Anda di halaman 1dari 7

Abses peritonsil

Etiologi
• Komplikasi tonsillitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mucus weber di kutub atas
tonsil
• Kuman aerob dan anaerob
❖ Organisme aerob yang paling sering :
▪ Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptoccus),
▪ Staphylococcus aureus,
▪ Haemophilus influenzae.
❖ Organisme anaerob :
▪ Prevotella,
▪ Porphyromonas,
▪ Fusobacterium,
▪ Peptostreptococcus spp
• Virus : eipsten-barr, adenovirus, influenza A dan B, herpes simplex, dan parainfluenza

Patologi
• Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris : jaringan ikat longgar → infiltrasi supurasi ke ruang
peritonsil → tampak palatum mole bengkak
• Pada stadium awal (infiltrate) : tampak pembengkakan dan permukaan hiperemis → stadium
lanjut : terjadi supurasi → daerah tersebut lebih lunak → pembengkakan peritonsil akan
mendorong uvula kearah kontralateral → proses berlanjut : peradangan di jaringan sekitar →
iritasi M.pterigoid interna → trismus
• Abses dapat pecah spontan → aspirasi ke paru

Gejala dan tanda


• Odinofagia (nyeri menelan)
• Otalgia (nyeri telinga)
• Foetor ex ore (mulut berbau)
• Hipersalivasi
• Suara gumam ( hot potato voice)
• Trismus (sukar membuka mulut)
• Pembengkakan kelenjar submadibula dengan nyeri tekan

Tatalaksana
• Aspirasi needle → penanganan yang efektif pada 75 % abses peritonsiler pada anak-anak
• Tonsilektomi → jika riwayat tonsilitis rekuren atau abses peritonsiler
• Penisilin merupakan “drug of chioce” pada abses peritonsilar dan efektif pada 98% kasus jika
yang dikombinasilakn dengan metronidazole
• Kemudian pasien dinjurkan untuk operasi tonsilektomi “a” chaud → tonsilektomi dilakukan
Bersama dengan tindakan drainase
• Bila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut tonsilektomi “a” tiede
• Bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah drainase abses disebut tonsilektomi “a” froid.
• Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu sesudah
drainase abses

Komplikasi
• Abses pecah spontan, dapat mengakibatkan perdarahan, aspirasi pari, atau piemia.
• Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring. Pada
penjalaran selanjutnya, masuk ke mediastinum, sehingga terjadi mediastintis.
• Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat mengakibatkan trombus sinus kavernosus,
meningitis, dan abses otak.
Abses retrofaring
• Biasanya ditemukan pada anak usia <5 tahun → karena ruang retrofiring masih berisi kelenjar
limfa → menampung aliran limfa dari hidung, sinus paranasal, nasofaring, faring, tuba
eustachius, dan telinga tengah → pada usia >6 tahun kelenjar limfa akan mengalami atrofi

Etiologi
• ISPA yg menyebabkan limfadenitis retrofiring
• Trauma dinding posterior faring akibat benda asing (tulang ikan) atau tindakan medis
(adenoidektomi, intubasi endotrakea, endoskopi)
• Tuberculosis vertebra servikalis bagian atas (abses dingin)

Gejala dan tanda


• Odinofagi dan disfagi
• Demam, leher kaku, dan nyeri
• Sesak napas (sumbatan jalan napas
• Stridor (bila radang sampai faring)
• Perubahan suara (krn abses mengganggu resonansi suara)
• Benjolan unilateral pada dinding posterior faring
• Mukosa bengkak dan hiperemis

Diagnosis
• Riwayat ISPA atau trauma
• Gejala dan tanda
• Rontgen jaringan lunak leher lateral
o pelebaran ruang retrofaring >7mm pada anak dan dewasa ,
o pelebaran retrotrakeal >14mm pada anak, dewasa >22mm,
o terlihatnya lordosis vertebra servikal

Terapi
• medikamentosa : antibiotic dosis tinggi untuk aerob dan anaerob
• pungsi dan insisi abses melalui laringoskop langsung dalam posisi baring trendelnburg
• pasien rawat inap sampai gejala dan tanda mereda

Komplikasi
• penjalaran ke ruang parafaring, raung vaskuler visera
• mediastintis
• obstruksi jalan napas sampai asfiksia
• bila pecah spontan → sebabkan pneumonia aspirasi dan abses paru
Abses parafaring
• ruang parafaring mengalami infeksi dengan cara
o langsung (tusukan jarum yang terkontaminasi kuman menembus lapisan otot tipis (M.
konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa tonsilaris saat
tonsilektomi dengan analgesi
o proses supurasi kelenjar limfe leher bagian dalam, gigi , tonsil, faring, hidung, sinus
paranasal, mastoid, dan vertebra servikal → sumber infeksi abses parfaring
o penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring, atau submandibular

Gejala dan tanda


• Trismus (utama)
• Indurasi
• Pembengkakan sekitar angulus mandibula
• Demam tinggi
• Pembengkakan dinding lateral faring → shg menonjol ke daerah medial

Diagnosis
• Berdasarkan riw. Penyakit, tanda gejala
• Rontgen jaringan luna AP
• CT scan

Komplikasi
• Peradangan dapat menjalan secara hematogen, limfogen, atau langsung ke daerah sekitarnya
• Penjalaran ke atas : peradangan intracranial
• Penjalaran ke bawah : mencapai selubung karotis → mediastinum
• Kerusakan dinding pembuluh darah
• Bila pembuluh karotis nekrosis → terjadi rupture → perdarahan hebat
• Bila tjd periflebitis / endoflebitis → dpt timbul tromboflebitis/septicemia

Terapi
• Antibiotika parenteral dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob
• Insisi dari luar dan intraoral → bila tidak ada perbaikan dgn antibiotic
• Insisi dari luar dilakukan : 2,5 jari dibawah dan sejajar mandibula
• Pasien rawat inap sampai gejala dan tanda infeksi reda
Abses submandibular
• Ruang submandibular terdiri dari : ruang sublingual dan ruang submaksila → dipisahkan oleh M.
milohioid
• Ruang submaksila dibagi jadi : ruang submental dan ruang submaksila (lateral) oleh otot
digastricus anterior

Etiologi
• Sumber infeksi dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau kelenjar limfa submandibular\
• Kuman : campuran aerob dan anaerob

Gejala dan tanda


• Demam
• Nyeri leher
• Bengkak dibawah mandibula atau bawah lidah
• Trismus

Terapi
• Antibiotic parenteral dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob
• Insisi
Angina Ludovici
• Infeksi ruang submandibular berupa selulitis dengan tanda khas berupa pembengkakan seluruh
ruang submandibula, tidak membentuk abses , sehingga keras pada perabaan submandibular

Etiologi
• Sumber infeksi dari gigi atau dasar mulut
• Kuman aerob dan anaerob

Gejala dan tanda


• Nyeri tenggorok dan leher
• Bengkak pada submandibular → tampak hiperemis dan keras pada perabaan
• Dasar mulut bengkak → mendorong lidah ke atas belakang → sesak napas

Diagnosis
• Riwayat sakit gigi
• Korek / cabut gigi
• Gejala dan tanda
• Pada pseudo angina Ludovici dapat terjadi fluktuasi

Terapi
• Antibiotic parenteral dosis tinggi untuk aerob dan anaerob
• Eksplorasi (mengurangi ketegangan)
• Evakuasi pus atau jaringan nekrosis
• Rawat inap sampai infeksi reda

Komplikasi
• Sumbatan jalan napas
• Penjalaran abses ke ruang leher dalam laindan mediastinum
• Sepsis