Anda di halaman 1dari 16

Pemanasan Global Terhadap Kehidupan Lingkungan Hidup dan Sosial

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Komposisi kimiawi dari atmosfer sedang mengalami peubahan sejalan dengan


penambahan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, metan dan asam nitrat. Khasiat
menyaring panas dari gas tersebut tidak berfungsi. Energi dari matahari memacu cuaca
dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi, sebaliknya bumi mengembalikan energi
tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atmsfer (uap air, karbon dioksida dan gas
lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah
kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada
sekarang dan kehidupan seperti ini tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan
suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60oF/15oC.

Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer
bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer
bertambah mendekati 30%, konsentrasi metan lebih dari dua kali, dan konsentrasi asam
nitrat bertambah 15%.

Perubahan iklim merupakan tantangan yang paling serius dihadapi dunia di abad 21.
Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi muktakhir memperlihatkan bahwa
masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.

Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas
rumah kaca, yang terus bertambah di udara. Hal tersebut disebabkan oleh tindakan
manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan Chlorofluorocarbon (CFC). Yang
terutama adalah karbo dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh pengguna batubara,
minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat
dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh
aktivitas industri dan petanian. Chrolofluorcarbon (CFC) merusak lapisan ozon seperti
juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

Agar menciptakan kepedulian yang lebih terhadap lingkungan sehingga bisa


meminimalkan adanya pemanasan global.
Mengetahui bahaya dari adanya Pemanasan Global.
Dapat melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat dan tidak merusak lingkungan.
Cinta terhadap lingkungan.
Bertanggung jawab dan ikut serta melestarkan atau mencegah pemanasan global dengan
hal-hal yang dapat dikerjakan seperti penanaman pohon,dll.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, permasalahan yang diangkat adalah :

Arti penting dari pemanasan Global


Hal yang mengakibatkan terjadinya pemanasan Global
Dampak terhadap lingkungan hidup dan social dengan adanya pemanasan global

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kajian Teori

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan


temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse
effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2),
metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap
dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global –
termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.
Terlebih lagi saat ini manusia tidak sadar akan kelestarian hidup lingkungannya sehingga
banyak para oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab yang mengekploitasi
hutan di Kalimantan juga Sulawesi untuk kepentingan pribadi atau di ekspor ke luar negeri
untuk diolah menjadi furniture/perlengkapan rumah tangga yang di impor kembali ke
negara kita dengan harga yang jauh lebih mahal. Selain itu banyak berdirinya pusat
perbelanjaan, pabrik-pabrik dan apartement di pusat kota Jakarta yang menghilangkan
lahan yang berfungsi sebagai daerah serapan air sehingga pada saat musin hujan tiba, kota
ini selalu dilanda banjir.

Gbr.1 Gas Rumah Kaca

Kenaikan suhu bumi ini dapat berpengaruh pada perubahan iklim bumi. Beberapa tahun
terakhir ini bumi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari musim hujan.
Namun ketika musim penghujan tiba, intensitas curah hujan semakin tinggi dan terjadi
banjir di beberapa daerah di nusantara, hal ini di dukung dengan hilangnya hutan kota dan
hutan di sekitar daerah puncak.

Pemanasan global bisa dirasakan dalam 10 kejadian berikut ini :

Kebakaran hutan besar-besaran

Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut terbakar ludes.
Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan meluluhlantakan lebih banyak area dalam
tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan
temperatur yang kian panas dan salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih
awal sehingga salju meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan
lebih mudah terbakar.

Situs purbakala cepat rusak

Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain
lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan
pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand,
Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.

Ketinggian gunung berkurang


Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini
diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah
mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini
terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.

Satelit bergerak lebih cepat

Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang
angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida
yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan
cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak
karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan
satelit bergerak lebih cepat.

Hanya yang Terkuat yang Bertahan

Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa
bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah
hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan,
sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua
mahluk hidup termasuk manusia.

Pelelehan Besar-besaran

Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gununges, tapi juga semua lapisan
tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak
menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta
api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi
seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.

Keganjilan di Daerah Kutub

Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa
pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub.Riset di sekitar sumber airyang
hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.
Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara

Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang
lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota
Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai
tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di
sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.

Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi

Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebihtinggi demi menemukan tupai,
berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah
pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini
mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga
mencair.

Peningkatan Kasus Alergi

Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka
salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di
kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya.
Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur
belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal
dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

BAB III

PEMBAHASAN

A.Pengertian Global warming

Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi (terutama yang
mengalami kenaikan suhu yang menyebabkan perubahan iklim). Pemanasan global (global
warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun
ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh
meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida
(N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai
literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi
pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-
geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir,
peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi
fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi
masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b)
gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan
bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas
lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah
ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni :
kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

B.Penyebab Terjadinya Pemanasan Global

Penyebab terjadinya global warming yaitu gas rumah kaca.

