Anda di halaman 1dari 21

PERSAMAAN HAMILTON

Makalah ini disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Mekanika
Dosen Pengampu:
Winda Setya, S.Si., M.Sc.

Pina Pitriana, S.Si., M.Si.

Disusun oleh: Kelompok 4


Nadiati Nur Azizah 1172070057
Nadya Febriyanti Utami 1172070058
Ranti Suryani 1172070062
Riana Lady Flara 1172070064
Rifadiyah Nurul Khotimah 1172070065
Kelas: V/B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG
DJATI
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat


limpahan rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah
dengan judul ”Persamaan Hamilton” ini dengan baik. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Mekanika.
Makalah mengenai “Persamaan Hamilton” ini telah dibuat dengan
semaksimal mungkin. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Namun terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih
terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami
menerima kritik dan saran yang membangun agar kedepannya penyusun
dapat membuat makalah yang lebih baik.

Bandung, 06 September 2019

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2

C. Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II ..................................................................................................................... 3

LANDASAN TEORI .............................................................................................. 3

A. Penurunan Persamaan Lagrange Dari Prinsip Hamilton .......................... 3

B. Fungsi Hamilton ....................................................................................... 5

C. Persamaan Hamilton................................................................................. 8

D. Gerak suatu Sistem Mekanik dengan Menggunakan Persamaan Hamilton

10

BAB III ................................................................................................................. 16

PENUTUP ............................................................................................................. 16

A. Kesimpulan ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Persamaan gerak partikel yang dinyatakan oleh persamaan Lagrange
dapat diperoleh dengan meninjau energi kinetik dan energi potensial partikel
tanpa perlu meninjau gaya yang beraksi pada partikel. Energi kinetik partikel
dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari kecepatan, energi potensial
partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif adalah fungsi dari
posisi. Jika didefinisikan Lagrangian sebagai selisih antara energi kinetik dan
energi potensial.
Jika ditinjau gerak partikel yang terkendala pada suatu permukaan
bidang, maka diperlukan adanya gaya tertentu yakni gaya konstrain yang
berperan mempertahankan kontak antara partikel dengan permukaan bidang.
Namun, tak selamanya gaya konstrain yang beraksi terhadap partikel dapat
diketahui. Pendekatan Newton memerlukan informasi gaya total yang beraksi
pada partikel. Gaya total ini merupakan keseluruhan gaya yang beraksi pada
partikel, termasuk juga gaya konstrain. Oleh karena itu, jika dalam kondisi
khusus terdapat gaya yang tak dapat diketahui, maka pendekatan Newton
tidak berlaku. Sehingga diperlukan pendekatan baru dengan meninjau
kuantitas fisis lain yang merupakan karakteristik partikel, misal energi
totalnya. Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan prinsip Hamilton,
dimana persamaan Lagrange yakni persamaan umum dinamika partikel dapat
diturunkan dari prinsip tersebut.
Dari prinsip Hamilton, dengan mensyaratkan kondisi nilai stasioner
maka dapat diturunkan persamaan Lagrange. Persamaan Lagrange merupakan
persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari koordinat umum, kecepatan
umum, dan mungkin waktu. Ketergantungan Lagrangian terhadap waktu
merupakan konsekuensi dari hubungan konstrain terhadap waktu atau
dikarenakan persamaan transformasi yang menghubungkan koordinat
kartesian dan koordinat umum mengandung fungsi waktu. Pada dasarnya,

