Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PSIKOLOGI SOSIAL

METODE PSIKOLOGI SOSIAL


DAN TEORI SOSIAL

Dosen Pengampu:
( Yenny Marito, M.Pd, M.Psi, Psikolog)

Disusun Oleh:

Kelompok 2.2

Dwi Kartika Vania (1183351003)


Uswatun Hasanah Sitompul (1183351026)
Khairiyah Hasna Lubis (1183351029)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadapan Allah SWT, karena atas bimbingan dan
penyertaan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dalam mata kuliah psikologi sosial.

Kami tidak lupa berterimakasih kepada Ibu Yenny Marito M,Pd, M.Psi, Psikolog sebagai
dosen pengampuh mata kuliah psikologi sosial dan juga semua pihak yang terlibat dalam
penyusunan makalah ini. Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Besar harapan saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat terutama
untuk kami nantinya.

Medan, September 2019

Kelompok 2.2

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................1

DAFTAR ISI ........................................................................................................2

IDENTITAS BUKU .............................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................

1.1 Latar Belakang ....................................................................................4


1.2 Manfaat ..............................................................................................4
1.3 Tujuan ................................................................................................4

BAB II ISI BUKU

2.1 Metode Psikologi Sosial ......................................................................4


2.2 Teori Psikologi Sosial..........................................................................8

BAB III PENUTUP

4.1Kesimpulan ..........................................................................................12
4.2 Saran ...................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................13

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan diantara manusia tersebut ternyata tidak


selamanya berjalan lancar. Adakalanya muncul kesalah pahaman, perselisihan, pertengkaran,
permusuhan, Dalam kajian psikologi sosial hal ini terjadi karena tidak adanya kesamaan
pandangan terhadap suatu pola perilaku pada suatu struktur kelompok sosial. Masing-masing
pihak merespon rangsangan sosial yang diterimanya dari lingkungan sosial, sehingga
memunculkan sikap memilih atau menghindari sesuatu.

Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan psikologi secara
umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial adalah salah satu cabang ilmu dari
psikologi. Bila objek pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi
Sosial adalah kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum adalah
gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas dari alam sekitar.

Dalam menganalisis masalah psikologi sosial yang dihadapi individu diperlukanlah


metode untuk melakukan analisis tersebut dengan menyambungkan dengan beberapa teori sosial
yang terkandung dalam psikologi sosial.

1.2 TUJUAN

1. Untuk mengetahui metode-metode dalam psikologi sosial dan teori-teorinya


2. Untuk melatih kerja sama dalam kelompok dan rasa tanggung jawab
3. Untuk memenuhi tugas wajib mata kuliah psikologi sosial

1.3 MANFAAT

1. Memberi wawasan mengenai metode psikologi sosial dan teori psikologi sosial

3
BAB II
METODE PENELITIAN PSIKOLOGI SOSIAL

3.1 METODE PSIKOLOGI SOSIAL

A. Metode Dalam Psikologi Sosial

Metode dalam psikologi sosial dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Berdasarkan tempat: Laboratorium, Lapangan.


2. Berdasarkan metode: Observasi, Korelasional, Survei, Eksperimen.

B. Metode – Metode Dalam Penelitian

Ada 4 metode dalam Psikologi sosial:

1. OBSERVASI SISTEMATIS :
 Mengamati secara hati-hati perilaku yang ada (Baron& Byrne, 2003).
 Observasi sistematis: akurat dan Teliti.
a. KELEBIHAN OBSERVASI
 Mampu merekam semua data yang terjadi pada seting alamiah
 Data bersifat aktual
 Dapat mempelajari individu yang mempunyai kesulitan verbal dalam menyampaikan ide.
b. KEKURANGAN OBSERVASI
 Terbatasnya tempat dan situasi untuk di observasi.
 Kesulitan membina rapport dengan individu.
 Tidak mampu mengungkap hal-hal bersifat personal.

2. METODE SURVEI :
Metode survei adalah sebuah metode penelitian dimana sejumlah besar orang diminta
untuk menjawab pertanyaan tentang sikap dan tingkah laku tertentu (Baron& Byrne, 2003).
Penelitian menggunakan metode ini merupakan satu cara untuk mengumpulkan data secara
efektif dan ekonomis terhadap sampel yang besar.

