Anda di halaman 1dari 26

Perawatan Saluran Akar dan Pulp Capping

MAKALAH KELOMPOK 8

DISUSUN OLEH :

Kelvin Yusup S 10617057

Wanda Putra N 10617117

Yudin Bella Almira 10617119

Zuwandi Abd. Kadir 10617120

Fitri Lapenangga 10616030

Salsabila Nur Alisa 10616077

Maria Res Yosephin 10617067

Nahdiatul Istiqomah 10617076

Nurul Hidayati 10617084

Rafii Rizky R 10617092

Rif Atir Rizqiyah 10617098

Shyki Putri P 10617108

Anjasmara Tirta adi kencana 10617018

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2020

i
KATA PENGANTAR

Ucapan puji syukur kami panjatkan atas rahmat Tuhan Yang Maha
Kuasa, dan setelah mengalami berbagai prosedur akhirnya terselesaikan juga
makalah ini sebagai tugas tutorial learning blok XVI skenario 4 yang berjudul
“Kedoteran Gigi Klinik ”. Dalam penyajiannya kami menyusun tiap bab
dengan uraian singkat dan pembahasan serta kesimpulan akhir. Dalam makalah
yang berjudul “Perawatan Saluran Akar dan Pulp Capping ” ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. drg. yang dengan sabar membimbing dan memberikan arahan kepada
kami kelompok tutorial 8 dalam proses tutorial skenario 4 dari awal
hingga akhir.
2. Pihak institusi yang telah menyediakan segala fasilitas pembelajaran.
3. Orang tua yang telah memberikan do’a dan restu hingga proses
pembuatan makalah ini berjalan dengan lancar.
4. Semua pihak terkait yang telah membantu yang belum disebut baik
secara langsung.
Penulis menyadari bahwa makalah masih ada kekurangan. Penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya dapat membangun agar
penyusunan makalah ini menjadi lebih baik dan lebih berguna bagi semua
pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya
dapat menambah wacana dan pengetahuan mahasiswa IIK, bagi masyarakat
kedokteran gigi pada khususnya, dan pada masyarakat kesehatan pada
umumnya.

Kediri, 23 Maret 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................................ii

Daftar Isi...........................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1


A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Tujuan .....................................................................................................................2
C. Manfaat....................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................7
A. Perawatan Saluran Akar......................................................................................7
a. Definisi ...............................................................................................................7
b. Tujuan ................................................................................................................7
c. Bahan ................................................................................................................8
d. Teknik Perawatan Saluran Akar..........................................................................8
1. Teknik Preparasi.............................................................................................8
2. Teknik Pengisian............................................................................................13
B. Pulp Cupping.........................................................................................................18
a. Definisi Pulp Cupping.........................................................................................18
b. Tujuan Pulp Cupping .........................................................................................18
c. Bahan Pulp Cupping...........................................................................................19
BAB III KONSEP MAPPING........................................................................................21
BAB IV PEMBAHASAN..................................................................................................22
BAB V PENUTUP.............................................................................................................24
A. Kesimpulan..............................................................................................................24
B. Saran........................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................25
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perawatan saluran akar (PSA) merupakan salah satu perawatan yang

dilakukan dengan cara mengambil seluruh jaringan pulpa nekrosis, membentuk

saluran akar gigi untuk mencegah infeksi berulang. Tujuan perawatan saluran

akar (PSA) adalah untuk mempertahankan gigi non vital dalam lengkung gigi

agar dapat bertahan selama mungkin dalam rongga mulut dengan cara

membersihkan dan mendisinfeksi sistem saluran akar sehingga mengurangi

munculnya bakteri (Nissa et.al., 2013).

Perawatan saluran akar (PSA) terdiri dari tiga tahap utama yaitu:

preparasi biomekanis saluran akar atau pembersihan dan pembentukan

(cleaning and shaping), sterilisasi saluran akar dan obturasi saluran akar. Salah

satu tahapan dalam pembersihan dan pembentukan (cleaning and shaping) yang

penting adalah tahap irigasi saluran akar. Salah satu fungsi irigasi saluran akar

adalah untuk mengeliminasi bakteri pada saluran akar. Bahan-bahan yang dapat

digunakan sebagai bahan saluran akar antara lain, sodium hipoklorit (NaOCl),

hidrogen peroksida (H2O2), EDTA, dan klorheksidin (Tarigan, 2013).

