Anda di halaman 1dari 27

MIKROBIOLOGI PANGAN DAN LINGKUNGAN

INTERAKSI MIKROBA DENGAN LINGKUNGAN

Anastasia X. Itu (1706050049)


Maria M.L.W.T. Meno (1706050052)
Jesika Anggelina Rame (1706050115)
Alfonsus R. N. Egot (1706050108)
Patrisia Yunista (1706050067)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
FEBRUARI, 2020
BAB I

PENDAHULAN

A. LATAR BELAKANG

Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar kita. Bakteri
pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat dengan kita pun juga terdapat bakteri
contohnya saja tas, buku, pakaian, dan banyak hal lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan
penyebab penyakit yang cukup sering terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan
penyakit tersebut karena terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa saja. Maka
dari itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara bakteri itu
menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan dberikannya.

Lingkungan kehidupan manusia dipenuhi dengan mikroorganisme di sekelilingnya (Suharto,


1994). Di dalam tubuh manusia, mikroorganisme terdapat pada permukaan tubuh, di dalam mulut,
hidung dan rongga-rongga tubuh lainnya. Mikroorganisme dapat menyebabkan banyak penyakit
yang telah melanda peradaban manusia selama berabad-abad (Pelczar dan Chan, 1986).
Staphylococcus aureus merupakan patogen mayor pada manusia. Hampir setiap orang mempunyai
tipe infeksi S. aureus selama hidupnya, dengan tingkat keganasan yang berbeda mulai dari infeksi
kulit minor sampai infeksi yang dapat mengancam jiwa (Jawetz et al., 1998). Setiap jaringan atau
alat tubuh dapat diinfeksi oleh bakteri ini dan menyebabkan penyakit dengan tanda-tanda yang khas
berupa peradangan, nekrosis dan pembentukan abses (Warsa, 1994).

Mikroba terdapat dimana-mana di sekitar kita, ada yang menghuni tanah, air, dan atmosfer.
Studi tentang mikroba yang ada di lingkungan alamiahnya disebut ekologi mikroba. Ekologi
merupakan bagian biologi yang berkenaan dengan studi mengenai hubungan organisme atau
kelompok organisme dengan lingkungannya.

Ekologi mikroba sangat berperan membantu memperbaiki kualitas lingkungan. Misalnya


mikroba yang menguraikan sampah yang berasal dari manusia dan industry yang dibuang ke dalam.

Suatu mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik jika kondisi lingkungan sekitarnya sangat
mendukung. Mikroorganisme yang tumbuh adalah pertambahan jumlah mikroba sehingga dapat
membentuk suatu populasi mikroba yang dapat disebut dengan koloni dan bukan sel-sel yang
bertambah besar atau bertambah panjang. Populasi mikroorganisme dapat menjadi besar sekali dala
jangka waktu yang relatif singkat dan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak dapat dikendalikan.
Kehadiran mikroorganisme di lingkungan dapat memberikan keuntungan dan kerugian.

2
B. TUJUAN

1. Mengetahui bentuk-bentuk simbiosis mikroba dengan lingkungan.


2. Mengetahui mikroba dalam sistem pencernaan manusia.
3. Mengetahui bakteri metanogen di Ruminansia.
C. MANFAAT
Makalah ini bermanfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan mengenai berbagai macam
hubungan yang mungkin terjadi antara mikroba dengan lingkungan, mengetahui berbagai jenis
mikroba baik probiotik maupun pathogen yang mampu hidup dalam system pencernaan manusia dan
mengetahui bakteri metanogen yang terdapat pada hewan ruminansia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

INTERAKSI MIKROBA DENGAN LINGKUNGAN

A. Bentuk-Bentuk Simbiosis Mikroba dengan Lingkungan

Bentuk – bentuk simbiosis mikroba dengan lingkungan

1. Netralisme
Netralisme adalah suatu hubungan tidak saling merugikan antara satu mikroorganisme
dengan lainnya. Hubungan ini netral atau tidak terjadi perebutan zat makanan sebagai sumber
energinya. Metabolisme dua atau lebih spesies mikroba baik zat yang masuk dan keluar dari
sel mereka tidak saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Dua spesies mikroba terkategori parasite dan saprofit dalam suatu tanaman tertentu.
Mikroorganisme parasite akan hidup selama tanaman memberikan zat organik bagi hidupnya.
Bila tanaman mati dan kemungkinan ada sifat pathogen pada parasite itu yang
menyebabkannya, maka saatnya saprofit akan hidup dan mengalami pertumbuhan pesat
disebabkan suplai zat organik dapat dimanfaatkan bila tanaman tersebut telah mati. Dengan
demikian antara kedua jenis mikroba tersebut terdapat hubungan netralisme.
Dalam suatu medium ada dua bakteri berjenis psikrofil dimana salah satu dapat
membentuk spora. Pada saat bakteri yang satu masih dapat tumbuh dengan baik dan lainnya
membentuk spora sebab faktor lingkungan itu, dua keadaan bakteri yang masih dalam
keadaan hidup tersebut merupakan hubungan netralisme.
2. Kompetisi
Kompetisi adalah hubungan persaingan antara dua tau lebih spesies dan siapa yang
dapat menyesuaikan diri, sebagaimana konsep biologi dalam mempertahankan hidup akan
dapat mengalami pertumbuhan populasinya dengan baik.
Kerapatan populasi mikroorganisme dapat menjadi faktor kompetisi untuk
mendapatkan zat yang terbatas dalam substrat yang sama. Pola pertumbuhan mikroba pada
fase penurunan populasi disebabkan oleh persaingan jenis ini antar individu dalam populasi
itu. Istilah kompetisi termasuk dalam hal persaingan nutrisi untuk sumber energi maupun
faktor lingkungan dihabitat bagi spesies.
Pada komunitas yang klimaks jenis interaksi yang paling menonjol adalah kompetisi
yaitu pertumbuhan setiap spesies telah siap dan bila faktor selain nutrisinya dalam keadaan
ideal, nutrisi pertumbuhan mengizinkan mereka tumbuh dengan baik maka suatu saat akan

