Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Ilmiah Solusi Vol. 1 No.

1 Januari – Maret 2014: 64-76

Pendidikana Ala “Paulo Freire” Sebuah Renungan

Masykur H Mansyur
IAIN Cirebon DPK FAI Universitas Singaperbangsa Karawang

LATAR BELAKANG
Pada tanggal 2 Mei 1997 Paulo Freire tokoh pendidikan yang sangat kontroversial
meninggal dunia.Ia menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam
masyarakat Brasil. Menurut Freire bahwa sistem pendidikan yang ada sama sekali
tidak berpihak kepada rakyat miskin, tapi sebaliknya justru mengasingkan dan
menjadi alat penindasan bagi penguasa. karenanya sistem yang ada harus dihapus
dan digantikan dengan sistem yang lebih memihak kepada kaum miskin.
Freire menawarkan suatu sistem pendidikan alternatif yang relevan bagi masyarakat
miskin dan marginal.
Alternatif yang ditawarkan freire adalah sistem pendidikan “hadap
masalah”(problem facing of education)“sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya
bank”(pedagogy of liberation)1
Konsepsi ini bertolak dari pemahamannya tentang manusia.Ia menganggap
bahwa manusia merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapkan pada
peserta didik supaya ada kesadaran atas realitas itu. hal itu juga dilandaskan
pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk bereaksi dalam
realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya ekonomi dan
politik”2
Yang pada akhirnya Paulo Freire memformulasikan filsafat pendidikannya
sendiri, yang ia namai dengan “pendidikan kaum tertindas”
Berbeda dengan Paulo Freire, Islam sebagai ajaran yang utuh mengatakan bahwa
ayat yang pertama kali turun, ( iqra’) adalah mengandung dimensi pendidikan yang
utuh. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ajaran Islam adalah mengandung
sebuah tatanan kehidupan yang pertama kali menjunjung tinggi nilai-nilai asasi
manusia tentang pentingnya pendidikan.
Disamping itu Islam memandang bahwa pendidikan diharapkan mampu
mengantarkan umat manusia memilki bekal untuk melestarikan kehidupan di
bumi.Pendidikan dilaksanakan untuk mengantarkan umat manusia menuju
pencerahan agar mereka memiliki bekal untuk melestarikan kehidupan di bumi.

SEJARAH SINGKAT PAULO FREIRE


Paulo Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan
di Brasil bagian timur laut, wilayah kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan penuh
hormat dan cinta dia menceritakan kedua orang tuanya. Joaquim Temistocles
Freire.Ibunya bernama Edeltrus Neves Freire berasal dari Pernambuco. Ketika krisis
ekonomi Amerika serikat tahun 1922 mulai melanda Brasil, orangtuanya yang
termasuk kelas menengah itu mengalami kejatuhan financial sangat hebat, sehingga
1
Moh Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, Ar-ruz
Media, Jogjakarta, 2009,hlm 158
2
Intim, Jurnal teologi kontekstual edisi,8 tahun 2005, hlm 44

64
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

Freire terpaksa belajar mengerti apa artinya lapar bagi anak sekolah. Pada tahun
1931 keluarga Freire terpaksa pindah ke Jabatao.Ayahnya meninggal dunia ditempat
itu. Pengalaman mendalam akan kelaparan sewaktu masih bocah menyebabkan
Freire pada umur sebelas tahun bertekat untuk mengabdikan hidupnya pada
perjuangan melawan kelaparan agar anak-anak lain jangan sampai mengalami
kesengsaraan yang tengah dialaminya itu. Tertinggal dua tahun dibanding teman-
teman sekelasnya, pada umur limabelas tahun ia lulus dengan nilai pas-pasan untuk
dapat masuk sekolah lanjutan. Namun setelah situasi keluarganya agak membaik,
Paulo Freire mampu menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan masuk
Universitas Recife dengan mengambil Fakultas Hukum.Dia juga belajar filsafat dan
psikologi bahasa sambail menjadi guru penggal-waktu bahasa Portugis di sekolah
lanjutan.
Pada tahun 1944, Freire menikah dengan Elza Maia Costa Oliviera.seorang guru
sekolah dasar yang berasal dari Recife. Dari pasangan ini lahir tiga orang putri dan
dua orang putra.Freire mengatakan bahwa dalam masa itu perhatiannya mengenai
teori-teori pendidikan mulai tumbuh. Dia lebih banyak membaca tentang pendidikan
daripada hukum, dibidang tempat ia merasa sebagai mahasiswa rata-rata saja. Setelah
lulus sarjana hukum, yang dijadikan pangkalan sumber penghidupan, dia bekerja
sebagai pejabat dalam bidang kesejahteraan. Bahkan menjadi Direktur Bagian
Pendidikan dan Kebudayaan SESI (pelayanan sosial) dinegara Bagian
Pernambuco.Pengalaman selama tahun 1946-1954 membawa Freire pada kontak
langsung dengan kaum miskin di kota-kota.Pengalaman itu sangat bermanfaat dalam
penelitian-penelitiannya, pada 1961 dan menjadi bahan dalam mengembangkan
metode dialogik dalam pendidikan. Keterlibatan dalam pendidikan orang dewasa
juga dimasukkan dalam seminar-seminar yang dipimpinya dan dalam sejarah filsafat
pendidikan yang diberikannya di Universitas Recife, tempat ia memperoleh gelar
doktor pada 1959.
Sewaktu bertugas sebagai Direktur Pelayanan Extension Kultural Universitas
Recife yang menerapkan program kenal aksara dikalangan petani di Timur
laut.Metode yang dipakai kelak dikenal sebagai Metode Paulo freire, meskipun
dia sendiri tidak pernah mau menamakan demikian. Pada Juni 1963 sampai
Maret 1964 Freire bekerja dengan timnya untuk seluruh Brasil. Mereka
berhasil menarik kaum tuna aksara untuk belajar membaca dan menulis dalam
waktu cukup singkat yaitu 45 hari.3

