Anda di halaman 1dari 19

APLIKASI RAPID SURVEY

A. Pengertian Rapid Survai


Survai merupakan kegiatan atau usaha pengumpulan
informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili
5 populasi. Informasi dari masyarakat dapat diperoleh dengan alat
bantu atau dikenal sebagai instrumen penelitian baik yang
berupa kuesioner maupun peralatan lain untuk pengukuran
misalnya timbangan untuk mengukur berat, meteran untuk
mengukur panjang atau tinggi subyek penelitian. Informasi yang
10 bisa didapat berupa informasi tentang cakupan atau prevalensi
suatu kejadian, bisa juga informasi mengenai hubungan antar
variabel.
Kegiatan survai seringkali memerlukan biaya, waktu dan
tenaga yang besar maupun prosedur yang rumit apabila
15 mencakup pada skala yang luas. Tentunya tehnik survai tersebut
menjadi kurang memadai apabila harus dilakukan, terutama
apabila informasi yang dibutuhkan adalah bersifat segera. Untuk
itu
perlu dikembangkan adanya suatu bentuk metode survai yang
20 sederhana, relatif
murah, cepat dan tepat sehingga informasi yang didapatkan
adalah informasi yang cukup akurat. Bagaimanapun informasi
yang cepat tetapi didapatkan hanya
berdasarkan laporan kegiatan rutin saja kurang dapat memenuhi
25 kebutuhan informasi yang dibutuhkan.
World Health Organization (WHO) telah mengembangkan satu
tehnik survai yang cepat dan murah untuk mengevaluasi program
imunisasi. Tehnik survai ini dikenal sebagai metode survai cepat
(Rapid Survey Method) dan ternyata ini juga dapat digunakan untuk
evaluasi program kesehatan lain.
Metode survai cepat pertama kali dikembangkan pada proyek
5 Expanded Programme on Immunization dari WHO. Metode ini
menerapkan rancangan sampel klaster dua tahap, dengan
pemilihan klaster pada tahap pertama secara probability
proportionate to size. Pemilihan sampel pada tahap kedua, yaitu
pemilihan sampel rumah tangga dilakukan dengan cara acak
10 sederhana (simple random) atau dengan menerapkan rumah
terdekat.
Dalam perkembangannya metode survai cepat telah cukup
banyak digunakan terutama dikalangan penelit i dan prakt isi
untuk perencanaan dan
15 mengevaluasi keberhasilan program. Setelah melalui berbagai uji
coba maka secara garis besar dapat disimpulkan bahwa metode
ini layak untuk diterapkan sebagai metode pengumpulan
informasi yang berasal dari masyarakat (population based
information) pada skala tingkat kabupaten. Ciri khas dari survai
20 cepat adalah:
1. Digunakan untuk mengukur kejadian yang sering terjadi di
masyarakat.
2. Pengambilan sampel secara cluster dua tahap, dimana untuk
tiap kabupaten diambil sebanyak 30 klaster dan masing-masing
25 klaster diambil sebanyak 7 sampai dengan 10 responden saja.
3. Jumlah pertanyaan cukup 20 - 30 pertanyaan saja dan bersifat
sederhana, (Hal ini karena survai ini bersifat cepat).
4. Rancangan sampel, memasukkan data, pengolahan dan
analisis data dilakukan dengan bantuan komputer (Program
yang bisa digunakan adalah Epi Info dan CSurvey).
5. Waktu sejak pelaksanaan sampai pelaporan bisa dilaksanakan
5 secara singkat.
6. Analisis data, penyajian data dan hasil survai disajikan dengan
memakai tehnik statistik yang sederhana dengan tetap
memperhatikan kaidah statistik yang berlaku
B. Prosedur Pelaksanaan Rapid Survai.
10 Prosedur untuk pelaksanaan survai cepat (rapid) tidak
berbeda dengan survai pada umumnya. Beberapa langkah yang
perlu diperhatikan adalah:
1. Menentukan masalah dan tujuan survai secara jelas dan
ringkas. Tujuan survai meskipun ringkas tetapi harus bisa
15 dirinci dengan baik karena hal ini berkaitan dengan variabel
atau pertanyaan dalam kuesioner dan analisis data yang akan
dilakukan.
2. Menentukan besar dan metode pengambilan sampel.
3. Mengembangkan instrumen survai. Instrumen survai yang
20 dibutuhkan relatif sederhana, bisa berupa kuesioner atau alat
pengukur tertentu yang sederhana. Sebaiknya sebelum
pelaksanaan suvai perlu dilakukuan uji coba dulu agar dapat
diketahui kekurangan baik instrumen survai maupun pelaksana
di lapangan.
25 4. Pengorganisasian dan pelaksanaan survai Bagian ini cukup
penting, termasuk melihat apakah pengumpul data sudah
paham tentang tata cara pemilihan responden di lapangan
(lihat mengenai metode pengambilan sampel) serta menguasai
