Anda di halaman 1dari 40

KAJIAN ARAH KEBIJAKAN BIDANG PENATAAN RUANG

BACKGROUND STUDY RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA


MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2020 – 2024
TAHUN ANGGARAN 2018

Laporan KERJA PRAKTEK pada


Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
Kedeputian Pengembangan Regional
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS
Republik Indonesia
Jakarta Pusat, DKI Jakarta

Oleh:
NABILA FISRA HAWALI
15415064

2018
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
Sekolah Arsitektur, Perencanaan,
dan Pengembangan Kebijakan
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................................i

DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. iii

DAFTAR TABEL ........................................................................................................iv

1 BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1

1.2 Maksud dan Tujuan ............................................................................. 2

1.3 Proses Pemilihan Instansi Kerja Praktek ............................................. 3

1.4 Persyaratan dan Prosedur Administrasi Kerja Praktek ........................ 3

1.4.1 Persyaratan Kerja Praktek..................................................... 4

1.4.2 Prosedur Administrasi Kerja Praktek .................................. 4

1.5 Kedudukan Praktikan dalam Proyek dan IKP ..................................... 6

1.6 Jadwal Rencana Kerja Praktikan ......................................................... 6

1.7 Sistematika Laporan Kerja Praktek ..................................................... 8

2 BAB 2 INSTANSI KERJA PRAKTEK ...................................................... 10

2.1 Organisasi Instansi kerja Praktek ...................................................... 10

2.1.1 Pengenalan Instansi Kerja Praktek ..................................... 11

2.1.2 Pola Manajemen Instansi kerja Praktek .............................. 12

2.2 Organisasi Pekerjaan di Instansi Kerja Praktek................................. 13

2.2.1 Proses dan Cara Kerja Instansi Kerja Praktek Mendapatkan


Proyek ................................................................................. 13

2.2.2 Tugas dan Kedudukan Praktikan dalam Tim Proyek ......... 14

3 BAB 3 MATERI KERJA PRAKTEK ......................................................... 16

3.1 Pengenalan Materi ............................................................................. 16

3.1.1 Latar Belakang .................................................................... 16

3.1.2 Maksud, Tujuan dan Sasaran Pekerjaan ............................. 18

3.1.3 Ruang Lingkup ................................................................... 20


3.2 Proses Pelaksanaan Kegiatan ............................................................ 23

3.3 Penilaian Terhadap Proses dan Hasil Kerja Praktek ......................... 24

3.3.1 Pembahasan Pelaksanaan Kerja Praktek terhadap Teori


Perkuliahan ......................................................................... 24

3.3.2 Persoalan Kerja Praktek pada Proses Pelaksanaan Kerja ... 25

3.3.3 Perbedaan Pendapat dengan Pembimbing .......................... 25

3.3.4 Penilaian terhadap Proses dan Output Pekerjaan................ 25

BAB 4 KESAN DAN PESAN ................................................................................... 26

4.1 Kesan ................................................................................................. 26

4.1.1 Kesan terhadap Manajemen Instansi Kerja Praktek ........... 26

4.1.2 Kesan terhadap Manajemen Pekerjaan/Proyek .................. 27

4.1.3 Kesan terhadap Lingkungan Kerja ..................................... 27

4.2 Saran .................................................................................................. 27

4.2.1 Saran untuk Instansi Kerja Praktek..................................... 27

4.2.2 Saran untuk Instansi terkait lainnya .................................... 28

4.2.3 Saran untuk Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota


............................................................................................ 28

4.2.4 Saran untuk Calon Praktikan .............................................. 28

LAMPIRAN ................................................................................................................ 29
DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1.1 PROSEDUR PELAKSANAAN MATA KULIAH


PL 4103 KERJA PRAKTEK ...................................................................... 5

GAMBAR 2.1 STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT TATA RUANG DAN


PERTANAHAN KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS ........................... 10

GAMBAR 2.2 KEDUDUKAN PRAKTIKAN DALAM STRUKTUR


ORGANISASI PROYEK ......................................................................... 15

GAMBAR 3.1 PETA WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR ...................... 21

GAMBAR 3.2 PETA WILAYAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ............... 22


DAFTAR TABEL

TABEL 1.1 RENCANA DAN REALISASI PROGRAM KERJA PRAKTEK .................................... 6


1 BAB 1

PENDAHULUAN

Di dalam bab ini, Praktikan akan memaparkan tentang kerangka acuan


dilaksanakannya Kerja Praktek (KP). Kerangka acuan ini terdiri dari latar belakang
KP, maksud dan tujuan KP, persyaratan akademis untuk melakukan Kerja Praktek,
prosedur KP yang ditempuh oleh Praktikan, alasan/keinginan untuk memilih Instansi
Kerja Praktek (IKP), kedudukan Praktikan saat KP, jadwal rencana kerja Praktikan
dan realisasinya di dalam pekerjaan tersebut.

1.1 Latar Belakang


Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) merupakan bidang keilmuan yang
mempelajari proses dan pelaksanaan kegiatan merencana wilayah dan kota secara
menyeluruh baik scara spasial maupun aspasial. Dalam proses pembelajarannya,
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota memberikan pengetahuan teoritis dan
konseptual, serta pembelajaran langsung di lapangan terkait proses perencanaan.
Proses pembelajaran langsung di lapangan tersebut bertujuan agar mahasiswa dapat
melihat secara nyata permasalahan yang dihadapi serta dapat merumuskan strategi
solusi terhadap isu dan permasalahan yang ada, serta agar mampu
mengimplementasikan pengetahuan yang sudah diperoleh selama perkuliahan.
Pembelajaran langsung di lapangan ini salah satunya dapat diperoleh dari mata kuliah
PL 4190 Kerja Praktek. Kegiatan Kerja Pratek merupakan arena bagi mahasiswa
untuk lebih mengenali situasi kegiatan perencanaan di tingkat nyata. Melalui mata
kuliah Kerja Praktek ini, mahasiswa berkesempatan untuk mendapatkan pengalaman
nyata di lapangan dengan mempraktekkan ilmu proses dan pelaksanaan kegiatan
perencanaan wilayah dan kota yang telah diperoleh sebagai bekal untuk menangani
permasalahan di dunia nyata.
Tugas pokok dan fungsi Kementerian PPN/Bappenas ini sangat berkaitan
dengan keilmuan yang dikaji di dalam ilmu perencanaan. Beberapa di antaranya
menyangkut ilmu dan pengetahun mengenai tatistik Perencanaan, Ekonomi Wilayah
dan Kota, Pembiayaan Pembangunan, Hukum Perencanaan, Ekonomika Infrastruktur
dan Transportasi, Perencanaan Kota, serta mata kuliah lainnya yang dapat

1
mendukung dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang perencanaan
pembangunan nasional di Kementerian PPN/Bappenas.
Sebagai salah satu Kementrian yang fungsi dan perannya sangat berdampak
dan dekat dengan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota, praktikan berharap agar
memperoleh kesempatan untuk dapat melaksanakan kerja praktek di Kementrian
PPN/Bappenas. Adapun bagian khusus yang penulis minati ialah Direktorat
Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Internasional. Namun demikian, hal tersebut
tidak menutup kemungkinan untuk penulis agar dapat ditempatan di direktorat
maupun deputi lainnya. Adapun terkait teknis dan operasional pelaksanaan kegiatan
kerja praktek ini akan disesuaikan dengan jadwal dan arahan dari Kementrian
PPN/Bappenas.

