Anda di halaman 1dari 30

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING

METODE CARD SORT DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR


SISWA PADA MATERI ASMAUL HUSNA KELAS X MULTIMEDIA DI
SMK PARAMERTA TANGERANG SELATAN
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti yang diterapkan di sekolah sering
kali terkesan kurang menarik bahkan membosankan. Guru Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti seringkali hanya menjelaskan secara teoritis tanpa
mempraktikkan dan melibatkan siswa. Metode pengajarannya juga kurang menarik
perhatian siswa. Apa yang terjadi di kelas, guru biasanya memulai dengan cerita
atau bahkan menerangkan materi dengan berceramah, sehingga tidak
mengherankan di pihak guru sering timbul bahwa mengajar Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti itu mudah. Akibatnya nilai-nilai yang terkandung dalam
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tidak dapat dipahami dan diamalkan
oleh siswa.

Banyak pembelajaran di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) disampaikan


hanya melalui ceramah. Hal itu akan sulit diterima oleh siswa dan akan
menimbulkan kejenuhan dan siswa cenderung bersifat pasif. Dalam hal ini
diperlukan seorang guru untuk mempertimbangkan teknik lain yang efektif dan
tepat. Pengalaman yang diperoleh oleh siswa dari hasil pemberitahuan orang lain
seperti hasil dari penuturan guru hanya akan diingat oleh siswa tidak secara
maksimal.

Penggunaan media pembelajaran yang mempunyai peranan yang cukup


penting dalam proses pembelajaran sangat terbatas seperti tidak adanya LCD,
proyektor, serta fasilitas pendukung lainnya yang kurang memadai menjadi salah
satu penghambat proses pembelajaran secara efektif sehingga hasil belajar peserta
didik menjadi tidak optimal.

Di samping itu, metode pembelajaran yang guru terapkan tentunya akan


berpengaruh pula terhadap hasil belajar siswa, karena dalam praktiknya kebanyakan
guru hanya menggunakan metode pembelajaran konvensional yakni ceramah,
diskusi dan tanya jawab, hingga berdampak ketika siswa kelas X melaksanakan
ulangan harian dan ujian tengah semester, hasil yang diperoleh kurang maksimal
atau di bawah nilai standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Jika seorang guru tidak mempersiapkan dan merencanakan pembelajaran di


kelas, maka proses pembelajaranpun akan kurang baik karena persiapan yang
kurang matang, metode yang dipakai tidak sesuai dengan materi pelajaran yang
dibahas dan kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, maka dapat
dipastikan hal tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

Seyogyanya guru dapat mengembangkan proses pembelajaran dengan tujuan


agar pembelajaran tidak berpusat pada guru (teacher center) tetapi berpusat pada
peserta didik (student center) agar proses pembelajaran dapat dinikmati oleh peserta
didik dan menghasilkan mutu pendidikan yang baik.

Dalam rangka mewujudkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi


Pekerti yang diharapkan, maka dipandang perlu menerapkan pembelajaran Active
Learning. Pembelajaran active learning dimaksudkan untuk mengoptimalkan
potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil
belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki.
Disamping itu pembelajaran active learning juga dimaksudkan untuk menjaga
perhatian siswa/anak didik agar tertuju kepada proses pembelajaran.

Salah satu metode yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses
pembelajaran salah satunya ialah menggunakan metode Card Sort. Metode card sort
adalah sebuah metode pembelajaran yang menuntut siswa untuk berperan aktif
dalam proses pembelajaran karena metode ini berhubungan dengan gerak fisik dan
kekuatan otak untuk berfikir. Card Sort artinya “sortir kartu” yang dimaksud sortir
kartu adalah mencocokan atau menyamakan antar kartu yang sudah ditentukan dan
siswa mencari pasangnnya masing-masing. Dengan menggunakan pembelajaran
active learning metode card sort, diharapkan dapat meningkatkan motivasi,
perhatian, minat, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga hasil
belajarnya pun dapat meningkat.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka peneliti menganggap perlu


untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Model
Pembelajaran Active Learning Metode Card Sort Dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Pada Materi Asmaul Husna Kelas X Multimedia Di SMK
Paramerta Tangerang”

B. Identifikasi Masalah

Dari masalah yang telah dijelaskan di atas maka dapat diidentifikasi masalahnya,
yaitu:
1. Guru masih menggunakan metode konvensional sehingga siswa kurang
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
2. Metode yang lebih sering digunakan ialah metode ceramah dan diskusi
sehingga siswa kurang berminat pada mata pelajaran PAI
3. Kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan
4. Hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang diperoleh siswa
masih banyak yang dibawah Ketuntasan Kriteria Minimal (KKM) yang telah
ditentukan.

C. Rumusan Masalah
Apakah Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Metode Card Sort
Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Asmaul Husna Kelas X Di
SMK Paramerta Tangerang?

D. Manfaat Hasil Penelitian

1) Bagi siswa, dapat dijadikan bahan pembelajaran yang dapat digunakan untuk
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam.
2) Bagi pendidik, menjadi bahan acuan dalam menyusunan rencana dan
melaksanakan evaluasi pembelajaran serta memperbaiki proses
pembelajarannya melalui kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi di
kelas (aktual maupun faktual).
3) Bagi sekolah, dapat memajukan serta meningkatkan prestasi dan mutu sekolah
juga sebagai referensi metode pembelajaran untuk lembaga-lembaga
pendidikan lain.
BAB II
ACUAN TEORITIK
A. Landasan Teori

1. Pengertian Pembelajaran

Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction.


