Anda di halaman 1dari 6

Pembesaran Gingiva Diinduksi Fenitoin : Laporan Kasus

Tri Winarsih1, Rinawati Satrio 2


1
Mahasiswa Profesi Dokter Gigi, Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah
2
Bagian bidang Bedah Mulut, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

ABSTRAK

Pendahuluan: Pembesaran ukuran gingiva atau gingival enlargement adalah terminologi umum pada penyakit gingiva. Pembesaran gingiva
dapat diinduksi oleh obat-obatan. Salah satu obat yang dapat menginduksi pembesaran gingiva adalah fenitoin. Perawatan yang dapat
dilakukan untuk kasus pembasaran gingiva yang diinduksi fenitoin meliputi penghentian penggunaan fenitoin, bedah (gingivektomi dan flap)
dan non-bedah. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penyebab dari pembesaran gingiva yang diinduksi oleh fenitoin dan
perawatannya. Laporan kasus: Seorang laki-laki datang ke RSGM untuk memeriksakan gusinya yang bengkak dan mengganggu penampilan.
Pasien memiliki riwayat epilepsi yang didiagnosis 6 tahun yang lalu, pasien mengonsumsi fenitoin kapsul 100mg 2 kali sehari dengan 2 kapsul
setiap kali minum. Kesimpulan: Fenitoin dapat meningkatkan ekstraseluler seperti jaringan ikat, kolagen dan fibroblas pada gingiva.
Penatalaksanaan pembesaran gingiva yang diinduksi fenitoin yaitu dengan terapi bedah dan non bedah.
Kata kunci : Pembesaran gingiva, Fenitoin, Epilepsi

1
PENDAHULUAN antikonvulsan, calcium channel blocker dan
Gingiva merupakan jaringan lunak yang menutupi imunosupresan.5
tulang alveolar dan akar gigi sampai ke CEJ. Gingiva
Obat antikonvulsan atau antiepilepsi yaitu fenitoin
yang sehat berwarna merah muda dengan tepi tajam
merupakan obat yang paling sering dikaitkan dengan
menyerupai kerah baju, konsistensi kenyal dengan
pembesaran gingiva dengan prevalensi sebesar
adanya stipling. Pembesaran ukuran gingiva atau
50%. Pembesaran gingiva yang disebabkan oleh
gingival enlargement adalah terminologi umum pada
penggunaan fenitoin secara klinis dapat dilihat
penyakit gingiva. Gambaran klinisnya disebut
apabila penggunaan obat tersebut sudah lebih dari 3
hipertrofi gingivitis atau hiperplasi gingiva, pada
bulan. Gambaran klinis dari pembesaran gingiva
keadaan tersebut, gingiva berwarna merah,
yang diinduksi oleh fenitoin yaitu adanya pembesaran
konsistensinya lunak, tepi tumpul dan tidak adanya
interdental dan margin gingiva secara general baik
stippling atau permukaannya menjadi halus.
pada rahang atas ataupun rahang bawah pada
Pembesaran gingiva akibat inflamasi kronis lebih
bagian bukal, palatal, dan lingual. Perawatan yang
umum terjadi.1.2
dapat dilakukan untuk kasus pembasaran gingiva
Pembesaran gingiva merupakan hasil dari yang diinduksi fenitoin meliputi penghentian
perubahan inflamasi akut atau kronis, namun penggunaan fenitoin, bedah (gingivektomi dan flap)
perubahan kronis lebih sering terjadi. Berdasarkan dan non-bedah.6
gambaran histologi, pembesaran gingiva dibagi
menjadi dua, yaitu hipertrofi gingiva dan hiperplasi LAPORAN KASUS

gingiva. Hipertrofi gingiva disebabkan bertambahnya Seorang laki-laki berusia 22 tahun datang ke
ukuran sel, sedangkan hiperplasi gingiva disebabkan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jenderal
peningkatan jumlah sel penyusunnya. Pembesaran Soedirman (RSGM) untuk memeriksakan gusinya
gingiva ini tidak menimbulkan rasa sakit, namun yang terlihat bengkak dan mengganggu penampilan.
dapat mengganggu oklusi dan estetik pasien, selain Gusi yang bengkak tidak sakit serta tidak mudah
itu juga pasien akan kesulitan dalam mengontrol berdarah. Gusi rahang atas maupun rahang bawah
plak.3.4 bengkak bertahap sejak 6 tahun yang lalu. Pasien
datang ke dokter gigi 5 bulan yang lalu untuk
Pembesaran gingiva dapat terjadi pada seluruh
membersihkan karang giginya, namun gusinya tetep
gingiva rongga mulut, namun kasus terparah sering
membengkak hingga saat ini. Pasien memiliki riwayat
terjadi di regio anterior maksila dan mandibula.
epilepsi yang didiagnosis 6 tahun yang lalu ditandai
Berdasarkan etiopatogenisnya, pembesaran gingiva
dengan kejang-kejang dengan waktu yang berpola.
diklasifikasikan menjadi inflammatory enlargement,
Kejang-kejang terjadi setiap bulan dan dapat kambuh
drug induced enlargement, associated with systemic
setiap kali pasien kelelahan dan stress. Pasien
disease, dan neoplastic enlargement.4 Kasus
mengonsumsi fenitoin kapsul 100mg 2 kali sehari
pembesaran gingiva yang diinduksi oleh obat-obatan
dengan 2 kapsul setiap kali minum. Total 400mg
merupakan kasus yang sering ditemui. Obat-obatan
fenitoin setiap harinya selama 6 tahun. Pasien
yang dapat menginduksi terjadinya pembesaran
seorang mahasiswa dan memiliki kebiasaan
gingiva terbagi menjadi tiga kategori yaitu