4
terjadi faktor pembatas. Sumber daya nutrisi dengan adanya batas tertentu merupaka pijakan
adanya interaksi kompetisi. Menurut Hurst (2002) komunitas yang didominasi oleh bakteri
heterotroph dan jamur kerap kali faktor pembatasnya adalah karbon yaitu mereka dapat
menggunakan bahan organik tersedia di lingkungan pada saatnya menjadi terbatas; alga dan
cyanobakteri di permukaan air faktor pembatasnya nitrogen dan fosofor; bakteri
kemoautotrof faktor pembatasnya ion – ion atau senyawa organik.
3. Antagonisme atau Amensalisme
Antagonisme atau amensalime adalah hubungan penghambatan suatu spesies oleh
spesies lainnya, spesies jamur Penecillium notatum yang menghasilkan senyawa antibiotic
dalam aktivitas metabolismenya atas ketersediaan zat nutrisi dalam suatu medium akan
menghambat kehidupan bakteri. Demikian pula metabolit asam akan menurunkan pH
medium seperti asam laktat oleh bakteri Streptococcus lactis dan bila ada kehidupan bakteri
lainnya dalam medium itu, maka akan terhambat oleh faktor lingkungan yaitu konsentrasi ion
hidrogen yang sangat tinggi sehingga nilai pH akan turun dan bahkan akan menjadi faktor
mematikan.
Spesies yang terhambat disebut amensal dan yang menghambat antagonis. Konsep interaksi
ini digunakan dalam kontrol biologis seperti terhadap patogen tanaman. Epidemi penyakit
tanaman diindikasikan satu atau lebih berikut ini (Graham,2005):
 Patogen memiliki tingkat virulensi yang tinggi yaitu memiliki kerapatan inokulum
(material mikroba tumbuh pada lingkungan yang baik) yang tinggi.
 Lingkungan abiotic lebih sesuai untuk patogen disbanding dengan inangnya atau
organisme antagonis.
 Tanaman yang secara genetic sama, memiliki kerentanan yang tinggi dan tumbuh
secara luas.
 Ketiadaan organisme antagonis atau populasinya rendah sebab kondisi lingkungan
atau penghambatan mikroba lainnya.

Selanjutnya keseimbangan dalam situasi tersebut dapat diatasi dengan control secara
kimia atau biologis (mikrobiologis), misalnya memakai antagonis Trichoderma harzianum
dan Pantoea aglomerans. Penggunaannya dilakukan dengan pendekatan kemampuan daerah
rizosfer, proses – proses kolonisasi daerah perakaran, pengolahan tanah dengan pemberian
antagonis, pengolahan biji untuk bibit tanaman. Demikian pula pendekatan pengomposan
terkontrol antara lain menggunakan kedua mikroba tersebut dan dapat menginduksi system
ketahanan.

4. Komensalisme (metabiosis)

5
Komensalisme (metabiosis) adalah hubungan yang menghasilkan keuntungan bagi
salah satu spesies dari spesies lainnya dan tanpa ada yang dirugikan atas aktivitas metabolism
selanjutnya. Menurut konsep wilayah dan rintangan, tumpangan tindih secara fungsional
dalam lingkungan terjadi antara bakteri Acerobacter aceti dan khamir Saccharomyces
cerevisiae. Dalam suatu medium kedua mikroba tersebut salah satu yaitu bakteri akan
diuntungkan yaitu adanya zat etanol (etil alkohol) akan digunakan untuk sumber energi dalam
kategori fermentatif (bukan respiratif) dan akan dihasilkan zat asam asetat (cuka).
Keberadaan zat asam asetat dalam pada akhirnya tidak menimbulkan racun bagi
khamir, namun menjadi faktor lingkungan yang menunjang kehidupannya. Karateristik jamur
bersel satu tersebut sangat cocok sekali dalam keadaan substrat yang asam (pH rendah).
Dalam pemaknaan ini asam asetat bukan merupakan zat yang dapat diambil oleh sel khamir
untuk sumber energinya dalam peristiwa metabolisme. Oleh karena itu, walaupun asam asetat
memberikan efek positif bagi kehidupan khamir, tidak dapat disebut sebagai hubungan
kooperatif.
Demikian pula dalam definisi ini, bagi mikroorganisme yang satu memiliki sifat
anaerob obligat dan yang lain fakultatif. Mikroba anaerob obligat akan mendapatkan
keuntungan fakultatif setelah oksigen dalam lingkungan itu digunakan habis, sehingga
anaerob dapat memulai hidupnya; dengan syarat dua mikroba itu tidak berkompetisi. Hal
tersebut bukan diartikan persaingan mendapatkan oksigen dalam suatu ruang tertentu yang
tersedia zat pertumbuhan dalam substratnya.
Contoh lainnya adalah mikroba osmofilik akan memberikan keuntungan kepada
lainnya dimana metabolisme menyebabkan tekanan osmosa berkurang, sehingga yang lain
tidak mati dan justru dapat hidup untuk mengambil nutrisi dalam substrat.
Di sela – sela gigi dalam mulut banyak nutrisi bagi kehidupan mikroorgansime dan
hanya jenis bakteri Streptococcus mutans yang membentuk plak gigi dapat menjadi pioneer.
Adanya plag tersebut menguntungkan bagi mikroba lainnya dan yang perlu diperhatikan
adalah bahwa plag gigi itu bukan sebagai sumber nutrisi, melainkan memberikan faktor yang
menguntungkan.

5. Simbiosisme atau mutualisme


Hubungan symbiosis/ hidup Bersama atau bersekutu dan ditandai dengan kedekatan
secara fisik keduanya untuk mendapatkan keuntungan bagi masing – masing. Ciri lainnya
adalah hubungan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang spesies melainkan bersifat
selektif. Dua mikroorganisme, yaitu alga dalam hal ini cyanobakteri dan jamur dapat
membentuk symbiosis mutualisme dan keduanya secara fisik dekat/ menyatu adalah
Lichenes. Jamur akan menggunakan zat organik yang dihasilkan oleh cyanobakteri yang
6
dapat menyusunnya dari anorganik dengan bantuan cahaya. Bila cyanobakteri dipisahkan
dengan jamur akan memproduksi karbohidrat 1%, tetapi dalam bentuk mutualisme dengan
jamur akan meningkat menjadi 60%.
Contoh lainnya adalah alga mikroskopis dan paramecium dan keduanya dekat dimana
protozoa sebagai host/ inang alga. Paramecium akan mendapatkan oksigen yang cukup dari
peristiwa fotosintesis dan zat organic untuk energi sedangkan alga akan mendapatkan gas
CO2 dari pernapasan sebagai nutrisi untuk memebentuk zat organik.
Kedua bentuk hubungan tersebut dicirikan masing – masing mendapatkan sumber nutrisi dan
sama – sama mendapatkan keuntungan yang positif dari metabolit yang dihasilkan oleh dua
spesies yang berbeda. Bila hal ini dilakukan oleh spesies tetapi tidak dekat secara fisik, maka
dipahami sebagai sinergisme.
Contoh lain adalah jamur benang (fungi) didalam sel – sel akar (arbuskula) tumbuhan
tingkat tinggi maupun diluar (ektomikoriza) memiliki peranan penting dalam penyerapan
nitrogen dari tanah diarea rizosfer. Hifa untuk ektomikoriza diluar akar menempel
membentuk mantel, sedangkan didalam sel (endofit) hifa dapat membentuk vesikel. Beberapa
jamur endofit yang diteliti oleh Simanjuntak dkk. (2002) dalam tumbuhan kina (Cinchonna
sp.), diisolasi dan ditumbuhkan dalam medium cair buatan S7 termodifikasi mampu
memproduksi senyawa alkoid kinkona untuk pengobatan penyakit malaria.
6. Protokooperasi atau Sinergisme
Protokooperasi atau sinergisme adalah hubungan antara dua spesies atau yang lebih
dicirikan oleh keuntungan bagi setiap spesies yang melakukan kehidupan bersama, dan
seakan – akan merupakan suatu urut – urutan dalam penggunaan sumber energi. Alga dan
bakteri yang hidup pada suatu tempat dapat saling menguntungkan karena terdapat urutan
penggunaan zat.
Alga menghasilkan oksigen dan bahan organik dari peristiwa fotosintesis yang dilakukannya
dan kedua zat itu untuk sumber nutrisi bagi bakteri. Sedangkan bakteri menghasilkan vitamin
dan karbon dioksida bagi sumber nutrisi untuk membentuk zat organik dengan bantuan
cahaya.
Contoh lainnya adalah kehidupan mikroba dalam ragi tape, yaitu golongan jamur
mikrokospis (fungi) berbentuk benang Aspergillus orzyae, A niger dan satu sel; Hansenula
malanga atau H saturnus, Candida sp, Saccharomyces cerevisae, serta bakteri Acetobacter
aceti.
7. Predatorisme
Predatorisme adalah hubungan dua spesies yang menguntungkan salah satu saja dan
merupakan pemangsaan yang diakhiri dengan matinya mangsa. Untuk jenis mikroorganisme
didasarkan atas diet predator, seperti nematoda genus Pelodera dan Acrobeloides
7
mengkonsumsi bakteri; tetapi Aphelenchus, Aphelenchoides dan Ditylenchus; Colembola dari
genus Onychiurus dan Folsomia mengkonsumsi jamur mikrokospis. Hubungan yang spesifik
tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pengolahan air limbah untuk mengurangi
pertumbuhan jamur dan bakteri.
8. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan dua spesies yang hanya menguntungkan salah satu saja
dan bila bersifat patogen maka akan menyebabkan kematian inangnya. Hubungan antara
Tricoderma harzianum dan T hamatum dengan jamur patogen Rhizoctonia solani dan
Sclerotium rolfsii (Chet, 1987 dalam Davet, 2004) digunakan untuk kepentingan
pemberantasan hama dalam pertanian.
Parasite memiliki enzim untuk mengoyak dinding sel inangnya dan Trichoderma horzianum
dapat menghasilkan enzim ekstraseluler kitinase dan β-13. Glukanase untuk melarutkan kitin
dan polimer karbohidrat dalam dinding sel inang sehingga hifa dapat masuk dan menyerap
nutrisi. Enzim lainnya akan dihasilkan sehingga terjadi lisis sempurna sel inangnya.

