Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain.


Melalui kepribadian inilah setiap pribadi seseorang memiliki ciri khas
masing-masing. Begitu pula dengan sebuah negara. Setiap negara juga
memiliki kepribadian masing-masing. Melalui kepribadian tersebut sebuah
negara dikenal luas. Kepribadian tersebut tidak akan lepas dari sejarah negara
tersebut.

Indonesia sendiri memiliki sebuah kepribadian yang menjadi ciri khas


dari Indonesia itu sendiri yaitu Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila
justru telah dibicarakan bahkan sebelum Indonesia menyatakan
kemerdekaannya melalui pembacaan proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Hatta.
Membutuhkan proses pembahasan yang panjang sebelum akhirnya
memperoleh keputusan final seperti teks Pancasila yang kita kenal saat ini.

Bangsa Indonesia dan juga dasar negara yaitu Pancasila, terbentuk


berdasarkan perbedaan. Pancasila sendiri hadir sebagai penengah adanya
perbedaan yang ada. Dan sebagai bentuk kepribadian bangsa Pancasila
membuat Indonesia hadir dengan ciri khas yang membedakannya dengan
negara lain.

Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberikan


kehidupan bangsa Indonesia serta membimbing masyarakat Indonesia supaya
tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Pancasila yang telah diterima dan
ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 1


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam makalah ini kami
menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1) Apa yang dimaksud dengan arti Pancasila?
2) Apa fungsi dari Pancasila?
3) Apa yang dimaksud dengan kepribadian bangsa?
4) Apa yang dimaksud dengan Pancasila sebagai Kepribadian
Bangsa?
5) Bagaimana pengamalan Pancasila sebagai kepribadian bangsa?
6) Apa saja nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila?
7) Apa kandungan sila- sila pancasila sebagai kepribadian bangsa?
8) Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kepribadian bangsa
Indonesia?
9) Apa saja Penyimpangan Nilai- Nilai Pancasila?

1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dapat diketahui tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1) Untuk mengetahui arti Pancasila.
2) Untuk mengetahui fungsi dari Pancasila.
3) Untuk mengetahui pengertian dari kepribadian bangsa.
4) Untuk memahami pancasila sebagai kepribadian bangsa.
5) Untuk mengetahui bagaimana pengamalan Pancasila sebagai
kepribadian bangsa.
6) Untuk mengetahui nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila.
7) Untuk mengetahui kandungan sila- sila pancasila sebagai
kepribadian bangsa.
8) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh globalisasi terhadap
kepribadian bangsa Indonesia?
9) Apa saja Penyimpangan Nilai- Nilai Pancasila?

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 2


Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pancasila


A. Pancasila menurut etimologis :
Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar
negara kita, Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal
sejak zaman Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Nagara
Kertagama karangan Prapanca dan buku Sutasoma karangan Tantular.
Dalam buku suta soma istilah pancasila disamping dikenal memiliki arti
berbatu sendi yang kelima (dari bahasa sansekerta) juga memiliki arti
pelaksaan kesusilaan yang lima. Pancasila ditetapkan pada tanggal 18
Agustus 1945. Rumusan Pancasila yang tercantum dalam pembukaan
UUD 1945 adalah :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
B. Pancasila menurut terminologis :
 Notonegoro (1945)
Pancasila adalah dasar falsafah negara indonesia, sehingga
dapat diambil kesimpulan bahwa pancasila merupakan dasar
falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan
hidup bangsa indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang
persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan
negara Indonesia.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 4


 Muhammad Yamin (1945)
Pancasila berasal dari kata panca yang berarti lima dan sila
yang berarti sendi, asas, dasar atau peraturan tingkah laku yang
penting dan baik. dengan demikian pancasila merupakan lima
dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang
penting dan baik.
 Soekarno (1945)
Pancasila adalah isi jiwa bangsa indonesia yang turun
temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh
kebudayaan barat. dengan demikian, pancasila tidak saja falsafah
negara. tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.
 Soepomo (1945)
Negara kita harus berdasar atas aliran pikiran (staatsidee)
negara yang integralistik, negara yang bersatu dengan seluruh
rakyatnya, yang mengatasi seluruh golongan-golongannya dalam
lapangan apapun.

2.2 Fungsi Pancasila

Adapun fungsi dari pancasila, antara lain :

 Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Republik


Indonesia
Pancasila sebagai ideologi bangsa berakar pada pandangan
hidup dan budaya bangsa dan bukannya mengambil ideologi dari
bangsa lain.
 Pancasila sebagai Jiwa Bangsa Indonesia.
Pancasila dalam pengertian ini adalah seperti yang
dijelaskan dalam teori Von Savigny artinya bahwa setiap Bangsa
punya jiwanya masing-masing yang disebut Volkgeist, artinya

