Anda di halaman 1dari 17

BAB II

PEMBAHASAN

A. Penelitian Kuantitatif
Variabel-Variabel Dalam Penelitian Kuantitatif
Dalam penelitian Kuantitatif, ada beberapa preseden historis untuk memandang
teori sebagai prediksi atau penjelasan ilmiah (Lihat G. Thomas, 1997, mengenai cara-cara
mengonseptualisasikan teori dan bagaimana teori dapat mempersempit ruang lingkup
penelitian). Misalnya, defenisi Kerlinger (1979) tentang teori masih berlaku hingga saat
ini. Dia berpendapat bahwa teori merupakan seperangkat konstrak (variabel), defenisi dan
proposisi yang saling berhubungan yang mencerminkan pandangan sistematik atas suatu
fenomena dengan cara memperinci hubungan antarvariabel yang ditujukan untuk
menjelaskan fenomena alamiah.1
Teori dalam penelitian kuantitatif merupakan seperangkat konstrak (variabel)
yang saling berhubungan yang berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang
memerinci hubungan antar variabel. Suatu teori dalam penelitian bisa saja berfungsi
sebagai argumentasi, pembahasan atau alasan. Teori biasanya membantu menjelaskan
fenomena yang muncul didunia. Labovitz dan Hagedorn (1971) menambah defenisi
teori dengan gagasan tentang theoretical rationale yang dimaknai sebagai “usaha
mengetahui bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan-pernyataan
relasional saling berhubungan satu sama lain”. Mengapa variabel bebas X berpengaruh
atau berefek pada variabel terikat, Y. 2
Pembahasan mengenai teori biasanya muncul dibagian tinjauan pustaka atau
dibagian khusus seperti landasan teori, logika teoritis atau perspektif teoritis meskipun
saya lebih suka dengan istilah perspektif teoritis karena istilah ini banyak digunakan
sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proposal penelitian terutama dalam
makalah yang disajikan di seminar American Educational Research Association.
Metafora pelangi dapat membantu memvisualisasikan bagaimana suatu teori beroperasi.
1
John W. Creswell, (2016) Research Design Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif dan
Campuran, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar), h.71

2
Ibid, h.72
Dalam hal ini, pelangi menjembatani variabel bebas dan terikat dalam
penelitian.pelangi ini mengikat secara bersama-sama variabel-variabel tersebut dan
menyediakan penjelasan yang memadai tentang bagaimana dan mengapa seseorang
harus berharap pada variabel-variabel bebas untuk menjelaskan untuk memprediksikan
variabel terikat. Teori-teori berkembang ketika peneliti tengah menguji suatu prediksi
secara terus menerus.
Selain itu, teori juga memiliki jangakauan yang berbeda-beda. Neuman (2009)
membagi teori dalam tiga level: level-mikro, level-meso dan level-makro. Teori level
mikro memberikan penjelasan yang hanya terbatas pada waktu, ruang dan jumlah
tertentu seperti Goffmsn tentang gerak wajah yang menjelaskan bagaimana orang
berinteraksi face to face ketika berada dalam ritual-ritual keagamaan. Teori level-meso
menghubungkan teori level mikro dan teori level makro. Teori ini pada umumnya
meliputi teori teori tentang organisasi, pergerakan social atau komunitas seperti teorinya
Collin tentang control dalam organisasi. Teori level-makro menjelaskan agregat-agregat
yang lebih luas seperti institusi social, system budaya dan masyarakat luas. Teori level
makro dari Lenski tentang stratifikasi social misalnya menjelaskan bagaimana surplus
suatu masyarakat dapat meningkat seiring dengan perkembangan masyarakat tersebut.
Teori-teori bisa saja muncul dalam berbagai disiplin ilmu social, seperti psikologi,
sosiologi, antropologi, pendidikan dan ekonomi serta dalam sub-sub bidang lain. Teori
ini tentu saja dapat diakses misalnya dengan mencarinya dalam database literature atau
mereview petunjuk-petunjuk dalam literature yang membahas teori-teori tersebut.

