Anda di halaman 1dari 29

TUGAS PRA PROFESI NERS KEPERAWATAN ANAK

Disusun Oleh :

MULYANI APRIHILDA GELLA DJAMI


20190305028

JURUSAN NERS KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
2020
A. PEMERIKSAAN FISIK DEWASA, ANAK, DAN BAYI

1. SOP PEMERIKSAAN FISIK DEWASA


Prosedur Kegiatan K BK KET
Persiapan Alat Nama Alat Jml
1. Tensimeter 1
2. Stetoscope 1
3. Termometer 1
4. Reflek Hammer 1
5. Tongue Spatel 1
6. Pen Light (Senter Kecil) 1
7. Pengukut Tinggi Badan 1
8. Timbangan BB 1
9. Senelen Chart 1
10. Garpu Tala 1
11. Bak Instrumen 1
12. Spekulum Hidung 1
13. Spekulum Telinga 1
14. Trolly 1
15. Baki 1
16. Metline 1
17. Opthamolscope 1
18. Jam Dengan Detik/ Stopwatch 1
19. Bengkok 1
20. Kom Kecil Tertutup 1
21. Kom sedang 1
Persiapan Klien 1. Menjelaskan pada klien mengenai
tujuan dari tindakan keperawatan
yang diberikan kepada klien
2. Kaji kembali keluhan klien dan
disesuaikan dengan indikasi, serta
rencana tindakan yang ingin
diberikan kepada klien
3. Kontrak waktu dengan klien : kapan
pelaksanaan dan berapa lama
pelaksanaan tindakan keperawatan
Pelaksanaan Fase Orientasi
1. Mengucapkan salam kepada klien
2. Mengidendifikasi klien dengan ;
nama, tanggal lahir, nomor rekam
medis (nrm) klien
3. Memvalidasi kontrak waktu yang
telah disepakati
Fase Kerja
4. Mendekatkan alat – alat ke dekat

Klien
5. Menutup sampiran/gordyn
6. Mencuci tangan
7. Pemeriksaan kepala meliputi:
a. Bentuk kepala
b. Rambut
c. Kebersihan kulit
8. Pemeriksaan mata meliputi:
a. Conjunctiva *
b. Sclera *
c. Refleks Kornea
d. Refleks Cahaya *
e. Gerakan bola mata *
f. Ketajaman penglihatan *
g. Kelainan pada mata
9. Pemeriksaan Telinga meliputi:
a. Daun telinga
b. Canalis / Liang telinga
c. Membrana Tympani
d. Ketajaman pendengaran *
10. Pemeriksaan Hidung meliputi
a. Septum Nasi / Penyekat hidung
b. Benda asing
c. Tanda-tanda infeksi
d. Fungsi penghidu *
11. Pemeriksaan Mulut meliputi:
a. Kebersihan mulut *
b. Gigi
c. Lidah *
d. Mukosa mulut
e. Tonsil *
f. Mosculo Messester
12. Pemeriksaan Leher meliputi:
a. Kelenjar getah bening *
b. Kelenjar Thyroid *
c. Jugolaris Venos Pressur *
13. Thoraks meliputi:
a. Keadaan Kulit thoraks
b. Ictus Cordis
c. Ekspansi thoraks *
d. Vocal Fremitus *
e. Perkusi *
f. Batas Paru Hepar
g. Batas-batas Jantung *
h. Bunyi napas *
i. Bunyi ucapan
j. Bunyi tambahan(Ronchi, Ralles,

Wheezing)
k. Bunyi Jantung I dan II
14. Abdomen:
a. Inspeksi meliputi:
1) Keadaan kulit abdomen
2) Acites
b. Auskultasi :
1) Bising usus *
c. Palpasi :
1) Hepar *
2) Limpa *
3) Ginjal
4) Mc Burny *
5) Kandung kemih *
d. Perkusi:
1) Perut secara keseluruhan
2) Ginjal
15. Muskulo skeletal :
a. Pemeriksaan kekuatan otot lengan
kanan *
b. Pemeriksaan kekuatan otot lengan
kiri *
c. Pemeriksaan kekuatan tungkai
kanan *
d. Pemeriksaan kekuatan tungkai
kiri *
e. Refleks bisep
f. Refleks trisep
g. Refleks patela
h. Refleks babinski
16. Merapihkan alat-alat seperti semula
17. Mencuci tangan
Fase Terminasi
18. Mengevaluasi perasaan klien setelah
dilakukannya tindakan keperawatan
19. Mengevaluasi secara subyektif
adanya perubahan saat atau setelah
dilakukan tindakan keperawatan
20. Kontak waktu untuk tindak lanjut
untuk tindakan keperawatan
selanjutnya (k/p)
21. Mengucapkan salam kepada klien
22. Mendokumentasikan tindakan
keperawatan yang telah diberikan
kepada klien (di ners station)
Sikap 1. Ramah dan sopan (menjaga perasaan
klien)