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 5


Jiwa Rakyat atau Jiwa Bangsa. Pancasila sebagai jiwa Bangsa
lahir bersamaan dengan adanya Bangsa Indonesia yaitu pada
jaman Sriwijaya dan Majapahit. Hal ini diperkuat oleh Prof. Mr.
A.G. Pringgodigdo dalam tulisann beliau dalam Pancasila. Beliau
mengatakan antara lain bahwa tanggal 1 Juni 1945 adalah Hari
Lahir istilah Pancasila. Sedangkan Pancasila itu sendiri telah ada
sejak adanya Bangsa Indonesia..
 Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai Pandangan Hidup bangsa atau Way of
Life mengandung makna bahwa semua aktifitas kehidupan
bangsa Indonesia sehari-hari harus sesuai dengan sila- sila
daripada Pancasila, karena Pancasila juga merupakan kristalisasi
dari nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber dari kehidupan
bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber
dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri.
Artinya Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk hidup
sehari-hari dan juga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisah-pisah antara satu dengan yang lain.
 Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia atau Dasar
Falsafah Negara atau Philosofis Granslog.
Dalam hal ini Pancasila dipergunakan sebagai dasar
mengatur pemerintahan Negara, atau pancasila digunakan sebagai
dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara yang sesuai
dengan bunyi pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
Pancasila sebagai Dasar Negara atau sering juga disebut
sebagai Dasar Falsafah Negara ataupun sebagai ideologi Negara,
hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai dasar
mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan Pancasila
sebagai Dasar Negara mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai
kaidah Negara yang fundamental atau mendasar, sehingga

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 6


sifatnya tetap, kuat dan tidak dapat dirubah oleh siapapun,
termasuk oleh MPR/DPR hasil pemilihan umum.

 Pancasila sebagai sumber dari segala sumber Hukum.


Dalam ilmu hukum istilah sumber hukum berarti sumber
nilai-nilai yang menjadi penyebab timbulnya aturan hukum. Jadi
dapat diartikan Pancasila sebagai Sumber hokum dasar nasional,
yaitu segala aturan hukum yang berlaku di negara kita tidak boleh
bertentangan dan harus bersumber pada Pancasila.
Atau sumber tertib hukum bagi Negara Republik Indonesia.
Sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan
hidup, kesadaran, cita-cita hukum serta cita-cita moral yang
meliputi suasana kejiwaan serta watak Bangsa Indonesia. Cita-
cita itu meliputi cita-cita mengenai kemerdekaan Individu,
kemerdekaan Bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial dan
perdamaian Nasional. Cita-cita politik mengenai sifat, bentuk dan
tujuan negara. Cita-cita moral mengenai kehidupan
kemasyarakatan dan keagamaan.
 Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.
Pada saat bangsa Indonesia mendirikan negara atau
Proklamasi 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia belum
mempunyai Undang-undang Dasar Negara yang tertulis. 18
Agustus 1945 disahkan pembukaan dan batang tubuh Undang-
undang Dasar 1945 oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia). PPKI merupakan penjelmaan atau wakil-wakil
seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan perjanjian luhur itu
untuk membela Pancasila untuk selama-lamanya.
 Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia.
Cita-cita luhur Negara Indonesia tegas dimuat dalam
pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Karena pembukaan

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 7


Undang-undang Dasar 1945 merupakan penuangan jiwa
proklamasi yaitu jiwa Pancasila, sehingga Pancasila merupakan
cita-cita dan tujuan bangsa indonesia. Cita-cita luhur inilah yang
akan disapai oleh Bangsa Indonesia.
 Pancasila sebagai palsafah hidup yang mempersatukan Bangsa.
Pancasila merupakan sarana yang sangat ampuh dan efektif
untuk mempersatukan Bangsa Indonesia. Karena Pancasila adalah
palsafah hidup dan kepribadian Bangsa Indonesia yang
mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa
Indonesia diyakini paling benar, adil, bijaksana dan tepat bagi
Bangsa Indonesia untuk mempersatukan Rakyat Indonesia.
Bangsa Indonesia yang pluralis dan wilayah Nusantara
yang terdiri dari berbagai pulau-pulau, maka sangat tepat apabila
Pancasila dijadikan Pemersatu Bangsa, hal ini dikarenakan
Pancasila mempunyai nilai-nilai umum dan universal sehingga
memungkinkan dapat mengakomodir semua perikehidupan yang
berbhineka dan dapat diterima oleh semua pihak.
Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk
mempersatukan Bangsa Indonesia. Karena Pancasila adalah
palsafah hidup dan kepribadian Bangsa Indonesia yang
mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa
Indonesia diyakini paling benar, adil, bijaksana dan tepat bagi
Bangsa Indonesia untuk mempersatukan Rakyat Indonesia.
 Pancasila Sebagai Sumber Nilai
Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima
nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila
tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa,Nilai
Kemanusiaa Yang Adil dan Beradab,nilai Persatuan Indonesia,
nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan
permusyawaratan/ perwakilan, dan nilai Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat indonesia.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 8


 Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia.
Diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta
amal perbuatan sikap mental. Sikap mental dan tingkah laku
mempunyai ciri khas, artinya dapat dibedakan dengan Bangsa
lain. Ciri Khas inilah yang dimaksud dengan kepribadian

