Anda di halaman 1dari 4

Nama : Damar Gumilang

NIM : 190722638038

Off : C14/C1B

REVIEW MATERI KONSEP CINTA TANAH AIR MENURUT ISLAM

Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua
pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran
keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai,
mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa.
Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Sedangkan untuk islam
sendiri memiliki sejarah tersendiri dalam hal nasionalisme. Pada jaman Rasulullah SAW ada
suatu kejadian yang menggambarkan sikap nasionalisme. Kejadian ini dikenal dengan
penyusunan konstitusi Piagam Madinah (Misaq al-Madinah) untuk mengikat seluruh masyarakat
Madinah tanpa membedakan agama, suku, maupun kelas sosial yang ada. Nasionalisme
merupakan tampilan konsep yang dibangun oleh Nabi Muhammad untuk memperhatikan
kepentingan persatuan masyarakat (al-ummah al-wahidah). Strategi yang dilakukan Nabi
Muhammad di Madinah memiliki kesamaan dengan kehidupan kebangsaan Indonesia yang tidak
menerapkan konstitusi berdasarkan hukum agama tertentu untuk seluruh suku, tetapi
menerapkan konstitusi atas dasar kesepakatan bersama yang bermodalkan semangat prinsip-
prinsip persamaan.

Rasul semasa hidup memiliki sebuah komitmen kebangsaan. Komitmen kebangsaan


Rasulullah SAW tidak dibatasi ras dan geografis, bahkan meluas ke berbagai aspek kehidupan.
Rasulullah SAW tidak mendirikan negara Arab atau negara Islam yang memaksakan setiap
warganya untuk beragama Islam. Melainkan Beliau menyebarkan keselamatan dan
memperjuangkan kemanusiaan, dengan tetap memelihara hak setiap manusia dalam laa ikraha fii
al-diin. Semua pengetahuan alternative tentang nasionalisme dan pengetahuan lain ini tidak
dating “gratisan” dari Tuhan, melainkan Beliau “dibeli” dengan laku yang panjang dan sakit.
Berawal dari pengasingan diri di Goa Hira, Muhammad bersujud erates kali lebih lama dari
manusia lain, berpuasa lebih lapar, belajar tanpa buku, dan otodidak. Itu semua bukan untuk cita-
cita kearaban, tetapi kemanusiaan dalam ke-iIlahi-an.

 Kecintaan Rasulullah SAW Terhadap Kota Makkah

Diceritakan pula ketika Rasulullah saw meninggalkan kota Makkah untuk


berhijrah ke Madinah Nabi menengok ke kota Makkah beliau berucap: Demi Allah,
“Betapa indahnya engkau wahai Makkah, betapa cintanya aku kepadamu. Jika bukan
karena aku dikeluarkan oleh kaumku darimu, aku tidak akan meninggalkanmu
selamanya, dan aku tidak akan meninggali negara selainmu.”
 Fundamentalisme Keagamaan
Muncul dari akar pemikiran;
 Islam dipandang sebagai ajaran agama yang selesai, tuntas & paripurna di masa
itu & tidak boleh mengalami modifikasi konstekstualitas atau perubahan.
 Universalisme: Islam tidak dibatasi oleh ruang dan waktu
 Ajaran Islam tidak bisa dijelaskan apalagi dipadukan dengan budaya lokalitas.
 Islam itu agama sekaligus negara (al islam huwa al din wa al daulah)
 gerakan radikal transnasional. Diskursus Islam-Nasionalisme menguat kembali
seiring dengan terbukanya kran demokrasi dengan kebebasan mengekspresikan
gagasan di kalangan warga negara. Muncullah suatu genre muslim transnasional
yang merasa tidak perlu disatukan oleh nation, tidak lagi mau terbatasi
kantor imigrasi dan paspor.

