Anda di halaman 1dari 44

PEDOMAN PEMBINAAN KEPRIBADIAN NARAPIDANA

BAGI PETUGAS DI LAPAS/RUTAN

i :::::: : :::

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MAI\USIA RI


DIREKTORAT JENDERAL PEMASYAITAKATAN
JAKARTA
2A13
PEDOMAN PEMBINAAN KEPRIBADIAN NARAPIDANA
BAGI PETUGAS DI LAPAS/RUTAN

Iiii;l

#n..,
!ii:
rii
lidr .:::::

w
'!1..

iiru
I
IN

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI


DIREKTORAT JtrNDERAL PtrMASYARAKATAN
JAKARTA
2013
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PEMASYARAKATAN

Meningkatnya kasus tindak pidana di indonesia dari tahun ke tahun mengakibatkan


meningkatnya jumlah hunian di Lapas dan Rutan sehingga daya tampung di Lapas dan
Rutan menjadi over kapasitas. Situasi yang dihadapi saat ini perlu disikapi dengan bijak
yaitu dengan tetap melaksanakan kegiatan pembinaan di Lapas dan Rutan sesuai standar
dan terukur.

Direktorat Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan melalui Sub Direktorat


Bimbingan Kepribadian perlu mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kegiatan
pembinaan kepribadian sebagai pembinaan dapat dilaksanakan dengan baik. Saya
menyambut baik dengan terbitnya buku "Pedoman Pembinaan Kepribadian Narapidana
Bagi Petugas Di Lapas/Rutan". Buku ini diharapkan dapat menambah wawasan
pengetahuan bagi para petugas untuk melaksanakan tugas sehari-hari khususnya tugas

dibidang pembinaan kepribadian.


Saya mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan para pihak yang telah

berpartisipasi sehingga buku pedoman ini dapat diselesaikan.

ERAL PEMASYARAKATAN,

AMAD SUEB
726 t97709 I 001
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Allah SWT atas Rahmat dan KaruniaNya sehingga berkat
RidhoNya dapat tersusun buku Pedoman Pembinaan Kepribadian Narapidana bagi Petugas
di Lapas iRutan .

Dengan tersusunnya buku pedoman ini diharapkan kegiatan pembinaan khususnya


pembinaan Kepribadian dapat mencapai hasil yang maksimal.

Buku pedoman ini disusun dengan tujuan agar pelaksanaan kegiatan pembinaan
Kepribadian disetiap Lapas dan Rutan dapat dilaksanakan secara standard dan terukur
walaupun situasi dan kondisi disetiap Lapas /Rutan berbeda.
Saran dankritik dari semua pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan
penyusunan buku pedoman ini. Diucapkan terima kasih kepada semua pihak atas
kerjasamanya dan partisipasinya .

Demikian, semoga buku Pedoman ini berguna bagi kita semua . Amiin

I akarta, 04 Novemb er 20 73

AN TAHANAN,
'tt-t

O, Bc.IP., M.Si.
5 198403 1 003
TIM PENYUSUN
PEDOMAN PEMBINAAN KEPRIBADIAN NARAPIDANA
BAGI PETUGAS DI LAPAS / RUTAN

Surat Tugas Direktur Jenderal Pemasyarakatan


Nomor : PAS.7.KP.04.01-06
Tanggal : 07 Februari21l3

I. Pelindung : Direktur Jenderal Pemasyarakatan


II. Penanggung Jawab : Direktur Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan
III. Penyusun :

1. Iwan Pramono, Bc.IP., S.H.


2. Drs. Husni Setiabudi, Bc.lP., M.Si.
3. Tejo Harwanto, Bo.IP., S.lP., M.Si.
4. Husnal Fikri, S.Sos., M.H.
5. Yeni Setiawati, S.E., M.H.
6. Surya Dharma, Amd.IP., S.H.
7. Mitro Subroto, Bc.lP., S.IP., M.Si.
8. Andi Heri Irawan, Amd.IP., S.H., M.H.
9. Tetra Destorie Imantoro, Amd.IP., S.Sos., M.H.
10. Tri Budi Haryoko, Amd.IP., S.H., M.H.
1 1. Risman Somantri, Amd.lP., S.H.
12. Djoni Praptomo, S.H., M.Si.
13. Ahmad Fauzi, S.Pd.
14. Rahmat Ali Akbar, S.Ag.
15. Desy Prita Untari, S.Ag.

IV. Kontributor :

l. Anas Saeful Anwar, Bc.IP., M.Si.


(Kalapas Klas IIA Narkotika Cirebon)
2. Rahmat Mulyana, Bc.IP., S.E.
(Kalapas Klas IIB Garut)
3. Bambang Irawan, Bo.IP., S.E.
(Kalapas Klas IIB Tasikmalaya)
4. Tri Saptono, Bo.IP., S.H., M.Si.
(Kalapas Klas IIB Cianjur)
5. Kodir, Bc.IP., S.H.
(Karutan Klas IIB Garut)
6. Nana Herdiana, Bc.IP., S.Sos.
(Kalapas Klas III Warung Kiara Sukabumi)
7. Syharulmanan, Bc.IP., S.lP.
(Kabid Pembinaan Lapas Klas I Cipinang)
8. Ahmad Hardi, Bc.IP., S.H.
(Kabid Pembinaan Lapas Klas I Sukamiskin Bandung)

ilt
DAFTAR ISI

PEDOMAN PEMBINAAN KEPRIBADIAN NARAPIDANA


BAGI PETUGAS DI LAPAS / RUTAN

Sambutan Direktur Jenderal Pemasyarakatan


Kata Pengantar
Tim Penyusun ..lll
Daftar Isi

BAB I

B. Dasar Hukum .......................2


C. Maksud dan Tujuan .............. 3
D. Ruang Lingkup ..................... 4
E. Pengertian .......... 4

BAB II TUGAS, FUNGSI DAN PERAN PETUGAS PEMBINAAN


KEPRIBADIAN ......,6
A. Tugas .................. 6
B. Fungsi ................. 6
C. Peran Petugas Pembinaan Kepribadian ................... 6

BAB III PEMBINAAN KEPRIBADIAN BIDANG KEAGAMAAN ........ 7


A. Rutin ................... 8
l. Metode ..........8
2. Mekanisme ..................... 9
3. Prosedur ........9
B. Khusus ................ 9
1. Metode ........ l0
2. Mekanisme ................... 10
3. Prosedur ...... 10

BAB IV PEMBINAAN KEPRIBADIAN BIDANG OLAHRAGA DAN


KESENIAN ............. 12
A. Olahraga t2
A.1. Rutin 12
1. Metode t2
2. Mekanisme ........... t2
13

IV
BAB V

BAB VI

BAB VII PELAPORAN.............. ............ 24


A. Tujuan Pelaporan ............... 24
B. Penyampaian Pelaporan ..... 24
C. Bentuk Laporan .................. 24
D. Format Laporun ..................25

BAB VIII PENUTUP ..............26

DAFTAR PUSTAKA 27
I,AMPIRAN : 1. Format Laporan Rutin Bulanan
2. SOP Pelaksanaan Pembinaan Narapidana
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Era reformasi yang sudah berjalan sekitar lebih dari satu dasawarsa ini
tampaknya belum memperlihatkan suatu perubahan yang nyata dalam sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara, hal itu sangat dimaklumi karena salah satu hal
penting yang harus dilaksanakan dalam reformasi ini adalah reformasi birokrasi.
Reformasi birokrasi tidak terlepas dari adanya perubahan dari suatu organisasi,
perubahan tersebut adalah adanya pembaruan birokrasi yang berarli upaya
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia ini dibutuhkan

pegawai yang terampil, profesional dan menguasai tugasnya agar dapat memberikan
pelayanan pemasyarakatan secara optimal. Peranan sumber daya manusia dalam suatu

organisasi merupakan aset yang sangat penting dan secara signifikan dapat
menentukan berhasil atau tidaknya organisasi tersebut mencapai tujuan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan,


pengertian Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenat arah dan batas serta

cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berdasarkan Pancasila yang


dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk
meningkatkan kualitas warga binaan pemasyarakatan agar menyadari kesalahan,
memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima

kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan
dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab'

Terdapat sepuluh prinsip pemasyarakatan yang menjadi dasar filosofis lembaga


pemasyarakatan di Indonesia. Pertama, mengayomi dan memberikan bekal hidup agar

mereka dapat menjalankan peranannya sebagai warga masyarakat yang baik dan
berguna. Kedua, penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam dari negara. Ketiga,
memberikan bimbingan bukan penyiksaan supaya mereka bertobat. Keempat, negara
tidak berhak membuat seseorang lebih buruk/lebih jahat daripada sebelum dijatuhi
pidana. Kelima, selama kehilangan kemerdekaan bergerak, para narapidana dan anak

didik harus dikenalkan dengan masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari
masyarakat. Keenam, pekerjaan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik
tidak boleh bersifat sekedar mengisi waktu, atau kepentingan negara sewaktu saja.