Tidak itu saja bahwa mereka juga dibawa ke alam bagaimana memahami pada
kesadaran politik, sehingga mereka memahaminya dalam kontek kehidupan nyata.
Disamping itu, gagasan Freire tidak hanya menggerakkan dorongan
masyarakat agar bisa membaca dan menulis kata, tapi lebih dari itu, yaitu
mengajak masyarakat agar dapat membaca dunia.dengan kata lain, membaca
kata itu merupakan jembatan menuju pembacaan dunia secara lebih lengkap,
komprehensif dan holistik4

3
Paulo Freire, Pendidikan kaum Tertindas, LP3ES, Jakarta, 2008 Cet ke 6, hal x-xiii
4
Moh Yamin, Menggunggat pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, hlm
145

65
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

PANDANGAN PAULO FREIRE TENTANG PENDIDIKAN


Paulo Freire sebagai sosok yang secara teoritis sekaligus praktis telah menjalankan
agenda pendidikan.Telah melakukan perubahan-perubahan hidup masyarakat melalui
pendidikan.Dia adalah seorang pejuang pendidikan yang telah membebaskan
masyarakat dari kebodohan dan kegelapan.Konsep pendidikannya betul-betul
memanusiakan manusia dan memberadabkan manusia.
Dengan demikian,
pendidikan mengembalikan jati diri manusia yang sesungguhnya sebagai
manusia yang merdeka, berhak untuk hidup, tidak ditindas, dan tidak
diperlakukan secara sewenang-wenang. Pendidikan merupakan malaikat
penjaga kebaikan kehidupan manusia dari kejahatan5.
Pendidikan akan selalu berkaitan dengan manusia, sehingga sulit menafikan
pemahaman akan kemanusiaan itu sendiri baik dalam bangunan filosofis, teoritik,
sampai pada praktis pelaksanaannya.
Pendidikan itu seharusnya dinamis, kontekstual dan tanpa kelas dan diskriminatif
begitu pandangan Paulo Freire, seorang Begawan pendidikan asal Brasil yang
terkenal dengan ide-ide revolusionernya.Baginya pendidikan harus mampu
membebaskan.Membebaskan manusia kaum-kaum tertindas dan kaum-kaum
penindas dari sistem pendidikan yang menindas.
Pendidikan kaum tertindas harus diciptakan bersama dengan dan bukan untuk
kaum tertindas dalam perjuangan memulihkan kembali kemanusiaan yang
telah dirampas. Pendidikan kaum tertindas harus merupakan perjuangan
melawan penindasan dalam situasi dimana dunia dan manusia berada dalam
interaksi. Oleh karena itu, dalam perjuangan ini diperlukan praksis yang
merupakan sebuah proses interaksi antara refleksi dan aksi, salah satu faktor
penting dalam gerakan pembebasan tersebut adalah perkembangan
kesadaran.6
Sadar akan perubahan dan kepastian masa depan mereka yang tertindas, Paulo
mengatakan.
Kelompok yang tertindas perlu berjuang untuk melakukan perubahan terhadap
penderitaan yang mereka alami, bukannya menyerah begitu saja.Menyerah
pada penderitaan adalah sebuah bentuk penghancuran diri, maka harus ada
perubahan yang diyakini dan menggerakkan semangat. Hanya dengan
keyakinan ini yang terus menggelora sampai saatnya berjuang, mereka dapat
memiliki masa depan yang berarti, bukannya ketidakjelasan yang
mengalienasi atau masa depan yang sudah ditakdirkan, namun menjadi tugas
untuk membangun, dan ini sebutir benih kebebasan7.

5
Moh Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, hlm,
135.
6
Paulo Freire, pendidikan Kaum Tertindas, hlm xx
7
Paulo Freire, Politik Pendidikan, kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, REaD bekerjasama dengan
Pustaka pelajar, Yogyakarta, 2007 cet,vi, hlm 243

66
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

Berikut ini beberapa pandangan Paulo Freire tentang pendidikan


Pandangan Paulo Freire tentang pendidikan tercermin dalam kritiknya yang tajam
terhadap sistem pendidikan dan dalam pendidikan alternatif yang ia tawarkan. Baik
kritikan maupun tawaran konstruktif Freire keduanya lahir dari suatu pergumulan
dalam konteks nyata yang ia rasakan di Brasil dan sekaliguis merupakan refleksi dari
filsafat pendidikannya yang berporos pada pemahamannya tentang manusia.