2.3 Pengertian Kepribadian Bangsa


Pengertian Kepribadian Bangsa (Nasional) Indonesia telah
dirumuskan dalam Seminar Kepribadian Nasional di Malang pada 12-15
April 1961. Kepribadian Nasional didefinisikan sebagai keseluruhan,
kesatuan dari segala segi kehidupan bangsa Indonesia batiniah dan lahiriah
yang terbentuk dan berkembang dalam dan bersama serta sejalan dengan
terbentuk dan berkembangnya bangsa Indonesia, yang menunjukkan adanya
dan yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsalainnya. Nilai-
nilai 1945, beserta 4 nilai dasarnya dan bentuk, kristalisasinya Pancasila dan
P4 merupakan mutiara-mutiara kepribadian yang digali dari Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia. .
Kepribadian adalah  keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri dan
prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku,
sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus
menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi. Atau 
keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap
perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang
jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan
perilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas
pribadinya.
Bangsa adalah Perkumpulan orang yang saling membutuhkan dan
berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu wilayah.
Persekutuan hidup dalam suatu negara bisa merupakan persekutuan hidup
mayoritas dan minoritas. Bangsa dalam arti sosiologis antropologis diikat

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 9


oleh ikatan – ikatan seperti ras, tradisi, sejarah, adat istiadat, agama atau
kepercayaan, bahasa dan daerah. Ikatan ini disebut ikatan primordial.
Jadi dapat disimpulkan pengertian kepribadian bangsa adalah suatu
ciri khas atau pola sikap yang menjadi standart baku kumpulan beberapa
orang yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama secara
konsisten dalam menghadapi situasi apapun.

2.4 Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa


Pancasila disebut juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia, artinya
nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan
diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan. Sikap
mental, tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia mempunyai ciri khas,
artinya dapat dibedakan dengan bangsa lain. Kepribadian itu mengacu pada
sesuatu yang unik dan khas karena tidak ada pribadi yang benar-benar sama.
Setiap pribadi mencerminkan keadaan atau halnya sendiri, demikian pula
halnya dengan ideologi bangsa (Bakry, 1994: 157).

Meskipun nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan


keadilan juga terdapat dalam ideologi bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa
Indonesia kelima sila tersebut mencerminkan kepribadian bangsa karena
diangkat dari nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia sendiri dan
dilaksanakan secara simultan. Di samping itu, proses akulturasi dan
inkulturasi ikut memengaruhi kepribadian bangsa Indonesia dengan berbagai
variasi yang sangat beragam. Kendatipun demikian, kepribadian bangsa
Indonesia sendiri sudah terbentuk sejak lama sehingga sejarah mencatat
kejayaan di zaman Majapahit, Sriwijaya, Mataram, dan lain-lain yang
memperlihatkan keunggulan peradaban di masa itu. Nilai- nilai spiritual,
sistem perekonomian, politik, budaya merupakan contoh keunggulan yang
berakar dari kepribadian masyarakat Indonesia sendiri.

Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksudkan dengan


kepribadian Indonesia ialah : Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia,

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 10


yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya.
Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah pencerminan dari garis
pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.
Garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia yang
ditentukan oleh kehidupan budi bangsa Indonesia dan dipengaruhi oleh
tempat, lingkungan dan suasana waktu sepanjang masa. Walaupun bangsa
Indonesia sejak dahulu kala bergaul dengan berbagai peradaban kebudayaan
bangsa lain (Hindu, Tiongkok, Portugis, Spanyol, Belanda dan lain-lain)
namun kepribadian bangsa Indonesia tetap hidup dan berkembang. Mungkin
di sana-sini, misalnya di daerah-daerah tertentu atau masyarakat kota
kepribadian itu dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur asing, namun pada
dasarnya bangsa Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri. Bangsa
Indonesia secara jelas dapat dibedakan dari bangsa-bangsa lain. Apabila kita
memperhatikan tiap sila dari Pancasila, maka akan tampak dengan jelas
bahwa tiap sila Pancasila itu adalah pencerminan dari bangsa kita.
Demikianlah, maka Pancasila yang kita gali dari bumi Indonsia sendiri
salah satunya yaitu merupakan Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia,
karena Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan
tak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta merupakan ciri khas yang
dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Terdapat
kemungkinan bahwa tiap-tiap sila secara terlepas dari yang lain bersifat
universal, yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini, akan tetapi
kelima sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan itulah yang
menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia, yakni suatu
masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan
Pancasila di dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka,
berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan
bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan
pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 11


Oleh karena itu yang penting adalah bagaimana kita memahami,
menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam segala segi kehidupan. Tanpa
ini maka Pancasila hanya akan merupakan rangkaian kata-kata indah yang
tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan perumusan yang beku
dan mati, serta tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa kita.
Apabila Pancasila tidak menyentuh kehidupan nyata, tidak kita
rasakan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari, maka lambat laun
kehidupannya akan kabur dan kesetiaan kita kepada Pancasila akan luntur.
Mungkin Pancasila akan hanya tertinggal dalam buku-buku sejarah Indonesia.
Apabila ini terjadi maka segala dosa dan noda akan melekat pada kita yang
hidup di masa kini, pada generasi yang telah begitu banyak berkorban untuk
menegakkan dan membela Pancasila.

