Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

OLEH:
NAMA : AHYANA REHANI
NIM : 4193220009
KELAS : BIOLOGI NONDIK C 20019
KELOMPOK: 2 (DUA)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGRI MEDAN
2020
I. JUDUL PERCOBAAN : REKSI LIPID DAN PENENTUAN BILANGAN IODIUM

II. TUJUAN PERCOBAAN :


1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan lipid dan bilangan iodium
2. Mengetahui beberapa sifat lipid
3. Mengetahui hubungan bilangan iodium dengan asam lemak jenuh dan tidak jenuh

III. TINJAUAN TEORITIS :


Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah

senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik

tetapi sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut

organik nonpolar, seperti benzen, pentana, dietil ether dan karbon tetraklorida. Dengan

pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun

hewan. Lipid mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon alifatik nonpolar dan

hidrofobik. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air tetapi larut

dalam pelarut nonpolar, seperti alkohol, ether atau kloroform. Fungsi biologis terpenting

lipid diantaranya untuk menyimpan energi, sebagai komponen struktural membran sel

dan sebagai pensinyalan molekul. Lipid merujuk pada sekelompok besar molekul-

molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen meliputi asam

lemak, malam,  sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak, monogliserida,

digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan

lain-lain (Fessenden, 1999).

Suatu lipid didefinisikan sebgai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta

tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non polar sperti suatu hidrokarbon

atau dietil eter. Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah
ini berarti “triester (dari) gliserol”. Perbedaan antara suatu lemak dan minyak bersifat

sebarang: pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak bersifat cair.

Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida dalam

tumbuhan cenderung berupa minyak.

Senyawa organik ini terdapat dalam semua sel dan berfungsi sebagai :

1. Penyimpan energi dan transpor

2. Struktur membran

3. Kulit pelindung, komponen dinding sel

4. Penyampai kimia

Beberapa senyawa lipida mempunyai aktivitas biologis yang sangat penting


dalam tubuh, diantaranya vitamin dan hormon. Ditinjau dari sudut nutrisi, lemak
merupakan sumber kalori penting disamping berperan sebagai pelarut berbagai vitamin.

a.       LipidTerhidrolisis

Lipid terhidrolisis merupakan ester dari gliserol dengan suatu asam lemak atau asam
fosfat yang mengikat etanolamin atau serin

b.      Steroid

Steroid merupakan senyawa turunan (derivat) lipid yang tidak terhidrolisis. Senyawa
yang termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol, dan estrogen. Pada
umumnya steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur inti. Perbedaan
jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada rantai samping (cabang)
yang diikatnya.

c.       Terpenoid

Seperti halnya steroid, terpenoid juga merupakan derivat dari lipid. Senyawa ini
umumnya terdapat pada minyak atsiri, misalnya sitral (minyak sereh), geraniol (minyak
mawar), limonen (jeruk), dan juga sebagai vita¬min A. Berikut ini beberapa contoh
senyawa terpena.

Secara Kimia, Lemak terbagi tiga , yaitu:

1. Lemak Sederhana
Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan menghasilkan alkohol, biasanya berupa
gliserol, sertamenghasilkan asam lemak. Contoh yang paling banak ditemukan adalah
Triasilgliserol yang disebut juga Trigliserida (TG), yang ditemukan antara lain dalam
serum, dalam minyak kelapa dan dalam berbagai minya lain yang berasal dari mahluk
hidup. Yang dimaksud dengan minyak adalah lemak yang dalam suhu ruang berada
dalam bentuk cair , lemak yang dalam suhu ruang masih berbentuk padat disebut
lemak saja. Biasanya minyak berasal dari tumbuhan dan lemak dari hewan.
Konsistensi cair atau padat pada suhu ruang ini biasanya ditentukan dari jumlah atom
C yang menyusun asam lemak dari TG. Makin panjang atom C, biasanya makin
padat. Dilain pihak, makin banyak ikatan rangkap, konsistensi semakin cair. Lemak
yang banyak mengandung ikatan rangkap ini disebut asam lemak essensial, yang
harus ada dalam makanan. Lemak tumbuhan berupa minyak karena jumlah atom C-
nya lebih pendek dan ikatan rangkapnya relatif lebih banyak.
2. Lemak Majemuk

Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan menghasilkan alkohol, asam lemak dan
senyawa lain seperti fosfat, asam amino, basa organik, sepert kolin atau betain.
Umumnya lemak majemuk mengandung listrik atau paling tidak mempunyai
pengkutuban muatan dalam molekulnya, sehingga menjadi lebih mudah berinteraksi
dengan air. Lemak Majemuk ini ikut menyusun membran sel dan juga selubung sel
dan serat syaraf.