Pekerjaan yang diberikan harus satu dengan pekerjaan dan yang menunjang usaha
peningkatan produksi. Ketujuh, bimbingan dan didikan yang diberikan kepada
narapidana dan anak didik harus berdasarkan Pancasila. Kedelapan, narapidana dan

anak didik sebagai orang-orang yang tersesat adalah manusia, dan mereka harus
diperlakukan sebagai manusia. Kesembilan, narapidana dan anak didik hanya dijatuhi
pidana kehilangan kemerdekaan sebagai satu-satunya derita yang dialami. Kesepuluh,
disediakan sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi rehabilitatif, korektif, dan
edukatif dalam sistem pemasyarakatan.

Berbanding lurus dengan dasar filosofis tersebut, tujuan sistem pemasyarakatan


ini meliputi empat hal. Pertama, meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan

yang Maha Esa, sikap dan perilaku. Kedua, meningkatkan kualitas intelektual,
kecintaan dan kesetiaan kepada negaTa. Ketiga, meningkatkan kualitas
profesionalisme/ketrampilan. Keempat, meningkatkan kualitas kesehatan jasmani dan
rohani.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Pasal


2, disebutkan bahwa program pembinaan meliputi kegiatan pembinaan kepribadian
dan kemandirian. Khusus dalam hal pembinaan kepribadian, memiliki beberapa aspek
kegiatan yang bertujuan membentuk mental rohani dan jasmani narapidana yang
meliputi: Pertama; meningkatnya tingkat keimanan sebagai pengendalian diri dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari. Kedua; memiliki badan sehat dan berjiwa seni.
Ketiga; memiliki kesadaran bernegara sebagai wujud cinta terhadap tanah air.

Untuk mewuiudkan pembinaan kepribadian yang optimal, tentunya menuntut


kemampuan dan tanggung jawab dari para petugas, termasuk perlunya dukungan
berupa sarana dan fasilitas yang memadai. Dengan demikian, penyelenggaraan
pembinaan kepribadian narapidana perlu dilaksanakan melalui program yang
terencana, selaras, dan sistematis. Untuk itu perlu disusun suatu buku yang dapat

dijadikan pedoman bagi petugas pemasyarakatan dalam menyelenggaraan tugas-tugas


pembinaan kepribadian narapidana.

B. Dasar Hukum
Landasan hukum yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pembinaan
kepribadian di Lapas, Rutan, dan Cabang Rutan adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 29 tentang
kemerdekaan untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agama dan
kepercayaannya itu);
2. tJndang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang

Pemasyarakatan;

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang


Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan;
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat
dan Tata Cara Pelaksanaan Hak bagi Warga Binaan Pemasyarakatan;

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 atas Perubahan


PP Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga
Binaan Pemasyarakatan;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 1999 tentang Syarat-
Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas, dan Tanggung Jawab
Perawatan Tahanan;

7. Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M02-PK-04.10 Tahun


1 990 tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan;

8. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Ri Nomor M.HH-05.OT.01.01 Tahun 2010


Tanggal 30 Desember 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum
dan HAM Republik Indonesia.

C. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Buku pedoman pembinaan kepribadian ini dimaksudkan untuk memberikan
petunjuk tentang penyelenggaraan pembinaan kepribadian bagi petugas
pemasyarakatan di Lapas, Rutan, dan Cabang Rutan. Agar fungsi dan tugas
pembinaan terhadap narapidana dapat dilaksanakan secara terpadu dan optimal.

Sehingga tingkah laku mereka setelah selesai menjalani pidananya dapat berubah
menjadi lebih baik.

2. Tujuan
Tujuan dari buku pedoman pembinaan kepribadian ini agar dapat dijadikan
sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pembinaan kepribadian di seluruh Lapas,
Rutan, dan Cabang Rutan seluruh indonesia. Sehingga diperoleh kesamaan persepsi
dan keselarasan dalam pelaksanaannya.

D. Ruang Lingkup
Materi buku pedoman ini mencakup ruang lingkup pembinaan keagamaan,
pembinaan olahraga dan kesenian serta bimbingan intelektual dan kesadaran
bernegara.

Pengertian
1. Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan
Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang
merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.
2. Pegawai Pemasyarakatan adalah pegawai negeri sipil di lingkungan Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia yang menjalankan tugas dan fungsi di bidang
pemasyarakatan.

3. Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut lapas adalah tempat untuk


melaksanakan pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan.

4. Rumah Tahanan Negara (Rutan) adalah unit pelaksana teknis tempat tersangka
atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di

sidang pengadilan.

5. Warga Binaan Pemasyarakatan adalah naraptdana, anak didik pemasyarakatan dan


klien pemasyarakatan.
6. Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lapas.
7. Tahanan adalah tersangka atau terdakwa yang ditempatkan dalam rutan/cabang
rutan.

8. Petugas Pemasyarakatan merupakan pejabat fungsional penegak hukum yang


melaksanakan tugas di bidang pembinaan, pengamanan, dan pembimbingan
warga binaan pemasyarakatan.
9. Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan
jasmani dan rohani naraprdana dan anak didik pemasyarakatan.

10. Pembinaan Kepribadian adalah pembinaan yang meliputi pembinaan keagamaan,


pembinaan olah raga dan kesenian, pembinaan intelektual dan pembinaan
kesadaran berbangsa dan bernegara.
11. Pembina Pemasyarakatan adalah petugas pemasyarakatan yang melaksanakan
pembinaan naraprdana dan anak didik pemasyarakatan di Lapas.

12. Kode Etik adalah pedoman sikap, tingkah laku, atau perbuatan pegawai
pemasyarakatan dalam pergaulan hidup sehari-hari guna melaksanakan tugas dan

fungsi pelayanan, pembinaan, daan pembimbingan terhadap warga binaan

pemasyarakatan.

13. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai
maksud atau tujuan.
14. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama

terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek, dan sebagainya).


15. Prosedur adalah tahap atau metode langkah demi langkah secara pasti dalam
memecahkan suatu masalah.
16. Mekanisme adalah cara kerja suatu organisasi atau perkumpulan.
BAB II
TUGAS, FUNGSI DAN PERAN PETUGAS PEMBINAAN KEPRIBADIAN

A. Tugas
Petugas pembinaan kepribadian bertugas melaksanakan program pelayanan

pembimbingan, pengawasan dalam bentuk kegiatan perencanaan, pengorganisasian,


pelaksanaan, pengendalian, monitoring evaluasi dan pelaporan serta kegiatan teknis
lainnya yang relevan.

B. Fungsi
1. Menyampaikan informasi dan pengetahuan yang bertujuan menghasilkan input,
yakni kemampuan narapidana dalam memahami, meresapi, dan mengamalkan
informasi yang didapatkannYa.
2. Merubah dan mengembangkan sikap dan perilaku narapidana melalui proses

pembelajaran secara fisik dan psikis dalam diri narapidana, sehingga mereka

mampu mengubah diri dari kebiasaan dan perilaku sebelumnya.


3. Melatih dan mengembangkan kecakapan dan keterampilan narapidana secara

bertahap dan progresif.

C. Peran Petugas Pembinaan Kepribadian


1. Memberikan dukungan dan dorongan kepada naraprdana agar mampu menghadapi
masalahnya.

2. Mengarahkan dan menjelaskan apa yang harus dikerjakan.

3. Mendorong semangat dan percaya diri narapidana.


4. Membantu narapidana bertindak sesuai prosedur dan aturan yang berlaku.
5. Memberikan konsultasi kepada narapidana dalam upaya memecahkan masalah
yang dihadapi.

6. Menyiapkan dan menyalurkan informasi yang dibutuhkan narapidana.

7. Merencanakan dan mengkoordinasikan pelayanan serta monitoring terhadap


kemajuan.
8. Memberikan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai.
BAB III
PEMBINAAN KEPRIBADIAN BIDANG KEAGAMAAN

Pembinaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu usaha, tindakan, dan

kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil lebih baik.
Pembinaan juga dapat berarti suatu kegiatan yang mempertahankan dan menyempurnakan
apa yang telah ada sesuai dengan yang diharapkan. Pembinaan merupakan proses

peningkatan yang identik dengan pendidikan. Perbedaan di antara keduanya terletak pada
pengembangan sikap. Kemampuan dan kecakapan dari sisi praktis dan teoritisnya. Adapun

tujuan dari pembinaan yang dimaksud adalah suatu proses pemberian bantuan kepada
orang lain untuk melakukan pembenahan, perbaikan serta pengembangan pengetahuan dan
kecakapan yang telah dimiliki, di samping itu untuk memperoleh keterampilan dan
pengetahuan baru yang mampu menjadi bekal untuk pengembangan selanjutnya secara

efektif dan efisien.

Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku
yang berasal dari suatu kekuatanyang ghaib. Emile Durkheim mengatakan bahwa agama

adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang
berhubungan dengan hal yang suci. Sebuah agama biasanya mengajarkan beberapa hal
pokok yang menjadi ruang lingkup ajarannya. Ruang lingkup tersebut adalah keyakinan
dan sistem nilai. Keyakinan adanya suatu kekuatan yang mengatur dan menciptakan alam
dan seisinya. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada
Tuhan dengan cara menghambakan diri yaitu dengan cara mentaati segala perintah dan
menjauhi larangan Tuhan. Sedangkan ruang lingkup yang lain adalah sistem nilai yang
mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia
dengan lingkungannya atau al am semes ta y ang berkaitan den gan keyakinannya.

Secara umum pembinaan narapidana dan tahanan bertujuan agar mereka dapat
menjadi manusia seutuhnya dan tidak mengulangi perbuatannya. Hal ini sejalan dengan

arah pembangunan nasional melalui jalur pendekatan menambah keimanan dan membina
mereka agar mampu berintegrasi secara wajar dalam hidup dan kehidupannya selama di
dalam lapas/rutan dan setelah menjalani pidananya. Pembinaan keagamaan narapidana dan
tahanan ditujukan agar selama masa pembinaan dan sesudah selesai menjalankan masa
pidananya berhasil meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan.
A. Rutin
Pembinaan berarli membangun dan mendirikan, maksudnya adalah pembangunan
yakni bertujuan untuk membenahi kondisi buruk menjadi keadaan yang lebih baik.
Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin merupakan kegiatan harian yang

dikerjakan secara terus menerus namun terprogram dengan pasti dan terjadwal.
Kegiatan rutin ini dilakukan oleh para pemeluk agama masing-masing yang ada di
dalam Lapas dan Rutan. Agama yang dianut antara lain: Agama Islam, Kristen
Protestan dan Kristen Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu.

Di antara kegiatan-kegiatan rutin tersebut antara lain:

AGAMA KEGIATAN
lslam Melaksanakan ibadah sholat lima waktu.
Sholat Jumat.
Melaksanakan Puasa Ramadhan.
Melaksanakan Sholat Tarawih.
Tadarusan Al-Quran.
Baca tulis Al-Quran.
Sholat Idul Fitri dan Idul Adha.
Ceramah Islam Minssuan.
Kristen a Kegiatan kebaktian.
a Natal.
a Renungan malam.
a Pemahaman Alkitab.
Hindu a Karma Yoga.
a Puja Tri Sandhya.
o Nyepi.
Budha a Sembahyang.
a Meditasi.
a Membaca Kitab Tripitaka.
Khonghucu a Sembahyang.
a Membaca kitab Su'si (kitab yane 4).

1. Metode

Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan di


lapas dan rutan yaitu:

a. Ceramah.

b. Diskusi.
c. Simulasi.
d. Penugasan.
2. Mekanisme

Mekanisme dalam pembinaan kegiatan keagamaan dilaksanakan oleh


pembina pemasyarakatan yang berada dibawah koordinasi pejabat yang berkaitan
dengan pembinaan di lapas dan rutan. Kepala UPT bertanggung jawab terhadap

seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan kepribadian di UPT yang


dipimpinnya dan kepala UPT wajib melaporkan seluruh kegiatan pembinaan
kepribadian di UPT kepada kepala kanwil setempat melalui kepala divisi
pemasyarakatan sefta memberikan tembusan kepada Direktur Jenderal

Pemasyarakatan.

Adapun mekanisme yang dilakukan:


a. Mendata narapidana yang mengikuti kegiatan.
b. Menyediakan tempat untuk kegiatan.
c. Membuat jadwal kegiatan.
d. Koordinasi dengan KPLP/KPR.
e. Koordinasi dengan instansi terkait.
a').
Prosedur

Rangkaian I"ata kerja yang saling berkaitan menunjukkan adanya urutan


tahapan secara jelas dan pasti, serta cara-cara yang harus ditempuh dalam rangka
penyelesaian suatu bidang tugas atau kegiatan antara lain:

a. Peserta menuju tempat pembinaan sesuai Standard Operating Procedure


(SOP) yang dibuat oleh UPT setempat.

b. Petugas mengatur ruang pembinaan.

c. Petugas atau narasumber memberikan materi yang sudah ditentukan.

B. Khusus
Kegiatan khusus yang dilaksanakan di Lapas dan Rutan antara lain:

AGAMA KEGIATAN
Islam o Pesantren kilat.
. Majelis Ta'lim.
. Peringatan hari-hari besar agama.
o Tablig akbar.
. Pengajianpada bulan suci Ramadhan.
o Hafalan Al-quran.
o Pelatihanpenceramah.
Kristen o PeraYaan Paskah.
o Pendalaman Alkitab.
Hindu . Pasraman.
. Dharma Wacana.
o Dharma Shanti.
o Tirla Yatria.
. Galungan.
o Kuningan.
o Siwa Ratri.
Budha o Perayaan Waisak.
Khonghucu o Perayaan imlek.

1. Metode
Metode yang digunakan dalam pembinaan keagamaan dengan mengajar
secara khusus untuk pelajaran tertentu. Dalam metode yang khusus ini agar

Narapidana dapat mengetahui, memahami, mempergunakan, dan dengan kata lain


menguasai pelaj aran tersebut.

a. Diskusi.
b. Ceramah.

c. Penugasan.

2. Mekanisme

Mekanisme merupakan sistem kerja yang dipakai untuk kegiatan, dengan


mempertimbangkan mekanisme khusus yang tepat sasaran dapat mengantisipasi
kemungkinan-kemungkinan timbulnya perdebatan masalah agama yang berpotensi
pertentangan dan perbedaan pendapat yang menyangkut sata, apalagi yang ujung-

ujungnya menimbulkan pelecehan terhadap agama tertentu.


a. Mendata narapidana.
b. Menyediakan tempat untuk kegiatan.
c. Menyediakan sarana atau alat yang digunakan.
d. Membuat jadwal kegiatan.
e. Koordinasi dengan KPLP.
f. Koordinasi dengan instansi terkait.
1
). Prosedur

Rangkaian tata kerja yang berkaitan dengan satu sama lainnya, sehingga
menunjukkan adanya urutan tahapan secara jelas dan pasti, serta cara-cara yang
harus ditempuh dalam rangka penyelesaian suatu bidang tugas atau kegiatan.

a. Pesefta menuju tempat pembinaan sesuai dengan SOP yang dibuat oleh UPT
setempat.

10
b. Petugas mengatur ruang pembinaan.

c. Petugas atau narasumber memberikan materi sesuai dengan metode yang sudah

ditentukan.

tt
BAB IV
PEMBINAAN KEPRIBADIAN BIDANG OLAHRAGA DAN KESENIAN

Pembinaan kepribadian bagi warga binaan pemasyarakatan, khususnya bidang


olahraga dan kesenian merupakan salah satu bentuk kegiatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan jasmani dan sarana sosialiasasi antar sesama WBP. Agar kegiatan
pembinaan dapat berjalan dengan efektif, maka diperlukan pedoman bagi petugas dalam
melaksanakan kegiatan dimaksud.

Pembinaan olahraga dan kesenian pada UPT Pemasyarakatan dibagi pada dua jenis
kegiatan, yaitu (1). kegiatan rutin dan; (2).kegiatan khusus. Jenis-jenis kegiatan tersebut
diuraikan sebagai berikut:
A. Olahraga
Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional (Siskornas) menyebutkan bahwa tujuan olahraga adalah
memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia,
menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan

membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkokoh ketahanan nasional sefta


mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa. Oleh karena itu, olahraga sangat
diperlukan bagi setiap umat manusia.
A.1. Rutin
Pembinaan olahraga rutin merupakan pembinaan fisik bagi WBP yang

dilaksanakan di Lapas, dan Rutan. Kegiatan dilakukan secara terjadwal dan


berkesinambungan yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi masing-
masing Lapas dan Rutan setempat. Jenis olahraga rutin yang dapat dilakukan
antaralain senam pagi, voli , tenis meja, bulu tangkis, catur, futsal/sepak bola.
1. Metode
Pelaksanaan pembinaan olahraga rutin dapat dilakukan dengan metode

kelompok dan individu, melalui:


a. Pengarahan.

b. Pemberian motivasi.
c. Permainan.

2. Mekanisme
a. Membuat rencana kegiatan dan biaya pelaksanaannya yang disesuaikan
dengan kebijakan anggaran masing-masing UPT'

1.2
b. Menyusun jadwal kegiatan olahraga sekurang-kurangnya 2 kah dalam
seminggu.

c. Menyiapkan daftar nama WBP yang mengikuti kegiatan olahraga.


d. Menyiapkan tempat/lapangan untuk kegiatan olahraga disesuaikan
dengan fasilitas yang terdapat di masing-masing UPT.

e. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan olahraga.


f. Melakukan koordinasi dengan KPLPiKPR, Ka.Rupam dan Komandan
Blok.
g. Melakukan koordinasi dengan instansi/lembaga atau pihak ketiga yang
dapat membantu kegiatan.

