Anda di halaman 1dari 3

Kelompok 3-4 :

Thalassemia merupakan salah satu penyakit genetik terbanyak yang ditandai


dengan penurunan atau tidak diproduksinya rantai globin. Secara klinis, pasien
dikategorikan sebagai thalassemia mayor jika memerlukan transfusi darah rutin
seumur hidup untuk mengatasi anemia. Dampak utama transfusi darah rutin
adalah kelebihan besi dalam tubuh yang harus dikeluarkan dengan bantuan obat
kelasi besi. Panduan Thalassemia International Federation (TIF) menyarankan
agar pemberian transfusi rutin pada pasien thalassemia mayor harus mampu
mempertahankan kadar hemoglobin (Hb) pra- transfusi di atas 9-10,5 g/dL. Nilai
Hb pra-transfusi dapat menekan eritropoiesis inefektif, tanpa meningkatkan
risiko akumulasi besi dalam tubuh. Eritropiesis inefektif dalam jangka panjang
dapat menyebabkan splenomegali. Selain itu, dibandingkan dengan orang
normal, pasien thalassemia lebih berisiko mengalami infeksi dan perdarahan
melalui berbagai mekanisme. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi
hubungan rerata Hb pra-transfusi dengan ukuran limpa dan tinggi badan anak.
Selain itu, juga untuk menilai dampak ukuran limpa terhadap kejadian
neutropenia dan trombositopenia, mengingat komplikasi tersebut dapat
memperburuk kondisi anak dengan thalassemia.

Kelompok 5-6 :

Kelenjar tiroid berperan penting dalam perkembangan otak janin selama masa
kehamilan dan regulasi pertumbuhan serta fungsi metabolisme pada masa
pertumbuhan. Dewasa ini, gangguan tiroid menjadi masalah kesehatan di
masyarakat seiring meningkatnya kasus tiroid setiap tahunnya, namun diagnosis
dan manajemen penanganan penyakit gangguan tiroid masih menjadi
perdebatan di kalangan ahli endokrin. Pedoman manajemen program
pengendalian penyakit tiroid telah ditetapkan oleh kelompok ahli dengan fokus
kepada masalah nodul tiroid. Hipertiroidisme subklinis (HS) dan hipotiroidisme
subklinis lebih dikenal sebagai diagnosis laboratorium daripada diagnosis klinis.
Untuk mencapai kesesuaian dengan protokol yang berlaku, maka suatu
interpretasi yang tepat merupakan bagian yang penting dari evaluasi HS dan
hipotiroidisme subklinis. Terapi dengan obat antitiroid, pemberian yodium
radioaktif, atau operasi merupakan pilihan terapi untuk HS. Sedangkan
pengobatan levotiroksin oral merupakan terapi pilihan untuk hipotiroidisme
subklinis. Dianosis dan tatalaksana HS dan hipotiroidisme subklinis memerlukan
pemantauan fungsi tiroid secara teratur. Meskipun kesepakatan ahli sudah
mengeluarkan berbagai pedoman untuk diagnosis dan tatalaksana disfungsi
tiroid, setiap pasien tetap harus dinilai secara individual untuk menentukan
tatalaksana yang paling tepat. Sebelum data terkumpul lengkap diperlukan
kombinasi antara penilaian klinis dan pilihan tatalaksana oleh pasien untuk
memberi hasil yang terbaik.
Kelompok 7-8 :

Solitary brous tumor (SFT), tergolong tumor mesenkimal jenis sel spindel yang
jarang ditemukan dan sifat biologiknya sulit diprediksi. Gambaran klinik SFT
tidak khas dan gambaran morfologiknya berspektrum luas sehingga sulit
dibedakan dengan tumor mesenkimal sel spindel yang lain baik jinak maupun
ganas. Pada sebagian besar kasus, diperlukan pemeriksaan imunohistokimia
(IHK) untuk menegakkan diagnosis SFT dan menyingkirkan diagnosis banding.
Studi retrospektif ini bertujuan mengetahui karakteristik demogra k, gambaran
histopatologik dan pentingnya pulasan IHK dalam mendiagnosis SFT. Data
sekunder berasal dari catatan medik Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM
tahun 2010-2016. Gambaran histopatologik yang dinilai meliputi simpai, pola
histopatologik, selularitas, pleomor sme, mitosis, nekrosis, rekurensi serta
metastasis. Dari 35 sampel yang dapat dianalisis terdapat lebih banyak subjek
laki-laki yaitu 20 kasus dan usia <55 tahun yaitu 29 kasus. Lokasi ekstrapleura
lebih banyak ditemukan yaitu 31 kasus dibandingkan pleura (4 kasus). Tumor
berukuran kecil (<5 cm) lebih banyak yaitu 21 kasus. Sebagian besar SFT
berbatas tegas dan SFT selular lebih banyak dari brous, yaitu 33:13. SFT selular
umumnya menunjukkan selularitas tinggi dengan pleomor sme sedang,
sedangkan SFT brous dengan selularitas dan pleomor sme sedang. Mitosis 0/10
LPB dan tanpa nekrosis. Didapatkan 3 kasus yang memenuhi kriteria SFT ganas
dengan hiperselularitas inti pleomor k, nekrosis dan mitosis >4/10LPB.
Rekurensi ditemukan pada 5 SFT jinak.