3. Turunan Lemak

Yaitu berbagai senyawa yang diperoleh dari hidrolisis atau pemecahan kedua
jenis lemak terdahulu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Gliserol dan
berbagai alkohol lain yang ikut menyusun lemak, asam lemak, dengan ikatan rangkap
(ikatan tak jenuh) dan asam lemak tanpa ikatan rangkap (jenuh), kolesterol dan
berbagai macam senyawa steroid seperti hormon steroid (kortisol, prednison,
estrogen, progesteron, testosteron, dan aldosteron) (Albert, 1992).

Minyak dan lemak termasuk lipid netral (Ketaren, 1986). Minyak dan lemak berperanan
sangat penting dalam gizi kita yaitu sebagai sumber energi, citarasa, serta sumber vitamin
A, D, E, K (Winarno, 1984). Setiap gram lemak mengandung 2,25 kali dari jumlah kalori
yang dihasilkan oleh satu gram protein atau karbohidrat (Srikandi Fardiaz, 1984). Satu
gram minyak atau lipid dapat menghasilkan 9 kkal/gram, sedangkan karbohidrat dan
protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Minyak atau lemak, khususnya minyak nabati,
mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam linoleat, asam linolenat dan asam
arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan
kolesterol. Minyak goreng banyak digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak sawit
memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya terdiri atas 35-40 % asam
palmitat, 38-40% asam oleat dan 6-10% asam linoleat serta kandungan mikronutriennya
seperti karotenoid, tokoferol, tokotrienol, dan fitosterol.Pemanasan yang terlalu tinggi
menyebabkan sebagian minyak teroksidasi dan minyak yang terdapat dalam suatu bahan,
dalam keadaan panas akan mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut.
Proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
minyak atau lemak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada
minyak dan lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan
hidroperoksida (Nita, 2009).

Lily Restusari, Retensi Vitamin A Kentang Goreng53mengalami kerusakan


selama proses penggorengan.Pemanasan yang cukup tinggi 130–200oC selama proses
menggoreng mengakibatkan perubahan kandungan gizi dari minyak dan makanan yang
digoreng. Ikatan air akan terlepas diikuti dengan beberapa senyawa volatil yang terdapat
di dalam produk dan minyak goreng, kemudian menguap ke atmosfer sehingga
mengakibatkan perubahan reaksi kimia baik pada produk maupun minyak goreng selama
proses penggorengan.8-11Akhtar et al,12dalam penelitiannya menemukan kurang dari
50% vitamin A hilang dalam proses penggorengan makanan. Namun lain halnya dengan
penelitian yang dilakukan Martianto dkk,13menunjukkan bahwa penggorengan roti
dengan minyak goreng curah yang difortifikasi vitamin A akan meningkatkan kandungan
vitamin A sebesar 17,87–55,62% per 100 gram produk. Begitu juga dengan penelitian
Simmone dan Eitenmiller,14dalam nugget ayam dan udang tepung yang digoreng,
didapati persen retensi retinol palmitat (vitamin A) mencapai 72 dan 74% (lily dkk,
2016).

Minyak kelapa murni atau yang disebut dengan Virgin Coconut Oil (VCO) adalah
minyak yang dihasilkan dari buah kelapa (Cocos nucifera) segar tanpa melalui
penambahan bahan kimia atau proses yang menggunakan panas tinggi [2]. VCO sendiri
sebagian besar terdiri dari saturated fatty acids(92%), monounsaturated(6%) dan
polyunsaturated fatty acids(2%) [3].Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwaVCO
memiliki efek yang baik untuk kesehatan. Antara lain sebagai anti-inflamasi, antipiretik,
anti analgetik [4,5],menurunkan kolesterol darah total, mempercepat penyembuhan luka,
berfungsi sebagai antioksidan [6,7,8,9], serta menurunkan kadar proksidasi lipid pada
hewan coba tikus oleh karena tingginya komponen fenolik dan vitamin E. Meskipun
komponen fungsional yang terdapat dalam VCO masih terus diteliti, peran VCO terhadap
kesehatan telah banyak dilaporkan.Citarasa VCO yang “oily” menyebabkan produk
tersebut kurang bisa diterima oleh rongga mulut. Oleh karena itu, berkembang teknologi
pengolahan lain yang dikembangkan dari bahan dasar VCO. Produk turunan tersebut
dapat berupa produk farmasi, bahan baku kosmetik, energi, bahkan pangan fungsional.
Sebagai bahan dasar produk pangan,proses pengolahan VCO sebaiknya tidak merusak
sifat fungsionalnya. Adapun beberapa produk turunan berbahan baku VCO antara lain
Mayonaise, minuman fungsional, tambahan pada produk Yoghurt, serta dapat
dikembangkan menjadi produk shortening/mentega putih (yunita, 2017).
IV. ALAT DAN BAHAN
IV.1 ALAT