3. Prosedur
Prosedur pelaksanaan olahraga rutin dilakukan sesuai dengan Standard
Operating Procedure (SOP) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Olahraga
yang dibuat oleh UPT setemPat.

A.2. Khusus
di lapas dan rutan antara lain Pekan
Jenis olahraga khusus yang dilaksanakan
Olahraga Antarnarapidana (Porsenap), pertandingan dalam rangka HIIT
Pemasyarakatan, HUT Kota, dan HUT RI, turnamen olahraga, tinju, fitnes,
pertandingan persahabatan dari luar lapas, sepak takraw, tenis lapangan, basket

dan olahraga permainan: enggrang, gobak sodor, benthik, kasti.

1. Metode

Pelaksanaan pembinaan olahraga khusus dapat dilakukan dengan metode


kelompok dan individu melalui:
a, Pengarahan.
b. Pemberian motivasi.
c. Pertandingan.
d. Kompetisi.
2. Mekanisme

a. Membuat rencana kegiatan dan braya pelaksanaan pefiandingan


olahraga.

b. Menyiapkan jadwal pelaksanaan pertandingan olahraga'


c. Menyiapkan dan menyeleksi nama WBP yang mengikuti pertandingan
olahraga.

13
d. Menyiapkan tempat/lapangan untuk pertandingan olahraga disesuaikan
dengan fasilitas yang terdapat di masing-masing UPT.

e. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan pertandingan


olahraga.

f. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait, seperli dengan Lapas


atau Rutan terdekat, Kantor Wilayah, Kepolisian dan pihak-pihak lain.

3. Prosedur

Prosedur pelaksanaan olahraga khusus dilakukan sesuai dengan Standard


Operating Procedure (SOP) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Olahraga
yang dibuat oleh UPT setempat.

Kesenian
Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan
untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain

mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia, kesenian juga mempunyai
fungsi lain. Misalnya, mitos berfungsi menentukan norna untuk perilaku yang teratur
serta meneruskan adat dan nilai-nilai kebudayaan. Secara umum, kesenian dapat
mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat. Oleh karena itu, pembinaan bidang
kesenian di Lembaga Pemasyarakatan/Rumah Tahanan Negara merupakan kegiatan
yang dapat memulihkan jiwa warga binaan pemasyarakatan ke arah yang lebih baik.

8.1. Rutin
Pembinaan kesenian yang dapat dilakukan secara rutin dengan menggunakan
jadwal yang telah disusun oleh petugas. Jenis kesenian yang dapat dilakukan
antara lain seni musik, seni suara, seni tradisional, seni rupa, seni drama.
1. Metode
Jenis metode pelaksanaan pembinaan kesenian rutin terdapat dua. yaitu
metode kelompok dan individu melalui :

a. Pengarahan.

b. Penyampaian materi.
c. Latihan.
2. Mekanisme
a. Membuat rencana kegiatan dan anggaran yang diperlukan.
b. Menyusun jadwal kegiatan.

L4
c. Menyiapkan daftar nama WBP yang mengikuti kegiatan kesenian.
d. Menyiapkan tempat/ruangan untuk kegiatan kesenian disesuaikan dengan
fasilitas yang terdapat di masing-masing UPT.
e. Menyiapkan peralatan, perlengkapan dan sarana yang diperlukan dalam
pelaksanaan kegiatan kesenian.

f. Melakukan koordinasi dengan KPLP/KPR, Ka.Rupam dan Komandan


Blok.
3. Prosedur
Prosedur pelaksanaan kesenian rutin dilakukan sesuai dengan Standard
Operating Procedure (SOP) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Kesenian yang
dibuat oleh UPT setempat.

B.2. Khusus
Pembinaan kepribadian bidang kesenian yang merupakan pembinaan khusus
merupakan kegiatan kesenian yang dilakukan pada acara-acara tefientu antara lain
lomba seni pada Pekan Olahraga Antarnarapidana (Porsenap), group band, seni
tari: nasional/tradisional/kreatif, seni lukis, vokal group, koor, girl/boy band,
marawis/nashid/hadroh, lomba seni dan WBP Idol.
1. Metode
Jenis metode pelaksanaan pembinaan kesenian khusus terdapat dua, yaitu
metode kelompok dan individu melalui :

a. Pengarahan.

b. Perlunjukkan.
c. Pameran.

d. Perlombaan.
2. Mekanisme
a. Membuat rencana kegiatan dan anggaranyang diperlukan.
b. Penyebaran informasi rencana kegiatan

c. Menyiapkan daftar nama WBP yang mengikuti kegiatan dimaksud.


d. Menyiapkan sarana dan prasaranayang diperlukan.
e. Menyusun jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan.
f. Melakukan koordinasi keamanan dengan seksi terkait.
g. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Kantor Wilayah,
Kepolisian dan pihak lain.

1_5
3. Prosedur
Prosedur pelaksanaan kesenian khusus dilakukan sesuai dengan Standard
Operating Procedure (SOP) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Kesenian
yang dibuat oleh UPT setempat.

L6
BAB V
PEMBINAAN KEPRIBADIAN BIDANG INTELEKTUAL

Pembinaan kepribadian bidang intelektual diperlukan agar pengetahuan serta


kemampuan berfikir warga binaan pemasyarakatan semakin meningkat sehingga dapat

menunjang kegiatan-kegiatan positif yang diperlukan selama masa pembinaan. Pembinaan


intelektual (kecerdasan) dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan non-
formal. Pendidikan formal, diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah terhadap semua warga binaan pemasyarakatan. Pendidikan non-formal,
diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan berupa kursus, latihan
keterampilan dan sebagainya.

Bentuk pendidikan non-formal yang paling mudah dan paling murah ialah
kegiatan-kegiatan ceramah umum dan membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk
memperoleh informasi dari luar, misalnya membaca koran/majalah, menonton TV,
mendengar radio dan sebagainya. Untuk Mengejar ketinggalan di bidang pendidikan baik
formal maupun non formal agar diupayakan carabelajar melalui Program Kejar Paket A.
B, C, Kejar Usaha dan Keaksaraan Fungsional. Lebih lengkapnya mengenai pembinaan
kepribadian bidang intelektual diuraikan pada sub bab sebagai berikut:

A. Rutin
Kegiatan pembinaan kepribadian bidang intelektual yang dilaksanakan secara rutin
meliputi:
o PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan prakarsa pembelajaran
masyarakat yang didirikan dari, oleh dan untuk masyarakat dalam hal ini
masyarakat dalam lapas/rutan. PKBM adalah suatu institusi yang berbasis
masyarakat (Community Based Institution). PKBM sebagai satuan pendidikan
nonformal perlu dibina secara berkesinambungan menuju standar yang mapan.
Keinginan itu datang dari suatu kesadaran akan pentingnya peningkatan mutu
kehidupan melalui suatu proses pendidikan dan pembelajaran.
Komponen PKBM meliputi:
. Komunitas lapas/rutan, dalam hal ini masyarakat, petugas lapas/rutan,
narapidana dan tahanan.

t7
. Pesefta Didik.

Peserta didik adalah naraPidana.


. Pendidik/Tutor/InstrukturA'Jarasumber Teknis.

Pendidik/tutor/instruktur/narasumber teknis adalah petugas lapas/rutan dan


petugas/masyarakat dari luar lapas.

' Penyelenggaru dan Pengelola:


- Kelompok masyarakat.
- Instansi terkait.
- Lapas/rutan.
. Mitra PKBM.
- Kelompok masyarakat.
. LSM.
- Dinas terkait.

Jika digambarkan komponen ini adalah sebagai berikut:

Sinergitas lMasyarakat dan PKBM


Pernerintah

Program Pendidikan Keberdayaan &


dan pemberdayaan
Komunitas Ke m a rta bata n
Ivl asyarakat

Secara konkrit bentuk PKBM di lapas/rutan antaralain:


- Kejar Paket A, B dan C.
- Keaksaraan Fungsional (KF).
- Pendidikan dan pelatihan keterampilan.
- Seni dan budaya.

Pengetahuan Umum.

- Menonton televisi dan mendengarkan siaran radio.


- MembacamajalaUperpustakaan.

18
l. Metode

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan kepribadian bidang


intelektual yang dilaksanakan secara rutin adalah sebagai berikut:
a. Ceramah.

b. Diskusi.
c. Simulasi.
d. Pemberian nasihat.
Pelaksanaan pembinaan kepribadian bidang intelektual dilaksanakan secara rutin
sesuai jadwal.

2. Mekanisme
a. Membuat proposal biaya pelaksanaan.
b. Mendata narapidana.
c. Menyediakan tempat untuk kegiatan.

d. Menyediakanperulatan yang akan digunakan.


e. Membuat jadwal kegiatan.
f. Koordinasi dengan KPLP/KPR, Ka.Rupam dan Komandan Blok.
g. Koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait sefta masyarakat.
3. Prosedur
a. Peserta menuju tempat pembinaan/pendidikan sesuai Standard Operating
Procedure (SOP) yang dibuat oleh UPT setempat.
b. Petugas mengatur ruang pembinaan/pendidikan.

c. Petugas/narasumber memberikan materi yang sudah ditentukan.