4
Metode survei merupakan sebuah metode penelitian dimana sejumlah besar orang
diminta untuk menjawab pertanyaan tentang sikap dan tingkah laku tertentu (Baron& Byrne,
2003). Penelitian survei merupakan satu cara untuk mengumpulkan informasi secara efektif
dan ekonomis terhadap sampel yang besar.
a. JENIS METODE SURVEI
 Cross Section: Digunakan untuk pengumpulan data yang merefleksikan sikap, opini atau
belief pada waktu tertentu.
 Longitudinal: Salah satu prosedur survei yang pengumpulan datanya dilakukan pada waktu
yang lama.
b. FUNGSI & TUJUAN
 Mengetahui pikiran, pendapat, dan perasaan orang.
 Memahami kebutuhan/keinginan suatu masyarakat.
 Mengetahui tren atau kepentingan di masyarakat.
 Identifikasi karakteristik kelompok.
 Penelitian survei dapat digunakan sebagai edukas, seleksi atau masukan bagi suatu
institusi.
3. KORELASI
a. JENIS KORELASI
 Explanasi (penjelas) adalah korelasi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
hubungan antar variabel.
b. CIRI-CIRI :
 Terdiri dari dua atau lebih variable
 Mengukur pada satu waktu
 Terdapat minimal dua skor
 Sebagai satu kelompok
c. KELEBIHAN :
 Mengetahui sejauh mana hubungan antarvariabel
 Dapat mengetahui hubungan variabel dalam jumlah banyak dalam satu waktu
d. KELEMAHAN :
 Tidak mengetahui hubungan sebab-akibat

5
4. EKSPERIMEN
Penelitian Eskperimen merupakan salah satu prosedur penelitian kuantitatif yang bertujuan
untuk mengetahui dampak treatmen terhadap outcome, pada subjek penelitian (Creswell, 2002).
 Eksperimen Lapangan. Eksperimen lapangan adalah kajian penelitian dalam suatu situasi
nyata (Kerlinger, 1990).
Kelebihan :Validitas ekternal tinggi, Cocok untuk mengkaji proses sosial psikologis yang
kompleks
Kelemahan : Sulit melakukan kontrol dan manipulasi, Validitas internal rendah, Waktu relatif
lama
 Eksperimen Laboratorium
Eksperimen laboratorium adalah kajian penelitian di mana semua variabel bebas yang
berpengaruh namun tidak relevan dengan masalah yang sedang diselidiki dminimalkan (Kerlinger,
1990). Fungsi eksperimen laboratorium antara lain:
1. Untuk mengkaji relasi dalam kondisi murni
2. Pengujian dapat dilakukan dalam berbagai seting, dan c)m
3. Mempertajam teori dan hipotesis.
Kelebihan: Kontrol sempurna dan hasil lebih akurat, Validitas ekternal tinggi
Kelemahan: Kurangnya kekuatan variabel bebas, Validitas internal rendah

C. METODE PENGUMPULAN DATA


Menurut (Taylor, dkk, 2009) metode pengumpulan data terbagi atas 4 bagian, antara lain:
 Pelaporan diri. Subjek diminta mengisi angket/kuesioner
 Mengamati subjek secara langsung
 Arsip. Datanya berasal dari data yang telah dikumpulkan untuk tujuan lain.
 Internet. Riset dilakukan dengan menggunakan internet.

6
D. ETIKA RISET
 Informed Consent. Persetujuan untuk berpartisipasi dalam riset setelah mengetahui aspek
manfaat dan risiko.
 Debriefing. Menjelaskan tujuan dan prosedur riset kepada partisipan.
 Minimal risiko. Risiko riset tidak boleh lebih besar darpada ketimbang risiko dalam kehidupan
sehari-hari.

