Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL IN CLINIC (TIC)

INTOLERANSI AKTIVITAS PADA Tn. H DI RUANG


AGLONEMA RSUP DR. HASAN SADIKIN

Diajukan untuk memenuhi tugas program profesi ners XXXIX


Keperawatan Dasar Profesi

Disusun Oleh:

1. Afriani Nurul Kusuma


2. Dian Trias Oktavianti
3. Hanifah Nofadina
4. Mega Nurrahmatiani Nugraha
5. Naufal Hafizh Fauzan

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXIX


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki kebutuhan dasar untuk
memenuhi kehidupannya. Salah satu hal yang paling utama dalam kehidupan
manusia adalah bergerak atau beraktivitas, selain membutuhkan nutrisi untuk
aktivitas fisik memerlukan kekuatan otot untuk dapat bergerak atau mobilisasi.
Menurut Almatsier (2003) aktivitas fisik ialah gerakan fisik yang dilakukan oleh
otot tubuh dan sistem penunjangnya. Aktivitas fisik merupakan gerakan tubuh
yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas
fisik yang kurang merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan
secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO,
2010).
Jika individu memiliki hambatan aktivitas fisik atau intoleransi aktivitas
maka individu tersebut dalam keadaan berbaring atau ketidakmampuan untuk
beraktivitas mandiri. Perlu adanya bantuan dan latihan untuk dapat mandiri
beraktivitas kembali atau mengurangi risiko dekubitus dan mengurangi resiko
penurunan massa otot. Dekubitus adalah luka yang terjadi akibat rusaknya
epidermis dan jika sudah sangat parah akan sampai ke jaringan subkutis (Price,
2009). Ulkus dekubitus juga disebut pressure sores atau bed sores yaitu lesi di
kulit yang terjadi akibat rusaknya epidermis, dermis dan kadang-kadang jaringan
subkutis dan tulang di bawahnya. Ulkus dekubitus biasanya dijumpai pada orang-
orang yang dirawat di tempat tidur atau mengalami penurunan mobilitas (Corwin,
2009).
Sedangkan penurunan massa otot juga merupakan dampak dari
penurunan aktivitas pada individu. Menurut Rolland (2008) kekuatan otot sangat
berkorelasi dengan massa otot, individu akan mengalami penurunan massa otot
seiring dengan penurunan kekuatan otot.
Jadi masalah penurunan aktivitas pada individu memerlukan intervensi
untuk mengurangi risiko dekubitus dan melatih kembali kekuatan otot.
1.2 Tujuan

Tujuan penulisan laporan in clinic ini untuk mengidentifikasi pasien


penurunan aktivitas dan tirah baring serta memberikan edukasi dan
intervensi terhadap pasien tersebut.
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Kebutuhan Dasar Manusia


a. Pengertian Kebutuhan Dasar Manusia
Setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, diantaranya:
kebutuhan fisiologi, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri
(Potter & Patricia, 1997, dalam Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati,
2016). Manusia memiliki kebutuhan yang sama namun berbeda setiap
individunya. Kebutuhan dasar merupakan hal yang manusiawi dan penting
dalam keberlangsungan kehidupan. Dalam memenuhi kebutuhannya,
manusia akan menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Kegagalan
pemenuhan kebutuhan dasar akan menimbulkan kondisi yang tidak
seimbang. Merupakan salah satu tugas perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya
yang terganggu secara holistik.
Teori kebutuhan dasar manusia yang sering digunakan sebagai
acuan adalah lima hierarki kebutuhan dasar manusia oleh Abraham
Maslow (1970), yaitu:kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan
keamanan, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, serta
kebutuhan aktualisasi diri.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi


Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia diantara
adalah (Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati, 2016, dan Nusantara,
2017):
1. Penyakit
Penyakit akan mempengaruhi kebutuhan dasar manusia baik psikologis
atau fisiologis, karena beberapa organ tubuh membutuhkan kebutuhan
yang lebih dari biasanya.
2. Hubungan keluarga
Keluarga menjadi sistem pendukung untuk seseorang. hubungan
keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar
karena adanya rasa saling percaya, merasa kesenangan hidup, tidak ada
rasa curiga antara yang satu dengan yang lain, dll.
3. Konsep diri
Konsep diri yang positif akan menghasilkan kekuatan yang juga positif
dalam diri seseorang. Seseorang yang beranggapan positif terhadap
dirinya sendiri akan mudah untuk berubah, mudah untuk mengenali
kebutuhannya, mengembangkan cara hidup yang sehat sehingga mudah
memenuhi kebutuhan dasar yang dibutuhkannya.
4. Tahap perkembangan
Semakin bertambahnya usia, manusia juga akan mengalami
perkembangan. Begitu pula fungsi organ tubuh yang akan mengalami
perkembangan bergantung pada aktivitas yang berbeda pada setiap
tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan
dasar yang berbeda baik secara psikologis, fisiologis, sosial, maupun
spiritual
5. Struktur keluarga
Struktur keluarga akan mempengaruhi cara seseorang untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia, seperti saat seseorang membandingkan
kebutuhan bayinya dengan kebutuhan sendiri.

