Anda di halaman 1dari 8

PANCASILA BUKAN SEKEDAR PAJANGAN

Leni Handariatul Masruroh


160210101009
Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikakan

Pengantar
Bukan sekedar pajangan judul ini merupakan bagian dari ungkapan
rasa kegelisahan saya di era globalisasi sekarang terhadap nilai-nilai
Pancasila yang kian hari kian memudar. Saya sebagai mahasiswa merasa
bahwa Pancasila hanyalah simbol yang harus ada dalam sebuah Negara dan
sebuah pajangan yang berada di dinding-dinding. Warisan luhur yang di
puja-puji para tokoh bangsa itu sudah dianggap basi. Kenyataan dilapangan
Pancasila yang sekarang sudah tidak diamalkan, bahkan dihafalkan pun
tidak.
Kenyataan yang saya temui bahkan saya ikut mengalami ketika saya
duduk di semester dua ini, ketika menempuh mata kuliah Pendidikan
Pancasila. Pada saat ada tes yang diberikan tiga buah soal, yang pertama
yaitu menuliskakn lima sila Pancasila, simbol dari setiap sila dan yang
terakhir yaitu menuliskan lagu Garuda Pancasila. Mungkin terlihat sederhana
ketika kita mendengar soal diatas. Tapi kenyatan yang mengerikan disini
terjadi. Hasil dari tes tersebut sungguh menggelishkan. Dari 40 mahasiswa
yang benar menjawab ketiga soal diatas kurang lebih hanyalah 30% nya.
Kenyataan yang kedua yaitu ketika saya duduk dibangku sekolah
dasar, menengah pertama, dan menengah atas. Pada setiap hari senin atau
hari-hari besar kami melakukan upacara bendera. Lagi-lagi siswa hanyalah
seperti mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh sekolahan. Datang untuk
mengisi presensi saja. Upacara yang harusnya khidmat malah jadi tempat
bercandaan siswa satu dengan yang lain bahkan pada saat penghormatan
sikapnya tidak menunjukkan penghormatan kepada sang saka merah putih,
badan yang condong kebelakang dengan kaki di serongkan salah satunya
menunjukkan generasi pemuda Indonesia yang kian memburuk.
Lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, akibat dari salah satunya kata dan perbuatan para
pemimpin bangsa, Pancasila hanya dijadikan slogan di bibir para pemimpin,
tetapi berbagai tindak dan perilakunya justru jauh dari nilai-nilai luhur
Pancasila (Wahana, 1993: 46). Contoh yang tidak baik dari para pemimpin
bangsa dalam pengamalan Pancasila telah menjalar pada lunturnya nilai-nilai
Pancasila di masyarakat. Kurangnya komitmen dan tanggung jawab para
pemimpin bangsa melaksanakan nilai-nilai Pancasila tersebut, telah
mendorong munculnya kekuatan baru yang tidak melihat Pancasila sebagai
falsafah dan pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya, terjadilah
kekacauan dalam tatanan kehidupan berbangsa.