Menurut M. Sobry Sutikno (2004:12) bahwa pembelajaran adalah segala
upaya yang dilakukan oleh pendidik. Secara implisit di dalam pembelajaran,
ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode atau model
untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran lebih
menekankan pada cara-cara untuk mencapai tujuan dan berkaitan dengan
bagaimana cara mengorganisasikan isi pembelajaran, menyampaikan isi
pembelajaran, dan mengelola pembelajaran.
2. Pengertian Active Learning
Menurut Eveline Siregar (2014:106) Pembelajaran aktif (active
learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi
yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai
hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang
mereka miliki.
Menurut Lukmanul Hakim (2009:54) dalam bukunya perencanaan
pembelajaran imendefinisikan pembelajaran aktif yaitu kegiatan mengajar
yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan mata
pelajaran yang dipelajarinya. Siswa lebih aktif mempelajari materi
pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk hidup, informasi yang diterima
lebih lama diingat dan disimpan, dan lebih menikmati suasana kelas yang
nyaman. Siswa mengemukakan pendapat, Tanya jawab, mengembangkan
pengetahuannya, memecahkan masalah, diskusi, dan menarik kesimpulan.
Peran guru tidak dominan menguasai proses pembelajaran melainkan
memberikan kemudahan (fasilitator).
3. Pengertian Metode Card Sort
Menurut M. Sobri Sutikno (2014:33) Metode secara harfiah berarti
cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara
atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Wina Sanjaya (2008:127) Metode adalah cara yang dapat
digunakan untuk melaksanakan strategi.
Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran
yang dilakukan oleh peserta pendidik agar terjadi proses belajar pada diri
peserta didik dalam upaya untuk mencapai tujuan. (Sutikno, h.34)
Menurut A. Fatah Yasin (2008:185) metode card sort adalah kegiatan
kolaboratif dan juga startegi pembelajaran yang bersifat kerjasama, saling
menolong yang biasa digunakan untuk mengerjakan konsep, penggolongan
sifat, fakta tentang suatu objek dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
lewat permainan kartu.
4. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:18) Hasil belajar merupakan
perubahan yang terjadi dalam diri seseorang akibat dari proses belajar yang
dilakukannya berupa tercapainya tujuan- tujuan belajar yang diinginkan.
Belajar merupakan proses internal yang kompleks, yang terlibat dalam
proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi tiga ranah,
yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sedangkan Menurut Ahmad Susanto (2013:5) secara sederhana, yang
dimaksud hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu
proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk
perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau
kegiatan interaksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang
berhasil dalam belajar adalah yang mencapai tujuan-tujuan pembelajaran
atau tujuan interaksional.
5. Pengertian Asmaul Husna
Menurut bahasa asmaul husna berarti nama-nama yang baik, sedangkan
menurut istilah berarti nama-nama baik yang dimiliki Allah swt sebagai
bukti keagungan dan kemuliaan-Nya. Asmaul husna adalah nama Allah swt
yang terbaik. Bisa dikatakan pula sebagai asma Allah swt yang terindah. Ia
merupakan puncak keindahan karena didalamnya terdapat makna teruji dan
termulia. Nama-nama terindah itu mengandung pengertian kehidupan yang
sempurna, yang tidak didahului dengan ketiadaan dan tidak diakhiri dengan
kesirnaan. Tidak berawal dan tidak berakhir.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan anggapan diatas, maka dalam penelitian ini penulis mengajukan
hipotesis sebagai berikut :
1. Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Metode Card Sort Dapat
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Asmaul Husna Kelas X
Multimedia Di SMK Paramerta Tangerang.

C. Indikator Keberhasilan
1. Indikator Keberhasilan Proses

Jumlah siswa Keterangan


No Indikator
1 2
Pada pertemuan ke 1
masih terdapat siswa yang
belum fokus dan belum
tertarik untuk menyimak
materi yang disampaikan
Keantusiasan dan pengamatan dengan Card Sort
1 siswa pada saat menjalankan 11 18
metode card sort sedangkan pada
pertemuan ke 2 cukup
banyak siswa sudah
mampu menyimak dengan
baik apa yang disamaikan
guru.

Pada pertemuan ke 1
sebagian siswa sudah
mulai berani mengajukan

Aktif bertanya saat penjelasan pertanyaan sedangkan


2 materi 9 16
pada pertemuan ke 2
banyak siswa yang sudah
aktif dan berani
mengajukan pertanyaan.

Pada pertemuan ke 1
siswa masih sulit dalam
menjawab pertanyaan
yang diberikan guru dan
cenderung malu-malu
Aktif menjawab pertanyaan
3 15 20 sedangkan pada
saat penjelasan materi
pertemuan ke 2 banyak
siswa yang sudah berani
menjawab setiap
pertanyaan guru dengan
benar
Saat pertemuan ke 1
dan ke 2 seluruh
Hadir mengerjakan
4 21 21 siswa mengikuti
tes/evaluasi
evaluasi ketika selesai
pemaparan materi.

2. Indikator Keberhasilan Hasil

No Indikator Kategori

Menunjukan tingkah laku terbaik


1 Sedang
terhadap orang lain di sekelilingnya

Memiliki rasa percaya tinggi yang


2 Cukup
tinggi

Paham dengan materi yang


3 Sedang
disampaikan oleh guru
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Metode
Card Sort Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Asmaul Husna
Kelas X Di SMK Paramerta Tangerang.

B. Setting Penelitian
a) Tempat Penelitian : di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Paramarta
Tangerang Selatan.
b) Waktu penelitian : Penelitian ini berlangsung bulan Agustus- Oktober 2014.
Penelitian tindakan ini dilakukan terhadap seluruh siswa kelas X Multimedia 1
SMK Paramarta Tangerang Selatan, sebanyak 21 siswa pada tahun ajaran
2014/2015. Kegiatan belajar mengajar dilakukan pada pukul 12:30 sampai
dengan pukul 17:30 WIB

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
(Classroom Action Research). Dengan menggunakan PTK diharapkan dapat
memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam menangani proses
pembelajaran sehingga kualitas proses pembelajaran semakin meningkat. Penelitian
Tindakan Kelas atau PTK (Classroom Action Research) memiliki peranan yang
sangat penting dan strategis untuk meningkatkan pembelajaran apabila
diimplementasikan dengan baik dan benar. (Kunandar, 2010:41)
Penelitian ini diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan (pra
penelitian) dan akan dilanjutkan dengan pelaksanaan penelitian dengan beberapa
siklus. Dalam hal ini yang dimaksud dengan siklus adalah suatu putaran kegiatan
beruntun yang kembali ke langkah semula, dimana tiap-tiap siklus dalam penelitian
tindakan kelas ada empat tahapan yang harus dilakukan, yaitu (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.(Suharsimi, 2009:16)

D. Partisipan dalam Penelitian


Subjek atau pihak yang terkait dalam penelitian ini adalah siswa SMK
Paramarta Jombang kelas X Multimedia 1 yang berjumlah 21 siswa, dan guru
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang berperan sebagai kolaborator dan
observer.
E. Peran dan Posisi Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti dan guru Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti berkolaborasi sebagai perancang dan pelaksana kegiatan. Peneliti dan guru
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merencanakan kegiatan, melaksanakan
tindakan, melakukan pengamatan, mengumpulkan dan menganalisis data hasil
penelitian.