 VARIABEL

Berikut ini adalah beberapa saran bagaimana mengembangkan gagasan terkait


dengan variabel dalam proposal penelitian:

 Tunjukkan secara jelas variabel bebas yang Abda gunakan dalam penelitian ekssperimen
tersebut. Satu variabel bebas harus menjadi treatment variabel. Satu atau beberapa
variabel harus menerima treatment dari peneliti. Variabel bebas yang lain bisa saja
menjadi measured variabel yang didalamnya tidak ada manipulasi yang dilakukan.
Variabel bebas lain bisa menjadi variabel control atau dapat dikontrol secara statistic
seperti demografi. Intinya, bagian metode penelitian dalam proposal eksperimen harus
memperinci dan menunjukkan secara jelas semua varibel bebas ini.
 Tunjukkanlah pula variabel-variabel terikat yang Anda gunakan dalam penelitian
eksperimen. Variabel terikat merupakan variabel respons atau kriteria yang diasumsikan
mendapat pengaruh dari variabel bebas. Rosenthal dan Rosnow (1991) menyajikn tiga
ukuran autcome protopik dalam variabel terikat yaitu: (a) arah perubahan yang diamati,
(b) kuantitas perubahan, dan (c) kemudahan perubahan, yang diperoleh dari partisipan.

 INSTRUMEN DAN MATERI

Dalam proposal penelitian, peneliti perlu membahas instrument- instumen ini cara
penanganannya, itemnya, skalanya dan laporan reliabilitas dan validitas skornya. Peneliti
juga perlu melaporkan materi-materi yang akan digunakan selama proses
eksperimentasinya.

 Deskripsikan pula instrument-instrumen yang diisi/diselesaikan oleh partisipan (biasanya,


instrument ini diselesaikan sebelum eksperimen tersebut dilakukan atau bahkan di akhir
eksperimen). Tunjukkan pula validitas dan reliabilitas skor atas instrument tersebut,
individu-individu yang mengembangkannya dan izin-izin untuk menggunakannya.
 Jelaskan secara menyeluruh materi-materi yang akan dimanfaatkan selama proses
eksperimentasi. Satu kelompok misalnya dapat berpartisipasi dalam rencana
pembelajaran berbasis IT yang disampaikan seorang guru diruang kelas. Rencana ini
dapat meliputi handout, mata pelajaran, dan instruksi tertulis khusus untuk membantu
siswa dalam kelompok esksperimen ini belajar mata pelajaran dengan computer. Tes
lapangan atas materi-materi semacam ini harus dijelaskan. Bahkan, jika dibutuhkan
peneliti juga perlu menjelaskan training-training lain yang mungkin dibutuhkan untuk
mengelola materi-materi tersebut. Tujuan tes lapangan ini adalah untuk memastikan
bahwa materi-materi penelitian bisa dikelola dengan baik tanpa variablitas dalam
kelompok eksperimen.
 PROSEDUR EKSPERIMENTASI

Selain instrument dan materi penelitian, peneliti juga perlu menjelaskan dalam
proposalnya prosedur khusus ynag digunakan selama proses eksperimentasi.