1. Pendidikan Kritis Paulo Freire


Gagasan pendidikan Freire dalam memperjuangkan anak-anak miskin agar tetap
bersekolah dan belajar merupakan hal yang sangat hakiki.Ini dilakukan dalam rangka
mengentaskan kebodohan, ketertindasan keterbelakangan dan sebagainya.Ini terbaca
dari pandangannya tentang pendidikan.
Pendidikan merupakan satu kesatuan yan utuh antara yang satu dengan yang
lainnya, Freire pernah berkata kami tidak pernah menganggap pendidikan
untuk memberantas buta huruf sebagi sebuah bidang yang terpisah, sebagai
proses belajar mengajar yang mekanis , namun kami memandang pendididkan
sebagai tindakan politik political act yang terkait secara langsung dengan
produksi, kesehatan, hukum dan seluruh rencana yang akan diberlakukan
untuk masyarakat.8
Konsep politik dan pendidikan Freire mempunyai visi filosofis yaitu “ manusia yang
terbebaskan” (liberated humanity)9
Hal ini dimaksudkan bahwa apa yang disampaikan pada kaum tertindas tidak sekedar
menjadi hiburan, dan juga bukan untuk terus menerus menentang kekuatan obyektif
kaum tertindas sebagaimana kata Dorothee Soelle dalam Choosing Life “hidup ini
menjadi berarti bagi saya dan memungkinkan segalanya ….. it is a great ‘Yes’ to life
….. mengharuskan kita agar mempunyai kekuasaan untuk memperjuangkan masa
depa”10
Bagi Freire program-program pendidikan progresif seperti pendidikan orang dewasa,
restrukturisasi kurikulum, partisipasi masyarakat dan seperangkat kebijakan ambisius
untuk demokratisasi sekolah dikerjakan.salah satu yang cukup menarik adalah
pandangannya bahwa pendidikan selalu merupakan tindakan politis. Pendidikan selalu
melibatkan hubungan sosial dan melibatkan pilihan-pilihan politik. Yang jelas tatkala
pendidikan memiliki hubungan yang erat dengan sosial, maka pendidikan akan
memberikan pengaruh terhadap perubaha sosial yang ada.
Bila dikaitkan dengan tipe pendidikan yang digagas Freire, Moh Yamin mengutip
W.A.Smith dalam the meaning of conzientizacao, the goal of Paulo Freire, ada tiga
tipe pendidikan yaitu “ pendidikan magis pendidikan naïf, dan pendidikan kritis”11
Ketika masyarakat tetap dalam keadaan miskin mereka menjadi budak para
penguasa dan tidak berbuat apa-apa kecuali menerima saja perlakuan dan penganiyaan
tersebut disebut pendidikan magis. Atau dengan kata lain konsep pendidikan magis

8
Paulo Freire, Pendidikan Sebagai Proses, Surat-surat menyurat Pedagogis dengan para pendidik Guinea-
Bissau,Yogyakarta Pustaka Pelajar, tahun 2008 Cet III, hlm 15.
9
Paulo Feire, Politik Pendidikan Kebudayaan Kekuasaan dan Pembebasan, hlm 12
10
Ibid 12
11
Moh Yamin, hlm 140

67
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

adalah konsep pendidikan ketika masyarakat menganggap bahwa nasib yang menimpa
dirinya adalah takdir yang sudah diatur oleh Tuhan Sang Pencipta.
Hampir sama dengan pendidikan magis, pendidikan naif menganggap bahwa
masyarakat sudah paham dan mengerti segala carut marut disekitarnya, tapi mereka
tidak berbuat apa-apa, bahkan apatis, persoalan tersebut dibiarkan saja tanpa adanya
kepedulian untuk keluar dari persoalan tersebut, bahkan menikmatinya walaupun
mereka sadar akan menyebarkan benih-benih kesusahan. Dan tidak ada sama sekali
upaya untuk keluar dari persoalan tersebut.
Sedangak pendidikan kritis justru hadir untuk membangkitkan kesadaran
masyarakat untuk peduli dan kritis terhadap segala persoalan yang terjadi dalam
lingkungn mereka, sebut saja seperti persoalan kemiskinan, maupun penindasan yang
dilakukan penguasa terhadap mereka. Caranya adalah melalui sebuah pembangunan
berpikir yang mampu memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam dirinya, yang
selanjutnya dibenturkan dengan realitas pahit yang mereka alami, dan bagaimana
konstruksi masyarakat yang sedang membentuk mereka, apakah ada unsure
sewenang-wenang dan sebagainya.
Dalam konsep pendidikan kritis yang menjadi tujuan akhir adalah masyarakat dapat
memiliki pandangan yang peka terhadap segala bentuk tindakan dari pihak penguasa
atas pihak yang dominan yang akan menjadikan mereka pihak ditindas maupun
tertindas.
Dengan hadirnya tata ekonomi informasi global yang baru telah membuat Freire
lebih relevan dalam pendidikan daripada dalam kebijakan sosial.
Freire telah mendefinisikan kembali makna politis pendidikan dan merenung
kembali pokok-pokok mendasar berkenaan dengan pendidikan.Baginya
pendidikan mempunyai potensi membebaskan, mencerdaskan, dan pendidikan
yang membebaskan merupakan jalan menuju pengetahuan dan pemikiran
kritis.Pengetahuan adalah dasar landasan tata ekonomi informasi global yang
baru. Globalisasi telah memperbesar arti penting , pengetahuan, sifat inovasi,
pemikiran kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Kemajuan dibidang
ekonomi dinegeri manapun makin lama makin memerlukan basis yang luas
berupa individu-individu yang sangat sadar, percaya diri, berpemikiran kritis,
berperan serta, melek huruf. dan melek angka untuk berkompetisi dalam tata
ekonomi dunia yang baru.12
Diharapkan pendidikan yang bekerja secara berhasil guna untuk menjaga anak-anak
miskin tetap bersekolah dan belajar merupakan hal yang sama sekali hakiki untuk
dilaksanakan. Konsepsi Freire tentang pendidikan juga merupakan hal yang hakiki
untuk sifat fleksibel dalam pemusatan perhatian Freire pada pemikiran kritis,
pengembangan identitas kolektif, partisipasi demokratis dan bekerjasama.
Akhirnya Feire mengatakan;
Freire memikirkan pendidikan kritis sebagai bentuk net working penciptaan
jaringan kerja-suatu komunitas pengetahuan dan pembentukan
pengetahuan.jaringan-jaringan yang baru juga hakiki untuk sifat fleksibel dan
produktif13