2
membersihkan rongga mulutnya dengan baik dan antikonvulsan yaitu fenitoin.8 Besar ukuran gingiva
teratur. dapat diklasifikasikan dalam keparahannya
pembesaran. Keparahan gingiva dalam kasus
termasuk ke dalam grade II yaitu enlargement
meliputi papila interdental dan margin gingiva.8

Obat antikonvulsan selain fenitoin antara lain


ethotoin, mephenytoin, fenobarbital, lamotrigine,
vigabatrin, ethosuximide, topiramide, pyrimidinone.5
Fenitoin digunakan untuk epilepsi pertama kali pada
Gambar 1. Gingival enlargement
tahun 1938 untuk mengendalikan serangan epilepsi.
Hasil pemeriksaan umum, pasien datang Epilepsi sendiri adalah gangguan susunan saraf
dalam keadaan kompos mentis, tanda-tanda vital pusat (SSP) dengan gejala adanya bangkitan
dalam batas normal. Tekanan darah 120/80 mmHg, spontan, berkala, disertai kejang, dan hiperaktivitas
nadi 84x per menit, nafas 12x per menit dan suhu otonomik.6,7 Terdapat letupan listrik atau depolarisasi
tubuh dalam batas normal. Hasil pemeriksaan ekstra abnormal pada neuron epileptik yang eksesif begitu
oral, tidak terdapat kelainan. Hasil pemeriksaan adanya rangsangan. Rangsangan dapat berupa bau
intraoral, terdapat pembesaran gingiva secara bauan tertentu, alergi, stress, kelelahan, tekanan
general pada gingival labial, bukal, palatal rahang anatomi pada intrakranial maupun idiopatik.7
atas dan labial, bukal, lingual rahang bawah.
Penyebab dari epilepsi adalah adanya kelainan
Berwarna merah pucat, konsistensi kenyal, tidak
pada intra kranial dan ekstra kranial. Intra kranial
mudah berdarah, dan tidak sakit.
seperti adanya tumor, trauma, infeksi, kongenital dan
herediter. Ekstra kranial seperti anoxia, hipoglikemia,
PEMBAHASAN
gangguan elektrolit, dan metabolik. Hasil anamnesis
Gingival Enlargement atau gingival overgrowth pada kasus, penyebab epilepsi pada pasien adalah
adalah pembesar gingiva yang terjadi secara adanya trauma pada kepala bagian depan ketika
abnormal. Pembesaran gingiva ini disebabkan oleh pasien berolahraga 6 tahun yang lalu. Benturan pada
faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal berupa kepala bagian depan awalnya tidak menimbulkan
iritasi kronis dan efek fungsional seperti maloklusi gejala, tetapi beberapa hari kemudian terdapat gejala
dan malposisi gigi geligi, sedangkan faktor sistemik epilepsi awal.7 Terapi epilepsi diberikan guna
meliputi pengaruh obat-obatan, hormonal, psikologis, menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi
maupun penyakit metabolik. Keparahan gingiva bangkitan, dan menurunkan angka kesakitan dan
diklasifikasikan menjadi Grade I: pembesaran kematian.7,8 Terapi epilepsi pada umumnya adalah
sebatas papila interdental. Grade II: pembesaran pemberian obat atau farmakologis yang diberikan
meliputi papila interdental dan margin gingiva. Grade dengan indikasi terjadi minimal 2 kali bangkitan
III: pembesaran menutupi sepertiga atau lebih dalam satu tahun.9
mahkota klinis gigi. Pembesaran gingiva dalam kasus
Fenitoin merupakan jenis obat antiepilepsi yang
diklasifikasikan berdasarkan etiologinya yaitu
mempunyai cara kerja menginhibisi kanal natrium
pembesaran gingiva yang diinduksi oleh obat

