekan makanan sehat
yang mengandung lemak dengan kadar yang rendah atau pola makan seimbang harus
ditanamkan sejak usia dini. Juga menganjurkan olahraga agar tetap dapat menjaga berat
badan agak tidak berlebihan.

Pencegahan sekunder adalah ditujukan kepada para penderita DM untuk mencegah


terjadinya komplikasi dengan mengingatkan pentingnya kepatuhan minum obat dan latihan
fisik secara teratur serta menjaga pola makan. Penyuluhan tentang diabetes dan cara
mencegah komplikasinya perlu diberikan bagi para penderita DM dan keluarga ataupun
kerabat dekatnya. Terakhir pencegahan tersier dengan sasaran pada penderita DM yang sudah
maupun belum mengalami komplikasi dengan tujuan mencegah terjadinya komplikasi
ataupun kecacatan yang diakibatkannya. Upaya ini terdiri dari 3 tahap :

1. Pencegahan komplikasi diabetes yang pada consensus dimasukkan sebagai


pencegahan sekunder
2. Mencegah berlanjutnya progresi komplikasi untuk tidak menjurus kepada penyakit
organ
3. Mencegah terjadinya kecacatan disebabkan oleh karena kegagalan organ tubuh atau
jaringan.7

Kesimpulan

Diabetes melitus tipe 2 merupakan kelainan metabolik gabungan dari penurunan


sekresi insulin, peningkatan resistensi insulin dan pembentukan glukosa berlebihan.
Manifestasi utamanya adalah kadar glukosa darah yang sangat tinggi dengan gejala klinis
yang menyertainya.Pada kasus yang didapat, laki-laki berusia 35tahun datang dengan
keluhan semakin lemas sejak 2 minggu yang lalu. Hal ini diperkuat dengan hasil
laboratorium yang didapat, yaitu kadar gula darah sewaktu : 252 mg/dL, HbA1C : 10%, dan
HOMA-IR : 8. Berdasarkan hasil laboratorium tersebut dapat ditegakkan diagnosis bahwa
pasien tersebut menderita DM tipe 2.

15
Daftar Pustaka

1. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci AS, Hauser SL, Loscalzo J. Harrison’s
Principle of Internal Medicine. 18th ed. USA: McGraw-Hill; 2012.p.2968-75.
2. Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga;
2007.h.138-9.
3. Karam JH, Forsham PH. Hormon-hormon pankreas dan diabetes melitus. Dalam:
Greenspan FS, Baxter JD, editor. Endokrinologi dasar dan klinis. Edisi ke-4.
Jakarta: EGC; 2008.h.754-72.
4. Halim SL, Iskandar I, Edward H, Kosasih R, Sudiono H. Patologi klinik: Kimia
klinik. Edisi kedua. Jakarta: Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Ukrida;
2013.h.51-62.
5. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S. Buku ajar penyakit
dalam jilid III. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1880-3.
6. Mitchell RN. Buku saku dasar patologis penyakit Robbin & Cotran. Edisi ketujuh.
Jakarta: RGC; 2009.h.669-78.
7. Suherman SK. Insulin dan antidiabetika oral. Dalam: Farmakologi dan terapi.
Edisi kelima. Jakarta: Badan penerbit FKUI; 2011.h.481-95.

16
PR

Bagaimana cara membedakan MODY dan LADA?

Latent Autoimmune Diabetes in Adults (LADA) adalah gangguan di mana adanya antibodi


islet pada diagnosis diabetes dan lambatnya perkembangan autoimmune β-cell failure. Karena
itu penderita diabetes LADA tidak membutuhkan insulin, setidaknya selama 6 bulan pertama
setelah diagnosis diabetes. Di antara pasien dengan diabetes tipe 2 fenotipik, LADA terjadi
pada 10% dari orang yang lebih tua dari 35 tahun dan 25% di bawah usia itu.

"Maturity onset diabetes kaum muda" (MODY) mengacu pada salah satu dari beberapa
bentuk turun-temurun diabetes mellitus yang disebabkan oleh mutasi pada gen dominan
autosom yang mengganggu produksi insulin. MODY sering disebut sebagai "diabetes
monogenik" untuk membedakannya dari jenis diabetes yang lebih umum (terutama tipe 1 dan
tipe 2), yang melibatkan kombinasi yang lebih kompleks dari penyebab yang melibatkan
banyak gen dan faktor lingkungan. MODY 2 dan MODY 3 adalah bentuk yang paling umum.

MODY tidak boleh disamakan dengan diabetes orang dewasa autoimun laten (LADA) -
bentuk DM tipe 1, dengan perkembangan lebih lambat ke ketergantungan insulin daripada
DM tipe 1 onset anak, dan yang terjadi di kemudian hari.

17