Radiasi matahari menembus atmosfer bumi yang bersih.


Beberapa radiasi matahari dipantulkan kembali oleh atmosfer dan daratan bumi.
Radiasi yang diserap oleh permukaan bumi menjadi panas meyebabkan emisi longwave
(inframerah) dipantulkan ke atmosfer.
Beberapa dari radiasi inframerah yang tidak diserap atmosfer dipantulkan kembali ke
bumi.
Beberapa radiasi inframerah yang dipantulkan, kembali ke atmosfer dan hilang di luar
angkasa.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat ilustrasi dibawah ini

Gbr.2 Siklus Gas Rumah Kaca

Penyebab efek rumah kaca terjadi yaitu karena penggunaan kendaraan yang kurang
bijaksana yang mengakibatkan polusi udara semakin meningkat secara drastis,
menimbulkan karbon dioksida yang berlebihan sehingga cahaya matahari yang masuk ke
bumi dan dipantulkan lagi tidak dapat menembus atmosfer bumi karena terhalang oleh
karbon dioksida yang ditimbulkan dari polusi udara tersebut sehingga akan terasa lebih
hangat.
Kenaikan suhu bumi ini dapat berpengaruh pada perubahan iklim bumi. Beberapa tahun
terakhir ini bumi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari musim hujan.
Namun ketika musim hujan tiba, intensitas curah hujan semakin tinggi dan terjadi banjir di
beberapa daerah nusantara.

C.Dampak Pemanasan Global

Perubahan cuaca yang ekstrem inilah yang dapat menggaggu kehidupan di bumi baik
kehidupan manusia maupun ekologi yang berada di bumi. Hewan-hewan mungkin akan
mencari habitat baru dan mulai beradaptasi kembali dengan lingkungan barunya
sedangkan tumbuhan akan mengubah sistem pertumbuhannya dan mencari temapta baru
bagi populasinya. Mereka yang tidak dapat mencari habitat baru maka akan mengalami
seleksi alam yang berakibat akan punahnya spesies-spesies tumbuhan dan hewan karena
semua lahan kini telah dikuasai oleh manusia.

Sedangkan pada sektor sosial, pemanasan global mempunyai andil besar karena perubahan
iklim yang sangat ekstrem maka akan timbul berbagai penyakit, terutama penyakit kulit
dan kelaparan serta malnutrisi karena musim panas yang berkepanjangan akan
mengakibatkan gagal panen pada sektor pertanian. Selain kelaparan berbagai jenis
penyakit menular akan cepat berkembangbiak dikarenakan munculnya lingkungan baru
bagi pertumbuhan virus dan nyamuk demam berdarah. Tidak hanya itu, tingginya tingkat
polusi udara dan pencemaran lingkungan oleh limbah menybabkan berbagai penyakit
pernapasan seperti asma, alergi, penyakit jantung dan paru kronis.

Pemanasan global juga berpengaruh pada kelestarian air dunia. Karena suhu bumi yang
meningkat maka banyak sumber-sumber air yang mengering sehingga masyarakat akan
semakin sulit untuk mendapatkan air bersih terutama di Jakarta. Sulitnya mendapatkan air
bersih membuat masyarakat terdesak pada penyakit-penyakit kulit dan diare sehingga
warga miskin akan banyak yang kehilangan nyawanya, karena dampak dari pemanasan
global terasa lebih besar bagi mereka yang hidup di sekitar bantaran sungai dan tergolong
ekonomi rendah.

Selain berdampak pada masalah kesehatan, pemanasan global ini juga memiliki pengaruh
terhadap perkembangan sosial-ekonomi Indonesia. Karena kenaikan suhu bumi sebagian
hutan Indonesia menjadi kering dan mudah terbakar, belum lagi pembakaran lahan gambut
yang diubah menjadi pemukiman atau lahan indusri. Dikarenakan hal ini Indonesia
menjadi negara terbesar ketiga sebagai penyumbang gas rumah kaca. Oleh karena itu,
usaha pemerintah untuk mengurangi polusi dan gas rumah kaca tidak akan mampu
apabila tidak didukung oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian
lingkungan. Saat ini sudah banyak LSM dan elemen-elemen masyarakat yang
menyuarakan tentang masalah GoGreen dan gaya hidup yang ramah lingkungan salah
satunya adalah WALHI, organisasi yang berdiri dari reaksi keprihatinan atas ketidak
adilan dalam mengelola SDA dan sumber kehidupan, dan masih banyak lagi lembaga-
lembaga lain yang giat dalam menyuarakan kelestarian lingkungan. Selain banyaknya
lembaga-lembaga yang bermunculan dampak positif dari pemanasan global ini adalah
proses fotosintesis pada tumbuhan yang semakin produktif yang berdampak pada
perbaikan pangan namun tidak berpengaruh secara signifikan karena begitu banyak
dampak negatifnya.

