Anda di halaman 1dari 3

Tugas

Hukum Lingkungan
Nama: Anastasia Veronica Hartono Atmodjo
NRP: 120117089/ No.absen 5
KP: D

Menyoal Bau Busuk PT RUM yang menahun dan nasib warga Sukoharjo
Sukoharjo - Polemik antara PT Rayon Utama Makmur dengan warga Sukoharjo masih belum tuntas
meskipun sudah lebih dari setahun berlangsung. Hingga kini, PT RUM belum mampu menghilangkan bau
busuk yang ditimbulkan limbahnya.
Sejak dilakukan uji coba pada Oktober 2017, PT RUM sudah mendapatkan penolakan dari warga.
Pasalnya, bau busuk terus muncul saat pabrik serat rayon itu berproduksi.
"Sangat bau, seperti septic tank. Sangat mengganggu aktivitas warga. Banyak yang sampai muntah,"
kata Suwardi saat mengikuti demonstrasi pertama, Kamis (26/10/2017).
Saat itu, aksi hanya diikuti oleh sekitar 300 warga dari tiga desa terdekat dengan PT RUM, yakni Desa
Plesan, Gupit dan Celep, Kecamatan Nguter. Belakangan, dampak limbah PT RUM meluas hingga ke
kecamatan lain.
Pada 19 Januari 2018, massa dengan jumlah lebih besar kembali berdemonstrasi. Saat itu mereka
mengadu kepada DPRD Sukoharjo agar PT RUM ditutup karena bau busuk masih tercium setiap hari.
Setelah melakukan audiensi, warga, pemerintah dan PT RUM membuat kesepakatan. Pabrik diberi
waktu satu bulan untuk memperbaiki peralatannya. Jika masih menimbulkan bau, PT RUM berjanji akan
menghentikan produksi.
Aksi demonstrasi secara besar-besaran pun terjadi pada 22 Februari 2018 di kantor Pemkab Sukoharjo.
Massa menganggap PT RUM tidak bisa menyelesaikan masalah bau tapi masih saja beroperasi.
Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, pun dipaksa menandatangani surat yang berisi penutupan PT RUM
secara permanen. Namun di depan massa, Wardoyo meminta warga menunggu hingga dua hari ke
depan.
“Setelah melakukan berbagai kegiatan, ujicoba mikroba, monitoring kadar udara, PT RUM belum bisa
mengatasi masalah bau. Kita tunggu 24 Februari 2018," kata Wardoyo di depan massa, Kamis
(22/2/2018).
Ternyata orasi Wardoyo dirasa tidak memuaskan keinginan massa. Massa pun menyoraki Wardoyo.
Bahkan demonstran dari barisan belakang melemparinya dengan botol dan gelas air mineral.
Puncak dari kemarahan warga, mereka menggeruduk PT RUM pada 23 Februari 2018. Mereka
mengamuk hingga melempari dan membakar bangunan pabrik. Buntut dari aksi ini, tujuh orang
ditangkap oleh kepolisian.
Aksi ini memaksa Wardoyo menutup pabrik hingga mampu mendatangkan alat penentral bau, wet
scrubber. Pabrik diberi waktu 18 bulan untuk mendatangkannya.
Dalam waktu enam bulan, PT RUM sudah dapat memenuhinya. Pabrik pun memulai uji coba kembali.
Namun sayangnya alat yang mengubah zat H2S menjadi H2SO4 itu masih belum mempan
menghilangkan bau.
Terakhir, warga Sukoharjo dan sekitarnya kembali menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di kantor
Pemkab Sukoharjo. Aksi ini kembali menghasilkan keputusan bahwa PT RUM harus menghentikan
produksi sampai bisa menangani masalah bau.
"Hari ini saya keluarkan surat untuk menghentikan trial. Saya kasih waktu lima hari. Kalau sudah
diperbaiki, kita beri izin trial lagi. Kalau bau dihentikan lagi," kata Wardoyo usai beraudiensi dengan
peserta demonstrasi, Selasa (27/11/2018).
Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya menegaskan bahwa tidak mudah pabrik tersebut bisa ditutup total.
"Kalau mencabut izin nonsense lah, prosesnya harus melalui berbagai mekanisme," kata Wardoyo usai
beraudiensi dengan demonstrasi di kantor Pemkab Sukoharjo, Selasa (27/11).
Proses penutupan menurutnya akan melalui proses administratif yang rigid. Bahkan dia meyakini PT
RUM memiliki persyaratan administrasi yang lengkap.
"Kalau soal administrasi saya yakin PT RUM klir. Kita pun sebenarnya kalau menutup PT RUM juga salah.
Semua sudah di bawah baku mutu," ujarnya.

