Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

KEHAMILAN DENGAN PENYAKIT JANTUNG

Dosen pembimbing: RATNA ROESARDHYANTI, M.Kep

DISUSUN OLEH :

1. ASYIFA ZARGA (181070)

2. CAHAYA FITRI AULIA (181076)

3. DICKY FERDIANSYAH (181081)

4. ENGGI IKAWATI (181086)

5. GALUH RENDI (181092)

6. MADE DYAH (181097)

7. NOVIATUL CHUSNIA (181102)

8. RIZAL SYAHRIL (181107)

9. SUHARLINA (181112)

10. YUFINTA MAULIDIYAH (181117)

11. YUSFIA ARI AZIZAH (181118)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN 2B


POLITEKNIK KESEHATAN RS. Dr. SOEPRAOEN MALANG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayatnya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul kehamilan dengan penyakit jantung
sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Tugas makalah ini kami susun sebagai salahsatu persyaratan untuk memperoleh nilai
maternitas di program studi keperawatan poltekkes rs. Dr soepraoen malang.

Dalam penyusunan tugas ini, kami mendapat banyak pengarahan dan bantuan dari
berbagai pihak,untuk itu dalam kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terimakasih
kepada yang terhormat:

1. Bapak Letnan Kolonel Ckm Arief Efendi, SMPh. SH. Skep. Ns, MM. selaku direktur Poltekkes
dr Soepraoen malang

2. Bapak Kumoro Asto L, S.Kep.Ners, M.Kep, selaku kaprodi keperawatan

3. ratna Roesardhyanti M.kep selaku pembimbing makalah ini yang telah memmberikan
bimbingan dan saran hingga terwujudnya tugas makalah ini.

4. para responden yang telah ikut berpartisipasi dalam tugas maklah ini

5. rekan rekan mahasiswa prodi keperawatan dan seluruh pihak yang telah membantu
kelancaran tugas makalah ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Kami berusaha untuk dapat menyelesaikan tugas makalah ini, dengan sebaik baiknya.
Namun demikian penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Olegh karena itu demi
kesempurnaan, kami mengharap adanya kritik dan saran pihak, untuk menyempurnakannya .

Malang, 13 februari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman judul....................................................................................................................... i
Kata pengantar...................................................................................................................... ii
Daftar isi............................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar balakang.......................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi …………………………………………………………………………. 2
2.2 Epidemiologi ……………………………………………… …………………...2
2.3 Etiologi …………………………………………………………………………..3
2.4 Kehamilan dan Fisiologi Kardiovaskuler………………………………….…….3
2.5 Kelainan Katup Jantung pada Kehamilan…………………………………..……5

2.6 Evaluasi Pasien dengan Penyakit Jantung………………………………….……6

BAB III
3.1 Ibu hamil dengan DM………………………………………………..…………11
3.2 Ibu hamil dengan hipertiroid…………………………………………...………15
3.3 Ibu hamil dengan TBC………………………………………………………….17
3.4 Ibu hamil dengan anemia…………………………………………………….. ..18
BAB IV
4.1 Asuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan penyakit jantung………………….20

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

Latar Belakang

Wanita normal yang mengalami kehamilan akan mengalami perubahan fisiologik dan
anatomik pada berbagai sistem organ yang berhubungan dengan kehamilan akibat terjadi
perubahan hormonal di dalam tubuhnya. Perubahan yang terjadi dapat mencakup sistem
gastrointestinal, respirasi, kardiovaskuler, urogenital, muskuloskeletal dan saraf. Perubahan yang
terjadi pada satu sistem dapat saling memberi pengaruh pada sistem lainnya dan dalam
menanggulangi kelainan yang terjadi harus mempertimbangkan perubahan yang terjadi pada
masing-masing sistem. Perubahan ini terjadi akibat kebutuhan metabolik yang disebabkan
kebutuhan janin, plasenta dan rahim.

Penyakit jantung masih merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian
nonobstetrik yang tinggi pada kehamilan/persalinan, dapat terjadi pada 0,4-4% dari kehamilan.
Dilaporkan angka rata-rata mortalitas wanita hamil dengan klasifikasi New York Heart
Association kelas I dan II sebesar 0,4 hingga 6,8 % dan lebih tinggi lagi pada penderita yang
tingkat keparahannya kelas III dan IV. Dilaporkan bahwa penyakit jantung merupakan penyebab
kematian sebesar 5,6 % dari 1459 kehamilan di Amerika Serikat sejak tahun 1987 hingga 1990.
Hal itu disebabkan oleh peningkatan beban hemodinamik pada saat hamil, bersalin dan
melahirkan yang dapat meperburuk gejala dan mencetuskan berbagai macam komplikasi pada
wanita yang sebelumnya sudah menderita penyakit jantung.

Deteksi dini serta follow up yang teliti serta penatalaksanaan yang agresif sangat
membantu untuk menurunkan angka mortalitas bagi wanita yang hamil dengan penyakit jantung.
Dibutuhkan pengetahuan tentang perubahan fisiologis pada system kardiovaskuler selama
kehamilan dan puerpurium, gejala dan tanda yang menyerupai penyakit jantung pada kehamilan
yang normal, efek dari perubahan fisiologis pada kehamilan pada kelainan kardiovaskuler, dan
diagnosis serta penatalaksanaan pada penyakit kardiovaskuler yang sudah ada

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kehamilan dengan penyakit jantung selalu saling mempengaruhi karena kehamilan dapat
memberatkan penyakit jantung yang dideritanya. Dan penyakit jantung dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Penyakit jantung dalam kehamilan
merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi pada kehamilan atau
persalinan. Pasien dengan penyakit jantung biasanya dibagi dalam 4 golongan. Klasifikasi
fungsional yang diajukan oleh New York Heart Association adalah

Klas I : aktivitas tidak terganggu (tidak perlu membatasi kegiatan fisik).


Klas II : aktivitas fisik terbatas, namun tak ada gejala saat istirahat (bila melakukan aktifitas
fisik maka terasa lelah, jantung berdebar-debar, sesak nafas atau terjadi angina pectoris
Klas III : aktivitas ringan sehari-hari terbatas (kalau bekerja sedikit saja merasa lelah, sesak
nafas, jantung berdebar).
Klas IV : waktu istirahat sudah menimbulkan keluhan (memperlihatkan gejala-gejala
dekompensasio walaupun dalam istirahat).

Penyakit jantung yang berat dapat menyebabkan partus prematurus atau kematian
intrauterin karena oksigenasi janin terganggu. Dengan kehamilan pekerjaan jantung menjadi
sangat berat sehingga klas I dan II dalam kehamilan dapat masuk ke dalam klas III atau I

2.2 Epidemiologi

Di Indonesia, angka kematian ibu akibat penyakit jantung dalam kehamilan berkisar
antara 1 –2%. Penyakit jantung rematik merupakan jenis penyakit jantung terbanyak, dan lebih
dari 90% biasanya dengan kelainan katup mitral (stenosis katup mitral), disusul penyakit jantung
kongenital dan penyakit otot jantung.

Meskipun banyak kasus penyakit jantung dengan kehamilan dijumpai di klinik dan
rumah sakit di Indonesia, akan tetapi hanya sedikit yang pernah dilaporkan dalam tulisan ilmiah.
Dari laporan pendahuluan mengenai insiden kelainan jantung pada kehamilan diperoleh angka.
3,1 % dari sekitar 20 % penderita yang dirawat di Bagian Kebidanan dan Kandungan
RSCM/FKUI Jakarta dan dikonsulkan ke kardiologis (Aziz, Hartanuh, Sugeng dan Samil).
Menurut Samil angka kematian penyakit jantung di Bagian Kebidanan dan Kandungan RSCM
Jakarta merupakan urutan keempat setelah eklamsia, perdarahan dan infeksi. Mortalitas
terbanyak pada multipara sebesar 1,6 %, dengan insiden 1,21 % dari seluruh kasus
obstetric/ginekologis yang dirawar di bagian tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Bambang
DW, Suhatno Djoko Sumantri terhadap 4741 kasus persalinan di RSU Dr. Soetomo Surabaya
selama empat tahun (1990-1993), didapatkan ibu hamil dengan penyakit jantung (tidak termasuk
hipertensi dalam kehamilan) adalah 31 kasus per tahun atau 0,65 % per tahun dengan angka
kematian sebesar 4,88 %. Dibandingkan dengan 0,3 % per tahun 91972-1973) dan 0,5% per
tahun (1978-1982), angka kejadian ibu hamil dengan penyakit jantung tersebut menunjukkan

2
adanya peningkatan dari tahun ke tahun.