1.2 Maksud dan Tujuan


Mata kuliah kerja praktek merupakan arena bagi mahasiswa untuk lebih
mengenali situasi kegiatan perencanaan di tingkat nyata. Mata kuliah Kerja Praktek
(PL – 4103, 2 SKS) bermaksud memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk
mendapatkan pengalaman nyata di lapangan, dengan berbekal ilmu yang telah
diperoleh dalam perkuliahan terdahulu.

Adapun tujuan-tujuan dilaksanakannya mata kuliah ini adalah sebagai berikut:

• Menerapkan ilmu perencanaan yang telah diperoleh selama masa


kuliah dalam kehidupan nyata diluar proses perkuliahan.
• Melatih dan memperluas wawasan mahasiswa dalam pengembangan
kreativitas dan pemecahan permasalahan di bidang Perencanaan
Wilayah dan Kota.
• Melihat dan memahami administrasi suatu perusahaan/instansi yang
meliputi struktur organisaasi, tata kerja, dan pola manajemen.
• Melihat dan memahami pengelolaan sebuah pekerjaan atau proyek
perencaan, ataupun studi yang terkait dengan ilmu perencanaan yang
dilakukan oleh sebuah perusahaan atau institusi perencanaan.
• Melatih mahasiswa bekerja sama dengan orang lain, baik yang berlatar
belakang disiplin ilmu perencanaan maupun.

2
1.3 Proses Pemilihan Instansi Kerja Praktek
Praktikan menggali informasi dan memilih Instansi Kerja Praktek (IKP) sejak
awal tahun 2018. Praktikan memperoleh informasi mengenai instansi kerja praktik
melalui beberapa alumni Planologi dan teman. Praktikan memilih Kementerian PPN/
BAPPENAS sebagai IKP dengan menimbang beberapa hal sebagai berikut:
• Kementerian PPN/ BAPPENAS merupakan salah satu instansi
pemerintah pusat dengan lingkup bidang pekerjaan yang sangat
banyak berkorelasi dengan ilmu perencanaan wilayah dan kota.
• Di antara pembimbing, maupun tenaga teknis, tenaga ahli, dan para
jajaran pemimpin di dalam Kementerian PPN/ BAPPENAS
merupakan alumni terbaik PWK ITB yang mampu membimbing dan
mengarahkan praktikan dalam melaksanakan pekerjaan maupun
memberikan gambaran mengenai keprofesian sebagai perencana.
Proses penerimaan praktikan dimulai dengan menghubungi beberapa alumni
yang bekerja di IKP. Kemudian salah satu alumni PWK ITB angkatan 1996, Bapak
Khairul Rizal, ST., MPP., PhD. memperkenalkan bidang pekerjaannya pada
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/ BAPPENAS.
Pada awal bulan Februari 2018, praktikan mengirimkan Curriculum Vitae,
proposal permohonan kerja praktek, dan SKP-02 kepada IKP dengan
mempertimbangkan proses penerimaan mahasiswa magang pada instansi
pemerintahan memiliki kecenderungan akan memerlukan waktu yang relatif panjang.
Pada akhir bulan April 2018, Bapak Khairul Rizal memberikan informasi bahwa
praktikan diterima dan dapat melaksanakan kerja praktek melalui Whatsapp
messenger. Kemudian praktikan diminta untuk mengirimkan transkrip nilai dan surat
pernyataan yang mengandung informasi jenjang waktu pelaksanaan kerja praktek.

1.4 Persyaratan dan Prosedur Administrasi Kerja Praktek


Sebelum melakukan kerja Praktek, mahasiswa harus terlebih dahulu
memenuhi persyaratan akademis yang ditetapkan oleh Program Studi Perencanaan
Wilayah dan Kota ITB dan memenuhi beberapa prosedur administrasi sebagai
berikut.

3
1.4.1 Persyaratan Kerja Praktek
Persyaratan keikutsertaan mahasiswa untuk melaksanakan kerja Praktek
adalah sebagai berikut:
• Telah lulus seluruh mata kuliah yang diperlukan dan berkaitan dengan
materi yang akan di-KP-kan; dan
• Telah lulus salah Mata Kuliah Studio.
Pada kasus di mana seorang mahasiswa yang pernah mengambil salah satu
mata kuliah studio dan dinyatakan tidak lulus, yang bersangkutan tidak berhak
mengambil mata kuliah Kerja Praktek baik secara formal maupun informal. Selain
itu, mata kuliah Kerja Praktek disarankan untuk tidak diambil bersamaan dengan
mata kuliah studio (Studio Perencanaan Kota maupun Studio Perencanaan Wilayah).

1.4.2 Prosedur Administrasi Kerja Praktek


Beberapa tahapan yang perlu dilalui mahasiswa dalam menempuh mata kuliah
PL 4103 Kerja Praktek adalah sebagai berikut:
a. Sebelum Kerja Praktik
Prakikan dinyatakan ikutserta dalam mata kuliah PL 4103 Kerja Praktek
ditentukan melalui persetujuan atas pemenuhan prasyarat oleh wali.
Kemudian diikuti dengan pembuatan surat permohonan (SKP- 01 oleh
wali kepada koordinator KP).
• Berdasarkan SKP-01 kemudian diterbitkan SKP-02 (Nomor:
088/I1.C10.5.3/PP/2018 tangggal 31 Januari 2018) oleh pihak
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota yang digunakan oleh
praktikan untuk mengajukan permohonan kerja praktek kepada IKP
yang diminati;
• Setelah calon IKP bersedia menerima praktikan, maka IKP tersebut
mengirimkan SKP-03 (Nomor: 285A/Dt.2.1/03/2018 tanggal 29 Maret
2018) kepada Ketua Program Studi Sarjana Perencanaan Wilayah dan
Kota yang berisikan pernyataan tentang kesediaan menerima
mahasiswa untuk melaksanakan kerja praktek di IKP tersebut beserta
tanggal terhitung kerja dan supervisor praktikan selama bekerja; dan
• Keputusan disetujui atau tidaknya oleh Program Studi PWK
menyangkut kondisi IKP, macam pekerjaan, dan pembimbing kerja
akan diterbitkan melalui SKP- 04 (Nomor: 813/I1.C10.5.3/PP/2018

4
tanggal 2 Agustus 2018) yang berisikan pernyataan persetujuan dan
permintaan agar praktikan dapat diawasi, dibimbing dan dinilai selama
bekerja praktik.

b. Sesudah Kerja Praktik


Setelah menyelesaikan pekerjaan maka IKP menerbitkan SKP-05 (Nomor:
9542/Dt.2.1/09/2018 tanggal 5 September 2018) yang menjelaskan bahwa
pekerjaan telah selesai selama jangka waktu tertentu;

• Praktikan memperoleh nilai akhir Kerja Praktik berdasarkan syarat-


syarat, yaitu telah mengisi FRS pada semester bersangkutan; SKP-05,
LKP akhir, dan Lampiran LKP telah diterima oleh Prodi; dan
ketentuan batas waktu tidak dilanggar.