"Makanya yang kami minta itu agar baunya hilang. Kami enggak mudeng (paham) soal baku mutu, yang
penting baunya hilang," ujarnya.
Perwakilan PT RUM yang ikut dalam audiensi, Haryo Ngadiyono, mengklaim pabriknya sudah sesuai
dengan standar baku mutu. Namun karena masyarakat masih mencium bau busuk, pihaknya berjanji
akan terus melakukan perbaikan.
"Kita sudah melakukan perintah untuk perbaikan. Karena kami anggap tidak ada masalah, maka uji coba
kami jalankan terus," kata Haryo.
"Berdasarkan penelitian ahli kimia UGM, pengelolaan limbah kami tidak ada masalah. Namun kami akan
terus melakukan perbaikan," pungkasnya. (bai/sip)


Asas-Asas Pembangunan berkelanjutan dikaitkan dengan issue “ menyoal bau busuk PT RUM yang
menahun dan nasib warga Sukoharjo”

- Asas tanggung jawab negara
Ada 3 yang dimaksud dengan asas tanggung jawab negara yaitu:
1. Negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa kini maupun generasi
masa depan.
2. Negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
3. Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan.
Kaitannya dengan kasus ini, negara seharusnya mencegah kegiatan pemanfaatan sumber daya alam
yang menimbulkan pencemaran lingkungan, dalam kasus ini bau busuk limbah masih belum tuntas
meskipun sudah lebih dari satu tahun berlangsung yang seharusnya negara menjamin hak warga negara
atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dikatakan ada beberapa warga muntah karena bau busuk
dari limbah tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa bau busuk limbah dari PT RUM mengganggu
tempat kediaman warga dan menghambat aktivitas warga. Dalam hal ini tidak dirasakan adanya
manfaat untuk warga-warga yang tinggal disekitar.

- Asas pencemar membayar
Asas pencemar membayar adalah bahwa setiap penanggung jawab yang usaha dan/atau kegiatannya
menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan
lingkungan.
Dalam kasus ini warga,pemerintah dan PT RUM membuat kesepakatan yaitu dalam waktu 1 bulan PT
RUM harus memperbaiki peralatannya namun karena masih tidak dapat teratasi bau limbahnya maka
Bupati Sukoharjo akhirnya menutup pabrik hingga pabrik mampu mendatangkan alat penetral bau.
Tidak dikatakan apakah PT RUM membayar atas usahanya yang menimbulkan pencemaran disini
seharusnya selain PT RUM harus mendatangkan alat penetral bau dan memperbaiki alatnya, PT RUM
harus mendatangkan penetral bau dan memperbaiki alatnya, PT RUM juga harus membayar “ganti rugi”
atas kegiatannya yang menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama kepada warga yang terkena
dampak bau limbah lebih dari satu tahun.

- Prinsip pencegahan dini
Prinsip ini menyatakan bahwa tidak adanya temuan atau pembuktian ilmiah yang konklusif dan pasti,
tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda upaya-upaya mencegah kerusakan lingkungan. Dalam hal
ini prinsip pencegahan dini tidak dilakukan oleh Bupati Sukoharjo. Tidak adanya temuan atau
pembuktian ilmiah yang konklusif dan pasti tentang bau busuk limbah PT RUM dijadikan alasan oleh
Bupati Sukoharjo untuk menunda penutupan PT RUM yang terus mengeluarkan bau dari limbahnya.

- Asas partisipatif
Asas partisipatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong untuk aktif dalam proses
pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Dalam kasus ini warga berperan sangat aktif untuk pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (yaitu ditutupnya PT RUM). Namun Bupati Sukoharjo terlihat selalu memberikan
kesempatan kepada PT RUM, hingga akhirnya warga melakukan demonstrasi yang dilakukan tidak hanya
sekali namun tiga kali hingga akhirnya menimbulkan hasil yaitu tutupnya PT RUM hingga PT RUM dapat
mendatangkan penetral bau.

- Asas manfaat
Asas manfaat adalah bahwa segala usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan
disesuaikan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia selaras dengan
lingkungannya. Asas manfaat ini kurang dirasakan oleh masyarakat/warga disekitar pembuangan limbah
PT RUM.