F. Tahap Penelitian
Tahap penelitian ini diawali dengan dilakukannya pra penelitian atau penelitian
pendahuluan dan akan dilanjutkan dengan tindakan yang berupa siklus, terdiri dari
perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta analisis
dan refleksi. Setelah melakukan analisis dan refleksi pada tindakan I, penelitian
akan dilanjutkan dengan tindakan II, jika data yang diperoleh memerlukan
penyempurnaan akan dilanjutkan kembali pada tindakan III dan seterusnya

Berikut bagan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam tindakan penelitian


adalah:

Penelitian pendahuluan a. Observasi proses pembelajaran di kelas


b. Analisis penyebab masalah kemudian dapat
dijadikan informasi untuk perencanaan dalam
proses pembelajaran

SIKLUS I
1. Tahap a. Membuat Rencana Pelaksanaan
Perencanaan Pembelajaran
b. Menyiapkan instrumen (tes, lembar observasi
dan catatan lapangan)

2. Tahap Pelaksanaan a. Melaksanakan langkah-langkah sesuai


rencana pembelajaran yang telah disusun.
b. Melaksanakan pre test untuk mengetahui
kemampuan awal siswa
c. Melaksanakan proses kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan pembelajaran Active
Learning metode Card Sort
d. Melakukan post test untuk mengetahui hasil
belajar siswa sesudah diterapkan
pembelajaran Active Learning metode Card
Sort
3. Tahap Observasi a. Kolaborator mengobservasi proses
pembelajaran dengan menggunakan
pembelajaran Active Learning metode Card
Sort
b. Kolaborator mengamati aktivitas belajar
siswa selama proses pembelajaran.
c. Mendokumentasikan kegiatan pembelajaran
dengan aktivitas siwa.
4. Tahap Refleks Peneliti bersama guru kelas yang berlaku sebagai
kolaborator dan observer menganalisis sekaligus
mengevaluasi proses pembelajaran pada siklus I,
apakah tindakan yang telah diberikan sudah sesuai
atau belum dengan konsep penelitian. Hasil
penelitian siklus I dibandingkan dengan indikator
keberhasilan. Apabila belum mencapai indikator
keberhasilan yang ditetapkan, maka akan dilanjutkan
ke siklus II. Kemudian peneliti dan kolaborator
berdiskusi untuk merencanakan tindakan yang tepat
pada proses pembelajaran di siklus II.
SIKLUS II dan Seterusnya

Penelitian dilanjutkan kembali ke siklus II dan seterusnya apabila tidak memenuhi


kriteria ketuntasan belajar. Pelaksanaan alur siklus II sama dengan pelaksanaan
alur siklus I dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I.

Penulisan Laporan Penelitian

G. Hasil Intervensi Tindakan Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dengan menerapkan pembelajaran active learning


metode card sort yaitu seluruh siswa mengalami peningkatan hasil belajar (N-gain)
dan (100%) mampu mencapai skor belajar > criteria ketuntasan minimum (KKM
75) Pendidikan Agama dan Budi Pekerti di sekolah tersebut.

H. Data dan Sumber Data

Data dan sumber data penelitian ini ada dua macam, yaitu :
1. Data kualitatif : hasil observasi guru dalam proses belajar mengajar, hasil
wawancara responden siswa, hasil wawancara guru mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti, hasil observasi aktivitas siswa, dan catatan
lapangan.
2. Data Kuantitatif: nilai tes siswa (pre test dan post test), sedangkan sumber data
dalam penelitian ini adalah siswa, guru mata pelajaran dan peneliti.

I. Teknik Pengumpulan Data

1. Hasil observasi proses pembelajaran, data ini berasal dari hasil observasi
terhadap tindakan pembelajaran.
2. Hasil dokumentasi
Dokumentasi yang dimaksud adalah berupa foto-foto yang diambil pada saat
pembelajaran berlangsung.
3. Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan mengadakan komunikasi
langsung dengan objek yang diteliti.
4. Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan mencatat semua temuan selama pembelajaran
yang diperoleh peneliti yang tidak teramati dalam lembar observasi. Bentuk
temuan ini berupa aktivitas belajar siswa dan permasalahan yang dihadapi
selama pembelajaran.
5. Teknik tes/penilaian
Nilai hasil belajar siswa yang diperoleh pada saat pembelajaran berlangsung
dan diperoleh dari tiap siklus
J. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Tes (pre test dan post test)
Tes yang diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa
dalam pelaksanaan pembelajaran active learning metode card sort untuk mencapai
KKM yang ditentukan sekolah. Tes tertulis berupa pre test dan post test. Pre test
yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai dan bertujuan untuk
mengetahui sampai dimana penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran yang akan
diajarkan. Sedangkan post test yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program
satuan pengajaran, tujuan post test adalah untuk mengetahui sampai dimana
pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan
pembelajaran. Soal-soal pre test dibuat sama dengan soal-soal post test. Tes
tersebut dalam Bentuk tes objektif jenis pilihan ganda sebanyak 20 soal tes. Tes ini
diberikan kepada siswa kelas X Multimedia 1 SMK Paramarta Tangerang Selatan
sebelum dan sesudah aktifitas pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran
active learning metode card sort.
2. Instrumen Non Tes
Dalam instrument non tes yang digunakan adalah sebagai berikut :
a) Lembar Observasi
Lembar observasi ini terbagi dua, yaitu lembar observasi guru kegiatan
belajar mengajar dan lembar observasi aktivitas siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Lembar observasi guru pada Kegiatan Belajar mengajar digunakan
pembelajaran Active Learning metode Card Sort, apakah terlaksana dengan baik
ataukah tidak. Lembar observasi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
digunakan untuk mengamati aktivitas siswa pada saat pembelajaran di kelas, serta
mengamati apa saja yang harus diperbaiki pada saat pembelajaran berlangsung.
b) Pedoman wawancara
Wawancara adalah salah satu bentuk evaluasi jenis non tes yang dilakukan
melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung.8 Dan
pada penelitian ini dilakukan wawancara secara langsung kepada guru mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Wawancara pada saat
observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi siswa serta untuk mengetahui
gambaran umum mengenai pelaksanaan pembelajaran dan masalah-masalah yang
diahadapi di kelas. Wawancara setelah tindakan dilakukan untuk mengetahui
pengaruh penggunaan pembelajaran active learning metode card sort terhadap
hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa. Wawancara
dilakukan kepada guru mata pelajaran sebelum dan sesudah penelitian.
c) Catatan Lapangan
Catatan diperlukan untuk mengamati seluruh kegiatan selama proses
pembelajaran berlangsung. Berbagai pengamatan tentang aspek pembelajaran di
kelas, suasana kelas, pengelolaan kelas, interaksi guru dengan siswa, dan aspek
lainnya yang perlu dicatat.
d) Dokumentasi
Dokumentasi ini berupa foto dan hasil tes siswa, foto berfungsi untuk
memberikan gambaran aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran,
sedangkan nilai hasil tes berfungsi untuk mengetahui penguasaan materi yang
diajarkan.