2.5 Pengamalan Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa


Prinsip Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, memerlukan
suatu bentuk perbuatan nyata agar hal tersebut jangan hanya sekedar menjadi
teori semata. Salah satu caranya adalah dengan kita mengamalkan nilai-nilai
yang ada dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa hal
yang diperlukan dalam pengamalan Pancasila :
1. Keharusan untuk mengamalkan Pancasila.
Pancasila sebagai dasar filsafat Negara Indonesia
mengandung konsekuensi setiap aspek penyelenggaraan Negara
dan semua sikap serta tingkah laku bangsa Indonesia dalam
bermasyarakat dan bernegara harus berdasarkan pada nilai-nilai
Pancasila. Dalam pengamalan Pancasila ini diperlukan juga suatu
kondisi yang dapat menunjang terlaksananya pengamalan
Pancasila tersebut, baik kondisi yang berkaitan dengan setiap
sikap warga Negara Indonesia dan wujud realisasi pengamalan
Pancasila. Selain itu, dalam pengamalan Pancasila ini juga
berdasarkan pada dorongan lahir dan batin sebagai berikut.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 12


a) Bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia dijiwai oleh
hasrat yang sedalam-dalamnya untuk mendirikan Negara
Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
b) Pancasila adalah landasan ideal dalam perjuangan
melawan penjajah. Selain itu, Pancasila juga merupakan
asas kerohanian Negara Indonesia.
c) Bahwa dalam penyelenggaraan kehidupan Negara
Indonesia, pada hakikatnya berdasarkan atas suatu
hukum dasar Negara yang mengandung suasana
kebatinan dan cita-cita hukum
d) Pada hakikatnya memiliki pengetahuan saja, bagi setiap
warga Negara Indonesia belum cukup. Oleh karena itu,
yang terpenting adalah mengetahui, kemudian
meresapkan menghayati, dan akhirnya mengamalkan
Pancasila itu sendiri.
2. Ketaatan untuk melaksanakan Pancasila.
Pancasila adalah dasar filsafat Negara Indonesia, di antara
Negara dengan warga negaranya terdapat suatu hubungan hak dan
kewajiban. Warga Negara adalah sebagai pendukung hak dan
kewajiban. Untuk masa sekarang ini yang lebih diutamakan adalah
masalah kewajiban. Oleh karena itu wajib taat pada hakikatnya
bersifat mutlak karena sebagaimana diketahui bersama bahwa hal
itu bersumber pada hakikat sifat kodrat manusia, sebagai mahkluk
individu dan mahkluk sosial.
Berdasarkan pada kodrat manusia sebagaimana dijelaskan,
dapat dipahami bhwa ketaatan merupakan syarat mutlak untuk
berlangsungnya Negara. Selain itu harus ada pula suatu jaminan
ketaatan yang datang dari warga negara sendiri yaitu berupa suatu
ketaatan berdasarkan suatu kesadaran dan moral yang luhur.
3. Kesadaran untuk melaksanakan Pancasila.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 13


Ketaatan adalah berdasarkan atas kesadaran. Jadi, ketaatan
akan terwujud bilamana ada suatu kesadaran. Kesadaran adalah
hasil perbuatan akal, yaitu pengetahuan tentang keadaan-keadaan
yang ada pada diri manusia sendiri. Keadaan-keadaan inilah yang
menjadikan objek dari kesadaran dan berupa segala sesuatu yang
dapat menjadi pengalaman manusia. Pengalaman itu bersifat
jasmaniah maupun rohaniah, baik yang ditangkap oleh panca
indera maupun dengan akal, rasa, dan kehendak manusia. Hal itu
dapat dilihat pada perincian berikut ini.
a) Rasa, menimbulkan pengalaman tentang keindahan
kejiwaan (estetis).
b) Akal, yang menimbulkan pengalaman tentang
kebaikan/kebenaran (ilmu pengetahuan, inspirasi,
intuisi).
c) Kehendak, menimbulkan pengalaman tentang
kebaikan/kesusilaan (estis) dan pengalaman tentang
kebahagiaan. Berkaitan dengan tingkah laku manusia.
4. Realisasi pengamalan Pancasila.
Realisasi pengamalan Pancasiladi Negara Indonesia, perlu
dilakukan secara berangsur-angsur dengan jalan pendidikan baik
di sekolah maupun dalam masyarakat dan keluarga sehingga
diperoleh hal-hal sebagai berikut.
a) Pengetahuan, yaitu sedapat mungkin lengkap yaitu
meliputi pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, dan
pengetahuan filsafat tentang Pancasila. Hal ini sangat
penting terutama bagi para calon pemimpin bangsa dan
calon ilmuwan. Tanpa pendidikan yang cukup maka
dapat dipastikan ideologi bangsa dan filsafat Negara
berada dalam kondisi yang membahayakan.
b) Kesadaran, selalu mengetahui pertumbuhan keadaan
yang ada dalam diri sendiri.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 14


c) Ketaatan, yaitu selalu dalam keadaan sedia untuk
memenuhi wajib lahir dan batin, lahir berasal dari luar,
misalnya dari pemerintah, batin dari diri sendiri.
d) Kemampuan kehendak, yang cukup kuat sebagai
pendorong untuk melakukan perbuatan.
e) Watak dan hati nurani agar orang selalu mawas diri.