Kelompok 9-10 :

Efek asam lipoat terhadap komplikasi diabetes mellitus telah banyak diteliti.
Efek protektif asam lipoat (ALA) terhadap aterosklerosis pada diabetes mellitus
masih perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk men- getahui pencegahan lesi
aterosklerosis oleh asam alfa lipoat pada tikus diabetes mellitus (DM) tipe 2. Se-
banyak 21 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok; kelompok
kontrol, kelompok DM dan kelompok DM +ALA. Induksi DM tipe 2 dilakukan
dengan pemberian streptozotocin (50 mg/kg) diikuti oleh nikotinamide (110
mg/kg) dosis tunggal intraperitoneal. Asam lipoat diberikan peroral (60 mg/kg)
selama 3 minggu setelah hewan coba terdiagnosis DM. Penelitian yang
merupakan penelitian eksperimental den- gan desain post test only with control
ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Univer- sitas Riau
bulan Juni - Oktober 2016. Hasil penelitian memperlihatkan skor aterosklerosis
pada kelompok DM+ALA lebih rendah dibandingkan kelompok DM dan
perbedaan ini bermakna secara statistik. Asam lipoat dapat mencegah
pembentukan lesi aterosklerosis pada tikus DM tipe 2. Aterosklerosis
merupakan proses in amasi yang terutama mengenai arteri-arteri berukuran
sedang, yaitu arteri karotis, arteri koronaria, cabang besar aorta torakalis dan
aorta abdominal, dan pembuluh darah besar ekstremitas bawah. Pada pasien
penyakit arteri koroner memperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan
antara penebalan intima-media pada arteri karotis dan aorta torakalis dengan
stenosis arteri koronaria. Lokasi pembuluh darah yang merupakan predileksi
terjadinya aterosklerosis pada tikus putih adalah aorta.
Kelompok 11-12 :

Triheksifenidil adalah obat golongan antikolinergik yang digunakan untuk


mengatasi gejala penyakit parkinso dan tremor. Triheksifenidil juga dipakai
untuk mengontrol gangguan ekstrapiramidal akibat efek samping obat sistem
saraf pusat seperti reserpin dan fenotiazin. Indikasi lain triheksifenidil adalah
untuk menangani pasien gangguan kejiwaan pada pasien skizofrenia. Obat itu
bekerja dengan memblok reseptor asetilkolin sehingga menghasilkan efek
mengurangi kekakuan otot, pengeluaran air liur, tremor, dan meningkatkan
kemampuan mengatur gerakan. Penggunaan triheksifenidil yang berlebihan
dapat menimbulkan efek antikolinergik perifer seperti mulut dan hidung kering,
pandangan kabur, konstipasi dan retensi urin; serta efek antikolinergik sentral
seperti mual, muntah, agitasi, halusinasi sampai mengeksaserbasi psikosis
skizofrenia, kejang, demam tinggi, dilatasi pupil, dan gangguan kognitif seperti
disorientasi terhadap waktu, orang dan tempat, stupor hingga koma. Bagian
ginjal yang paling sering mengalami kerusakan adalah tubulus proksimal karena
peka terhadap anoksia dan mudah hancur karena keracunan akibat kontak
dengan bahan-bahan yang diekskresikan melalui ginjal.Pada penelitian tentang
perubahan histopatologi ginjal akibat penggunaan dextromertrophan. Terdapat
perbedaan bermakna pada pada gambaran histopatologi ginjal antara kelompok
kontrol dengan kelompok perlakuan, serta antarkelompok perlakuan. Gambaran
histopatologi yang terjadi pada ginjal adalah proses degenerasi berupa
pembengkakan dan penutupan lumen tubulus proksimal ginjal. Berbeda dengan
penelitian sebelumnya, penelitian ini dilakukan untuk melihat perubahan
diameter lumen proksimal ginjal akibat triheksifenidil.