pertanyaan pada kuesioner.
5. Analisis, interpretasi dan laporan. Data yang telah ada
sebaiknya segera diolah dan dianalisis yang dilakukan dengan
5 cara sederhana. Cukup dengan Epi Info dan Csurvey saja
karena program ini dibuat secara sederhana. Tidak dianjurkan
untuk analisis yang rumit misalnya multivariate, karena hal ini
akan mempersulit analisis, waktu menjadi lama dan diperlukan
program komputer yang canggih. Maka laporan yang dibuat dari
10 survai cepat ini cukup ditampilkan yang penting-penting saja.
C. Konsep Populasi dan Sampel
Pengertian populasi dan sampel pada survai cepat ini adalah
sama dengan survai atau penelitan pada umumnya. Perbedaan
terpenting adalah pada saat penentuan besar sampel dan teknik
15 pengambilan sampel. Untuk mengingat
kembali berikut ini adalah pengertian Populasi dan sampel.
Populasi : Yang dimaksud dengan populasi dalam statistika
adalah kumpulan semua elemen dimana suatu
generalisasi hendak dilakukan. Terpenting adalah
20 peneliti mampu mendefinisikan populasi secara cermat
dan lengkap sebelum melakukan penarikan sampel.
Unit sampling :Yaitu kumpulan elemen yang tidak overlapping
dari populasi yang mencakup populasi
keseluruhan. Secara ideal, survai harus mencakup
25 semua orang yang termasuk dalam populasi,
apabila survai dilakukan pada tingkat kabupaten,
hal itu jelas tidak memungkinkan karena
memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang
banyak.
Hasil yang didapat dari sampel survai memang tidak akan
sama dengan hasil dilakukan survai yang mengambil data dari
5 seluruh populasi. Perbedaan nilai sampel dengan nilai populasi
disebut sebagai samplinq error. Kesalahan ini selalu terjadi pada
survai, namun kesalahan ini dapat diperkecil dengan cara:
memilih sampel yang tidak bias dan sampel yang cukup besar.
Sampel yang memenuhi azas peluang (acak), memastikan bahwa
10 semua orang yang ada di populasi memiliki kesempatan yang
sama untuk dipilih sebagai sampel. Agar dapat memilih sampel
yang memenuhi azas peluang maka dibutuhkan kerangka
sampel, yaitu daftar semua unit sampling (pada survai umumnya
unit sampling bisa perorangan, rumah tangga atau kepala
15 keluarga). Pada survai cepat ini sebagai kerangka sampel
menggunakan unit sampling yang lebih tinggi bisa daftar nama
desa atau kecamatan.
D. Metode Sampling pada Rapid Survey.
Telah diuraikan bahwa sebagai kerangka sampel pada survai
20 cepat ini menggunakan unit sampling berupa desa atau
kecamatan sebagai dasar pengambilan cluster. Masing-masing
unit sampling yaitu desa atau kecamatan, data yang dibutuhkan
adalah jumlah penduduk atau jumlah Kepala Keluarga (KK)
(bukan daftar nama penduduk atau KK) pada tiap desa atau
25 kecamatan. Cara pengambilan sampel yang dilakukan menurut
WHO adalah cara
sampel klaster 2 tahap. Pada tahap pertama dipilih sejumlah
klaster, dan pada
tahap kedua barulah dipilih subyek survai.
Pada survai cepat ini, pada tahap pertama memilih klaster
yang diambil secara random sebagai sampel adalah 30 klaster,
dan selanjutnya pada tahap ke dua, masing-masing klaster
5 diambil subyek survai bisa berupa perorangan atau KK sebanyak
7 s.d 10 responden. Secara praktis dapat dikatakan bahwa
jumlah sampel sebanyak 30 x 7 s.d 10 responden, (30 klaster /
desa. 7 s.d 10 orang tiap klaster / desa) sudah mencukupi untuk
estimasi proporsi kejadian berkisar 15% - 85%, sehingga total
10 sampel yang terkumpul adalah 30 x 7 s.d 10 = 210 s.d 300.
Agar pemilihan sampel dapat secara adil, besar sampel pada
tiap klaster harus sebanding dengan besar relatif klaster
tersebut, artinya tiap klaster / desa yang terpilih jumlah subyek
juga berbeda. Hal ini tidak praktis dan perlu modifikasi agar tiap
15 klaster jumlah subyek yang terpilih bisa sama. Caranya pemilihan
klaster pada tahap pertama menggunakan cara probabilitas
proporsional dengan besar klaster (probability Proportionate to size/
PPS), yaitu pada desa dengan jumlah penduduk lebih besar maka
kemungkinan untuk menjadi klaster yang terjadi juga lebih
20 banyak, misalnya desa dengan penduduk kecil kemungkinan
hanya terjadi 1 klaster, sedangkan penduduk yang jumlah banyak
bisa menjadi beberapa klaster sesuai dengan proporsi besar
klaster.