3
pada membran akson.10 Fenitoin mencegah oleh penggunaan obat fenitoin dan tidak ada adanya
terbukanya kanal natrium sehingga potensial aksi trauma oklusi dan akumulasi plak, sehingga
atau depolarisasi tidak diteruskan, sehingga hantaran penatalaksanaan utama dari hiperplasia ini adalah
impuls dan bangkitan eksesif atau depolarisasi menghentikan atau mengganti obat fenitoin. Perlu
abnormal neuron epileptik dapat dihentikan. dilakukan konsultasi dengan dokter spesialis saraf
Berdasarkan hasil berbagai penelitian, konsumsi yang menangani pasien. Hiperplasia gingiva karena
fenitoin dalam waktu yang lama memiliki efek induksi obat biasanya akan mengecil dengan
samping pada berbagai sistem tubuh, salah satunya sendirinya begitu obat dihentikan. Tindakan operatif
pada jaringan lunak yaitu hiperplasia gingiva.7,8 seperti gingivektomi atau medote pembedahan
Hiperplasia gingiva dalam kasus terjadi pada papila lainnya hanya diindikasikan apabila pasien setelah
interdental dan margin gingiva. Hiperplasia gingiva mengganti obat masih terdapat pembesaran gingiva.
berwarna merah pucat, konsistensi kenyal, tidak Apabila tidak ada upaya penggantian obat, tindakan
mudah berdarah, dan tidak ada rasa sakit. Rasa sakit operatif tidak disarankan karena dapat terjadi
dapat dirasakan pasien bila terdapat inflamasi rekuren, kecuali pembesaran gingiva menyebabkan
sekunder karena adanya akumulasi plak atau trauma trauma oklusi dan menyebabkan inflamasi sekunder
oklusi. 11.12
yang menimbulkan gejala.10.13

Pembesaran gingiva yang diinduksi obat-obatan Manajemen yang dilakukan dalam kasus
secara histologis terlihat adanya peningkatan adalah tidakan pada fase I perawatan periodonsi
ekstraseluler seperti jaringan ikat, kolagen dan yaitu perawatan non bedah antara lain.
fibroblas pada gingiva. Peningkatan kolagen oleh
10
1. Memberikan edukasi pasien mengenai lesi
fibroblas gingival disebabkan fenitoin dapat merusak
merupakan efek samping dari penggunaan obat
enzim kolagenase guna degradasi kolagen sehingga
fenitoin.
jumlah kolagen semakin banyak, sehingga
keseimbangan sintesis kolagen dan degradasi 2. Memberikan edukasi mengenai pentingnya

kolagen terganggu. Ketidakseimbangan ini karena menjaga kebersihan rongga mulut pasien yaitu cara

adanya interaksi TNF-a dengan fenitoin kontrol plak dengan menyikat gigi, dan penggunaan

menyebabkan MMP1 bersama integrin menginduksi obat kumur antiseptik.

akumulasi kolagen sementara enzim kolagenase 3. Pasien dikonsultasikan ke dokter spesialis


rusak dan tidak dapat melakukan degradasi kolagen. saraf untuk evaluasi obat antielpilepsi lainnya.
Hal ini yang mengakibatkan jumlah kolagen terus
4. Edukasi pentingnya datang ke dokter gigi
bertambah dan menambah ukuran gingival. Tidak
secara berkala untuk membantu menjaga kebersihan
hanya kolagen, terdapat pertambahan matriks non
rongga mulut pasien guna mencegah adanya
kolagen seperti glikominoglikans dan proteoglikan
akumulas plak yang dapat menyebabkan inflamasi
dalam jumlah yang banyak.10
sekunder.
Penatalaksaan hiperplasi gingiva karena induksi
Penatalaksanaan fase II atau perawatan
fenitoin dilakukan berdasarkan hasil evaluasi
bedah dilakukan jika ada inflamasi sekunder seperti
pemeriksaan. Pada kasus, pembesaran disebabkan
trauma oklusi, kebersihan rongga mulut pasien yang

4
buruk yang berpotensial terjadinya akumulasi plak, fibroblas pada gingiva. Penatalaksanaan
dan hiperplasi gingiva yang menetap meski telah pembesaran gingiva yang diinduksi fenitoin yaitu
diganti dengan obat lain. Tindakan operatif dengan terapi bedah dan non bedah. Pada kasus ini
diputuskan setelah dilakukan konsultasi dengan tidak dilakukan tindakan bedah karena tidak ada
dokter spesialis saraf yang menangani pasien. rencana penghentian obat serta kebersihan rongga
Terdapat pertimbangan-pertimbangan lain sebelum mulut pasien baik. Penatalaksaann kasus berupa
diputuskan untuk dilakukan tindakan operatif seperti edukasi tentang pembesaran gingiva dan edukasi
pemeriksaan darah meliputi hitung darah lengkap, menjaga kebersihan rongga mulut.
bleeding time, clothing time, partial thromboplastin
time, riwayat medis pasien meliputi faktor pencetus DAFTAR PUSTAKA
kekambuhan (stres, kelelahan, puasa, kurang tidur) 1. Iwan R. dan Iwan R. dan Izzatul A., 2005,
Kekambuhan Gingivitis Setelah Gingivektomi,
dan riwayat penyakit lain seperti gangguan jalan
Majalah Kedokteran Gigi Unair (Dent. J), 38
napas dan kesiapan metal pasien.13 (3):108-111.