12
Paulo Freire, Pedagogi Hati, Kanisius, Yogyakarta, 2001, hlm, 18
13
Ibid hlm 19

68
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

2. Pentingnya sekolah.
Di Guinea Bissau negri yang pernah dikunjung Freire terdapat sekolah
a. Basic Instruction dengan masa studi enam tahun yang ditempuh dalam
dua tahap empat dan dua tahun.
b. General Equivalency dengan masa studi tiga tahun.
c. Midlle-Level yang bermacam-macam jenisnya tergantung pada muatan
materialnya yang khusus dengan masa studi dua sampai tiga tahun14
Basic Instruction harus diikuti oleh seluruh masyarakat dalam rangka membangun
sebuah masyarakat baru.
Bahwa pelajaran disekolah bukan hanya untuk melanjutkan kejenjang berikutnya, tapi
pendidikan yang sesungguhnya dimana isinya terkait secara dialektis dan terus
menerus sesuai dengankebutuhan masyarakat. Nilai-nilai yang diajarkan dalam
pendidikan tidak akan berarti apa-apa jika tidak diwujudkan dalam kehidupan ,nilai-
nilai tersebut hanya dapat diwujudkan dalam kehidupan.
Dua tahun berikutnya dalam Basic instruction, melibatkan siswa dalam kegiatan yang
sama, namun pada level yang lebih tinggi, mereka telah berpengalaman sekaligus
dalam bekerja dan mencari pengetahuan, serta melakukan penelitian secara lebih
mendalam.
Pada level general equivalency instruction, adalah untuk merespon kebutuhan
masyarakat yang paling mendesak, dan memberi kesempatan siswa untuk memilih
sektor mana yang ingin digeluti. Dan kegiatan praktis harus sesuai dengan kebutuhan
setiap daerah. Dan tidak mengabaikan keterampilan umum seperti pertukangan,
kelistrikan dan pertanian yang diperoleh siswa mwlalui pratek.
Pada General Equivalency level akan berlanjut pada Middle-Level Polytechnical
Institutes. Yaitu bertujuan melatih para teknisi yang berbeda-beda dengan memberi
bekal yang cukup agar kontribusi mereka menjadi signifikan dalam perubahan
masyarakat. Pelatihan ini tidak akan membentuk mereka menjadi birokrta yang
berpandangan yang sempit, hanya memprhatikan keahliannya sehingga terasing dari
masalah diluar keahliannya. Karenanya;
Freire menegaskan bahwa”sikap saya yang tidak pernah mau menerima, hari
ini atau hari kemarin bahwa praktek pendidikan harus dibatasi pada
“pembacaan kata”,” pembacaan teks”, tapi selalu percaya bahwa praktek
pendidikan juga harus meliputi pembacaan “konteks”, “pembacaan dunia”15
Fungsi sekolah yang mengemban misi agung sebagai pencerdas kehidupan
bangsa, kini tak ubahnya lahan bisnis untuk memperoleh keuntungan.Akibatnya hanya
kelompok elit sosiallah yang mendapatkan pendidikan yang cukup dan
memadai.Kaum miskin menjadi kaum yang marginal secara terus-menerus.Merekalah
yang sering disebut Freire sebagai korban “penindasan”. Proses penindasan yang
sudah mewabah dalam berbagai bidang kehidupan semakin mendapat legitimasi lewat
sistem dan metode pendidikan yang paternalistic, murid sebagai obyek pendidikan,
instruksional dan anti dialog. Dengan kata lain pendidikan pada kenyataannya tidak