Bahan-bahan irigasi tersebut memiliki keunggulan masing-masing untuk

menunjang pembersihan saluran akar. Klorheksidin merupakan bahan irigasi

yang memiliki sifat antibakteri yang berspektrum luas, yaitu mampu

membunuh bakteri gram positif maupun negatif meskipun efeknya pada bakteri

4
gram negatif lebih rendah dibanding bakteri gram positif. Konsentrasi yang

digunakan untuk mendesinfeksi saluran akar adalah 2%. Klorheksidin dengan

konsentrasi 2% bersifat bakterisid (Menezes et al., 2003).

Indikasi dilakukan perawatan saluran akar antara lain, gigi dengan

kelainan jaringan pulpa berupa pulpitis ireversibel, nekrosis pulpa, atau

kelainan jaringan periapikal yang merupakan kasus endodontic, gigi tanpa

kelainan jaringan pulpa atau jaringan periapikal, tapi memerlukan perawatan

endodontik untuk kebutuhan restorasi berupa pasak, gigi yang dipertahankan

untuk menyangga overlay denture perlu dilakukan dalam perawatan endodontik

karena gigi akan di preparasi sedemikian rupa sehingga melibatkan kamar pulpa

(Lost dkk., 2006).

Pulp capping merupakan teknik perawatan pulpa vital yang bertujuan

untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa untuk melindungi dari bakteri

dengan menambah kemampuan reparasi. Terdapat dua jenis perawatan pulp

capping indirek dan pulp capping direk. Pulp capping indirek merupakan

perawatan yang bertujuan untuk melindungi pulpa karena jika pembersihan

karies dilakukan preparasi penuh maka akan menyebabkan terbukanya pulpa

(Straffon, 2000). Pulp capping direk merupakan prosedur perawatan pulpa yang

terbuka dengan cara melapisi pulpa dengan bahan yang biokompatibel untuk

merangsang terbentuknya jembatan dentin (Swarup, 2014).

5
B. Tujuan

Mengetahui rencana perawatan yang tepat pada penanganan kasus pada

gigi 44, 45 dan 46

C. Manfaat

1. Bagi masyarakat

Menambah wawasan pengetahuan tentang penatalaksanaan pada kasus

penyakit periapikal dan prosedurnya.

2. Bagi peneliti lain

Sebagai pengembangan teori mengenai tahapan Perawatan Saluran

Akar, pulp capping dan indikasinya.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perawatan Saluran Akar (PSA)

a. Definisi perawatan saluran akar

Perawatan saluran akar (PSA) merupakan salah satu bagian dari

perawatan konservasi gigi yang bertujuan untuk mempertahankan vitalitas

pulpa, merawat gigi yang mengalami kerusakan dan nekrosis pulpa, serta

merawat gigi yang mengalami kegagalan perawatan sebelumnya agar gigi

tersebut tetap dapat berfungsi (Santoso dan Kristanti, 2016).

b. Tujuan perawatan saluran akar

Tujuan utama dari perawatan saluran akar adalah untuk menciptakan

lingkungan dalam sistem saluran akar yang memungkinkan penyembuhan

dan pemeliharaan dari jaringan periradikuler (Santoso dan Kristanti, 2016).

c. Bahan perawatan saluran akar

Pada umumnya bahan pengisi saluran akar digolongkan menjadi :

1) Golongan padat

Termasuk golongan padat ialah guttap silver point dan acrilic cone.

Silver point digunakan untuk saluran akar yang sempit, bulat

mengecil, dan bengkok. Kontraindikasinya gigi anterior, premolar

akar tunggal, dan molar akar tunggal yang besar.