No Nama alat Jumlah


1 Rak tabung 1 buah
2 Pipet tetes 3 buah
3 Tabung reaksi 6 buah
4 Gelas Erlenmeyer 1 buah
5 Beaker gelas 1 buah
6 Pipet berskala 10 ml 1 buah

IV.2 BAHAN

No Nama bahan Jumlah


1 Minyak jelantah Secukupnya
2 Minyak kelapa secukupnya
3 Lemak ayam secukupnya
4 Mentega Secukupnya
5 Eter 6 ml
6 Alcohol 6 ml
7 Aquades Secukupnya
8 Klorofom 16 ml
9 Larutan pati 1% 2 ml
10 Larutan KI 15% 10 ml
11 Preaksi lod hanus 15 ml
12 Minyak curah Secukupnya
13 Larutan Na2S2O3 0,1 N Secukupnya
Biuret 50 ml
Air masak dingin Secukupnya
V. PROSEDUR KERJA
a. Uji kelarutan minyak/lemak
1. Kedalam 3 buah tabung reaksi masukkan berturut-turut 2 ml eter, klorofom, dan
alcohol.
2. Masukkan sedikit minyak kelapa kedalam setiap tabung reaksi, kocok isi tabung
kuat-kuat.
3. Perhatikan kelarutannya
4. Ulangi percobaan diatas dengan mengganti minyak kelapa dengan lemak hewan
dan mentega
5. Amati kelarutannya
b. Penentuan bilangan iodium
1. Timbang 0,25 gram sampel dan masukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml tertutup
2. Tambahkan 10 ml kloroform kocok hingga larut.
3. Tambahkan 25 ml pereaksi iodium hanus dan diamkan ditempat selama 30 menit.
4. Tambahkan 10 ml larutan KI 15 % aduk sampai rata
5. Tambahkan 100 ml air masak dingin untuk mencuci sisa iodium yang terdapat
pada tutup Erlenmeyer.
6. Titrasi iodium dengan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga warna kuning dari larutan
hilang.
7. Dengan segera tambahkan 2 ml larutan pati 1% sebagai indicator.
8. Teruskan titrasi sampai timbul warna biru.
9. Jika titik akhir titrasi hamper tercapai, tutuplah Erlenmeyer dan kocoklah kuat-
kuat hingga iodium dapat diikat oleh KI.
10. teruskan titrasi sampai titik akhir.
11. Lakukan titrasi untuk blanko dengan cara yang sam seperti diatas.
12. Tentukan bilangan iodium dari sampel yang diuji.
VI. HASIL PERCOBAAN /REAKSI
a. Uji Kelarutan Minyak/ Lemak

No. NamaBahan Hasil Pengamatan


1. Minyak jelantah + kloroform
Minyak jelantah + aquades
Minyak jelantah + alcohol

2. Minyak kelapa + kloroform


Minyak kelapa + aquades
Minyak kelapa + alcohol
3. Mentega + kloroform
Mentega + aquades
Mentega + alcohol

4. Lemak ayam + alcohol


Lemak ayam + aquades
Lemak ayam + kloroform

5. Minyak curah + alcohol


Minyak curah + aquades
Minyak curah + kloroform
b. Penentuan Bilangan Iodium

No. Uji Bahan dan Perlakuan Hasil Pengamatan


1. Tabung sampel dan tabung blanko
saat diisi kloroform 10 mL dan
iodium hanus 10 mL

2. Tabung sampel dan tabung blanko


saat dititrasi dengan Na2 S2 O 3

Pembahasan
I. Sifat Kepolaran Akuades, Alkohol dan Kloroform
a. Aquades
Berdasarkan susunan ruang atomnya, molekul H2O berbentuk tidak simetris.
Elektron tidak tersebar merata. Dalam molekul H2O pusat muatan (pol) negatif
terletak pada atom O, sedangkan pol positif terletak di antara atom H, sehingga air
bersifat polar karena jika digambarkan ikatan polar sebagai vektor maka
molekul H2O resultan vektornya tidak sama dengan nol. Jadi kesimpulannya
aquades bersifat polar
b. Alkohol
Senyawa alkohol dengan rumus kimia C2H5OH tersusun dari 2 atom karbon, 6
atom hidrogen, dan 1 atom oksigen. Senyawa ini membentuk 8 ikatan kovalen
tunggal dan tidak memiliki pasangan elektron bebas sehingga termasuk senyawa
polar. Kepolaritasan yang dimiliki oleh senyawa-senyawa turunan alkohol tidak
akan sebanding dengan polaritas air. Hal ini dipengaruhi oleh kehadiran gugus
alkil pada molekulnya. seperti yang diketahui gugus alkil merupakan gugus non
polar, semakin panjang alkil yang dimiliki oleh suatu senyawa maka semakin
besar sifat non polarnya. Pada alkohol, dimana gugus alkil yang kedua senyawa
ini miliki tidak begitu panjang dan tidak merubah tingkat kelektronegatif sehingga
alcohol dapat larut dalam pelarut polar.
c. Kloroform
Kloroform kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium.
Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan bening, mudah menguap, dan berbau
khas. Kloroform dapat digunakan untuk mengekstraksi komponen yang tidak larut
dalam air seperti lipid dalam proses isolasi DNA. Proses isolasi DNA melibatkan
larutan yang berisi campuran fenol, kloroform, dan isoamilalkohol. Campuran ini
akan membuat suspensi DNA pada lapisan atas dan pengotor-pengotor akan
mengendap pada bagian bawah tabung. Cairan yang berada pada bagian atas
tabung akan diproses lebih lanjut untuk analisis DNA, dan bagian pengotor
dibuang. Kloroform juga dapat digunakan untuk mengkuantifikasi secara kasar
kandungan lipid dalam suatu sampel. Untuk memisahkan lipid dari pengotor-
pengotor lainnya, sering ditambahkan pelarut organik lainnya seperti metanol
untuk menarik kandungan protein. Lapisan kloroform diambil lalu diuapkan
hingga tersisa lipidnya.

II. Pembahasan Tabel Secara Literatur

a. Uji Kelarutan Minyak / Lemak

NO. Bahan yang Diuji Hasil Pengamatan Hasil Literatur Keterangan


1. Minyak jelantah + Berubah warna Kelarutan Hasil pengamatan kami
kloroform menjadi kuning tinggi sama dengan literatur. Lipid
keruh (Larut) memiliki sifat nonpolar
sehingga hanya akan larut
pada pelarut yang sama-
sama bersifat nonpolar
2. Minyak jelantah + Permukaan atas Tidak larut Hasil pengamatan kami
aquades kuning, dasar sama dengan literature. Jika
tabung kuning lipid dilarutkan ke dalam
(Tidak larut) pelarut polar maka hasilnya
lipid tersebut tidak akan
larut.
3. Minyak jelantah + Permukaan atas Kelarutan Hasil pengamatan kami
alcohol bening, dasar sedang sama dengan literature.
tabung kuning Minyak jelantah brsifat non
( Tidak larut) polar sehingga ia akan larut
pada pelarut non polar.
Tetapi alcohol bersifat
semipolar. Sehingga minyak
jelantah dan alcohol tidak
dapat larut sempurna.
4. Minyak kelapa + Berubah warna Kelarutan tinggi Hasil pengamatan kami
kloroform menjadi sama dengan literature.
kekuningan Lipid memiliki sifat
(Larut ) nonpolar sehingga hanya
akan larut pada pelarut yang
sama-sama bersifat nonpolar
5. Minyak kelapa + Berubah warna Tidak larut Hasil pengamatan kami
aquades menjadi putih berbeda dengan literatur.
pucat (Kelarutan Hal ini terjadi kemungkinan
sedang) karena adanya perbedaan
saat mencampurkan bahan.
Seharusnya minyak kelapa
tidak larut dalam aquades
karena aquades memiliki
sifat polar yang tidak sama
dengan minyak kelapa.
6. Minyak kelapa + Berubah warna Kelarutan Hasil pengamatan kami
alcohol putih keruh (Larut) sedang berbeda dengan literature.
Seharusnya minyak kelapa
sedit larut dalam alcohol
karena alcohol memiliki
sifat semipolar. Perbedaan
hasil ini kemungkinan
disebabkan karena adanya
kesalahan dalam
mencampurkan bahan.
7. Mentega + Berubah warna Kelarutan tinggi Hasil pengamatan kami
kloroform menjadi kuning sama dengan literature.
(Larut) Mentega dan kloroform
memiliki sifat kelarutan
yang sama yaitu non polar
sehingga akan larut.
8. Mentega + Permukaan atas Tidak larut .
aquades kuning dan Hasil pengamatan kami
permukaan bawah sama dengan literature.
bening Mentega bersifat non polar
(Tidak larut ) sementara aquades bersifat
polar. Sehingga mentega
tidak akan larut pada
aquades
9. Mentega + Permukaan atas Kelarutan Hasil pengamatan kami
alcohol berwarna kuning sedang sama dengan literature.
pekat dan Mentega bersifat non polar
permukaan bawah sedangkan alcohol bersifat
bening ( Kelarutan semi polar sehingga
sedang) keduanya akan sedikit larut.
10. Lemak ayam + Berubah menjadi Kelarutan tinggi Hasil pengamatan kami
alcohol keruh (Larut) sama dengan literature.
Lemak ayam bersifat non
polar sehingga akan larut
dengan alcohol yang bersifat
semi polar
11. Lemak ayam + Permukaan atas Tidak larut Hasil pengamatan kami
aquades berwarna kuning sama dengan literature.
dan permukaan Lemak ayam bersifat non
bawah bening polar sehingga tidak akan
(Tidak larut) larut pada senyawa polar
seperti aquades
12. Lemak ayam + Permukaan atas Kelarutan tinggi Hasil pengamatan kami
kloroform kuning dan berbeda dengan literature
permukaan bawah Seharusnya lemak ayam
bening dapat larut dalam kloroform
(Tidak larut) karena keduanya memiliki
sifat non polar. Perbedaan
hasil ini kemungkinan
disebabkan karena
kesalahan dalam
mencampurkan bahan
13. Minyak curah + Permukaan atas Tidak larut Hasil pengamatan kami
aquades kuning dan sama dengan literature.
permukaan bawah Minyak curah memiliki sifat
bening non polar yang tidak sama
( Tidak larut ) dengan aquades yang
memiliki sifat polar.
Sehingga keduanya tidak
akan terlarut
14. Minyak curah + Berubah warna Kelarutan tinggi Hasil pengamatan kami
kloroform menjadi keruh sama dengan literature.
( Larut) Minyak curah memiliki sifat
non polar sehingga akan
larut dalam senyawa yang
bersifat non polar juga
seperti paa kloroform
15. Minyak curah + Permukaan atas Kelarutan Hasil pengamatan kami
alkohol kuning dan sedang sama dengan literature.
permukaan bawah Minyak curah memiliki sifat
berwarna kuning non polar sementara alcohol
(Kelarutan sedang) memiliki sifat semi polar.
Sehingga keduanya akan
sedikit larut.