2. Teliti dan hati-hati dalam melakukan


tindakan keperawatan
3. Tidak tergesa-gesa dalam
melakukan tindakan keperawatan
4. Cermat dalam mengambil langkah-
langkan tindakan keperawatan

2&3 SOP PEMERIKSAAN FISIK (ANAK dan BAYI)


A. Peralatan dan Bahan
1. Handscoen.
2. Metline.
3. Air dingin/Hangat.
4. Kapas.
5. Kartu Snellen.
6. Pen light.
7. Tongue spatel.
8. Hammer reflect.
9. Lidi kapas.
10. Lap dan tissue.
11. Tirai.
12. Pakaian anak.
13. Sarung tangan.
14. Timbangan BB.
15. Alat pengukur tinggi badan.
16. Stetoskop anak.
17. Spigmomanometer anak.
18. Format pengkajian.

B. Pedoman Umum Pemeriksaan Fisik Pada Anak


1. Lakukan pemeriksaan dalam ruang yang menyenangkan dan tidak
mengancam
a. Penerangan, dekorasi dengan warna netral.
b. Suhu.
c. Penempatan alat.
d. Gunakan mainan.
e. Dekorasi ruangan sesuai tingkat usia.
f. Privasi.
2. Berikan waktu bermain dan saling mengenal
a. Kontak mata.
b. Ajak anak berkomunikasi.
c. Menerima mainan yang diberikan perawat.
d. Touching.
e. Duduk diatas meja pemeriksaan.
3. Jika anak tidak siap
a. Bicara pada orang tua dulu, bertahap pada anak atau objek yang
disenangi anak.
b. Beri anak pujian.
c. Berikan mainan kepada anak seperti boneka sebagai “teman”
untuk berbicara kepada anak.
4. Bila anak menolak bekerjasama
a. Kaji alasan perilaku menolak bekerjasama.
b. Hindari penjelasan yang panjang tentang prosedur pemeriksaan.
c. Lakukan pemeriksaan secepat mungkin.
d. Restrain.
e. Minimalkan adanya gangguan/stimulasi.
5. Mulailah dengan cara yang tidak mengancam, terutama untuk anak
kecil atau yang takut.
a. Aktivitas bermain.
b. Pendekatan.
c. Teknik boneka kertas.
6. Libatkan anak dan orang tua dalam proses pemeriksaan
a. Beri pilihan posisi duduk.
b. Izinkan untuk memegang atau memainkan alat.
c. Anjurkan untuk menggunakan alat tersebut pada boneka, keluarga atau
perawat.
d. Posisi aman dan nyaman.
e. Puji anak untuk kerjasama selama pemeriksaan.
f. Lakukan pendekatan informal, misalnya dengan menanyakan
kegemaran anak, memuji penampilan anak.
g. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara sistematik (inspeksi, palpasi,
perkusi, auskultasi) dapat juga dilakukan dengan cara inspeksi,
auskultasi, perkusi, palpasi. Pada bayi dan anak kecil dianjurkan setelah
inspeksi dilakukan auskultasi karena bila menangis bising usus akan
meningkat sehingga bising jantung akan sulit untuk dinilai.
h. Pemeriksaan yang menggunakan peralatan atau yang menyakiti anak
sebaiknya dilakukan terakhir.

C. Pemeriksaan Fisik Pada Anak


1. Kepala
a. Bentuk kepala: makrosefali atau mikrosefali.
b. Tulang tengkorak: anencefali atau encefalokel.
c. Fontanel anterior menutup: 18 bulan.
d. Fontanel posterior: menutup 2-6 bulan.
e. Caput succedeneum: berisi serosa, muncul 24 jam pertama dan hilang
dalam 2 hari.
f. Cepal hematoma: berisi darah, muncul 24-48 jam dan hilang 2-3 minggu.
g. Distribusi rambu dan warna.
h. Jika rambut berwarna/kuning dan gampang tercabut merupakan indikasi
adanya gangguan nutrisi.
i. Ukur lingkar kepala: 33-34 dan ukur dari bagian frontal kebagian
occipital.