1
Yang paling buruk menurut saya yaitu ketika wakil rakyat yaitu Wali
kota yang tidak hafal dengan urutan sila-sila Pancasila. Ada sebuah artikel
yang menyebutkan bahwa wali kota di kampung habibi saat upacara
peringatan Hari Pahlawan salah melafalkan urutan Pancasila. Setelah
menyebutkan sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa", wali kota keliru
dalam menyebutkan sila kedua. Saat itu, insiden terpeleset lidah terjadi. Ia
yang seharusnya mengucapkan "Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab",
malah melafalkan sila yang terakhir yakni "Keadilan Sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia".
Wakil rakyat yang saya anggap sebagai panutan bagi rakyatnya juga
tidak manghafalkan sila Pancasila. Dari sini mungkin terbesit pemikiran di
benak mahasiswa, pemuda-pemudi Indoesia bahwa tidak perlu
mengamalkan Pancasila. Kasarnya orang bilang Panutannya saja tidak
mengamalkan kenapa kita yang harus repot. Padahal jika kita cermati di
kantor walikota terpampang jelas di dinding nya terdapat garuda Pancasila.
Lagi-lagi hanya sebagai pajangan.
Saya mengutip lagu Iwan Fals “Garuda bukan burung perkutut, Sang
Saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu
bukanlah rumus kode buntut yang hanya berisi harapan, yang hanya berisi
khayalan,”. Jelas mengharukan ketika kita mendengar lagu tersebut. Kita
sudah merdeka lebih dari 70 tahun. Mengingat perjuangan para pahlawan
yang berjuang mati-matian untuk memerdekakan bangsa ini, betapa
berjuangnya mereka ketika berada di bawah tindasan bangsa asing, hanya
sekedar ingin berdiskusi pun harus dibelakang dan secara diam-diam jika
ketahuan nyawa pun bisa jadi taruhannya.
Lagu tersebut mengingatkan kita bahwa Pancasila itu bukan hanya
sekedar rumus kode buntut yang hanya berisi harapan dan hayalan saja. Kita
juga bisa menyimpulkan bahwa Pancasila yang dilambangkan dengan burung
garuda yang kokoh sekarang hanyalah menjadi burung perkutut yang sudah
tidak dihargai lagi.
Lunturnya nilai-nilai Pancasila pada sebagian masyarakat dapat
berarti awal sebuah malapetaka bagi bangsa dan Negara kita. Fenomena itu
sudah bisa kita saksikan dengan mulai terjadinya kemrosotan moral, mental
dan etika dalam bermasyarakat dan berbangsa terutama pada generasi
muda. Timbulnya persepsi yang dangkal, wawasan yang sempit, perbedaan
pendapat yang berujung bermusuhan dan bukan mencari solusi untuk
memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, anti terhadap kritik serta
sulit menerima perubahan yang pada akhirnya cenderung mengundang
tindak anarkis (Kaelan, 2001: 167).
Sebagai contoh banyaknya tawuran antar pelajar yang terjadi. Bahkan
masalah yang di anggap sepele dibesar-besarkan mengakibatkan drop-
dropan tidak terhindari. Tugas seorang pelajar yang seharusnya belajar dan
belajar perpegangan buku-buku pelajaran, beralih profesi seperti seorang
preman yang suka bertengkar dan ditangannya tidak lepas dari benda-benda

2
berbahaya seperti sabit, pisau dan batu untuk mengalahkan lawan. Terlihat
bahwa moral dan etika pemuda sekarang telah hangus dimakan masa.
Pergaulan bebas yang berujung pada seks bebas juga menjadi momok
yang menakutkan. Banyak remaja yang memakai pakaian ketat bahkan
terbuka dan bergaul dengan tidak sehat terhadap lawan jenis yang tidak
sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Banyak remaja yang tidak
mengenal sopan santun dan cenderung berperilaku negatif. Kemudahan
akses internet juga memberikan peluang dalam mengakses situs-situs
pornografi. Indonesia yang menganut budaya Timur sangat menentang hal
itu, sebab budaya seperti itu sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Berbicara tentang pemikiran, banyak pemuda kadang bisa dibilang
hampir tidak bisa berfikir rasional. Persepsi yang dangkal menimbulkan
perbedaan pendapat dan akhirnya munculah pertengkaran. Sebagai contoh
pada saat teman/saudara menasehati demi kebaikan kita, rasa emosi yang
slalu pertama hadir dan pemikiran negatif yang slalu muncul di benak,
merupakan pemikiran kita yang begitu dangkal dan tidak berfikir secara
rasional seharusnya kita memilah-milah terlebih dahulu apakah itu baik bagi
kita ataukah sebaliknya. Kebiasaan pemuda sekarang adalah marah yang
slalu didahulukan. Bagaimana Pancasila bisa sakti jika pengamalannya
seperti ini.
Dalam konteks diatas haruslah Pancasila diamalkan, diperjuangkan
bukan ditinggalkan bahkan bukan hanya sekedar pajangan.