7
3.2 TEORI PSIKOLOGI SOSIAL
A. TEORI BELAJAR SOSIAL
Pokok pemikiran dalam pendekatan belajar adalah bahwa perilaku individu
ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu seseorang
mempelajari perilaku tertentu sebagai kebiasaan dan bila menghadapi situasi itu kembali
oarang tersebut akan cenderung untuk berperilaku sesuai dengan kebiasaannya itu.
Pendekatan dengan belajar populer di tahun 1920- an dan merupakan dasar Behaviorisme.
Ada tiga mekanisme umum terjadinya proses belajar. Yaitu Asosiasi,
Reinforcement (penguatan) dan obseravtional learning (belajar observasional).
Yang pertama adalah Asosiasi, atau pengkondisian klasik. Contohnya adalah
Anjing Pavlov belajar mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel karena makanan
disajikan kepadanya setiap kali bel berbunyi. Setelah beberapa waktu kemudian, anjing itu
akan mengeluarkan air liur setiap kali mendnegar bel meski tidak ada makanan yang
disajikan, sebab ia telah mengasosiasikan bel itu dengan makanan. Manusia terkadang
belajar emosi melalui asosiasi.
Yang kedua adalah Reinforcement (penguatan), yang dipelajari oleh B. F. Skinner
dan yang lainnya. Orang belajar melalui perilaku tertentu karena perilaku itu diikuti dengan
sesuatu yang menyenangkan atau yang memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar untuk
menghindari perilaku tertentu yang menyebabkan konskuensi yang tidak menyenangkan).
Seorang anak mungkin belajar membantu orang lain karena orang tuanya memujinya saat
dia berbagi mainan atau tidak membentah gurunya di kelas, karena setiap kali dia
membantah, sang guru akan memasang tampang angker dan memarahinya.
Yang ketiga adalah Observational learning (belajar observasional). Orang sering
belajar sikap dan perilaku sosial dengan mengamati orang lain, yang secara teknis disebut
model. Anak belajar bahasa etnisnya dengan mendnegarkan orang-orang yang berbicara di
sekitarnya. Remaja mungkin menganut sistem politik tertentu dengan mendengarkan
percakapan orang tuanya selama masa kampanye pemilu. Dalam belajar observasional,
orang lain menjadi sumber informasi yang penting. Belajar observasional dapat terjadi
tanpa adanya penguatan eksternal.

8
B. TEORI S-R (STIMULUS-RESPONS)
Teori stimulus respon berprinsip: "Kalau stimulus memberikan akibat yang positif
atau memberi reward maka respons terhadap stimulus tersebut akan diulangi pada
kesempatan lain dimana stimulus yang sama timbul. Sebaliknya apabila respons
memberikan akibat yang negatif (hukuman dan sebagainya) hubungan antara stimulus -
respons tersebut akan dihindari pada kesempatan lain"Stimulus adalah peristiwa yang
terjadi baik di luar maupun di dalam tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya suatu
perubahan tingkah laku. Respons adalah perubahan yang disebabkan oleh adanya stimulus.

Menurut Keller & Schoenfeld (Wibowo,1988:127) stimulus mempunyai 3 (tiga) fungsi


yaitu:

a. Pembangkitan: stimulus yang membangkitkan, adalah stimulus yang langsung


memberikan suatu respons. Misalnya makanan langsung menimbulkan air liur orang
yang melihatnya pada saat lapar terutama.
b. Diskriminasi: stimulus yang diskriminatif, adalah stimulus yang tidak langsung
menimbulkan respons tetapi hanya merupakan pertanda adanya stimulus pembangkit.
Misalnya mendengar ada tukang siomay lewat. Saat barn mendengar belum ada reaksi
apapun dan diri orang tersebut, barulah setelah melihat sang penjual menyajikan
sepiring di depannya keluarlah air liurnya.
c. Reinforcement: adalah stimulus yang menimbulkan konsekuensi yang positif atau
negatif pada terbentuknya respons. Reinforcement positif adalah stimulus yang jika
diberikan akan memperkuat tingkah laku respons. Misalnya seorang anak yang