c. Teori Kebutuhan Dasar Manusia menurut Henderson

Virginia Henderson mengemukakan teori mengenai kebutuhan dasar


manusia yang berfokus pada individu berdasarkan pandangannya, bahwa jasmani
(body) dan rohani (mind) tidak dapat dipisahkan. Menurut Henderson manusia
adalah unik dan tidak ada dua manusia yang sama (Kusnanto, 2003). Henderson
(Potter & Patricia, 1997, dalam Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati, 2016)
mengidentifikasi bahwa kebutuhan dasar manusia terbagi menjadi 14 komponen
yaitu manusia harus dapat bernafas secara normal, makan dan minum yang cukup,
setiap hari harus bisa buang air besar dan buang air kecil (eliminasi) dengan
lancar, bisa bergerak dan mempertahankan postur tubuh yang diinginkan, bisa
tidur dan istirahat dengan tenang, memilih pakaian yang tepat dan nyaman
dipakai, mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menyesuaikan
pakaian yang dikenakan dan memodifikasikan lingkungan, menjaga kebersihan
diri dan penampilan, menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari
membahayakan orang lain, berkomunikasi dengan orang lain dalam
mengekspresikan emosi, kebutuhan,kekhawatiran, dan opini, beribadah sesuai
dengan agama dan kepercayaan, bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk
membiayai kebutuhan hidup, bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk
rekreasi dan belajar, menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah
pada perkembangan yang normal, kesehatan dan penggunaan fasilitas kesehatan
yang tersedia.

2.2 Aktivitas
a. Definisi aktivitas
Aktivitas adalah suatu keadaan bergerak dimana manusia
memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hariannya. pergerakan atau
mekanik tubug pada dasarnya adalah bagaimana menggunakan secara
efektif, terkoordinasi, dan aman , sehingga menghasilkan gerakan yang
baik dan keseimbangan selama beraktivitas.
Aktivitas bermanfaat agar tubuh menjadi segar, memperbaiki tonus
otot, mengontrol berat badan, merangsang peredaran darah, mengurangi
stres, meningkatkan relaksasi, memperlambat proses penyakit, untuk
aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh), serta mengsang pertumbuhan
bagi anak-anak (Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati, 2016).

b. Faktor mempengaruhi aktivitas (Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati,


2016)
a. Tingkat perkembangan tubuh: usia mempengaruhi sistem
muskuloskeletal dan persarafan.
b. Kesehatan fisik: seseorang dengan penyakit gangguan
muskuloskeletal, ganguan kardiovaskular, gangguan sistem respirasi,
cacat tubuh dan imobilisasi akan dapat mengganggu pergerakan
tubuh.
c. Keadaan nutrisi: nutrisi yang kurang menyebabkan kelemahan dan
kelelahan itu yang berdampak pada penurunan aktivitas pergerakan
dan terjadi juga pada kondisi nutrisi berlebih (obesitas).
d. Status mental: seseorang yang mengalami gangguan mental cenderung
tidak antusis dalam mengikuti aktivitas, bahkan kehilangan energi
untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene.
e. Gaya hidup: jika melakukan pola sehari-hari dengan baik maka akan
mengurangi kejadian hambatan dalam pergerakan, dan sebaliknya.

2.3 Dampak Imobilitas fisik (Kasiati & Ni Wayan Dwi Rosmalawati, 2016)
a. Sistem intergumen
- Turgor kulit menurun: Kulit mengalami atropi akibat imobilisasi dan
perpindahan cairan antar-komportemen pada area yang mengantung,
hal ini dapat mengganggu keutuhan dan kesehatan dermis dan
jaringan subkutan.
- Kerusakan kulit: Kondisi imobilisasi mengganggu sirkulasi dan
suplai nutrisi pada area tertentu, hal ini berakibat iskemia dan
nekrosis jaringan superfisial yang dapat menimbulkan ulkus
dekubitus