Dimana Pancasila
Pancasila sebagai dasar Ideologi Negara mungkin sudah tidak asing
kita mendengarnya, bahkan sebagian besar warga Indonesia sudah tahu
bahwa sejatinya Pancasila adalah ideologi dasar, tetapi realita saat yang
sedang terjadi saat ini adalah warga Negara Indonesia tidak memahami dan
merasa belum jelas akan makna Pancasila sebagai dasar ideologi Negara
(Toyibin, 1997: 36). Bangsa Indonesia saat ini hanya merasa tak acuh
terhadap makna dari nilai yang terkandung dalam Pancasila sesungguhnya.
Bagi bangsa Indonesia Pancasila itu adalah tulisan yang diberi pigura sebagai
penghias bangunan yang tidak memiliki makna.
Dan Dimanakah Pancasila itu berada?
Pancasila itu tetap ada di Indonesia, tetap ada dalam jiwa bangsa
Indonesia tapi hanya sekedar nama, pengamalan bahkan makna dari
Pancasila yang hilang, Mungkin Pancasila tetap tertulis di buku PKN,
terpampang di depan ruangan kelas disebelah foto presiden, tapi yang saya
lihat sekarang ini pancasila hanyalah seperti peraturan yang dibuat oleh
komisi disiplin sekolah yang dipampang didinding dan hanya untuk dilihat.
Padahal peraturan “tertulis” itulah yang menunjukan identitas kita sebagai
bangsa Indonesia (Said ali, 2009: 68). Sekarang ini Pancasila dianggap
sebagai suatu kebiasaan yang tidak penting bagi generasi muda Indonesia.
Benar apa pendapat B.J Habibie pada pidatonya bulan Juli 2011 lalu,
yang menjelaskan pancasila telah terlupakan dan butuh waktu yang lama

3
untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya pancasila. Beliau juga
mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran nilai pada pancasila, yang telah
melenceng dari nilai – nilai orisinil yang tertera pada pancasila. Pada pidato
itu, beliau juga menyampaikan bahwa Pancasila butuh di reaktualisasikan,
sebagaimana mengembalikan nilai – nilai pancasila yang sebenarnya.
Berkaitan dengan hal ini, sangat memprihatinkan karena salah satu tokoh
besar bangsa kami saja sudah mengatakan bahwa pancasila di masa sekarang
butuh di reaktualisasi yang berarti sudah banyak dilupakan di kalangan
masyarakat. Globalisasi dan teknologi lebih besar daripada pancasila, itulah
kalimat terakhir beliau pada pidatonya saat itu, yang benar benar membuat
bangsa ini menyadari betapa hilangnya pancasila pada saat ini.
Saya mengambil contoh tentang sila pertama Pancasila. Banyak dari
warga Indonesia, tidak jauh-jauh yaitu mahasiswa era sekarang dan saya
juga termasuk ada didalamnya kerap lalai tentang sila pertama pancasia
yaitu tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Alasan tugas, acara padat
mengakibatkan kelelahan dan akhirnya tertidur menjadikan berbagai macam
alasan untuk mahasiswa tidak beribadah kepada Tuhannya. Ternyata bukan
hanya mahasiswa yang lalai akan Tuhan-nya. Banyak pegawai-pegawai juga
tidak menjalankan kewajiban ibadahnya dengan alasan sibuk dengan
pekerjaan yang sedang dilakukannya. Ironisnya banyak perempuan yang
suka berdandan tidak menjalankan ibadah dengan alasan takut jika
bedaknya hilang.
Kasus lain mengenai musyawarah dan demokrasi yang merupakan
refleksi dari sila ke-4 Pancasila yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Indonesia menganut
sistem demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia
untuk berpartisipasi langsung dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.
Sayangnya, masih banyak rakyat yang tidak sadar akan pentingnya
partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Contoh pada saat pemilihan
Presiden RI banyak dari rakyat Indonesia yang tidak datang ke TPU untuk
menggunakan haknya untuk memilih atau golput. Tidak adanya kesadaran
pada warga Indonesia mengakibatkan goyahnya Bangsa, bagaimana tidak
pada saat pemilihan pemimpin Negara mereka tidak mengasihkan hak
suaranya tetapi pada saat adanya kesalahan yang dilakukan petinggi Negara
mereka mencaci dan menghina dengan sekuat tenaga mereka.
Contoh lain yaitu tentang Penyimpangan sila kelima Pancasila yang
berbunyi Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lanur menyatakan
“Kesejahteraan material yang dicapai lewat pembangunan ekonomi memang
tidak dapat disangsikan, yang dipersoalkan adalah distribusi yang adil dari
setiap pembagunan itu” (lanur, 1995: 24). Kenyataan masa sekarang
pemimpin-pemimpin tidak bisa adil terhadap masyarakatnya. Salah satunya
yang terjadi didesa saya, bantuan Pemerintah berupa beras yang
diperuntukkan kepada orang yang kurang mampu. Ini tidak di jalankan
sebagaimana mestinya, kenyataannya banyak warga yang tergolong mampu