 Tunjukkanlah jenis rancangan eksperimentasi yang akan Anda gunakan dalam penelitian.
Jenis-jenis rancangan eksperimentasi bisa meliputi rancangan-rancangan pra-eksperimen,
eksperimentasi yang sebenarnya, kuasi-eksperimen dan rancangan subjek-tunggal. Dalam
rancangan pre-experimental, peneliti mengamati satu kelompok utama dan melakukan
intervensi di dalamnya sepanjang penelitian. Dalam rancangan ini, tidak ada kelompok
control untuk dipebandingkan dengan kelompok eksperimen. Dalam quasi-experiment
peneliti menggunakan kelompok control dan kelompok eksperimen namun tidak secara
acak memasukkan para partisipan ke dalam dua kelompok tersebut bisa saja berada
dalam satu kelompok utuh yang tidak dapat dibagi lagi. Dalam true experiment, peneliti
mulai memasukkan secara acak para partisipan dalam kelompok-kelompok yang akan
diproses. Adapun rancangan single-subject atau yang dikenal dengan rancangan N of 1,
mengharuskan peneliti untuk mengobservasi perilaku satu individu utama sepanjang
penelitian.
 Tunjukkan pula apa yang ingin diperbandingkan. Dalam penelitian ini dikenal dengan
rancangan subjek antara peneliti membandingkan dua atau lebih kelompok. Misalnya
rancangan factorial, salah satu varian dalam between-subject design mengharuskan
peneliti untuk menggunakan dua atau lebih variabel treatment untuk menguji pengaruh-
pengaruh simultan variabel-variabel ini terhadapt hasil penelitian. Rancangan penelitian
behavioral yang banyak digunakan ini mengeksplorasi pengaruh-pengaruh setiap
perlakuan secara terpisah dan juga pengaruh variabel-variabel yang digunakan dalam
kombinasi dengan demikian memberikan pandangan yang kaya dan mengungkap
beberapa dimensi. Sajikanlah diagram atau gambar yang dapat mengilustrasikan
rancangan penelitian yang Anda Gunakan. System notasi standar juga perlu diterapkan
dalam gambar/diagram ini.
 Alur penelitian Pre-Experimental sebagai berikut:

Kelompok Studi

Perlakuan Efek
Contoh permasalahannya:
Misalnya seorang peneliti ingin melakukan uji coba tentang penggunaan
metode konseling personal terhadap perubahan perilaku kebisaan merokok pada
keluarga pra sejahtera. Maka, langkah-langkah penelitian yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut
1) Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis penelitian
 Pertanyaan penelitian: apakah ada pengaruh konseling personal terhadap
perubahan perilaku kebiasaan merokok?
 Hipotesis penelitian:
Ho: pemberian konseling personal tidak mempunyai pangaruh terhadap
perubahan perilaku kebiasaan merokok.
Ha: pemberian konseling personal mempunyai pengaruh terhadap
perubahan perilaku kebiasaan merokok.
2) Menetapkan kelompok study penelitian
Kelompok study penelitian ini adalah semua keluarga pra sejahtera yang
mempunyai kebiasaan merokok di desa X kecamatan Y. dan peneliti
menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi kelompok study
3) Memberikan perlakuan
Perlakuan yang diberikan adalah konseling personal pada setiap anggota
keluarga yang merokok yaitu satu minggu dua kali yang dilakukan selama satu
bulan.

4) Mengukur variable efek


Pengukuran efek dilakukan setelah pemberian konseling personal telah
selesai dilakukan yaitu dengan cara menanyakan kebiasaan merokok apakah
ada penurunan dari jumlah batang rokok yang hisap atau bahkan kebiasaan
merokoknya berhenti. Misalnya, dari kelompok studi secara keseluruhan
sebelum diberikan konseling personal rata-rata 6 batang perhari tetapi setelah
diberikan konseling personal ternyata yaitu rata-rata menjadi 2 batang per hari.
5) Menganalisis data
Analisis data pada jenis penelitian ini di lakukan dengan cara
membandingkan ratio hasil yaitu rata-rata 6 batang pehari rata-rata menjadi 2
batang perhari artinya konseling personal dapat menurunkan kebiasaan
merokok rata-rata 4 batang per hari. Pengujian hipotesis bisa di lakukan dengan
pendekatan uji statotik uji t berpasangan.
Desain ini hanya menggunakan satu kelompok tanpa tes awal. Kelemahan
utama desain ini adalah, karena tidak menggunakan kelompok pengendalian
tanpa tes awal, maka pelaksana eksperimen tidak dapat beranggapan bahwa
hasil akhir yang dicapai disebabkan oleh perlakuan.