2.6 Nilai- Nilai yang Terkandung dalam Pancasila


Untuk bisa mengamalkan Pancasila sebagai kepribadian bangsa kita
perlu mengetahui nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila. Berikut ini
adalah nilai-nilai dalam lima sila Pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam sila Ketuhanan yang Maha Esa terkandung nilai
bahwa Negara yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan
tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Oleh
karena itu segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan
penyelengaraan Negara bahkan moral Negara, moral penyelengara
Negara, politik Negara, pemerintahan Negara, hukum dan
peraturan perundng-undangan Negara, kebebasan dan hak asasi
warga Negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
(Kaelan dan Zubaidi, 2007: 31-32).
Nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama ini adalah
dimana kita sebagai manusia yang diciptakan wajib menjalankan
perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Masyarakat Indonesia
berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing
dan wajib menjalankan apa yang diperintahkan dalam agama
masing-masing dan menjauhi apa yang dilarang.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Dalam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa
negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
sebagai makhluk yang beradab (Kaelan dan Zubaidi, 2007: 32).

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 15


Sila kedua Pancasila mengandung nilai suatu kesadaran sikap
moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada norma-
norma dan kebudayaan baik terhadap diri sendiri, sesama manusia,
maupun terhadap lingkungannya.
Sila kedua ini menjelaskan bahwa kita sesama manusia
mempunyai derajat yang sama dihadapan hukum.
3. Persatuan Indonesia
Sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk
individu dan sebagai makhluk sosial. Untuk itu manusia memiliki
perbedaan individu, suku, ras, kelompok, golongan, maupun
agama. Konsekuensinya di dalam Negara adalah beraneka ragam
tetapi mengkatkan diri dalam suatu kesatuan dalam semboyan
“Bhineka Tunggal Ika”. Secara singkat berarti Indonesia adalah
suatu negara yang bulat tidak terpecah.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Rakyat merupakan subjek pendukung pokok Negara
(Kaelan dan Zubaidi, 2007: 35). Negara merupakan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat sehingga rakyat merupakan asal
mula kekuasaan Negara. Dalam sila keempat terkandung nilai
demokrasi yang harus dilaksanakan dalam kehidupan negara.
Dalam sila ini menjelaskan tentang demokrasi, adanya
kebersamaan dalam mengambil keputusan dan penanganannya,
dan kejujuran bersama.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Makna dalam sila ini adalah adanya kemakmuran yang
merata bagi seluruh rakyat, seluruh kekayaan dan sebagainya
dipergunakan untuk kebahagiaan bersama, dan melindungi yang
lemah.
Konsekuensi nilai keadilan yang harus terwujud adalah:

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 16


a) Keadilan distributif (hubungan keadilan antara Negara
terhadap warga negaranya),
b) Keadilan legal (keadilan antara warga Negara terhadap
negara), dan
c) Keadilan komutatif (hubungan keadilan antara warga
negara satu dengan lainnya).

Pancasila sebagai dasar Negara, pandanga hidup bangsa Indonesia,


dan sebagai ideologi bangsa, menurut Suko Wiyono (2013, 95-96) memuat
nilai-nilai/karakter bangsa Indonesia yang tercermin dalam sila-sila
Pancasilasebagai berikut:

1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa: terkandung di dalamnya


prinsip asasi
a) Kepercayaan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa;
b) Kebebasan beragama dan berkepercayaan paa Tuhan
Yang Maha Esa sebagai hak yang paling asasi bagi
manusia;
c) Toleransi di antara umat beragama dan berkepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa; dan
d) Kecintaan pada semua makhluk ciptaan Tuhan,
khususnya makhluk manusia.
2. Nilai-nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: terkandun di
dalamnya prinsip asasi
a) Kecintaan kepada sesama manusia sesuai dengan
prinsip bahwa kemanusiaan adalah satu adanya;
b) Kejujuran;
c) Kesamaderajatan manusia;
d) Keadilan; dan
e) Keadaban.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 17


3. Nilai-nilai Persatua Indonesia: terkandung di dalamnya prinsip
asasi
a) Persatuan;
b) Kebersamaan;
c) Kecintaan pada bangsa;
d) Kecintaan pada tanah air; dan
e) Bhineka Tunggal Ika.
4. Nilai-nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan: terkandung di dalamnya
prinsip asasi
a) Kerakyatan;
b) Musyawarah mufakat;
c) Demokrasi;
d) Hikmat kebijaksanaan, dan (Perwakilan).
5. Nilai-nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia:
terkandung di dalamnya prinsip asasi
a) Keadilan;
b) Keadilan sosial;
c) Kesejahteraan lahir dan batin;
d) Kekeluargaan dan kegotongroyongan; dan
e) Etos kerja.