14
Paulo Freire , Pendidikan sebagai Proses, hlm 56
15
Paulo Freire, Pedagogi Hati, hlm 50.

69
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

lain adalah proses pembenaran dari praktek-praktek yang melembaga. Secara ekstrim
freire menyebut secara fungsional penindasan berarti penjinakan16
Digiring kearah ketaatan bisu, dipaksa diam dan keharusan memahami realitas
diri dan dunianya sebagai kaum tertindas.Bagi kelompok elit sosial, kesadaran
golongan tertindas membahayakan struktur dalam masyarakat hirearkis pyramidal.
Sama halnya dengan di negara kita menurut Ki Hajar Dewantara bahwa, seperti
diketahui, pada zaman VOC, bangsa Belanda menganggap tanah air kita
hanya sebagai obyek perdagangan.Mencari dan mendapat keuntungan
materiil yang sebesar-besarnya adalah tujuan dari segala usaha yang
dilakukan.Pendidikan dan pengajaran diserahkan kepada para pendeta
Kristen. Kemudian ada instruksi yang menegaskan bahwa pihak rakyat hanya
seperlunya diberi pelajaran membaca, menulis dan berhitung, khususnya bagi
orang-orang yang membantu beberapa usaha VOC. Jadi pendidikan hanya
dilakukan untuk menambah keuntungan perusahaan-perusahaan VOC. Tidak
ada tujuan lain17
Sejatinya bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia.Artinya dikatakan adil jika
setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan.
Adil yang dimakud adalah jika setiap warga negara dapat mengenyam
pendidikan.Siapapun dan apapun latar belakang setiap warga negara.Ia berhak
mendapatkan pendidikan. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak asasi setiap warga
negara tanpa membedakan. Ini berarti warga miskinpun berhak dan dapat sekolah18
Freire memiliki keinginan besar agar pendidikan mampu menjadikan sekolah sebagai
media belajar-mengajar yang steril dari kepentingan politis apapun yang rentan
mejarah hak hidup sekolah, hak hidup guru dan hak anak didik untuk beraktualisasi
dan tanpa digiring demi kepentingan tertentu baik bersifat golongan maupun pribadi
sektarian tertentu.
Sekolah menurut Freire apabila jarang atau tidak pernah memberikan sebuah
pendidikan yang kritis terhasdap anak didiknya, maka ia menjadi alamat buruk bahwa
sekolah tersebut tidak akan berhasil melahirkananak-anak yang cerdas dan faham
terhadap kondisi realitas tempat mereka berdomisili dan melakukan interaksi sosial
antrar sesama.
Freire mengatakan bahwa sekolah yang ideal adalah sekolah yang menekankan
pada progresivitas.19
Artinya seluruh elemen sekolah yang ada didalamnya baik kurikulum yang dijabarkan
dalam rencana pembelajaran, disusun ulang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan
sekolah yang terdapat peran serta anak didik sebagai subyek peserta didik. Termasuk
juga didalamnya perbaikan fasilitas dan infrastruktur sekolah.
Disamping itu sekolah dikatakan baik dan berkualitas apabila ditopang oleh
suasana dan keadaan yang sangat menarik minat anak untuk betah (feel at
home) jika berada disekolah.Sekolah dianggap sebagai rumah kedua yang

16
Paulo Freire , Pendidikan Kaum tertindas, hlm, 23.
17
Ki Hadjar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, Yogyakarta, Lukita, 2009, hlm 63
18
Mohammad Firdaus, Wawancara, dalam Jurnal Perempuan, Pendidikan Untuk Semua, Yayasan YJP,hlm
120
19
Moh Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia, hlm 149

70
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

memberikan nuansa-nuansa kedamaian dan ketentraman hati, sekolah mampu


memberikan kesejukan dan penyejukan jiwa dengan demikiamn sempurna.
Sekolah merupakan rumah yang teduh dan rindang sehingga membuat anak-
anak didik tidak merasa terbebani jika berada dalam lingkungan sekolah,
terlebih lagi jika berada didalam ruangan kelas saat proses belajar mengajar
berlangsung20
Jika pendidikan progresif ingin sungguh-sungguh mendidik dan benar-benar progresif;
ia harus membebaskan diri dulu dari pelukan kelas menengah, lalu
menghadapi setiap isu sosial dengan berani dan langsung, menjumpai
kenyataan hidup yang paling jahanam sekalipun tanpa memincingkan mata,
memantapkan hubungan timbal balik yang organik dengan komunitas,
mengembangkan teori yang komprehensif dan realistis tentang kesejahteraan,
mengambil visi tentang takdir manusia secara tegas dan lantang, dan jangan
cepat gemetarkalau bertemu hantu bernama penanaman dan indoktrinasi.
Dalam satu kalimat pendidikan progresif jangan mempercayai sekolah yang
berpusat pada anak21
Sekolah adalah agen pendidikan yang adidaya.Tapi tiap kelompok profesi
cenderung melambung-lambungkan arti pentingnya sendiri demikian juga guru.Dalam
hal ini para pemimpin gerakkan pendidikan progresi termasuk paling yakin terhadap
kebebasan sekolah.
Karena “ Sekolah progresif menggunakan segenap sumberdaya yang ia miliki untuk
menangkal dan mengawasi kekuatan konservatisme sosial dan reaksionisme sosial
yang mengancam pendidikan”22
Kalaupun sekolah bekerja untuk program sosial tertentu tidak akan berhasil tanpa
didukung oleh agen-agen lainnya. Kalaupun sekolah beraksi sendiri, maka tidak akan
mampu atau lemah untuk mengekang dan menentang adanya tujuan-tujuan yang tidak
baik dan lebih mementingkan kelompok lain.