2.3 Etiologi

Etiologi kelainan jantung dapat primer maupun sekunder. Kelainan primer akibat
kelainan kongenital, katup, iskemik dan kardiomiopati. Sedangkan sekunder akibat penyakit lain
seperti hipertensi, anemia berat, dan lain-lain.

2.4 Kehamilan dan Fisiologi Kardiovaskuler

Adaptasi normal yang dialami seorang wanita yang mengalami kehamilan termasuk
system kardiovaskuler akan memberikan gejala dan tanda yang sukar dibedakan dari gejala
penyakit jantung. Keadaan ini yang menyebabkan beberapa kelainan yang tidak dapat ditoleransi
pada saat kehamilan

a. Perubahan Hemodinamik
wanita hamil akan terjadi perubahan hemodinamik karena peningkatan volume
darah sebesar 30-50% yang dimulai sejak trimester pertama dan mencapai puncaknya pada usia
kehamilan 32-34 minggu dan menetap sampai aterm. Sebagian besar peningkatan volume darah
ini menyebabkan meningkatnya kapasitas rahim, mammae, ginjal, otot polos dan sistem vaskuler
kulit dan tidak memberi beban sirkulasi pada wanita hamil yang sehat. Peningkatan volume
plasma (30-50%) relatif lebih besar dibanding peningkatan sel darah (20-30%) mengakibatkan
terjadinya hemodilusi dan menurunya konsentrasi hemoglobin. Peningkatan volume darah ini
mempunyai 2 tujuan yaitu pertama mempermudah pertukaran gas pernafasan, nutrien dan
metabolit ibu dan janin dan kedua mengurangi akibat kehilangan darah yang banyak saat
kelahiran.
Peningkatan volume darah ini mengakibatkan cadiac output saat istirahat akan meningkat
sampai 40%. Peningkatan cadiac output yang terjadi mencapai puncaknya pada usia kehamilan
20 minggu. Pada pertengahan sampai akhir kehamilan cadiac output dipengaruhi oleh posisi
tubuh. Sebagai akibat pembesaran uterus yang mengurangi venous return dari ekstremitas
bawah. Posisi tubuh wanita hamil turut mempengaruhi cadiac output dimana bila dibandingkan
dalam posisi lateral kiri, pada saat posisi supinasi maka cadiac output akan menurun 0,6 /menit
dan pada posisi tegak akan menurun sampai 1,2 l/menit. Umumnya perubahan ini hanya sedikit
atau tidak memberi gejala, dan pada beberapa wanita hamil lebih menyukai posisi
supinasi.Tetapi pada posisi supinasi yang dipertahankan akan memberi gejala hipotensi yang
disebut supine hypotensive syndrome of pregnancy. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan
memperbaiki posisi wanita hamil miring pada salah satu sisi, Perubahan hemodinamik juga
berhubungan dengan perubahan atau variasi dari cadiac output. Cadiac output adalah hasil
denyut jantung dikali stroke volume. Pada tahap awal terjadi kenaikan stroke volume sampai
kehamilan 20 minggu. Kemudian setelah kehamilan 20 minggu stroke volume mulai menurun
secara perlahan karena obstruksi vena cava yang disebabkan pembesaran uterus dan dilatasi
venous bed. Denyut jantung akan meningkat secara perlahan mulai dari awal kehamilan sampai
akhir kehamilan dan mencapai puncaknya kira-kira 25 persen diatas tanpa kehamilan pada saat
melahirkan.
Curah jantung (cadiac output) juga berhubungan langsung dengan tekanan darah merata
dan berhubungan terbalik dengan resistensi vascular sistemik. Pada awal kehamilan terjadi

3
penurunan tekanan darah dan kembali naik secara perlahan mendekati tekanan darah tanpa
kehamilan pada saat kehamilan aterm. Resistensi vascular sistemik akan menurun secara drastic
mencapai 2/3 nilai tanpa kehamilan saat kehamilan sekitar 20 minggu. Dan secara perlahan
mendekati nilai normal pada akhir kehamilan. Cadiac output sama dengan oxygen
consumptiondibagi perbedaan oksigen arteri-venous sistemik Oxygen consumption ibu hamil
meningkat 20
persen dalam 20 minggu pertama kehamilan dan terus meningkat sekitar 30 persen diatas nilai
tanpa kehamilan pada saat melahirkan. Peningkatan ini terjadi karena kebutuhan metabolisme
janin dan kebutuhan ibu hamil yang meningkat.

Cadiac output juga akan meningkat pada saat awal proses melahirkan. Pada posisi
supinasi meningkat sampai lebih dari 7 liter/menit. Setiap kontraksi uterus cadiac output akan
meningkat 34 persen akibat peningkatan denyut jantung dan stroke volume, dan cadiac output
dapat meningkat sebesar 9 liter/menit. Pada saat melahirkan pemakaian anestesi epidural
mengurangi cadiac output menjadi 8 liter/menit dan penggunaan anestesi umum juga
mengurangi cadiac output. Setelah melahirkan cadiac output akan meningkat secara drastis
mencapai 10 liter/menit (7-8 liter / menit dengan seksio sesaria) dan mendekati nilai normal saat
sebelum hamil, setelah beberapa hari atau minggu setelah melahirkan. Kenaikan cadiac output
pada wanita hamil kembar dua atau tiga sedikit lebih besar dibanding dengan wanita hamil
tunggal. Adakalanya terjadi sedikit peningkatan cadiac output sepanjang proses laktasi.

b. Distribusi Aliran Darah


Aliran darah pada wanita hamil tidak sepenuhnya diketahui. Distribusi aliran darah
dipengaruhi oleh resistensi vaskuler lokal. Renal blood flow meningkat sekitar 30 persen pada
trimester pertama dan menetap atau sedikit menurun sampai melahirkan. Aliran darah ke kulit
meningkat 40 - 50 persen yang berfungsi untuk menghilangkan panas. Mammary blood flow
pada wanita tanpa kehamilan kurang dari 1 persen dari cadiac output. Dan dapat mencapai 2
persen pada saat kehamilan aterm. Pada wanita yang tidak hamil aliran darah ke rahim sekitar
100 ml/menit (2 persen dari cadiac output) dan akan meningkat dua kali lipat pada kehamilan 28
minggu dan meningkat mencapai 1200 ml/menit pada saat kehamilan aterm, mendekati jumlah
nilai darah yang mengalir ke ginjalnya sendiri. Nilai semasa kehamilan pembuluh darah rahim
Vasokonstriksi yang disebabkan katekolamin endogen, obat vasokonstriksi, ventilasi
mekanik, dan beberapa obat anestetik yang berhubungan dengan pre eklampsi dan eklampsi akan
menurunkan aliran darah ke rahim. Pada wanita normal aliran darah rahim mempunyai potensi
dapat dibatasi. Dan pada wanita berpenyakit jantung, pengalihan aliran darah dari rahim menjadi
masalah karena aliran darah sudah tidak teratur. Mekanisme perubahan hemodinamik juga tidak
sepenuhnya dimengerti, yang diakibatkan oleh perobahan volume cairan tubuh. Total body water
semasa kehamilan meningkat 6 sampai 8 lifer yang sebagian besar berada pada ekstraseluler.
setelah 6 minggu kehamilan volume plasma meningkat dan pada trimester kedua
mencapai nilai maksimal dari normal. Masa sel darah merah juga meningkat tetapi tidak
untuk tingkatan yang sama; hematokrit menurun semasa kehamilan meskipun jarang mencapai
nilai kurang dari 30 persen, Perubahan vaskuler berhubungan penting dengan perobahan
hemodinamik pada saat kehamilan. Arterial compliance meningkat dan terjadi peningkatan
kapasitas venous vascular. Perubahan ini sangat penting dalam memelihara hemodinamik dari
kehamilan normal. Perubahan arterial yang berhubungan dengan peningkatan fragilitas bila
kecelakaan vaskuler terjadi yang sering terjadi pada kehamilan dapat merugikan hemodinamik.

