Anda di halaman 1dari 1

NAMA : DILAN JANIYAR RAMADHANI

NIM : 18/428703/TK/47205
KELAS : A
KULIAH : SURVEI HIDROGRAFI I

PERENCANAAN SURVEI HIDROGRAFI

Pemeruman adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh gambaran topografi dasar perairan (seabed
surface). Survey batimetri adalah hahapan yang meliputi pengukuran, pengolahan, hingga visualisasi
hasil baik berupa kontur maupun model permukaan digital. Kontur dihasilkan dari interpolasi titik-titik
kedalaman yang diukur. Titik-titik tersebut berada pada lajur-lajur pengukuran yang disebut lajur perum
(sounding line). Jarak antar titik pemeruman setidaknya sama atau lebih rapat daripada interval lajur
perum. Penyajian model batimetri dapat berupa model 3 dimesi ataupun wireframe. Lajur perum sendiri
terdiri atas lajur utama dan lajur silang.

Pengukuran kedalaman dilakukan dengan mengambil titik yang mampu merepresentasikan daerah yang
dipetakan secara menyeluruh. Titik tersebut dinamakan titik fix perum dimana dititk itulah dilakukan
pengukuran posisi horizontal dan waktu. Metode pengukuran horizontal dengan 1. Optik (teodolit,
sextans), 2. Elektromagnetik (transponder, GPS), 3. Optik-elektromagnetik (TS).

Pengukuran diawali dengan pembuatan profil (potongan). Lajur didesain mampu mendeteksi perubahan
kedalaman ekstrim(didesain tegak lurus thd kecenderungan arah garis pantai) yang dapat berupa garis
lurus, lingkaran konsentris, dan hiperbola bergantung metode yang digunakan. Nilai kedalaman pada
titik pemeruman kemudian dibuat grid sebaran peta dan diubah menjadi garis kontur kedalaman. Desain
lajur harus memperhatikan topografi dan kecenderungan bentuk perairan yang disurvei.

Teknik sederhana penarikan garis kontur dapat dilakukan dengan triangulasi (interpolasi linier). Pertama
tetap buat grid di atas sebaran titik-titik kedalaman dulu. Lalu, nilai kedalaman tiap grid dihitung dengan
menginterpolasikan nilai-nilai kedalaman dengan pembobotan sesuai jarak. Jika angka kedalaman taip
grid telah ditentukan maka garis kontur dapat mulai ditarik.

Macam-macam teknik pengukuran kedalaman yaitu 1. Mekanik (pengukuran kedalaman langsung


dengan tali/tongkat, simpul/bacaan, katrol), 2. Optik(dengan transmisi sinar laser yang dipancarkan dari
pesawat terbang, missal LAB, LiDAR, AOL, LADS), 3. Akustik(dengan frekuensi 5kHz atau 100kHz yang
tahan thd kehilangan intensitas).Peralatan survey batimetri yaitu wahana apung, alat ukur kedalaman,
alat utk penentuan posisi horizontal, alat pengukur pasut, dan alat penunjuk waktu.

Skala survey menentukan ketelitian minimal pengukuran dan banyaknya detil. Skala  1:10.000 
Bandar pelabuhan (sangat dalam), 1:20.000  daerah utk pelayaran (dalam), 1:50.000  daerah
pantai kedalaman 30-40m, 1:50.000  kedalaman 20-200m.

Klasifikasi survey orde khusus(digunakan secara terbatas dimana karakteristik dasar airnya berpotensi
membahayakan kapal), orde satu (berlaku terbatas di daerah dengan kedalaman <100m) , orde dua (di
daerah kedalaman kurang dari 200m yang tidak termasuk orde khusus dan orde satu, dan tidak
membahayakan), orde tiga (untuk semua area yang tidak tercakup ole horde khusus, satu, dan dua pada
kedalaman >200m).