3. Konsep Pendidikan Gaya Bank dan Konsep Pendidikan Hadap Masalah


a. Konsep Pendidikan gaya Bank
Memperhatikan keadaan yang ada bahwa hubungan yang terlibat dalam
pendidikan didasarkan pada hubungan penindasan.Kenyataan tersebut adalah
ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik yang luas dimana jutaan orang tidak
memiliki modal ekonomi, sosial dan pendidikan23.
Melihat kejadian ini antara penindas dan yang ditindas memberi inspirasi bagi
Freire terhadap perjuangannya bersama kaum miskin di Brasil.
Sistem pendidikan yang menindas, diartikan sebgai pelanggengan hegemoni
kaum-kaum dari kelompok sosial tertentu untuk mendas dari kelompok sosial
lainnya.Menindas juga dapat diartikan menafikan tentang ide-ide kemanusiaan.

20
ibid 150
21
George S. Counts, Beranikah Sekolah Membangun Tatanan Sosial yang Baru,Dalam Paulo Freire et al,
Menggugat Pendidikan fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis. Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2009, Cet
VII, hlm 355
22
Ibid hlm 361
23
Paulo Freire Dalam 58 Pemikir Pendidikan dari Piaget sampai Masa Sekarang, Ed. Joy A.Palmer et al,
Jendela,Yogyakarta, 2003, hlm 235

71
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

Oleh karena itu, Freire menggagas ide tentang membangun sistem pendidikan
yang progresif, bukan populis .Termasuk didalamnya adalah pendidik yang
berpandangan progresif, bukan konservatif.
Guru progresif itu memiliki gagasan, pandangan dan pemikiran luar biasa
yang dapat dijalankan dalam proses belajar mengajar. Termasuk bagimana agar
siswa giat belajar dikelas dan partisipasi mereka dalam pendidikan tidak lagi
tergantung pada seorang pendidik untuk menyuapi mereka dengan sekian banyak
materi ajar. Guru progresif tidak merasa cukup dengan hasil yang dicapainya, dia
selalu merasa kurang dan kekurangan itu perlu diperbaiki. Pendidik progresif
selalu memperbaiki metode pembelajarannya sehingga proses belajar mengajar
dapat optimal. Pendidik progresif juga lebih mengejar target pencapaian
pemahaman anak didik terhadap materi ajar (isi) tertentu daripada target sebuah
rencana pembelajaran dalam sebuah periode tertenut.
Lain halnya dengan pendidik konsevatif, yaitu lebih menerima hasil yang
dicapai kendatipun tidak sesuai dengan harapan ideal.Pendidik konservatif lebih
mengutamakan angka-angka dari pada hasil filosofis pada pembentukan karakter
berpikir anak didik. Pendidik konservatif menganggap tugas seorang pendidik
tidak harus kreatif, inovatif dan optimis, tugasnya adalah menyampaikan apa yang
ada dalam teks materi ajar.
Secara gamblang Freire mengurai problem yang dipolakan dari sistem pendidikan
yang “ menindas” dan kontra pembebasan. Bahwa pola pendidikan yang terjadi
selama ini adalah hubungan antara guru dengan murid dengan menggunakan
model “watak bercerita (narrative), seorang subyek yang bercerita (guru) dan
obyek-obyek yang patuh dan mendengarkan (murid). Tugas guru dalam proses
pendidikan adalah dengan menceritakan realitas-realitas, seolah-olah sesuatu yang
tidak bergerak, statis, terpisah satu sama lain, dan dapat diramalkan. Akhirnya
guru Cuma mengisi para murid dengan bahan-bahan yang dituturkan, padahal itu
terlepas dari realitas dan terlepas dari totalitas. Pendidikan yang bercerita
mengarahkan murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa yang diceritakan
padanya. Pendidikan menjadi kegiatan “menabung” ibaratnya para murid adalah
celengnya dan para guru adalah penabungnya.
Paulo mengatakan, Lebih buruk lagi murid diubahnya menjadi “ bejana-bejana”,
wadah-wadah kosong untuk diisi oleh guru. Semakin penuh dia mengisi wadah-
wadah itu, semakin baik pula seseorang guru. Semakin penuh wadah-wadah itu
semakin baik pula mereka sebagi murid24
Konsep pendidikan itu disebut oleh Freire sebagai “PENDIDIKAN GAYA
BANK”.Akhirnya murid hanya beraktivitas sekedar menerima pengetahuan,
mencatat dan menghfal. Dalam metode pendidikan ini secara jelas kita bisa
melihat bahwa pendidikan adalah alat kekuasaan guru yang dominatif dan angkuh
tidak ada proses komunikasi timbal balik dan tidak ada ruang demokratis untuk
saling mengritisi. Pendidikan gaya bank terus memelihara bahkan mempertajam
kebiasaan-kebiasaan yang mencerminkan suatu keadaan masyarakat tertindas
secara keseluruhan.

