Anda di halaman 1dari 2

1.

Menutup rapat tempat penampungan air


Tempat penampung air ini dapat dijadikan sebagai breeding place nyamuk Aedes aegypti yang
bertindak sebagai vektor, dimana jentik nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak dalam
air tergenang, terbuka dan cenderung bersih misalnya bak mandi, tong, drum, pot, ember, vas
bunga, batang tanaman, tangki, botol buangan, kaleng, ban bekas dan lain-lain. Namun menurut
penelitian wanti ini menunjukan bahwa kasus demam berdarah dengue dengan jenis tempat
penampungan air didalam lebih banyak ditemukan dibanding diluar karena karena ukurannya
besar sehingga memudahkan nyamuk untuk keluar masuk, dan karena ukurannya yang besar
tersebut menyebabkan jarang dibersihkan mengingat persediaan air bersih yang terbatas
sehingga sangat potensial sebagai perindukan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu tempat
perindukan Aedes aegypti yang dekat rumah tersebut akan memungkinkan nyamuk Aedes sp
bisa menjangkau orang yang rumahnya < 100 meter. Hal ini sesuai dengan teori bahwa jarak
terbang nyamuk adalah <40 meter atau maksimal 100 meter dan mungkin lebih jauh lagi bila
terbawa kendaraan atau angin sehingga penularan DBD juga mudah terjadi pada masyarakat
dengan radius 100 meter dari rumah penderita DBD.
Sumber : Suryani dan Oktavia, Diyana Sari.2017. Hubungan Perilaku 3M Dengan Kejadian
Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Barat Kota Bengkulu. Bengkulu :
STIKES Tri Mandiri Sakti
Sumber : Wanti dan Darman, Menofeltus. 2011. Tempat Penampungan Air dan Kepadatan
Jentik Aedes sp. di Daerah Endemis dan Bebas Demam Berdarah Dengue. Kupang : Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Kupang
2. Menaburkan bubuk larvasida
Bubuk larvasida merupakan salah satu cara pemberantasan sarang nyamuk dengan
pengendalian kimiawi. Menaburkan bubuk larvasida berupa abate dilakukan sebanyak 1 sdm
pada 100 liter air pada tempat yang diduga menjadi breeding place nyamuk. Hal tersebut dapat
memberikan perlindungan selama 2-3 bulan dengan interval waktu dan takaran yang tepat.
Namun dalam penaburan bubuk larvasida untuk pengendalian vektor secara teori dapat memicu
resistensi jika tidak menggunakan dosis yang sesuai. Faktor terbesar yang berperan dalam
resistensi Aedes spp adalah karena faktor metabolik dimana terbentuk enzim detoksikasi
terutama esterase, disamping faktor penebalan kutikula dan perubahan sisa akibat mutasi
Sumber : Priesley Fuka, dkk. 2018. Hubungan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan
Menutup, Menguras dan Mendaur Ulang Plus (PSN M Plus) terhadap Kejadian Demam Berdarah
Dengue (DBD) di Kelurahan Andalas. Padang : Universitas Andalas
Sumber : I , Florensia. Dkk . 2006. PENGARUH DOSIS ABATE TERHADAP JUMLAH POPULASI
JENTIK NYAMUK Aedes spp DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO. Manado :
Universitas Sam Ratulangi Manado
3. Menggunakan klambu
Penggunaan kelambu saat tidur ini efektif untuk pencegahan gigitan nyamuk saat tidur, karena
nyamuk tidak dapat menembus jaring yang terdapat pada kelambu yang ukurannya lebih kecil
dari ukuran tubuh nyamuk. Namun penggunaan kelambu sudah dianggap bukan lagi sebagai
alternatif praktis untuk mencegah DBD. Sehingga masyarakat lebih memilih alternatif lain yang
mereka anggap praktis, seperti: menggunakan raket nyamuk, memasang kawat kasa, atau
memakai lotion anti nyamuk. Dalam penularannya, orang sehat akan terjangkit virus apabila ia
tergigit oleh nyamuk yang telah menghisap darah penderita DD/ DBD. Oleh karena itu,
penggunaan kelambu pada prinsipnya adalah untuk memutus rantai penularan, bila digunakan
oleh penderita untuk mencegah nyamuk (sehat) menggigitnya sehingga tidak dapat menularkan
ke orang sehat; bila digunakan oleh orang sehat untuk mencegah nyamuk, baik yang telah
terkontaminasi virus ataupun tidak menggigitnya
4. Menanam tanaman
Beberapa tumbuhan yang beraroma cukup ampuh sebagai penolak nyamuk diantaranya:
Lavender, Serai wangi, Geranium dan Zodia yang biasa digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan lotion anti nyamuk. Hal ini disebabkan oleh karena kandungan kimia organik dalam
tanaman berupa geranium, Geraniol dan Sitronelol, dapat mempengaruhi fungsi saraf sensori
serangga khususnya nyamuk. Pemanfaatan tanaman pengusir nyamuk dapat diaplikasikan
dengan cara yang paling sederhana, yaitu menanamnya di pot-pot sebagai tanaman hias dan
menaruhnya di dalam ruangan dimana kita beraktivitas sehari-hari. Bagi anak-anak yang
sebagian besar menghabiskan waktu di sekolah, di dalam kelas dapat ditaruh tanaman tersebut,
sehingga manfaatnya tidak hanya menambah keindahan juga bermanfaat dalam menghalau
nyamuk.
Sumber : Melani, dkk. 2008. SOSIALISASI TANAMAN HIAS PENGUSIR NYAMUK (LAVENDER,
SERAI WANGI, GERANIUM DAN ZODIA) DI LINGKUNGAN PERUMAHAN DAN SEKOLAH DASAR
DESA MELATI WANGI KABUPATEN BANDUNG. Bandung : Universitas Padjajaran
Sumber : Intan, Didi. dkk .2017. ANALISIS TINDAKAN WARGA DESA PAYAMAN DALAM
MENCEGAH PENYAKIT DBD. Surabaya : Universitas Airlangga
5. Menghindari kebiasaan mengantung pakaian.
Mengantung pakaian bekas yang digantung di dalam kamar merupakan media yang disenangi
oleh nyamuk, selain itu merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit DBD. Tempat-
tempat yang lembab dan gelap merupakan tempat nyamuk beristirahat dan menunggu
proses pematangan telur yaitu dengan menggantung baju bekas pakai karena intensitas
cahaya dan kelembapan udara ini dapat mempengaruhi aktifitas terbang nyamuk. Berdasarkan
Penelitian Anton Sitio menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian
bekas pakai dengan kejadian DBD. Dimana keluarga yang memiliki kebiasaan menggantung
pakaian bekas pakai memiliki resiko 5,500 kali lebih besar kemungkinan terserang DBD
dibandingkan keluarga yang tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai.
Sumber : Mualifa, Zuyyinatul. dkk . 2018 . HUBUNGAN PRAKTIK PENCEGAHAN DENGAN
KEJADIAN DBDPADA ANAK USIA 5-14 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MRANGGEN I
KABUPATEN DEMAK. Semarang : Universitas Diponegoro
Sumber : Jihaan, Sarah. dkk . 2017 . HUBUNGAN ANTARA PERILAKU KELUARGA TERHADAP
KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KELURAHAN PANCORAN MAS. Jakarta : UPN
“Veteran” Jakarta