b. Sistem kardiovaskuler
- Hipotensi ortostatik: Hipotensi ortostatik terjadi karena sistem saraf
otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah ke tubuh
saat klien bangun dari posisi berbaring yang lama. Darah berkumpul
di eksteremitas, dan tekanan darah menurun drastis dan perfusi di
otak mengalami gangguan, akibatnyan klien dapat mengalami
pusing, berkunang-kunang, bahkan pingsan. Pembentukan trambus:
Trombus atau massa padat darah di jantung atau pembuluh darah
biasa disebabkan oleh, gangguan aliran balik vena menuju jantung,
hiperkoagulabilitas darah, dan cedera dinding pembuluh darah . Jika
trombus lepas dari dinding pembuluh darah dan masuk ke siskulasi
disebut embolus.
- Edema dependen: Edema dependen biasa terjadi pada area yang
menggantung seperti kaki dan tungkai bawah, edema akan
menghambat aliran balik vena menuju jantung yang akan
menimbulkan lebih banyak edema.

c. Sistem eliminasi
- Stasis urine: Stasis urine adalah terhentinya atau terhambatnya aliran
urine. Klien berbaring lama pengosongan ginjal dan kandung urine
terlambat, akibat dari gravitasi yang memainkan peran dalam proses
pengosongan urine.
- Batu ginjal: Imobilisasi bisa terjadi ketidakseimbangan antara
kalsium dan asam sitrat yang menyebabkan kelebihan kalsium,
akibatnya urine menjadi lebih basa, dan garam kalsium
mempresipitasi terbentuknya batu ginjal.
- Retensi urine: Penurunan tonus otot kandung kemih menghambat
kemampuan mengosongkan kandung kemih secara tuntas. Inf
- Infeksi perkemihan: Urine yang statis dan juga sifat urine yang basa
akibat hiperkalsiuria merupakan media baik pertumbuhan bakteri.
Organisme penyebab infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli.

d. Sistem Muskuloskeletal
- Osteoporosis: Tanpa aktivitas yang memberi beban pada tulang
akan mengalami demineralisasi (osteoporosis), hal ini menyebabkan
tulang kehilangan kekuatan dan kepadatan sehingga tulang menjadi
keropos dan mudah patah.
- Atrofi otot: Otot yang tidak digunakan dalam waktu lama akan
kehilangan sebagian besar kekuatan dan fungsi normalnya.
- Kontraktur dan nyeri sendi: Kondisi imobilisasi jaringan kolagen
pada sendi mengalami ankilosa dan tulang terjadi demineralisasi
yang menyebabkan akumulasi kalsium pada sendi yang berakibat
kekakuan dan nyeri pada sendi.

e. Sistem pencernaan
- Konstipasi: Imobilisasi mempengaruhi pencernaan yaitu konstipasi
akibat penurunan peristaltik dan mobilitas usus. Jika konstipasi
berlanjut dan feses sangat keras, maka perlu upaya kuat untuk
mengeluarkannya

f. Respirasi
- Penurunan gerakan pernafasan: Kondisi ini disebabkan oleh
pembatasan gerak, hilangnya kordinasi otot .

2.4 Pengkajian Aktivitas


Instrument pengkajian aktivitas dengan Barthel Indeks

No. Item yang dinilai Skor

1. Makan 0 = Tidak mampu


1 = Butuh bantuan memotong lauk, mengoles
2 = Mandiri

2. Mandi 0 = Tergantung orang lain


1 = Mandiri

3. Perawatan diri 0 = Membutuhkan bantuan orang lain


1 = Mandiri dalam perawatan muka, rambut,
gigi, dan bercukur

4. Berpakaian 0 = Tergantung orang lain


1 = Sebagian dibantu (misal mengancing
baju)
2 = Mandiri

5. Mengendalikan rangsa 0 = tak terkendali atau pakai kateter


ngan Buang air kecil 1 = Kadang-kadang ra
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7
hari)

6. Buang air besar 0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu


enema)
1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)

7. Penggunaan toilet 0 = Tergantung bantuan orang lain


1 = Membutuhkan bantuan, tapi dapat
melakukan beberapa hal sendiri
2 = Mandiri

8. Transfer 0 = Tidak mampu


1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2 = Bantuan kecil (1 orang)
3 = Mandiri

9. Mobilitas (berjalan di 0 = Immobile (tidak mampu)


permukaan datar) 1 = Menggunakan kursi roda
2 = Berjalan dengan bantuan satu orang
3 = Mandiri (meskipun menggunakan alat
bantu seperti, tongkat)