24
Paulo Freire, Pendidikan kaum Tertindas, hlm 52

72
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

Pendidikan gaya bank bercirikan sebagai berikut:


1) Guru mengajar, murid belajar
2) Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
3) Guru berpikir, murid dipikirkan
4) Guru bercerita, murid patuh mendengarkan
5) Guru menentukan peraturan, murid diatur
6) Guru memilih dan memaksakan pilihanya, murid menyetujui
7) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan
gurunya
8) Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta
pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu
9) Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan
jabatannya, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid
10) Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka25

Karena itu kata Freire perlu ada rekonsiliasi.Raison d’etre pendidikan yang
membebaskan, sebaliknya terletak pada usaha kearah
rekonsiliasi.Pendidikan ini harus dimulai dengan pemecahan masalah
kontradiksi guru murid tersebut, dengan merujukkan kutub-kutub dalam
kontradiksi itu, sehingga kedua-duanya secara bersama adalah guru dan
murid26.

Bagi yang benar-benar mengabdiharus menolak konsep pendidikan gaya bank


secara menyeluruh. Jalan keluarnya menurut Freire menggantinya dengan sebuah
konsep tentang manusia sebagai mahluk yang sadar, dan kesadaran sebagai
kesadaran yang diarahkan kedunia.Mereka harus meninggalkan tujuan pendidikan
sebagai usaha tabungan dan menggantinya dengan penghadapan pada masalah-
masalah manusia dalam hubungannya dengan dunia pendidikan. Freire
menyebutnya dengan “PENDIDIKAN HADAP MASALAH” (problem posing) 27

b. Pendidikan Hadap Masalah (problem posing)


Pendidikan hadap masalah menjawab hakikat kesadaran yakni ‘intensionalitas”
akan menolak pernyataan-pernyataan serta mewujudkan komunikasi. Konsep ini
mewakili sifat khas dari kesadaran; yakni sadar akan, tidak saja terhadap obyek-
obyek tetapi juga berbalik kepada dirinya sendiri sehingga “terbelah” dalam
pengertian Jaspers- yakni, kesadaran sebagai kesadaran atas kesadaran.
Pendidikan yang membebaskan berisi laku-laku pemahaman (acts of Cognition),
bukan pengalihan-pengalihan informasi.
Dalam pelaksanaan pendidikan hadap masalah pertama kali menuntut adanya
pemecahan masalah kontradiksi antara guru dan murid. Hubungan dialogis – yang
harus ada pada pelaku pemahaman untuk bersama-sama mengamati obyek yang
sama – tidak dapat diwujudkan dengan cara lain.

25
Ibid hlm, 54
26
Ibid hlm, 53
27
Ibid hlm 63

73
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

c. Ciri-ciri pendidikan hadap masalah (problem posing)


1). Pendidikan hadap masalah menolak pola hubungan vertikal dalam
pendidikan gaya bank. Dan berpihak kepada kebebasan, bukan menentang
kebebasan.
2). Pendidikan hadap masalah tidak membuat dikotomi kegiatan guru murid, dia
tidak menyerap pada suatu saat serta menceritakan pada saat yang lain guru
selalu menyerap baik ketika dan sedang mempersiapkan bahan pelajaran
maupun ketika dia berdialiog dengan para murid. Dia tidak akan
menganggap obyek-obyek yang dapa dipahami sebagai milik pribadi, tetapi
sebagai obyek refleksi para murid serta dirinya sendiri.
3). Pendidikan hadap masalah menyingkap realitas secara terus menerus, dan
berjuang bagi kebangkitan kesadaran dan keterlibatan kritis dalam realitas.
4). Pendidkan hadap masalah manusia mengembangkan kemampuannya untuk
memahami secara kritis cara mereka berada dalam dunia dengan mana dan
dalam mana mereka menemukan diri sendiri; mereka akan memandang
dunia bukan sebagain realitas yang statis , tetapi realitas yang berada dalam
proses dalam gerak perubahan.
5). Pendidikan hadap masalah menegaskan manusia sebagai mahluk yang berada
dalam proses menjadi (becoming) – sebagai sesuatu yang tak pernah selesai,
mahluk yang tidak pernah sempurna dalam dan dengan realitas yang juga
tidak pernah selesai. Karena itu pendidikan selalu diperbaharui dalam
praksis.Agar dia “mengada” maka dia harus “menjadi”.
7). Pendidikan hadap masalah adalah sikap revolusioner terhadap masa depan.
8). Pendidikan hadap masalah sebagai suatu praksis pembebasan yang
manusiawi, menganggap sebagai dasariah bahwa manusia korban
penindasan harus berjuang bagi pembebasan dirinya.
9). Pendidikan hadap masalah tidak dan tidak dapat melayani kepentingan
penindas. Tidak ada tatanan yang menindas mengizinkan kaum tertindas
mengajukan pertanyaan.Mengapa?sementara hanya masyarakat revolusiner
saja yang dapat menjalankan pendidikan secara sistematis.

d. Buku-Buku Karya Paulo Freire.


Diantara buku-buku karangan Paulo Freire sebagai berikut:
1. Pedagogy of the Oppressed( Pendidikan Kaum Tertindas) Penerbit LP3ES
Indonesia.
Kaum tertindas selama ini tenggelam dalam mitos yang ditiupkan oleh kaum
penindas, karena itu bagi Freire pendidikan untuk mereka harus berintikan
pembebasan kesadaran atau dialogika – memencing mereka untuk berdialog,
membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataannya, mendorong mereka
untuk menamai dan dengan demikian mengubah dunia. Buku ini merupakan
sebuah refleksi mendalam mengenai jalan pembebasan manusia.