Adapun secara ilustratif, prosedur pelaksanaan mata kuliah PL 4103 Kerja


Praktek dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

GAMBAR 1.1
PROSEDUR PELAKSANAAN MATA KULIAH PL 4103 KERJA
PRAKTEK

Sumber: Hasil Analisis, 2018

5
1.5 Kedudukan Praktikan dalam Proyek dan IKP
Dalam pengerjaan proyek ini, Instansi Kerja Praktek melibatan praktikan
dalam Kajian Background Study RPJMN Bidang Penataan Ruang Tahun 2020-2024.
Tugas praktikan adalah sebagai staff asisten tenaga teknis dan tenaga ahli
perencanaan wilayah dan kota dalam menyusun draft kajian teknis arah kebijakan
penataan ruang, melakukan kompilasi hasil survey (kuesioner dan FGD) di lapangan
untuk wilayah Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta menganalisis hasil
survey berdasarkan seluruh kompilasi yang telah dilakukan. Dalam pengerjaan
proyek ini, IKP membutuhkan bantuan mahasiswa praktikan disebabkan proyek ini
masih berada di tengah-tengah pelaksanaan dan membutuhkan staff tenaga tambahan.

1.6 Jadwal Rencana Kerja Praktikan


Jadwal pelaksanaan pekerjaan Background Study Kajian Arah Kebijakan
Bidang Penataan Ruang RPJMN 2020-2024 dimulai dari tahap persiapan, tahap
pengumpulan dan kompilasi data, tahap analisis, tahap pemantapan analisis, serta
tahap finaliasi dan pembahasan. Realisasi kerja praktikan tertuang secara rinci pada
Logbook Kerja Praktek yang terlampi pada Lampiran I di bagian akhir laporan ini.
Secara garis besar, waktu pengerjaan dapat dilihat di dalam tabel sebagai berikut.

TABEL I. 1
RENCANA DAN REALISASI PROGRAM KERJA PRAKTEK
Mei Juni Juli Ag
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
Persiapan
Pengenalan materi dan
lingkungan/ bidang
pekerjaan
Pendalaman narasi draft
Visi 2045
Review terhadap Buku I, II,
dan III RPJMN 2015-2019
Pendalaman bahan dan
proses survey (kuesioner
dan FGD) daerah
Pendalaman hasil survey
(kuesioner dan FGD)
daerah
Pengumpulan Kompilasi Data dan Pengumpulan Bahasan Pendukung
Penyusunan kompilasi hasil

6
Mei Juni Juli Ag
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
survey (kuesioner dan
FGD) daerah: Provinsi
Kalimantan Timur dan
Provinsi NTB
Brief and share progress
Background Study Tata
Ruang
Penyusunan rancangan dan
paparan FGD Konstelasi
RTR & RDTR
Pelaksanaan FGD
Konstelasi RTR & RDTR
Analisis
Penentuan benchmark
background study
Pemahaman metode kajian
dengan Fishbone Tata
Ruang
Perumusan kerangka kajian
isu nasional dan isu global
bidang penataan ruang
Temuan awal isu strategis
Analisis kajian kebijakan
penataan ruang daerah dan
temuan survei daerah
Analisis Fishbone dan
rencana tindak lanjut
Penyusunan draft isu
strategis nasional dan
global bidang penataan
ruang
Penyusunan paparan (ppt)
isu strategis nasional dan
global bidang penataan
ruang
Pemantapan Analisis
Pemeriksaan Laporan Awal
BS Tata Ruang
Pembahasan Draft Isu
Strategis Bidang Penataan
Ruang bersama Konsultan
Pertemuan I dan II dengan
Direktur Tata Ruang dan
Pertanahan (progress dan
temuan survey, Fishbone)

7
Mei Juni Juli Ag
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
Review benchmark
background study

Masukan Persub RTRW

Revisi Fishbone

Revisi draft Isu Nasional


dan Global
Finalisasi dan Pembahasan
Revisi draft dan paparan

Rapat teknis BS Tata


Ruang
Finalisasi hasil analisis,
draft, paparan, beserta
lampiran
Pemaparan akhir dan
penyusunan laporan BS
Tata Ruang
Sumber: Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/ BAPPENAS
Keterangan: Jadwal Praktikan Realisasi Kerja

1.7 Sistematika Laporan Kerja Praktek

Laporan kerja Praktek ini terbagi ke dalam 4 bagian, yaitu :

Bab 1 Pendahuluan
Bagian ini berisi hal-hal yang menjelaskan mengenai kerja Praktek itu sendiri
seperti: latar belakang kerja Praktek, maksud dan tujuan kerja Praktek,
lingkup kerja Praktek, persyaratan kerja Praktek, dan sistematika pembahasan
kerja Praktek.

Bab 2 Tinjauan Instansi Kerja Praktek

Bab ini akan berisikan mengenai gambaran instansi kerja Praktek yaitu
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan – Kedeputian Pengembangan Regional
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS, dimulai dari
latar belakang berdiri instansi tersebut, visi misi instansi, tujuan dan
kewenangan instansi serta struktur organisasi.

8
Bab 3 Pembahasan Materi Kerja Praktek
Bab ini akan berisikan mengenai materi kerja Praktek yang dilakukan oleh
penulis, meliputi gambaran umum materi kerja Praktek, proses dan hasil kerja
Praktek yang telah dilakukan.

Bab 4 Kesan dan Saran


Bab ini merupakan bab terakhir dari laporan ini, dimana akan berisi mengenai
kesan dan saran selama penulis melakukan kerja Praktek, termasuk di
dalamnya saran bagi instansi kerja Praktek, Program Studi Perencanaan
Wilayah dan Kota serta calon Praktikan.

9
2 BAB 2

INSTANSI KERJA PRAKTEK

Instansi Kerja Praktek yang dipilih Praktikan adalah Kementerian


Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ BAPPENAS pada Direktorat Tata
Ruang dan Pertanahan, Kedeputian Pengembangan Regional. Dalam menjalankan
tugas dan tanggung jawab sebagai unsur pemerintahan, Kementerian PPN/
BAPPENAS memiliki peran penting dalam perencanaan pembangunan nasional.
Oleh sebab itu, perlu dijelaskan fungsi dan peran organisasi dari Kementerian PPN/
BAPPENAS secara umum, dan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan secara khusus.
Sedangkan secara khusus, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan mempunyai
tugas melaksanakan pengoordinasian, perumusan dan pelaksanaan kebijakan, serta
pemantauan, evaluasi, dan pengendalian perencanaan pembangunan nasional di
bidang tata ruang dan pertanahan, menurut Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas
RI Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
PPN/Bappenas Pasal 150.