7
2) Golongan pasta

Bahan ini tidak mengeras dalam saluran akar, mudah dimasukkan

tapi mudah keluar melalui foramen apikal, dan porus kebbocoran

lebih besar. Contoh :  pasta dengan bahan dasar ZnO, bahan dasar

Ca(OH)2, dan bahan dasar resin.

a) ZnO. Merupakan serbuk amorf yang halus, rapuh, mudah larut

dalam asam, tidak larut dalam air/alkohol, antiseptik, dan

toksisitasnya rendah. ZnEO bersifat non toksik dan digunakan

untuk perawatan pulpektomi.

b) Ca(OH)2, Mempunyai efek bakteriostatik atau bakterisid

3) Golongan semen

Bahan ini setelah beberapa waktu dalam saluran akar akan

mengeras, sukar dimasukkan dalam saluran akar yang sempit,

mudah terdesak keluar melalui foramen apikal, iritasi, dan sulit

dikeluarkan. Contoh : oxycloride, oxysulfate, zinc oxyfosfat, zinc

oxyeugenol (Walton and Torabinejad. 2008. ).

d. Teknik perawatan saluran akar

1. Teknik preparasi saluran akar

1) Teknik Konvensional

Teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada gigi

dengan saluran akar lurus dan akar telah dengan tumbuh

sempurna.

8
Preparesi teknik ini, antara lain:

a) Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K

b) Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik.

Sebelum preparasi stopper file terlebih dahulu harus

dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi. Stopper

dipasang pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi

bidang insisal. Stopper digunakan sebagai tanda batas

preparasi saluran akar.

c) Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor

yang paling kecil. Preparasi harus dilakukan secara

berurutan dari nomor yang terkecil hingga lebih besar

dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah

terjadinya step atau ledge atau terdorongnya jaringan

nekrotik ke apikal.

d) Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum

preparasi ke nomor yang lebih besar harus dilakukan

irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk

membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk

dentin yang terasah. Irigasi harus dilakukan secara

bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril, bahan

irigasi terakhir yang dipakai adalah aquadest steril.

e) Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka

preparasi diulang dengan menggunakan jarum preparasi

9
yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila masih

ada penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan

untuk mengatasi penyumbatan yaitu larutan largal,

EDTA, atau glyde (pilih salah satu).

f) Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari

dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar

cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar.

(Walton and Torabinejad. 2008. )

2) Teknik Step Back

Teknik step-back menghasilkan bentuk corong yang lebih

halus dari korona ke apeks. Teknik ini merupakan teknik yang

sering dilakukan di klinik. Teknik step-back dapat digunakan untuk

sebagian besar saluran akar, seperti saluran akar lurus, saluran akar

bengkok, saluran akar dengan pembengkokan sempit. Teknik

preparasi step-back mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

a. Kemungkinan terjadinya trauma periapikal lebih kecil;

b. Memudahkan pengambilan lebih banyak debris;

c. Instrumen yang menghasilkan bentuk corong yang baik akan

memudahka penempatan kon gutta perchabaik dengan metode

kondensasi lateral maupun kondensasi vertical

Preparasi saluran akar dengan jarum dimulai dari nomor terkecil:

10
a. No. 15 s/d 25 = sesuai panjang kerja

b. File No. 25 : Master Apical File (MAF)

c. No. 30 = panjang kerja – 1 mm MAF

d. No. 35 = panjang kerja – 2 mm MAF

e. No. 40 = panjang kerja – 3 mm MAF

f. No. 45 = panjang kerja sama dengan no. 40 dst

Tujuan pengisian adalah untuk menutup saluran akar secara

tiga dimensi dengan bahan yang kompatibel dari kamar pulpa

sampai ke apeks. Bahan pengisi saluran akar terdiri atas material

obturasi inti yang akan mengisi ruang saluran akar dan ditambah

dengan siler saluran akar. Material obturasi inti biasanya berupa

material solid dan semisolid (bentuk pasta atau bentuk yang

lunak). Material solid lebih banyak keuntungannya dibandingkan

dengan material semisolid (pasta). Keunggulan utama material

solid adalah material ini dapat dikendalikan panjangnya,

11
mempunyai kemampuan beradaptasi pada ketidakteraturan

saluran akar dan menciptakan kerapatan yang adekuat.

(Bahtiar,2016).

3) Teknik Crown Down

Dimulai dari daerah korona menuju apikal. Pelebaran saluran

akar dimulai dari daerah sepertiga tengah dan sepertiga korona

saluran akar dengan menggunakan instrumen rotatif. Selanjutnya

daerah sepertiga apikal dipreparasi menggunakan K-file dengan

gerakan memutar tanpa tekanan, diikuti file berikutnya dengan

ukuran yang lebih kecil sampai salah satu file mencapai panjang

kerja sebenarnya (file dimulai dari ukuran besar ke ukuran yang

lebih kecil) (Bahtiar,2016).