2.7 Kandungan Sila- Sila Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa


Apabila kita perhatikan tiap sila dari pancasila, maka akan tampak
jelas bahwa tiap sila tersebut adalah pencerminan daripada kepribadian
bangsa Indonesia.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
“Sejak jaman purbakala orang Indonesia mengetahui dan
percaya tentang ADA yang mutlak sebagai maha pencipta, yang
disebut : Tuhan. Setelah ajaran agama-agama Hindu, Islam dan
Kristen masuk di Indonesia, maka makin nyatalah garis-garis

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 18


kepercayaan bangsa Indonesia kepada Tuhan dan secara ikhlas
berbakti kepada Nya, mentaati hukum Nya”. Apabila kita
memperhatikan perikehidupan bangsa kita seluruh tanah air, maka
tampaklah hal-hal yang berikut :
a) Adalah suatu kebiasaan bangsa indonesia untuk
menyelanggarakan suatu pekerjaan/usaha bersama-
sama, bentu-membantu dengan rela ikhlastanpa
menuntut upah. Setiap orang membantu sesamanya,
berkat hikmat kebaktian kepada Tuhan.
b) Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang
ramah-tamah dilingkungan keluarga, terhadap tamu,
teristimewa terhadap bangsa asing. Sifat ramah-
tamah, menghargai sesama manusia, adalah sesuai
dengan ajaran agama.
c) Tindakan sosial seperti menolong fakir miskin,
memberi makan dan tempat tinggal kepada musafir
akan dijumpai dimana-mana di Indonesia.
d) Suatu hal yang menarik perhatian adalah sifat
toleransi bangsa Indonesia. Ajaran agama, bahwa
semua manusia adalah makhluk Tuhan dan harus
saling harga mengahargai, telah membawa
ketentraman dalam hubungan antara agama-agama
yang hidup di Indonesia.

Tiap agama yang berkembang dengan leluasa di Indonesia,


para penganutnya hidup berdampingan sebagai anggota-anggota
yang sama dalam masyarakat dan sebagai warga yang sama pula
dari bangsa Indonesia. Oleh sebab itu antara umat beragama harus
saling menghormati antara satu dengan yang lainnya agar tidak
terjadi perpecahan satu dengan yang lainnya, dan karena toleransi
adalah sifat dari bangsa Indonesia maka sifat saling menghormati
adalah yang wajib ada dalam diri bangsa Indonesia.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 19


2. Sila Prikemanusiaan (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)
“Kemanusiaan yang adil dan beradab atau dasar
prikamanusiaan disebut juga Internasionalisme. Menurut Depernas
prikemanusiaan itu adalah: “daya serta karya budi dan hati nurani
untuk membangun dan membentuk kesatuan diantara sesamanya,
tidak terbatas pada manusia sesamanya yang terdekat saja,
melainkan juga meliputi seluruh umat manusia”. Sifat, sikap dan
perbuatan bangsa indonesia senantiasa memperlihatkan unsur-
unsur prikemanusiaan”
Prikemanusiaan atau Internasionalisme itu adalah dasar
hidup bagi bangsa Indonesia untuk turut membantu memajukan
umat manusia dan mencapai cita-cita kebahagiaan bagi seluruh
dunia. Sikap menolong terhadap sesama adalah yang terkandung
dalam sila prikemanusiaan ini, sebab itulah bangsa Indonesia di
kenal dengan sikap saling tolong menolongnya terhadap sesama
dan tanpa pamrih.
3. Sila Persatuan (Kebangsaan) Indonesia
“Adalah suatu sifat bangsa Indonesia untuk bekerja
bersama-sama secara gotong royong. Kalau di Jawa ada gugur
gunung, maka di Palembang ada sikoruban, di Minahasa ada
mapalus dan di Bali ada suatu sistem kerjasama yang sangat maju,
yakni subak yang mengurus perairan sawah untuk keperluan
bersama”.
Dari contoh-contoh diatas jelaslah bahwa bangsa Indonesia
menginsyafi pentingnya persatuan untuk menghadapi pekerjaan
yang sehebat-hebatnya guna kepentingan bersama. Semangat
persatuan itu diwujudkan dalam bentuk kerja sama yang meliputi
pula keagamaan yakni dalam bentuk gotong royong.
Toleransi bangsa Indonesia telah memungkinkan berbagai
agama dengan leluasa tanpa mengganggu kehidupan bersama
dalam masyarakat. Di kepulauan nusantara hidup rakyat Indonesia

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 20


dalam berbagai suku, yang pada umumnya dalam masyarakat
hidup menurut adat istiadatnya sendiri-sendiri. Akan tetapi dalam
berbagai ragam cara hidup itu tampak peradaban yang mempunyai
taraf tertentu dan bercorak ke Indonesiaan.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Pemusyawaratan Perwakilan
“Sifat kerakyatan yang hidup dalam masyarakat Indonesia
sejak dahulu kala berbeda dari pengertian demokrasi modern.
Demokrasi modern dengan cara-caranya yang lazim dipraktekkan
di negara-negara barat kerapkali menimbulkan pertentangan dan
ketegangangan. Perdebatan yang dilakukan keras dan tajam,
siasat-siasat untuk menarik, mengumpulkan suara, menampakkan
usaha-usaha untuk mengadu kekuatan guna mencapai
kemenangan. Pada hakekatnya yang mwnjadi tujuan adalah:
merebut kekuasaan. Sistim stem-steman yang menentukan suara
yang terbanyak mutlak, yakni separoh dari jumlah suara ditambah
1, membuka kemungkinan untuk menjalankan siasat guna
mempengaruhi hasil steman itu. Disini bukanlah keyakinan akan
kebenaran dan kepentingan umum yang menjadi pegangan, tetapi
kepentingan golongan atau perorangan yang dapat mempengaruhi
jalan perundingan”
Sifat kerakyatan Indonesia adalah demokrasi yang
berdasarkan kekeluargaan dalam arti yang luas. Pembicaraan
senantiasa diliputi oleh suasana persaudaraan, hormat
menghormati dan memberikan perhatian sepenuhnya kepada
kepentingan umum. Kerakyatan Indonesia adalah demokrasi yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan. Unsur pokok dari pada kerakyatan Indonesia adalah:
perwakilan, permusyawaratan dan mufakat.
5. Sila Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 21