B. Khusus
Dikatakan khusus karena tidak semua Lapas / Rutan dapat melaksanakan kegiatan
pembinaan ini, disebabkan oleh keterbatasan yang ada. Kegiatan pembinaan
kepribadian bidang intelektual yang merupakan pembinaan khusus meliputi:
. Pelatihan motivasi dan ESQ.
o Kuliah program perguruan tinggi.
. U.iian Kejar Paket dan Ujian Nasional (tIN).
o Kursus.
. Menyelenggarakan siaran radio.

1"9
1. Metode
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan kepribadian bidang
intelektual yang merupakan pembinaan khusus adalah sebagai berikut:
a. Pembinaan secara individu melalui wawancara.

b. Pembinaan secara kelompok.

c. Pembinaan secara masal.


d. Pemberian motivasi.

2. Mekanisme
a. Membuat proposal biaya pelaksanaan.
b. Mendata narapidana.
c. Membuat jadwal kegiatan

d. Menyediakan tempat untuk kegiatan.


e. Menyediakan perlengkapan yang akan digunakan.
f. Koordinasi dengan KPLP/KPR, Ka.Rupam dan Komandan Blok.
g. Koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait serta masyarakat.
3. Prosedur
a. Pesefia menuju tempat pembinaan/pendidikan sesuai Standard Operating
Procedure (SOP) yang dibuat oleh UPT setempat.
b. Petugas mengatur ruang pembinaarVpendidikan.

c. Petugas/narasumber memberikan materi yang sudah ditentukan.

20
BAB VI
PEMBINAAN KEPRIBADIAN
BIDANG KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegarabagi narapidana


pada dasarnya bertujuan agat narapidana dapat menyadari bahwa dirinya adalah bagian

dari warga negaru Negara Kesatuan Republik Indonesia G\fKRI) yang mempunyai aturan
dan karakteristik khusus. Bagi WNA, Pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa
dan bernegara memberikan pengerlian kepada mereka bahwa mereka sekarang berada di
Indonesia.

A. Rutin
Pembinaan yang dilaksanakan secara intensif dalam jangka waktu yang teratur.
Pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegara bagi narapidana
yang merupakan pembinaan rutin antara lain:
o Apel bendera yang dilaksanakan setiap hari senin di lapas/rutan.
. Apel bendera yang dilaksanakan pada tanggal 17 setiap bulan.
. Apel bendera/upacarayang dilaksanakan pada peringatan hari besar nasional.
o Kegiatan baris berbaris yang dilakukan secara rutin dalam lapas/rutan.
o KegiatanKepramukaan.
1. Metode
Metode yang diterapkan dalam pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa
dan bernegarubagr narapidana adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan berupa interaksi langsung yang sifatnya kekeluargaan.


b. Pembinaan bersifat persuasif edukatif.

c. Pembinaan berencana, terus menerus dan sistematis.

d. Pemeliharaan dan peningkatan langkah-langkah keamanan yang disesuaikan


dengan tingkat keadaan yang dihadapi.

e. Pendekatan individual dan kelompok.

2. Mekanisme
a. Membuat proposal btaya pelaksanaan.
b. Mendata narapidana.
c. Membuat jadwal kegiatan
d. Menyediakan tempat untuk kegiatan.

2L
e. Menyediakan perlengkapan yang akan digunakan.
f. Koordinasi dengan KPLP/KPR, Ka.Rupam dan Komandan Blok.
g. Koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait serta masyarakat.
3. Prosedur

a. Kegiatan pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegara


dilaksanakan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh
UPT setempat.
b. Petugas/narasumber memberikan materi yang sudah ditentukan.

B. Khusus
Pembinaan khusus adalah pembinaan yang dilaksanakan secara khusus pada kegiatan
teftentu. Pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegara bagi
narapidana yang merupakan pembinaan khusus adalah:

. Asesmen:
- Penilaian (asesmen) Risiko Umum (PRU).
- Penilaian (asesmen) resiko dengan kekerasan ekstrim'
o Latihan gabungan :

- Untuk kepramukaan, (contoh : Gudep lapas lain bergabung masuk)


- Latihan bersama dalam hal kesenian dan budaya.
. Mengikuti lomba perkemahan:
- Jusami (umat, sabtu dan minggu).
- Jambore adalah Peftemuan Pramuka Penggalang dalam bentuk perkemahan
besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Gerakan Pramuka dari tingkat yang
paling ranting sampai tingkat nasional. Bahkan diduniapun diselenggarakan
kegiatan serupa yang biasa disebut Jambore Dunia (World Scout Jamboree).
- Raimuna adalah pefiemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam
bentuk perkemahan besar yang di Indonesia diselenggarakan oleh Kwartir
Gerakan Pramuka. Raimuna diselenggarakan mulai dari tingkat Kwarlir
Ranting (kecamatan) hingga tingkat nasional.
. Penyuluhan kesadaran berbangsa dan bernegara, pelaksananya adalah:
- Petugaspemasyarakatan.
- TNI .

- Kesbanglinmas Pemda.

22
. LSM.
1. Metode
Dilakukan terhadap narupidana secara individu maupun kelompok.
2. Mekanisme
a. Membuat proposal brayapelaksanaan.

b. Mendata narapidana.
c. Membuat jadwal kegiatan
d. Menyediakan tempat untuk kegiatan.
e. Menyediakan perlengkapan yang akan digunakan.
f. Koordinasi dengan KPLP/KPR, Ka.Rupam dan Komandan Blok'
g. Koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait serta masyarakat.
3. Prosedur

a. Kegiatan pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegara


dilaksanakan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh
UPT setempat.
b. Petugas/narasumber memberikan materi yang sudah ditentukan.

23
BAB VII
PELAPORAN

Pelaporan adalah suatu ikhtisar tentang hal pelaksanaan suatu kegiatan yang
harus disampaikan oleh pelaksana kegiatan kepada pihak pemberi tugas sebagai
perlanggungj awaban. Pelaporan berguna untuk memberikan informasi tentang berbagai

proses kegiatan, kendala serta hasil pelaksanaan pembinaan kepribadian sebagai


bahan/dokumen pemantauan dalam pelaksanaan kegiatan berikutnya.

A. Tujuan Pelaporan
Tujuan pelpaoran kegiatan dilakukan untuk:
1. Mengetahui perkembangan dan proses peningkatan kegiatan.
2. Mengetahui kendala yang di hadapi dalam pelaksanaan kegiatan.
3. Sebagai bahan dasar penyusunan rencana kebijakan berikutnya.

B. Penyampaian Laporan
Setiap kepala UPT Pemasyarakatan wajib melaporkan kegiatan pembinaan
kepribadian kepada:
1. Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia setempat
c.q. Kepala Divisi Pemasyarakatan.
2. Direktur Jenderal Pemasyarakatan c.q Direktur Bina Narapidana dan Pelayanan

Tahanan sebagai tembusan.

C. Bentuk Laporan
Bentuk laporan adalah sebagai berikut:
1. Laporan bulanan yaitu laporan kegiatan rutin pembinaan kepribadian yang telah
dilaksanakan.
2. Laporan kegiatan khusus yaitu laporan hasil kegiatan pembinaan kepribadian
yang telah dilaksanakanpada acara khusus seperti : Hari Pemasyarakatan, Hari

Dharma Karyadhika, HUT Republik Indonesia atan acara-acara tertentu lainnya


dengan dilengkapi dokumentasi.

24
D. Format Laporan
Format laporan rutin bulanan disampaikan dengan format yang telah ditentukan
(terlampir).
1. Laporan Pembinaan Kepribadian Bidang Keagamaan.
2. LaporanPembinaan Kepribadian Bidang olahraga dan Kesenian.

3. Laporan Pembinaan Kepribadian Bidang Intelektual dan Kesadaran Berbangsa

dan Bernegara.

Laporan dapat di kirim melalui email : kepribadian34@gmarl.com

25
BAB VIII
PENUTUP

Pedoman Pembinaan Kepribadian Narapidana Bagi Petugas di Lapas/Rutan ini

disusun untuk menjadi pedoman bagi para petugas pemasyarakatan dalam pelaksanaan
pembinaan kepribadiaan yang dilaksanakan di Lapas/Rutan. Pembahasan dalam pedoman

ini dibatasi pada pelaksanaan pembinaan kepribadian. Dalam pelaksanannya petugas


pemasyarakatan agar mempertimbangkan berbagai catatan ataulatar belakang narapidana

dan tahanan serta situasi dan kondisi UPT setempat.

Buku pedoman ini perlu ditindaklanjuti dengan rekomendasi:


1. Tersosialisasikannya pedoman pembinaan kepribadian narapidana bagi petugas di
Lapas/Rutan.

2. Agar buku pedoman ini dapat berjalan secara maksimal perlu didukung dengan modul
yang berkaitan dengan pembinaan kepribadian.