2. Muka
a. Simetris kiri dan kanan.
b. Tes nervus 7 (facialis)
1) Sensoris: menyentuh air dingin atau air hangat daerah maksila,
mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan.
2) Motorik: anak diminta mengerutkan dahi, kemudian menutup mata
kuat-kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak
mata agar tetap terbuka.
c. Tes nervus 5 (trigeminus)
1) Sensorik: menyentuhkan kapas pada daerah wajah dan apakah anak
merasakan sentuhan tersebut.
2) Motorik: menganjurkan klien untuk mengunyah dan pemeriksa
meraba otot masenter dan mandibular.
d. Amati bentuk dan roman muka.
e. Amati ekspersi muka, khususnya sekitar mata dan mulut.
f. Amati ukuran dan bentuk hidung.
g. Inspeksi bibir: warna, kesimetrisan, kelembaban, pembengkakan, lesi
dan fisura.
h. Periksa batas tepi gusi, lidah dan palatum terhadap kelembapan,
keutuhan dan perdarahan.
i. Pada gigi: hitung jumlah, jenis, keadaan dan oklusi.

3. Mata
a. Simetris kanan kiri.
b. Cek alis: alis tumbuh umur 2-3 bulan.
c. Kelopak mata: ada atau tidak edema, ptosis, enof, exoptalmus
(pelebaran celah kelopak mata).
d. Pemeriksaan nervus II (optikus), test konfrontasi dan ketajaman
penglihatan menggunakan snellen chart.
e. Pemeriksaan nervus III (okulomotorius/refleks cahaya) menggunakan
penlight: apakah pupil isokor kiri dan kanan.
f. Pemeriksaan nervus IV (toclearis) pergerakan bola mata: anjurkan anak
untuk melihat keatas dan ke bawah.
g. Pemeriksaan nervus VI (Abdusen): anjurkan anak untuk melihat ke
kanan dan ke kiri.
h. Pemeriksaan nervus V (trigeminus) refleks kornea.
i. Inspeksi konjungtiva: anemis/tidak.
j. Inspeksi sklera.
k. Periksa warna, bentuk dan ukuran iris.

4. Hidung
a. Perhatikan posisi hidung apakah simetris kiri dan kanan.
b. Cuping hidung masih keras pada umur < 40 hari.
c. Jembatan hidung apakah ada atau tidak, jika tidak ada diduga Down
syndrome.
Pemeriksaan nervus I (olfaktoris): tutup salah satu lubang hidung anak, lalu
minta untuk menyebutkan baunya. Tiap hidung diuji secara terpisah.

5. Mulut
a. Bibir kering atau pecah-pecah.
b. Periksa labioschizis.
c. Periksa gigi dan gusi apakah ada perdarahan atau pembengkakan.
d. Perhatikan uvula apakah simetris kiri dan kanan.
e. Pemeriksaan nervus X (vagus): tekan lidah menggunakan spatel, dan
anjurkan anak untuk mengatakan “AH” dan perhatikan uvula apakah
terangkat.
f. Pemeriksaan nervus VII (facialis) sensoris.
g. Pemeriksaan nervus XI Hipoglosus: anjurkan anak untuk menjulurkan
lidah lurus kemudian menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan
lidah ke kiri dan ke kanan dan sementara itu pemeriksa melakukan
palpasi pada kedua pipi untuk merasakan kekuatan lidah.

6. Telinga
a. Inspeksi telinga apakah simetris kanan dan kiri.
b. Tarik ke bawah canalis auditorius kemudian ke belakang, untuk melihat
apakah ada serumen atau cairan.
c. Pemeriksaan nervus VIII (acustikus)
1) Menggesekkan rambut, atau tes bisik.
2) Mendengarkan garpu tala (tes rinne, Weber).
3) Starter refleks: tepuk tangan dekat telinga, mata akan berkedip.
7. Leher
a. Lipatan leher 2-3 kali lipat lebih pendek dari orang dewasa.
b. Periksa arteri karotis.
c. Vena jugularis
1) Posisi pasien semifowler 45º dan dimiringkan, tekan daerah nodus
krokoideus maka akan tampak adanya vena.
2) Taruh mistar pada awal dan akhir pembesaran vena tersebut
kemudian tarik garis imajiner untuk menentukan panjangnya.
3) Raba tiroid: daerah tiroid ditekan, dan pasien disuruh untuk
menelan, apakah ada pembesaran atau tidak.
4) Pemeriksaan nervus XII (Asesoris)
Menganjurkan klien memalingkan kepala, lalu disuruh untuk
menghadap kedepan, pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala,
sambil meraba otot sternokleidomasteideus.