4
Peningkatan level hormon steroid saat kehamilan inilah yang menjadi alasan utama terjadinya
perubahan pada vaskuler dan miokard

c. Perubahan hemodinamik dengan exercise


Kehamilan akan merubah respons hemodinamik terhadap exercise. Pada wanita hamil
derajat exercise yang diberikan pada posisi duduk menyebabkan peningkatan cadiac output yang
lebih besar dibanding dengan wanita tanpa kehamilan dengan derajat exercise yang sama. Dan
maksimum cadiac output dicapai pada tingkatan exercise yang lebih rendah. Peningkatan cadiac
output relatif lebih besar dari peningkatan konsumsi oksigen, sehingga terdapat perbedaan
oksigen arterio-venous yang lebih lebar dari yang dihasilkan pada wanita tanpa kehamilan
dengan derajat exercise yang sama. Keadaan ini menunjukkan pelepasan oksigen ke perifer
sedikit kurang efisien selama kehamilan.
Pada wanita tanpa kehamilan, latihan akan meningkatkan stroke volume yang lebih besar
dan sedikit peningkatan denyut jantung dari pada yang didapati pada individu yang tidak terlatih.
Pada saat kehamilan efek latihan ini tidak terlihat dan kemungkinan karena peningkatan stroke
volume dibatasi akibat kompresi vena kava inferior atau meningkatnya distensibility vena.
2.5 Kelainan Katup Jantung pada Kehamilan

Kelainan katup jantung adalah salah satu penyakit jantung yang sering ditemukan pada
saat kehamilan. Gangguan ini dapat meningkatkan kejadian gagal jantung, morbiditas dan
mortalitas pada ibu dan janin yang dikandung. Jenis-jenis kelainan ini meliputi mitral stenosis
yang disebabkan penyakit jantung rematik, mitral dan aorta regurgitasi, kelainan katup tricuspid
serta katup jantung prostetik.

Sudah diketahui bahwa pada kehamilan terjadi peningkatan volume darah mencapai 30
hingga 50 % yang diikuti dengan meningkatnya curah jantung (cadiac output). Hal ini muncul
pada trimester pertama dan mencapai puncaknya pada 20-24 minggu usia kehamilan. Setelah itu
akan bertahan dan mulai menurun 3 hari setelah melahirkan. Suara murmur dapat terdengar
sebagai hal yang normal pada kehamilan. Biasanya lemah, middiastolik dan terdengar sepanjang
garis sternalis kiri. Intensitasnya meningkat seiring dengan meningkatnya curah jantung, namun
bila terdengar sangat keras serta berupa murmur diastolik, murmur kontinus atau murmur sistolik
yang kuat maka pemeriksaan ekokardiografi sangat diperlukan.
Risiko terjadinya komplikasi jantung pada ibu hamil akan menigkat pada kasus dengan
stenosis katup yang berat serta menurunkan fungsi sistolik ventrikel kiri (stenosis aorta dengan
area katup <1,5 cm2 dan stenosis mitral dengan area katup < 2 cm2), seperti stenosis mitral
dengan hipertensi pulmonal, regurgitasi berat dengan gangguan fungsi ventrikel kiri dan sindrom
Marfan’s dengan aneurisma pada ascending aorta. Risiko juga akan meningkat pada ibu yang
memiliki riwayat penyakit jantung seperti: aritmia, gagal jantung dengan kelas NYHA III-IV.
Untuk itu peran konseling sebelum konsepsi sangat diperlukan. Semua kejadian kelainan katup
diharapkan dapat ditemukan sebelum kehamilan terjadi. Untuk mendapatkan adanya kelainan
katup diperlukan pemeriksaan fisik jantung yang tepat. Auskultasi jantung yang benar tentu
sangat membantu untuk menemukan kecurigaan terjadinya kelaina katup jantung. Pemeriksaan
penunjang utama adalah ekokardiografi untuk memastikan adanya kelainan katup jantung.
tersebut. Pemeriksaan ekokardiografi meliputi jenis murmur, gradiennya, anatomi katup mitral,
ukuran anatomi aorta descending, dimensi ventrikel kiri dan Fraksi Ejeksi (EF). Hal lain yang

5
perlu diperhatikan adalah persiapan menjalani kehamilan pada ibu yang menggunakan katup
jantung prostetik.
Untuk memprediksi komplikasi pada nenonatal yang perlu diperhatikan adalah adanya
gangguan pada fungsi jantung (NYHA II ke atas) dan obstruksi jantung kiri. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah lahir premature, intrauterine growth retardation, respiratory distress
syndrome, hemoragik intraventrikel dan kematian. Pada beberapa kasus kehamilan dengan
kelainan katup jantung, penggunaan antibiotika diperlukan untuk menghindari terjadinya
(profilaksis) endokarditis.

a. Stenosis Mitral
Penyakit jantung rematik adalah penyebab utama kelainan katup ini. Pada stenosis mitral
terjadi tahanan pada ventrikel kiri yang menyebabkan tekanan pada atrium kiri dan vena
pulmonal meningkat. Hal ini dapat menimbulkan kongesti pulomal dan edema. Selain itu,
stenosis mitral dapat diikuti dengan aritmia atrial selama kehamilan dan saat melahirkan. Karena
selama kehamilan terjadi peningkatan volume dan curah jantung maka dapat terjadi sesak nafas
dan menurunnya kemampuan aktivitas fisik. Bila frekuensi detak jantung meningkat maka
pengisian saat diastolik turun maka tekanan atrial yang meningkat dapat menimbulkan kongesti
paru dan edema. Risiko maternal pada ibu dengan mitral stenosis yang lain adalah
tromboemboli.

Terapi yang diberikan untuk mengatasi gejala antara lain adalah : diuretik, mengurangi
asupan garam dan mengurangi aktivitas fisik. Untuk mengatasi peningkatan frekuensi detak
jantung dan perbaikan pengisian diastolik digunakan Beta Blocker. Bila terjadi fibrilasi atrial
yang dapat menambah risiko terjadinya tromboemboli maka dapat dilakukan kardioversi.
Pengguanan Beta Blocker dan digoxin dimaksudkan untuk mengontrol frekuensi detak jantung.
Jika diperlukan maka prokainamid dan quinidine dapat dipakai sebagai antiaritmia. Guna
mencegah tromboemboli, antikoagulan digunakan jika diperlukan. Selain itu, digunakan pula
antibiotic sebagai profilaksis endokarditis selama masa melahirkan. Pada mitral stenosis dengan
area katup mitral yang ketat ( area katup < 1 cm2) dan disertai gejala yang signifikan ( NYHA
III-IV), maka dapat dilakukan valvuloplasti mitral dengan balon atau pembedahan. Percutaneous
ballon mitral valvulopasty biasa dikerjakan pada trimester kedua dan selama pelaksanaan maka
dibutuhkan pelindung pelvis untuk pencegahan radiasi pada janin. Terkadang hal ini dapat
dikerjakan dengan bantuan transesofageal ekokardiografi (TEE). Bila tidak ada yang ahli dalam
melakukan valvuloplasti maka pembedahan untuk dilakukan commisurotomy dapat diupayakan.
Melahirkan pervaginam dapat dilakukan dengan bantuan anestesi pada epidural. Sectio
caesarea dikerjakan jika memang ada indikasi dari gangguan jalan lahir. Saat melahirkan dapat
terjadi peningkatan tekanan 8-10 mmHg pada atrium kiri dan vena pulmonal. Unutk mengetahui
gejala dan gangguan hemodinamik selama proses melahirkan dianjurkan menggunakan Swan-
Ganz kateter.