25 E. Pemilihan Sampel di Tingkat Cluster.


Setelah klaster terpilih secara acak (cara pengambilan
sampel bisa dilakukan
dengan bantuan komputer Csurvey), maka tahap selanjutnya
adalah memilih 7 s.d 10 responden pada tiap klaster. Secara
ideal pemilihan sampel di tingkat klaster adalah menggunakan
metode acak sederhana, ini artinya harus mempunyai kerangka
5 sampel pada tiap klaster, kemudian dipilih 7 s.d 10 responden
secara acak sederhana tiap klaster. Tetapi cara ini tidak praktis
karena untuk membuat kerangka tersebut bukan hal yang mudah.
Cara yang telah diuji cobakan dan sering dilakukan adalah
dengan cara sebagai berikut:
10 1. Di klaster yang terpilih, pengumpul data mendatangi pusat

klaster (biasanya pusat klaster atau pusat desa adalah balai


desa, alun-alun, ataupun pusat kegiatan lainnya).
2. Di tengah klaster tersebut, pewawancara berjalan dengan

memilih arah (yang dipilih secara acak bisa dipilih salah satu,
15 ke kiri, ke kanan, ke depan atau ke belakang, cara paling
mudah adalah dengan lempar koin untuk memilih arah jalan
secara acak). Kemudian pewawancara berjalan sesuai arah
sampai batas klaster.
3. Sambil berjalan, pewawancara menggambar peta mengenai

20 rumah-rumah yang ada di kiri dan kanan jalan yang dilewati,


apabila pada saat pemetaan, pewawancara melewati
persimpangan jalan sebelum mencapai batas klaster,
pewawancara dapat menggunakan koin lagi untuk menentukan
arah, sehingga apabila telah selesai dibuat pemetaan hasilnya
25 misalnya sebagai berikut
4. Setelah selesai melakukan pemetaan, maka rumah-rumah

tersebut diberi nomor, kemudian secara acak pewawancara


mendatangi rumah pertama untuk dilakukan wawancara.
Pengambilan sampel secara acak ini bisa dengan cara diundi
atau menggunakan tabel bilangan acak (pada komputer ada
fasilitas tabel bilangan acak).
5 5. Bila rumah pertama yang dipilih secara acak memenuhi syarat

sebagai sampel, artinya dalam rumah tersebut terdapat


responden yang sesuai dengan kriteria sampel, maka
wawancara dapat dilakukan, apabila tidak memenuhi syarat
maka pindah ke rumah berikutnya.
10 6. Rumah berikutnya yang didatangi adalah rumah terdekat dari

rumah sebelumnya, akan tetapi lebih baik bila rumah


berikutnya tersebut juga diambil secara acak. Ada banyak cara
untuk menentukan rumah berikutnya tersebut, misalnya
mencari rumah berikutnya diambil rumah pertama terdekat,
15 cara lain adalah mendatangi rumah berikut dengan jarak 3
rumah atau jarak 5 rumah yang terdekat dari rumah yang telah
didatangi, cara lain misalnya hasil pemetaan dibagi menjadi 4
titik bagian dan masing-masing titik bagian diambil 2
responden.
20 7. Pada satu klaster, pencarian responden akan berakhir apabila