4
malah mendapatkan beras tersebut dan warga yang kurang mampu banyak
yang terlewatkan.
Berbicara keadilan tidak ada habisnya, yang saya ketahui saat ini
adalah ketika seseorang mau melamar sebuah pekerjaan, seorang dari
kalangan rendah akan kalah sama orang yang dari kalangan tinggi yang
mempunyai koneksi orang dalam. Padahal belum tentu orang yang dari
kalangan rendah tadi kemampuannya rendah juga, bisa jadi lebih banyak
pengalaman orang yang dari kalangan bawah tadi. Keadilan perlu ditegakkan.
Keadilan di Indonesia menurut saya masih sangat kurang dan bahkan
hampir punah, untuk para pemimpin/pejabat Negara yang masih melakukan
penyimpangan aturan seharusnya mereka sudah tidak boleh mendapat kursi
kekuasaan dari Negara lagi, tapi realita saat ini mereka tetap bebas dan
berkeliaran di Indonesia bahkan masalah yang bersangkutan pun tak
kunjung diselesaikan oleh Negara Indonesia. Hal ini akan menyebabkan
munculnya masalah-masalah baru di Indonesia yang tidak lain masalah
tersebut adalah turunan dari masalah yang pernah ada. Bisa bisa bangsa
Indonesia akan runtuh seiring perkembangan zaman jika pengamalan nilai-
nilai Pancasila tidak ada.
Hal yang mendasari mengapa Pancasila mulai dilupakan adalah
lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Banyak orang bilang hukum di
Indonesia dapat dibeli dengan uang dan jabatan. Seperti kasus pada tahun
2009 yang sempat menghebohkan negeri ini yaitu kasus nenek Minah dari
Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten
Banyumas yang harus menghadapi masalah hukum hanya karena tiga biji
kakao yang nilainya Rp 2.000. Akibat perbuatannya itu, nenek Minah
mendapat ancaman hukuman enam bulan penjara. Mari kita bandingkan
dengan kasus-kasus korupsi yang merugikan uang negara senilai Miliaran
rupiah bahkan sampai Triliun, seperti yang kita lihat sekarang banyak
pejabat Negara yang masih bebas berkeliaran berfoya-foya menghabiskan
uang Negara tanpa mendapat tindakan hukum yang jelas dari pemerintah.
Pemenang masih menjadi milik orang-orang yang berkuasa dan kaya raya
(Sembiring, 2010: 44). Padahal menurut pasal 27 ayat 1: segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya, dan
nilai sila ke-5 yang menekankan pada prinsip keadilan bagi seluruh lapisan
masyarakat, sangat jelas menunjukkan kesetaraan dan keadilan semua
masyarakat di depan hukum tanpa mempertimbangkan jabatan dan
kekayaan tapi murni didasarkan pada kesalahan yang diperbuat.

“Pancasila yang mengandung nilai ketuhanan, kemanusiaan,


persatuan, kerakyatan, dan keadilan sebuah pedoman hidup
yang sangat luar biasa bagi bangsa apabila nilai-nilai tersebut
diamalkan oleh segenap masyarakat dan pemerintah maka
persatuan dan kesatuan keadilan dan kemakmuran akan
terwujud” (Babun Wahyudi, seorang blogger).