K. Teknik Pemeriksa Kepercayaan


Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang baik tentunya diperlukan instrumen
yang kualitasnya baik pula. Instrumen yang baik dapat ditinjau dari validitas. Suatu
instrumen disebut valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang
seharusnya diukur.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan hasil belajar
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa adalah tes formatif akhir siklus.
Validitas yang digunakan untuk instrumen kemampuan hasil belajar Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu validitas isi (content validity). Sebuah tes
dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang
sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Validitas isi dilakukan
dengan mengkonsultasikan instrumen tes tersebut kepada para pakar.
L. Analisis Data Dan Interpretasi Hasil Analisis

Data kuantitatif berupa nilai tes (pre test dan post test) pada setiap siklus. Data-
data tersebut peneliti sajikan ke dalam bentuk table, kemudian data dianalisis
dengan menggunakan analisis deskriptif berupa nilai persentase.

Pengujian teknik analisis data untuk nilai tes menggunakan analisis deskriptif
dari tiap siklus dengan menggunakan N-Gain untuk melihat selisih antara pre test
dan post test pada setiap siklus. “Gain adalah selisish antara nilai post test dan pre
test, gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa
setelah pembelajaran dilakukan oleh guru”

Untuk mengetahui selisih nilai tersebut, menggunakan rumus Meltzer.11

Skor post test- skor pre test


N Gain :
Skor ideal – skor pre test

Dengan kategori :

g tinggi : nilai (g) > 0,7


g sedang : 0,7 > (g) > 0,3
g rendah : nilai (g) < 0,3
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. SIKLUS I
a. Perencanaan (Panning)
1) Sebelum menyusun rencana pembelajaran, peneliti terlebih dahulu melakukan
identifikasi masalah terhadap proses pembelajaran di kelas dengan melakukan
diskusi serta wawancara terhadap guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
dan Budi Pekerti dan merencanakan langkah-langkah yang akan dilaksanakan
pada siklus I.
2) Peneliti bersama guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai
kolaborator menentukan pokok bahasan yang akan digunakan pada tindakan di
siklus I, yaitu materi “Asmaul Husna” dengan menggunakan pembelajaran
active learning metode card sort.
3) Setelah peneliti mengetahui masalah dan langkah-langkah yang akan dilakukan
pada siklus I. peneliti kemudian membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) sebagai persiapan untuk melakukan proses pembelajaran di kelas.
4) Menyiapkan media dan bahan belajar untuk mendukung kelancaran proses
pembelajaran
5) Peneliti menyiapkan pedoman wawancara untuk guru dan siswa berupa berupa
lembar observasi dan catatan lapangan yang telah di susun sebelumnya. Catatan
lapangan digunakan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran
berlangsung serta untuk mengetahui sejauh mana siswa aktif dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di kelas.
6) Peneliti menyiapkan alat dokumentasi berupa kamera untuk mendokumentasikan
proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di kelas.
7) Mempersiapakan alat evaluasi berupa tes hasil belajar, intrumen tes berupa
bentuk pilihan ganda berjumlah 20 butir soal untuk pre test dan post test siklus
instrument test pre test digunakan untuk mengukur pengetahuan awal siswa
sebelum melakukan proses pembelajaran, sedangkan post test digunakan untuk
mengetahui hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan


1) Pertemuan Pertama (Sabtu, 13 September 2014)
Kegiatan belajar mengajar pada pertemuan pertama berlangsung selama
2x40 menit dimulai pukul 12.30-13.50 WIB. Guru Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti hadir untuk membantu peneliti dalam melaksanakan kegaiatan
belajar mengajar hari ini untuk mengamati aktivitas belajar siswa dan aktivitas
peneliti dalam mengajar di kelas.

Sebelum proses pembelajaran dimulai guru (peneliti) memastikan kondisi


ruangan kelas bersih, posisi duduk siswa rapi, dan memastikan ruangan kelas
kondusif untuk melakukan proses pembelajaran, guru mengabsen kehadiran
siswa dan membuka proses pembelajaran dengan berdoa serta memberikan
apersepsi terkait materi yang akan disampaikan agar siswa dapat memfokuskan
dirinya untuk belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, kemudian guru
memberikan soal pre test kepada siswa untuk mengetahui kemampuan awal
siswa sebelum menerima materi Asmaul Husna. Jumlah soal sebanyak 20 butir
soal PG (Pilihan Ganda). Tes berlangsung selama 20 menit dan diikuti oleh 21
siswa. Setelah pre test, guru kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang akan dilaksanakan.

Dengan menggunakan media yakni power point guru menjelaskan materi


Asmaul Husna yakni dengan kompetensi Dasar Memahami makna asmaul husna
Al-Karim, Al-Mu’min, Al-Wakil, Al-Matin, Al-Jami’, Al-Adl, dan Al-Akhir.
Ketika proses pembelajaran tersebut, guru memberikan kesempatan siswa untuk
bertanya apabila ada hal-hal yang belum dipahami terkait materi pembelajaran,
namun pada siklus pertama ini siswa masih belum berani untuk bertanya
maupun mengungkapkan pendapatnya.

Setelah proses pembelajaran selesai, guru menjelaskan kepada siswa bahwa


pembelajaran kali ini menerapkan metode card sort untuk lebih meningkatkan
pemahaman terhadap materi pelajaran serta menjelaskan prosedur pelaksanaan
metode card sort tersebut, Guru membagikan kartu indeks berisi informasi
mengenai pengertian iman kepada Allah, arti Asmaul Husna, macam-macam dan
contoh sifat Asmaul Husna kedalam sifat manusia dicocokkan dengan beberapa
kategori dimana setiap kategori telah di tempel di dinding kelas. Kemudian guru
menjelaskan kepada siswa cara melakukan metode card sort yakni siswa
diinstruksikan agar mensortir kartu (Card Sort) dan kemudian menempatkannya
pada masing-masing kategori yang telah disediakan dan kemudian siswa harus
bergerak mencari kategori yang sesuai dengan kartu indeks yang dipegangnnya
dan kemudian menempelkannya pada masing- masing kategori tersebut sehingga
menjadi sebuah informasi. lima menit terakhir guru memberi motivasi siswa
bahwa di dalam diri setiap mu’min harus memiliki sikap semangat menuntut
ilmu dalam rangka mengaplikasikan pembelajaran tentang Asmaul Husna dan
kemudian menutup pelajaran dengan membaca doa dan mengucapkan salam.

Pada siklus I pertemuan pertama ini siswa terlihat masih canggung dengan
siswa lainnya dan masih bingung pada saat pencarian atau pemilihan kartu
sesuai kategori sehingga kondisi kelas menjadi ramai dan tidak kondusi. Hal ini
karena siswa masih belum terbiasa mempraktikkan metode card sort, akan tetapi
ada beberapa siswa yang mengerti dan memahami teknik tersebut.

Dari hal tersebut dapat disampaikan bahwa proses pembelajaran pada


pertemuan pertama ini siswa sudah mulai antusias dalam mengikuti proses
pembelajaran PAI dengan pembelajaran active learning metode card sort, namun
belum terlaksana dengan baik karena beberapa siswa belum mengerti dan
memahami metode tersebut, dan ada beberapa siswa yang memiliki semangat
belajar yang kurang baik, hal ini dapat terlihat ketika proses pembelajaran, ada
beberapa siswa yang masih terlihat bermalas-malasan, mengantuk, dan
terkadang memainkan handphone.