2.1 Organisasi Instansi kerja Praktek


Kementerian PPN/ BAPPENAS merupakan kementerian di Republik
Indonesia yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang
perencanaan pembangunan nasional untuk membantu Presiden dalam
menyelenggarakan pemerintahan negara. Kementerian PPN/ BAPPENAS terletak di
Jalan Taman Suropati No. 2, Jakarta Pusat. Menteri PPN/ BAPPENAS yang sedang
menjabat saat ini ialah Bambang Brodjonegoro. Dalam struktural organisasinya,
Kementerian PPN/ BAPPENAS memiliki 9 (Sembilan) Kedeputian, salah satunya
asalah Kedeputian Pengembangan Regional (Renstra Kementerian PPN/ BAPPENAS
2015-2019). Selanjutnya, Kedeputian Pengembangan Regional membawahi
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan serta empat direktorat lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Nomor 4 Tahun
2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian PPN/Bappenas, Direktorat
Tata Ruang dan Pertanahan mempunyai tugas melaksanakan pengoordinasian,
perumusan dan pelaksanaan kebijakan, serta pemantauan, evaluasi, dan pengendalian

10
perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan. Direktorat
Tata Ruang dan Pertanahan terdiri atas subdirektorat Tata Ruang, Pertanahan, dan
Informasi dan Sosialisasi Tata Ruang dan Pertanahan.

2.1.1 Pengenalan Instansi Kerja Praktek

Sejarah Bappenas dimulai sejak masa proklamasi kemerdekaan NKRI


pada Agustus 1945. Menyusul proklamasi, Indonesia masih memerlukan
berbagai perjuangan baik secara fisik maupun diplomasi untuk sampai kepada
berdirinya Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 23 Desember 1949
menyusul kesepakatan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Pada
rentang waktu itu, diperlukan berbagai persiapan dalam menghadapi
perundingan dengan Belanda serta adanya kebutuhan untuk menyelesaikan
persoalan pembangunan negara. Pada saat itu Menteri Kemakmuran AK Gani
yang pada Kabinet Sjahrir III membentuk Badan Perancang Ekonomi
bertugas merumuskan rencana pembangunan yang dikhususkan pada
pembangunan ekonomi jangka dua sampai tiga tahun. Kemudian pada 12
April 1947, pemerintah menerbitkan Penetapan Presiden No. 3/1947 yang
melahirkan Panitia Pemikir Siasat Ekonomi (PPSE).
Kelembagaan badan perencanaan nasional kemudian mengalami
perubahan seiring dengan dinamika nasional Indonesia. Presiden Soekarno,
yang ditugasi MPRS untuk menata kembali lembaga perencanaan
pembangunan, melalui Ketetapan No. 12/1963 mengintegrasikan Depernas
dan Badan Kerja Depernas ke dalam Kabinet Kerja, sekaligus membentuk
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kemudian pada era
Orde Baru dibentuklah Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional dan pada 1980 dibentuklah Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Tingkat Provinsi dan di setiap Kabupaten/Kota.
Di masa reformasi, Bappenas sempat dipimpin kepala yang tidak
merangkap jabatan menteri negara pada masa pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid. Baru pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri,
posisi Bappenas kembali menjadi setingkat kementerian. Bappenas kemudian
bertugas untuk menjabarkan GBHN ke dalam rencana pembangunan lima
tahunan dan tahunan, serta melakukan evaluasi atas pelaksanaannya. Pada
saat ini, sesuai dengan Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Nomor 4

11
Tahun 2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian PPN/Bappenas,
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dibantu oleh
Sekretariat Utama, Staf Ahli, dan Inspektur Utama, dan 9 Deputi yang
masing-masing membidangi bidang-bidang tertentu, serta 3 Pusat.

2.1.2 Pola Manajemen Instansi kerja Praktek


Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dipimpin oleh seorang direktur
yang membawahi Kepala Subdirektorat (Kasubdit) didukung oleh Fungsional
Perencana Madya, bagian administrasi, sekretariat BKPRN, sekretariat
koordinasi RAN, dan tenaga pendukung. Di samping itu terdapat pula staff
yang sedang bertugas belajar ke luar negeri. Secara ilustratif agar memperjelas
susunan struktur, dapat dilihat pada skema sebagai berikut.

GAMBAR 2.1
STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS

Direktur TRP SEKRETARIAT


Uke Muhammad Husein, S.Si, MPP. KOORDINASI RAN

NonPNS
Gita Nurrahmi, ST.
Fungsional Perencana Madya Administrasi Reza Nur Ilhamsyah, ST.
Nana Apriyana, MT. Sylvia K. Fadiah Adlina Ulfah, S.Si.
Herrydawaty, ME. Cecep S. Edi Setiawan, S.Si

Kasubdit Tata Ruang Kasubdit Pertanahan Kasubdit Informasi


Rinella Tambunan, Aswicaksana, MT., dan Sosialisasi
MPA. MSc. TRP
Santi Yulianti, SIP.,
MM.
PNS PNS
Elmy Yasinta Ciptadi, Khairul Rizal, MSc., NonPNS
ST. Ph.D. Indira Ade S, S.Kom.
Gina Puspitasari, ST.
NonPNS NonPNS Rani Aditya Dewi,
Riani Nurjanah, ST. Idham Khalik, MP. SI.Kom.

Tenaga Pendukung
Sukino, Sukawadi, Ujang S., Maman H., Mahfudin, Widodo, Agung P.

Sumber: http://www.trp.or.id/profil, diakses pada 26/10/2018 pukul 23:59

12
2.2 Organisasi Pekerjaan di Instansi Kerja Praktek
Bagian ini akan menjabarkan proses dan cara instansi kerja praktek dalam
mendapatkan proyek, pola manajemen proyek, serta tugas dan kedudukan Praktikan
dalam proyek.

2.2.1 Proses dan Cara Kerja Instansi Kerja Praktek Mendapatkan


Proyek
Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan Ruang 2020 – 2024 ini
merupakan bagian dari “ Background Study Pengintegrasian Kerangka
regulasi dalam Draft RPJMN 2020-2024” yang dilaksanakan oleh seluruh
jajaran direktorat maupun kedeputian di dalam Kementerian PPN/
BAPPENAS. Hal ini dilakukan dalam rangka upaya untuk mensinergikan UU
No. 25 Th 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
dan UU No. 12 Th 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan, diharapkan upaya yang dilakukan dapat mendukung terwujudnya
kepastian hukum dan mendorong pencapaian prioritas pembangunan nasional
melalui regulasi yang tertib dan berkualitas.

Salah satu dasar penyusunan Prolegnas adalah perlu mendasarkan


pada Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, RPJMN, dan RKP,
sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Sehubungan dengan
hal itu, saat ini upaya pengintegrasian tersebut dilakukan dengan penyusunan
Kerangka Regulasi dalam dokumen perencanaan pembangunan. Kerangka
Regulasi telah terintegrasi dalam Rancangan Teknokratik RPJMN 2015-2019
dan Perpres No. 43 Tahun 2014 tentang RKP 2015.