10. Naik turun tangga 0 = Tidak mampu


1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu)
2 = Mandiri

Interpretasi hasil

● Mandiri dengan skor 20


● ketergantungan ringan dengan skor 12 -19
● ketergantungan sedang dengan skor 9 - 11
● ketergantungan berat dengan skor 5 - 8
● ketergantungan total dengan skor 0 - 4
n SBAB III

PENGKAJIAN DAN

DIAGNOSA KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
A. Identitas Pasien
a. Identitas pasien
Nama : Tn. H
Umur : 63 tahun
TTL : 2 April 1956
Alamat : Bandung
Status : Kawin
Pekerjaan : Konsultan
Agama : Katolik
Tanggal masuk RS : 15 Februari 2020
Tanggal pengkajian : 3 Maret 2020
Diagnosa Medis : CHF
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. L
Hubungan : Istri
Alamat : Bandung
B. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
-
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 3 Maret 2020, klien merasa
tenang. klien mengatakan lelah dan merasakan sesak saat malam hari
dan terasa bertambah jika klien melakukan aktivitas berlebih. Sesak
akan berkurang jika klien duduk. Sesak tidak ada jika klien sedang
santai.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Menurut penuturan klien, klien memiliki riwayat perawatan di rumah
Sakit satu tahun yang lalu dengan kasus yang sama. Saat masuk ke
IGD pasien jatuh saat ke kamar mandi dan setelah itu mengalami
sesak sangat hebat disertai dengan keringat. Klien memiliki riwayat
rokok dan riwayat hipertensi.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan ayah klien memiliki penyakit Jantung bengkak
e. Riwayat Psikososial Spiritual
Saat dikaji, klien tidak menunjukkan adanya gejala cemas ataupun
masalah psikis lainnya. Namun, penuturan dari pendamping klien,
klien sering melamun dan klien sering melihat serta mengatakan
melihat sesuatu di langit-langit rumah sakit.

Selama di rumah sakit klien selalu melakukan ibadah berdoa baik


sendiri maupun dengan keluarga. Pendamping klien selalu
mengingatkan klien untuk berdoa di sela-sela tirah baringnya.

C. Aktivitas Hidup Sehari-hari

Pola Aktivitas Sebelum MRS Setelah MRS

1. Pola Nutrisi

Pola Makan Jenis makanan: Roti, bubur jenis makanan: roti,


Frekuensi : tidak teratur buah, nasi
Porsi: 2 sendok makan. frekuensi: 3x sehari,
sesuai jadwal makan.

Pola Minum Jenis: Air putih, jenis: Air putih hangat

Jumlah: 1200 - 1300 cc

2. Pola Eliminasi

BAK frekuensi: tidak teratur menggunakan kateter


urin.
output : 480 cc dengan
warna kuning pekat

BAB BAB normal, namun menggunakan pampers.


memerlukan bantuan untuk
mobilisasi ke kamar mandi

3. Personal Hygiene melakukan personal mandi: washlap


hygiene mandiri 2x/hari.
ganti pakaian: 2x/hari
keramas: belum pernah
gosok gigi: 2x/hari
dengan bantuan
mempertahankan posisi

4. Istirahat dan Aktivitas

Pola Tidur Akibat dari sesak, klien terbangun saat malam


memiliki pola tidur yang hari karena sesak
tidak teratur.

Aktivitas sehari-hari klien mandiri dalam klien mengalami bed-


melakukan aktivitas duduk, rest parsial.
berjalan dan berpergian
dengan bantuan

D. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : compos mentis, GCS 15
a. Pengukuran Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah: 110/70 mmHg
Nadi : 72x/menit
RR : 19x/menit
Suhu : 36,5°C
b. Pengkajian
1. Sistem Respirasi
Obstruksi Saluran Pernafasan : Tidak
Sesak Napas (dypsnea) : ada
Pemakaian Alat Bantu Napas : Ya, Nasal Canul 5L/jam
Bunyi Napas : Gurgling
CTT : Tidak

2. Sistem Kardiovaskuler
Konjungtiva : Merah Muda
Riwayat Pemasangan Alat : Tidak
Kulit : Pucat
Temperatur : Hangat
Bunyi Jantung
CRT : >2 detik
Edema : Tidak

3. Gastrointestinal
Mual/Muntah : Tidak
Sklera : Tidak
Mukosa Mulut : Kering
Lidah : Merah Muda
Reflek Menelan dan Mengunyak : Dapat
Alat Bantu : Tidak
Bising Usus : 8 kali permenit