sudah menemukan paling sedikit 7 responden (Sebaiknya tiap


klaster, jumlah responden dibuat sama yaitu minimal 7
responden dan maksirnal 10 responden).
F. Pengolahan dan Analisis Data.
25 Apabila data sudah terkumpul maka tahap berikutnya adalah
melakukan pengolahan data, dan dapat dilakukan dengan
bantuan komputer, agar hasilnya bisa lebih cepat dan akurat.
Proses pengolahan data mulai memasukkan data, membersihkan,
mengkode jawaban harus dilakukan sesuai kriteria agar tidak
ada kesalahan pada saat analisis nanti. Apabila pengolahan data
selesai kemudian dilakukan analisis data menggunakan tehnik
5 statistik yang sesuai dengan tujuan survai. Analisis yang
digunakan pada survai cepat ini pada umumnya bersifat
sederhana misalnya menghitung proporsi, mean, simpangan baku
maupun tampilan data berupa tabel atau grafik sederhana.
G. Besar Sampel.
10 Unruk menemukan besar sampel pada Rapid survey, ada dua
konsep statistik, yaitu design effect (Deff) dan rate of
homogeneity (ROH). Dimaksud dengan Deff adalah rasio antara
varians yang diperoleh pada tehnik survey dengan sampel yang
kompleks dengan varians yang diperoleh jika survey dilakukan
15 dengan tehnik simple random sampling (SRS), deff ini juga dapat
diartikan sebagai inflasi varians akibat rancangan survey yang
non acak sederhana. Pada ROH adalah pengukuran homogenitas
atau derajat kesamaan sampel dalam klaster dengan derajat
kesamaan antar klaster.
20 Jika deff atau ROH diketahui, dapat dihitung besar sampel
untuk survey cepat dengan menggabungkan dua rumus yaitu
rumus dari besar sampel untuk tehnik sampel acak sederhana
dan rumus untuk estimasi nilai ROH. Rumus untuk tehnik acak
sederhana adalah:
25 n = ( p x q x Z 2)/d2, ..................... (1)
n adalah besar sampel, Z adalah nilai deviasi Normal standar,
p adalah proporsi kejadian populasi dan q sama dengan 1-p
adalah proporsi bukan kejadian populasi dan d adalah presisi
yang diukur dalam setengah confidence interval yang diinginkan.
Rumus (1) dapat ditulis menjadi :
d2 / Z2 = p x q / n = v (p) ............... (2)
5 Nilai d2 / Z2 = varians dari survey yang direncanakan dengan
metode sampel acak sederhana. Rumus 2 tersebut digunakan
untuk menentukan varians maksimum yang masih dapat diterima
peneliti.
Perhitungan varians untuk Rapid survey harus dikoreksi
10 dengan cara rumus 2 dikalikan Deff . Selanjutnya pada Rapid
survey n adalah jumlah klaster, sedangkan jumlah responden
rata-rata setiap klaster disimbolkan sebagai m. Besar sampel
total pada rapid Survey adalah n x m, sehingga varians untuk
Rapid survey adalah
15 d2 / Z2 = (p x q / n x m) x Deff. ………………..(3)
Rumus untuk estimasi ROH adalah :
ROH = (Deff-1) / (m - 1) .............................. (4)
Atau dapat ditulis :
Deff = ROH (m -1) +1 .....................................(5)
20 Maka dengan demikian maka rumus varians untuk Rapid
survey adalah :
v(p) = (p x q / n x m) x (ROH (m-1) +1) ........(6)
Rumus (6) digunakan untuk menghi tung var ians dar i jumlah
sampel
25 yang direncanakan dengan n klaster dan m responden per
klaster. Varians maksimum yang diterima peneliti adalah seperti
rumus (2), dengan membandingkan varians maksimum dengan
varians dari besar sampel yang direncanakan, maka peneliti
dapat menentukan apakah besar sampel yang direncanakan
sudah memadai. Jika varians dari besar sampel yang
direncanakan kurang dari varians maksimum, maka besar
5 sampel tersebut memadai, jika sebaliknya maka besar sampel
tersebut tidak memadai.
Untuk besar sampel, digunakan ROH dan bukan Def f karena
ROH lebih mudah diperkirakan dari pada Deff. Nilai deff berkisar
antara nol sampai tak terhingga, dan sulit diterjemahkan,
10 sedangkan nilai ROH umumnya berkisar antara nol dan satu.
ROH nilai nol artinya responden dalam klaster sangat
heterogen atau karakteristik antar klaster homogen, sedangkan
ROH nilai 1 artinya responden dalam klaster sangat homogen
atau karakteristik antar klaster heterogen. Rumus tersebut di
15 atas adalah untuk melihat besarnya masalah atau digunakan
untuk menghi tung / est imasi besarnya proporsi suatu kejadian,
sedangkan untuk evaluasi program atau membandingkan dua
proporsi kejadian yaitu proporsi kejadian sebelum intervensi
program dan proporsi kejadian sebelum intervensi program.
20 Digunakan formula standar Error
SE p1 – p2 = (p1 q1 + p2 q2 ) / ( n x m ) x deff ....................................
(7)
Apabila dikaitkan dengan rumus (5) maka rumus menjadi
SE p1 - p2 = (p1q1 + p2q2) / ( n x m ) x (ROH (m-1) + 1) .......(8)
25 P1 adalah proporsi kejadian pertama dan P 2 adalah proporsi
kejadian kedua dan q1 = 1 – p1 adalah proporsi bukan kejadian
pertama dan q2 = 1 – P2 adalah proporsi bukan kejadian ke dua.
Untuk menguji kecukupan besar sampel, batas bawah
confidence limit dibandingkan dengan nol. Jika batas bawah
confidence l imit lebih besar dari nol maka besar yang
direncanakan dinyatakan cukup, sedangkan batas bawah
5 confidence l imi t kurang dari nol maka besar sampel yang
direncanakan menjadi tidak memadai .

