Anda di halaman 1dari 4

2.

2 Pemeriksaan Penunjang

2.2.1 Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah pada pasien yang mengidap TB dapat ditandai dengan meningkatnya
laju endap darah (dalam keadaan tertentu bisa normal) dan meningkatnya kadar limfosit
[5]

2.2.2 X-ray Thoraks Posterior-Anterior dan lateral

Hasil pemeriksaan X-ray Thoraks pada pengidap TB dapat menunjukan [6]:

- Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah

- Baying berawan (patchy) atau berbercak (nodular)

- Adanya kavitas tunggal/ganda

- Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru

- Adanya kalsifikasi

- Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian

- Bayangan milier

2.2.3 Kultur Dahak

Kultur Dahak merupakan salah satu metode pemeriksaan penunjang untuk menegakkan
diagnosis TB. Materi yang akan diuji adalah dahak pasien (sputum) dan media yang
digunakan biasanya adalah Lowenstein Jensen atau Coco Blood Malachite Green. Setelah
beberapa saat, jika media yang digunakan adalah Lowenstein Jensen, maka akan timbul
koloni yang bewarna kekuningan seperti bunga kol. Apabila media yang digunakan
adalah Coco Blood Malachite Green, maka yang timbul adalah koloni bewarna putih
yang tampak tipis dan menyebar [5]

2.2.4 Uji Tuberkulin (Mantoux test)

Uji tuberculin atau Mantoux test adalah salah satu dasar kenyataan bahwa infeksi oleh
Mycobacterium tuberculosis akan menyebabkan reaksi DTH (delayed-type
hypersensitivity) terhadap antigen yang berasal dari ekstrak Mycobacterium tuberculosis
atau yang biasa disebut dengan tuberkulin. Uji tuberkulin dilakukan dengan injeksi 0,1 ml
tuberkulin intradermal di permukaan belakang lengan bawah. Injeksi tuberkulin
menggunakan jarum gauge 27 dan spuit tuberculin dan injeksi harus membentuk sudut
30° antara kulit dan jarum. Masuknya tuberculin pada saat injeksi akan menyebabkan sel
T tersensitisasi dan menggerakkan limfosit ke tempat injeksi melalui molekul MHC-II.
Limfosit akan memicu indurasi dan vasodilatasi lokal, edema, deposit fibrin dan
penarikan sel inflamasi lainnya ke tempat injeksi, reaksi ini merupakan reaksi DTH
(delayed-type hypersensitivity). Test kulit positif maka akan tampak edema lokal atau
infiltrat maksimal 48-72 jam setelah suntikan. Hasil uji tuberkulin dicatat sebagai
diameter indurasi bukan kemerahan dengan cara palpasi. Standarisasi digunakan diameter
indurasi diukur secara transversal dari panjang axis lengan bawah dicatat dalam
milimeter. Hasil uji tuberculin dapat diinterpretasikan berdasarkan ukuran diameter dari
indurasi seperti berikut [8]:

 Indurasi > 5 mm

- Close contact dengan suspek TB dalam waktu kurang lebih 2 tahun

- Suspek TB aktif berdasarkan bukti klinis dan radiologi.

- Positif terinfeksi HIV

- Individu dengan perubahan radiologis berupa fibrotic (tanda TB)

- Individu yang telah menjalani transplantasi organ dan immuncompromised.

 Indurasi > 10 mm

- Berasal dari daerah dengan prevalensi TB yang tinggi

- HIV negative

- Pengguna NAPZA (Narkotik, Psikotropika, Zat Addiktif)

- Individu dengan kondisi klinis yang merupakan resiko tinggi TB seperti DM,
malabsorbsi, tumor di leher/kepala, leukemia, lymphoma, penurunan BB > 10%
 Indurasi > 15 mm

- Bukan resiko tinggi tertular TB

2.2.5 Pemeriksaan BTA

Pemeriksaan BTA merupaka prosedur untuk mendeteksi bakteri Mycobacterium


tuberculosis yang berada di dahak pasien. Bakteri Mycobcaterium tuberculosis dapat
hidup di lingkungan asam, sehingga pemeriksaan terhadap bakteri ini dikenal dengan
pemeriksaan bakteri tahan asam (BTA). Prosedur dari pemeriksaan BTA dimulai dengan
pengambilan dahak pasien, di mana pasien harus mengumpulkan sample dahak sebanyak
3 kali. Pengambilan sample dahak pertama dilakukan sewaktu pasien berkunjung pertama
kali, pengambilan sample dahak kedua dilakukan di rumah di pagi hari, dan pengambilan
sample dahak ketiga dilakukan sewaktu hari kedua saat menyerahkan dahak pagi (sample
kedua). Pasien dihimbau untuk tidak makan atau minum terlebih dahulu pada pagi hari
setelah tidur. Sebelum mencoba untuk mengeluarkan dahak, pasien dihimbau untuk
menyikat gigi terlebih dahulu tanpa menggunakan obat kumur. Ketiga sample dahak yang
akan diteliti akan ditempatkan ke tiga wadah yang berbeda. Pengambilan sample dahak
harus dilakukan di tempat yang terbuka/memiliki sirkulasi udara yang baik. Setelah itu
sample dahak pasien akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan BTA biasanya dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Biasanya
bakteri akan terlihat berwarna pink dengan latar sediaan yang berwarna biru. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan BTA di antaranya:

 Kualitas dahak : ditemukan tidaknya makrofag atau leukosit > 25 LP dengan


pembesaran 100x

 Ukuran sediaan : 2 x 3 cm

 Kerataan : Sediaan tampak rata atau tidak terkelupas

 Ketebalan sediaan : seluruh bagian sediaan dapat dilihat dengan jelas pada setiap
lapang pandang

 Kualitas pewarnaan : BTA dan latar belakang dapat dibedakan dengan jelas
 Kebersihan sediaan : adanya sisa zat warna, kotoran harus dihindarkan agar tidak
mengganggu pembacaan

Hasil pemeriksaan BTA dapat diinterpretasikan berdasarkan kriteria Kemenkes / Union


Against Tuberculosis and Lung Diseases (IUATLD) di antaranya:
 Tidak ada BTA = 0 / 100 LP

 Meragukan = 1-9/100 LP

 1 + = 10-99/100 LP

 2 + = 1-10/LP

 3 + = > 10 BTA dalam 1 LP, periksa minimal 20 LP