1
persamaan Lagrange ekivalen dengan persamaan gerak Newton, jika
koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.
Dalam mekanika Newtonian, konsep gaya diperlukan sebagai
kuantitas fisis yang berperan dalam aksi terhadap partikel. Dalam dinamika
Lagrangian, kuantitas fisis yang ditinjau adalah energi kinetik dan energi
potensial partikel. Keuntungannya, karena energi adalah besaran skalar, maka
energi bersifat invarian terhadap transformasi koordinat.
Dalam kondisi tertentu, tidaklah mungkin atau sulit menyatakan
seluruh gaya yang beraksi terhadap partikel, maka pendekatan Newton
menjadi rumit pula atau bahkan tak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, pada
perkembangan berikutnya dari mekanika, prinsip Hamilton berperan penting
karena ia hanya meninjau energi partikel saja.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan beberapa
permasalahan dalam makalah ini yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan Persamaan Hamilton?
2. Bagaimna fungsi Persamaan Hamilton?
3. Bagaimana bentuk Persamaan Hamilton?
4. Bagaimana gerak suatu sistem mekanik dengan menggunakan Persamaan
Hamilton?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui Persamaan Hamilton.
2. Untuk mengetahui fungsi Persamaan Hamilton.
3. Untuk mengetahui bentuk Persamaan Hamilton.
4. Untuk mengetahui gerak suatu sistem mekanik dengan menggunakan
Persamaan Hamilton.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Penurunan Persamaan Lagrange Dari Prinsip Hamilton

Berikut ini akan disajikan cara lain untuk menurunkan persamaan


Lagrange, yaitu dengan menggunakan prinsip variasi Hamilton. Prinsip ini
menyatakan bahwa gerak suatu sistem dari saat t1 sampai dengan saat t2
adalah sedemikian hingga integral

Dimana L = T- V adalah fungsi Lagrange, yang berharga ekstrimum untuk


lintasan yang dilalui sistem di dalam ruang konfigurasi (lihat Gambar 1).

Gambar 1 Lintasan titik sistem dalam ruang


konfigurasi
Ruang konfigurasi adalah ruang euclead n-dimensi di mana
koordinatnya adalah koordinat umum qk, dan setiap titik dalam ruang
merepresentasikan suatu konfigurasi keadaan yang mungkin.
Jadi dari kemungkinan-kemungkinan lintasan yang dilalui sistem,
lintasan yang sebenarnya dilalui sistem dari posisi pada saat t1 sampai posisi
pada saat t2 adalah lintasan di mana integral I adalah bersifat ekstrimum,
baik minimum ataupun maksimum. Dengan kata lain prinsip Hamilton
menyatakan bahwa gerak sistem dari t1 dan t2 yang membuat aksi berikut
stasioner, sehingga dapat ditulis

3
Titik stasioner dari I diperoleh dengan memvariasikan lintasan yang kita
ambil. Lintasan yang menghasilkan I yang konstan walaupun lintasannya
diubah sedikit, maka lintasan tersebut adalah merupakan lintasan yang dicari.
Marilah kita cari lintasan stasioner dari integral berikut ini (lihat Gambar 1.b)

Nilai pada titik ujung adalah konstan sehingga,

untuk bisa memvariasikan lintasan, kita harus memasukkan suatu parameter

di mana ղ(x) adalah fungsi gangguan kecil, dengan ղ(x1) = ղ(x2) = 0


sehingga persamaan (1.31) dapat dituliskan dalam parameter , yaitu

J( dapat kita hitung

dengan menggunakan kalkulus biasa dengan syarat

perhatikan suku kedua, dan lakukan integrasi parsial akan diperoleh

4
misalkan , maka ղ(x1) = ղ(x2) = 0, sehingga persamaan (1.36)

dapat dituliskan kembali dalam

Bila persamaan (1.37) disubstitusikan ke dalam persamaan (1.35), maka


diperoleh

Karena ղ(x) sembarang, maka persamaan (1.38) haruslah memenuhi

Apabila kita lakukan kembali transformasi variabel, ,


serta ̇ ̇ , maka persamaan (1.39) dapat dinyatakan sebagai

yang tidak lain adalah persamaan Lagrange (Fowles 1986).