2.6 Evaluasi Pasien dengan Penyakit Jantung

a. Anamnesa
Pada pasien dengan penyakit jantung yang telah terdiagnosis sebelum kehamilannya,
harus dicari data-data mengenai: usia saat pertama kali diagnosis ditegakkan, gejala-gejala
sebelumnya dan komplikasi yang ada, prosedur diagnostik sebelumnya termasuk kateterisasi

6
jantung, excercise test (treadmill) atau ekokardiografi, riwayat pengobatan sebelumnya, riwayat
operasi, derajat kesembuhan, gejala sisa, obat-obat yang dipakai, diet, pembatasan-pembatasan
aktifitas, serta sedapat mungkin didapatkan catatan medis mengenai perawatan rumah sakit,
prosedur diagnostik dan pengobatan sebelumnya.
Pada pasien tanpa riwayat penyakit jantung sebelumnya, harus ditanyakan mengenai
riwayat demam rematik atau penyakit-penyakit lainnya yang berhubungan dengan penyakit
jantung seperti demam scarlet, sistemik lupus eritematosus, penyakit paru-paru, penyakit ginjal,
difteri atau pneumonia, riwayat perawatan di Rumah sakit dan riwayat operasi besar sebelumnya.
Perlu ditanyakan juga mengenai tanda-tanda dan gejala penyakit jantung seperti sianosis pada
waktu lahir atau waktu aktivitas, “squatting” pada masa kanak-kanak, infeksi saluran napas
berulang, gangguan irama jantung, dispnu pada saat istirahat atau aktifitas, batuk-batuk lama,
hemoptisis, asma, nyeri dada, riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan kelainan-kelainan
kongenital.

b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu dievaluasi mengenai berat badan dan tinggi badan, kelainan
pada wajah, jari-jari dan tubuh yang menunjukkan kelainan kongenital dan perubahan-perubahan
pada kulit seperti sianosis, pucat, angioma, xantelasma, dan xanthoma. Tekanan darah harus
diukur secara hati-hati dengan cuff yang sesuai, kalau perlu pada kedua lengan dan pada
beberapa posisi. Denyut nadi radial harus dinilai dengan cermat, pada Aorta Insufisiensi dapat
dijumpai denyut yang kolaps (Collapsing pulse), denyut yang lemah pada cadiac output yang
rendah, pulsus alternans atau pulsus paradoksus.
Inspeksi pada kepala dan wajah untuk mencari adanya tanda-tanda kelainan kongenital,
pengukuran JVP dan penilaian denyut karotid dan kelenjar thyroid. Inspeksi dan palpasi pada
dada untuk mencari adanya kelainan bentuk dinding toraks seperti pectus excavatum, precordial
bulging, denyut apeks kordis, thrill. Pada auskultasi perlu dinilai bunyi jantung I, II, III,
IV, murmur jantung, opening snap, gallop dsb. Selanjutnya juga perlu dilakukan pemeriksaan
pada paru-paru, abdomen dan ekstremitas serta sistim-sistim organ tubuh lainnya.

c. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium rutin, seperti hematologis, kimia darah, gula darah.
2. EKG, bila perlu dapat dilakukan monitor 24 jam.
3. Phonokardiogram, untuk menilai bunyi jantung dan murmur.
4. Ekokardiografi.
5. Lain-lain, seperti kultur tenggorok (throat culture), C-reactive protein, ASTO, kultur darah.

d. Diagnosis
Diagnosis biasanya dapat ditegakkan bila ditemukan adanya satu diantara gejala-gejala
berikut :
1. Bising diastolik, presistolik, atau bising jantung terus-menerus;
2. Bising jantung yang nyaring, terutama bila disertai thrill;
3. Pembesaran jantung yang jelas pada gambaran foto toraks;
4. Aritmia yang berat.
Kadang-kadang penyakit jantung dalam kehamilan baru diketahui kalau sudah terjadi
dekompensasio seperti adanya sesak nafas, sianosis, edema atau ascites.

7
e. Penanganan
Pada penderita penyakit jantung diusahakan untuk membatasi penambahan berat badan
yang berlebihan, anemia secepat mungkin diatasi, infeksi saluran pernafasan atas dan
preeklampsia sedapat-dapatnya dijauhkan karena sangat memberatkan pekerjaan jantung.
Saat-saat berbahaya adalah pada kehamilan 28 – 32 minggu karena merupakan puncak
hemodilusi, partus kala II karena venous return yang meningkat saat mengedan, dan masa
postpartum sebagai akibat kembalinya cairan tubuh ke dalam sistim sirkulasi sehingga beban
jantung bertambah berat.
Penanganan ibu hamil dengan penyakit jantung membutuhkan kerja sama tim yang
kompak dan terpadu dari berbagai disiplin ilmu seperti obstetri ginekologi, kardiologi, ilmu
penyakit dalam, dan anestesi.

a) Kelas I dan II
Umumnya penderita dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan
pervaginam. Namun tetap harus diwaspadai terjadinya gagal jantung pada kehamilan,
persalinan dan nifas. Faktor pencetus utama terjadinya gagal jantung adalah endokarditis,
oleh karena itu semua wanita hamil dengan penyakit jantung harus sedapat mungkin dicegah
terjadinya infeksi terutama infeksi saluran napas atas .
Dalam penanganan penyakit jantung selama kehamilan terdapat 4 hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :

1. cukup istirahat ( 10 jam istirahat malam, ½ jam setiap kali setelah makan ) dan hanya
pekerjaan ringan yang diizinkan.
2. harus dilakukan pencegahan terhadap kontak dengan orang-orang yang dapat menularkan
infeksi saluran nafas atas, merokok, penggunaan obat-obat yang memberatkan pekerjaan
jantung.
3. tanda-tanda dini dekompensasio harus cepat diketahui, seperti adanya batuk, ronki basal,
dispnoe dan hemoptoe.
4. sebaiknya pasien masuk rumah sakit 2 minggu sebelum persalinan untuk istirahat.

Persalinan biasanya pervaginam, kecuali ada indikasi obstetri untuk seksio sesarea.
Penggunaan teknik analgesia untuk menghilangkan nyeri persalinan sangat dianjurkan, yang
umum dipakai adalah analgesia epidural. Apabila akan dilakukan seksio sesarea,
kebanyakan klinikus menyukai analgesia epidural namun penggunaan harus hati-hati pada
hipertensi pulmonar. Anestesi umum dengan tiopental, suksinil kolin, N2O dan 30 % O2 juga
memberikan hasil yang memuaskan.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada persalinan pervaginam adalah :
1. ibu harus dalam posisi setengah duduk (kepala dan dada ditinggikan) dan miring ke kiri.
2. Penolong persalinan harus memberikan pendekatan psikologis supaya ibu tetap tenang
dan merasa aman.
3. Untuk mencegah timbulnya dekompensasio kordis sebaiknya dibuat daftar pengawasan
khusus untuk mencatat nadi dan pernapasan secara berkala (tanda-tanda vital harus
dimonitor diantara tiap his, dalam kala I setiap 10-15 menit dan dalam kala II setiap
10 menit. Apabila terdapat peningkatan denyut nadi lebih dari 115 x/mt atau peningkatan
respirasi lebih dari 28 x/mt dan disertai dispnu merupakan tanda-tanda dini kegagalan
ventrikel, dan pasien perlu diberikan morfin, digitalis, oksigen dan diuretik).