10

15

20

25
2.1 Pengertian Strategi Promosi Kesehatan
Untuk mewujudkan atau mencapai visi dan misi promosi kesehatan secara efektif dan
5 efisien, diperlukan cara dan pendekatan yang strategis. Cara ini sering disebut ³strategi´,
yakni teknik atau cara bagaimana mencapai atau mewujudkan visi dan misi promosi
kesehatan tersebut secara berhasil guna dan berdaya guna.

2.2 Strategi Promosi Kesehatan menurut WHO


10 Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global ini
terdiridari 3 hal, yaitu :

1. Advokasi (Advocacy)
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar orang lain tersebut
15 membantu atau mendukung terhadap apa yang di inginkan. Dalam konteks promosi
kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu
kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para penjabat tersebut mau
mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat
keputusantersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk
20 undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dan sebagainya.
Kegiatan advokasi ini ada bermacam-macam bentuk, baik secara formal
maupuninformal. Secara formal misalnya, penyajian atau presentasi dan
seminartentangissu atau usulan program yangingin dimintakan dukungan dari para
pejabat yangterkait. Kegiatan advokasi secara informal misalnya sowan kepada para
25 pejabat yang relevan dengan program yang diusulkan, untuk secarainformal meminta
dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, atau mungkin dalam bentuk dana atau
fasilitaslain. Dari uraian dapat di simpulkan bahwa sasaran advokasi adalah para pejabat
baik eksekutif maupunlegislatif, di berbagai tingkat dan sektor, yangterkait dengan
masalah kesehatan (sasarantertier).
30
2. Dukungan Sosial (Social support)
Strategi dukunngan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial
melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal.
Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat, sebagai jembatan antara
sektor kesehatan sebagai pelaksana program kesehatan dengan masyarakat (penerima
5 program) kesehatan. Dengan kegiatan mencari dukungan sosial melalui toma pada
dasarnya adalah mensosialisasikan program-program kesehatan, agar masyarakat mau
menerima dan mau berpartisipasi terhadap program-program tersebut.Oleh sebab itu,
strategi ini juga dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina suasana yang
kondusif terhadap kesehatan.Bentuk kegiatan dukungan sosial ini antara lain: pelatihan
10 pelatihan paratoma, seminar,lokakarya, bimbingan kepadatoma, dan sebagainya. Dengan
demikian maka sasaran utama dukungan sosial atau bina suasana adalah paratokoh
masyarakat di berbagai tingkat. (sasaran sekunder)

3. PemberdayaanMasyarakat (Empowerment)
15 Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan pada Masyarakat
langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi
kesehatan).Bentuk kegiatan pemberdayaanini dapat diwujudkan denagn berbagai
kegiatan, antaralain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan
20 masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan
peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill). Dengan meningkatnya
kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap kemampuan dalam
pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya: terbentuknya dana sehat,terbentuknya pos
obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan- kegiatan semacamini di
25 masyrakat sering disebut ³ gerakan masyarakat´ untuk kesehatan. Dari uaraian tersebut
dapat disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat.