B. Mikroba dalam Sistem Pencernaan Manusia

Microbiota manusia yaitu komunitas mikroorganisme yang hidup pada permukaan dan dalam
tubuh manusia, penting untuk fisiologi manusia, perkembangan system imun, dan pencernaan.
Diperkirakan microbiota manusia terdiri dari 100 triliun sel bakteri, lebih besar 10 kali lipat daripada
sel manusia dan setara dengan 1-2 kg berat badan. Sekitar 70% mikroorganisme pada manusia
berada pada saluran pencernaan di mana usus halus dan usus besar merupakan tempat yang paling
banyak dihuni oleh mikroorgaisme. Sepertiga dari mikrobiota saluran pencernaan merupakan
mikrobiota yang umum ditemukan pada manusia, sementara dua pertiganya spesifik untuk masing-
masing individu, sehingga mikrobiota saluran pencernaan saat ini dianggap identik dengan identitas
individu.

Kehidupan manusia bersimbiosis dengan mikroba saluran pencernaan, di mana manusia


memberikan makanan dan mikrobiota menguntungkan pada saluran pencernaan dengan memberikan
manfaat kesehatan. Dominasi mikroorganisme menguntungkan dalam saluran pencernaan
berkontribusi terhadap kesehatan dengan memberi efek perlindungan terhadap invasi oleh bakteri
pathogen, menstimulur respon imun, membantu pencernaan dan diduga berperan dalam
mematangkan system saraf pusat dan tingkah laku. Perkembangan mikroorganisme dalam saluran
pencernaan terjadi secara bertahap mulai pada saat dilahirkan, dari lingkungan, dan dari asupan
makanan setelah bayi lahir.

8
Berbagai factor seperti stress, terapi atau pengobatan dengan antibiotic, umur, gaya hidup dan
pada pola makan dapat mengganggu keseimbangan microbiota saluran pencernaan sehingga
menyebabkan meningkatnya bakteri pathogen dalam saluran pencernaan atau dysbiosis. Hal ini dapat
menjadi penyebab timbulnya gangguan kesehatan seperti gangguan pada lambung dan fungsi
pencernaan sampai pada penyakit lain seperti autoimun, alergi, kanker kolon, penyakit
kardiovaskuler, dan obesitas. Konsep yang popular saat ini untuk mengembalikan keseimbangan atau
memodifkasi microbiota saluran pencernaan yang terganggu adalah dengan pemberian prbiotik,
prebiotic, atau sinbiotik.

1. Bakteri Probiotik

Probiotik merupakan organisme hidup yang mampu memberikan efek yang menguntungkan
kesehatan hostnya apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup (FAO/WHO, 2002; ISAPP, 2009)
dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal pada saat masuk dalam saluran pencernaan
(Shitandi et al., 2007; Dommels et al., 2009; Weichselbaum, 2009).

Konsep probiotik dikembangkan dari sebuah teori autointoksikasi yang dikemukakan oleh
seorang ilmuwan Rusia penerima Nobel Biologi tahun 1908 yaitu Elie Metchnikoff. Menurutnya,
secara perlahan pembusukan (putrefeksi) oleh bakteri dalam usus besar menghasilkan senyawa-
senyawa beracun yang memasuki peredaran darah, yang disebut sebagai proses”autointoksikasi”.
Proses inilah yang menyebabkan penuaan dan beberapa penyakit-penyakit degeneratif. Dia meyakini
bahwa tingginya usia hidup warga suku-suku pegunungan di Bulgaria merupakan hasil dari
konsumsi produk susu fermentasi. Bakteri yang ikut terkonsumsi bersama produk tersebut dan
kemudian mampu tinggal di usus berpengaruh positif terhadap mikroflora di kolon dengan cara
menurunkan efek toksik dari mikroorganisme yang merugikan di kolon.

Mikroorganisme yang berpeluang besar melintasi dan hidup pada saluran pencernaan adalah
yang berasal dari tubuh manusia sendiri. Karena itu pada awalnya bakteri yang digunakan untuk
pembuatan probiotik diisolasi dari usus manusia atau dari feses bayi sehat. Ada sekitar 100 spesies
dan lebih dari 1014 cfu/gram terdapat dalam saluran pencernaan, termasuk bakteri-bakteri patogen
dan bakteri yang menguntungkan. Pada Tabel 2.1 dapat dilihat mikroorganisme yang dominan
terdapat pada saluran pencernaan manusia. Mikroflora dalam saluran pencernaan manusia sehat
relatif stabil, tetapi bervariasi bergantung dari kondisi fisiologis, pangan yang dikonsumsi,
pengobatan yang sedang dijalani, stress dan umur.