3. Menjalin kerja sama dengan pihak terkait yang dikuatkan dalam bentuk Memorandum
of Under st anding (MoU).

26
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi Keberaksaraan. Jakarla:


Direktorat Pendidikan Masyarakat.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.2012. Standar dan Prosedur Penyelenggaraan
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal.
Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M02-PK-04.10 Tahun 1990
tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan.

Pemerintah Indonesia. 2009. Himpunan Peraturan Tentang Pemasyarakatan. Jakatta:


Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Pemerintah Indonesia. 2011. Buku Kode Etik Pegawai Pemasyarakatan. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Sutardi, Tedi.2OO7. Antropologi; Mengungkap Keragaman Budaya. Bandung: PT Setia
Purna Inves.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan


Nasional (Siskornas).

27
=o
C
o
o-
rc
C
in
bD
c
o
-o lz
:<
in !5
C
.o
q
:<
rc
ig
i< q
rc
o :< z
.=

E
oz

(,
u
!a
z
(9
z
co

6
z
-<F
Stl
*;
E<
=i
=-
coa
dF
J-z
=<
do z
O=
rf J
d f
a0
z
z
d
o
CL

J
f
E
c
:z
u
d

c
G

:o
'' l

=>
<a
ro -6
C z,
<= o
rg F<
o- E
rg f =
f-
f
in cF z
o! o
c @
rE
! =
i! 5 z
.9
q (, N
(o F
u
o G
o
.:
f, z
E
o z
I
Y
su
e
F
@
c
U
F
z z z
d a F
l
z cq
F
Y d

zU z 3 L
VI o J
U
z J z
z d
z I
o U
:z
(9 z
d, Io
I
J z
o
z F
3
ts
F(J
zu
<:<
>z z
E<
<z z =
z<
;f s
F

iiz
=> f z 3
a< z 6
P= J
d
E e
& D z
co
z
z z 3 O

t z
o
o-
F o
J
z
3
J z 3 @
f o
ts r
o d N

U z
d.
z 3 a
z
F 4
z
3
z 3
o
c
z

o
z !
o
C F 6
G s o
IU E
id N .; rc o
Y
:bo I c o @
.E
5
iC zr 6 o
:o j G c t-- f,
:_o 6 t c
:rc 6 o o o o
(, c
:\ zg
@
:L) 6 J rc == 6 c ! a
F o o
c oo o
.2
E
6 .2
c
l zU
t--
.E ,;,
c
E '- U c E c
:@ c =
f o c E
"1
:d.
I o
di
l

d
o
F
d
6
; o;
o F
a
Eb i
G
F o U
Y
o
d
o
ri
o o
d
o
a
o Y
u
d d ri d
o
E
>a
.=a- o N
<1 z
:zi 6
_c
(E

c !
fu
E
rg
z
c (,F
in z=
ua)
b! (o
oE
(! < lrJ
i!
c
,G
d,
(o
u
(U
o
,=
:J
z
E :a
o
I
z
f
(,
o
z o LN
z
o
z z Z
zU E, F
tl l
U tl d

s# o-
Y*
EE
J o-

<e I z
o-
6H U
:z
Zz
sfl3
r.<2
s6d
:,u<
lYo
z
F
<.-lJl
?1; 6
u $
alt
=6=
Eo->
a
lr,
F
-\J
Jr:<
=dF
>Eut z
EYE
olF
sEZ J
F- f
ze co

12
Elo
o5
<co
J
6
J
f e
b :)
L
CL
Y, &,
:f<
IJ d.2
d. LD(9
zz
-u
<o-
z

J
E,
f,
F (9
c
z Y
U U
rc F (9 z J
U
z&,
F U
id (, E, zU u z co
:b!
:c u G
!
d,
z z
:G
Iz J u u
&, d
(9
:o o z
:\ q
co
o
vl
U
"f co Y

=> o
z H N tY) + b
$_r
(! 6
c z,
<= o
rE F<
o- d
=
a
in I z
bo
zU o
o
a
G
-o
s z
in
c )
.(o
q (, N
G F
rr
o
.:
f
E l-
o
I tz
E{
_z
d it
OY
@

z:
.:
Iu
z
>s
FU
zt Ye F:
f:
d
u \:
d.:
co
= a:
z d
r Ii
& z
a
):
o d
rn z z z
u d Y U
z z
o Io
J (,
z
f,
F
Y F
U s
J
q
F
z
z
I<
<(,
z
t-z z =
aa l- 4
EE s
f, z 3
=<
coF
t1; e
=(9
]U d r
S:a z
-tz
ei ; J z 3
z
o
I =
F
co
- 6
F
z z
3
o z a
E o =
d
&,
d
z z
z
d z 3 @
o
e z
J
F. e
J
z
f 3
F z 3
CL o
d
U d r
d,
z

c
o

C
E
z U
s'n f o
F c E

; g
(,
U d
c
c
6
l d
c
c c z z o
o
:
c I
@ Y f F 'o a s
!!
F
Y (, '- ! z Y
zu u U
z&
!
,] @
a r 6
C E
ioo rF o C ! ! f,
;c c f '- U
o c !
! 6 c c
:-o
! u
u
o
U E o
z=
rc c rc
z C c o Y ! 4 l o
:o E o c U c
o z d
:\
:E
(9
z o
U
o
=
E t
l
o
d 3
rc c
o
3
3
l F
f,
E
!
.2
Y
d
u
@
c
d E
d
o
:o 6 E
o o
@
f F o
& o u d IU o
"f
6 d
c
ri
d
ci o
d
d
6
; ; @
; ; ;
!
Y
d
di
@
ri
f-- d
ft; ;
>9
zx
<- z N
YJ
-:z
(, (U
C
(s
tI C
G
J E
(o
o C
z .G

3F
E3
s?k ra
U=
Y> Uc
ACf,
r
zs
<fi
-GO-
6g E
E.=O jz
o >@ _o 1-
iI c
=E 8 ?
N
ttu U)
Y 6 g S
c0
o
F
J
IU
&
Eg
EU)Eo.
E
E
\a (o
L
o
N
o
o HE
=\(oO
U
o(,y
E P
P
C
C
aoL
c
$
(o
$
L:)-
nlL(u
Xo-od o :=
LP G
!
G N
lz c c
c C (sA='7i o =X \vJm
N
o
(o
vao .trf{o)
tlP
o
C f_-6;E'
g
0)
o_
5
_o '6 '=Yl,ct
L nr L L
H3s6 c
^t> E3
P!
o o
o- xfr 3 P']o !
$

68&
a--
(L
I'u c o
o-
,a (tr(tr:jlo r)'
o o) o, ly o) ;<E
c(s c f \ 3,E
ol .j .;
C
o
$
oo -sg
.(U(E :f f
X
U)
(5
ll
: cL 6p b
6 O-EF=lz
6 (o =_Y^C(/)=
o=tl(uoF
(,moo-Y< o
9) t
Fo)o o- (s o
ccc E (U L c
o(5G H.q o :l o rN(r)\ifto(o o
ztt r-o z Y ll o_ L
cE-E
<uokE
-)a
(!
p
b E Poor.e
G
c

E
* 5*g
€P s*s
$ * .E
'(,,
o
o-

8 g 6EE
; 3 8IE
E
(s
C
o ru : ,oAi G)
a
(L z s c:8
g -
19c)c
6 oo (o

g kP #c Nrr dF o)
o

HE g
= F a L
-c
zlIJ Y
E
=3r
EP$ o
(g

t v c
U)

o
z f.,0 s- '* r5H * $
.g
tI
a E ; PqE f (,)
q)

J
ul
(L -)
tIU t
Y PE
;c'co)o) E 5f -
iYO)O(s(oo)O-
E
iz
C
o
(E

o
z
s J
tl
t Y E$ TE;
3c 5 B
c(g
a
lz
F "*-*.r*,# o
|.1

LU
F
zl U)
g: P iFE
c. EAfl
e
o-
G
o)
z ; fl ^=* -erb P
o_
o
lU
I,U
-F =
lU -\<
o
o
L
o-
v co
(E
E
z
o
F
t o { !EI$EE P E !
L
G
c(E
l<

E #r;5 €:9 t
z Y m (L c(g:
c0
TU roG
U)
Y
t
o
=
tU
gS: r
',EE6E
=c(o
L
ioc
lz([
Go)
cc
t FeEEt[; 5
o
lU
IL
f 'EO
o
(L
f c.= c o) ! 6 -! - c (f) .-c
o
U)
E
f
s, g? gg E E E E $ C o-
C
o no
nfi,
HEE* 8i
C
ll (5
N (/)b'
I
o
F
I
L
:f