9
menolong orang lain kemudian mendapat pujian dan hadiah, maka ia akan cenderung
mengulangi tingkah laku menolongnya di kemudian hari. Reinforcement negatif adalah
stimulus yang jika tidak diberikan atau dihentikan pem-beriannya, akan memperkuat
terjadinya respons. Misalnya seorang anak yang kegemukan dan gelalu diejek oleh
temannya, tidak lagi diejek oleh temannya manakala dia berprestasi di kelas/menjadi
juara kelas. Maka ia akan mengulangi dan meningkatkan prestasi akademiknya
tersebut.
Dorongan adalah suatu kekuatan dalam diri seseorang yang jika telah mencapai
kekuatan yang maksimum akan menyebabkan orang tersebut melakukan sesuatu.
Menurut Dollard & Miller (dalam Wibowo, 1988:1.27) terdapat 2 (dua) macam
dorongan pada manusia yaitu dorongan primer dan dorongan sekunder. Dorongan
primer adalah dorongan bawaan seperti lapar, haus, sakit dan seks. Dorongan sekunder
adalah dorongan yang bersifat sosial dan dipelajari misalnya dorongan untuk mendapat
upah, pujian, perhatian dan sebagainya.
C. TEORI PROSES PENGGANTI
Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari
rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat (reinforcement) memang memperkuat tingkah
laku bias (response), tetapi dalam proses belajar sosial hal ini tidak terlalu penting.
Aplikasi teori ini adalah bahwa apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia
melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam khayalan atau
imajinasi orang tersebut terjadi rangkaian simbol-simbol yang menggambarkan rangsang
dari tingkah laku tersebut. Rangkaian simbol-simbol ini merupakan pengganti dari
hubungan rangsang balas yang nyata dan melalui asosiasi si peniru akan melakukan
tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model.
Terlepas dari ada atau tidaknya rangsang, proses asosiasi yang tersembunyi ini
sangat dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain itu di dalam proses ini tidak ada
cara coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah laku nyata, karena semuanya
berlangsung secara tersembunyi dalam diri individu.
Bandura dan RH. Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini dapat pula
menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama dengan emosi yang ada pada
model. Contohnya, seseorang yang mendengar atau melihat gambar tentang kecelakaan

10
yang mengerikan, maka ia berdesis, dan bahkan sampai menangis karena ikut merasakan
penderitaan tersebut.
Menurut A. Bandura dan RH. Walter, pengaruh tingkah laku model terhadap
tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Efek modelling, yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi
sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b. Efek menghambat (inhibition) dan penghapus hambatan (disinhibition) di mana
tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya
sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan
hambatannya sehingga timbul tngkah laku yang dapat menjadi nyata.
c. Efek kemudahan (facilitation effects), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang
sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pada dasarnya psikologi sosial sangat berhubungan dengan ilmu sosial lainnya, dimana
psikologi sosial merupakan bagian dari semua cabang ilmu sosial lainnya. Ilmu tersebut
menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial,

11
seperti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan
diantara manusia tersebut ternyata tidak selamanya berjalan lancar. Adakalanya muncul kesalah
pahaman, perselisihan, pertengkaran, permusuhan, bahkan peperangan. Disitulah Psikologi Sosial
akan berperan dalam menghadapi permasalahn-permasalahan tersebut. Sebagaimana ilmu-ilmu
yang lain, psikologi sosial bertujuan untuk mengerti suatu gejala atau fenomena. Dengan mengerti
suatu fenomena.

3.2 SARAN

Sebagai seorang calon guru BK atau Konselor, materi mengenai Psikologi Sosial adalah
hal yang wajib untuk dipahami dan dikuasai. Karena, materi ini sangat penting dan sangat berguna
sebagai wawasan dan kompetensi seorang Guru BK atau Konselor. Oleh karena itu, perlu bagi
mahasiswa untuk mempelajari dan mencari referensi sebanyak-banyaknya mengenai Psikologi
Sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Taylor, S.E, Peplau, L.A, Sears, D. O. 2009. Psikologi Sosial Edisi Ke-12. Dialihbahasakan oleh
Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Hakim, M.A. (2018). Sikap. Dalam M.N. Milla, Z.Abidin, & A. Pitaloka. Psikologi Sosial:
pengantar dalam teori dan penelitian. Jakarta, Indonesia: Salemba Humanika

Hambali, Adang. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: CV Pustaka Setia


12