8
4. Bila dibutuhkan oksitosin, berikan dalam konsentrasi tinggi (20 U/ltr) dengan tetesan
rendah dan pengawasan keseimbangan cairan.
5. Nyeri persalinan dapat diatasi dengan pemberian obat seperti Tramadol 100 mg
supositoria, pethidin 50 mg IM, atau morphin 10-15 mg IM.
6. Persalinan kala II biasanya diakhiri dengan ekstraksi forseps atau ekstraksi vakum dan
sedapat mungkin ibu dilarang mengedan.
7. Penanganan kala III dilakukan secara aktif, namun pemakaian preparat ergometrin
merupakan kontraindikasi, karena kontraksi uterus yang dihasilkan bersifat tonik dengan
akibat terjadi pengembalian darah ke dalam sirkulasi sistemik kurang lebih 1 liter.
8. Setelah kala III selesai, harus dilakukan pengawasan yang ketat untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya gagal jantung atau edema paru, karena saat tersebut merupakan
saat yang paling kritis selama hamil, pemasangan gurita dengan kantong pasir di dinding
perut dapat dilakukan untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi (kolaps
postpartum).

b) Kelas III dan IV


Bila seorang ibu hamil dengan kelainan jantung kelas III dan IV ada dua kemungkinan
penatalaksanaan yaitu : terminasi kehamilan atau meneruskan kehamilan dengan tirah baring
total dan pengawasan ketat, dan ibu dalam posisi setengah duduk.
Kelas III sebaiknya tidak hamil, kalau hamil pasien harus dirawat di Rumah Sakit selama
kehamilan, persalinan dan nifas, dibawah pengawasan ahli penyakit dalam dan ahli
kebidanan, atau dapat dipertimbangkan untuk dilakukan abortus terapeutikus. Persalinan
hendaknya pervaginam dan dianjurkan untuk sterilisasi.
Kelas IV tidak boleh hamil. Kalau hamil juga, pimpinan yang terbaik ialah
mengusahakan persalinan pervaginam.

c) Pengawasan Nifas
Pengawasan nifas sangat penting diperhatikan, mengingat kegagalan jantung dapat terjadi
pada saat nifas, walaupun pada saat kehamilan atau persalinan tidak terjadi kegagalan
jantung. Komplikasi-komplikasi nifas seperti perdarahan post partum, anemia, infeksi dan
tromboemboli akan lebih berbahaya pada pasien-pasien dengan penyakit jantung.
Sebaiknya penderita penyakit jantung dirawat di rumah sakit sekurang-kurangnya 14 hari
setelah melahirkan dengan istirahat dan mobilisasi tahap demi tahap serta diberi antibiotika
untuk mencegah endokarditis.
Laktasi dibolehkan bagi wanita yang sanggup secara fisik, namun bagi penderita penyakit
jantung kelas III dan IV tetap dilarang untuk menyusui.

f. Konseling Prakonsepsi, Asuhan Antenatal dan Kontrasespsi


Sebagian besar wanita hamil dengan penyakit jantung sudah mengetahui tentang kelainan
jantung yang dialaminya dan biasanya sudah mendapat pengobatan atau bahkan telah menjalani
operasi jantung, jauh sebelum kehamilannya. Oleh karena itu konseling prakonsepsi memegang
peranan penting dalam manajemen penyakit jantung dalam kehamilan.
Dalam konseling prakonsepsi, kepada calon ibu hamil dan partnernya harus diberikan
penjelasan yang menyeluruh tentang kondisi penyakit jantung yang dialami dan risiko-risiko
yang akan terjadi dalam kehamilannya.
Kepada pasien jantung kelas I dan II yang menginginkan kehamilan, harus dilakukan

9
optimalisasi kondisi jantung sehingga komplikasi yang dapat terjadi dapat diminimalisasi.
Sedangkan bagi pasien dengan kelas III dan IV dianjurkan untuk tidak menikah, atau bila
menikah dianjurkan menghindari kehamilan. Apabila telah terjadi kehamilan sangat dianjurkan
untuk dilakukan terminasi kehamilan, sebaiknya sebelum minggu ke 12 dimana risikonya masih
minimal.
Kebanyakan pasien juga menginginkan informasi tentang risiko bagi janin yang
dikandung, terutama apakah janinnya akan mengalami penyakit jantung kongenital juga. Pada
ibu hamil dengan penyakit jantung berat, hipoksia berat dan cadiac output yang rendah sering
menyebabkan insiden abortus spontan, lahir mati, bayi berat lahir rendah atau bayi dengan
kelainan kongenital lain.
Pada asuhan antenatal, penting sekali diupayakan supaya ibu mendapat istirahat yang
cukup, sekurang-kurangnya 8-10 jam, dan istirahat baring sekurang-kurangnya ½ jam setiap kali
setelah makan dengan diit rendah garam, tinggi protein, dan pembatasan masuknya cairan.
Kenaikan berat badan yang berlebihan juga harus diwaspadai, dan total kenaikan berat badan
sebaiknya tidak melebihi 12 kg. Untuk mencegah peningkatan volume darah yang berlebihan
dapat diberikan diuretik. Aktivitas fisik harus dibatasi oleh karena pada wanita hamil dengan
penyakit jantung biasanya tidak dapat meningkatkan cadiac output seperti pada orang normal
sehingga jaringan akan mengambil lebih banyak oksigen dari darah arteri dengan akibat aliran
darah uteroplacenta akan berpindah ke organ-organ lain.

10
BAB III

3.1 IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELITUS

A. Pengertian
Diabetes mellitus merupakan satu dari tiga (anemia dan saluran kemih)
komplikasi medis pada kehamilan yang paling sering. Terdapat dua tipe diabetes
mellitus. Tipe 1 (bergantung insulin) adalah diabetes yang diperantarai oleh sistem imun
dan timbul pada orang genetik rentan. Tipe 2 (tidak bergantung insulin) adalah mulai
terjadi lebih lambat dengan peningkatan kadar insulin serum, mempunyai kmponen
pewarisan yang kuat, biasa terjadi pada orang dewasa yang kegemukan atau hamil.

Klasifikasi diabetes pada kehamilan

Kelas Ciri Khas


A Diabetes hanya didasarkan pada uji toleransi glukosa yang abnormal
B Onset diabetes diatas 20 tahun, lama diabetes 10-19 tahun, tidak ada
penyakit vascular
C Onset diabetes antara 10-19 tahun, lama diabetes 10-19 tahun, tidak ada
penyakit vaskuler
D Onset diabetes <10 tahun, lama diabetes >20 tahun, terdapat penyakit
vaskuler
E Sama dengan kelas D, ditambah dengan pengapuran pembuluh darah
F Sama dengan kelas E, ditambah dengan nefropati
H Penyakit arteri coroner
R Retinopati proliferasi meligna

B. Pengaruh DM terhadap Kehamilan dan Persalinan

1. Infertilitas dan abortus meningkat pada pasien diabetes yang tidak terkontrol.
Mengontrol ketat glukosa akan menghindari resiko ini, keseimbangan cairan dan
elektrolit ibu terganggu sehingga ibu dan bayi dapat edema. Insiden polihidramnion,
peningkatan kelainan kongenital.
2. Kelainan
Kelainan yang paling umum adalah jantung dan sindrom regresi kaudal. Persalinan
dan kelahiran premature dan kemungkinan janin besar (giant baby) >4000 gr. Resiko
kematian janin meningkat karean ketidak stabilan glukosa ibu.

C. Diabetes Gestasional

11
Bahwa gangguan terjadi dipicu oleh kehamilan, mungkin akibat perubahan
fisiologis berlebihan pada metabolisme glukosa. Diabetes gestasional adalah diabetes
awitan dewasa atu tipe 2 yang terungkap atau munsul selama kehamilan. Kekhawatiran
perinatal adalah pertumbuhan janin yang berlebihan, yang dapat menyebabkan trauma
lahir. Yang terpenting adalah pada waita yang mengalami diabetes gestasional akhirnya
akan mengalami diabetes overt dalam 20 tahun berikutnya dan anak-anakna akan rentang
terhadap diabetes dan kegemukan.

Efek pada ibu dan janin dengan diabetes gestasional dengan peningkatan glukosa
puasa terjadi kematian janin saat lahir yang tida di ketahui penyebabnya. Efek merugikan
pada ibu mencakup peningkatan frekuensi hipertensi dan seksio sesarea.