B. Fungsi Hamilton

Pada Lagrangian mendiskripsikan tentang sistem tertutup diman a


tidak ada interalsi dengan sistem luar sehingga secara eksplisit tidak

bergantung terhadap waktu

Sehingga ̇
dan di dapatkan dari hasil substitusi

( ∑ ̇ ) . (1)
̇

Nilai dari persamaan dalam kurung adalah konstan dan dapat


ditunjukan oleh –H

5
∑ ̇
̇

Jika nilai energi potensial U tidak bergantung pada kecepatan dan


waktu ( ) hubungan antara koordinat umum dan koordinat

rectanguler atau kemudian disubstitusikan


kedalam persamaan lagrangian

̇ ̇ ̇
(2)

∑ ̇ (3)
̇

(4)

(5)

H disebut sebagai fungsi Hamilton. Hamilton atau H bisa sama


dengan energi total E hanya jika dalam kondisi
1. Persamaan dari hubungan tranformasi antara kordinat umum dan rectangular
harus tidak bergantung terhadap waktu,kemudian dipastikan bahwa energi
kinetik homogen dengan fungsi kudrat dari ̇
2. Energi potensial harus pada kecepatan bebas, dan dilakukan eliminasi dengan

persamaan ̇
untuk H pada persamaaan (3)

Persamaan Hamilton untuk gerak juga dinamakan persamaan kanonik


gerak. Pandanglah sebuah fungsi dari koordinat rampatan
∑ (6)

Untuk sebuah sistem dinamik sederhana, energi kinetik sistem adalah fungsi
kuadrat dari q dan energi potensialnya merupakan fungsi q saja :

(7)

6
Berdasarkan teorema Euler untuk fungsi homogen, diperoleh

∑ ∑ ∑ (8)

Oleh karena itu :

H   qk pk  L  2T  (T  V )  T  V (9)
k

Persamaan ini tak lain adalah energi total dari sistem yang kita tinjau.
Selanjutnya, pandang n buah persamaan yang ditulis sebagai :
L
pk  (k = 1,2, …n) (10)
q k
dan nyatakan dalam q dalam p dan q

qk  qk pk , qk ) (11)
Dengan persamaan di atas, kita dapat nyatakan fungsi H yang bersesuaian
dengan variasi p k , q k sebagai berikut :

 L L 
H    pkqk  qkpk  qk  qk  (12)
k  qk qk 
Suku pertama dan suku kedua yang ada dalam tanda kurung saling
meniadakan, oleh karena menurut defenisi pk  L / qk , oleh karena itu:

H   qpk  pk qk  (13)


k

Variasi fungsi H selanjutnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :


 H H 
H    p
k k
p k 
q k
q k 

(14)

Akhirnya diperoleh:
̇
(15)

- ̇ (16)

7
Dua persamaan terakhir ini dikenal dengan persamaan kanonik
Hamilton untuk gerak. Persamaan-persamaan ini terdiri dari 2n persamaan
defernsial orde-1 (bandingkan dengan persamaan Lagrange yang
mengandung n persamaan diferensial orde-2. Persamaan Hamilton banyak
dipakai dalam mekanika kuantum (teori dasar gejala atomik) (Marrion 2004).

C. Persamaan Hamilton

Persamaan Hamilton untuk gerak pada sebuah fungsi dari koordinat


umum
∑ ̇ (5.48)
Untuk sebuah sistem dinamik sederhana, energy kinetic sistem adalah fungsi
kuadrat dari q dan energy potensialnya merupakan fungsi q saja :

(5.49)
Berdasarkan teorema Euler untuk fungsi homogen, diperoleh

∑ ̇ ∑ ̇

(5.50)
Oleh karena itu :

∑ ̇

(5.51)
Persamaan ini tak lain adalah energy total dari sistem yang kita tinjau.
Selanjutnya, pandang n buah persamaan yang ditulis sebagai :

(k = 1,2, … n) (5.52)
Dan nyatakan dalam q dalam p dan q

(5.53)