Hal-hal yang dikembangkan saat ini dan mendapatkan perhatian serius


pada RPJMN 2015-2019 adalah terkait dengan mekanisme pelaksanaan
(delivery mechanism) yang akan menentukan keberhasilan dari pelaksanaan
kebijakan dan program-program yang telah direncanakan. Urgensi integrasi
kerangka regulasi dalam dokumen perencanaan sangat dibutuhkan karena
kerangka regulasi bertujuan untuk:

1. Mengarahkan proses perencanaan pembentukan peraturan perundang-


undangan sesuai kebutuhan pembangunan;

13
2. Meningkatkan kualitas peraturan perundang-undangan dalam rangka
mendukung pencapaian prioritas pembangunan; dan
3. Meningkatkan efisiensi pengalokasian anggaran untuk keperluan
pembentukan peraturan perundang-undangan.

Hal ini merupakan hal yang cukup signifikan, karena peran dari
rekomendasi Background Study hingga saat ini, berkontribusi dalam
mendorong terintegrasinya Kerangka Regulasi ke dalam berbagai proses
penyusunan perencanaan pembangunan, yakni dengan telah diterbitkannya
Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Telah disusunnya draft Rancangan Teknokratik
RPJMN 2015-2019 Buku I dan Buku II yang memuat kerangka regulasi
pada tiap-tiap bidang (Permen PPN/Kepala Bappenas No. 1/2014 tentang
Pedoman Penyusunan RPJMN), serta Peraturan Menteri PPN/Kepala
Bappenas No. 5/2014 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penelaahan
Renstra K/L 2015-2019.

2.2.2 Tugas dan Kedudukan Praktikan dalam Tim Proyek


Dalam melaksanakan proyek diperlukan suatu organisasi pelaksana
pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan
Ruang Background Study RPJMN 2020 – 2024 memiliki struktur organisasi
pelaksanaan proyek yang dapat dilihat pada skema berikut ini.

14
GAMBAR 2.2
KEDUDUKAN PRAKTIKAN DALAM
STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

Menteri PPN/ Pemberi Kerja


Kepala BAPPENAS

Penanggung Jawab
Deputi Bidang Pengembangan Regional

Ketua Pelaksana
Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Uke Mohammad Hussein, S.Si, MPP.

Sekretaris
Kasubdit Tata Ruang

Anggota
• Kasubdit Pertanahan
• Kasubdit Informasi dan Sosialisasi
Tata Ruang dan Pertanahan
• Fungsional Perencana Direktorat
TRP
• Fungsional Perencana Lintas
Staff Asisten Direktorat
Anggota
(Praktikan)
Nabila Fisra Hawali
• Tenaga Teknis
• Tenaga Pendukung
Administrasi

Sumber: Kementerian PPN/ BAPPENAS, 2018

15
3 BAB 3

MATERI KERJA PRAKTEK

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai substansi kerja praktek yang dilakukan
oleh Praktikan yaitu mengenai pengenalan materi kerja praktek, proses pelaksanaan
kegiatan, dan penilaian terhadap proses dan hasil kerja yang telah dilakukan oleh
Praktikan selama mengikuti kerja praktek di Kementerian PPN/ BAPPENAS.

3.1 Pengenalan Materi


Pada subbab ini akan dijelaskan secara umum mengenai lingkup pekerjaan
kerja praktek yakni Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan Ruang Background
Study RPJMN 2020 – 2024 yang dilaksanakan Praktikan selama menjalani masa
kerja praktek di Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/
BAPPENAS.

3.1.1 Latar Belakang


Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata
cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan
dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh
unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan Daerah dengan melibatkan
masyarakat.
Berdasarkan amanat dari UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) perencanaan pembangunan di
Indonesia terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Kerja Pemerintah
(RKP) atau rencana kerja tahunan. Dokumen rencana ini yang kemudian
menjadi pedoman bagi aktor pembangunan dalam melaksanakan pembangunan.
Pada RPJMN 2015-2019, maka tujuan pengembangan wilayah pada
tahun 2015-2019 adalah mengurangi kesenjangan pembangunan wilayah antara
Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) melalui
percepatan dan pemerataan pembangunan wilayah dengan menekankan
keunggulan kompetitif perekonomian daerah berbasis sumber daya alam (SDA)
yang tersedia, sumber daya manusia (SDM) berkualitas, penyediaan

16
infrastruktur, serta meningkatkan kemampuan ilmu dan teknologi secara terus
menerus.
Khusus untuk rencana pembangunan bidang tata ruang, pertanahan, dan
informasi geospasial ditujukan untuk menjamin pemanfaatan sumberdaya alam
yang optimal dan lestari meliputi ruang darat, laut, udara dan bawah bumi
termasuk kekayaan yang terkandung didalamnya untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dengan didukung ketersediaan data dan informasi
geospasial nasional yang akurat, dapat dipertanggungjawabkan, serta sesuai
dengan standar.
Sampai dengan tahun 2016 pelaksanaan pembangunan nasional bidang
tata ruang telah menunjukkan beberapa capaian antara lain penyusunan
peraturan perundang-undangan dan NSPK Bidang Tata Ruang baik yang
merupakan turunan dari UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
maupun turunan dari UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pembentukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
(PPNS) Penataan Ruang sebanyak 237 PPNS (23,7%), serta penetapan
Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan 5
Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang KSN), 32 Perda RTRW
Propinsi (94%), 373 Perda RTRW Kabupaten (90%), 88 Perda RTRW Kota
(95%). Adapun pembinaan intensif terhadap pemerintah daerah telah dilakukan
dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang, telah ditetapkan perda
RZWP3K Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Sulawesi Barat, dan Provinsi Nusa
Tenggara Barat, dan 16 Raperda RZWP3K sudah memasuki proses penelaahan
dokumen akhir. Disamping itu, telah dilakukan pengembangan sistem informasi
e-monitoring yang komprehensif dan terintegrasi secara spasial.
Beberapa isu dan permasalahan bidang tata ruang, pertanahan, dan
informasi geospasial yang diperkirakan masih muncul antara lain: (i) regulasi
turunan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang belum seluruhnya
ditetapkan; (ii) terbatasnya ketersediaan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
dan Peraturan Zonasi (PZ) sebagai acuan pemanfaatan dan pengendalian
penataan ruang; (iii) kualitas SDM di bidang penataan ruang di pusat dan
daerah masih perlu ditingkatkan; (iv) penataan ruang belum menjadi acuan
pembangunan sektor; (v) kelembagaan penataan ruang belum optimal baik di
pusat maupun di daerah; (vi) perangkat pengendalian pemanfaatan ruang belum