2) Pertemuan Kedua (Sabtu, 20 September 2014)


Guru (peneliti) memberi salam kemudian meletakan perlengkapan untuk
melakukan proses pembelajaran di atas meja yang telah disediakan, kemudian
memeriksa kebersihan ruangan agar proes pembelajaran dapat kondusif. Pada
saat itu, kondisi kelas masih dalam keadaan kotor, karena sebelumnya (pagi hari)
kelas tersebut dipakai oleh SMP Paramarta untuk belajar formal, Ketika bel
masuk berbunyi terkadang siswa masih belum selesai membersihkan kelas,
sehingga menghambat proses pembelajaran, waktu yang terpakai untuk
membersihkan kelas membuat guru terburu-buru menyampaikan materi
pembelajaran, karena waktu yang tidak efisien. Setelah kelas cukup bersih dan
rapi serta kondisi siswa dalam keadaan siap melaksanakan pembelajaran di
kelas, guru melakukan kegiatan pendahuluan yakni dengan membaca basmalah
secara bersama-sama dan kemudian mengabsen kehadiran siswa. Guru
mengkondisikan kesiapan siswa untuk melakukan proses pembelajaran, mulai
dengan memeriksa kerapihan pakaian, dan merapikan posisi duduk agar
sedapat mungkin siswa dapat nyaman serta proses pembelajaran dapat berjalan
secara efektif. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada
konsep materi Asmaul Husna. Guru memberikan motivasi akan pentingnya
menguasai materi ini dengan baik, yakni untuk membantu siswa dalam
memahami iman kepada Allah swt.
Pada tahap eksplorasi guru menjelaskan tentang Memahami makna asmaul
husna Al-Karim, Al-Mu’min, Al-Wakil, Al-Matin, Al-Jami’, Al-Adl, dan Al-
Akhir. Guru menjelaskan materi menggunakan media power point agar menarik
perhatian siswa serta untuk mendukung proses pembelajaran. Guru semaksimal
mungkin menyampaikan materi secara interaktif dengan merangsang
pengetahuan siswa, mempersilahkan siswa bertanya dan mengajukan
pendapatnya agar siswa lebih aktif dan lebih antusias mengikuti proses
pembelajaran. Guru berusaha mendorong siswa dengan pertanyaan yang relevan
dengan materi pelajaran supaya mampu berpikir kritis dan mampu
mengaplikasikan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap elaborasi, guru menempelkan kembali hasil kerja siswa minggu
lalu, yakni kategori-kategori beserta indeks kartu yang telah di tempelkan oleh
siswa,setiap kartu telah diberi nama sehingga masing-masing siswa dapat
mempersentasikan hasil pekerjaanya. Guru mempersilahkan siswa untuk
mejelaskan hasil pekerjaannya di depan siswa yang lain.
Pada tahap konfirmasi, guru mengoreksi hasil kegiatan siswa dengan
menyesuaikan kartu yang ditempel siswa dengan masing-masing kategori, jika
salah maka guru segera mengkonfirmasi kepada siswa dan memberikan
penjelasan terkait materi pelajaran yang terdapat pada kartu tersebut. Bagi
jawaban yang benar guru juga memberikan konfirmasi kembali agar materi
pelajaran yang disampaikan dapat dipahami siswa lebih mendalam.
Pada kegiatan akhir, guru menyimpulkan materi yang telah disampaikan
dan mempersilahkan siswa untuk bertanya terkait materi yang disampaikan.
Setelah itu guru mengadakan refleksi dan evaluasi terhadap materi yang
disampaikan melalui post test yang dilakukan oleh seluruh siswa tentang materi
soal pre test dan post test sama, sehingga memungkinkan siswa untuk
memprediksi kebenaran jawabannya saat melaksanakan post test.
c. Tahapan Observasi
1) Catatan Lapangan
a) Proses Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran diawali dengan pelaksanaan pre test dan kemudian
melakukan post test di akhir pembelajaran. Jumlah soal sebanyak 20 soal Pilihan
Ganda masing- masing pada pre test dan post test. Tes berlangsung selama 25
menit yang diikuti oleh 21 siswa. Kemudian dilanjutkan dengan penerapan
pembelajaran active learning metode card sort. Proses pembelajaran ini
dilakukan 2 kali pertemuan.
b) Aktivitas Guru
Sebelum pelajaran dimulai, guru (peneliti) memberikan apersepsi, guru
menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan media power point, guru
menerapkan pembelajaran active learning metode card sort dalam pelajaran PAI
pembahasan Asmaul Husna dan memberikan motivasi kepada siswa ketika proses
pembelajaran selesai.

c) Aktivitas Siswa
Siswa mendengarkan instruksi dan penjelasan guru walaupun masih ada saja
yang mengobrol dan bermalas-malasan. Siswa masih enggan bertanya kepada
guru, dan siswa hanya memperhatikan penjelasan guru tanpa menanyakan
kembali materi yang sedang disampaikan. Beberapa siswa masih melihat
pekerjaan temannya ketika menerapkan metode card sort. Dan siswa cukup
antusias dalam pembelajaran dan merasa senang dengan kartu-kartu dari metode
card sort tersebut, namun masih perlu adaptasi.

No Nama Pre Post Test N Gain Kategori


Test
1 S1 75 85 0,4 Sedang
2 S2 45 50 0,09 Rendah
3 S3 65 80 0,4 Sedang
4 S4 50 70 0,4 Sedang
5 S5 70 70 0 Rendah
6 S6 65 75 0,3 Sedang
7 S7 75 80 0,2 Rendah
8 S8 70 85 0,4 Sedang
9 S9 70 80 0,3 Sedang
10 S10 40 55 0,25 Rendah
11 S11 45 80 0,6 Sedang
12 S12 70 75 0,2 Rendah
13 S13 50 75 0,5 Sedang
14 S14 65 65 0 Rendah
15 S15 75 85 0,4 Sedang
16 S16 60 65 0,1 Rendah
17 S17 65 85 0,3 Sedang
18 S18 70 75 0,2 Rendah
19 S19 60 75 0,1 Rendah
20 S20 75 80 0,2 Rendah
21 S21 70 75 0,2 Rendah
Terkecil 40 50
Terbesar 75 85
Jumlah 1330 1565
Rata-Rata 63,3 74.5 0,3 Sedang

Bberdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar Pre Test, nilai
terbesar adalah 75, dan nilai terkecil adalah 40 dengan jumlah 1330, dan rata- rata
63,3. Sedangkan Post Test, nilai terbesar adalah 85, dan nilai terkecil adalah 50
dengan jumlah 1565, dan rata-rata sebesar 74,5. Dengan begitu ketuntasan hasil
belajar dapat dilihat dari hasil Post Test diatas nilai KKM yaitu 75 yang diperoleh
pada siklus I adalah 74,5 yang menunjukkan, bahwa pembelajaran active learning
metode card sort ini meningkat. Jika diukur dengan N- Gain, kemampuan siswa
sebesar 0,3 kategori sedang. Pada Siklus I sebanyak 6 dari 21 jumlah siswa yang
memperoleh nilai dibawah KKM yaitu hanya sebesar 28,57%. Oleh karena itu
penelitian ini harus dilanjutkan pada siklus II, karena peneliti mengharapkan agar
seluruh siswa mencapai ketuntasan hasil belajar sebesar 100%.

d) Tahap Refleksi

Tahapan refleksi pada siklus I ini, bahwa kegiatan dengan pembelajaran


active learning metode card sort mampu memberikan peningkatan hasil belajar
siswa, serta dapat membangun keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pembahasan Asmaul Husna.
Meskipun prosesnya masih banyak kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam
proses pembelajaran. Kekurangan-kekurangan yang ditemukan dari hasil
observasi di atas tentunya harus diatasi dalam siklus berikutnya.

Karena penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dan tujuan


penelitian untuk mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan dengan KKM
yang diterapkan oleh sekolah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Budi Pekerti harus tercapai.

e) Keputusan Siklus I

Dilihat dari hasil belajar siswa belum mencapai 100% KKM yang diharapkan
sekolah, begitu pula dengan proses pembelajaran menggunakan pembelajaran
active learning metode card sort masih banyak kekurangan- kekurangan yang
harus dibenahi. Karena penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang
menyelesaikan masalah sampai dengan tuntas, maka hasil observasi baik itu
pengamatan, wawancara, maupun hasil belajar belum tercapai sesuai dengan yang
diharapkan. Maka dapat diputuskan penelitian ini dilanjutkan dengan siklus
berikutnya yaitu siklus II.

B. SIKLUS II

a. Tahap Perencanaan (Planning)


1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2) Mempersiapakan alat evaluasi berupa tes hasil belajar, intrumen tes berupa
bentuk pilihan ganda berjumlah 20 butir soal untuk pre test dan post test siklus
II. Instrumen test pre test digunakan untuk mengukur pengetahuan awal siswa
sebelum melakukan proses pembelajaran, sedangkan post test digunakan untuk
mengetahui hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran.
3) Mempersiapkan alat dan bahan untuk menerapkan metode card sort
4) Mengatur alokasi waktu agar sesuai dengan target yang telah ditentukan
5) Mempersiapkan media pembelajaran berupa power ponit untuk mempermudah
proses pembelajaran agar lebih efektif dan efisien
6) Memberikan pengarahan kepada siswa secara detail tentang penerapan metode
card sort
7) Guru memberikan waktu optimal agar proses pembelajaran tidak terburu
sehingga menciptakan suasana yang santai, tidak terburu dan tidak tegang
8) Guru harus memiliki sikap tegas terhadap siswa yang bermalas- malasan dan
cenderung tidak focus terhadap proses pembelajaran

b. Tahap Pelaksanaan (Acting)

Siklus II ini terdiri dari dua kali intervensi tindakan pembelajaran dan satu kali
tes di akhir siklus II, yang dilaksanakan pada tanggal 27 September dan tanggal 4
Oktober 2014. Berikut adalah deskripsi dari hasil intervensi tindakan siklus II setiap
pertemuan.
1) Pertemuan Ketiga (Sabtu, 27 September 2014)
Pada pertemuan ketiga ini seperti biasa guru memastikan kebersihan kelas,
kerapihan pakaian siswa dan posisi tempat duduk siswa yang kondusif, siswa
sudah mulai mandiri untuk duduk di bangku secara rapi dan kondisi kelas sudah
bersih. Sebelum pembelajaran dimulai guru dan siswa melaksanakan doa
bersama yakni membaca basmalah, setelah itu guru mengabsen kehadiran siswa
untuk memastikan kehadiran siswa dan keadaan masing-masing siswa.
Kemudian guru memberikan pre test kepada siswa untuk mengetahui
kemampuan awal siswa sebelum pembahasan materi dilakukan, setelah siswa
melaksanakan pre test guru mengumpulkan hasil tes siswa dan kemudian guru
menjelaskan tujuan pembelajaran.
Selanjutnya guru mulai menjelaskan materi pembelajaran, karena guru telah
dapat menguasai kelas maka sebagian besar siswa memperhatikan dan
mendengarkan penjelasan. Setelah menjelaskan materi pelajaran, guru
menerapkan pembelajaran active learning metode card sort. Siswa masing-
masing diberi potongan kartu yang berisi materi Asmaul Husna.
Guru meminta setiap siswa untuk bergerak keliling di dalam kelas untuk
mencari kartu induk yang cocok dengan kata tersebut. Guru juga menjelaskan
kembali kepada setiap siswa bahwa kegiatan ini merupakan latihan pencocokan.
karena pada pertemuan sebelumnya siswa telah melakukan hal ini, maka siswa
tidak bingung lagi dengan apa yang akan dilakukan. Setelah setiap siswa
menemukan kartu yang cocok, siswa beradu cepat untuk menempelkan ke
lembar kata kunci sehingga menjadi sebuah informasi terkait materi pelajaran.
lima menit terakhir guru memberi apresiasi dan motivasi siswa agar semangat
dalam menuntut ilmu dan meraih cita-cita, dan kemudian guru menutup
pelajaran dengan membaca doa dan salam.
Pada pembelajaran kali ini siswa terlihat lebih aktif dan antusias
dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan keaktifan
siswa ketika melaksanakan metode card sort, siswa lebih aktif bertanya dan
keadaan kelas lebih kondusif. Namun ada beberapa siswa yang izin keluar untuk
pergi ke toilet dan kondisi sekolah kurang mendukung karena ada pelatihan
pramuka di lapangan sekolah sehingga banyak kegaduhan yang terdengar hingga
ke dalam kelas. Untuk keadaan siswa secara keseluruhan, mereka sudah mulai
terbiasa menerapkan metode card sort dan siswa lebih antusias terhadap mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dibanding pertemuan
sebelumnya.
2) Pertemuan Keempat (Sabtu, 4 Oktober 2014)
Seperti biasa sebelum proses pembelajaran dimulai, siswa berdoa terlebih
dahulu kemudia guru mengabsen siswa dan memastikan duduk dalam keadaan
rapi dan tertib, kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Guru
menginformasikan kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari pada hari ini
terkait dengan materi yang lalu yaitu materi Asmaul Husna dan memberitahukan
kepada siswa bahwa materi yang akan dipelajari pada hari ini dilakukan dengan
metode card sort yang dilaksanakan dengan diskusi dan menjelaskan melalui
power point. Setelah menjelaskan materi melalui power point guru memberikan
instruksi untuk melaksanakan metode card sort seperti pertemuan sebelumnya.
Setelah itu guru melakukan evaluasi dan refleksi untuk menyamakan persepsi
dengan menjelaskan kembali materi yang telah dilakukan.
Kemudian guru memberikan tes hasil belajar atau post test pada siklus II, tes
ini berbentuk pilihan ganda yang telah diuji validitas soal, soal berjumlah 20 soal
yang diikuti oleh semua siswa.
c. Tahap Observasi
1. Catatan Lapangan
a) Proses Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran diawali dengan pelaksanaan pre test dan kemudian
melakukan post test di akhir pembelajaran. Jumlah soal sebanyak 20 soal Pilihan
Ganda masing- masing pada pre test dan post test. Tes berlangsung selama 25
menit yang diikuti oleh 21 siswa. Kemudian dilanjutkan dengan penerapan
pembelajaran active learning metode card sort. Proses pembelajaran ini dilakukan
2 kali pertemuan.
b) Aktivitas Guru
Sebelum pelajaran dimulai, guru (peneliti) memberikan apersepsi, guru
menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan media power point, ketika
menjelaskan materi pelajaran, guru lebih aktif merangsang siswa agar bertanya
mau bertanya. Guru menerapkan pembelajaran active learning metode card sort
dalam pelajaran PAI pembahasan Asmaul Husna dan memberikan motivasi
kepada siswa ketika proses pembelajaran selesai.