2.3 Strategi Promosi Kesehatan menurut Piagam Ottawa


Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa ± Canada padatahun 1986
30 menghasilkan piagam Otawa (Ottawa Charter). Di dalam piagam Ottawatersebut
dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:
a. KebijakanBerwawasan Kebijakan (Health Public Policy)
Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada para penentu atau
pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang
5 mendukung atau menguntungkan kesehatan. Dengan perkataanlain, agar kebijakan-
kebijakan dalam bentuk peraturan, perundangan, surat-surat keputusan dan sebagainya,
selalu berwawasan atau berorientasi kepada kesahatan publik.Misalnya, ada peraturan
atau undang-undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkungan untuk
mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan katalain, setiap
10 kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan
dampaknyaterhadaplingkungan (kesehatan masyarakat).

b. Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)


Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum,termasuk pemerintah
15 kota, agar mereka menyediakan sarana-prasarana atau fasilitas yang mendukung
terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-
tempat umum tersebut. Lingkungan yang mendukung kesehatan bbagi tempat-tempat
umum lainnya: tersedianya tempat samapah,tersedianya tempat buang air besar/kecil,
tersedianya air bersih, tersedianya ruangan bagi perokok dan non-perokok, dan
20 sebagainya. Dengan perkataan lain, para pengelola tempat- tempat umum, pasar,
terminal, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, malldan sebagainya, harus menyediakan
sarana dan prasarana untuk mendukung perilaku sehat bagi pengunjungnya.

c.Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Service)


25 Sudah menjadi pemahaman masyarakat pada umumnya bahwa dalam pelayanan
kesehatanitu ada 3 provider´ dan 3 consumer´. Penyelenggara (penyedia) pelayanan
kesehatan adalah pemerintah dan swasta, dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau
pengguna pelayanan kesehatan. Pemahaman semacamini harus diubah, harus
diorientasikan lagi, bahwa masyarakat bukan sekedar pengguna atau penerima pelayanan
30 kesehatan,tetapi sekaligus juga sebagai penyelenggara, dalam batas-batas tertentu.
Realisasida rireontitas pelayanan kesehatan ini, adalah para penyelenggara pelayanan
kesehatan baik pemerintrah maupun swasta harus melibatkan, bahkan memberdayakan
masyarakat agar mereka juga dapat berperan bukan hanya sebagai penerima pelayanan
kesehatan,tetapi juga sekaligus sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Dalam
meorientasikan pelayanan kesehatan ini peran promosi kesehatan sangat penting.
5
d. Keterampilan Individu (Personnel Skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yangterdiri dari individu, keluarga,
dan kelompok-kelompok. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat akan terwujud apabila
kesehatan indivu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok- kelompoktersebut terwujud.
10 Oleh sebabitu, strategi untuk mewujudkan keterampilan individu-individu (personnels
kill) dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah sangat penting. Langkah
awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
merekaini adalah memberikan pemahaman - pemahaman kepada anggota masyarakat
tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengenal penyakit,
15 mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan profesional, meningkatkan kesehatan, dan
sebagainya.Metode dan teknik pemberian pemahaman ini lebih bersifat individu daripada
massa.

e. Gerakan masyarakat (Community Action)


20 Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di
dalam masyarakat itu sendiri harus ad gerakan atau kegiatan-kegiatan untuk kesehatan.
Oleh karena itu, promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegiatan-kegiatan di
masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di
25 bidang kesehatan, niscayaterwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan atau
masyarakat yang mau dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.