Terdapat dua jenis terapi operatif penanganan 2. Newman, M.G., Takei, H.H., Caranza, F.A., 2006,
Clinical Periodontology, Ed. 10, Philadelpia: WB
pembesaran gingival yaitu gingivektomi dan Saunders.
overgrowth flap surgery. Gingivektomi diindikasikan
pada pembesaran gingiva untuk area kecil ≤ 6 gigi, 3. Chouksey, A., Awasthi, N., Rai, J., Chaudhary, A.,
2017, Association of Drug-Induced Gingival
tidak ada defek tulang, tidak ada attachment loss,
Enlargement (Calcium Channel Blocker) and
dan bisa menyisakan 3 mm jaringan pada apiko- Local Factors: Who is the Culprit?, Int Dent &
Med Journal, 3(1): 1-4.
koronal setelah pembedahan. Indikasi dari
overgrowth flap surgery adalah untuk area besar ≥ 6
4. Bajoria, A.A., Asha, M.L., Babshet, M., Patil, P.,
gigi, terdapat defek tulang dan attachment loss. Sukhija, P., 2015, Gingival Enlargement:
Prosedur operatif dalam kasus ini tidak dilakukan Revisited: A Case Series, IJJS Case Report &
Reviews, 1(3): 20-25.
berdasarkan hasil anamnesa pasien, dokter spesialis
saraf yang menangani pasien belum mengizinkan 5. Agrawal, A.A., 2015, Gingival Enlargements:
untuk penggantian obat dan kebersihan rongga mulut Differential Diagnois and Review of Literature,
World Journal Clinical Cases, 3(9): 779-788.
pasien baik sehingga kemungkinan terjadinya
inflamasi sekunder akibat akumulasi plak rendah, dan 6. Gurgel, B.C.V., Morais, C.R.B., Rocha-Neto, P.C.,
tidak ada riwayat trauma oklusi. 6 Dantas, E.M., Ponti, L.P., Costa, A.L.L.,
Phenytoin-Induced Gingival Overgrowth
Management with Periodontal Treatment,
KESIMPULAN Brazilian Dental Journal, 2015: 26(1): 39-43.
Pembesaran gingiva merupakan kelainan
7. Amit, A.A., 2015, Gingival enlargements:
gingiva yang disebabkan inflammatory enlargement, Differential diagnosis and review of literature,
drug induced enlargement, associated with systemic World Journal of Clinical Cases. 3(9): 779-788.
disease, dan neoplastic enlargement. Pada kasus
8. Gurgel, B.C.V., Morais, C.R.B., Rocha-Neto, P.C.,
pembesaran gingiva disebabkan oleh penggunaan
Dantas, E.M., Ponti, L.P., Costa, A.L.L., 2015,
antikonvulsan yaitu fenitoin. Fenitoin meningkatan Phenytoin-Induced Gingival Overgrowth
Management with Periodontal Treatment,
ekstraseluler seperti jaringan ikat, kolagen dan
Brazilian Dental Journal, 26(1): 39-43.

5
9. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran UI. Farmakologi dan Terapi.
2007, Edisi 5. Jakarta: Gaya Baru.

10. Vorkas C.K., Gopinathan, M.K., Singh, A.,


Devinsky, O., Lin, L.M, Rosenberg, P.A., Epilepsy
and dental procedures. A review. N Y State Dent
J. 2008: 74(2):39-43.

11. Rathi, P., Sood, R., Doodwad, V., Vaish, S., 2015,
Fighting Five Categories of Enlargement from Big
Gums to Big Smile- a case series, J Dental
Specialities, 3(1): 112-116.

12. Gurgel, B.C.V., Morais, C.R.B., Rocha-Neto, P.C.,


Dantas, E.M., Ponti, L.P., Costa, A.L.L.,
2015,Phenytoin-Induced Gingival Overgrowth
Management with Periodontal Treatment,
Brazilian Dental Journal, 26(1): 39-43.

13. Iman, K., Soha, N., Afshin, B., Hengameh, K.,


2015, Phenytoin- Induced Gingival Overgrowth: A
Review, Soc Pharm J., 1(1): 827.