I o-=o--
F+9
tr)O-YF(,
=G o
lz
(L

a
(!
o o!
z (s
a
L
o C
L (EOi!
-o
o G
o \t 0) o o- cu
o Y (L {o
(!
o,
(!
o
C)
Y

Fo
C>r (E=
(E
C
c(E o
(uC (u
t o-c (I, !=
c.g o-- bg (o(E lz
(E
E
o c(!
(Ux a= (,6 c G-O
o_ E5c
(!!(U
gB
*C
OL
gp .L 6, (o
U)
Es xEc
U)(D(o
(uo EO (trL
o)
a ocD
tr rr, OY L
'= 0) S:z o-
c o
G -P6
EEp E(o
(oro
s.- sE cJ.- tcE
o Y
o
!E C) CC FE (gf
c
!E
_(o 9So
l(E*
aE
rO
OE (g lc ocn
AC
(! kro _i g*
=,ub
f o:, E0)
(s€ (5= OJ dr .g .(! OO
oa o oE o-E o) o) Eo-
ko) Y
C)
Y
o) o
,u o- f F
f< F
(g
o ! :c o
=C .=
C =C v
c .=
c c =C =C :)
.)i o 0) o o o o o CJ
(U E E E
OJ
E E E E E E 1
o o o o ro ro o tr) o (L
= = N N U' N LJJ
Y
C E c(! c(o
(! 0) .U)
!
.9.
io
-tr
a6
G d)
! ! o.
+C .*H (o (o
z
6
.Y
o)
f
o_
E
o
Y
F-
o
o
YU'
o
o_
a
Y
83.
@(U(E
E
6Y
OJ

>F
jY
Ed
E
O)v
E
Ov
a-
o
tu LU
-f!9E(L a< o(J
(/)
8"k 8_?
Y j5 f !
0)
6 lz s o o
v F
m
a
c0
f 3# C
=
o F
i(6
)<E (E (U
a o o

r t
J
Io
o
(!

I I
o
o-

E
(!

x,
vfli
#

^L J
fi, (!
(g
o m
L
s o p
0) (! F
o- Y

'6Eo
fo
ox
(!tr
v.=
-m
s;- a o

f
-:
()

II I
o
(E (L

J
E
o
.:l =
.E zllJ
t0 U)
(!
o (9

6 (U (u tI
6 ,6, E -t o F E(E
o o h! g (DC
IACL
o-
(E U)
oo o(gtr otoroq o_
0)E ci (o J
(Uc 1qO-
Etr o_: -c o o_r ! !+ Y(U x..O) E(E.- o o
CL
L(U a6d (U- roifr + \D
-=J J o{ r
c
6!u
'aE O(U Of, z
F.: iig
i *€
-P ?)
O- a=
LC(6
in 6* _e _u o=
E EFE ;E
LC)
hs) g.,,b
L(l)C EP c\/ s ojy
oo 6O oJ F
( o-'E
o
.g
(E(\, EET gE E€
u(tr s (E= Eg
I8=-e
6*
=6 E =9 E
(o

E;t* EEE-
PE n; d!(U/i=
.E: r:gp
o
.G
L-'
o=
(/)(U
LA
(o(u
.Etr
gbi
;;(Ec)
rPe
E')
o
Y
o-6
(1)L
p6-
oq) n b'P iio
c 0) 0)
-.:
H E B;-!: EE*
e=d
E o6
d=;cr- 6
o)
0)
f<
8.p
-0)
6(/)
"16
c
gE 0 trl Zoc.t
co- c o-= e(5 s; agE €Hs;AsE ct
(o0: -
q o-- C
G ::<
o- 9cd g6 lz
*(!(U g6 =Y tr (u !I 65*trHo ^L
?m= ';\.- F (,
-*_9 (E Eo (U5C
a-69 ae
v(E 3Er€E !E:-E*EP
_o -o
EE iEY rsoH{ O)r O 19 C
(! Eac
f(U bg q o u o o (Ei! L-C @.<a E
tro :i(,o H bq >CCdCI
O o! o-:Y r
-ots >P o)-Y E 8.9,9,E 8, U 9.SE F6gE L(o OIO)(, O)YY
cxo
2 oY g* C C- I
CJC
o .EE =b
:coc) ooJVoJ= oJ:ooVotr
E f >* E E= Ei! sp oooE a) X.io
goo) o *-6 3 E'g
lu 2o --:-L > E E.o 20Y 2vr lIJ..
a O(E(!
o
t o v Lr) (o f.- @ o)
oEE
o=:
L z c\J cr)
f,-r-,
9, lz
G
f c
(s
F C
(0
o E
(E:
m c!
z +) E lB
F
HF
L

<z
il< :(5(5
S
3:
L
uJr o
:4 N=
-e :)
o-
r
r
o z
€E 6
6, E
vo
N
ttu =i
a
v
)c:f
As fi
tr
G
fz
'a
m
o J EA
#6
H'
F
o
L
o)
F IU
o- EtnY o_
Y \L o (E
o o.
o YtsO)
bs Y
g)
c E c
N
r U' o_a C) EO G
G
hr..6
X(gio
E
No- N
$ E
P+
G ,9 c
c(E C =u)
)c o
o
a '=lo, $ -o
o) EaF gE o-
G
f
_o
'u) E- -:z
(tr .=oE
(:--o)
c
G
L
0) X go
>6-b
p 3,- C
(s
E
'5 0) LLo-
o- U)-a=ooo 6c'6 E
t EE 3R
o o o- a C
IL tu.. oo- 'a ()) o) .o
\)t G
c -(il .oo-Y G
G E = =.. -9 r .o
o)
c $g a G f lu 1! 5 N
(s
o o)7 v =P9:-L
o o.() o (! llZlZJ-'=lZ-
o l =Ft $
:(! O- o-oF 0) (u (/)m00<5m>
o) (o =19 o
o) (, 9'' E o_
c
C C E L
(g
F.
$
F
k.e o
FO z Y= I
o- -o.i ca+rrl<oN
o) G)
o_

co-E
roal:c lz
(g
6 E
(s ?I!o!9
p
z
z
*
o :5s
d 6aE
c

dfrz
-
o).9
(U
:E
C
E $

I s re=E o
L
:,

z z
F
-E ? gE€
E E E RUE
.9
:l
F z -g P c L G
S =ft .E c o
Y
c 3 -dP (g
Gr = .* F g a
z t J
l,u gfl .i FsH r c(o

=
o
U)
(L
z 8E P E*E f
P b g 9F;
,q
o)
0)
-:z

-t o
tu E C
L ;c'coDo)
Jo)OoGolO-
(o
(s
lU
Y
z
J
tr Y
F
ul
z Ep E;; s'
3;3 5 EFE
c
o
a
tz
F
tu
o zf o e.= c. tAg
E
IL o
o

(,
z o-
c fl .=* ! q,o o_
P lz (o
IU
LU
-) t. o f,z
t-
$
G
Y
z t
o
F
z
z
t:$ilqaf
s 7E"re T*4 E
E
c0
(o
ro
E
c
o
lz
z
a
Y
Y
tU
t
o
E
E*
VP-P6
a;E E:
cccc:
s rX
a= d
7 '= o E (tr tr+
o-
c0

=C(o
c(s
:-
(g
:o
_o
ll'o

c
t e,EdEE fiSz 3 lz
(o
o
o)
o L
(! p c
lU
(L
(L vUJ E EpE,-?tT Ec
f c.! c ot - b -Z
f
o)
o) ._-
E
o
C

P gT g5 E E E E 9
C
o u E - o 0_ o
a C o- o $
o lz
=
3i a '-c)
C
J- f G o
o
F
T €
f EEE*
o-So-I
F#9
rrr0-YFU)
=(E o_
g oa
G
() s-o -o
z L
(u C
(E
o
o
o o o ([
o Y o-
6
o)
(!
o
0)
Y

L-(ll E
o
too= o-c cE
(tr-O
gEE
(s"(5
o= (,cf)
oo
(,(U -Ee oa
Ergh mg oo, .:'or -G
(UL
'= G) =E
Orz C
oC fr.= d
o-
o o;io- ([(! Nxo Eq)
olz ET
oc
o*
OC EcQ
o.r o ii
o a
c
o
([
L
o ifi.
-q>,
tr(u
OE
F=-0)
6"P of
'=(tr _(U
kE tr (tr.=
o \z 6o.c cc c= o flz Uri
Yt: .q6
f o.q
s/, F: ro
g(!
(uE (I,C oo)
A- io otr 6b9
=og
!o
gEE #0)
(tr# tsJ
(o
od
o-E 96 oc
FOE
g o o
li(!
F
o_
=C =c = = = .= = = f
m
o) o o o)
=Cq) o) o 0) G)
-v
(! E E E E E E E E J
E
o o O O lf) o o
o,
o
(f)
o o_
N C9
= = IJJ
Y
f
o)
'.4
.9 -E
l9o E
o
o o
E
o
t
(E E
o
E FC oq (Dv
3v o_
o 33 a-
u)(tro-
o) or!
(!
.)a Y
F E
o
o
ta
o-
o ak lzC 3.k 3.? =
U'
Y tu
-:a
tu QEO-
ll
EC
CG =(
coN !q6 a6
-9 Y f
lz
f
3#
c.r
:l! v=
i-- ko ko
ao
6) -!a
Y F f
c0 m
f o o

o
Sx
6m
o-

t
I I
I
G
Y ] I
(!
(!
o
.:a
-g
o
(L
8E
J

c0
z
o I

z
t3
'49o
llts
5()
ol<
(!tr
z
o J
o
J
I

tI
\1 .= U)
-c0 I I J
o
(! f
o
.Y
.E
m
(!
a
o ,6 c
I f, _l o
m
z
Fe
( o-'E
EE
E
(tr
(tr