5
Begitulah seharusnya pancasila. Kelima sila tersebut memiliki arti yang
sangat bermakna, bukan hanya 5 kalimat yang diucapkan ketika upacara
bendera saja, tetapi merupakan 5 kalimat sakral yang dapat membimbing
bangsa ini menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Pemerintah dan
masyarakat seharusnya menjadikan pancasila sebagai pedoman kehidupan
untuk meraih masa depan yang cerah bagi negeri ini.
Oleh sebab itu, saya sebagai penulis tulisan ini berpesan kepada saya
pribadi dan segenap bangsa Indonesia untuk mengajarkan kepada generasi
baru yaitu generasi setelah kita tentang makna asli yang terkandung dalam
Pancasila agar kedepannya mereka akan menjadi pribadi Pancasila yang baik
dan benar. Bukan hanya sekedar dipajang. Selain itu, saya juga berpesan
kepada Negara (pemerintah) agar menyaring jiwa-jiwa Pancasila sebagai
pemimpin bangsa bukan pribadi yang berwajah Pancasila tapi pribadi
dengan hati Pancasila. Dengan demikian insyaAllah makna Pancasila tidak
akan hilang dan akan selalu terlaksana dengan baik dalam pemerintahan
Indonesia.

Hukuman Mati Bagi Koruptor?


Zaman selalu berganti, Pergeseran-pergeseran pandangan hidup pun
tidak terelakkan. Walaupun pancasila mencoba tetap bertahan di era
globalisasi yang penuh dengan perubahan. Namun banyak penyimpangan-
penyimpangan terhadap prinsip-prinsip pancasila yang ada (Tilaar, 2007:
47). Penyimpangan-penyimpangan itu seperti banyaknya gerakan separatis
yang ingin memisahkan diri dari Negara Indonesia dan ingin mendirikan
Negara sendiri. Hal itu sangat bertentangan dengan sila ke-3 pancasila yaitu
Persatuan Indonesia.
Dalam kehidupan sehari-hari pada saat ini, pancasila ternyata tidak
lebih sebagai pajangan dan simbol saja, bahkan boleh dikatakan Burung
Garuda sebagai simbol Pancasila yang tidak jauh beda dengan Burung
Perkutut. Hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai penyimpangan terhadap
pancasila, salah satu contohnya yaitu merebaknya koruptor di Indonesia,
koruptor termasuk dalam penyimpangan ketidakadilan HAM, yang perlu kita
perhatikan pada seorang koruptor adalah hilangnya Pendidikan Moral
seseorang demi kepentingan pribadi untuk memperkaya diri dengan jalan
merugikan orang lain.
Menurut pendapat saya hukuman yang paling cocok bagi koruptor
adalah hukuman mati, Kenapa saya bilang sangat cocok, Korupsi adalah
pelanggaran atau kasus yang tergolong sangat berat. Di karenakan
dampaknya bagi masyarakat bahkan sampai generasi penerus nanti.
Logikanya banyak rakyat yang miskin, kekurangan makanan, pendidikan,
pekerjaan karena korupsi, bahkan nyawapun bisa melayang akibat korupsi.
Jika saya harus berkata lebih baik membunuh satu orang koruptor daripada
kita kehilangan banyak nyawa masyarakat indonesia. Sangat disayangkan
Indonesia merupakan Negara hukum, tetapi kenyataan yang terjadi
Indonesia masih belum bisa menerapkan hal itu, Para koruptor dibiarkan

6
berkeliaran tanpa mendapat hukuman yang setimpa dan mereka bisa
tertawa dengan leluasa diatas penderitaan rakyat Indonesia.
Apakah bertambahnya era, pengamalan pancasila akan tetap bertahan
menjadi ideologi secara nyata? Ataukah memudar secara perlahan, dan
menjadi pajangan semata? Semoga tidak. Ideologi pancasila harus tetap
tertanam dihati setiap masyarakat Indonesia. Karena pancasila adalah alat
pemersatu bangsa. Pancasila-lah yang dapat merekatkan bangsa Indonesia.
Dengan mengamalkan nilai-nilai pancasila secara sungguh-sungguh kita
dapat memajukan Negara kita dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