 Alur penelitian True-Experimental sebagai berikut:


Berikut adalah beberapa desain penelitian eksperimen sesungguhnya yang
biasa digunakan dalam bidang pendidikan menurut Wiersma (1986), antara lain
Posttest-Only Control Group Design ( Desain dengan kelompok kontrol tanpa
Pretest); Pretest-Posttest Control Group Design ( Desain Pretes-Postest
menggunakan Kelompok Kontrol dengan Penugasan Random); dan Solomon Four-
Group Design (Desain Solomon).
a. Posttest-Only Control Group Design
Randomisasi dan perbandingan kedua kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen digunakan dalam jenis desain ini. Setiap kelompok yang dipilih dan
ditempatkan secara random diberikan perlakuan atau beberapa jenis kontrol.
Postest kemudian diberikan pada setiap subjek untuk menentukan jika ada
perbedaan antara kedua kelompok. Sementara desain ini mendekati metode
yang paling baik, karena sedikit kelemahan yaitu pada pengukuran pre-test.
Sulit menentukan jika perbedaan pada akhir studi merupakan perbedaan aktual
dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi. Dengan kata lain,
randomisasi baik untuk mencampur subjek, tetapi tidak dapat menjamin bahwa
percampuran ini benar-benar menciptakan kesamaan antara kedua kelompok
(Emzir, 2015). Desain Posttest-Only Control Group Design dapat dilihat dalam
bagan di bawah ini.
R X O1

R - O2

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih


secara random (R). Grup pertama diberi perlakuan (X) dan grup yang lain tidak.
Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1 : O2). Dalam penelitian, pengaruh
perlakuan dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik t-test. Jika ada
perbedaan yang signifikan antara grup eksperimen dan grup kontrol maka
perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.

Contoh Permasalahan
Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui efektifitas penggunaan
multimedia, meningkatkan pemahaman gerakan sholat yang benar pada siswa SD.
Langkah-langkah penelitian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis penelitian
Pertanyaan penelitian: Apakah penggunaan multimedia efektif pada
pembelajaran sholat dalam meningkatkan pemahaman gerakan sholat dengan
benar pada siswa SD?
2) Hipotesis penelitian:
 Ho: tidak adanya pengaruh penggunaan multimedia pada pembelajaran
sholat lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman gerakan sholat dengan
benar pada siswa SD
 Ha: adanya pengaruh penggunaan multimedia pada pembelajaran sholat
lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman gerakan sholat dengan benar
pada siswa SD
3) Menetapkan kelompok studi
Kelompok studi penelitian ini adalah siswa kelas 2 SD yang dibagi
menjadi dua kelompok yaitu kelompok treatment dan kelompok kontrol
4) Mengukur kondisi awal kelompok studi
Peneliti tidak melakukan pretest pada siswa kelas dua SD untuk
mengetahui kemampuan awal siswa sebelum melakukan treatment
menggunaan multimedia pada kelompok eksperiment dan kelompok kontrol.
5) Memberikan perlakuan
Peneliti melakukan memberikan intervensi treatment pembelajaran sholat
melalui Multimedia untuk kelompok eksperiment sedangkan untuk kelompok
kontrol menggunakan pembelajaran biasa yang dilakukan di sekolah
6) Mengukur efek
Peneliti melakukan pengukuran pada siswa atau sering disebut juga post-test.
7) Analisa data
Peneliti membuat analisa data untuk menjawab hipotesis dan melakukan
uji statistic diantaranya melalui uji t.
Desain ini, peneliti menggunakan kelompok/grup pembanding tanpa tes
awal. Kedua kelompok diacak dengan prinsip random asigment. Kelemahan
desain ini adalah karena peneliti tidak melakukan pretest, ia tidak akan
mengetahui ada tidaknya efek interaksi pretest dan treatment.
b. Pretest-Posttest Control Group Design
Desain penelitian ini merupakan desain penelitian yang cukup banyak
dilakukan dalam penelitian eksperimen sesungguhnya. Desain eksperimen ini
menggunakan kelompok pembanding. Antara kelompok eksperimen dan
kelompok pembanding dilakukan secara acak dengan prinsip random
assignment. Dalam desain ini dapat dipahami, bahwa peneliti melakukan uji
atau pengukuran terlebih dahulu sebelum melakukan perlakuan (pre-test) dan
setelah perlakuan (post-test). Hasil pretest yang baik adalah jika nilai grup
eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Pretest-Posttest Control Group
Design dapat dibagankan sebagai berikut :
R O1 X O2