c) Aktivitas Siswa
Semua siswa antusias mengikuti pembelajaran walaupun masih ada satu
atau dua siswa yang membuat gaduh, sesekali memainkan handphone dan
bermalas-malasan. Siswa mulai berani bertanya walaupun masih malu-malu,
siswa perperan aktif dalam menerapkan pembelajaran active learning metode
card sort, karena sudah terbiasa melakukan kegiatan tersebut siswa tidak
canggung untuk melaksanakannya. Terlihat pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran sehingga dapat menyelesaikan tugasnya masing-masing dengan baik
dan tepat waktu tanpa bertanya kepada temannya.

2. Hasil Belajar
Berdasarkan hasil test (pre test dan post test) yang diperoleh pada siklus II,
mengenai Asmaul Husna dengan jumlah 21 orang dalam satu kelas dengan
menggunakan pembelajaran active learning metode card sort. Data nilai pre test,
diperoleh dari hasil tes sebelum siswa mempelajari materi tersebut dan belum
diterapkannya pembelajaran active learning metode card sort, serta nilai post test
diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran active
learning metode card sort. Data nilai pre test dan post test tersebut sebagai berikut :
No Nama Pre Test Post N Gain Kategori
Test
1 S1 60 80 0,5 Sedang
2 S2 50 75 0,5 Sedang
3 S3 25 75 0,67 Sedang
4 S4 70 85 0,5 Sedang
5 S5 60 85 0,63 Sedang
6 S6 70 90 0,67 Sedang
7 S7 60 75 0,38 Sedang
8 S8 65 95 0,86 Tinggi
9 S9 65 100 1,00 Tinggi
10 S10 70 80 0,3 Rendah
11 S11 70 80 0,3 Rendah
12 S12 80 85 0,25 Rendah
13 S13 60 75 0.38 Sedang
14 S14 65 75 0,3 Rendah
15 S15 85 90 0,3 Rendah
16 S16 55 85 0,67 Sedang
17 S17 70 80 0,3 Rendah
18 S18 65 75 0,28 Rendah
19 S19 50 80 0,6 Sedang
20 S20 75 95 0,8 Tinggi
21 S21 70 95 0,83 Tinggi
Terkecil 25 75
Terbesar 85 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar pre test, nilai
terbesar adalah 85 dan nilai terkecil adalah 25 dengan jumlah 1340 dan rata-rata
63,8. Sedangkan Post Test, nilai terbesar adalah 100, dan nilai terkecil adalah 75
dengan jumlah 1755, dan rata-rata sebesar 83,6, dengan begitu ketuntasan hasil
belajar dapat dilihat dari hasil post test diatas nilai KKM 63,8 yang diperoleh pada
siklus II adalah 83,6 yang menunjukkan bahwa pembelajaran active learning
metode card sort ini meningkat. Jika dihitung menggunakan N-Gain kemampuan
siswa sebesar 0,55 dengan kategori sedang. Yang semula nilai rata-rata 63,8
menjadi 83,6.

d. Tahap Refleksi

Berdasarkan pengamatan selama penelitian siklus II diperoleh keterangan


bahwa pembelajaran PAI di kelas X Multimedia 1 sudah mulai efektif. Siswa mulai
terbiasa menggunakan pembelajaran active learning metode card sort dalam proses
pembelajaran, siswa Nampak lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga
menciptakan keadaan kelas yang lebih efektif di bandingkan dengan siklus I. Nilai
rata-rata untuk pre test pada siklus II adalah 83,6 lebih meningkat dibandingkan pre
test siklus I sebesar 63,3.

Setelah dilakukan post test pada akhir siklus data yang diperoleh adalah nilai
rata-rata post test siklus II adalah adalah 83,6 lebih meningkat dibandingkan siklus
I sebesar 74,5. Dengan nilai tertinggi pada siklus II yaitu 100 dan nilai terendah 75
sehingga tidak ada lagi siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM yaitu 75.
Seluruh siswa sudah memenuhi KKM atau dapat dikatakan mencapai keberhasilan
100%. Jika dihitung menggunakan rumusan N-Gain kemampuan siswa mengalami
peningkatan 0,55 atau masuk ke dalam kategori sedang. Hasil dari siklus II sudah
mencapai 100% berarti tindakan sudah dapat dihentikan dan tidak perlu
melanjutkan pada siklus selanjutnya.

e. Keputusan Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh dari hasil belajar dan aktivitas
belajar tentang pembelajaran active learning metode card sort menunjukkan hasil
positif, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan psikomotorik
siswa dalam memahami materi pembahasan Asmaul Husna sudah mencapai kriteria
yang diharapkan. Ini terbukti dengan nilai pre test siklus I sebesar 63,33 meningkat
pada post test menjadi 74,5 dan nilai N-Gain 0,3. Pada pre test siklus II sebesar
63,8 meningkat pada post test menjadi 83,6 dan nilai N-Gain 0,55 atau dapat
dikatakan pada siklus II nilai yang dicapai sudah mencapai KKM yaitu 75, oleh
karena itu tidak perlu dilanjutkan lagi ke tindakan pembelajaran siklus III.

C. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, catatan lapangan dan tes hasil belajar,
maka dapat ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti siswa diantaranya adalah suasana kelas yang kurang
kondusif sehingga mengurangi daya konsentrasi siswa, metode pembelajaran yang
membosankan sehingga siswa merasa jenuh dan mengalihkan perhatiannya seperti
mengobrol, main handphone, mendengarkan musik dengan menggunakan headset,
bahkan sampai ada yang tertidur, siswa masih merasa kesulitan dan kurang tertarik
terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, kurangnya
motivasi sehingga siswa kurang berminat terhadap pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti dan dampaknya adalah hasil belajar Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti siswa rendah. Masalah-masalah tersebut di atas akan
menghambat siswa dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri masing-
masing siswa. Pada akhirnya hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti yang diperoleh pun tidak sesuai dengan keinginan dalam arti tidak
memuaskan.
Pada siklus I, mayoritas siswa belum mengetahui dan memahami dalam
langkah-langkah pembelajaran active learning metode card sort, sehingga siswa
kurang percaya diri dan penerapan metode card sort kurang efektif. Hal ini dapat
dilihat dari dari masing-masing siswa yang memiliki kemampuan lebih bergerak
cepat dan tepat, sedangkan siswa yang belum paham bergerak lambat. Hal ini
mungkin siswa belum terbiasa dengan pembelajaran active learning metode card
sort.
Dengan diterapkannya pembelajaran active learning metode card sort ini dapat
meningkatkan hasil belajar siswa, ini dapat terlihat pada nilai pre test dan post test
pada siklus I dengan jumlah pre test sebesar 1330 dengan rata-rata 63,3 meningkat
pada jumlah post test sebesar 1565 dengan rata-rata 74,5. Dan memperoleh nilai N-
Gain 0,3 dengan kategori sedang. Sedangkan pada pre test dan post test pada siklus
II dengan jumlah pre test sebesar 1340 dengan rata-rata 63,8 meningkat pada
jumlah post test sebesar 1755 dengan rata-rata 83,6 dan memperoleh nilai N-Gain
sebesar 0,55 dengan kategori sedang. Dari siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan pada pembelajaran active learning metode card sort, karena pada
pembelajaran ini, siswa dapat lebih berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran
pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Perbandingan nilai siswa pada saat pre test dan post test, pada siklus I sebanyak
6 dari 21 jumlah siswa yang belum memperoleh nilai dibawah KKM yaitu sebesar
28,57%, dan mencapai keberhasilan 71,43%. Sedangkan pada siklus II seluruh
siswa telah mencapai nilai KKM sebesar 100%. Pembelajaran active learning
metode card sort menjadi variasi metode belajar, hal tersebut membuat siswa tidak
bosan dan jenuh sehingga minat belajar mereka meningkat.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI dan SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dengan menerapkan pembelajaran active learning
metode card sort pada pembahasan Asmaul Husna, maka dapat disimpulkan bahwa
penerapan pembelajaran active learning metode card sort dapat meningkatkan hasil
belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti siswa kelas X Multimedia 1
SMK Paramarta Tangerang Selatan. Hal ini dapat terlihat pada nilai pre test dan
post test pada siklus I dengan jumlah pre test sebesar 1330 dengan rata-rata 63,3
meningkat pada jumlah post test sebesar 1565 dengan rata-rata 74,5. Dan
memperoleh nilai N-Gain 0,3 dengan kategori sedang. Sedangkan pada pre test dan
post test pada siklus II dengan jumlah pre test sebesar 1340 dengan rata-rata 63,8
meningkat pada jumlah post test sebesar 1755 dengan rata-rata 83,6 dan
memperoleh nilai N-Gain sebesar 0,55 dengan kategori sedang. Perbandingan nilai
siswa pada saat pre test dan post test, pada siklus I sebanyak 6 dari 21 jumlah siswa
yang belum memperoleh nilai dibawah KKM yaitu sebesar 28,57%, dan mencapai
keberhasilan 71,43%. Sedangkan pada siklus II seluruh siswa telah mencapai nilai
KKM sebesar 100%. Dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan pada
pembelajaran active learning metode card sort, karena pada pembelajaran ini, siswa
dapat lebih berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

B. IMPLIKASI
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan menggunakan
pembelajaran active learning metode card sort dapat dijadikan sebagai bahan acuan
untuk mengadakan penelitian selanjutanya dari sudut permasalahan yang berbeda.
Serlain itu dapat diimplementasikan sebagai bahan kajian pendekatan pembelajaran
bagi guru untuk diterapkan di SMK Paramarta Tangerang Selatan sebagai
alternative metode pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Berdasarkan dari hasil penelitian dan kesimpulan, maka peneliti sampaikan
beberapa implikasi sebagai berikut: bagi siswa, pembelajaran active learning
metode card sort ternyata mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan kualitas belajar Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti metode ini dapat dipakai dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti selanjutnya yang sesuai dengan materi pelajaran.
Bagi guru, pembelajaran active learning metode card sort dalam mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, dapat dijadikan alternative pilihan
pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi sekolah, agar
pelaksanaan kegiatan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti dapat dilakukan dengan baik dan mandiri perlu ditunjang dengan
pembelajaran dengan sumber-sumber belajar lainnya yang dapat dijadikan pedoman
dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, pihak sekolah diharapkan pro aktif
memfasilitasi segala kebutuhan guru dan siswa dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan. Dan bagi peneliti sendiri agar lebih giat memberikan pembelajaran
kepada siswa dengan variasi metode pembelajaran lainnya yang tentunya sesuai
dengan materi/konsep Asmaul Husna khususnya dan begitu pula Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti umumnya.

C. SARAN
Berdasarkan pada kesimpulan di atas, maka peneliti mencoba mengajukan
beberapa saran agar menjadi masukan yang sekiranya dapat berguna, diantaranya :
1. Pihak sekolah hendaknya memberikan dukungan pada pengembangan
pembelajaran active learning metode card sort sehingga pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berjalan secara efektif.
2. Diharapkan guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti khususnya di
SMK Paramarta Tangerang Selatan menerapkan pembelajaran active learning
metode card sort. Karena pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar
siswa dan mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, sehingga siswa mampu mencapai
prestasi yang lebih baik.
3. Diharapkan bagi para pendidik dapat memilih metode atau cara mengajar yang
tepat, agar dapat memicu semangat dalam kegiatan proses pembelajaran, dapat
menumbuhkan minat dan motivasi dalam mengikuti pelajaran, sehingga pada
akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
4. Pembelajaran active learning metode card sort perlu dikembangkan dan
diterapkan pada pokok bahasan lain. Sehingga perlu adanya penelitian lebih
lanjut sebagai pengembangan penelitian ini.