Anda di halaman 1dari 3

Nesting pada Bayi

Oleh Levi Fitalopa Prastono, 1706978105, Mahasiswa S1 Reguler FIK UI 2017

levifitalopa@gmail.com

Definisi
Nesting adalah suatu alat yang digunakan di ruang Neonatal Intensive Care Unit
(NICU) yang diberikan pada bayi prematur atau BBLR yang terbuat dari bahan
phlany membentuk seperti sarang dengan panjang sekitar 121-132 cm
(Bayuningsih, 2011). Penggunaan nesting ini bertujuan untuk menstabilkan postur
tubuh, membantu posisi kepala ke arah garis tengah, dan memfasilitasi untuk
posisi fleksi atau semifleksi kepala sehingga mirip dengan posisi di dalam rahim
ibu (Zen, 2017).
Tujuan (Priya Bijlani, 2005 dalam Bayuningsih, 2011)
1. Memfasilitasi perkembangan neonatus
2. Memfasilitasi pola posisi hand to hand dan hand to mouth pada neonatus
sehingga posisi fleksi tetap terjaga
3. Meminimalisasi kecacatan yang diakibatkan karena posisi yang tidak tepat
4. Mencegah komplikasi yang disebabkan karena pengaruh perubahan posisi
akibat gaya gravitasi
5. Mendorong perkembangan normal neonatus
6. Dapat mengatur posisi neonatus
7. Mempercepat masa rawat neonatus
Indikasi
1. Neonatus (usia 0-28 hari)
2. Premature atau Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR)
Kontraindikasi ( RPA Newborn Care, n.d)
1. Penggunaan kateter umbilikal
2. Bayi post operasi thoraks atau abdomen
3. Bayi dengan Intraventricular hemorrhage (IVH)
Prinsip ( Wanda, et. all, 2019)
Ukuran nesting disesuaikan dengan panjang badan bayi

1
Universitas Indonesia
2

Alat dan bahan Prinsip ( Wanda, et. all, 2019)

1. 2 – 7 buah kain bedong bayi


2. Perlak
3. Selotip
Prosedur Prinsip ( Wanda, et. all, 2019)

1. Kaji kebutuhan bayi untuk nesting care


2. Mempersiapkan alat
3. Cuci tangan

Cara membuat nesting


4. Mengambil 1 buah kain, lipat kain menjadi 2 bagian
5. Lipat 2 ujung kain membentuk segitiga lalu rekatkan lipatan dengan
selotip
6. Ambil kain ke-2 dan gulung membentuk gulungan panjang
7. Letakkan kain gulungan panjang di atas kain lipatan segitiga dengan
membentuk huruf U. Rekatkan dengan solatip
8. Lalu balikkan kedua kain dan rapihkan sehingga membentuk sarang
9. Letakkan dan posisikan bayi dengan kaki fleksi disokong oleh sarang
bagian bawah
Cara memposisikan bayi jika lateral
10. Kaji bayi untuk menentukan posisi yang tepat
11. Pertahankan punggung, kepala, lengan dan tangan pada garis tengah
12. Kaki harus ditekuk ke pinggul dan ditopang
13. Lapisan kain harus ditempatkan di antara lutut dan pergelangan kaki
14. Berikan penopang pada telapak kaki

15. Lakukan evaluasi posisi kepala, kaki dan tangan


16. Cuci tangan
17. Dokumentasikan durasi dan posisi bayi

Universitas Indonesia
Daftar Pustaka

Bayuningsih, R. (2011). Efektivitas penggunaan nesting dan posisi prone


terhadap saturasi oksigen dan frekuensi nadi pada bayi prematur di
rumah sakit umum daerah (RSUD) kota Bekasi. Depok: Fakultas Ilmu
Keperawatan UI.

Indriansari, A. (2011). Pengaruh developmental care terhadap fungsi fisiologis


dan perilaku tidur-terjaga bayi berat lahir rendah di RSUP fatmawati
jakarta. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan UI.

RPA Newborn Care. (n.d.). Neonatal intensive care protocols for intensive care:
developmental positioning. Retrieved from :
https://www.slhd.nsw.gov.au/RPA/neonatal%5Ccontent/pdf/Nursing
%2Guidelines/Positioning.pdf

Wanda, D., Lestari, W.A., Adawiyah, R., & Aprillia, Z. (2019). Buku panduan
praktikum keperawatan anak. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan UI.

Zen, D. N. (2017). Pengaruh nesting terhadap perubahan fisiologis dan perilaku


bayi prematur di perinatologi rumah sakit umum daerah Tasikmalaya.
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada, 17, 357-374.

3
Universitas Indonesia