Anda di halaman 1dari 2

LANSIA

Data status gizi berdasarkan indeks IMT/U di Desa Jambearjo menunjukkan bahwa pada
tahun 2019 menunjukkan bahwa 12% lansia memiliki status gizi kurus dan 40% lansia memiliki
status gizi gemuk. Frekuensi makan sebagian besar lansia hanya 2 kali sehari tanpa snack, pola makan
lansia sebagian besar lansia sering mengkonsumsi sayur dalam sehari 2–3 kali dengan persentase
sebesar 87%. Sedangkan yang hanya mengonsums sayur 1x sehari sebesar 13%, sebagian besar lansia
yang mengonsumsi buah sebesar 60%, sedangkan yang tidak mengonsumsi buah sebesar 40%.
sedangkan 28% lansia menderita pegal linu. Hipertensi, diabetes, kesemutan, pusing, mual,
hipertensi+diabetes masing-masing sebesar 4%. Sebanyak 24% lansia tidak melakukan aktifitas fisik.
Sebagian besar lansia dengan latarbelakang pendidikan tidak sekolah sebesar 12%, tamat SD/MI
72%, tamat SMP/MTS 8%, dan tamat SMA/MA/SMK 8%

1 Antropometri Sebanyak 12% lansia memiliki status gizi kurus


(IMT <18,5)
Sebanyak 40% lansia memiliki status gizi
gemuk (>24,5)
Laboratorium
Fisik Klinis
Riwayat Gizi  Frekuensi makan sebagian besar lansia
hanya 2 kali sehari tanpa snack
 Sebanyak 40% lansia tidak
mengonsumsi buah
 Sebanyak 13% lansia hanya
mengonsumsi sayur 1 kali sehari
 Sebanyak 24% lansia tidak melakukan
aktifitas fisik
 Sebanyak 8% lansia memiliki riwayat
alergi terhadap protein hewani
 sebagian besar lansia mengonsumsi
makanan atau minuman manis dengan
persentase sebesar 68%
 Tingkat konsumsi energi defisit tingkat
berat sebesar 84%
 Tingkat konsumsi protein defisit tingkat
berat sebesar 80%
 Tingkat konsumsi lemak sebesar 88%
 Tingkat konsumsi karbohidrat sebesar
80%
 Tingkat konsumsi lemak di atas AKG
sebesar 4%
 Tingkat konsumsi karbohidrat di atas
AKG sebesar 4%
Riwayat Klien  28% lansia menderita pegal linu
 Hipertensi, diabetes, kesemutan, pusing,
mual, hipertensi+diabetes masing-
masing sebesar 4%.
2 Problem Tingginya proporsi lansia dengan IMT <18,5
Etiologi  Tingkat konsumsi energi defisit tingkat
berat sebesar 84%
 Tingkat konsumsi protein defisit tingkat
berat sebesar 80%
 Tingkat konsumsi lemak sebesar 88%
 Tingkat konsumsi karbohidrat sebesa
80%
 Frekuensi makan sebagian besar lansia
hanya 2 kali sehari tanpa snack
 Sebanyak 40% lansia tidak
mengonsumsi buah

Sign/symptom 12% lansia memiliki status gizi kurus (<18,5)


Diagnosis 12% lansia memiliki status gizi kurus berkaitan
dengan tingkat konsumsi zat gizi defisit tingkat
berat dan frekuensi makan hanya 2 kali sehari
tanpa snack, serta ditandai dengan hasil
pengukuran IMT <18,5
3 Problem Tingginya proporsi lansia dengan IMT >18,5
Etiologi  Tingkat konsumsi lemak di atas AKG
sebesar 4%
 Tingkat konsumsi karbohidrat di atas
AKG sebesar 4%
 sebagian besar lansia mengonsumsi
makanan atau minuman manis dengan
persentase sebesar 68%
 Sebanyak 13% lansia hanya
mengonsumsi sayur 1 kali sehari

Sign/symptom 40% lansia memiliki status gizi gemuk (>24,5)


Diagnosis 40% lansia memiliki status gizi gemuk berkaitan
dengan tingkat konsumsi lemak dan karbohidrat
lebih dari AKG dan rendahnyaa frekuensi
konsumsi sayur serta ditandai dengan hasil
pengukuran IMT>24,5
4 Tujuan intervensi Meningkatkan proporsi status gizi normal pada
lansia
intervensi diet Memberikan diet sesuai dengan penyakit lansia
Pemberian edukasi  Edukasi tentang makanan sehat bergizi
seimbang
 Pentingnya mengosumsi sayur dan buah
untuk mencegah konstipasi.
 Perilaku higiene sanitasi
 Pentingnya aktifitas fisik pada lansia

5 Monitoring dan evaluasi  Proporsi lansia yang mengalami


secara berkala dilakukan peningkatan status gizi
dengan melihat  Proporsi lansia yang memiliki pola
makan teratur dan bergizi seimbang
 Memantau berat badan lasnia