74
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

2. I Sombra Desta Manguira, terjemahan dalam Bahasa Inggris Pedagogy of


the Heart, terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Pedagogi Hati) Kanisius
Yogyakarta
Dalam pedagogi Hati Paulo Freire melihat kedalam hidupnya sendiri untuk
berefleksi tentang pendidikan dan politik, politik dan pendidikan.Ia
menampilkan dirinya sebagai seorang demokrat yang tidak mengenal
kompromi dan seorang pembaharu radikal yang gigih.Ia hidup pada masa
pemerintahan militer, masa pembuangan dirinya, sampai menjadi menteri
Pendidikan sao Paulo. Dengan berbagai pengalamannya justru semakin
memperbesar komitmenya kepada orang-orang yang tersingkir, tak berdaya,
terpinggirkan, lapar dan yang buta huruf.

3. Cartas a Guine Bissau: Registros de uma Experiencia Em Processo


terjemahan dalam Bahasa Inggeris Pedagogy in Process: The Letters to
Guine-Bissau terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Pendidikan Sebagai
Proses: Surat-menyurat pedagogis dengan para pendidik Guinea-Bissau).
Pustaka Pelajar yogyakarta
Buku yang berisi surat-surat Freire yang padat dan logis alur pikirnya, bukan
hanya akan memperluas wawasan pembaca yang bersifat substansial, akan
tetapi juga akan memperjelas pandangan-pandangan Freire dan
menempatkannya secara lebih professional, terutama bagi mereka yang
menganggap Freire sebagai orang yang menakutkan dan tidak menyenangkan,
bukannya sebagai orang yang gentle, terbuka dan penuh kasih sayang yang
dikenl secara baik dikalangan teman-temannya dan anak-anak.

4. The Politic of Education : Cultur, Power and Liberation. terjemahan


dalam Bahasa Indonesia, Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan
dan Pembebasan. REaD ( Research, Education and Dialogue )
bekerjasama dengan Pustaka Pelajar Yugyakarta.
Penindasan apapun nama dan alasannya, adalah tidak manusiawi sesuatu yang
menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi). Dehumanisasi bersifat ganda
dalam pengertian, terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri
minoritas kaum penindas.Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati.
Maka dari itu tidak ada pilihan lain, ikhtiar memanusiakan kembali manusia
(humanisasi) merupakan pilihan mutlak. Humanisasi merupakan pilihan satu-
satunya bagi kemanusiaan. Karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan
yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu
kemungkinan ontologism dimasa mendatang, ia bukanlah suatu keharusan
sejarah. Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas
manusia untuk merubahnya agar sesuai dengan apa yang sehartusnya. Itulah
fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).

5. Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservatif, Liberal, anarkis.


Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Buku ini berisi gagasan berbagai tokoh. Ada sebanyak 33 (tiga puluh tiga
tokoh dalam buku tersebut

75
Masykur H Mansyur, Pendidikan Ala “Paulo Freire”.......

Gagasan, kata orang ,mustahil mekar kalau digembok dalam kandang.


Gagasan hanya bisa tumbuh dewasa bila dilepas keluyuran seperti ayam
kampung, diberi luang supaya segala macam zat bebas bertandang, diizinkan
berbenturan, bertabrakan , mati alamiah atau musnah kecelakaan. Tak banyak
yang bersedia menuruti wejangan semacam itu karena gagasan tak bisa
diasuransikan.Sekali gagasan keluar dari sarang, resiko selalu
menghadang.Gagasan yang bugar, berotot barangkali dapat lolos dari
marabahaya dan paling-paling hanya lecet disana sini.Namun gagasan yang
ringkih gontai nyaris tak berpeluang melangkahi masa kanak-kanaknya.
Bahkan ide yang lahir prematur hampir bisa dijamin tewas ditengah jalan.
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat amin ya Robbal aalamin.

DAFTAR PUSTAKA
Gerge S. Count. Beranikah Seklah Membangun Tatanan Sosial yang Baru dalam Paulo,
Menggugat Freire Pendidikan Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Intim, “Jurnal Teologi Kontekstual”, Edisi VIII tahun 2005
Joy, A. Palmer. et, al. 58 Pemikir Pendidikan dari Piage Sampai Masa
Sekarang,Yogyakarta: Jendela, 2003.
Ki Hadjar Dewantara. Menuju Manusia Merdeka, Yogyakarta: Lukita, 2009.
Muhammad Firdaus. “Wawancara” dalam Jurnal Perempuan, Pendidikan Untuk
Semua, Yayasan YJP.
Paulo Ferire. Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan,
Yogyakarta: REaD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2007.
________. Pedagogi Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
________. Pendidikan kaum Teertindas, Jakarta: LP3ES, 2008.
________. Pendidikan sebagai proses, Surat-surat Menyurat Pedagogis dengan Para
Pendidik Guinea-Bissau, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Yamin, Moh. Menggunggat Pendidikan Indonesia, Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hadjar
Dewantara, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2009.

76