8
Dengan persamaan di atas, kita dapat nyatakan fungsi H yang bersesuaian
dengan variasi

∑[ ]

(5.54)
Suku pertama dan suku kedua yang ada dalam tanda kurung saling

meniadakan oleh karena menurut definisi ̇ oleh karena itu:

∑[ ̇ ̇ ]

(5.55)
Variasi fungsi H selanjutnya dapat ditanyakan dalam persamaan berikut :

[ ]

(5.56)
Akhirnya diperoleh :

(5.57)

(5.58)
Dua persamaan terakhir ini dikenal dengan persamaan kanonik
Hamilton untuk gerak. Persamaan-persamaan ini terdiri dari 2n persamaan
defernsial orde-1 (bandingkan dengan persamaan Lagrange yang
mengandung n persamaan diferensial orde-2. Persamaan Hamilton banyak
dipakai dalam mekanika kuantum (teori dasar gejala atomik) (Jufriadi 2015).

9
D. Gerak suatu Sistem Mekanik dengan Menggunakan Persamaan

Hamilton

Jika pada persamaan Lagrange kita menemukan persamaan diferensial


orde dua, namun dalam persamaan Hamilton ini persamaan diferensial yang
muncul adalah persamaan diferensial orde satu. Dari n buah syarat awal yang
diperlukan oleh persamaan Lagrange, ingin dibuat suatu sistem persamaan
diferensial orde satu yang menggambarkan dinamika dari 2n variabel yaitu qj
, yang memenuhi persamaan

di mana q adalah koordinat umum, dan p merupakan momentum conjugate


dari koordinat umum. Jadi yang ingin dilakukan adalah perubahan
transformasi dari sistem L(qj , ̇ j ;t ) ke H(qj , pj; t) di mana sistem dapat
direpresentasikan dalam ruang fasa yang berdimensi 2n (q,p) sedemikian
hingga berlaku persamaan

Lintasan dalam ruang konfigurasi yang berdimensi n yang diambil dari sistem
akan membuat variasi pada persamaan (1.42) sama dengan nol. Tinjau suatu
fungsi f (x ,y) dengan diferensial totalnya

Untuk mengganti fungsi f(x ,y ) menjadi g(u ,y ) diakukan transformasi


Legendre dengan menuliskan

Lakukan diferesiasi total terhadap persamaan (1.44) kemudian substitusikan


ke dalam persamaan (1.43) hasilnya adalah

10
Dari Mekanika, bahwa fungsi hamiltom didefinisikan sebagai

Walaupun H(q , p; t) seperti fungsi energi h(qj , ̇ j ;t), namun keduanya


memiliki kebergantungan yang berbeda terhadap variabel-variabelnya. Pada
fungsi energi L(qj , ̇ j ;t ): ̇ diperoleh dari q , sedangkan fungsi Hamilton
H(q , p; t): q dan p diperlakukan saling bebas.
Persamaan Hamilton, dapat kita turunkan dengan cara melakukan diferensiasi
total terhadap persamaan (1.46) yaitu

Jika dibandingkan antara ruas kiri dan ruas kanan pada persamaan (1.47)
maka diperoleh persamaan :

Persamaan (1.48) diatas dikenal sebagai Persamaan Gerak Hamilton, yang


lebih sederhana bila dibandingkan dengan Persamaan Lagrange.

Persamaan Hamilton untuk gerak juga dinamakan persamaan kanonik gerak.