8. Dada
a. Bentuk dada apakah simetris kanan dan kiri.
b. Bentuk dada barrel anterior-posterior dan transversal hampir sama 1:1
dan dewasa 1:2.
c. Suara tracheal: pada daerah trachea.
d. Suara bronchial: pada percabangan bronchus, pada saat udara masuk,
ICS 4-5.
e. Suara broncho vesikuler: pada bronchus sebelum alveolus, intensitas
sedang pada ICS 5.
f. Suara vesikuler: pada seluruh bagian lateral paru, intensitas rendah.
g. Wheezing terdengar pada saat inspirasi dan rales pada saat ekspirasi.
h. Perkusi daerah paru: sonor.
i. Apeks jantung pada mid klavikula kiri intercostal 5.
j. Batas jantung pada sternal kanan ICS 2 (bunyi katup aorta), sternal kiri
ICS 2 (bunyi katup pulmonal), sternal kiri ICS 3-4 (bunyi katup
tricustip), sternal kiri mid klavikula ICS 5 (bunyi katup mitral).
k. Perkusi pada daerah jantung adalah pekak.

9. Abdomen
a. Observasi adanya pembengkakan atau perdarahan.
b. Observasi distensi abdomen.
c. Terdengar suara peristaltic usus.
d. Palpalasi pada derah hati, teraba 1-2 cm dibawah costa, panjangnya
pada garis media clavikula 6-12 cm.
e. Palpasi pada daerah limpa pada kuadran kiri atas perkusi pada daerah
hati suara yang ditimbulkan adalah pekak. Perkusi pada daerah lambung
suara yang ditimbulkan adalah timpani.
10. Punggung
a. Periksa apakah ada skoliosis, lordosis, kifosis.

11. Tangan
a. Jumlah jari-jari polidaktil (> dari 5), sindaktil (jari-jari bersatu).
b. Pada anak kuku dikebawakan, dan tidak patah, kalau patah diduga
kelainan nutrisi.
c. Ujung jari halus.
d. Observasi kuku: clubbing finger diduga adanya gangguan sistem
pernafasan.

12. Pelvis
a. Tredelenburg test: berdiri angkat satu kaki, lihat posisi pelvis apakah
simetris kiri dan kanan.

b. Waddling gait: jalan seperti bebek

c. Thomas test: lutut kanan ditekuk dan dirapatkan ke dada, sakit dan lutut
kiri akan terangkat.

13. Lutut
a. Ballotemen patella: tekan mendorong kuat akan menimbulkan bunyi
klik jika ada cairan diantaranya.
b. Mengurut kantong supra patella kebawah akan timbul tonjolan pada
kedua sisi tibia jika ada cairan diduga ada atritis.
c. Reflek patella, dan hamstring.

14. Kulit
a. Inspeksi: warna dan pigmentasi.
b. Palpasi: hipertermi/hipotermi.
c. Palpasi dan inspeksi untuk menentukan lesi: lesi primer (muncul dari
kulit normal), lesi sekunder (perubahan dari primer) seperti kulit
bersisik, krusta, ulkus dan sebagainya.

4. REFLEKS FISIOLOGIS BAYI


No Refleks Rangsangan Reaksi bayi Perkembangan
1. Berkedip Cahaya, tiupan Menutup kedua Permanen
udara mata
2. Babinski Telapak kaki Jari kaki meregang, Menghilang setelah
ditepuk menarik kaki 9 bulan-1 tahun
kedalam
3. Menggenggam Telapak tangan Menggenggam erat Melemah setelah 3
disentuh bulan
Menghilang setelah
1 tahun
4. Moro (Kejut) Suara Kaget Menghilang setelah
keras/benda melengkungkan 3 atau 4 bulan
jatuh punggung,
meletakkan kepala,
mengepakkan
lengan dan kaki,
kemudian menutup
kembali lengan dan
kaki dengan cepat
ke pusat tubuh.
5. Ujung saraf Pipi ditepuk Menoleh, membuka Menghilang setelah
tepi mulut mulut, mulai 3 atau 4 bulan
disentuh menghisap
6. Melangkah Bayi diangkat Menggerakkan kaki Menghilang setelah
keatas seperti akan 3 atau 4 bulan
permukaan berjalan
tanah dan kaki
direndahkan
menyentuh
tanah
7. Menghisap Objek Menghisap secara Menghilangkan
menyentuh otomatis setelah 3 atau 4
mulut bulan
8. Berenang Bayi Membuat gerakan Menghilang setelah
meletakkan berenang yang 6 atau 7 bulan
wajah di air terkoordinasi
9. Tonic neck Bayi Membentuk Menghilang setelah
diletakkan di kepalan dengan 2 bulan
punggung kedua tangan dan
biasanya menoleh
kekanan (kadang
disebut pose
pekelahi)

DAFTAR PUSTAKA

Indra Tri Astuti, Kurnia Wijayanti, Nopi Nurkhasanah, Tim Lab. 2013. Buku Panduan
Praktikum Laboratorium Keperawatan Anak. Jakarta. Unissula Press
Bickley, Lynn S. 2008. Buku Saku Pemeriksaan Fisik Dan Riwayat Kesehatan Bates.
Jakarta. EGC.
B. PEMERIKSAAN TUMBANG

1. CARA DAN LANGKAH PEMERIKSAAN TUMBANG DENGAN DDST II


Dalam DDST II terdapat beberapa aspek perkembangan yang dinilai antara lain:
a. Personal Social (Perilaku Sosial); aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
b. Fine Motor Adaptive (Gerakan Motorik Halus); aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-
bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang
cemat.
c. Language (Bahasa); kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.
d. Gross Motor (Gerakan Motorik Kasar); aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan
sikap tubuh.