Penutup
Pancasila dulu dianggap sebagai falsafah bangsa Indonesia kini seperti
hanya menjadi slogan, nilai-nilai yang terkandung dalam ke-5 sila Pancasila
tidak lagi menjadi pedoman dan acuan oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia sendiri, Pancasila telah mati suri, bangsa Indonesia tak lagi
mengenal ideologi Pancasila. Pancasila yang seharusnya menjadi pedoman
tak lagi dijadikan pedoman, padahal Pancasila memiliki nilai-nilai dasar yang
dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia
dan tuntunan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan
tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri.
Seharusnya bangsa Indonesia bangga memiliki dasar Negara Pancasila,
bukan malah mengabaikan nilai-nilai dasar yang terdapat dalam Pancasila.
Negara-Negara yang tidak memiliki dasar Negara saja bisa maju, bisa hidup
sejahtera mengapa kita yang memiliki dasar Negara Pancasila justru
terpuruk? Padahal Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat
kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup
masyarakat Indonesia, seharusnya masyarakat Indonesia harus bisa lebih
memahami, menghargai dan menerima dasar Negaranya agar dapat
menjalankan kehidupan berbangsa dan berNegara dengan baik dan terarah
dengan berlandaskan nilai-nilai dari ke-5 sila Pancasila. Memang
pengetahuan tentang Pancasila perlu disosialisasikan lebih meluas dan
terperinci terhadap masyarakat Indonesia agar semua mengetahui bahwa
Pancasila bukan hanya menjadi slogan sebagai falsafah atau dasar Negara
saja tetapi juga harus dilaksanakan dan harus dijadikan pedoman serta acuan
dalam menjalankan kehidupan bermasyarakatnya (Kartodirdjo, 1994: 65).
Sudah tidak ada lagi karakter yang yang mencerminkan berjiwa
pancasila pada saat sekarang ini, bahkan pemerintah pun juga tidak sedikit
yang melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan ideologi dasar
Negara tersebut yaitu Pancasila. Pemerintah dalam hal ini harus lebih peka
terhadap setiap kejadian yang berhubungan dengan pengamalan pancasila.
Berawal dari kebijakan-kebijakan yang lebih terstruktur dan terlaksana,
maka dari sanalah cita-cita sejati Pancasila tercipta. kita juga sebagai
masyarakat juga seharusnya lebih sadar dan patuh pada nilai-nilai dsar
pancasila ini.

7
Hilang atau tidaknya nilai-nilai Pancasila tergantung dari diri kita
sendiri. Kemajuan/kemunduran bangsa Indonesia kedepan tergantung dari
apa yang kita lakukan saat ini. Kita pemuda Indonesia harus tetap
mempertahankan Pancasila sebagai idiologi Negara dengan benar-benar
mengamalkan niai-nilai yang terkandung di setiap Silanya. Pelaksanaan
Pancasila bukan hanya sekedar pelaksanaan beban tugas yang memberatkan,
melainkan merupakan proses terjadinya cita-cita.

Referensi

Ali, As’ad Said. 2009. Negara Pancasila Jalan Kemaslahatan Berabangsa.


Jakarta: Pustaka LP3ES.

http://regional.liputan6.com/read/2649356/kala-wali-kota-di-kampung-
presiden-habibie-lupa-urutan-Pancasila [diakses pada 5 April
2017].

Kaelan. 2001. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma Offset.

Kartodirdjo, Sartono. 1994. Pembangunan Bangsa. Yogyakarta: Aditya


Medika.

Lanur, Alex. 1995. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Problem dan


Tantangannya. Yogyakarta: Kanisius.

Sembiring, Kasim. 2010. Pendidikan Kewarga Negaraan Dasar Karakter


Bangsa Hanya satu NKRI. Jember: Universitas Jember.

Tilaar. 2007. MengIndonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia.


Jakarta: PT Rineka Cipta.

Toyibin, Aziz. 1997. Pendidikan Pancasila. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Wahana, Paulus. 1993. Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Kanisius.