17
memadai, terutama masih terbatasnya jumlah PPNS Penataan Ruang; (vii)
kepastian hukum hak atas tanah; (viii) ketimpangan penguasaan, pemilikan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T); (ix) pelayanan masyarakat dibidang
pertanahan masih belum optimal; (x) belum tersedianya data dan informasi
geospasial terutama untuk data dasar dan dengan skala yang besar; (xi) belum
optimalnya pemanfaatan data dan informasi geospasial; (xii) belum
terpenuhinya kebutuhan SDM bidang informasi geospasial.
Berbagai isu dan permasalahan bidang tata ruang, pertanahan, informasi
geospasial tersebut perlu ditelaah dan dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan
gambaran arah kebijakan pembangunan jangka menengah nasional pada
periode mendatang yaitu untuk periode 2020-2024. Disamping itu, diperlukan
upaya untuk me-review kembali pelaksanaan pembangunan pada periode
sebelumnya. Kesemua ini akan menjadi bahan awal yang akan dijadikan
masukan dalam penyusunan rancangan RPJMN 2020-2024 bidang tata ruang,
pertanahan, dan informasi geospasial.
Berkaitan dengan berbagai hal di atas Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas pada Tahun Anggaran 2018 akan
melakukan Kajian Arah Kebijakan Penataan Ruang, Pengelolaan Pertanahan
Nasional, dan Informasi Geospasial 2020-2024. Kajian ini akan memperhatikan
berbagai amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
2005–2025 untuk tahap RPJMN 2020-2024. Berbagai tantangan dan isu global-
nasional membutuhkan perencanaan pembangunan bidang tata ruang,
pertanahan, dan informasi geospasial yang matang dan mampu menjawab
semua tantangan tersebut efektif dan efisien.

3.1.2 Maksud, Tujuan dan Sasaran Pekerjaan

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai maksud, tujuan, dan sasaran
pekerjaan Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan Ruang Background Study RPJMN
2020 – 2024 yang dikerjakan oleh praktikan selama melaksanakan kerja praktik di
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/ BAPPENAS.

3.1.2.1 Maksud dan Tujuan Kajian Arah Kebijakan


Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan background study yang
mencakup permasalahan, potensi, proyeksi dan analisa yang solid sebagai

18
informasi awal dalam penyusunan RPJMN 2020-2024 di bidang tata ruang,
pertanahan, dan informasi geospasial. Sedangkan tujuan dari kegiatan ini
adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi isu-isu strategis pembangunan di bidang tata
ruang, pertanahan, dan informasi geospasial yang berkembang
selama pelaksanaan RPJMN 2015-2019;
b. Memperoleh sebuah kondisi benchmark serta proyeksi ke depan di
bidang tata ruang, pertanahan, dan informasi geospasial; dan
c. Menyusun rancang bangun kebijakan bidang tata ruang, pertanahan,
dan informasi geospasial masa depan sebagai input dalam
penyusunan RPJMN 2020-2024.

3.1.2.2 Sasaran Kajian Arah Kebijakan


Sasaran yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah (i) mendapatkan
informasi terkait dengan isu-isu strategis dan aspirasi pembangunan bidang tata
ruang, pertanahan, dan informasi geospasial dalam implementasi RPJMN 2015-
2019 yang diperoleh dari beberapa wilayah (lokasi) kegiatan yaitu: Provinsi NTB,
Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi D.I Yogyakarta, Provinsi NTT, dan Provinsi
Sumatera Selatan; (ii) merumuskan arah kebijakan bidang tata ruang, pertanahan,
dan informasi geospasial dalam RPJMN 2020-2024; (iii) merumuskan program
dan kegiatan bidang tata ruang, pertanahan, dan informasi geospasial 2020-2024;
dan (iv) merumuskan indikator input, ouput dan outcome bidang tata ruang,
pertanahan, dan informasi geospasial 2020-2024.
Alasan pemilihan kelima provinsi tersebut dimaksudkan untuk
mendapatkan pembelajaran mengenai kebijakan bidang tata ruang, pertanahan,
dan informasi geospasial yang diterapkan di wilayah yang bersangkutan dan
mewakili setiap pulau/kepulauan.
Untuk mendukung sasaran kegiatan kajian ini, output yang diharapkan
adalah untuk mendukung kebijakan perencanaan pembangunan dengan indikator
yang digunakan adalah kualitas kajian penyusunan RKP lingkup bidang tata
ruang, pertanahan dan informasi geospasial yang bersifat holistik dan terintegrasi
dalam prioritas pembangunan nasional.

19
3.1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kajian arah kebijakan bidang penataan ruang adalah pada
tingkat nasional. Dalam subbab ini, akan dijelaskan ruang lingkup yang terdiri atas
dua bagian yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi.

3.1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah


Dalam konteks pekerjaan praktikan, ruang lingkup wilayah kajian adalah
Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi NTB. Provinsi Kalimantan Timur
mewakili Pulau Kalimantan dan sekitarnya, sementara Provinsi NTB mewakili
Kepulauan Nusa Tenggara.
Provinsi Kalimantan Timur terletak pada kedudukan 4o 24’ Lintang Utara
(LU), 2o 25’ Lintang Selatan (LS), 113o 44’ Bujur Timur (BT), dan 119o 00’ Bujur
Barat (BB). Posisi Kalimantan Timur sangat strategis sebagai jalur transportasi
laut internasional karena berbatasan dengan wilayah perairan Selat Makassar dan
Laut Sulawesi yang merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II). Luas
Provinsi Kalimantan Timur adalah 20.865.774 ha meliputi wilayah daratan seluas
19.844.117 ha (95,1%) dan wilayah lautan sejauh 12 mil laut dari garis pantai
terluar ke arah laut seluas 1.021.657 ha (4,9%). Provinsi Kalimantan Timur
terletak di bagian Timur Pulau Kalimantan dengan batas-batas sebagai berikut :
1. Batas Utara : Malaysia (Negara Bagian Sabah)
2. Batas Selatan : Kalimantan Selatan
3. Batas Timur : Selat Makassar dan Laut Sulawesi
4. Batas Barat : Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Malaysia
(Negara Bagian Serawak).

20
GAMBAR 3.1
PETA WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Sumber: Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, 2017

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terletak pada kedudukan 8o 10’ Lintang
Utara (LU), 9o 5’ Lintang Selatan (LS), 119o 5’ Bujur Timur (BT), dan 115o 46’ Bujur
Barat (BB). Provinsi NTB terdiri atas 2 pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa dan
dikelilingi oleh 280 pulau-pulau kecil. Luas wilayah Provinsi NTB mencapai
49.312,19 km2 teriri dari daratan seluas 20.153,15 km2 (40,87%) dan perairan laut
seluas 29.159,04 km2 (59,13%) dengan panjang garis pantai 2.333 km. Provinsi NTB
terletak di barat Pulau Nusa Tenggara dengan batas-batas sebagai berikut :

1. Batas Utara : Laut Jawa dan Laut Flores


2. Batas Selatan : Samudra Indonesia
3. Batas Barat : Selat Lombok / Provinsi Bali
4. Sebelah Timur : Selat Sape / Provinsi NTT

21
GAMBAR 3.2
PETA WILAYAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Sumber: Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, 2017

3.1.3.2 Ruang Lingkup Substansi


Ruang lingkup substansi yang terkandung dalam kegiatan Kajian Arah
Kebijakan Penataan Ruang Background Study RPJMN 2020-2024 antara lain:
a. Melakukan tinjauan kebijakan bidang tata ruang, pertanahan, dan
informasi geospasial antara lain dalam RPJPN 2005-2025, RPJMN
2015-2019, RTRWN 2008-2028 yang meliputi pula evaluasi
pelaksanaan program sehingga dapat dihasilkan sintesa awal mengenai
kebijakan bidang bidang tata ruang selama ini.
b. Melakukan kajian literatur terhadap isu-isu bidang tata ruang yang
meliputi naskah akademik, peraturan perundangan terkait, studi-studi
terdahulu dan lain sebagainya.
c. Melakukan analisa data sekunder untuk menggambarkan backlog
2015-2019, kondisi eksisting, kebutuhan saat ini, dan melakukan
proyeksi kondisi masa depan, sebagai landasan analisa permasalahan.
d. Melakukan desk study awal untuk memberikan gambaran
permasalahan di bidang tata ruang, pertanahan, dan informasi
geospasial.