4) Teknik Balance Force

a) Menggunakan alat preparasi file tipe R- Flex atau NiTi

Flex

b) Menggunakan file no. 10 dengan gerakan ateam wending,

yaitu file diputar searah jarum jam diikuti gerakan setengah

putaran berlawanan jarum jam.

c) Preparasi sampai dengan no. 35 sesuai panjang kerja. Pada

2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gated Glidden

Drill (GGD)

12
1) GGD #2 = sepanjang 3 mm dari foramen apical

2) GGD #3 = sepanjang GGD #2 – 2mm

3) GGD #4 = sepanjang GGD #3 – 2 mm

4) GGD #5 = sepanjang GGD #4 – 2 mm

5) GGD #6 = sepanjang GGD #5 – 2 mm

d) Reparasi dilanjutkan dengan file no. 40 s/d n0.45

e) Dilakukan irigasi

f) Keuntungan balance force :

1) Hasil preparasi dapat mempertahankan bentuk

semula

2) Mencegah terjadinya ledge dan perforasi

3) Mencegah pecahnya dinding saluran akar

4) Mencegah terdorongnya kotoran keluar apeks

( Torabinejad dkk, 2015 )

2. Teknik pengisian saluran akar

1) Teknik Single Cone

Teknik pengisian saluran akar untuk teknik preparasi secara

konvensional.

Tahapan :

a. Pencampuran pasta saluran akar petunjuk pabrik

13
b. Pasta diulaskan pada jarum lentulo dan guttap point

untuk kemudian dimasukkan kedalam saluran akar yang

telah dipreparasi jarum lentulo sesuai panjang kerja dan

diputar berlawanan jarum jam

c. Guttap point ( diulas dengan pasta) masuk kedalam

saluran akar

d. Guttap point dipotong 1-2 mm dibawah orifice dengan

ekskavator yang ujungnya telah dipanasi dengan

Bunsen burner hingga membara.

( Darcey dkk, 2015 )

2) Teknik Kondensasi

Teknik pengisian saluran akar dengan Gutta Percha

a) Kondensasi Lateral

Dapat dilakukan pada semua keadaan, kecuali pada

saluran akar yang sangat bengkok/ bentuk akar yang

abnormal atau saluran akar yang ketidakteraturannya tinggi

seperti pada resorbsi interna

b) Kondensasi Vertikal

Teknik yang efektif pada kasus resorbsi interna dan

pada induksi ujung akar,

Cara pengisian

a) Kondensasi lateral

14
Menggunakan spreader dan plugger untuk

mendorong gutta percha mengalir dengan

memasukan instrument ini diisi bahan pengisi dan

menekannya ke lateral dan apical

b) Kondensasi verical

Menggunkaan kekuatan vertical digabung dengan

aplikasi panas untuk mendorong gutta percha

keapikal dan lateral (Bactiar, 2016).

3) Teknik Kloropercha / eucapercha

Teknik ini dilakukan dengan melunakkan ujung guttap point

utama dengan kloroform atau eucalyptol dan dimasukkan ke dalam

saluran akar hingga guttap point akan berubah bentuk sesuai

dengan saluran akarnya terutama daerah apikal. Kon dikeluarkan

lagi untuk menguapkan bahan pelarutnya. Setelah saluran akar

diulasi semen guttap point dimasukkan ke dalam saluran akar dan

ditekan hingga seluruh saluran akar terisi sempurna.

4) Teknik Thermoplasticized gutta percha

Peralatan penekan terdiri dari barel alat semprit yang

dipanaskan dengan listrik yang dan seleksi jarum berkisar dalam

ukuran dari 18-25 gange derajat panas diatur untuk menetapkan

gutta percha yang tepat menurut ukuran jarum. Teknik ini

dilakukan dengan menggunakan alat Ultrafil atau Obtura, yaitu alat

15
yang bentuknya mirip pistol dan mampu melunakkan guttap point

serta mendorong ke dalam sakuran akar ke arah apikal .

Menurut Torabinejad dkk. mengatakan bahwa injeksi gutta

percha yang diplastiskan dari alat semprit tekanan menghasilkan

pengisian yang sama baiknya dengan kondensasi lateral atau

vertikal.