Langkah Pelaksanaan:
1. Sapa orangtua/pengasuh anak dengan ramah
2. Jelaskan tujuan dilakukan tes perkembangan (tes ini bukan untuk mengetahuan IQ anak)
3. Buat komunikasi yang baik dengan anak
4. Hitung umur anak dan buat garis umur
a. Instruksi umum: catat nama anak, tanggal lahir, dan tanggal pemeriksaan pada
formulir
b. Umur anak dihitung dengan cara : Tanggal pemeriksaan – Tanggal lahir (1 thn= 12
bulan; 1 bulan= 30 hari; 1 minggu= 7 hari)
5. Bila anak lahir prematur, koreksi faktor prematuritas. Untuk anak yang lahir > 2 minggu
sebelum tanggal perkiraan dan berumur < 2 tahun, maka harus dilakukan koreksi (1 thn=
12 bulan; 1 bulan= 30 hari; 1 minggu= 7 hari).
6. Tarik garis umur dari garis ata ke bawah dan cantumkan tanggal pemeriksaan pada ujung
atas garis umur
Contoh:
9-9-2004
6 9 12 15
--------------------------------------------------------------------------------------
Umur anak 13 ½ bulan, tgl pemeriksaan 9 Sept 2004

7. Lakukan tugas perkembangan untuk setiap sektor perkembangan di mulai dari sektor
yang paling mudah dan di mulai dengan tugas perkembangan yang terletak di sebelah kiri
garis umur, kemudian dilanjutkan sampai ke kanan garis umur.
i. Pada tiap sektor dilakukan minimal 3 tugas perkembangan yang paling dekat di
sebelah kiri garis umur serta tiap tugas perkembangan yang ditembus garis umur.
ii. Bila anak tidak mampu untuk melakukan salah satu uji coba pada langkah i (“gagal”;
”menolak”; “tidak ada kesempatan”), lakukn uji coba tambahan ke sebelah kiri garis
umur pada sektor yang sama sampai anak dapat “lulus” 3 tugas perkembangan
iii. Bila ana mampu melaukan salah satu tugas perkembangan pada langkah i, lakukan
tugas perkembangan tambahan ke sebelah akan garis umur pada sektor yang sama
sampai anak “gagal” pada 3 tugas perkembangan.
8. Beri skor penilaian
Skor dari tiap uji coba ditulis pada kotak segi empat:
P: Pass/lulus; anak melakukan uji coba dengan baik, atau ibu/pengasuh anak memberi
laporan anak dapat melakukannya.
F: Fail/gagal; anak tidak dapat melakukan uji coba dengan baik atau ibu/pengasuh anak
memberi laporan anak tidak dapat melakukannya dengan baik.
No: No opportunity/tidak ada kesempatan; anak tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukan uji coba karena ada hambatan. Skor ini hanya boleh dipakai pada uji coba
dengan tanda R.
R: Refusal/menolak; anak menolak untuk melakukan uji coba.

Intepretasi penilaian individual:


a. Advanced/Lebih; bilamana lewat pada uji coba yang terletak di kanan garis umur,
dinyatakan perkembangan anak lebih pada uji coba tersebut.
garis umur
P

b. Normal; bila gagal atau menolak melakukan tugas perkembangan di sebelah kanan
garis umur, dikategorikan sebagai normal.
garis umur garis umur
F R

Demikian juga bila anak lulus (P), gagal (F) atau menolak (R) pada tugas perkembangan di mana
garis umur terletak antara persentil 25 dan 75, maka dikategorikan sebagai normal.
garis umur garis umur garis umur

P F R

c. Caution/Peringatan; bila seprang anak gagal (F) atau menolak (R) tugas
perkembangan, di mana garis umur terletak pada atau antara persentik 75 dan 90.
F c R c
R c R c

d. Delayed/Keterlambatan; bila seorang anak gagal (F) atau menolak (R) melakukan uji
coba yang terletak di sebelah kiri garis umur.
F R
e. No Opportunity/tidak ada kesempatan; pada tugas perkembangan yang berdasarkan
laporan, orang tua melaporka bahwa anaknya tidak ada kesempatan untuk melakukan
tugas perkembnagn tesebut. Hasil ini tidak dimasukkan dalam mengambil
kesimpulan.
NO NO