Pandanglah sebuah fungsi dari koordinat rampatan

Untuk sebuah sistem dinamik sederhana, energi kinetik sistem adalah fungsi
kuadrat dari ̇ dan energi potensialnya merupakan fungsi q saja :

Berdasarkan teorema Euler untuk fungsi homogen, diperoleh

11
Oleh karena itu,

Persamaan ini tak lain adalah energi total dari sistem yang kita tinjau.
Selanjutnya, pandang n buah persamaan yang ditulis sebagai :

dan nyatakan dalam ̇ Dalam p dan q

Dengan persamaan di atas, kita dapat nyatakan fungsi H yang bersesuaian


dengan variasi , sebagai berikut :

Suku pertama dan suku kedua yang ada dalam tanda kurung saling
meniadakan, oleh karena menurut defenisi ̇ , oleh karena itu

Variasi fungsi H selanjutnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

Akhirnya diperoleh,

Dua persamaan terakhir ini dikenal dengan persamaan kanonik Hamilton


untuk gerak. Persamaan-persamaan ini terdiri dari 2n persamaan deferensial

12
orde-1 (dibandingkan dengan persamaan Lagrange yang mengandung n
persamaan diffrensial orde-2 Persamaan Hamilton banyak dgunakan dalam
mekanika kuantum (teori dasar gejaa atomik)).

Contoh pemakaian.
1. Gunakan persamaan Hamilton untuk mencari persamaan gerak osilator
harmonik satu dimensi.
Jawab :
Energi kinetik dan energi potensial sistem dapat dinyatakan sebagai :

Momentumnya dapat ditulis

Hamiltoniannya dapat ditulis :

Persamaan geraknya adalah :

Dan diperoleh :

Persamaan pertama menyatakan hubungan momentum-kecepatan. Dengan


menggunakan kedua persamaan di atas dapat ditulis :

Yang tak lain adalah persamaan osilator harmonik.

2. Gunakan persamaan Hamiltn untuk mencari persamaan gerak benda yang


berada dibawah pengaruh medan sentral.
Jawab :

13
Energi kinetik dan energi potensial sistem dapat dinyatakan dalam koordinat
polar sebagai berikut :

Jadi :

Akibatnya:

Persamaan hamilton nya :

Selanjutnya :

Dua persamaan yang terakhir menunjukkan bahwa momentum sudut tetap,

Sedangkan, dua persamaan sebelumnya memberikan,

14
Untuk persamaan gerak dalam arah radial.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian teori dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Prinsip Hamilton menyatakan bahwa gerak sistem dari t1 dan t2 yang
membuat aksi berikut stasioner, sehingga dapat ditulis

̇
2. (15)

- ̇ (16)

Dua persamaan ini dikenal dengan persamaan kanonik Hamilton untuk


gerak. Persamaan-persamaan ini terdiri dari 2n persamaan defernsial orde-
1 (bandingkan dengan persamaan Lagrange yang mengandung n
persamaan diferensial orde-2. Persamaan Hamilton banyak dipakai dalam
mekanika kuantum (teori dasar gejala atomik).
3. Persamaan Hamilton untuk gerak pada sebuah fungsi dari koordinat umum
∑ ̇ (5.48)
Untuk sebuah sistem dinamik sederhana, energy kinetic sistem adalah
fungsi kuadrat dari q dan energy potensialnya merupakan fungsi q saja :

4. Jika pada persamaan Lagrange kita menemukan persamaan diferensial


orde dua, namun dalam persamaan Hamilton ini persamaan diferensial
yang muncul adalah persamaan diferensial orde satu. Dari n buah syarat
awal yang diperlukan oleh persamaan Lagrange, ingin dibuat suatu sistem
persamaan diferensial orde satu yang menggambarkan dinamika dari 2n
variabel yaitu qj , yang memenuhi persamaan

16
17
DAFTAR PUSTAKA

Arya, P. A. 1990. “Introduction to Classical Mechanics.” New Jersey: Printice

Hall Publishing.

Fowles, G.R. 1986. “Analytical Mechanics 4th ed., .” New York: CBS Colledge

Publishing.

Jufriadi, Akhmad. 2015. Mekanika. Malang: Universitas Kanjuruhan Malang.

Marrion, Jerry B. 2004. Classical Dynamics Fifth Edition. USA: Thomson

Learning.

18