22
e. Menghimpun opini dari stakeholder di bidang tata ruang, pertanahan,
dan informasi geospasial, seperti instansi pemerintah, akademisi,
praktisi, lembaga non pemerintah, dan dunia usaha, dalam bentuk
seminar ataupun focus group discussion/FGD; serta kunjungan
lapangan ke daerah yaitu Provinsi NTB, Provinsi Kalimantan Timur,
Provinsi NTT, Provinsi Sumatera Selatan, dan Provinsi D.I
Yogyakarta.
f. Melakukan diseminasi kepada pemerintah daerah untuk menangkap
persoalan di lapangan dan menghimpun persepsi dan aspirasi
pemerintah daerah di bidang tata ruang, pertanahan, dan informasi
geospasial. Menyusun policy paper di bidang tata ruang, pertanahan,
dan informasi geospasial sebagai input dalam penyusunan RPJMN
2020-2024.
g. Lokakarya mengenai policy paper yang telah dihasilkan kepada
stakeholder di bidang tata ruang, pertanahan, dan informasi geospasial
guna menghasilkan draft final dan operasionalisasinya.

3.2 Proses Pelaksanaan Kegiatan

Dalam rencana kerja proyek Kajian Arah Kebijakan Penataan Ruang Background
Study RPJMN 2020-2024, terdapat beberapa tahap yang dapat dijadikan rencana acuan kerja,
di antaranya sebagai berikut.
a. Persiapan dan Delineasi Fokus Studi
Persiapan dan delineasi meliputi kegiatan persiapan dan penyelesaian
administrasi pendukung, penyusunan rencana kerja, pengumpulan berbagai data
sekunder terkait, seperti hasil-hasil kajian terkait terdahulu, literatur, dan
peratran perundangan, konsolidasi tim tenaga ahli, dan koordinasi dengan pihak-
pihak.
b. Pelaksanaan Desk Study
Desk Study merupakan proses penelaahan, interpretasi, dan sintesa dari berbagai
data sekunder terkait dengan kajian untuk dijadikan bahan dasar penyampaian
proposal, draft kajian dan laporan berikutnya. Desk study ini melingkupi:
a) Tinjauan pustaka terhadap kajian terdahulu yang relevan, baik dari dalam
maupun luar negeri, kajian literatur maupun kebijakan dan peraturan
perundangan yang berkaitan dengan kajian.

23
b) Penulisan laporan pendahuluan untuk menghimpun dan mensintesa berbagai
informasi dan data yang terkait dengan kajian, baik lisan maupun tulisan.
Hasil dari kegiatan desk study ini selanjutnya akan dipresentasikan dalam
forum FGD (Focus Group Discussion).
c. Kajian Penataan Ruang Wilayah
Kajian terhadap wilayah dilakukan untuk mendapatkan perspektif mengenai
kebijakan di bidang tata ruang melalui FGD, Survey lapangan, dan Workshop.
Proses partisipasi ini dapat juga mengikutsertakan organisasi non pemerintah
(LSM), Perguruan Tinggi maupun pihak swasta, seperti pengembang, asosiasi
profesi dan sebagainya. Terdapat 5 (lima) lokasi yang diusulkan, yaitu:
• Provinsi NTB dipilih karena termasuk salah satu best practice dengan produk
perencanaan yang telah lengkap, mulai dari RTRW Provinsi/Kab/Kota,
RDTR Kawasan Perkotaan, serta RZWP3K. Selain itu, Provinsi NTB juga
termasuk ke dalam 5 besar peraih Bhumandala Award 2016 Kategori
Provinsi.
• Provinsi Kalimantan Timur dipilih karena telah mengembangkan sistem satu
data perencanaan. Selain itu, juga sudah melalui proses integrasi dan
kompilasi Kebijakan Satu Peta (KSP) dan menjadi pilot project pada
kegiatan sinkronisasi KSP. Dari segi tata ruang, Provinsi Kalimantan Timur
memiliki beberapa kegiatan Prioritas Nasional seperti Penyusunan Materi
Teknis RDTR Kawasan Perbatasan Negara di Long Pahangai dan Long
Apari, serta Penyusunan Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang di
Kawasan Sekitar KEK MBTK.

3.3 Penilaian Terhadap Proses dan Hasil Kerja Praktek

Penilaian terhadap proses dan hasil kerja praktek dibagi menjadi 4 (empat)
pembahasan. Keempat pembahasan tersebut merupakan pembahasan pelaksanaan
kerja terhadap teori perkuliahan, persoalan pada proses pelaksanaan, perbedaan
dengan pembimbing, dan penilaian terhadap output dari pekerjaan.

3.3.1 Pembahasan Pelaksanaan Kerja Praktek terhadap Teori Perkuliahan

Pada pelaksanaan kerja praktik, proyek yang dikerjakan telah sesuai dengan
materi perkuliahan. Pada pekerjaan ini, mata kuliah yang mendukung praktikan
dalam proses pengejarjaan adalah PL2102 Pola Lokasi dan Struktur Ruang, PL2104
Aspek Kependudukan dalam Perencanaan, PL 2101 Lingkungan dan Sumber Daya

24
Alam, PL2211 Sistem Perumahan, PL2201 Tata Guna Lahan, PL3111 Perencanaan
Kota, PL3219 Studio Perencanaan Kota, PL3239 Studio Perencanaan Infrastruktur
Wilayah dan Kota, PL3001 Aspek Kebencanaan dalam Perencanaan, PL3241
Manajemen dan Administrasi Pembangunan, dan PL3221 Perencanaan Wilayah.
Dalam hal ini, praktikan telah menguasai materi sebelum melakukan kerja praktik
sehingga cukup mampu mengikuti subtansi pekerjaan.

3.3.2 Persoalan Kerja Praktek pada Proses Pelaksanaan Kerja


Selama pengerjaan, perbedaan pendapat yang terjadi secara signifikan hampir
tidak ada. Hanya saja pada salah satu tahap pengerjaan yang berbeda dari rencana
awal proyek yang telah ditetapkan, di mana praktikan diminta oleh pembimbing
untuk mengikuti pengerjaan berdasarkan arahan dari direktur.