Menurut Schilder dkk. mengatakan bahwa metode pengisian

0
thermoplastis dengan gutta percha di atas 45 C memberi

kecenderungan bahan pengisi mengalami pengerutan bila gutta

percha menjadi dingin kecuali bila dimampatkan dengan

instrumentasi ke arah apeks. Metode termoplastik mempunyai satu

cacat yang sama dengan semua teknik injeksi, yaitu kurang dapat

membawa gutta percha dengan tepat ke dekat foramen apikal dan

tidak melebihinya, sekalipun metode ini dapat mengisi saluran

lateral pada semua celah-celahnya. Teknik injeksi mengandalkan

gutta percha yang dipanasi dan diplastiskan untuk mengalir ke

apikal dengan tekanan apikal yang minimal, bila dibandingkan

dengan kekuatan dan tekanan yang digunakan pada kondensasi

lateral dan vertikal. Kecuali bila tekanan vertikal dikombinasi

dengan metode injeksi pengisian.

16
B. Pulp Capping

a. Definisi pulp capping

Suatu aplikasi selapis atau lebih material pelindung atau bahan

untuk perawatan di atas pulpa yang terbuka,misalnya hidroksida kalsium,

yang akan merangsang pembentukan dentin reparatif (Harty, 1995).

Sedangkan menurut Tarigan (2002), pulp capping adalah suatu tindakan

perlindungan terhadap pulpa vital dengan cara memberikan selapis tipis

material proteksi pada pulpa yang hampir terbuka

(masih tertutup selapis tipis dentin). 

Obat yang digunakan adalah Ca(OH)2 yang berkhasiat merangsang

odontoblas untuk membentuk dentin sekunder. Teknik perawatan

pulp capping dapat dilakukandengan 2 cara yaitu secara tidak langsung

(indirek) dan secara langsung (direk).

b. Tujuan pulp capping

1) Melindungi pulpa dari bahan tumpatan.

2) Kelengkapan suatu tumpatan, membantu pengobatan, dan

membantumelekatkan tumpatan.

3) Memberkan fungsi protektif terutama berupa pencegahan kuman

atautoksinnya, yang umumnya berada di sekitar tumpatan,

memasuki tubulusdan mengiritasi pulpa.

4) Untuk menutupi dentin hang terbuka.

17
5) Melindungi pulpa dari iritasi bahan tumpat.

6) Mempertahankan vitalitas pulpa. (Ford, 1993 dan Andlaw, 1992)

c. Bahan pulp capping

Bahan kaping pulpa antara lain kalsium hidroksida,

Glass Ionomer / Resin-Modifed Glass Ionomer, Adhesive

system, dan Mineral Trioxide Aggregate (MTA).

Bahan kaping pulpa yang ideal harus menunjukkan

kemampuan kontrol infeksi yang baik, daya rekat

terhadap dentin sehingga mengurangi kebocoran mikro,

mudah diaplikasikan dan dapat merangsang

pembentukan jembatan dentin tersier (Tzifas et al.,

2000).

Keuntungan kalsium hidroksida yaitu mempunyai

kemampuan antibakteri yang baik. Penelitian

menunjukan bahwa bakteri berkurang pada pulpa yang

terinfeksi setelah satu jam diaplikasikan kalsium

hidroksida. Salah satu kerugian dari kalsium hidroksida

adalah tunnel defects, yaitu dentin reparatif yang

terbentuk menipis dengan ditandai adanya fibroblas dan

kapiler. Mekanisme kalsium hidroksida dalam kaping

pulpa belum sepenuhnya dimengerti tetapi beberapa

pendapat menyatakan dikarenakan pH kalsium

18
hidroksida yang tinggi sehingga mengiritasi pulpa, yang

mana merangsang terjadinya perbaikan melalui protein

yaitu Bone Morphogenic Protein (BMP) dan Transforming

Growth Factor-Beta One (TGF-β1) (Graham et al., 2006).

Sejak terbukanya pulpa, proses reparasi terjadi dan

mensintesis kolagen. Kolagen dalam jaringan pulpa

meningkatkan aksi sitokin. Sintesis kolagen akan

ditingkatkan dengan transforming growth factor (TGF-β1)

, (TGF-β2), interleukin (IL)-1β5,11 sehinng terjadi sintesis

fibroblast yang merupakan kunci proses sembuhnya

pulpa (Chan, 2005).