R O2 - O4

Pengaruh perlakuan adalah : (O2-O1)-(O4-O3). Uji statistik yang dapat


digunakan adalah uji t. Desain tersebut dapat diperluas, apabila peneliti memiliki
kelompok perlakuan lebih dari satu. Misalnya, ingin membandingkan dua model
pembelajaran, yaitu antara model A dan model B.
Kelompok Pretest Perlakuan Postest

Eksperimen 1 O1 X1 O2

Eksperimen 2 O2 X2 O2

Kontrol O3 - O2

Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji ANAFA (Arifin, 2012).
Contoh Permasalahan
langkah-langkah penelitian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis penelitian
pertanyaan penelitian: Adakah perbedaan hasil belajar dalam mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada kelas yang menerapkan teknik
Numbered Head Together ( NHT)dengan kelas yang menerapkan metode
ceramah?
2) Hipotesis penelitian:
 Ho: tidak ada perbedaan hasil belajar dalam mata pelajaran pendidikan
kewarganegaraan pada kelas yang menerapkan teknik Numbered Head
Together (NHT) dengan kelas yang menerapkan metode ceramah.
 Ha: adanya perbedaan hasil belajar dalam mata pelajaran pendidikan
kewarganegaraan pada kelas yang menerapkan teknik Numbered Head
Together (NHT) dengan kelas yang menerapkan metode ceramah
3) Menetapkan kelompok studi
Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 2 Mlati yang
terdiri dari empat kelas yaitu kelas VIII A, B, C, dan D yang nantinya akan
dipilih secara acak untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. Dari kelas
tersebut, terambil sebagai sampel, yaitu kelas VIII B dan kelas VIII D.
kemudian dari kedua kelas itu di undi kembali untuk menentukan kelas
eksperimen dan terpilih kelas VIIID sebgai kelas eksperiment.
4) Mengukur kondisi awal kelompok studi
Peneliti melakukan pretest pada kedua kelas untuk mengetahui
kemampuan awal siswa sebelum melakukan treatment penerapan teknik
Numbered Head Together (NHT) dengan kelas yang menerapkan metode
ceramah.
5) Memberikan perlakuan
Peneliti bemberikan perlakuan yang berbeda terhadap kedua kelas. Untuk
kelas VIII D atau disebut kelas eksperimen mendapat treatmen berupa
pengajaran menggunakan teknik Numbered Head Together (NHT). Sedangkan
kelas VIII B menggunakan metode ceramah.
6) Mengukur efek
Peneliti melakukan pengukuran dengan menggunakan dua tes yaitu
meliputi pretest dan postest.
7) Analisa data
Peneliti membuat analisa data yang dilakukan secara bertahap yaitu
pengujian persyaratan analisis kemudian dilanjutkan teknik analisis data.
Kelemahan desain ini adalah karena peneliti tidak memiliki kelompok
yang tanpa diberi pretes, sehingga ia tetap tidak dapat menyelidiki efek interaksi
perlakuan dengan pretest.

 Alur penelitian Quasi-Experimental sebagai berikut:

Dalam rancangan ini, kelompok eskperimen (A) dan kelompok (B) diseleksi
tanpa prosedur penempatan acak. Pada dua kelompok tersebut, sama-sama dilakukan pre-
test dan post-test. Hanya kelompok eksperimen (A) saja yang di treatment. Metode
eksperimen adalah metode penelitian yang dipakai untuk mengetahui pengaruh perlakuan
tertentu terhadap hal lain dalam kondisi yang dikendalikan.3

Desain Penelitian

3
Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta, hlm.107
Pendekatan Pembelajaran Strategi Cooperatif
Pembelajaran
Learning Tipe NHT
Konvensional (A2)
Hasil Belajar (A1)
Hasil Belajar MM materi KPK dan FPB A1B A2B
(B)
Keterangan :

1) A1B = Hasil belajar KPK dan FPB siswa yang diajar dengan
menggunakan strategi Cooperative Learning tipe NHT
2) A2B = Hasil belajar KPK dan FPB siswa yang diajar dengan
pembelajaran konvensional
 ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS

Ancaman validitas internal dapat berupa prosedur eksperimentasi, treatment atau


pengalaman dari partisipan yang mengancam kemampuan peneliti untuk menarik
kesimpulan yang terdapat dalam penelitian. Ada ancaman yang melibatkan para
partisipan (misalnya sejarah, maturasi, seleksi dan moralitas, ancaman yang berhubungan
dengan treatment experimental misalnya difusi, demoralisasi imbangan dan rivalitas
imbangan) dan ancaman yang berhubungan dengan prosedur exksperimental (misalnya
pengujian/testing dan instrumentasi). Ancaman terhadap validitas eksternal juga harus
diidentifikasi dan dirancang sedemikian rupa agar ancaman tersebut dapat direduksi
sesedikit mungkin. Ancaman validitas eksternal misalnya ketika peneliti menarik
kesimpulan yang seharusnya berasal dari data sampel namun ia justru menariknya dari
orang lain, ranah lain, atau kondisi masa lalu atau bahkan masa depan.

Validitas kesimpulan statistic yang muncul ketika peneliti menarik kesimpulan yang
tidak tepat dari data penelitian disebabkan kekuatan statistic yang lemah atau pelanggaran
terhadap asumsi-asumsi statistic yang sebenarnya. Selain ancaman terhadap kesimpulan
statistic, ada pula ancaman terhadap validitas konstrak. Ancaman ini muncul ketika
peneliti menyajikan defenisi dan ukuran yang tidak terdapat pada variabel penelitian.

 PROSEDUR

Deskripsi ini akan membantu pembaca untuk memahami rancangan, observasi,


treatment dan jangka waktu yang ditetapkan.
 Jelaskan pendekatan langkah demi langkah dalam prosedur eksperimentasi tersebut.
Misalnya Borg dan Gall (1989:679) meringkas enam langkah yang biasanya
digunakan dalam prosedur rancangan pre-test post-test control group dengan
menjodohkan para partisipan dalam kelompok eksperimen dan control:
1. Buatlah ukuran variabel terikat atau variabel yang sangat berkolerasi dengan
variabel terikat untuk setiap partisipan penelitian.
2. Tempatkan para partisipan secara berpasangan skor-skor dalam ukuran mereka
sebagaimana diidentifikasi.
3. Tempatkan secara acak satu anggota dari setiap pasangan ini dalam kelompok
eksperimen dan anggota lain kelompok control
4. Lakukan treatment eksperimental pada kelompok eskperimen dan treatment
alternative pada kelompok control.
5. Buatlah ukuran-ukuran variabel terikat untuk kelompok eskperimen dan
kelompok control ini.
6. Bandingkan performa kelompok control dan kelompok eksperimen pada akhir tes
dengan menggunakan tes-tes signifikan statistic.

 ANALISIS DATA
1. Laporkan statistic deskriptif yang telah diukur dan diobservasi pada pre-tes dan post-
test sebelumnya
2. Jelaskan tes stastistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.
Dalam rancangan eskperimen yang menerapkan informasi kategoris untuk variabel
bebas dan informasi berkelanjutan untuk variabel terikat. Akan tetapi, ketika data
dalam pre-test dan post-test menunjukkan deviasi pemarkaan dari distribusi normal,
peneliti sebaiknya menggunakan tes statistic nonparameter untuk menguji hipotesis
penelitian.
3. Untuk rancangan subjek-tunggal, gunakanlah grafik garis-garis unruk beseline,
sedangkan untuk unit waktu gunakanlah grafik abscissa dan grafik ordinate untuk
unit target perilaku dalam observasi treatment.