c. KESIMPULAN
1. Lipid adalah senyawa yang tidak larut dalam air yang diekstraksi dari mahkluk hidup
dengan menggunakan pelarut yang kurang pilar atau pelarut nonpolar.
Bilangan iodium adalah masa iodin dalam garam yang terserap 100 gram suatu zat kimia
pada kondisi pengujian yang digunakan.
2. Sifat-sifat lipid antara lain:
 Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut lemak seperti eter, klorofom,
alcohol, dan benzene
 Berhubungan erat dengan lemak
 Dapat digunakan oleh organisme hidup
3. Hubungan bilangan iodium dengan asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh adalah
bilangan iodium digunakan untuk menghitung ketidak jenuhan minyak atau lemak.
Semakin besar angka iodium, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dan
sebaliknya semakin kecil angka iodium maka asam lemak tersebut semakin jenuh.

d. DAFTAR PUSTAKA

Lehninger, Albert, 1992, Dasar-dasar Biokimia Jilid 1, Erlangga: Jakarta.

Fessenden dan Fessenden, 1999, Kimia Organik Edisi ketiga Jilid 2, Erlangga: Jakarta.

Assah, Y. F., Riset, B., Manado, I., Diponegoro, J., & Utara, S. (2017). VARIASI CAMPURAN
LEMAK PADAT DAN VIRGIN COCONUT OIL PADA PEMBUATAN MENTEGA PUTIH
MIXING VARIATIONS OF SOLID VEGETABLE FAT AND VIRGIN COCONUT OIL IN
THE MAKING OF SHORTENING Sulawesi Utara merupakan daerah Data statistik
menunjukkan Luas Tanaman lemak pada. 9(2), 141–148.

Istiqlaal, S. (2018). Ekstraksi dan Karakteristik Minyak Tulang Ikan Tuna (Thunnus albacares).
Jurnal Pascapanen Dan Bioteknologi Kelautan Dan Perikanan, 13(2), 141.
https://doi.org/10.15578/jpbkp.v13i2.546

Oktaviani, N. D. (2009). Hubungan Lamanya Pemanasan dengan Kerusakan Minyak Goreng


Curah Ditinjau dari Bilangan Peroksida. Jurnal Biomedika, 1(1), 31–35.