Kalsium hidroksida tersedia dalam berbagai bentuk

sediaan bubuk yang dicampur dengan air, salin, metil

selulosa, gliserin, dan bentuk pasta dengan metil selulosa

(Pulpadent). Kalsium hidroksida bubuk dan pasta yang

banyak ditemui pada toko kedokteran gigi (Nirmala,

2005).

19
BAB III

PETA KONSEP

Pasien

Pemeriksaan subjektif Pemeriksaan objektif Pemeriksaan penunjang

Diagnosis

Pulpitis Pulpitis Nekrosis Gangren

Irreversibel Reversibel Pulpa Pulpa

Perawatan

Pulp Perawatan

Capping Saluran Akar

Kembalinya

fungsi gigi

20
BAB IV

PEMBAHASAN

Pemeriksaan pada pasien dilakukan dengan pemeriksaan subjetif,

objektif dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan subjetif berupa anamnesis,

Anamnesis adalah pemeriksaan tahap awal yang dilakukan dengan wawancara

dan dapat membantu menegakkan diagnose. Tujuannya untuk menegakkan

gambaran kesehatan pasien secara umum, dan mengetahui riwayat penyakit

pasien. Pemeriksaan fisik dimulai dengan menilai keadaan umum, tanda vital,

menilai status mental dan cara berfikir, juga menilai langsung sistem atau organ

yang berkaitan dengan keluhan pasien. Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk

membantu diagnosa ketika anamnesis dan pemeriksaan fisiknya belum

mendapatkan hasil. Dan juga dapat dilakukan untuk memastikan diagnosa

meskipun anamnesi dan pemeriksaan fisiknya sudah mencapai titik terang.

Dari hasil pemeriksaan dapat menegakan diagnosis, diagnosisnya antara

lain pulpitis reversible, pulpitis irreversible, nekrosis pulpa dan ganggren pulpa.

Pulpitis reversible merupakan peradangan ringan pada saraf gigi (pulpa) yang

menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman saat gigi terpapar makanan manis

maupun dingin dan kemudian rasa sakit akan segera menghilang apabila sudah

tidak terpapar oleh hal-hal tersebut. Irreversible pulpitis merupakan peradangan

pada saraf gigi (pulpa) yang ditandai dengan rasa nyeri secara tiba-tiba

(spontan), rasa nyeri berdenyut, dan rasa nyeri yang bertahan lama (lebih dari

30 detik) setelah gigi terpapar oleh makanan manis maupun dingin atau panas.

21
Nekrosis pulpa merupakan kematian pulpa yang merupakan proses lanjutan dari

inflamasi pulpa akut/kronik atau terhentinya sirkulasi darah secara tiba-tiba

akibat trauma. Gangren Pulpa Adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah

mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan

sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati

sebagian besar ruang pulpa.

Perawatan pada pulpa dapat dilakukan dengan pulp capping dan

perawatan salurang akar. Pulp capping merupakan aplikasi selapis atau lebih

material pelindung atau bahan untuk perawatan diatas pulpa yang terbuka,

misalnya kalsium hidroksida yang akan merangsang pembentukan dentin

reparative. Tujuan pulpa capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke

jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat

mempertahankan vitalitasnya. Dengan demikian terbukanya jaringan pulpa

dapat terhindarkan. Perawatan Saluran Akar Gigi adalah pengambilan seluruh

jaringan pulpa dari rongga pulpa suatu gigi. Endodontik bertujuan agar gigi

tetap dapat bertahan. Di soketnya kembali dan dapat berfungsi dengan baik

secara fungsional dan estetik. Tujuan dari perawatan ini adalah untuk

mengawetkan gigi yang telah membusuk. Perawatan akar gigi ini dilakukan

agar kamu tidak bolak-balik untuk mencabut gigi ketika gigi membusuk.

22
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Endodonsia adalah suatu ilmu yang merupakan bagian dari ilmu

kedokteran gigi yang mempelajari tentang diagnosa, etiologi,

pencegahan, dan perawatan penyakit serta kelainan yang mengenai

jaringan pulpa akar dan periapikal.