Tabel 2 .Distribusi dan komposisi mikroflora intestinal

Daerah Komposisia Jumlah total /ml material


Lambung Streptococcus 101– 102
Lactobacillus
9
Duodenum dan jejunum Streptococcus 102 – 104
Lactobacillus

Ileal – cecal Bacteroides 106– 108


Clostridium
Streptococci
Lactobacilli
Kolon Bacteroides 1011.5 – 1012
Clostridium
Eubacterium
Peptococcus
Bifidobacterium
Streptococcus
Fusobacterium

Beberapa probiotik umum meliputi berbagai spesies dari genera Bifidobacterium dan Lactobacillus
seperti: Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium breve, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium
longum, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus
reuteri, Lactobacillus rhamnosus, Lactobacillus GG. Ada pula satu spesies ragi yang digunakan
sebagai probiotik: Saccharomyces boulardii. Beberapa bakteri yang umum dipakai dalam produk
tapi tanpa efek probiotik (bakteri yoghurt): Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus,
Beberapa bakteri lain disebutkan dalam produk probiotik: Bacillus coagulans, Lactobacillus bifidus,
Lactobacillus caucasicus. Beberapa produk fermentasi mengandung asam laktat bakteri yang mirip
walaupun sering belum dibuktikan memiliki efek probiotik atau kesehatan termasuk: Kefir, Yogurt,
Sauerkraut, Kimchi, Kombucha.

Agar suatu mikroorganisme menjadi probiotik yang efektif dalam memberi efek kesehatan
maka disyaratkan: berasal dari manusia (human origin), stabil terhadap asam maupun cairan empedu,
dapat menempel pada sel intestin manusia, dapat berkolonisasi di saluran pencernaan manusia,
memproduksi senyawa antimikroba, dapat melawan bakteri patogenik dan kariogenik, telah teruji
secara klinis aman dikonsumsi, serta tetap hidup selama pengolahan dan penyimpanan. Selain itu
konsumsi harus dilakukan secara teratur sebanyak 100-150 ml produk (berisi 106 /ml bakteri hidup)
setiap 2 atau 3 kali seminggu.

Saat ini terus dikembangkan penelitian-penelitian yang menggunakan mikroorganisme yang


diisolasi dari usus manusia untuk digunakan dalam pembuatan probiotik. Bentuk produk probiotik
bervariasi tidak lagi hanya dalam bentuk makanan atau minuman, tetapi juga tablet atau kapsul. Pada

10
Tabel 2.2. berikut ini disajikan berbagai macam tipe probiotik dan bakteri probiotik yang umumnya
digunakan.

Tabel 2. Tipe-tipe produk probiotik dan bakteri probiotik yang digunakan

Manfaat probiotik bagi kesehatan tubuh dapat melalui 3 (tiga) mekanisme fungsi: (1) fungsi
protektif, yaitu kemampuannya untuk menghambat patogen dalam saluran pencernaan. Terbentuknya
kolonisasi probiotik dalam saluran pencernaan, mengakibatkan kompetisi nutrisi dan lokasi adhesi
(penempelan) antara probiotik dan bakteri lain, khususnya patogen. Pertumbuhan probiotik juga akan
menghasilkan berbagai komponen anti bakteri (asam organik, hidrogen peroksida, dan bakteriosin
yang mampu menekan pertumbuhan patogen) (Rahayu, 2008; Collado et al., 2009) ; (2) fungsi
sistem imun tubuh, yaitu dengan peningkatan sistem imun tubuh melalui kemampuan probiotik
untuk menginduksi pembentukan IgA, aktivasi makrofag, modulasi profil sitokin, serta menginduksi
hyporesponsiveness terhadap antigen yang berasal dari pangan.; (3) fungsi metabolit probiotik yaitu
metabolit yang dihasilkan oleh probiotik, termasuk kemampuan probiotik mendegradasi laktosa di
dalam produk susu terfermentasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh penderita lactose intolerance
(Rahayu, 2008).

Efek Probiotik terhadap kesehatan antara lain : penanggulangan diare, menstimulasi sistem
kekebalan (immune) tubuh, menurunkan kadar kolesterol, pencegahan kanker kolon dan usus, dan
penanggulangan dermatitis atopik pada anak-anak, menanggulangi penyakit irritable bowel
syndrome, penatalaksanaan alergi, pencegahan dan penanganan penyakit infeksi.

2. Bakteri Asam Laktat (BAL)

11
Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri Gram positif berbentuk kokus atau
batang, tidak membentuk spora, suhu optimum ± 40°C, pada umumnya tidak motil, bersifat anaerob,
katalase negatif dan oksidase positif, dengan asam laktat sebagai produk utama fermentasi
karbohidrat. Sifat-sifat khusus bakteri asam laktat adalah mampu tumbuh pada kadar gula, alkohol,
dan garam yang tinggi, mampu memfermentasikan monosakarida dan disakarida (Syahrurahman,
1994). Hampir semua BAL hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga habitat
pertumbuhannya hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup gula atau bisa disebut
dengan lingkungan yang kaya nutrisi..

Selain itu, BAL juga memiliki sifat probiotik, BAL yang memiliki sifat probiotik ini
memiliki banyak efek positif seperti antimikroba, aktivitas antikolestrol, efek stimulasi sistem imun,
meningkatkan penyerapan laktosa oleh tubuh, mencega diare, dan aktivitas antimutageik sehingga
dapat mencegah penyakit kanker usus (Fuller, 1992; Surono, 2004; dan Hill, 1995). Ada beberapa
syarat yang harus diperhatikan apakah suatu BAL memiliki sifat probiotik, antara lain: ketahanan
terhadap asam dan garam empedu, dan aktivitas antagonistik terhadap bakteri patogen (Gilliland et
al., 1984 dan Salminen, 1993). Berikut merupakan beberapa jenis BAL yang umum pada manusia;

a. Lactobacillus acidophilus

Lactobacillus acidophilus adalah salah satu dari delapan genera umum bakteri asam laktat
(BAL). Lactobacillus acidophilus dapat tumbuh baik dengan oksigen ataupun tanpa oksigen, bakteri
ini dapat hidup pada lingkungan yang sangat asam sekalipun, seperti pada pH 4-5 atau dibawahnya
dan bakteri ini merupakan bakteri homofermentatif yaitu bakteri yang memproduksi asam laktat
sebagai satu satunya produk akhir (Triana, 2007). Bentuk penampakan bakteri Lactobacillus
acidophilus dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Lactobacillus acidophilus (Sandine, 1979)

Lactobacillus acidophilus merupakan probiotik yang selama bertahun-tahun banyak


digunakan, karena aman dan tidak menimbulkan risiko infeksi berupa bakterimia (Snydman, 2008).
Lactobacillus acidophilus dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Salmonella
thypimurium yaitu bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi saluran cerna yang dikenal
dengan nama salmonellosis (Xiaodong et al., 2009). Lactobacillus acidophilus mampu memproduksi
laktase, vitamin K, dan zat anti mikroba sehingga keberadaan bakteri L. acidophilus dalam tubuh
12
membantu menjaga kondisi asam, sehingga mencegah infeksi mikroba. Produk susu yang paling
sering menggunakan L. acidophilus adalah susu acidophilus manis dan yoghurt. Susu yang dibuat
dengan inokulasi L. acidophilus kemudian difermentasi selama satu hari. Setelah fermentasi, susu
berubah menjadi dadih yang mengandung laktosa dalam jumlah minimum. Lactobacillus
acidophillus juga digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti infeksi saluran kemih (ISK),
bacterial vaginosis (BV), dan diare (Hidayat, 2011).