2.4 PEMILIHAN STRATEGI PROMKES


30 Aturan Dalam Memilih Strategi Promosi Kesehatan
1. Pilih minimal tiga strategi
2. Umumnya, penggunaan media sering digunakan dalam promosi kesehatan
3. Semakin lama program, semakin banyak strategi
4. Dimulai dengan strategi yang paling murah & sederhana
5. Semakin kompleks permasalahan perilaku yang akan diintervensi, semakin banyak
5 strategi yang digunakan
6. Strategi yang mempengaruhi faktor predisposisi umumnya mempunyai efek yang
singkat

    PRINSIP-PRINSIP PROMOSI KESEHATAN


10 Dalam strategi global promosi kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO,1984) dirumuskan bahwa promosi kesehatan sekurang-kurangnya mengandung
prinsip , yaitu sebagai berikut :

1.     Empowerment ( pemberdayaan) yaitu cara kerja untuk memungkinkan seseorang untuk
15 mendapatkan kontrol lebih besar atas keputusan dan tindakkan yang mempengaruhi
kesehatan mereka.
2.     Partisipative ( partisipasi) yaitu dimana seseorang mengambil bagian aktif dalam
pengambilan keputusan.
3.     Holistic ( menyeluruh ) yaitu memperhitungkan hal-hal yang mempengaruhi kesehatan
20 dan interaksi dari dimensi-dimensi tersebut.
4.     Equitable ( kesetaraan) yaitu memastikan kesamaan atau kesetaraan hasil yang di dapat
oleh klien.
5.     Intersectoral ( antar sektor ) yaitu bekerja dalam kemitraan dengan instasi terkait lainnya
atau organisasi.
256.     Sustainable ( berkelanjutan) yaitu memastikan bahwa hasil dari kegiatan promosi
kesehatan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
7.     Multi Strategy yaitu bekerja pada sejumlah strategi daerah seperti program kebijakkan.
Sedangkan  menurut Michael,dkk,2009 Prinsip-prinsip promosi kesehatan
antara lain sebagai berikut:
30
1.     Manajemen puncak harus mendukung secara nyata serta antusias program
intervensi dan turut terlibat dalam program tersebut.
2.     Pihak pekerja pada semua tingkat ini pengorganisasian harus terlibat dalam
perencanaan dan implementasi intervensi.
5 3.     Fokus intervensi harus berdasarkan pada factor risiko yang dapat didefinisikan
serta dimodifikasi dan merupakan prioritas bagi pekerja.
4.     Intervensi harus disusun sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pekerja.
5.     Sumber daya setempat harus dimanfaatkan dalam mengorganisasikan dan
mengimplementasikan intervensi.
10 6.     Evaluasi harus dilakukan juga.
7.     Organisasi harus menggunakan inisiatif kebijakan berbasis populasi maupun
intervensi promosi kesehatan yang intensif dengan berorientasi pada perorangan
dan kelompok.
8.     Intervensi harus bersifat kontinue serta didasarkan pada prinsip-
15 prinsippemberdayaan dan atau model yang berorientasi pada masyarakat dengan
menggunakan lebih dari satu metode.

Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi, Sasaran


20 yang dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi.
1. Berdasarkan Teknik Komunikasi
a. Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan
sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi (FGD),
25 pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
b. Metode yang tidak langsung.
   Dalam  hal  ini  para  penyuluh  tidak langsung berhadapan secara tatap muka
   dengan sasaran, tetapi ia  menyampaikan pesannya dengan perantara (media).  
   Umpamanya publikasi dalam bentuk media cetak, melalui pertunjukan film, dsb
30

2. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai


a. Pendekatan Perorangan
    Dalam  hal  ini  para  penyuluh  berhubungan  secara langsung maupun tidak
    langsung  dengan  sasaran  secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah
    hubungan telepon, dan lain-lain
5

b. Pendekatan Kelompok
    Dalam  pendekatan  ini  petugas promosi  berhubungan  dengan  sekolompok sasaran.
Beberapa metode  penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain : Pertemuan,
Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain
10

c. Pendekatan Masal
Petugas   promosi   kesehatan   menyampaikan   pesannya   secara  sekaligus Kepada
sasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini
adalah : Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media
15 cetak lainnya, Pemutaran film,dll

3. Berdasarkan Indera Penerima


a.    Metode Melihat/Memperhatikan. Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera
penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan Gambar/Photo, Pemasangan
20 Koran dinding, Pemutaran Film

b.    Metode Pendengaran. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera
pendengar,umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll

25 c.    Metode “Kombinasi”. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar,
dicium,diraba dan dicoba)