9. Selama tes perkembangan, amati perilaku anak. Apakah ada perilaku yang khas,
bandingkan dengan anak lainnya. Bila ada perilaku yang khas, tanyakan kepada orang
tua/pengasuh, apakah perilaku tersebut merupakan perilaku sehari-hari yang dimiliki
anak tersebut. Bila tes perkembagan dilakukan sewaktu anak sakit, merasa lapar, dll,
dapat memberikan perilaku yang menghambat tes perkembangan.
Tes Perlaku: Khusus, Patuh, Tertarik Sekeliling, Ketakutan, Lama Perhatian

Langkah mengambil kesimpulan:


Normal
 Bila tidak ada keterlambatan dan atau paling banyak satu cation.
 Lakukan ulangan pada kontrol berikunya.
Suspect/Suspek
 Bila didapatkan ≥ 2 caution dan atau ≥ 1 keterlambatan.
 Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu untuk menghilangkan faktor sesaat seperti rasa
takut, keadaan sakit atau kelelahan.
Untestable/Tidak dapat diuji
 Bila ada skor menolak pada ≥ 1 uji coba terletak di sebelah kiri garis umur atau menolak
pada > 1 uji coba yang ditembus garis umur pada daerah 75-90%.
 Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu

2. UMUR KRONOLOGIS = Tanggal Pemeriksaan – Tanggal lahir


= 15 Juni 2018 – 25 Oktober 2014
= 3 tahun 8 bulan 22 hari ( C )
3. USIA KOREKSI
a. Umur kronologis = Tanggal Pemeriksaan – Tanggal lahir
= 23 Maret 2019 – 23 Oktober 2019
= 5 bulan
b. Usia koreksi
35 minggu – 40 minggu = - 5 minggu
Usia kronlogis: 5 bulan (20 minggu)
Maka, usia koreksi= 20 minggu – 5 minggu
= 15 minggu atau 3 bulan
DAFTAR PUSTAKA

Muzayyah, N (Kpsp & pemeriksaan denver ii). http://www.kuliah.fkuii.org/index.php?


option=com_phocadownload&view=category&download=814:kpsp_amp_pemeriksaan_de
nver_ii&id=73:masalah-pada-anak-3-2&Itemid=621.
C. MOBILISASI DAN RENTANG GERAK

1. SOP PEMINDAHAN PASIEN (DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA, TEMPAT


TIDUR KE BRANKAR)

MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA

A. Pengertian
Suatu kegiatan yang dilakuan pada klien dengan kelemahan kemampuan fungsional
untuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.

B. Persiapan
1. Persiapan Alat
Kursi roda dan sarung tangan (jika perlu)
2. Persiapan Pasien
Pasien berada di tempat tidur

C. Prosedur Kerja
1. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan yang akan di lakukan pada pasien
2. Posisikan kursi roda 450 dari arah tempat tidur pasien dan pastikan kursi roda dalam
keadaan terkunci
3. Bantu pasien duduk di tempat tidur
4. Kaji postural hipotensi
5. Instruksikan pasien untuk bergerak ke depan dan duduk di tepi tempat tidur
6. Instruksikan pasien untuk mencondongkan tubuh ke depan mulai dari pinggul
7. Instruksikan pasien untuk meletakkan kaki yang kuat di bawah tepi tempat tidur
sedangkan kaki yang lemah berada di depannya
8. Meletakkan tangan pasien di atas permukaan tempat tidur atau diatas kedua bahu
perawat
9. Perawat berdiri tepat di depan pasien, condogkan tubuh ke depan, fleksikan pinggul,
lutut, dan pergelangan kaki. Lebarkan kaki dengan salah satu di depan dan yang
lainnya di belakang
10. Lingkari punggung pasien dengan kedua tangan perawat
11. Tangan otot gluteal, abdominal, kaki dan otot lengan anda. Siap untuk melakukan
gerakan
12. Bantu pasien untuk berdiri, kemudian bergerak bersama menuju korsi roda
13. Bantu pasien untuk duduk, minta pasien untuk membelakangi kursi roda, meletakkan
kedua tangan di atas lengan kursi roda atau tetap pada bahu perawat
14. Minta pasien untuk menggeser duduknya sampai pada posisi yang paling aman
15. Turunkan tatakan kaki, dan letakkan kedua kaki pasien di atasnya

D. Evaluasi
1. Dokumentasikan hasil tindakan
2. Pastikan posisi pasien berada pada posisi yang paling aman dan nyaman
3. Mencuci tangan

MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE BRANGKAR

A. DEFINISI
Memindahkan pasien dari tempat tidur ke bangkar yaitu memindahkan pasien yang
mengalami ketidak mampuan, keterbatsan, tidak boleh melakukan sendiri atau tidak sadar
dari tempat tidur ke brangkar yang dilakukan oleh dua atau tiga orang perawat.

