Anda di halaman 1dari 6

Bismillah

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya


mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

‘Apabila seseorang masuk rumahnya dia menyebut Allah


Ta’ala pada waktu masuknya dan pada waktu makannya,
maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kalian
tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makan
malam.’ Apabila ia masuk tidak menyebut nama Allah
pada waktu masuknya itu, maka setan berkata, ‘Kalian
mendapatkan tempat menginap’, dan apabila ia tidak
menyebut nama Allah pada waktu makan, maka setan
berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan
makan malam.'” (HR. Muslim)

Adapun jika kita terlupa membaca ‘bismillah’ di awal


waktu kita makan, maka kita cukup membasa ‘bismillah
awwalahu wa aakhirohu’  di saat kita ingat.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah


shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah
seorang kamu makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala
(bismillah -pen). Jika ia lupa menyebut nama Allah di
awal makannya, maka hendaklah ia mengucapkan,

ُ ‫خ َره‬ ُ َ ‫سم ِ اللهِ أوَّل‬


ِ ‫ه وَ ا‬ ْ ِ‫ب‬
(Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada
akhirnya)’.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata,
“Hadits hasan shahih”)

Kita juga disunnahkan membaca bismillah


ketika kendaraan yang kita kendarai mogok. (HR. Abu
Daud, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam
Shahih Sunan Abu Daud III/941)

Subhanallah
Alhamdulillah, dzikir yang satu ini pun sudah kita hafal
sejak lama. Dzikir ini dapat kita amalkan setelah sholat
sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim) atau kita
dzikirkan pula sebelum tidur sebanyak 33 kali (HR.
Bukhari dan Muslim). Dalam satu riwayat lain, dibaca
sebanyak 34 kali sebelum tidur. Lafadz ini juga
disunnahkan untuk diucapkan ketika kita dalam
perjalanan dengan kondisi jalan yang menurun (HR.
Bukhari dalam al-Fath VI/135). Dapat pula kita ucapkan
ketika kita sedang takjub dengan kebesaran ciptaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala (HR. Bukhari)

Adapula lafadz tasbih lainnya yang telah diajarkan


Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagai
berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Dua


kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan,
dicintai Allah Yang Maha Pengasih , (yaitu),

ْ َّ َ ‫حا‬ َ ِ ‫ن اللَّهِ وَب‬


ِ ‫ن اللهِ العَظِيم‬ َ ْ ‫سب‬
ُ ، ِ‫مدِه‬
ْ ‫ح‬ َ ‫حا‬
َ ْ ‫سب‬
ُ
ّ
“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, maha suci
Allah Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling
dicintai Allah adalah

ِ‫مد ِ ه‬
ْ ‫ح‬
َ ِ ‫ن اللهِ وَ ب‬
َ ‫حا‬
َ ْ ‫سب‬
ُ

(HR. Muslim)

Alhamdulillah
Lafadz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba
kepada Rabbnya dengan memberikan pujian kepada-Nya.
Lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat
sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.

Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan


alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal (HR.
Bukhari). Nah, bagi yang mendengar lafadz alhamdulillah
dari orang yang bersin, maka berikanlah do’a kepadanya,
yaitu
yarhamukallah
“Semoga Allah merahmatimu.”

Kalau sudah mendapat do’a ini, maka orang yang bersin


tadi membaca

yahdikumullah wa yuslih baalakum’


“Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki
keadaanmu.”

Keutamaan dzikir alhamdulillah dan dzikir subhanallah


juga terdapat dalam hadits berikut,

“Dari Abu Malik al-Asy’ary dia berkata,


‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

“Bersuci adalah setengah iman, ِ‫مد ُ لِلَّه‬ َ ‫ ال‬memenuhi


ْ ‫ح‬
َّ
timbangan, dan ِ‫مد ُ لِله‬
ْ ‫ح‬ ْ ّ
َ ‫ن اللهِ وَ ال‬
َ ‫جا‬ ُ (Maha suci Allah dan
َ ْ ‫سب‬
segala puji bagi-Nya) memenuhi antara tujuh langit dan
bumi.”‘” (HR. Muslim)

Allahu Akbar
Sama seperti dua lafadz sebelumnya, lafadz ini juga
disunnahkan dibaca setelah sholat dan sebelum tidur.
Setelah shalat sebanyak 33 kali dan sebelum tidur
sebanyak 33 kali (dalam riwayat lain 34 kali).
Lafadz Allahu Akbar juga sunnah diucapkan
ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari ciptaan
Allah (HR. Bukhari dalam al-Fath). Dan tahukah
saudariku, ternyata lafadz ini juga termasuk dzikir yang
sunnah diucapkan ketika dalam perjalanan
dengan kondisi jalan yang menanjak. (HR. Bukhari dalam
al-Fath VI/135)

Laa ilaha illallah


Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus
disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang
benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang
berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga
menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,

“Sebaik-baik dzikir adalah ada ‫( ال اله اال الله‬tiada Ilah yang


berhak disembah melainkan Allah).”  (HR. Tirmidzi dan
dia berkata, “Hadits hasan.”)

Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang


melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka


ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di
Surga.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Saudariku tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren


‘latah’ yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu
ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau
terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia
sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang
mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah
laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat
kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Seorang yang
terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz ‘laa
ilaha illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan
Muslim IV/22208)

Masya Allah
Yang satu ini, seringkali penulis dengar dilafalkan bukan
pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna “Atas
kehendak Allah”. Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub
melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik
berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam
surat Al Kahfi, terdapat tambahan,

“Masya Allah laa quwwata illa billah”

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak


ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah.”
Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan
melafadzkan “Masya Allah” ketika kita mengaggumi
kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang
tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan
pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi
baik kita sengaja ataupun tidak.

Astaghfirullah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pujian yang
paling tinggi adalah la ilaha illallah, sedangkan doa yang
paling tinggi adalah perkataan astaghfirullah. Allah
memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan
bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin.”

Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan


sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib.
Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya,
sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini.
Begitupula dari contoh perbuatan Rasululllah
shallallahu’alaihi wa sallam (padahal beliau sudah
diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohn


ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari
tujuh puluh kali dalam sehari.”  (HR. Bukhari)

Kita sebagai wanita juga diperintah untuk


memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits
berikut,

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan


perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku
melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka!”

Seorang wanita dari mereka bertanya, “Wahai


Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan
penghuni neraka?”
Beliau menjawab, “Kalian terlalu banyak melaknat dan
ingkar (tidak bersyukur) terhadap (kebaikan) suami, aku
tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa
mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”

Ia bertanya, “Apa maksudnya kurang akal dan agama?”

Beliau menjawab, “Persaksian dua orang wanita sama


dengan seorang laki-laii dan wanita berdiam diri
beberapa hari tanpa shalat.”
(HR. Muslim)

Maraji’:
Hisnul Muslim (terj), Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani,
at-Tibyan
Istighfar  (terj), Ibnu Taimiyah, Darul Falah, cetakan
pertama 2002 M
Riyadus Shalihin, Jilid 1  (terj), Imam Nawawi dengan
tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan
kedua 2003
Riyadus Shalihin, Jilid 2  (terj), Imam Nawawi dengan
tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan
kedua 2003

Sumber
 https://muslimah.or.id/238-lafadz-lafadz-yang-ringan-di-
lidah.html