Dari sekian banyak dampak yang disebabkan oleh pemanasan global, sudah selayaknya
kita untuk lebih simpati terhadap lingkungan kita sebagai satu-satunya tempat dimana kita
tinggal. Sesuatu yang dapat kita lakukan dapat berpengaruh banyak terhadap lingkungan
adalah dengan adanya rasa kesadaran dalam diri kita akan kelestarian lingkungan dan
didukung dengan usaha-usaha perbaikan, seperti; menggunakan listrik seperlunya,
menghemat penggunaan alat elektronik, menanam pohon sebagai upaya penyerapan
karbon dioksida, konservasi hutan, menggunakan plastik yang ramah lingkungan. Semua
usaha ini memang terlihat sederhana namun apabila dilakukan secara global maka akan
berdampak besar bagi kelangsungan bumi. Hal-hal ini memang perlu di lakukan oleh
negara-negara agraris sebagai negara kepulauan juga negara berkembang seperti
Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki hutan tropis yang luas di dunia.
Apabila hal-hal ini dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan maka tidak
mustahil bila bumi ini akan terasa lebih nyaman untuk dihuni oleh manusia dan gas rumah
kaca akan ditekan seminim mungkin.
Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir terhadap Kondisi Lingkungan Bio-
geofisik dan Sosial-Ekonomi Masyarakat.

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut :

meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir


perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove
meluasnya intrusi air laut
ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir
berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.

Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang
acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian
ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah
pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar
pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan
dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil
persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif
apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi
dalam kurun waktu yang bersamaan.

Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir
juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya
sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami
penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun
lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi
penurunan hutan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove
tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya
penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya
filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya.
Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga
dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan.
Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut
akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara.
Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah :
(a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-
Selatan Sumatera ; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir
yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian
Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua ; (c) hilangnya
lahan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta
hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta ; gambaran ini bahkan menjadi lebih ‘buram’
apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4
% saja dari keseluruhan luas wilayah nasional, dan (d) penurunan produktivitas lahan pada
sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial
bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia. Adapun daerah-daerah di Indonesia
yang potensial terkena dampak kenaikan muka air laut diperlihatkan pada Gambar 1
berikut.
Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulau-pulau kecil
yang dapat mencapai angka 2000 hingga 4000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air
laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25 meter, pada akhir
abad 2100 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 ha.
Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan
pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun
akibat penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown – International
Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 – 1998
saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat
pengaruh El Nino. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni
antara 2 hingga 3,5 juta hektar pada periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-
langkah yang tepat maka kerusakan hutan – khususnya yang berfungsi lindung – akan
menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan
dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka
panjang.

Antisipasi Dampak Kenaikan Muka Air Laut dan Banjir melalui Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional

Dengan memperhatikan dampak pemanasan global yang memiliki skala nasional dan
dimensi waktu yang berjangka panjang, maka keberadaan RTRWN menjadi sangat
penting. Secara garis besar RTRWN yang telah ditetapkan aspek legalitasnya melalui PP
No.47/1997 sebagai penjabaran pasal 20 dari UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang
memuat arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang negara yang memperlihatkan adanya
pola dan struktur wilayah nasional yang ingin dicapai pada masa yang akan datang.

Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional memuat :

arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan rawan
bencana seperti kawasan rawan gelombang pasang dan banjir)
arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan budidaya (hutan produksi, pertanian,
pertambangan, pariwisata, permukiman, dsb).

Sementara struktur pemanfaatan ruang wilayah nasional mencakup

arahan pengembangan sistem permukiman nasional


arahan pengembangan sistem prasarana wilayah nasional (seperti jaringan transportasi,
kelistrikan, sumber daya air, dan air baku.