“Dalam kenyataan tata kehidupan dan penghidupan
manusia keadilan sekurang-kurangnya tampak dalam 3 macam
perwujudan yakni: Keadilan Sosial, keadilan Tukar-menukar dan
Keadilan Membagi. Keadilan sosial adalah cipta, rasa, karsa dan
karya manusia untuk memberikan dan melaksanakan sesuatu yang
memajukan kemakmuran serta kesejahteraan bersama”.
Sejak dahulu kala bangsa Indonesia suka memperhatikan
penderitaan dan ketidakadilan yang timbul di sekitarnya. Pada
umumnya dalam keadaan demikian orang Indonesia tidak segan-
segan untuk mengulurkan tangan dan memberikan pertolongan
sekedarnya. Pada dasarnya jiwa bangsa Indonesia menghendaki
kehidupan yang layak, maka dari itu suatu kepribadian Indonesia
yakni keadilan sosial yang menuju kepada cita-cita: sama rata
sama rasa.

2.8 Pengaruh Globalisasi terhadap Kepribadian Bangsa Indonesia


Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia
dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu
proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti
oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama
dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
(Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Menurut pendapat
Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di
Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005).
Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam
interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin
dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi
pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti
bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan
lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung
utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 22


sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat
tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita
hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh
bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi
dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di
berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi,
sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme
terhadap bangsa. 
a) Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara
terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian
dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur,
bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif
dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa
nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat. 
2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar
internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan
meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan
meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang
kehidupan nasional bangsa. 
3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir
yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek
dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan
kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan
akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
b) Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa
liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran.
Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari
ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut
terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang. 

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 23


2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap
produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri
(seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di
Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam
negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme
masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. 
3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan
identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya
cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia
dianggap sebagai kiblat. 
4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara
yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam
globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan
pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat
mengganggu kehidupan nasional bangsa.
5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan
ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. 
Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan
peduli dengan kehidupan bangsa. Pengaruh- pengaruh di atas
memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap
nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat
menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi
berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka
cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri
dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk
diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan
dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila
tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat
bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional,
ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 24


Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan
Generasi Muda Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat
terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga
begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda
kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari
anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang
berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka
menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh
yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas
tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka
dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain
dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau
melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai
dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi


tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda
internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara
semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak,
kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan
mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-
situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu
handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena
mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone. Dilihat dari
sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan
cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan.

Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga


mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak
muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan
kenyamanan masyarakat. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 25


jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul
tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai
nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya
bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda
adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak
memiliki rasa nasionalisme? Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh
negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu
diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi
terhadap nilai nasionalisme.

c) Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai


Nasionalisme Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak
negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain
yaitu : 
1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal
semangat mencintai produk dalam negeri. 
2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan
sebaik- baiknya. 
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-
baiknya. 
4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan
hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik,
ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan


mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai
nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan
kepribadian bangsa. 

2.9 Penyimpangan Nilai- Nilai Pancasila

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 26


Kondisi bangsa Indonesia saat ini dapat dikaji dan identifikasi dengan
melihat prilaku dan kepribadian masyarakat Indonesia tercermin pada tingkah
laku masyarakat Indonesia sehari-hari. Perilaku masyarakat Indonesia saat ini
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yaitu:

1. Penyimpangan sila pertama


Saat ini kita menjumpai generasi muda yang tidak bertaqwa
kepada Tuhan YME. Misalnya: meninggalkan ibadah, melanggar
peraturan agama, menganggap dirinya sebagai Tuhan atau Rasul,
dan lain sebagainya.
2. Penyimpangan sila kedua
Sekarang ini kita temui diantara pemuda Indonesia yang
tidak memanusiakan manusia lain sebagai mana mestinya.
Misalnya: kasus pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan lain
sebagainya.
3. Penyimpangan sila ketiga
Memudarnya rasa persatuan dan kesatuan yang terjadi pada
masyarakat Indonesia saat ini. Misalnya: tawuran antar pelajar,
bentrok antar warga seperti perang sampit, bentrok antar suku
seperti kisah perang sampit, dan lain sebagainya.
4. Penyimpangan sila keempat
Demokrasi selayaknya dilaksanakan dengan sehat.
Fenomena yang terjadi saat ini masih adanya money politic di
kalangan masyarakat yang biasa dijumpai pada saat pemilihan
kepala desa, pemilihan bupati atau walikota.
5. Penyimpangan sila kelima
Selanjutnya mengenai keadilan, banyak fakta-fakta
mengenai ketidakadilan yang di lakukan oleh generasi muda
bangsa Indonesia saat ini. Tidak perlu jauh-jauh, saat ini dapat kita
lihat pada kelompok belajar kita saja sebagai faktanya. Dalam

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 27


kelompok belajar PPKN misalnya, tugas PPKN membuat makalah
secara kelompok ketidak adilan selalu kita rasakan. Hal tersebut
karena sebenarnya yang mengerjakan tugas kelompok dari 8
anggota kelompok, hanya 3 orang saja dan yang lainnya tinggal
nitip nama. Padahal ia menginginkan mendapatkan nilai yang
sama. Sungguh ini adalah contoh kecil yang berada pada
kehidupan para pelajar sehari-hari.

Pada masa ini telah banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang


sangat merugikan bangsa ini. Baik yang dilakukan oleh pejabat-pejabat
Negara dengan melakukan tindak korupsi, dan juga dilakukan oleh
masyarakat-masyarakat dengan melakukan berbagai tindak kriminal, para
remaja yang melakukan penyalahgunaan narkoba, sex bebas, gengster-
gengster, tawuran antar blok dan yang lainya, yang melakukan semua itu
hanya semata-mata untuk menunjukan eksistensi mereka agar dianggap.
Bahkan kebanyakan dari mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran
tersebut malah merasa bangga atas penyimpangan-penyimpangan yang telah
mereka lakukan. Dalam hal seperti ini, nilai-nilai yng terkandung dalam
pancasila sudah mulai tidak dianggap lagi. Pancasila kini hanya menjadi
bahan bacaan untuk hafalan saja dikalangan pelajar maupun masyarakat,tanpa
mengetahui apa makna yang terkandung dan bagaimana perjuangan
pahlawan- pahlawan untuk mencapainya untuk membangun bangsa ini.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 28


BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Pancasila sebagai kepribadian bangsa erat kaitanya dengan kehidupan
sehari hari masyarakat yang di kenal dengan keramahaan, kesopananya,
kemajemukan, suku budayanya yang merupakan manifiestasi dalam
pandangan hidup bangsa. Bahkan sejak sebelum berdirinya bangsa Indonesia,
nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sudah melekat di dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.
Arus globalisasi tidak mungkin dihentikan. Berjalannya globalisasi
tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai
penyebabnya. Dampaknya juga tidak bisa dihindarkan. Bagi masyarakat,
bangsa dan Negara Indonesi, globalisasi memiliki dampak positif dan
negative.
Pembudayaan nilai-nilai luhur Pancasila perlu diupayakan.
Diharapkan terdapat penghayatan dan pengalaman nilai-nilai luhur Pancasila
di berbagai bidang kehidupan bagi seluruh masyarakat.

3.2 Saran
Setiap warga negara Indonesia harus menjunjung tinggi dan
mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh
rasa tanggung jawaban agar Pancasila tidak terbatas pada tulisan saja.
Untuk itu, diperlukan adanya penanaman nasionalisme secara kontinu
agar setiap rakyat Indonesia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa
Indonesia misalnya melalui mata pelajaran kewarganegaraan. Kali ini, kami
akan menutup makalah dengan kata-kata “Cintailah Tanah Air Kita”.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 29


Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 30
DAFTAR PUSTAKA

A. Situs Internet

http://arifidya.blogspot.com/2014/12/pancasila-sebagai-kepribadian-
bangsa.html?m=1 (Diakses tanggal : 20 Oktober 2019)

http://ionecannon.blogspot.com/2014/02/makalah-pancasila-sebagai-
kepribadian.html?m=1 (Diakses tanggal : 20 Oktober 2019)

http://em10392.blogspot.com/2015/10/pancasila-sebagai-jiwa-dan-
kepribadian.html?m=1 (Diakses tanggal : 20 Oktober 2019)

B. Buku
Kaelan, drs. Pendidikan Pancasila. Paradigma: Yogyakarta: 2004.
Makalah Fauziah Nazmi, dkk. Pancasila Sebagai Kepribadian
Bangsa Indonesia. Universitas Indonesia.
Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi. Direktorat Jenderal
Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi Republik Indonesia: 2016.
Ambiro Puji Asmaroini, M.Pd. Menjaga Eksistensi Pancasila Dan
Penerapannya Bagi Masyarakat Di Era Globalisasi. Jurnal Pancasila dan
Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017 E-ISSN 2527-7057, P-ISSN
2545-2683 50.
Yudistira. Kewarganegaraan 3 Menuju Masyarakat Madani. KTSP:
2016.
Makalah Fiska dan Sandra. Jiwa dan Kepribadian Pancasila.
Maila Pinggaofit. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa.
Universitas Katolik Widya Mandala.
Ambiro Puji Asmaroini. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi
Siswa Di Era Globalisasi. CITIZENSHIP: Jurnal Pancasila dan
Kewarganegaraan Vol. 4, No. 2, April 2016.

Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa | 31