 Hubungan Pancasila Dengan Dalil Qur’an

Pancasila yang menjadi dasar Negara Indonesia memiliki kesamaan arti, makna
dan tujuan yang sama dengan beberapa dalil yang berada di Al-Qur’an. Bahkan pada
awalnya pancasila sendiri ketika dibuat terdapat satu sila yang berlandaskan syariat islam
pada konsep ketuhanannya, yaitu sila pertamanya. Akan tetapi sekarang sudah dirubah
menjadi konsep ketuhanan yang universal. Berikut merupakan beberapa hubungan antara
pancasila dengan dalil yang berada di Al-Qur’an :

I. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa)


Sila ini mengajarkan ketauhidan, yaitu mengesakan Allah SWT.
Konsep tauhid sendiri dapat dilihat dari firman Allah SWT yaitu pada
surat Al-Ikhlas ayat 1-4.
"Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula
diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

II. Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)


Sila ini mengajarkan kita untuk menegakkan keadilan yang mana
sesuai dengan dalil al-quran surat Al-Maidah ayat 8 yang mana isi
kandungan dari ayat tersebut adalah dalam memberikan penyaksian kita
diperintahkan agar berlaku yg adil tanpa memikirkan itu menguntungkan
lawan dan merugikan sahabat , lalu kita harus berkata yg sebenarnya.
Adapula perintah menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu, tanpa
pandang kawan atau lawan, jika memang lawan yang benar kita akui
kebenerannya, dan sebaliknya. Selanjutnya ialah jangan berlaku berat
sebelah hanya karena rasa kebencian kita yang terakhir kita harus adil.
Dengan bersikap adil dapat mendekatkan ketaqwaan.
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa”. Q.S. al-Ma’idah [5]: 8

III. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia)


Dalil Qur’an yang menggambarkan sila ketiga ialah surat Al-
Hujarat ayat 10. Ayat ini mengisyaratkan persatuan dan kesatuan akan
melahirkan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, pertikaian dan
perpecahan akan menjauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat. “

IV. Sila Keempat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan


Dalam Pemusyawaratan Perwakilan)

Dalil Qur’an yang menggambarkan sila keempat ialah Q.S. Ali


Imran ayat 159. Ayat ini memiliki arti kandungan yang mana melandasi
musyawarah dengan hati yang bersih, tidak kasar, lemah lembut, dan
penuh kasih sayang. Lalu dalam bermusyawarah hendaknya bersikap dan
berprilaku baik. Setelah itu para peserta musyawarah hendaknya berlapang
dada, bersedia memberi maaf apabila dalam musyawarah tersebut terjadi
perbedaan pendapat dan bahkan terlontar ucapan-ucapan yang
menyinggung perasaan, juga bersedia memohonkan ampun atas kesalahan
para peserta musyawarah jika memang bersalah. Dan yang terakhir ialah
hasil musyawarah yang telah disepakati bersama hindaknya dilakukan
dengan bertawakal kepada Allah Swt .

“Bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian


apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada
Allah. Q.S. Ali Imran” [3]: 159

V. Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia)

Allah swt menjelaskan di surat An-Nahl ayat 71 bahwa Allah


melebihkan rezeki sebagian manusia dari sebagian yang lain. Ada manusia
yang kaya, ada pula yang fakir, ada manusia yang menguasai sumber-
sumber rezeki, dan ada manusia yang tidak memperoleh rezeki yang
memadai bagi kehidupannya. Semuanya bertujuan agar satu sama lain
saling menolong karena saling membutuhkan. Hal ini sesuai dengan sila
kelima.

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian


yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan
(rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada
budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan)
rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? “

 Kesimpulan

Dengan demikian, perbincangan menganai hubungan antara Islam dengan


nasionalisme tidak harus diletakkan dalam posisi diametral. Menjadi seorang muslim
yang baik, tidak berarti menjadi seorang yang anti-nasionalisme. Mereduksi gesekan
antara pekikan Allahu Akbar dan “Merdeka”