2. Dalam menegakkan suatu diagnosa untuk perawatan endodontik,

diperlukan pemeriksaan lengkap meliputi, pemeriksaan subjektif,

pemeriksaan objektif dan pemeriksaan penunjang jika dibutuhkan.

3. Diagnosa dan perawatan yang tepat sesuai kasus untuk gigi 44

pulpitis reversible dilakukan pulp capping indirect, gigi 45 pulpitis

irreversible disertai pulpitis kronik hiperplastik dilakukan

pembuangan jaringan pulpa hiperplastik dan dilakukan pulpotomi,

gig 46 nekrosis pulpa disertai abses periapikal dilakukan drainase

dan perawatan saluran akar.

B. Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini Mahasiswa Kedokteran Gigi

IIK Bhakti Wiyata Kediri dapat memahami dan mengetahui tentang

perawatan saluran akar dan pulp capping.

23
DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Z.A. 2016. Perawatan saluran akar pada gigi permanen anak dengan

bahan gutta percha. Jurnal PDGI. 62(2). 60-67.

Chan C, l. W. (2005). Effects of TGF-beta on the growth, collagen synthesis

and collagen lattice contraction of human dental pulpa fibroblast in vitro.

Arch Oral Bio, 50(5), 469-479.

Darcey J, Taylor C, Jawad S, Hunter M. Modern Endodontics Principles Part 3

: Preparation. Dental Update. 2015. Nov P : 810 – 22.

Graham L, Cooper P, Cassidy N, Nor J, Sloan A, Smith A. (2006). The effect of

calcium hydroxide on solubilisation of bio-active dentine matrix

components. Journal of Biomaterials, 27(14), 2875-2873.

Harty, F.J. 1995. (penerjemah. L. Yuwono) Endodonti Klinis. Cetakan ke 3.

Penerbit Hipokrates. 184-194. Ingle, J.I. & Bakland, L.K. 1994.

Endodontics. 4th ed. Philadelphia. Lea and Febiger. 228-251Lost, C.,

Kieferheilkunde, Z, F. ZM., Haltung, Z., 2006. Quality Guidelines for

Endodontic Treatment: Consens European Society of Endodontology.

International Endodontic Journal , Vol. 39, p.921-930.

Menezes, A.C.S.C., Zanet, C.G., Valera, M.C. 2003. Smear layer removal

capacity of disinfection solution used with and without EDTA for the

irrigant of the canals : a SEM study. Pasqual Odontol Bras. Vol. 17(4).

24
Nisa, U., Darjono,A. 2013.”Analisis Minyak Atsiri Serai (Cymbopogon

citratus) sebagai Alternatif Bahan Irigasi Saluran Akar Gigi dengan

Menghambat Pertumbuhan Enterococcus faecalis”. Majalah Sultan

Agung. 59 (125).

Santoso dan Kristanti (2016). Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Gigi

Molar Kedua Kiri Mandibula Nekrosis Pulpa dan Lesi Periapikal.

MKGK. Agustus 2016; 2(2): 65-71

Straffon LH, L. P. 2000. The indirect pulp cap: a review and commentary. J

Israel Dent Assoc , 17(14), 7-14.

Swarup SJ, Roe, A., Boaz, K., Srikant, N., Shenovy R. 2014. Pulpal response

to nano hydroxiapatite, mineral trioxide aggregate and calcium hidroxide

when used as a direct pulp capping agent: an in vivo study. J Clinical

Pediaticr Dental, 201-206.

Tarigan, P. D. d. R. & Tarigan, d. g., 2013. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti).

3nd penyunt. s.l.:BUKU KEDOKTERAN EGC, pp. 128.

Torabinejad M, Walton RE, Fouad AF. Endodontics Principles and Practice.

2015. P : 283 – 8.

Tziafas, D., J Smith, A., & Lesot, H. (2000). Designing new treatment

strategies in vital pulpa therapy. J Dent, 28(2), 77-92.

25
Walton RE, & Torabinejad M. 1998. (Penerjemah. N. Sumawinata). Prinsip

dan praktek ilmu endodonsi. Cetakan ke-1. Jakarta. Penerbit buku

kedokteran EGC. 305. Hal. 315-337.

Walton and Torabinejad. 2008. Prinsip dan Praktek Ilmu Endodonsia


(terjemahan), ed. 3. Jakarta: EGC

26