b. Lactobacillus bulgaricus

Lactobacillus bulgaricus adalah salah satu BAL yang digunakan sebagai starter kultur untuk susu
fermentasi. Bakteri ini dapat ditemukan di dalam vagina dan sistem pencernaan, dimana mereka
bersimbiosis dan merupakan sebagian kecil dari flora usus. Dalam susu, Lactobacilus bulgaricus
akan mengubah laktosa menjadi asam laktat. Bakteri ini bersifat termodurik (dapat hidup pada suhu
pasteurisasi 63 – 75oC) (Helferich dan Westhoff, 1980). Bentuk penampakan bakteri Lactobacillus
bulgaricus dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Lactobacillus bulgaricus)

Bakteri L.bulgaricus adalah bakteri probiotik karena telah lolos dari uji klinis, enzimnya mampu
mengatasi intoleransi terhadap laktosa, menormalkan komposisi bakteri saluran pencernaan serta
meningkatkan sistem kekebalan tubuh (Waspodo, 2001).

c. Lactobacillus casei

Lactobacillus casei starter pada produk minuman fermentasi laktat termasuk jenis bakteri asam
laktat homofermentatif, yaitu bakteri yang memfermentasi glukosa rnenjadi asam laktat dalam
jumlah yang besar (90%). Selain asam laktat yang dihasilkan, ia juga menghasilkan asam sitrat,
malat, suksinat, asetaldehid, diasetil dan asetoin dalam jumlah yang kecil, yang mempengaruhi cita
rasa minuman fermentasi laktat (Speck, 1978). Bentuk penampakan bakteri Lactobacillus casei dapat
dilihat pada Gambar 4.

13
Gambar 4. Lactobacillus casei (Speck, 1978)

Berdasarkan morfologinya, L. casei berbentuk batang pendek dalam koloni tunggal maupun berantai
dengan ukuran panjang 1,5 - 5,0 mm dan lebar 0,6 - 0,7 mm. Bakteri ini bersifat Gram positif,
katalase negatif, tidak membentuk endospora maupun kapsul, tidak mernpunyai flagela dan tumbuh
dengan baik pada kondisi anaerob fakultatif. Berdasarkan suhu pertumbuhannya, bakteri ini
termasuk bakteri mesofil yang dapat hidup pada suhu 15 - 41°C dan pada pH 3,5 atau lebih,
sedangkan kondisi optimum pertumbuhannya adalah pada suhu 37°C dan pH 6,8 (Mutai, 1981). L.
casei biasanya diisolasi dari produk susu dan lumen usus manusia (Robinson, 1981).

d. Streptococcus thermophilus

Streptococcus thermophilus merupakan bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada suhu 45°C.
Perbedaan suhu tersebut membedakan bakteri ini dari spesies Streptococci lainnya. Karakteristik S.
thermophilus antara lain: berbentuk bulat yang membentuk rantai, Gram positif, katalase negatif,
dapat mereduksi litmus milk, tidak toleran terhadap konsentrasi garam yang lebih besar dari 6.5 %,
tidak berspora, bersifat termodurik, tidak dapat tumbuh pada suhu 10oC, dan menyukai suasana
mendekati netral dengan pH optimum untuk pertumbuhan adalah 6,5 (Helferich dan Westhoff,
1980). Selain itu suhu pertumbuhannya berkisar antara 40 - 45oC (Chaitow dan Trener, 1990).
Bentuk penampakan bakteri Streptococcus thermophilus dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Streptococcus thermophilus

S. thermophilus merupakan BAL homofermentatif yang menghasilkan asam laktat sebagai produk
utama. S. thermophilus merupakan satu-satunya spesies bakteri dalam genus Streptococci yang
menghasilkan enzim laktase (Chaitow dan Trener, 1990). Efek menguntungkan dari S. thermophilus
selain menghasilkan asam laktat, yaitu menghasilkan enzim laktase yang berfungsi mencerna laktosa
dalam susu.

14
3. Bakteri Patogen

Patogenisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit pada organisme inang.


Mikroba mengungkapkan patogenesitas mereka dengan cara virulensi, sebuah istilah yang mengacu
pada tingkat patogenesitas mikroba. Oleh karena itu, factor-faktor penetu penentu virulensi pathogen
adalah salah satu dari genetic atau biokimia atau structural fitur-fiturnya yang memungkinkan untuk
menghasilkan penyakit pada inang.

Yang mendasari mekanisme pathogenesis bakteri adalah sebagai berikut:

 Invasiveness adalah kemampuan untuk menyerang jaringan. Ini meliputi mekanisme


kolonisasi, produksi zat ekstraseluler yang memfasilitasi invasi (ivasins) dan kemampuan
untuk memotong atau mengatasi mekanisme pertahanan inang.
 Toxigenesisi adalah kemampuan untuk menghasilkan racun. Bakteri dapat menghasilkan
dua jenis racun disebut eksotoksin dan endotoksin.
 Eksotoksin adalah racun yang dilepaskan dari sel bakteri dan dapat bertindak di
bagian jaringan yang menghapus situs pertumbuhan bakteri.
 Endotoksin dapat dilepaskan dari pertumbuhan sel-sel bakteri hasil dari
pertahanan inagnefektif (misalnya lisozim) atau kegiatan antibiotic tertentu.

Bakteri Patogen pada Saluran Pencernaan

Pada saluran pencernaan terdapat berbagai penyakit yang dapat terjadi. Salah satu
penyebabnya adalah bakteri. Begitu banyak bakteri yang dapat menjangkit saluran pencernaan.
Berikut merupakan bakteri pathogen pada saluran pencernaan.

1. Echerichia colli
a. Ciri-ciri
Berbentuk batang, merupakan bakteri gram negative, tidak memiliki spora, memiliki pili,
merupakan bakteri anaerobic fakultatif dengan suhu pertumbuhan optimum 37o, memiliki
flagella peritrikus, dapat memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan gas, serta bersifat
pathogen.

15
Gambar 1. Eschereceia coli

b. Habitat
Habitat utama E. colli adalah dalam saluran pencernaan manusia tepatnya di saluran gastrointestinal.
Bakteri ini umumnya termasuk hidup pada rentang suhu 200C – 40oC, optimum pada suhu 37oC.
c. Virulensi dan infeksi
Penyebab diare dan gastroenteritis (suatu peradangan pada saluran usus). Infeksi melalui konsumsi
makanan atau air yang tidak bersih. Racunnya dapat menghancurkan sel-sel yang melapisi saluran
pencernaan dan dapat memasuki aliran darah dan berpindah ke ginjal dan hati. Menyebabkan
perdarahan pada usus, tang dapat mematikan anak-anak dan orang tua. E. colli dapat menyebar ke
makanan melalui konsumsi makanan dengan tangan kosong terutama setelah menggunakan kamar
mandi. Solusi untuk mencegah bakteri ini adalah mencuci tangan dengan sabun.
d. Pathogenesis
E. coli banyak ditemukan di dalam usus halus manusia sebagai flora normal, tetapi bila
kesehatan menurun, bakteri ini dapat bersifat patogen terutama akibat toksin yang dihasilkan.
E. coli dapat menyebabkan berbagai penyakit tergantung dari tempat infeksinya, seperti
infeksi saluran kemih (ISK) dan diare. Beberapa strain E. coli menyebabkan diare yaitu
Enterophatogenic E. coli (EPEC), Enterotoxigenic E. coli (ETEC) merupakan penyebab
umum diare. Enterohemoragic E. coli (EHEC) dihubungkan dengan hemoragic colitis,
Enteroinvasif E. coli (EIEC) menyebabkan penyakit mirip shigellosis sedangkan
Enteroagregatif E. Coli (EAEC) menyebabkan diare yang akut dan kronis (Juliantina, 2009).
e. Penularan
Penularan bakteri ini adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti:
 Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari
serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
 Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar atau membersihkan yang
terinfeksi sehingga kontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.
2. Shigella sp.
a. Ciri-ciri
Berbentuk batang pendek, merupakan bakteri gram negative, tunggal, bersifat motil atau
tidak bergerak, suhu optimum pertumbuhan 37oC, tidak membentuk spora, merupakan bakteri
aerobic dan anareobik fakultatif, pathogen dan menyebabkan disentri.

16
Gambar 2. Shigella sp.

b. Habitat
Habitat Shigella sp. Adalah saluran pencernaan manusia, dia dapat tumbuh subur di usus
manusia.
c. Virulensi dan infeksi
Bakteri Shigella sp. dalam infeksinya melewati fase oral. Bakteri ini mampu
mengeluarkan toksin LT. bakteri ini mampu menginvasi ke epitel sel mukosa usus halus, dan
berkembang biak di daerah invasi tersebut. Lalu mengelurakan toksin yang merangsang
terjadinya perubahan system enzim di dalam sel mukosa usus halus (adenyl siklase). Akibat
invasi bakteri ini adalah terjadinya infiltrasi sel-sel polimorfonuklear dan menyebabkan
matinya sel-sel eptel tersebut, sehingga terjadi tukak-tukak kecil di daerah invasi. Akibatnya,
sel-sel darah merah dan plasma protein keluar dari sel dan masuk ke lumen usus dan ahkirnya
keluar bersama tinja lalu tinja bercampur lender dan darah.
Masa inkubasi berkisar 1-7 hariyang paling umum yaitu 4 hari. Gejala mula-mula nya
yaitu deman dan kejang perut yang nyeri. Diare biasanya terjadi setelah 48 jam, diikuti ole
disentri 2 hari kemudian. Pada kasus yang parah tinja terutama terdiri dari darah, lender dan
nanah.
d. Pathogenesis Shigella sp.
 Shigella mempenetrasi intraseluler usus besar
 Terjadi perbanyakan bakteri
 Menghasilkan endotoksin yang mempunyai sifat neurotoksik dan enterotoksik.
e. Penularan
Infeksi Shigella sp. dapat diperoleh dari makanan yang sudah terkontaminasi, walaupun
kelihatannya makanan itu terlihat normal. Air pun juga dapat menjadi salah satu hal yang
terkontaminasidengan bakteri ini. Artinya, infeksi Shigella dapat terjadi jika ada kontak
dengan feses yang terkontaminasi dan makanan yang terkontaminasi.
3. Salmonella sp.
17
a. Ciri-ciri
Berbentuk batang, merupakan bakteri gram negative, tunggal tidak berkapsul, tidak
membentuk spora, peritrikus, merupakan bakteri aerobic dan anaerobic fakultatif, bersifat
patogenik dan menyebabkan gastroenteritis.

Gambar 3. Salmonella sp.

b. Habitat
Terdapat pada kolam renang yang belum diklorin, jika terkontaminasi melalui kulit akan
tumbuh dan berkembang di dalam saluran pencernaan manusia.
c. Infeksi
Masuk ke tubuh orang melalui makanan atau minuman yang tercemar bakteri ini. Akibat
yang ditimbulkan adalah peradangan pada saluran pencernaan sampai rusaknya dinding usus.
Penderita akan mengalami diare, sari makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat
terserap dengan baik sehingga penderita akan tampak lemah dan kurus. Racun yang
dihasilkan bakteri Salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi wanita, bahkan
sedang hamil pundapat mengalami keguguran. Satwa yang bisa menularkan bakteri ini antara
lain primate, iguana, dan burung.
d. Patogenesisi
 Menghasilkan toksis LT
 Invasi ke sel mukosa usus halus
 Tanpa berpoliferasi dan tidak menghancurkan sel epitel
 Bakteri ini langsung masuk ke lamina propria yang kemudian menyebabkan infiltrasi
sel-sel radang.
e. Penularan
Melalui makanan yang erat kaitannya dengan perjamuanmakanan. Terjadi sakit perut yang
mendadak. Jadi, melalui kontak makanan yang terjangkit atau terkontaminasi bakteri.
4. Helicobacter pylori
a. Ciri-ciri

18
Berbentuk batang melengkung, merupakan bakteri gram negatifi, mikroareofilik, memiliki 4-
6 flagella, dapat mengoksidasi hydrogen, menghasilkan oksidase, katalase, dan urease,
patogenik dan menyebabkan gastrointestinal.

Gambar 4. Helicobacter pylori

b. Habitat
Awal saluran pencernaan manusia.
c. Virulensi dan infeksi H. pylori
Heliobacter pylori memproduksi toksin yang disebut vacuolating cytoxin A. racun ini
dapat menyerang sel dalam vakuola, yang merupakan rongga terikat membrane dalam sel,
menyebabkan gastritis dan bisul parah.
Pada titik tertentu dalam siklus kehidupan bakteri, beberapa bentuk perubahan
organisme dari bakteri bentuk spiral bentuk kokus. Alasan dibalik ini juga tidak jelas apakah
itu adalah suatu usaha untuk beradaptasi dengan situasi stress, tahap tidak aktif, atau sinyal
kematian sel.
d. Pathogenesis
 Setelah H. pylori tertelan, bakteri memasuki lumen, lambung, atau rongga.
 Karena memiliki flagella H. pylori dapat menahan kontraksi otot perut.
 Setelah tiba di lapisan mukosa, bakteri ini kemudian melubangi lapisan tersebut
menggunakan flagella dan bentuk heliks untuk membuat Gerakan seperti sekrup
5. Clostridium perfringes
a. Ciri-ciri
Merupakan bakteri berbentuk batang gram positif, terdapat tunggal, berpasangan dalam
rantai, berkapsul, bentuk sporanya ovoid (melonjong), sentral sampai eksentrik, bakteri
anaerobic, menghasilkan eksotoksin, menyebabkan kelemayuh (suatu infeksi jaringan disertai
gelembung gas dan keluarnya nanah).

19
Gambar 5. Clostridium perfringens
b. Habitat
Bakteri ini tersebar luas dan di lingkungan dan sering terdapat di dalam usus manusia, hewan
peliharaan dan hewan liar. Spora organisme ini dapat bertahan di tanah, endapan, dan tempat-
tempat yang tercemar kotoran manusia atau hewan.
c. Infeksi dan virulensi
Bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan ‘perfringes’ yang merupakan istilah yang
digunakan untuk keracunan makanan yang disebabkan oleh C. perfringens. Keracunan
perfringens secara umum dicirikan dengan kram perut dan diare yang mulai terjadi 8-22 jam
setelah mengonsumsi makanan yang mengandung banyak C. perfringens penghasil toksin
penyebab keracunan pada makanan. Keracunan bakteri ini didiagnosis dari gejala-gejalanya
dan waktu dimulainya gejala yang agak lama dengan infeksi.
d. Patogenesisi
 Menghasilkan toksin LT
 Toksin merangsang enzim adenilat siklase pada dinding usus yang mengakibatkan
bertambahnya konsentrasi cAMP sehingga hipersekresi air dan klorida dalam usus.
 Hal ini mengakibatkan reabsorbsi Na terhambat dan menyebabkan diare. Keracunan
disebabkan oleh sel-sel vegetative waktu membentuk spora di rongga usus.
e. Penularan
Menelan makanan yang terkontaminasi oleh tanah dan tinja di mana makanan tersebut
sebelumnya disimpan dengan cara yang memungkinkan kuman berkembang biak.
6. Vibrio cholerae
a. Ciri-ciri
Merupakan bakteri gram negative, berbentuk batang lurus dan agak lengung, terdapat tunggal
dan dalam rantai berpilin, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, bergerak flagella tunggal
polar, aerobic dan anaerobic fakultatif, patigen dan menyebabkan kolera.

20
Gambar 6. Vibrio cholerae
b. Habitat
Bakteri ini dapat hidup pada salinitas yang relative tinggi seperti di air laut dan perairan
payau. Tumbuh dan berkembang baik di dalam tubuh manusia.
c. Infeksi dan virulensi

Menyebabkan penyakit kolera yaitu penyakit infeksi saluran usus bersifat akut.
Bakteri ini masuk ke dalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi. Bakteri tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus
sehingga terjadi diare disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang dalam waktu
beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi.

Apabila dehidrasi tidak cepat ditangani maka akan berlanjut ke arah hopovolemik dan
asidosis metabolic dalam waktu yang relative singkat dan dapat menyebabkan kematian bila
penanganan tidak tepat.

d. Pathogenesis
Pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang ditampakan,
antara lain ialah:
 Diare yang encer dan berlimpah tnpa didahului rasa mulas atau tenesmus.
 Feses atau kotoran yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan
putih keruh tanpa bau bususk ataupun amis, tetapi seperti manis yang
menususk.
 Diare terjadi berkali-kali dalam jumlah yang cukup banyak
 Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidak
merasakan mual sebelumnya.
 Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
 Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi hebat.
e. Penularan
Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemic, epidemic atau pandemic.
Bakteri Vibrio cholerae berkembang baik dan menyebar melalui feses (kotoran) manusia, bila

21
kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya maka
orang lain yang terjadi kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera itu juga.
7. Vibrio parahaemolyticus
a. Ciri-ciri
Berbentuk koma atau batang lurus, merupakan bakteri gram negatif, tunggal, tidak berkapsul,
tidak membentuk spora, memiliki flagellum tunggal mengutub, aerobic dan anaerobic
fakultatif, membutuhkan garam, hemolitik, pathogen dan menyebabkan gastroenteritis.

Gambar 7. Vibrio parahaemolyticus


b. Habitat
Tumbuh pada kadar garam NaCl 3%, kisaran suhu 5-43oC, pH 4,8-11, terdapat di perairan
laut dan berkembang pada hewan-hewan sea food. Pertumbuhan berlangsung cepat pada
kondisi suhu optimum (37oC) dengan waktu generasi hanya 9-10 menit.
c. Virulensi dan infeksi
Penyebab penyakit gastroenteritis yang disebabkan oleh produk hasil laut, terutama yang
dimakan mentah, dimasak tidak sempurna atau terkontaminasi dengan seafood mentah
setelah pemasakan. Gstroenteritis berlangsung akut, diare tiba-tiba dan kejang perut yang
berlangsung selama 48-72 jam dengan masa inkubasi 8-72 jam
d. Pathogenesis
 Gejala utama : sakit perut, diare, mual dan muntah disertai sedikit demam dan rasa
kedinginan.
 Sembuh dalam waktu 2-5 hari
e. Penularan
Dengan mengonsumsi makanan laut yang sudah terkontaminasi.
8. Vibrio vulnficus
a. Ciri-ciri
Berbentuk batang melengkung, merupakan bakteri gram negatif, bergerak aktif karena
memiliki flagella, habitat di air laut, patogenik dan menyebabkan selulitis atau keracunan
darah dan gastroenteritis.

22
Gambar 8. Vibrio vulnficus

b. Habitat
Banyak ditemukan dalam air laut hangat. Tumbuh dan berkembang pada hewan laut seperti
kerrang. Selanjutnya dapat tumbuh pada usus manusia jika terkontaminasi melalui makanan.
c. Virulensi dan infeksi
Pathogen pada orang yang mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi atau yang
memiliki luka terbuka yang terkena air. Menyebabkan muntah, diare dan sakit perut. Dalam
system kekebalan terutama mereka dengan penyakit hati kronis, bakteri ini dapat menyerang
baik dari luka atau dari saluran pencernaan, menyebabkan penyakit yang disebut septikemia
primer, ditandai dengan demam, gerah, shock septi dan kematian.
d. Patogenesis
 Masa inkubasi biasanya 12-72 jamsesudah mengonsumsi seafood mentah atau
setengah matang.
 Masa penularan: dianggap tidak jadi penularan dari orang ke orang baik langsung
atau melalui makanan.
e. Penularan
Penularan terjadi di anata mereka yang mempunyai resiko tinggi, yaitu orang-orang yang
‘immunocompromised’ atau mereka yang mempunyai penyakit hati kronis. Infeksi terjadi
karena mengonsumsi seafood mentah atau setengah matang. Sebaliknya pada hospes normal
yang imunokompoten, infeksi pada luka biasanya terjadi sesudah terpapar dengan air payau.
9. Bacillus aereus
a. Ciri-ciri
Berbentuk batang, merupakan bakteri gram positif, dapat mementuk endospore, tidak
memiliki flagel, anaerobic fakultatif, menghasilkan enterotoksin, pathogen penyebab mual,
muntah dan diare.

23
Gambar 6. Bacillus aereus

b. Habitat
Sangat umum berada dalam tanah dan tumbuh-tumbuhan.
c. Virulensi dan infeksi
Ada dua jenis penyakit yang berhubungan dengan balteri ini yaitu penyakit diare disertai
dengan sakit perut dan muntah-muntah. Masa inkubasi nya mulai dari 4-16 jam untuk diare
dan sakit perut sedangkan untuk penyebab muntah-muntah biasanya terjadi 1-5 jam setelah
mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
d. Pathogenesis
 B. aereus dapat tumbuh dalam makanan dan menghasilkan enterotoksin yang
menyebabkan keracunan makanan.
e. Penularan
Penularan dapat terjadi karena mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah
terkontaminasi dengan B. aereus.

C. Bakteri Metanogen Yang Terdapat Pada Ruminansia

a. Bakteri metanogen
Bakteri metanogen adalah kelompok bakteri yang dapat menghasilkan gas metana
atau bakteri yang dapat menghasilkan energi.
Sumber energi yang berasal dari bakteri metanogen adalah berupa biogas. Biogas dihasilkan
dari bahan-bahan organik yang mengalami fermentasi atau proses metanasi dan terjadi secara
anaerob.
b. Karakteristik bakteri metanogen

karakteristik Metanogen
Sifat Gram -/gram +
Bentuk sel Batang, spirilla, coccus, filament,
sarcina
klasifikasi Archabacteria
metabolisme Anaerob
Struktur dinding Pseudomurein, protein dan

24
sel heteropolisakarida
Sumber energi dan H2+CO2,H2+metanol, metilamin,
karbon format, metanol (30% diubah
menjadi CH4), asetat (80% diubah
menjadi CH4)
Produk CH4 atau CH4 + CO2
katabolisme

Ternak ruminansia menghasilkan gas metan (CH4) yang berkontribusi terhadap


akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Produksi gas metana dari ternak ruminansia
berkontribusi 95% dari total emisi metan dunia dan sekitar 18% dari total gas rumah kaca di
atmosfer (Martin et al., 2008).
Ternak sapi mengeluarkan hampir 73% gas CH4 selama proses fermentasi pakan
dalam rumen. Sedangkan kerbau dan domba masing-masing mengeluarkan gas metan 10%
dan kambing 4% (US Environment Protection Agency, 1994). Emisi gas metan oleh ternak
ruminansia dihasilkan melalui proses metanogenesis di dalam sistem pencernaan khususnya
bagian rumen. Gas metan dihasilkan dari rumen sebesar 80-95% dan 5-20 % dihasilkan dari
usus besar (Shiddieqy, 2009).
Menurut Johnson dan Johnson (1995) dan Pelchen dan Peters (1998), gas metan yang
dikeluarkan dari rumen mengindikasikan energi yang hilang dari tubuh ternak ruminansia
dengan variasi 7-12% dari energi yang dikonsumsi. Gas metan dihasilkan dari fermentasi
anaerob karbohidrat oleh bakteri penghasil metan (metanogen).
Bakteri metanogen berperan dalam mengubah asam-asam lemak dan alkohol menjadi
metan dan karbondioksida (Speece, 1983). Bakteri metanogen dibagi menjadi dua, yaitu
bakteri metanogen hidrogenotropik dan asetotropik.
Bakteri metanogen hidrogenotropik mengubah hidrogen dan karbondioksida menjadi metan.
Bakteri metanogen asetotropik mengubah asam asetat menjadi metan dan CO2 (Mackie dan
Bryant, 1984).
Bakteri metanogen dikelompokkan menjadi tiga ordo, yaitu Methanobacteriales
(contoh: Methanobacterium, Methanobrevibacter, Methanospaera, Methanothermobacter, dan
Methylosphaera), Methanomicrobiales contoh: Methanomicrobium, Methanogenium,
Methanospirilium, Methanosarcina, dan Methanococcoid), dan Methanococcales (contoh:
Methanococcus) (Vogels et al., 1988). Bakteri metanogen dapat berupa kelompok bakteri
gram positif dan gram negatif (Moss, 1993).

BAB III

25
PENUTUP

Kesimpulan

1. Bentuk – bentuk simbiosis mikroba dengan lingkungan


 Netralisme, Kompetisi, Antagonisme atau Amensalisme, Komensalisme (metabiosis),
Symbiosis mutualisme, Protokooperasi atau Sinergisme, Predatorisme, Parasitisme.
2. Bakteri dalam system pencernaan manusia terdiri dari:
 Bakteri probiotik:
Probiotik merupakan organisme hidup yang mampu memberikan efek yang
menguntungkan kesehatan hostnya apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup
(FAO/WHO, 2002; ISAPP, 2009) dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora
intestinal pada saat masuk dalam saluran pencernaan (Shitandi et al., 2007; Dommels et
al., 2009; Weichselbaum, 2009).
 Bakteri BAL
BAL juga memiliki sifat probiotik, BAL yang memiliki sifat probiotik ini memiliki
banyak efek positif seperti antimikroba, aktivitas antikolestrol, efek stimulasi sistem
imun, meningkatkan penyerapan laktosa oleh tubuh, mencega diare, dan aktivitas
antimutageik sehingga dapat mencegah penyakit kanker usus (Fuller, 1992; Surono, 2004;
dan Hill, 1995).
 Bakteri pathogen
Patogenisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit pada organisme inang.
Mikroba mengungkapkan patogenesitas mereka dengan cara virulensi, sebuah istilah yang
mengacu pada tingkat patogenesitas mikroba. Oleh karena itu, factor-faktor penetu
penentu virulensi pathogen adalah salah satu dari genetic atau biokimia atau structural
fitur-fiturnya yang memungkinkan untuk menghasilkan penyakit pada inang.
3. Gas metana pada rumenansia
 Bakteri metanogen adalah kelompok bakteri yang dapat menghasilkan gas metana atau
bakteri yang dapat menghasilkan energi.
 Ternak ruminansia menghasilkan gas metan (CH4) yang berkontribusi terhadap
akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.
 Gas metan dihasilkan dari fermentasi anaerob karbohidrat oleh bakteri penghasil metan
(metanogen). Bakteri metanogen dikelompokkan menjadi tiga ordo, yaitu
Methanobacteriales, Methanomicrobiales, dan Methanococcales (Vogels et al., 1988).

DAFTAR PUSTAKA

26
https://books.google.co.id/books?
id=SihLDwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&sorce=gbs_ge_summary_r&cad=0#v
=onepage&q&f=false

https://media.neliti.com/media/publications/169261-ID-Deteksi keragaman spesies


bakteri metano.pdf

https://www.journal.bio.unsoed.ac.id

https://id.scribd.com/doc/42269270/bakteri-patogen-saluran-cerna

file:///C:/Users/Hail%20Mary/Documents/3.%20%20SKRIPSI%20TANPA%20BAB
%20PEMBAHASAN%20(1).pdf

file:///C:/Users/Hail%20Mary/Documents/2014-MONOGRAF-
BAKTERI_PROBIOTIK.pdf

27