Sesuai dengan dinamika pembangunan dan lingkungan strategis yang terus berubah, maka
dirasakan adanya kebutuhan untuk mengkajiulang (review) materi pengaturan RTRWN
(PP 47/1997) agar senantiasa dapat merespons isu-isu dan tuntutan pengembangan
wilayah nasional ke depan. (mohon periksa Tabel 3 pada Lampiran). Oleh karenanya, pada
saat ini Pemerintah tengah mengkajiulang RTRWN yang diselenggarakan dengan
memperhatikan perubahan lingkungan strategis ataupun paradigma baru sebagai berikut :

globalisasi ekonomi dan implikasinya,


otonomi daerah dan implikasinya,
penanganan kawasan perbatasan antar negara dan sinkronisasinya,
pengembangan kemaritiman/sumber daya kelautan,
pengembangan kawasan tertinggal untuk pengentasan kemiskinan dan krisis ekonomi,
daur ulang hidrologi,
penanganan land subsidence,
pemanfaatan jalur ALKI untuk prosperity dan security, serta
pemanasan global dan berbagai dampaknya.

Dengan demikian, maka aspek kenaikan muka air laut dan banjir seyogyanya akan
menjadi salah satu masukan yang signifikan bagi kebijakan dan strategi pengembangan
wilayah nasional yang termuat didalam RTRWN khususnya bagi pengembangan kawasan
pesisir mengingat : (a) besarnya konsentrasi penduduk yang menghuni kawasan pesisir
khususnya pada kota-kota pantai, (b) besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan
pesisir, (c) pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang belum mencerminkan adanya sinergi
antara kepentingan ekonomi dengan lingkungan, (d) tingginya konflik pemanfaatan ruang
lintas sektor dan lintas wilayah, serta (e) belum terciptanya keterkaitan fungsional antara
kawasan hulu dan hilir, yang cenderung merugikan kawasan pesisir.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ADB (1994), maka dampak kenaikan muka air laut
dan banjir diperkirakan akan memberikan gangguan yang serius terhadap wilayah-wilayah
seperti : Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi
bagian Barat Daya, dan beberapa spot pada pesisir Barat Papua

Untuk kawasan budidaya, maka perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk kota-
kota pantai yang memiliki peran strategis bagi kawasan pesisir, yakni sebagai pusat
pertumbuhan kawasan yang memberikan pelayanan ekonomi, sosial, dan pemerintahan
bagi kawasan tersebut. Kota-kota pantai yang diperkirakan mengalami ancaman dari
kenaikan muka air laut diantaranya adalah Lhokseumawe, Belawan, Bagansiapi-api,
Batam, Kalianda, Jakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Singkawang, Ketapang, Makassar,
Pare-Pare, Sinjai. (Selengkapnya mohon periksa Tabel 1 pada Lampiran).

Kawasan-kawasan fungsional yang perlu mendapatkan perhatian terkait dengan kenaikan


muka air laut dan banjir meliputi 29 kawasan andalan, 11 kawasan tertentu, dan 19
kawasan tertinggal. (selengkapnya mohon periksa Tabel 2 pada Lampiran).

Perhatian khusus perlu diberikan dalam pengembangan arahan kebijakan dan kriteria
pengelolaan prasarana wilayah yang penting artinya bagi pengembangan perekonomian
nasional, namun memiliki kerentanan terhadap dampak kenaikan muka air laut dan banjir,
seperti :
sebagian ruas-ruas jalan Lintas Timur Sumatera (dari Lhokseumawe hingga Bandar
Lampung sepanjang ± 1600 km) dan sebagian jalan Lintas Pantura Jawa (dari Jakarta
hingga Surabaya sepanjang ± 900 km) serta sebagian Lintas Tengah Sulawesi (dari Pare-
pare, Makassar hingga Bulukumba sepanjang ± 250 km).
beberapa pelabuhan strategis nasional, seperti Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta),
Tanjung Mas (Semarang), Pontianak, Tanjung Perak (Surabaya), serta pelabuhan
Makassar.
Jaringan irigasi pada wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur
dan Sulawesi bagian Selatan.
Beberapa Bandara strategis seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan
Semarang.

Untuk kawasan lindung pada RTRWN, maka arahan kebijakan dan kriteria pola
pengelolaan kawasan rawan bencana alam, suaka alam-margasatwa, pelestarian alam, dan
kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, dan sungai) perlu dirumuskan untuk
dapat mengantisipasi berbagai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi.

Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis diatas, diperlukan pula antisipasi dampak
kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pada tataran mikro,
maka pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan
dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang direkomendasikan oleh IPCC (1990)
sebagai berikut :

Relokasi ; alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat
kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan
lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan
untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.
Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko
dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan
agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak
terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi
keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
Proteksi ; alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure
seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan
yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach
nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu
dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi
sesuai dengan prinsip “working with nature”.
Sedangkan untuk kawasan lindung, prioritas penanganan perlu diberikan untuk sempadan
pantai, sempadan sungai, mangrove, terumbu karang, suaka alam margasatwa/cagar
alam/habitat flora-fauna, dan kawasan-kawasan yang sensitif secara ekologis atau
memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan alam atau kawasan yang bermasalah.
Untuk pulau-pulau kecil maka perlindungan perlu diberikan untuk pulau-pulau yang
memiliki fungsi khusus, seperti tempat transit fauna, habitat flora dan fauna
langka/dilindungi, kepentingan hankam, dan sebagainya.

