Anda di halaman 1dari 9

Mata Kuliah : Dosen pengampu :

Hadis Tarbawi Dra. Zalayana

Hadist Tentang Keutamaan Belajar dan Ancaman bagi yang


menyembunyikan Ilmu

Oleh:

1. Suci Oktavia (11314203709)


2. Ayu Alviani (11314200446)
3. Imam Raharjo ()

PBI / IV / C

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2015
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan dan
limpahan karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah
ini yang berjudul “Hadis tentang keutamaan Belajar dan Ancaman bagi yang
menyembunyikan Ilmu”.

Shalawat serta salam akan selalu terucap dan terkirimkan kepada Nabi besar Muhammad
SAW, segenap keluarga, para sahabat, serta umatnya yang konsisten menjalankan dan
mendakwahkan ajaran-ajaran yang telah dibawanya. Karena berkat kegigihan dan perjuangan
beliau kita semua dapat merasakan nikmat Islam, iman, dan indahnya ilmu pengetahuan
sebagaimana yang dapat kita rasakan pada saat ini.

Didalam penulisan makalah ini penulis sangat menyadari bahwa masih banyak terdapat
kesalahan-kesalahan baik dalam tatanan bahasa maupun dalam penulisan kata ,oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik serta saran yang dapat membangun dari para pembaca agar
pembuatan makalah berikutnya bisa menjadi lebih baik.

Semoga makalah penulis ini dapat menjadi media bagi kita semua dalam penambahan
pengetahuan , khususnya bagi para pembaca.

Pekanbaru, April 2015

Penulis

2
BAB 1
PENDAHULUAN

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. KEUTAMAAN BELAJAR

‫ ح دثنا عاص م بن‬،‫ حدثنا محمد بن يذيد‬: ‫قال االمام احمد‬


‫ قدم رجل من اهل‬:‫رجاء بن حيوة عن قيس بن كثير قال‬
‫المدينة الى أبي ال درداء رض ي الل ه عن ه و ه و بدمش ق‬
‫ حديث بلغني انك تح دث‬:‫ ما اقدمك أي أخي؟ قال‬:‫فقال‬
‫ أما قدمت‬:‫ قال‬.‫به عن رسول الله صلى الله عليه وسلم‬
:‫ ق ال‬،‫ ال‬:‫ أما قدمت لحج ة؟ ق ال‬:‫ قال‬،‫ ال‬:‫لتجارة ؟ قال‬
‫ ق ال‬،‫ نعم‬:‫م ا ق دمت إال في طلب ه ذا الح ديث؟ ق ال‬
‫ فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه‬: ‫رضي الله عنه‬
‫ سلك الله‬،‫ من سلك طريقا يطلب فيه علما‬:‫وسلم يقول‬
‫ و إن المالئك ة لتض ع أجنحته ا‬،‫تعلى به طريق إلى الجن ة‬
‫ و إن ه ليس تغفر للع الم من في‬،‫رض ا لط الب العلم‬
‫ و فضل الع الم‬،‫السموات واألرض حتى الحيتان في الماء‬
‫ إن‬،‫على العاب د كفض ل القم ار على س عير الك واكب‬
‫ و إنما‬،‫ لم يرثوا دينارا وال درهما‬،‫العلماء هم و رثة األنبياء‬
‫ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر‬.
Terjemahan:
Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Yazid menceritakan kepada kami, Ashim
bin Raja’ bin Haiwah menceritakan kepada kami dari Qais bin Katsir, ia berkata,
seseorang dari penduduk madinah datang menemui Abu Darba’RA ketika ia berada di
damaskus. Abu darba bertanya, ‘Apa gerangan yang membuatmu datang kemari wahai
saudaraku?’ orang itu menjawab, satu hadist yang telah sampai kepadaku bahwa
engkau meriwayatkannya dari rasullah SAW.Abu Darba’ bertanya lagi,’ apakah
engkau datang untuk berniaga? Tidak.’ Jawabnya, apakah engkau datang untuk satu
keperluan?, Tanya Abu Darba’. “Tidak ” apakah engkau datang untuk mencari hadist
ini saja?’ ya. Jawab orang itu. Lalu Abu Darba RA berkata: ‘sesungguhnya aku
mendengar Rasullah SAW bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk menutntut
ilmu, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan
bahwasannya malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridha dengan orang
yang mencari ilmu. Bahwasannya siapa saja dilangit dan dibumi akan memintakan

4
ampun bagi orang yang berilmu,hingga ikan-ikan paus didalam kedalaman air.dan
keutamaan seseorang yang berilmu dengan seorang ahli ibadah layaknya keutamaan
bulan dibanding seluruh bintang.dan seseungguhnya para ulama adalah pewaris
para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar,tidak juga
dirham,melainkan mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil bagian
ilmu itu, maka ia telah mengambil bagian yang besar.”
Mufradat:

Mencari ‫يطلب‬

Menempuh ‫سلك‬

Membentangkan ‫لتضع‬
Pewaris ‫رثة‬

Biografi:
1. Imam Ahmad
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin
Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin
Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy.
Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan.
Yang berarti bertemu nasab pula dengan Nabi Ibrahim.
Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy dan
Ayahnya Muhammad, Kakek beliau adalah Hanbal, berpindah ke wilayah
Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani
Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah
dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan
bahwa kakek imam ahmad ini dahulunya adalah seorang panglima.

Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota
Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan,
tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur-
tahun 164 H. Ayah imam ahmad ini wafat pada usia muda 30 tahun, ketika beliau
berumur 3 tahun.

Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu,


kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan
manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan

5
beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi,
ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-


Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan.
Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah
goyah. Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan
mengambil hadits dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang pertama
yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan
Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16
tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh
hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada
syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya
tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil
hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.

Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke


Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol
yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz
dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi‘i. Beliau banyak mengambil hadits
dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri beliau dan
terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits.
Ulama lain yang menjadi sumber beliau mengambil ilmu adalah Sufyan bin
‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin
Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak sempat bertemu dengan Imam
Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan
saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah
menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”

Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata kepada
beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah
menjadi imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama mahbarah (tempat
tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu sampai aku
masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa seperti itulah keadaan beliau:
menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi
manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di
sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak
ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau,
Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan
lain-lain.

6
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu
sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat
pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir,
tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan
muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga
menyusun kitab al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-
Radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-Zindiqah (Bantahan kepada Jahmiyah dan
Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara‘ wa al-Iman, kitab
al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il
ash-Shahabah.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar


sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-
desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang
untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12
Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal
yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian
beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan
ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800
ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang
menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang
hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka
kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu
bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari
kematian kami.”

Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat
bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang
yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap seperti itu justru ketika
sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas
kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun
dinisbatkan kepada dirinya karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali
bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah
mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya.
Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak
yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada
Yaumul Mihnah.”

2. Muhammad Bin Yazid


Nama beliau adalah Muhammad bin yazid bin majah al-qazwini. Atau ibnu
majah yaitu laqab bapaknya (yazid). Kuniyah beliau adalah abu Abdullah. Nasab
7
beliau adalah Ar Rib’I; merupakan nisbah wala` kepada Rabi’ah, yaitu satu
kabilah arab. Al Qazwînî adalah nisbah kepada Qazwîn yaitu nisbah kepada salah
satu kota yang terkenal di kawasan ‘Iraq.
Beliau lahir pada tahun 209 hijirah. Referensi-referensi yang ada tidak
memberikan ketetapan yang pasti, di mana Ibnu Majah di lahirkan, akan tetapi
masa pertumbuhan beliau berada di Qazwin. Maka bisa jadi Qazwin merupakan
tempat tinggal beliau. Ibnu majah memulai aktifitas menuntut ilmunya di negri
tempat tinggalnya Qazwin. Akan tetapi sekali lagi referensi-referensi yang ada
sementara tidak menyebutkan kapan beliau memulai menuntut ilmunya.

Di Qazwin beliau berguru kepada Ali bin Muhammad at Thanafusi, dia


adalah seorang yang tsiqah, berwibawa dan banyak meriwayatkan hadits. Maka
Ibnu Majah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia memperbanyak mendengar
dan berguru kepadanya. Ath Thanafusi meninggal pada tahun 233 hijriah, ketika
itu Ibnu Majah berumur sekitar 24 tahun. Maka bisa di tarik kesimpulan bahwa
permulaan Ibnu Majah menuntut ilmu adalah ketika dia berumur dua puluh
tahunan. Ibnu Majah termotivasi untuk menuntut ilmu, dan dia tidak puas dengan
hanya tinggal di negrinya, maka beliaupun mengadakan rihlah ilmiahnya ke
sekitar negri yang berdampingan dengan negrinya, dan beliau mendengar hadits
dari negri-negri tersebut. Ibnu Majah sama dengan ulama-ulama pengumpul
hadits lainnya, beliau mempunyai guru yang sangat banyak sekalia. Diantara guru
beliau adalah ‘Ali bin Muhammad ath Thanâfusî, Jabbarah bin AL Mughalla
Mush’ab bin ‘Abdullah az Zubair, Suwaid bin Sa’îd, Abdullâh bin Muawiyah al
Jumahî, Muhammad bin Ramh, Ibrahîm bin Mundzir al Hizâmi, Muhammad bin
Abdullah bin Numair, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Hisyam bin ‘Ammar, Abu Sa’id
Al Asyaj.

Ibnu Majah adalah seorang ulama penyusun buku, dan hasil karya beliau cukuplah
banyak. Akan tetapi sangat di sayangkan, bahwa buku-buku tersebut tidak sampai kekita.
Adapun diantara hasil karya beliau yang dapat di ketahui sekarang ini adalah:

     Kitab as-Sunan yang masyhur


     Tafsîr al Qurân al Karîm
 Kitab at Tarîkh yang berisi sejarah mulai dari masa ash-Shahâbah sampai masa
beliau.

Beliau wafat pada hari senin, tanggal duapuluh satu ramadlan tahun dua ratus tujuh
puluh tiga hijriah. Di kuburkan esok harinya pada hari selasa. Semoga Allah selalu
melimpahkan rahmat dan keridlaan-Nya kepada beliau.
3. Ahsim Bin Raja’ Bin Haiwah
4. Qais Bin Katsir

8
5. Abu Darba RA

B. Ancaman bagi yang menyembunyikan ilmu

‫ من سئل عن‬: ‫ قال رسول االله‬: ‫ قال‬،‫عن ابي هريرة‬


‫ الجمه الله بلجام من نا ر يوم القيا مة‬،‫علم فكتمه‬.
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah, ia berkata:Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang ditanya
tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka allah akan mencambuknya
dengan cambuk dari api neraka”.(H.R.At-Tirmidzi).

Mufradat:

Menyembunyikan : ‫فكتمه‬

Cambuk : ‫بلجام‬
Api : ‫نا ر‬