4. Muskuloskeletal
Fraktur : Tidak
mobilitas : Dibantu Parsial
5. Neurologi
Kesulitan Berbicara : Tidak
Kelemahan Alat Gerak : Ada
Terpasang EVD : Tidak

6. Urogenital
Perubahan Pola BAK : Tidak
Frekuensi BAK :
Alat Bantu : Ya, Dower Kateter
Stoma : Tidak

7. Integumen
Luka : Ya, pada area anus
Benjolan : Tidak
Suhu : Hangat

E. Data Fokus
Data subjektif:
1. Klien mengatakan sesak jika malam hari dan saat beraktivitas
2. Klien mengatakan mudah lelah

Data Objektif
1. Pasien lemah dan hanya tirah baring di tempat tidur
2. TTV (TD 110/70 mmHg, HR 72x/menit, RR 19x/menit, CRT 3 detik)
3. Skrining risiko jatuh: hasil skrining Morse False Scale (MFS) adalah 30
yang berarti pasien memiliki risiko jatuh sedang.
4. Skor Barthel Index adalah 5 yang berarti pasien ketergantungan berat.

F. Data Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (6 Maret 2020)
No Pemeriksaan Hasil Rentang normal Interpretasi

1 Hemoglobin 13.3 14-17.4 rendah

2 Hematokrit 39.3 41.5 - 50.4 rendah

3 Eritrosit 4.50 4.5-5.9 Normal

4 leukosit 5.02 4.4-11.3 Normal

5 Trombosit 230 150-450 Normal

6 Natrium 134 135-145 rendah

7 kreatinin 2.36 0.8-1.3 tinggi

8 ureum 110.2 15.0-39 tinggi

9 monosit 10 3-8 tinggi

10 limfosit 13 18-44 rendah

11 kalium 4.6 3.5-5.1 normal

12 Kalsium 4.90 4.5-5.6 normal

13 Magnesium 2.3 1.-2.4 normal

G. Terapi Obat
➔ Pagi = Bisomil merupakan
➔ Siang = Cloridon, Nebulizer
➔ Malam = Protaside, Nebulizer

3.2 Analisa Data

No. Data Yang Menyimpang Etiologi Masalah Keperawatan


1 DS Gagal jantung kongesif Intoleransi Aktivitas
 Pasien mengeluh berhubungan dengan
mudah lelah/cape penurunan suplai darah ke
dan sesak saat jaringan
Suplai darah ke
beraktivitas
jaringan menurun
DO
  Pasien tampak
lemah dan hanya
berbaring di tempat Metabolism anaerob
tidur
 Mandi, makan,
merubah posisi Asidosis metabolic
harus dibantu oleh
pendamping
 Pasien mengalami
gejala stroke bagian Pembentukan ATP
tubuh kiri·      menurun
  TTV (TD 110/70
mmHg, HR
72x/menit, RR Kontraksi otot menurun
19x/menit, CRT 3
detik)
Kelemahan

Intoleransi Aktivitas

Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai darah ke jaringan
ditandai dengan pasien mengeluh gampang lelah
H. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Perencanaan
No Diagnosa Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional
  Mengetahui
1. Setelah dilakukan tindakan  Perawatan sejauh mana klien
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jantung rehabilitasi dapat melakukan
jam klien diharapkan
penurunan suplai darah ke jaringan aktivitas fisik
terjadi peningkatan  Monitor
toleransi aktivitas dengan untuk mengurangi
ditandai dengan: toleransi pasien
kriteria hasil: komplikasi dalam
DS:  terhadap
malakukan intoleransi
aktivitas sehari-hari aktivitas
aktivitas
 Pasien mengeluh mudah tanpa ada peningkatan   Rencana latihan
 Berdasarkan
lelah/cape dan sesak saat TTV (tekanan darah, jantung
literature review
beraktivitas nadi, respirasi) rehabilitasi
(terlampir)
 Manajemen
 Membantu klien
DO: nutrisi
dalam peningkatan
 Monitor kalori energi yang
 klien tampak lemah dan dan asupan diperlukan klien
berbaring di tempat tidur makanan untuk dalam melakukan
klien aktivitas
 klien melakukan aktivitas makan,  Monitor Respon  mengetahui
minum, berpindah posisi, dan fisik, emosi, sosial, perubahan sebelum
dan spiritual dan setelah
personal hygiene dibantu oleh  monitor ttv dan aktivitas
pendamping kardiovaskuler saat  untuk
beraktivitas mengetahui bahaya
yang akan
ditimbulkan dari
latihan aktivitas
sehari-hari
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.

Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.

Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya


Media

Kasiati, & Ni Wayan Dwi Rosmalawati. (2016). Kebutuhan Dasar Manusia I.


Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan, R. (2017). Pengkajian paripurna pada pasien geriatri.


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 1425–1429.

Nirmalasari, N. (2017). Deep Breathing Exercise Dan Active Range Of Motion


Efektif Menurunkan Dyspnea Pada Pasien Congestive Heart Failure.
NurseLine Journal, 159-165.

Nugraha, B. A., Fatimah, S., & Kurniawan, T. (2017). Pengaruh Pijat Punggung
terhadap Skor Kelelahan Pasien Gagal Jantung. JKP, 5(1).

Nusantara, G. (2017). Gambaran Pemenuhan Kebutuhan Dasar Personal


Hygiene pada Anak Jalanan di Kabupaten Banyumas. Purwokerto: Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Puspitasari, N., Kuswardani, & A, A. A. (2017). Pengaruh Terapi Latihan


Terhadap Congestive Heart Failure NYHA III-IV e.c Mitral Regurgitation,
Trikuspidal Regurgitation, Pulmonal Hipertensi. Jurnal Fisioterapi Dan
Rehabilitasi, 1(1).

Rolland, Y., Czerwinski, S., Abellan Van Kan, G., Morley, J.E., Cesari, M.,
Onder, G., et al., 2008. Sarcopenia: its assessment, etiology, pathogenesis,
consequences and future perspectives. J Nutr Health Aging. 12(7): 433–450.
Setyawan, D., & Widiyanto, B. (2013). Pengaruh Ambulasi Dini Tehadap
Peningkatan Activity Daily Living Pada Pasien Post Katerisasi Jantung di
RS Telogorejo Di Jawa Tengah.

WHO, 2010; Physical Activity. In Guide to Community Preventive Service

Yenni, E., Nurchayati, S., & Sabrian, F. (2015). Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Latihan Rehabilitasi Jantung terhadap Pengetahuan dan Kemampuan
Mobilisasi Dini pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF).
LAMPIRAN EBP

Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
1.
Pegaruh Untuk Populasi: Quasy Melakukan tindakan Standar Latihan ambulasi dini
Ambulasi Dini mengetahui eksperimental  ambulasi dini operasional berpengaruh dalam
terhadap pengaruh Semua pasien meningkatkan ADL pada
berupa mengatur prosedur
Peningkatan ambulasi dini yang menjalani pasien post kateterisasi
posisi (miring kanan ambulasi dini
Activity Of terhadap kateterisasi jantung di RS Telogorejo
dan miring kiri), menggunakan
Daily Living peningkatan jantung Semarang
mobilitas diatas pedoman
Pada Pasien ADL pada sebanyak 237
tempat tidur (duduk ambulasi oleh
Post Katerisasi pasien post pasien 
diatas tempat tidur, Perme & Sehingga dapat
Jantung di RS kateterisasi melakukan ativitas Chandrashekar
Sampel: 23 disimpulkan selisih rerata
Telegorejo jantung di RS seperti makan dan (2009)
responden  ADL pretest dengan
Semarang Telogorejo menggunakan posttest 2 lebih tinggi dan
Semarang. pakaian) dan Lembar
  ada perbedaan bermakna
Teknik melakukan pengukuran dibandingkan dengan
(Sukmawati, Sampling: breathing exercise Activity Daily rerata ADL posttest 1
Dody consecutive (latihan nafas Living dengan posttest 2 dan
Setyawan, Budi sampling dalam) menggunakan rerata ADL pretest dengan
Widyanto) indeks Barthel post-test 1
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
Dilanjutkan dengan
melakukan rom
pasif dan aktif 1 kali
sehari selama 30
menit
2.
Deep Breathing Mengetahui Populasi: Quasy Kelompok kontrol Pengukuran Hasil intervensi deep
Exercise Dan pengaruh deep Pasien dengan experiment  hanya mendapatkan dyspnea breathing exercise dan
Active Range breathing klasifikasi intervensi sesuai menggunakan active range of motion
Of Motion exercise dan grade CHF dengan prosedur di modified Borg lebih efektif daripada
Efektif active range of NYHA II dan rumah sakit yaitu scale intervensi standar rumah
Menurunkan motion terhadap III di RS PKU pemberian posisi sakit atau semi fowler
Dyspnea Pada dyspnea pada Muhammadiyah dan oksigenasi.  dalam menurunkan
Pasien pasien CHF Yogyakarta dyspnea (p=0,004,
Congestive Untuk kelompok alfa=0,05). Peneliti
Heart Failure Sampel: 32
intervensi, merekomendasikan
orang
Intervensi dilakukan penerapan deep breathing
(Nirmalasari,
setelah 48 jam exercise dan active range
Novita)
Teknik pasien masuk rumah of motion sebagai bentuk
Sampling: sakit, Latihan pilihan intervensi dalam
stratified diawali dengan fase inpatient untuk
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
random melakukan deep mengurangi dyspnea pada
sampling breathing exercise pasien CHF.
yang dilakukan
selama 5 siklus (1
siklus 1 menit yang
terdiri dari 5 kali
nafas dalam dengan
jeda 2 detik setiap 1
kali nafas)
dilanjutkan dengan
active range of
motion secara
bertahap dengan
masing-masing
gerakan dilakukan
selama 5 kali.
Latihan tersebut
dilakukan tiga kali
sehari selama 3
hari. 
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
Peneliti melakukan
post-test setelah 15
menit dari
berakhirnya
intervensi pada hari
ketiga.
3.
Pengaruh Pijat Mengidentifikasi Populasi: 130 Quasi Intervensi pijat Fungsional Terdapat perbedaan yang
Punggung pengaruh pijat orang pasien experimental Assessment bermakna antara skor
punggung
punggung terhadap
terhadap Skor menggunakan for Chronic kelelahan sebelum
skor kelelahan Sampel: 30
Kelelahan pasien gagal instrumen panduan Illness dilakukan intervensi dan
Pasien Gagal responden Therapy setelah dilakukan
jantung di RSU dr. pijat punggung yang
Jantung Slamet Garut. dengan kriteria intervensi. Rerata skor
terdiri dari metode:
inklusi (FACIT). kelelahan setelah
(a) hand changing,
consecutive dilakukan intervensi pada
(Bambang (b)
sampling hari ketiga secara
Aditya teknik mengggesek
dengan kriteria bermakna lebih rendah
Nugraha , Sari dan memutar
inklusi pasien dibandingan dengan skor
Fatimah , Titis dengan
gagal jantung kelelahan hari kedua. Skor
Kurniawan) ibu jari, (c) teknik
kelas fungsional kelelahan hari kedua
efleurasi merupakan
III yang secara bermakna lebih
tipe
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
pijatan dengan cara
mengalami menggosok pijatan rendah dibanding hari
kelelahan, gagal yang lambat dan pertama. Dengan kata
jantung yang luwes, (d) teknik lain, telah terjadi
terjadi petrisasi perbaikan secara
disebabkan oleh atau menarik secara bermakna pada skor
penyakit arteri lembut, dan (e) kelelahan setelah
koroner, teknik dilakukan intervensi pijat
rentang usia 22- tekanan menyikat. punggung. 
65 tahun, pasien Intervensi dilakukan
mampu pada pagi
berkomunikasi hari selama 15
secara verbal menit dengan
dan sadar interval 24 jam
penuh. selama 3 hari.
Pengukuran
Teknik
dilakukan 5 menit
Sampling:
pasca intervensi.
Consecutive
sampling
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
4. quasi Braden scale,
EFEKTIFITAS 1.Tujuan Umum Populasi 501 experiment 1. Kelompok Norton scale 1. Teknik masase
ALIH pasien intervensi yaitu and waterlow punggung sekali atau dua
BARING Untuk dengan alih baring scale kali sehari lebih efektif
DENGAN mengetahui Sampel yang dikombinasikan daripada mobilisasi setiap
MASASE efektifitas alih digunakan dengan masase 2-3 jam dalam mencegah
PUNGGUNG baring dengan dalam punggung selama perkembangan luka tekan.
TERHADAP masase penelitian ini 15 menit setiap pagi
punggung dan sebanyak 60 2. Alih baring dengan
RESIKO dan  sore.
alih baring responden, masase punggung lebih
DEKUBITUS 2. Kelompok
terhadap dengan efektif dibandingkan alih
PADA kontrol yaitu
kejadian perincian 30 baring dalam menurunkan
PASIEN dengan alih baring
dekubitus pada responden resiko dekubitus di RSUD
TIRAH setiap 2 jam
pasien dengan sebagai Ambarawa.
BARING  DI
RSUD tirah baring kelompok
AMBARAWA lama. intervensi yaitu
alih baring
    dikombinasikan
dengan masase
(Mareta Fitri 2.Tujuan
punggung
Andani, Sri Khusus
selama 15 menit
Puguh
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
Kristiyawati, S,
Eko a. setiap pagi dan 
Ch.Purnomo) Mendiskripsikan sore sedangkan
resiko dekubitus 30 responden
pada pasien sebagai
dengan tirah kelompok
baring lama kontrol yaitu
sebelum alih baring
dilakukan alih setiap 2 jam
baring dan
Teknik
masase
sampling
punggung.
purposive
b. sampling.
Mendiskripsikan
resiko dekubitus
pada pasien
dengan dengan
tirah baring
lama setelah
dilakukan alih
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling

baring dengan
masase
punggung
c. Menganalisa
efektivitas alih
baring dan alih
baring dengan
masase
punggung
terhadap resiko
dekubitus pada
pasien dengan
tirah baring
lama.
5.
Pengaruh Untuk Sampel 30 Kuantitatif Penderita CHF Instrumen: Hasil penelitian
Pendidikan mengetahui pasien diRSUD dengan memerlukan lembar membuktikan bahwa
Kesehatan pengaruh Arifin Achmad desain pra- program observasi dan adanya perbedaan yang
Latihan pendidikan Pekanabru experimental rehabilitative yang kuesioner signifikan antara sebelum
Rehabilitasi kesehatan dengan Teknik komprehensif untuk pengetahuan dan sesudah dilakukannya
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
latihan purposive dan Penkes, sehingga
Jantung rehabilitasi sampling  mengembalikan kemampuan berpengaruh terhadap
Terhadap jantung terhadap kemampuan fisik pasien kepatuhan atau
Pengetahuan tingkat penderita pasca melakukan kemampuan pasien.
Dan pengetahuan dan serangan (Arovah, latihan
Kemampuan kemampuan 2010) rehabilitasi
Mobilisasi Dini melaksanakan jantung
Pada Pasien  Latihan fisik
mobilisasi dini (mobilisasi)
Congestive merupakan
pada pasien pada fase
Heart Failure mobilisasi ringan
CHF inpatient
(CHF) yang dapat
selama di
dilakukan 48 jam
rumah sakit
setelah CHF,
diantaranya adalah
Elva Yenni,
Gerakan tangan dan
Sofiana
kaki serta
Nurchayati,
pengubaan postur. 
Febriana
(Marchionni et al,
Sabrian
2007)
(2015)
Latihan fisik berupa
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling

6. Deskriptif
Pengaruh Untuk Sampel: 8 kuantitatif Terapi latihan Di dapat dari Nilai sangkar thorax
Terapi Latihan mengetahui pasien penderita dengan uji T. diantaranya adalah pemeriksaan sebelum dan sesudah
terhadap pengaruh terapi Congestive breathing exercise, ekspansi dilakukan tindakan
Congestive latihan terhadap Heart Failure Variabel mobilisasi sangkar pengumpulan berpengaruh positif
Heart Failure Congestive NYHA terikat: terapi thorax dan latihan data didapat terhadap peningkatan
NYHA III-IV Heart Failure III-IV e.c Mitral latihan aktif dari sesak
e.c Mitral NYHA III-IV Regurgitation, (breathing pemeriksaan
Regurgitation, e.c Mitral Trikuspidal exercise, sangkar thorax Dalam penelitian
Trikuspidal Regurgitation, Regurgitation mobilisasi Breathing exercise dengan ditemukan adanya
Regurgitation, Trikuspidal dan Pulmonal sangkar merupakan latihan midline. peningkatan eksapnsi
Pulmonal Regurgitation, Hypertensi. thorax, gerak thorac dengan ditandai
nafas dalam yang
Hipertensi Pulmonal aktif anggota perkambangan pada
menekan pada
Hipertensi Teknik gerak bawah inspirasi maksimum sangkar thorax.
Nurwahida
sampling: Total dan atas) yang panjang yang
Puspitasari,
sampling dimulai dari akhir Potensial tirah baring
Kuswardani,
Variabel ekspirasi. lama pasien juga
Akhmad
bebas: mengalami penuruanan
Alfajri A
sangkar Mobilisasi Sangkar
(2017)
thorax dan thorax dan latihan
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling
potensi tirah
baring lama. aktif meliputi
gerakan-gerakan
pada trunk dan
anggota gerak
atas.dan bawah serta
dapat dilakukan
bersamaan dengan
breathing exercise.

Gerakan dilakukan
dalam sendi penuh
dengan pengulangan
sebanyak 5-10 kali
di sesuaikan dengan
toleransi pasien
(Hikmah, 2011)

Terapi dilakukan
selama 5 kali
dengan durasi
Populasi,
Judul dan Tujuan Sampel dan Jenis
No Intervensi Instrumen Hasil
Penulis penelitian Teknik Penelitian
sampling

waktu 10-15 menit.