Es t
tr
Eg .tG
o
o_ oE E
o EE ;;(!()
E€=
o)ili.Eoo e*
CC o(E(Uii 3
OG g(! o)i gUTE .g YFI{)
E gE Eq c
x sfr X:< E o)
o-c
(tr(U:
e(/).-6 ZoN
(!
3E
-'tU' Gto Ef;E + o! (,
ts-g o
lz cox
I s'i-9t
,g th---
E !b (!6=o
.* o-c eo_cc Y-:z =
c s9E
C (5(trA = o i=
9i; JEEs ; a-
o
v
o, COE
oE 0)
lz(1)o-
i:-(o
eod CrG(E
6
6 q ?
!96811 E.=E Y }t(5.]! : Y' <D =
EE
(o
it 'ii' (s
-:z
Y
E Efi EE'dE -6i; iE-
@.9,4
eche
(Eo=
l o--Y o-(\,
!!6 G.!JOytr =lz(l)o
tisEP I E;E
c t o $c
C
o Fo-c c-EE
(o
Y olI
€Ec(g
oS =:
= oF o)^L-o - oioio
tr c(!-
>hvo Ex EE P (60) E,E # HHET
l< OiJ h r
oE6rq lEg
ohb e b'6 > o--o -d
z o_o_ SHEE
o -836 or.E h 5H.=E
2 0 o-.If >coE 2 0r o. 2
lIJer
aEE
tJJ >co- =:o-Y <
o o-EE
o
t(L zci N (o $ rr) (o t.- @ O) o==
(h--
lz
(o
g. C
(o
a c
IU G
v rct
z G
F .o C
EP
(9 E&
qH
gi
IIJ C)
VF
zu UC
ac:)
<Y -GO
r zo- 6E
E.=O
E
o U' -oFrz
JtrO--
N Y
tuJ Ao-LX
m
o
J
IJJ
(L E-e g E
F
\a
o
(L
o
U'
E{
YFEo)
E &
N bg
o'oy
rr F C
L
G
C
o
o
hcEt
Xrs-(fd
$
o
'(u'
o) G
c
o
(!
c
G
;i h x
(E
-:z
o
c
c
0)
io
C
o
(u <t)
.Y
= S P) 0)
.0?ak
o_
f._
9a F $
6 =
EE 8_ E
L
o) ao:.= C
o
^ E'; pt L
!! >\tl)=(U
-)Z dr o- (/)9F6 !
+oq) L aaa
(Efir:]l(U \)t C
()(LO' tuc o 'an
o) o, C E< sco o
a--
-(trG' $!9 a fi, f
lz =-ra 9
6 6p b
o)
6=
(g
o
I
_? (U g:z
(l.)F
G
o
X
F
LCC
o)o CD=
o)o 9) t E
G E
(E
O- O-oF O-
$
G
L
(,mo.><
= = o
C
o(E$
ztF h.q (5
o z \l=
o vNC9$tO o
r-- o_ o_

co-(E c(s
turE=;- o
cit *!9oo).eo-
(s
o .8.
z E 6g nF
5
E*g
G)
_o

z €
8
P
g
s*s
ffiIE
o
o-
G
io
: 3 6F v
:€E ;E BEE
.o G
F 1)
z z
z E RUE .g

o
F
U
F
\z
t
Ii
O tr

!9 co c c-6
Ep*s .tu*
o.

E
O
C)
ta
o
Y IU
(L E8-.* FJH o-
L
a
? eSo f
H 'd
(U
(L
t. z s^E
t' d g jF
Y
[u
(L -) o Hclco)(l) o E C
(o
lU t iYorors([orO- G
c
*E
x c E
J
z
Y
z ttu
r.u
Y
F
zf o
v' PE!
oai-d
.eo
I
o
a
fa
o
l- o
z o. E.= cc EAfl o- c)
o-
o
lU
Y
LU
-?
F
d =# Ef;:pe ? lz
o
$
-Y
(o

z c0 E
z t
o z f i$iB Efi P * .E
G
E
c(o
.Y

hiE E: s t
z F
Y o- c(U
a
uJ
t
m
F P* c0
:-
(E

Y ,,EEEE E
J
o t
o HE: T
=CN
L
-:<
o
lU
(L
(L Y sf $eEEtt;
c.= c g) 6:z;
F
c
o
=
bo)
c
!

:=
o
a
UJ
x.
o
E
f
P gt gS E 5 E E s
= c o.o C
O-v
om
I
o
F
z
-:z
-=
L
o
a
tI tL=tL-
EEE* 8z* F+9
'r)OYFU)
o
=(o o-
-:z o
q) a
o
(E
o
C
Aa
$c
:(o
-Q
OC
gD

o n$ r(\l o)
Y
o o- o)
o o_ 4v
L
(!
E'
o
o
o
v
o (tr= co =
Liz
gE(o E f(n .= C (tr-O
r:>\
(I,9C
oF
a=
gP E._
G= o-o
c -6E =E
@a
Eooc OQ
o.!+ (5 -(5 'E. (UL c
fl o-
o oErcl!!(D
H. P'
oo oroE
Y =C g6 o!
-oc
c)
!-(5
oo=
g a o >-o
C U' A:
iE
tr([ trr o)
ocij oc
'6, !I -(E c (5.=
C
o
L
o
c o.l9
=O:!u
(I,E 6r9
ccG)
=o(!
v-'=

€3U',
(tre
o Y d
s(S vG EE ==g',
oorY
;qtro
LF(tr (0t
gJ*
o- oN- =
ECTC
gk io o_
,o 6! ltrO
(5# (EE 3'o
o-
OC
-C o OE FG
o
F
J' ! o_
G
o =c = =c =C =c .= E :f
o) o o o =q) o)
o C
o) o
E E E E J
(! E E E E E o
o O o O rf) o
N sN O
$
o o-
N
= = I,JJ
Y
.J (! (I,
(6
(D .9
Eq)
,9
E o=
rE!
E
c) o E E
(!
f
o o
3o
(/)rr 9v O
a-
\,/ o_
z
so) \a
F E
o-
a
lz
o-
o
ta o.E a? 3Ea 8.? 8.k
:lo TU tu gb EC
C(U \-, > !q6 !!6
q)
q)
g .:Z L
E(,
oo :, ro
o
;a k! ka)
Y F
00 o mo_ a o o

o
$x
6m
L
I r
o
(!
o
.:a
so
gE
Y
G

tr
(!

f<
z
o
r
c0
(L

'ago
!E
=o
oX
(!tr
z
o J o
F

f
UJ
\1 .= Y
-c0

II
t
o
(! o-

I
d
E
j o)
.E
m
J LU
Y
(g z
a Fv
g <
s s f;*
(! tu '6 d-'E
E Po'
-u) - c
O:
too oE LU,s
;(Eo
sk (!
c (tr
co-
c= ES
ol .(50 3= BE o
e6 po uJt=
:<F3
(5e
*E 5o ea.-6 ;
o a(D oH
L ,(tr u)
o* (U .CL ai vP zoro
E gE
c,)
o-:o Lo itrdCL (s.q jJ
=L(tr
c 16
a.- o o_

:e=E kdP
H rs XE
(n
(I)= ii oEx ([ lo
L o._ c(5 -:z
o=-s
.g o -'=
a oso Ee(It E3 $s o :6o o-o .=';
ii:z E iri
o
Y
oE Sxt
:< (.1 .o E15-o
Po- c
c* or*
(tr-o!
{EcH-
h
-lz
sE+y ip
=Y
l. ;!EgH
toEs
L O lu
G
s3
(5o)
-o da
oE:
€Effi9
t fE_
a.9,i
E 8-E =E
-oa9
! Vleg or*
o E (Da E-E-
5 oS 'tt-'-g
'i: ! 0 € 3_? vU' o sft E,E E
ol! -ots(s
IEtrS!
E gE t,)hl:v
FHg: ==p
c(U- aotr(tr BE-E
o-o! U.E o c
r,)
ub) b s? E;
o o6d jyooc o.c k oE H'o o o tlJ -c
IJJ >co le0)o
> o-o- 2 00f >00i; s [E
E z,Ej/.tO
=
o)
=E > ooE
ao (L(!G -c
o o-trtr
o
t(L C,
z N CO v lr) @ F- @ o) o==
Ut -, -,