Pada bayi terjadi makrosomia yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang
berlebihan. Fokus perinatal adalh menghindari perlahiran sulit akibat makrosomia disertai
dengan distosia bahu. Secara spesifik, ibu yang mengidap diabetes gestasional mengalami
pengendapan lemak berlebih di bahu dan badan, sehingga rentan distosia bahu. Bayi
gemuk dari ibu diabetik lebih sering memerlukan seksio sesarea atas indikasi disproposisi
sefalopelvik. Kegemukan ibu merupakan faktor resiko indipenden dan lebih penting
disbanding dengan intolerasi glukosa. Juga merupakan faktor perancu dalam diagnosis
diabetes gestasional.

D. Diabetes Overt
1. Efek pada Janin
Perbaikan suveilans janin, perawatan intensif dan pengendalian metabolik ibu.

a. Abortus
Abortus spontan terjadi karena kontrol glikemik yang buruk selama trimester 1.
Wanita dengan diabetes tipe 1 yang konsentrasi postprandial diatas 120 mg/dl
yang tampak beresiko tinggi mengalami abortus.
b. Persalinan Preterm
Diabetes overt yang muncul sebelum kehamilan adalah faktor resiko pelahiran
aterm.
c. Malformasi
Merupakan penyebab hampir separuh kematian perinatal pada kehamilan dengan
diabtes. Peningkatan malformasi adalah akibat dari kurang terkontrolnya diabetes
baik sebelum konsepsi ataupun selama awal kehamilan. Anomaly janin berkaitan
dengan tingginya kadar hemoglobin terglikosilasi dan vaskulopati diabetes serta
durasi penyakit yang lebih dari 10 tahun.
2. Efek pada Ibu

12
Diabetes dan kehamilan saling berinteraksi secara sigifikan, sehingga kesejahteran
ibu dapat mengalami gangguan serius. Kematian saat hamil jarang terjadi, namun
pada wanita demgan diabetes kelas H hanya separuh yang bertahan hidup selama
hamil.

E. Pengobatan
1. Perawatan Antenatal
a. Maksimalkan terapi sebelum terjadi kehamilan
b. Penentuan dekstrosa dengan fingerstick
Glukosa darah harus dipertahankan rata-rata 100mg/dl plus minus 10 mg/dl. Nilai
maksimum tidak boleh lebis dari 120 mg/dl.
c. Sesuaikan diet
Dengan keadaan gizi yang ideal berdasarkan tinggi badan, berat badan dan bentuk
tubuh. Yang tujuannya untuk mencegah hiperglikemia selama keadaan puasa dan
postpronidol (setelah makan). Contoh komposisi dietnya adalah sebagai berikut:
50% karbohirat : 1050 kkal = 256 gram
25% protein :525 kkal = 128 gram
25% lemak :525 kkal = 56 gram
Juga berikan vitamin, mineral dan suplemen makanan sesuai dengan kebutuhan.
Penyuluhan gizi penting dilakukan untuk:
1) Untuk memberikan zat gizi yang diperlukan ibu dan janinnya
2) Untuk mengendalikan kadar glukosa
3) Untuk mencegah kitosis akibat kelaparan
Berikut table asupan harian dan pertambahan berat badan selama hamil yang
dianjurkan bagi wanita dengan diabtes gestasional:

Berat saat ini Asupan kalori harian Pertambahan Berat yg


(berkaitan dengan (kkal/kg) dianjurkan selama
Berat ideal) Kehamilan
<80-90% 36-40 28-40
80-120% (ideal) 30 25-35
120-150% 24 15-25
>150% 12-18 15-25

d. Olahraga
Olagraga yang sesuai adalah menggunakan otot tubuh bagian atas atau tidak
menimbulkan stres mekanik. Latihan kardiovaskuler untuk bagian tubuh atas
menurunkan kadar glukosa darah. Efek olahraga pada kadar glukosa muncul
setelah 4 minggu
e. Obat hipoglikemik oral
Obat penurunan glukosa oral tidak dianjurkan pada ibu hamil.

13
f. Konsultasi
g. Memberikan insulin.
Biasanya kebutuhan insulin lebih besar selama kehamilan. Diet dan insulin harus
diatur sesuai dengan kadar gula darahnya. Zat-zat hipoglikemi oral yang bersifat
teratogenik tidak boleh di gunakan selama kehamilan. Kombinasi insulin biasanya
insulin aksi pendek dan menengah dan biasanya diberikan dalam 2-3 dosis/hari.
Rasio neutral protamine Hagedorn (NHP) per insulin regular sebaiknya 2:1 pagi
hari dan 1:1 pada malam hari, dan total pagi harus dua kali total malam hari.
h. Penilaian rutin
i. Pemantauan janin
2. Persalinan dan Pelahiran
a. Pertimbangkan kelahiran elektif
Hampir semuanya dapat melahirkan per vaginam jika presentasi vertex dan
keadaan lainnya memungkinkan.
b. Dosis insulin biasanya tidak diberikan saat persalinan dan digunakan infus insulin
untuk mengatasi glukosa darah yang dipantau setiap jam.
3. Penatalaksanaan postpartum
Nilai status diabetes ibu selama nifas, karena dapat terjadi perubahan yang luar biasa
selam nifas ini. Misalnya, dosis insulin setelah melahirkan hanya memerlukan
sepertiga dosis insulin pada kehamilan lanjut.
4. Kontrasepsi
Tidaka ada satupun metode kontrasepsi yang cocok untuk wanita dengan diabetes.
Diabetes membawa resiko penyakit vascular dan esterogen dalam kontrasepsi oral
secara statistic meningkatkan tromboembolisme, stroke dan infark miokardium.
Disarankan untyk tidak menggunakan kontrasepsi oral. Para dokter pun juga tidak
menganjurkan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim pada wanita diabetic, karena
kemungkinan meningkatnya resiko infeksi panggul. Dengan alasan tersebut banyak
wanita atau ibu dengan diabetes terutama diabetes overt memilih sterilisasi.

F. Prognosis
Penanganan bersama ahli penyakit dalam, kebidanan dan ahli kesehatan anak
akan menurunkan kesakitan dan kematian iu dan perinatal. Penanganan dan pengobatan
yang tidak tepat merupakan faktor utama penyebab kematian ibu yang sebenarnya.
Peningkatan retinopati dan nefropati diabetika terjadi pada sebagian besar pasien atau
wanita selama kehamilan.
Faktor-faktor yang memepengaruhi kelangsungan hidup janin adalah beratnya
diabetes, pengendalian diabetes selama kehamilan, fungsi plasenta, perdarahan plasenta,
preeklampsia-eklampsia, polihidroamnion dan penghentian kehamilan. Penghentian
kehamilan dapat dibenarkan pada keadaan-keadaan tertentu seperti retinopati diabetic,
retinitis proliferans, dan penyakit vascular berat (serebral atau koroner).

14
3.2 IBU HAMIL DENGAN HIPERTIROID

A. Hipertiroidisme
Adalah kadar tiroid yang lebih dari normal. Beberapa tanda yang dapat membantu
adalah:

1. Takikardi yang melebihi peningkatan yang biasa terjadi pada saat kehamilan
2. Kecepatan nadisaat tidur menigkat abnormal
3. Tiromegali
4. Eksoftalmus
5. Kegagalan pada wanita yang tidak kegemukan untuk menambah berat badan
walaupun asupan makanan normal atau meningkat.

B. Tiroktoksikosis dan kehamilan


Kausa tirotoksitosis pada kehamilan adalah penyakit graves, suatu proses autoimun
spesifik organ yang biasanya berkaitan dengan autoantibodi perangsang tiroid. Selama
kehamilan aktivitas antibody perangsang tiroid berkurang pada wanita yang berpenyakit
graves yang disertai oleh remisi kimiawi selama sepanjang kehamilan. Antara 1-4 bulan
postpartum banyak ibu yang yang mengalami rekurensi antibody antitiroid disertai
hipertiroksinemia. Menurunnya kadar antibody terjadi seiring meningkatnya kadar
antibody penghambat tiroid. Disertai penurunan kadar tiroksin bebas selama kehamilan
dan pemulihan ke basal pada 4 bulan postpartum.

C. Pengobatan
Tiroktoksitosis selama kehamilan umumnya diterapi secara medis. Hipertiroidisme
selalu dapat dikendalikan oleh obat-obat tioamida. Seperti propilourasil, karena obat ini
bekerja secara parsial yang menghambar konvrsi T4 kenjadi Ty kurang dapat melewati
plasenta disbanding dengan metimazol dan tidak berkaitan yang dengan aplasia kutis.

Tiroidektomi, dilaksanakan setelah tiroktoksitosis terkontrol secara medis. Karena


meningkatnya vaskularitas kelenjar tiroid selama kehamilan, pembedahan ini sulit
disbanding dengan keadaan tidak hamil.

D. Hasil Kehamilan
Hasil kehamilan pada wanita tirotosik bergantung apakah control metabolisme
tercapai atau tidak. Wanita yang tetap hipertiroid setelah diterapi dan tidak diobati, akan
terjadi peningkatan insiden preeklamsi, gagal jantung dan gangguan perinatal.

15
E. Efek Tirotoksitosis pada Neonatus
Neonatus mungkin akan mengalami torotoksitosis transien yang terkadang
memerlukan terapi obat antitiroid. Sebaliknya, pajanan obat secara berkepanjangan in
utero dapat menyebabkan hipotiroidisme pada neonatus. Namun setelah dilakukan
banyak penelitian, tidak ditemukan efek samping pada tumbuh kembang apabila
dibandingkan dengan kelompok control yang usianya sepadan.

F. Tirotoksitosis Neonatus setelah Ablasi Tyroid Ibu


Setelah dibuat eutiroid oleh pembedahan atau radiasi, wanita dengan Graves
terkadang melahirkan bayi dengan tanda tirotoksitisis termasuk gondok dan eksoftalmus.
Yang ini terjadi akibat antibody perangsang tiroid ibu melintas melalui plasenta.
Tirotoksitosis janin ini dapat menyebabkan kematian janin.

G. Tirotoksitosis Subklinis
Yaitu rendahnya konsentrasi trotropin serum disertai oleh kadar T3 dan T4 serum yang
normal. Efek jangka panjangnya tidak diketahui. Keadaan ini dapat menyebabkan artmia,
hipertrofi jantung dan osteopenia.

H. Pengobatan
Pengobatan hipertiroid terdiri atas :

a. Pemberian obat antitiroid. Bekerja mencegah sintesis hormone dari sel tiroid,
tetapi tidak menghentikan pelepasan hormone tiroid yang sudah terbentuk. Dosis
obat tergantung pada keadaan hipertiroid dan minggu gestasi.
b. Obat penyekat beta (beta blokcker). Seperti obat propranolol, carteolol sering
digunakan baik sebagai pengobatan hipertiroid. Penggunaan propranolol pada
kehamilan dapat mengakibatkan beberapa efek samping seperti plasenta kecil,
gangguan pertumbuhan janin, bradikardi postnatal dan hipoglikemi.
c. Pembedahan. Tiroidektomi subtotal hanya dilakukan pada keadaan tertentu
seperti pada penderita yang alergi terhadap obat antitiroid atau yang mengalami
penekanan oleh struma.
d. Pengobatan saat laktasi. Pada akhir kehamilan proses autoimun akan berkurang
sehingga pada akhir kehamilan umumnya wanita hamil akan menjadi eutiroid.
Setelah bersalin, kekambuhan terjadi pada 6 bulan pertama. Oleh karena itu
pemeriksaan fungsi tiroid pada 3 bulan dan 6 bulan pertama sebaiknya dilakukan.
Apabila terjadi hipertiroid kembali maka harus segera dimulai dengan obat

16
antitiroid. Sampai sat ini obat anti tiroid yang aman dan tidak menembus plasenta
ialan PTU.

3.3 IBU HAMIL DENGAN TBC

A. Hubungan TBC Dengan Kehamilan

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan
oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang
ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium
tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau berbagai organ
tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi.Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru
tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus
limfe.Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan.Individu kemudian dapat
mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

B. Pengaruh Tuberculosis terhadap kehamilan.

Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu
hamil.Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih
dari 50 persen kasus TBC paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990
diketahui 4.300 wanita hamil,150 diantaranya adalah pengidap TBC paru (M Iqbal, 2007 dalam
http://www.mail-archive.com/).

Efek TBC pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan
penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil,
ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa
dan pengobatan TBC. Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis
maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.

C. Pengaruh Tuberkulosis terhadap janin.

Menurut Oster, 2007 jika kuman TBC hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit
risiko terhadap janin. Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TBC yang
aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TBC
juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan
perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami
masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C
Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999 dalam (http://proquest.umi.com/pqdweb) tentang efek TBC
ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek

17
terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok
wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi
lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%),
berat badan lahir rendah (<2500 gram).

Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti abortus, terhambatnya pertumbuhan janin,
kelahiran prematur dan terjadinya penularan TBC dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan
amnion (disebut TBC congenital). Gejala TBC congenital biasanya sudah bisa diamati pada
minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah,
hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi
tertular saat masih di perut atau setelah lahir.

D. Pengaruh kehamilan terhadap Tuberkolosis.

Pengetahuan akan meningkatnya diafragma selama kehamilan yang mengakibatkan


kolapsnya paru di daerah basal paru masih dipegang sampai abad 19. Awal abad ke-20, aborsi
merupakan pilihan terminasi pada wanita hamil dengan tuberculosis.Sekarang, TBC diduga
semakin memburuk selama kehamilan, khususnya di hubungakann dengan status sosio-ekonomi
jelek, imunodefisiensi atau adanya penyakit penyerta.Kehilangan antibodi pelindung ibu selama
laktasi juga menguntungkan perkembangan TBC.Akan tetapi, lebih banyak studi diperlukan
untuk menyokong hipotesa.

3.4 IBU HAMIL DENGAN ANEMIA

A. Pengertian
Anemia adalah kadar hemoglobin yang lebih rendah dari 11 g/dL pada trimester pertama
dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dL pada trimester kedua. (Cunningham,2009).Anemia adalah
suatu defisiensi sel darah merah baik secara kualitas maupun kuantitas, yang menyebabkan
penurunan kadar oksigen yang tersedia dalam darah untuk proses metabolik.(Wylie,2010).

B. Etiologi
Menurut Wylie (2010) penyebab umum anemia defisiensi zat besi adalah :
1. Ketidakadekuatan kadar zat besi dalam diet

2. Penurunan zat besi karena muntah berlebihan

3. Kebutuhan berlebih sel darah merah, contohnya karena kehamilan multipel atau kehamilan
yang sering, infeksi kronis seperti infeksi saluran kemih, atau kehilangan darah akut atau kronik
seperti periode yang berat pada kehamilan sebelumnya atau perdarahan dalam kehamilan.

18
C.Manifestasi klinis
Pada gejala awal biasanya tidak ada atau tidak spesifik (misalnya : kelelahan, kelemahan,
pusing, dispnea ringan dengan tenaga).Gejala dan tanda lain termasuk pucat dan jika terjadi
anemia berat, akan terjadi takikardi atau hipotensi. (Bobak,2005)

19
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL

A.    Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Suatu proses kolaborasi
melibatkan pearawat, ibu dan kesehatan lainnya. Pengkajian dilakukan melalui wawancara dan
pemeriksaan fisik. Dalam pengkajian dibutuhkan kecermatan dan ketelitian agar data yang
terkumpul lebih akurat, sehingga dapat dikelompokan dan dianalisis untuk mengetahui masalah
dan kebutuhan ibu terhadap perawat.
Pengkajian yang dilakukan terhadap ibu penyakit jantung antaralain sebagai berikut :
1. Identitas Umum
2. Anamnesis :
a) Riwayat demam reumatik
b) Dipsnu waktu melakukan kegiatan dan atau waktu istirahat
c) Proksimalnocturnal dipsnu
d) Angina atau syncope waktu melakukan kegiatan
e) Hemoptisis
3. Fokus pengkajian keperwatan
Fokus pengkajian keperawatan ditujukan untuk mngobservasi adanya tanda-tanda dan gejala
kelebihan ciaran paru dan tanda serta gejala sistemis.
a) Aktifitas /istirahat
Keletihan, insomnia, nyeri dada dengan ktifitas, gelisah, dispnea saat istirahat atau aktifitas,
perubhan status mental, tanda vital berubah saat beraktifitas.
b) Sirkulasi
Riwayat HT akut, GJK sebelumnya, penyakit katup jantung,anemia , syok dll, TD, tekanan nadi
frekuensi jantung, irama jantung, nadi apical bunyi jantung S3 galop, nadi perifer bekurang,
perubahan dalam denyutan nadi jugularis, warna kulit kebiruan, kuku pucat atau sianosis, hepar
adanya pembesaran, bunyi nafas krekles atau ronkhi, edema.
c) Integritas ego
Ansietas stress marah taku dan mudah tersinggung
d) Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna pekat, berkemih malam hario diare/ konsipasi.
e) Makanan / cairan
Kehilangan nafsu makan mual, muntah, penambahan Bbsignifikan, Pembengkakan ektrimitas
bawah, diit tinggi garam pengunaan diuretic distensi abdomen edema umum dll.

20
f) Hygiene
Keletihan selama aktifitas perawatan diri, penampilan kurang
g) Neurosensori
Kelemahan, pusing letargi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung
h) Nyeri/kenyamanan
Nyeri dada akut kronik nyeri abdomen sakit pada otot gelisah
i) Pernafasankeamanan
Dispnea saat aktifitas tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal.batuk dengan atau
tanpa sputum penggunaan bantuan otot pernafasan oksigen dll. Bunyi nafas warna kulit.
j) Interaksi sosial
Penurunan aktifitas yang biasa dilakukan
4. Pemeriksaan fisik
a) Murmur sistolik dan diastolic
b) Kelainan irama jantung
c) Precordial thrill
d) Kardiomegali
e) Sianosis dan atau Clubbing
5. Pemeriksaan Penunjang
a) Laboratorium : Enzim jantung ( CK, CK-MB )
b) Foto thorak
c) Elektrokardiografi
d) Ekhokardiografi

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Penurunan curah jantung b.d penurunan miokardial
2.      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
3.      Kemungkinan terhadap kelebihan volume cairan ekstravaskuler peningkatan natrium/ retensi
air
4.      Kurang pengetahuan mengenai program pengobatan b.d kurang terpaparnya informasi
5.      Resiko cedera pada janin b.d tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta.

C.    Intervensi Keperawatan
1.      Penurunan curah jantung b.d penurunan miokardial
Tujuan :
Penurunan myocardial teratasi
Criteria hasil :
21
·         Melaporkan penurunan episode dipsnea, angina
·         Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung
Intervensi :
·         Palpasi nadi perifer.
Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukan menurunnya nadi radikal.
·         Berikan istirahat psikologidengan lingkungan yang tenang
Rasional : Stress emosi menghasilkan vasokontriksi, yang meningkatkan tekanan darah dan
meningkatkan kerja jantung.
·         Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis.
Rasional : Pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya
curah jantung.
·         Berikan istirahat semi rekumben pada tempat tidur atau kursi
Rasional : Istirahat fisik harus dipertahankan untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung.

2.      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum


Tujuan :
Klien mampu beraktivitas mandiri
Kriteria hasil :
·         Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan, memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri.
·         Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
·         Periksa tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas
Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilatasi).
·         Kaji penyebab kelemahan.
Rasion al : kelemahan adalah efek samping beberapa obat (beta bloker)
·         Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi.
Rasional : Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempngaruhi stress
miokard/kebutuhan oksigen berlebih.
·         Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas.
Rasional : Dapat menunjukan penigkatan dekompensasi jantung dari pada kelainan aktivitas.
3.      Kemungkinan terhadap kelebihan volume cairan ekstravaskuler peningkatan natrium/
retensi air
Tujuan :
Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan
Kriteria :

22
Mempertahankan keseimbangan cairan seperti dibuktikan oleh tekanan darah dalam batas
normal, tak ada distensi vena perifer/ vena dan edema dependen, paru bersih dan berat badan
ideal ( BB ideal TB –100 ± 10 %)
Intervensi :
1)      Ukur masukan / haluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung
keseimbangan cairan
2)      Observasi adanya oedema dependen
3)      Timbang BB tiap hari
4)      Pertahankan masukan total caiaran 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler
5)      Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium, berikan diuetik.
6)      Kaji JVP (Jugular Venouse Pressure) setelah terapi diuretic
7)      Pantau CVP (Central Venouse Pressure) dan tekanan darah.

4.      Kurang pengetahuan mengenai program pengobatan b.d kurang terpaparnya informasi


Tujuan :
Informasi mudah didapat dan dipahami
Kriteria hasil :
·         Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah
komplikasi.
·         Menyatakan gejala yang memerlukan intervensi cepat
·         Melakukan perubahan pola hidup prilaku yang perlu.
Intrevensi :
·         Diskusikan fungsi jantung normal.
Rasional : Pemahaman kebutuhan terapeutik dan pentingnya upaya pelaporan efek samping
komplikasi obat.
·         Anjurkan makan diet pada pagi hari.
Rasional : memberikan waktu adekuat untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah
menghentikan tidur.
·         Jelaskan dan diskusikan peran pasien dalam mengontrolfaktor resiko
Rasional : Menambahkan pada kerangka pengetahuan dan memungkinkan pasien membuat
keputusan berdasarkan informasi
·         Anjurkan dan lakukan demontrasi ulang kemampuan mengambil dan mencatat nadi harian.
Rasional : Meningkatkan pemantauansendiri pada kondisi/efek obat.

5.      Resiko cedera pada janin b.d tidak adekuatnya perfusi darah ke plasenta.
Tujuan :
23
Perfusi darah ke plasenta adekuat
Kriteria :
·         Agar tidak terjadi cedera pada janin
Intervensi :
·         Istirahatkan ibu.
Rasional : Dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolism tubuh menurun dan peredaran
darah keplasenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan janin dapat terpenuhi.
·         Anjurkan ibu agar tidak miring kekiri.
Rasional : Dengan tidur miring kekiri diharapkan vena kava tidak tertekan oleh uterus yang
membesar, sehingga aliran darah keplasenta menjadi lancar
·         Pantau tekanan darah ibu.
Rasional : dengan memantau tekanan darah ibu dapat diketahui keadaan darah keplasenta.
·         Memantau bunyi jantung
Rasional : Dengan memantau bunyi jantung janin dapat diketahui keadaan jantung janin lemah
atau menurun.

D.    Evaluasi
1.      Klien mampu beraktivitas mandiri
2.      Penurunan myocardial teratasi
3.      Informasi mudah didapat dan dipahami
4.      Perfusi darah ke plasenta adekuat

24
DAFTAR PUSTAKA

Anwar TB. Wanita Kehamilan dan Penyakit Jantung. Bagian Kardiologi dan Kedokteran
Vaskuler Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara; 2005.
Boestan IN. Penyakit Jantung & Kehamilan. Airlangga University Press; 2007.
Laksmi PW, Alwi I, Setiati S, Manajoer AM, Ranita R. Penyakit-Penyakit Pada Kehamilan
Peran Seorang Internis. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2008.
Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Jakarta;
2008.
Kusmarjadi D. Hamil Dengan Kelainan Jantung. 2008.
Cho L. Heart Disease and Pregnancy. 2009.
Doenges, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Mitayani. 2009. Asuhan Keparawatan Maternitas, Jakarta : Salemba Medikamed.unhas.ac.id/
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Wijayarni, Maria. 1996. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta : Buku Kedokteran EGC

25