B. TUJUAN
Memindahkan pasien antar ruangan untuk tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan
diagnostic, pindah ruang, dll)

C. ALAT DAN BAHAN


1. Brangkat
2. Bantal bila perlu

D. PROSEDUR
1. Ikuti protocol standar
2. Atur brangkar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur
3. Dua atau tiga orang perawat menghadap ke tempat tidur/ pasien
4. silahkan tangan pasien ke depan dada
5. Tekuk lutut anda, kemudian masukan tangan anda ke bawah tubuh pasien
6. perawat pertama meletakkan tangan dibawah leher/bahu dan bawah pinggang,
perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, sedangkan
perawat ketigameletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki
7. Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke brangakr
8. Atur posisi pasien dan pasang pengaman
9. Lengkapi akhir protocol

E. PELAKSANA
1. Naikkan posisi tempat tidur sampai lebi tinggi dari brangkar
2. Posisi pasien di tepi tempat tidur, tutupi dengan selimut untuk kenyamanan
3. Meminta pasien untuk memfleksikan leher jika memungkinkan dan meletakkan
kedua tangan menyilang diatas dada
4. Lakukan persiapan untuk mengangkat pasien. Perawat pertama meletakkan tangan
dibawah leher/bahu dan bahwa pangul pasien, sedangkan perawat ketiga meletakkan
tangan dibawah pinggul dan kaki.
5. Condokkan tubuh kedepan, fleksikan pinggul, lutut dan pengelangan kaki. Perawat
pertama memberikan instruksi kemudian angkat pasien secara bersama-sama dari
tempat tidur dan pindahkan ke brangkar
6. Buat pasien merasa nyaman dan angkat pagar brangkar atau kencangkan sabuk
pengaman melintang di atas tubuh pasien.

2. JENIS-JENIS POSISI
A. Posisi Fowler
1) Pengertian
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, di mana bagian kepala tempat
tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan
kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien.

Posisi Fowler

2) Tujuan
a. Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.
b. Meningkatkan rasa nyaman
c. Meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga  meningkatnya ekspansi dada
dan ventilasiparu
d. Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap

3) Indikasi
a. Ada pasien yang mengalami gangguan pernapasan
b. Pada pasien yang mengalami imobilisasi

4) Alat dan bahan
a.       Tempat tidur khusus
b.      Selimut

5) Cara Kerja
a.       Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
b.      Dudukkan pasien
c.       Berikan sandaran atau bantal pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur.
d.      Untuk posisi semi fowler (30-45˚) dan untuk fowler (90˚).
e.       Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk.

B. Posisi Semi Fowler


1) Pengertian
Semi fowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk 15-60 derajat.

2) Tujuan
a.         Mobilisasi
b.         Memerikan perasaan lega pada klien sesak nafas
c.         Memudahkan perawatan misalnya memberikan makan

3) Cara / Prosedur
a. Mengangkat kepala dari tempat tidur kepermukaan yang tepat (45-90 derajat)
b. Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan kepala klien jika tubuh bagian atas 
klien lumpuh
c. Letakan bantal di bawah kepala klien sesuai dengan keinginan klien,
menaikan lutut daritempat tidur yang rendah menghindari adanya tekanan di
bawah jarak poplital di bawah lutut
C. Posisi Sim
1) Pengertian
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri, posisi ini dilakukan untuk
memberi kenyamanan dan memberikan obat melalui anus (supositoria).

Posisi Sim

2) Tujuan
a) Mengurangi penekanan pada tulang secrum dan trochanter mayor otot pinggang
b) Meningkatkan drainage dari mulut pasien dan mencegah aspirasi
c) Memasukkan obat supositoria
d) Mencegah decubitus

3) Indikasi
a) Untuk pasien yang akan di huknah
b) Untuk pasien yang akan diberikan obat melalui anus

4) Alat dan Bahan
a) Tempat tidur khusus
b) Selimut

5) Cara Kerja
a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
b) Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke
kiri dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha
kanan ditekuk di arahkan ke dada.
c) Tangan kiri di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kanan di
atas tempat tidur.
d) Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki
kanan lurus, lutut dan paha kiri ditekuk di arahakan ke dada.
e) Tangan kanan di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kiri di
atas tempat tidur.