3.3.3 Perbedaan Pendapat dengan Pembimbing


Selama pengerjaan Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan Ruang
Background Study RPJMN 2020 – 2024 berjalan cukup lancar dan tidak mengalami
kendala yang berarti.

3.3.4 Penilaian terhadap Proses dan Output Pekerjaan


Proses pelaksanaan Kajian Arah Kebijakan Bidang Penataan Ruang 2020 –
2024 cukup berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sesuai dengan arahan dari
Menteri PPN/ BAPPENAS, masing-masing direktorat dapat menyelenggarakan
background study untuk arah kebijakan di masing-masing bidang sesuai dengan
anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun perlu diperhatikan
kesinambungan dari hasil background study bidang penataan ruang dengan
background study untuk arah kebijakan bidang lainnya, mengingat tata ruang
berbicara pada ranah yang sangat multisektoral dan perlu menjadi acuan bagi
pengembangan pada bidang-bidang lainnya. Diharapkan background study yang
dilakukan bersama di dalam Kementerian PPN/ BAPPENAS dapat
mengesampingkan ego sektoral dan dapat bersinergis menyusun kerangka kebijakan
yang harmonis.

25
BAB 4

KESAN DAN PESAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesan Praktikan selama menjalani
kerja praktek selama kurang lebih dua bulan di Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan, Kementerian PPN/ BAPPENAS dan saran-saran Praktikan untuk instansi
kerja praktek. Hal ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Program Studi
Perencanaan Wilayah dan Kota serta calon Praktikan yang akan mengambil mata
kuliah Kerja Praktek.

4.1 Kesan
Setelah hingga dua bulan lebih lamanya menjalani masa kerja praktek di
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/ BAPPENAS, Praktikan
sangat banyak menerima pengalaman baru terutama dalam hal bidang profesi
perencanaan wilayah dan koya. Secara lebih jelas, berikut akan dipaparkan kesan-
kesan Praktikan terhadap manajemen instansi kerja praktek, manajemen proyek, dan
lingkungan kerja di instansi kerja praktek.

4.1.1 Kesan terhadap Manajemen Instansi Kerja Praktek


Kesan Praktikan terhadap manajemen instansi kerja praketk selama
bekerja praktek di Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/
BAPPENAS di antaranya sebagai berikut :
• Sarana dan prasarana yang dibutuhkan di IKP cukup memadai dan
mendukung.
• Proses selama penerimaan dan seleksi berkas permohonan kerja
praktek relatif memakan waktu yang lama. Namun selama bekerja
hingga dinyatakan telah menyelesaikan kerja praktek, proses
administrasi terkait tidak terlalu rumit dan sesuai dengan prosedur.
• Pembimbing hingga Direktur dari Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan sangat kooperatif dalam membantu memproses hal-hal
yang berkaitan dengan administrasi IKP.

26
4.1.2 Kesan terhadap Manajemen Pekerjaan/Proyek
Adapun kesan-kesan yang didapat Praktikan selama bekerja di Direktorat
Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/ BAPPENAS adalah sebagai
berikut :
• Pembibing maupun staff lainnya yang berada di dalam proyek
pekerjaan yang sama senantiasa melibatkan Praktikan dalam setiap
rapat maupun diskusi yang dapat menambah pengetahuan praktian
dalam menyelesaikan pekerjaan.
• Terdapat rapat atau diskusi khusus yang terkadang diselenggarakan
untuk membahas hasil pekerjaan praktikan sebagai sarana quality
controlling sekaligus sebagai media pembelajaran bagi praktikan.

4.1.3 Kesan terhadap Lingkungan Kerja


Kesan Praktikan terhadap lingkungan kerja di Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan Kementerian PPN/ BAPPENAS di antaranya sebagai berikut :
• Lingkungan pekerjaan memberikan pengalaman yang nyata terhadap
etika bekerja pada lingkungan birokrasi di tingkat pemerintahan pusat.
• Praktikan dapat mengetahui berbagai interaksi antar-stakeholders di
ranah pemerintahan pusat, daerah, maupun swasta.

4.2 Saran
Praktikan memiliki beberapa saran terhadap IKP yang dapat menjadi masukan
bagi IKP, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/ BAPPENAS,
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, dan calon Praktikan yang akan
menjalani mata kuliah Kerja Praktek di masa mendatang.

4.2.1 Saran untuk Instansi Kerja Praktek


Saran yang diberikan pada Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
Kementerian PPN/ BAPPENAS selaku instansi kerja praktek adalah sebagai
berikut :
• Sebaiknya IKP menyediakan pembimbing utama dan pembimbing
pendamping yang dapat memberikan arahan secara lebih intensif
sekaligus memiliki kewenangan untuk menilai praktikan berdasarkan
kinerja praktikan.

27
• Sebaiknya IKP mengalokasikan proyek yang dikerjakan oleh lebih
dari satu praktikan atau pemagang, sehingga penilai pekerjaan/
pembimbing dapat melihat komparasi kinerja dari perkembangan dan
hasil kerja dengan pembanding pada level yang sama (masing-masing
praktikan).

4.2.2 Saran untuk Instansi terkait lainnya


Saran untuk Instansi terkait lainnya yakni jajaran Kedeputian
Pengembangan Regional dan direktorat lainnya selaku instansi yang berkaitan
dengan implementasi kebijakan penataan ruang agar lebih kooperatif selama
penyusunan arah kebijakan penataan ruang di dalam RPJMN 2020 – 2024.

4.2.3 Saran untuk Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota


Berikut ini saran yang dapat diberikan oleh Praktikan kepada Program
Studi Perencanaan Wilayah dan Kota adalah :
• Sebaiknya permohonan kepada lembaga/instansi/perusahaan IKP
dapat dikoordinir melalui Program Studi Sarjana Perencanaan Wilayah
dan Kota.
• Sebaiknya dosen pembimbing untuk masing-masing kelas telah dibagi
dan diketahui ketika mulai mendapatkan kesempatan untuk
melaksanakan Kerja Praktik.
• Sebaiknya diadakan pertemuan (baik secara tatap muka maupun
virtual) dengan dosen pembimbing mata kuliah PL 4103 Kerja
Praktek, seminimal mungkin satu kali selama pelaksanaan kerja
praktek di masing-masing IKP.

4.2.4 Saran untuk Calon Praktikan


Beberapa masukan yang dapat diberikan kepada calon Praktikan Kerja
Praktek adalah sebagai berikut :
• Calon praktikan diharapkan menggali informasi yang lebih mendalam
mengenai pekerjaan yang akan diperoleh apabila memilih
lembaga/instansi/perusahaan tertentu.
• Sebaiknya calon praktikan memilih instansi yang sesuai dengan
bidang yang diminati bagi masing-masing praktikan.

28
LAMPIRAN I
Logbook Kerja Praktek
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Deputi Pengembangan Regional
Kementerian PPN/BAPPENAS

29
LAMPIRAN II
Dokumen Administrasi Kerja Praktek

30
SKP-01

31
SKP-02

32
SKP-03

33
SKP-04

34
SKP-05

35