Agar prinsip keterpaduan pengelolaan pembangunan kawasan pesisir benar-benar dapat


diwujudkan, maka pelestarian kawasan lindung pada bagian hulu – khususnya hutan tropis
– perlu pula mendapatkan perhatian. Hal ini penting agar laju pemanasan global dapat
dikurangi, sekaligus mengurangi peningkatan skala dampak pada kawasan pesisir yang
berada di kawasan hilir.

Kebutuhan Intervensi Kebijakan Penataan Ruang dalam rangka Mengantisipasi Dampak


Pemanasan Global terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dalam kerangka kebijakan penataan ruang, maka RTRWN merupakan salah satu
instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk dampak pemanasan global terhadap
kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Namun demikian, selain penyiapan RTRWN
ditempuh pula kebijakan untuk revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang yang
berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan pesisir
dan pulau-pulau kecil dengan tingkat kedalaman yang lebih rinci.

Intervensi kebijakan penataan ruang diatas pada dasarnya ditempuh untuk memenuhi
tujuan-tujuan berikut :

Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasan pesisir, termasuk kota-kota pantai


dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-
fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap
berlangsung.
Mengurangi kerentanan (vulnerability) dari kawasan pesisir dan para pemukimnya
(inhabitants) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam
(natural hazards) lainnya.
Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai sistem pendukung
kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai
melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated
coastal zone management).
Untuk mendukung tercapainya upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang,
maka diperlukan dukungan-dukungan, seperti : (a) penyiapan Pedoman dan Norma,
Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang penataan
ruang ke daerah – khususnya untuk penataan ruang dan pengelolaan sumber daya kawasan
pesisir/tepi air; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta
pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-
produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public awareness campaig, (d)
penyiapan dukungan sistem informasi dan database pengelolaan kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil yang memadai, serta (e) penyiapan peta-peta yang dapat digunakan
sebagai alat mewujudkan keterpaduan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-kecil
sekaligus menghindari terjadinya konflik lintas batas.
Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan kawasan pesisir secara efisien dan
efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat
otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan
kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan
wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning
process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan
accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh
stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara
kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga
tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan
keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda –
untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang
‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders.

BAB IV

PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan :

Mengenai pengertian Global warming (Pemanasan Global), bahwa Global warming adalah
peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi (terutama yang mengalami kenaikan suhu yang
menyebabkan perubahan iklim) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi
matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.
Penyebab terjadinya Global warming adalah penyebab efek rumah kaca terjadi yaitu
karena penggunaan kendaraan yang kurang bijaksana yang mengakibatkan polusi udara
semakin meningkat secara drastis, menimbulkan karbon dioksida yang berlebihan
sehingga cahaya matahari yang masuk ke bumi dan dipantulkan lagi tidak dapat
menembus atmosfer bumi karena terhalang oleh karbon dioksida yang ditimbulkan dari
polusi udara tersebut sehingga akan terasa lebih hangat.
Dampak dari pemanasan global antara lain adalah ketinggian gunung berkurang, pelelehan
besar-besaran yang terjadi di kutub-kutub, menggaggu kehidupan di bumi baik kehidupan
manusia maupun ekologi yang berada di bumi, timbul berbagai penyakit, terutama
penyakit kulit dan kelaparan serta malnutrisi karena musim panas yang berkepanjangan
akan mengakibatkan gagal panen pada sektor pertanian

B.Saran

Dari beberapa kesimpulan tersebut di atas, maka penulis memberikan saran yang
bermanfaat di kemudian hari sebagai berikut :

Perlu meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.


Perlu untuk membatasi emisi karbondioksida
Perlunya kita menanam banyak pohon untuk menjaga penghijauan lingkungan
Perlunya kita senantiasa untuk menggunakan bahan daur ulang

Perlunya kita menggunakan alat transportasi alternative untuk mengurangi emisi karbon

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Susanta,Gatut.dkk. 2007. Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global.


Internet :

www.livescience.com

Fakultas Geografi.UGM.Pemanasan Global.diakses pada 2 oktober 2007

SMAN 1 Garut.Global Warming diakses 22 Januari 2010

http://www.suprememastertv.com/

http://www.worldwatch.org/node/6294

http://vegclimatealliance.org/livestock-and-climate-change-qa

wordnetweb.princeton.edu

www.mdbc.gov.au