D. Posisi Trendelenburg
1) Pengertian
Pada posisi ini pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah
dari pada bagian kaki.
2) Tujuan
Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.

Posisi Trendelenburg

3) Alat dan Bahan
a) Tempat tidur khusus
b) Selimut

4) Indikasi
a) Pasien dengan pembedahan pada daerah perut
b) Pasien shock
c) Pasien hipotensi.

5) Cara Kerja
a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
b) Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke
kiri dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha
kanan ditekuk di arahkan ke dada.
c) Tangan kiri di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kanan di
atas tempat tidur.
d) Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki
kanan lurus, lutut dan paha kiri ditekuk di arahakan ke dada.
e) Tangan kanan di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kiri di
atas tempat tidur.

E. Posisi Dorsal Recumbent


1) Pengertian
Pada posisi ini pasien berbaring terlentang dengan kedua lutut flexi (ditarik atau
direnggangkan) di atas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan
memeriksa genitalia serta pada proses persalinan.

Posisi dorsal recumbent

2) Tujuan
Meningkatkan kenyamanan pasien, terutama dengan ketegangan punggung belakang.

3) Indikasi
a) Pasien yang akan melakukan perawatan dan pemeriksaan genetalia
b) Untuk persalinan

4) Alat dan Bahan
a) Tempat tidur
b) Selimut

5) Cara Kerja
a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
b) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, letakkan bantal di antara kepala dan
ujung tempat tidur pasien dan berikan bantal di bawah lipatan lutut.
c) Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur
khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien.

F. Posisi Litotomi
1) Pengertian
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke
atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses
persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.

2) Indikasi
a) Untuk ibu hamil
b) Untuk persalinan
c) Untuk wanita yang ingin memasang alat kontrasepsi

3) Alat dan Bahan
a) Tempat tidur khusus
b) Selimut

4) Cara Kerja
a) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, kemudian angkat kedua aha dan tarik
ke arah perut.
b) Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
c) Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomic
d) Pasang selimut
e)
G. Posisi Genu Pectrocal/ Knee Chest
1) Pengertian
Pada posisi ini pasien menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel
pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rectum
dan sigmoid.
Posisi Genu pectrocal/ Knee chest

2) Tujuan
Memudahkan pemeriksaan daerah rektum, sigmoid, dan vagina.

3) Indikasi
a) Pasien hemorrhoid
b) Pemeriksaan dan pengobatan daerah rectum, sigmoid dan vagina.

4) Cara Kerja
a) Anjurkan pasien untuk posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada
menempel pada kasur tempat tidur.
b) Pasang selimut pada pasien
c)
H. Posisi Orthopenei
1) Pengertian
Posisi pasien duduk dengan menyandarkan kepala pada penampang yang sejajar
dada, seperti pada meja.

2) Tujuan
Memudahkan ekspansi paru untuk pasien dengan kesulitan bernafas yang ekstrim dan
tidak bisa tidur terlentang atau posisi kepala hanya bisa pada elevasi sedang.

3) Indikasi
Pasien dengan sesak berat dan tidak bisa tidur terlentang.

I. Posisi Supinasi
1) Pengertian
Posisi terlentang dengan pasien menyandarkan punggungnya agar dasar tubuh sama
dengan kesejajaran berdiri yang baik.

Posisi Supinasi
2) Tujuan
Meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi penyembuhan terutama pada
pasien pembedahan atau dalam proses anestesi tertentu.

3) Indikasi
a) Pasien dengan tindakan post anestesi atau penbedahan tertentu
b) Pasien dengan kondisi sangat lemah atau koma.

J. Posisi pronasi
1) Pengertian
Pasien tidur dalam posisi telungkup Berbaring dengan wajah menghadap kebantal.

Posisi Pronasi
2) Tujuan
a) Memberikan ekstensi  maksimal pada sendi lutut dan pinggang
b) Mencegah fleksi dan kontraktur pada pinggang dan lutut.
3) Indikasi
a) Pasien yang menjalani bedah mulut dan kerongkongan
b) Pasien dengan pemeriksaan pada daerah bokong atau punggung.

K. Posisi Lateral
1) Pengertian
Posisi miring di mana pasien bersandar ke samping dengan sebagian besar berat
tubuh berada pada pinggul dan bahu.

Posisi Lateral

2) Tujuan
a) Mempertahankan body aligement
b)  Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi

c)  Meningkankan rasa nyaman

d) Mengurangi kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang


menetap.

3) Indikasi
a) Pasien yang ingin beristirahat
b)  Pasien yang ingin tidur

c)  Pasien yang posisi fowler atau dorsal recumbent dalam posisi lama

d)  Penderita yang mengalami kelemahan dan pasca operasi.

3. SOP RPS