 INTERPRETASI HASIL
Langkah terakhir dalam penelitian eskperimen adalah menafsirkan penemuan-
penemuan berdasarkan hipotesis atau rumusan masalah yang sudah dirancang di awal
penelitian. Dalam laporan ini, jelaskan apakah hipotesis atau rumusan masalah tersebut
disetujui atau ditolak. Jelaskan pula apakah proses treatment yang diimpelementasikan
benar-benar menciptakan suatu perbedaan bagi para partisipan yang diteliti. Berikan alas
an megapa hasil penelitian signifikan atau tidak signifikan berdasarkan literature yang
telah Anda review dan yang terakhir jelaskah adakah hasil penelitian yang muncul
disebabkan prosedur eksperimental yang tidak tepat seperti kehadiran ancaman terhadap
validitas dan jelaskan pula bagaimana Anda menggeneralisasi hasil tersebut pada orang
tertentu, ranah tertentu, dan waktu tertentu.

 Menulis Perspektif Teoritis Kuantitatif


A. Tahapan Penelitian
Ketika kita bicara mengenai metodologi dalam pendekatan kuantitatif,
digunakanlah pola yang ketat. Pola yang ketat ini memberikan gambaran bahwa seorang
yang akan melakukan penelitian kuantitatif harus mengikuti tahap demi tahap dari
seluruh rangkaian yang ada. Untuk melakukan tahap kedua, tahap pertama harus sudah
diselesaikan. Untuk memasuki tahap ketiga, tahap kedua harus diselesaikan. Demikian
seterusnya hingga tahap akhir. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti juga tidak
dimungkinkan untuk mengulang kembali tahap sebelumnya atau melompat ke tahap
berikutnya. Dengan demikian, penelitian kuantitatif, selain bercirikan pola yang ketat,
juga memiliki pola linear. Ada baiknya kita mengetahui tahapan yang harus dilakukan
dalam penelitian kuantitatif dan mengapa harus dilakukan tahap demi tahap.4
Secara umum, tahap penelitian meliputi:
1. membuat rancangan penelitian;
2. membuat instrumen penelitian;
3. mengumpulkan data;
4. mengolah dan menganalisis data;
5. membuat laporan.

4
Lina Miftahul Jannah, Bambang Prasetyo, Pendekatan Kuantitatif
(http://www.repository.ut.ac.id/4598/2/SOSI4311-M1.pdf) diakses pada hari Minggu 22 Maret
2020
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari kajian yang dikemukakan, dapat dikemukakan beberapa poin penting
sebagai kesimpulan, yaitu:
1. Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
2. Variabel dapat dibedakan dari aspek hubungan antara variabel, proses kuantifikasi
variabel, fungsi, dan sifat variabel.
3. Pada penelitian model kuantitatif, dilihat dari: 1) mengukur fakta yang objektif, 2)
Terfokus pada variabel-variabel, 3) Reliabilitas merupakan kunci, 4) Bersifat bebas
nilai, 5) Tidak tergantung pada konteks, 6) Terdiri atas kasus atau subjek yang banyak,
7) Menggunakan analisis statistik, dan 8) Peneliti tidak terlibat. Sedangkan pada model
Kualitatif, dilihat dari: 1) Mengonstruksi realitas sosial, makna budaya, 2) Berfokus
pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa, 3) Keaslian merupakan kunci, 4)
Nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai, 5) Terikat pada situasi / terikat pada konteks,
6) Terdiri atas beberapa kasus atau subjek, 7) Bersifat analisis tematik, dan 8) Peneliti
terlibat.
4. Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan
karakteristik yang diamati yang memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi
atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena, sehingga variabel
tersebut bersifat spesifik (tidak beinterpretasi ganda) dan terukur (observable atau
measurable).
5. Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam sebuah research untuk
mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara kuantitatif dan disusun
secara sistematis.
6. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah
data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data
sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.

B. SARAN
Demikian makalah ini kami buat, pemakalah menyadari masih banyak
kekurangan, untuk itu penulis mohon saran dan kritik yang membangun terciptanya
makalah yang lebih baik lagi. Dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca
maupun pemakalah.

Daftar Pustaka
John W. Creswell, (2016) Research Design Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif dan
Campuran, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar)

Lina Miftahul Jannah, Bambang Prasetyo, Pendekatan Kuantitatif


(http://www.repository.ut.ac.id/4598/2/SOSI4311-M1.pdf) diakses pada hari Minggu 22 Maret
2020
Sugiyono, 2016, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta