Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

TOPIK KHUSUS GEOTEKNIK


PENGUJIAN KUAT GESER TANAH, ANALISIS BAHAYA KEGEMPAAN, DAN
STABILITAS LERENG AKIBAT GEMPA

Oleh

Jhon David Butar-butar 21116035


Pebi Adyanto Turnip 21116087
Abiyyu ihza Wiyanda 21116128

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2020
PENGUJIAN KUAT GESER TANAH

PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Kekuatan Tanah (Soil Strength)
Di bawah ini adalah kekuatan pikul tanah berdasarkan jenis tanahnya
• Pasir yang disiram air sampai padat = 0,50 s/d 0,80 Kg/cm2
• Tanah lumpur berpasir 30 s/d 70% = 0,80 s/d 1,60 Kg/cm2
• Tanah kapur bercampur tanah liat = 1,00 s/d 1,50 Kg /cm2
• Tanah liat dengan dasar pasir/krikil = 1,00 s/d 2,00 Kg/cm2
• Pasir di tepi laut/sungai = 2,00 s/d 3,50 Kg/cm2
• Pasir berlapis tanah liat keras = 2,50 s/d 5,00 Kg/cm2
• Tanah liat berwarna kelabu dan berlapis tebal = 3,00 s/d 5,50 Kg/cm2
• Tanah dengan banyak krikil = 3,00 s/d 7,00 Kg/cm2
• Tanah liat padat campur pasir = 4,00 s/d 5,00 Kg/cm2
• Tanah liat berwarna kuning berlapis tebal = 4,50 s/d 6,50 Kg/cm2
• Tanah liat keras berwarna merah kekuningan = 5,50 s/d 8,00 Kg/cm2
• Pasir padat dengan ketebalan sampai ± 6m
• dan di bawahnya terdapat batu kerikil = 6,00 s/d 7,50 Kg/cm2
• Tanah padat biasa bercampur banyak kerikil = 7,00 s/d 10,0 Kg/cm2
• Tanah bercampur batu = 8,00 s/d 20,0 Kg/cm2

PEMBAHASAN
1. Perubahan Bentuk Tanah
            Kekuatan tanah dapat diberi pengertian sebagai besarnya tekanan pada saat
awal terjadinya keruntuhan (initial failure). Besarnya tekanan pada saat terjadinya
keruntuhan disebut kekuatan tanah (soil strength), yaitu Sfa, Sfb dan Sfc.
Newmark (1960) memberi batasan keruntuhan tanah sebagai keadaan pada tanah
pada saat tanah kehilangan ketahanan geser.
2. Kekuatan Geser
            Keruntuhan geser ditandai dengan terjadinya bidang keruntuhan geser
yang mempunyai arah searah dengan pok major dengan sudut ± 45º. Teori geser
maksimum (coulomb, 1976) menyatakan bahwa keruntuhan terjadi jika tekanan
geser yang diberikan mencapai harga kritis dari ketahanan geser tanah. Dan
berhubungan dengan tekanan normal dengan tekanan geser pada bidang
keruntuhan, dengan persamaan :

τf = f (σN) , dimana    f = tekanan geser (searah bidang) pada saat keruntuhan.


                                    N = tekanan normal.
                                    Ø = sudut gesekan ( internal friction angel), c = kohesi
Pada tanah berpasira (ikatan kohesi) : τf = σ N tan Ø
Untuk tanah yang mengandung liat : τf = c +σ N tan Ø
Ketahanan gesek (komponen fisik kekuatan geser) ditimbulkan adanya (1) gaya
saling menahan diantara dua benda yang digeser dan (2) dari rintangan karena
adanya saling-kunci mengunci antara partikel-partikel yang bergerak tersebut.
            Faktor yang mempengaruhi kuat geser tanah (pengaruh lapangan )
• Keadaan tanah : angka pori, ukuran dan bentuk butiran
• Jenis tanah : pasir, berpasir, lempung dsb
• Kadar air (terutama lempung)
• Jenis beban dan tingkatnya
• Kondisi Anisotropis
            Keruntuhan geser (Shear failure )tanah terjadi bukan disebabkan karena
hancurnya butir – butir tanah tersebut tetapi karena andanya gerak relative antara
butir – butir tanah tersebut. Pada peristiwa kelongsoran suatu lereng berarti telah
terjadi pergeseran dalam butir – butir tanah tersebut. Kekuatan geser yang dimiliki
suatu tanah disebabkan oleh :
• Pada tanah berbutir halus ( kohesif ) misalnya lempung kekuatan geser yang
dimiliki tanah disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir – butir
tanah ( c soil ).
• Pada tanah berbutir kasar (non kohesif ), kekuatan geser disebabkan karena
adanya gesekan antara butir – butir tanah sehingga sering disebut sudut gesek
dalam (φsoil )
• Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar ( c dan
φsoil ), kekuatan geser disebabkan karena adanya lekatan ( karena kohesi ) dan
gesekan antara butir – butir tanah ( karena φ)

3. Kekuatan Tarik (Tensile Strenght)


            Kekuatan tarik dapat diberi batasan sebagai nilai tekanan tarik pada saat
mulai terjadinya pemisahan. Kekuatan tarik biasanya dianggap pengukur kohesi.
Kekuatan tarik (σT) :         dimana FT = gaya tarik,

                                                    A = luas bidang keruntuhan


            Menurut Mitchel 1976, kohesi sebenarnya berasal dari : sementasi, gaya
tarik menarik elektrostatik dan elektromagnetik, ikatan valensi dan adesi. Kohesi
semu berasal dari gaya kapiler dan gaya mekanis. Kekuatan tarik tanah
dipengaruhi oleh kandungan dan jenis mineral liat, macam kation, kandungan
bahan organik,dan kandungan air tanah. Selain itu, kekuatan tarik menjadi rendah
dengan adanya retakan (Lambe dan Whitman, 1960 :teori Griffith), dengan
persamaan :
Untuk tekanan bidang (plane strain) 
Untuk regangan bidang          :
Dimana :          E = Modulus young
                        1 = panjang retakan
                        V = nisbah Poisson
                           = energi permukaan material
Kekuatan tarik ”T” dihitung dengan persamaan : ,   dimana A = d*L
Untuk kekuatan tarik agregat :
k = angka konstanta (Indonesia=0.576) , d = diameter agregat
4. Pemadatan Tanah
            Pemadatan tanah adalah proses naiknya kerapatan tanah dengan
memperkecil jarak antar partikel sehingga terjadi reduksi volume udara : tidak
terjadi perubahan volume air yang cukup berarti pada tanah tersebut.
            Tingkat pemadatan diukur dari berat volume kering yang dipadatkan. Bila
air ditambahkan pada suatu tanah yang sedang dipadatkan, air tersebut akan
berfungsi sebagai unsur pembasah atau pelumas pada partikel – partikel tanah.
Karena adanya air, partikel – partikel tersebut akan lebih mudah bergerak dan
bergeseran satu sama lain dan membentuk kedudukan yang lebih rapat/padat.
Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume kering dari tanah akan naik bila
kadar air dalam tanah (pada saat dipadatkan) meningkat. Kadar air yang
ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha pemadatan yang sama, maka berat
dari jumlah bahan padat dalam tanah persatuan volume juga akan meningkat
secara bertahap pula.
            Adanya penambahan kadar air justru cenderung menurunkan berat volume
kering dari tanah. Hal ini disebabkan karena air tersebut kemudian menempati
ruang – ruang pori dalam tanah yang sebetulnya dapat ditempati oleh partikel –
partikel padat dari tanah. Kadar air dimana berat volume kering maksimum tanah
dicapai disebut kadar air maksimum. Selain kadar air, faktor – faktor yang
mempengaruhi pemadatan adalah jenis tanah dan usaha pemadatan.
            Jenis tanah yang diwakili oleh distribusi ukuran butiran, bentuk butiran
tanah, berat spesifik bagian padat tanah. Selain itu jumlah serta jenis mineral
lempung yang ada pada tanah mempunyai pengaruh besar terhadap harga berat
volume kering maksimum dan kadar air optimum dari tanah tersebut. Pada kadar
air yang lebih rendah, adanya tegangan terik kapiler pada pori – pori tanah
mencegah kecenderungan partikel tanah untuk bergerak dengan bebas untuk
menjadi lebih padat. Kemudian tegangan kapiler tersebut akan berkurang dengan
bertambahnya kadar air sehingga partikel – partikel menjadi mudah bergerak dan
menjadi lebih padat.
            Bila usaha pemadatan persatuan volume tanah berubah. Kurva pemadatan
juga akan berubah. Tetapi harap dicatat bahwa tingkat kepadatan suatu tanah tidak
langsung sebanding (proporsional) dengan usaha pemadatannya.
            Pemadatan tanah dapat diberi batasan sebagai perubahanvolume karena
tanah diberi tekanan. Karena perubahan volume juga merupakan bentuk tetap,
maka dapat dianggap sebagai salah satu bentuk keruntuhan, dan tekanan yang
menyebabakan disebut kekuatan kompresi tanah (Gill dan Van den Berg, !967).
harris menunjukkan bahwa tingkat perubahan total bobot volume tanah jika diberi
tekanan kompresipada tanah berdebu lebih besar daripada tanah liat.
PENUTUP
Kesimpulan :
1.      Keruntuhan geser ditandai dengan terjadinya bidang keruntuhan geser yang
mempunyai arah searah dengan pok major dengan sudut ± 45º.
2.      Kekuatan tarik tanah dipengaruhi oleh kandungan dan jenis mineral liat,
macam kation, kandungan bahan organik,dan kandungan air tanah.
3.      Kekuatan tarik dapat diberi batasan sebagai nilai tekanan tarik pada saat
mulai terjadinya pemisahan. Kekuatan tarik biasanya dianggap pengukur
kohesi.
4.      Pemadatan tanah adalah proses naiknya kerapatan tanah dengan
memperkecil jarak antar partikel sehingga terjadi reduksi volume udara :
tidak terjadi perubahan volume air yang cukup berarti pada tanah tersebut.
5.      Kekuatan tanah dapat diberi pengertian sebagai besarnya tekanan pada saat
awal terjadinya keruntuhan (initial failure).
ANALISA BAHAYA KEGEMPAAN DAERAH CEKUNGAN BANDUNG

Abstrak
Cekungan Bandung yang terletak di tengah-tengah Jawa Barat mungkin tidak
akan terkena secara langsung bahaya gempa bumi akibat dari subduksi Lempeng
Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Namun adanya sesar-sesar di sebelah
Utara dan di sebelah Barat mempengaruhi tingkat bahaya kegempaan di daerah
Bandung. Sesar Cimandiri di sebelah Barat yang memanjang mulai dari
Pelabuhanratu hingga Cianjur telah diketahui tingkat aktifitasnya dengan adanya
gempagempa menengah yang bersumber di sesar tersebut. Sedangkan Sesar
Lembang yang memanjang dari Maribaya hingga Cimahi masih belum diketahui
tingkat aktifitasnya. Dalam studi ini dilakukan karakterisasi sumber-sumber
gempabumi melalui penentuan nilai b yang dapat menunjukkan tingkat frekuensi
kejadian gempabumi. Dari nilai b yang diperoleh, ternyata frekuensi kejadian
gempabumi yang dapat mempengaruhi daerah cekungan Bandung tergolong pada
kelompok frekuensi sedang.

Pendahuluan
Bandung sebagai daerah yang sangat padat memiliki tingkat resiko yang sangat
tinggi terhadap bahaya gempa bumi. Letaknya di bagian tengah Pulau Jawa
mungkin menjauhkan Kota Bandung dari bahaya langsung gempa bumi akibat
dari subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Namun adanya
dua sesar di sebelah Utara dan di sebelah Barat daerah ini meningkatkan tingkat
bahaya kegempaan di daerah Bandung. Sesar Cimandiri di sebelah Barat yang
memanjang mulai dari Pelabuhanratu hingga Cianjur telah diketahui tingkat
aktifitasnya dengan adanya gempa-gempa sedang yang bersumber di sesar
tersebut. Sedangkan Sesar Lembang yang memanjang dari Maribaya hingga
Cimahi masih belum diketahui dengan pastitingkat aktifitasnya. Dalam makalah
ini akan diterangkan analisa bahaya kegempaan cekungan bandung yang
sederhana dengan menghitung nilai b (b-value) yang dapat menggambarkan
frekuensi kejadian gempa.
Metodologi
Data gempa bumi dikumpulkan dari dari katalog USGS/NEIC (United States
Geological Survey /National Earthquake Information Center) dan katalog BMG
(Badan Meteorologi dan Geofisika). Data yang terkumpul meliputi semua gempa
tercatat di katalog-katalog tersebut sejak tahun 1973 hingga bulan Juni 2008.
Sebelum digunakan, data diolah terlebih dahulu untuk memperoleh data yang
representatif. Data yang dihilangkan dari daftar diantaranya adalah sebagai
berikut:
 Data yang memiliki nilai magnituda yang tidak mungkin (0 atau lebih dari
10) karena menunjukkan adanya kesalahan pencatatan,
 Data gempa dengan kedalaman sumber 33 km, karena kedalaman tersebut
digunakan sebagai kedalaman anggapan (default) untuk gempa yang diyakini
sebagai gempa dangkal namun kedalamannya yang pasti tidak dapat
ditentukan dengan baik,
 Gempa-gempa susulan atau aftershocks karena yang diperlukan haruslah data
gempa utama (mainshock). Data yang sudah di edit dan dapat digunakan
dalam analisa berjumlah 547 kejadian yang sebaran episenternya dapat dilihat
di gambar 1.

Gambar 1. Sebaran Episenter Gempa Bumi (titik merah) dalam radius 250 km
dari Bandung. (Skala warna di samping kanan menunjukkan
ketinggian/kedalaman topografi dalam meter)
Kemudian untuk kelompok data yang sudah di edit , dicari hubungan
statistik empiris antara jumlah kejadian gempa (N) dan magnitude gempa (m)
dengan menggunakan persamaan yang dirumuskan oleh Gutenberg-Richter
(Gutenberg-Richter, 1954) sebagai berikut:
log(N) = -b*m + a
dimana b dan a adalah konstanta dan N adalah jumlah gempabumi dengan
magnituda lebih besar dari m. Selanjutnya dibuat grafik log (N) vs m dan dengan
pendekatan regresi linier untuk memperoleh nilai b (b-value).

Hasil dan Analisa


Menggunakan data yang telah di edit seperti yang diuraikan di atas, diperoleh nilai
b untuk keseluruhan zona episenter adalah 0.89. Nilai ini menunjukkan tingkat
frekuensi gempa bumi yang tergolong sedang. Sumber-sumber gempa kemudian
dapat terbagi-bagi menjadi beberapa zona: zona penunjaman dangkal (gempa
dangkal di daerah sekitar palung), zona penunjaman mengah (gempa kedalaman
100 –200 km di bawah pulau Jawa), zona subduksi dalam (gempa dalam di Laut
Jawa), dan zona sesar (gempa dangkal di daratan Jawa Barat). Nilai b untuk
masing-masing zona dihitung dengan cara yang sama dengan yang telah diuraikan
di atas. Tabel 1 menunjukkan perbedaan karakter keempat zona tersebut.
Tabel 1. Zona episenter dan beberapa parameter kegempaan

Untuk zona penujaman dalam (gempa dengan kedalaman > 200 km),
jumlah kejadian gempa bumi merupakan yang paling rendah dibandingkan
dengan kejadian pada zona lain. Nilai b untuk zona ini adalah 0,28. Jika dirata-
ratakan, kejadian gempa kurang dari satu kali dalam satu tahun. Sementara untuk
zona penujaman menengah (gempa dengan kedalaman 30 s.d 200 km) yang
merupakan tempat 75% dari seluruh kejadian gempabumi, hasil perhitungan
menunjukkan nilai b sebesar 0,51. Pada umumnya gempa-gempa ini memiliki
magnituda antara 4,5 hingga 6. Terdapat 32 kejadian gempa dengan magnituda
lebih dari 6 dalam 35 tahun terakhir yang mungkin perlu diwaspadai. Namun
dengan kedalaman sumber gempa yang lebih dari 30 km, kemungkinan menjadi
gempa yang merusak cukup rendah. Selanjutnya untuk zona penjaman dangkal
(gempa dengan kedalaman < 30km), setengah dari kejadian gempanya berpusat di
sekitar palung (di selatan lepas pantai Jawa Barat) dan memiliki magnituda antara
4,5 – 5. Nilai b untuk sumber gempa di daerah ini adalah 0,19 yang menunjukkan
rendahnya frekuensi kejadian. Terakhir adalah zona sesar, dimana gempabumi-
gempabumi sangat mungkin dapat merusak daerah Bandung. Karena catatan
gempa yang ada tidak menunjukkan sesar yang spesifik, kemudian dipilih semua
gempa dangkal yang sumbernya ada di darat. (Gambar 2). Zona sesar ini memiliki
nilai b = 0.55 atau frekuensi sedang, yang sudah cukup menunjukkan perlunya
kewaspadaan akan datangnya bahaya kegempaan yang dapat merusak.

Gambar 2. Peta sebaran episenter gempa dangkal di daratan

Kesimpulan
Secara umum daerah cekungan Bandung memiliki frekuensi gempa yang
tergolong sedang yang ditunjukan oleh nilai b 0.89. Gempa-gempa yang
disebabkan oleh aktifitas sesar-sesar di sekitar cekungan Bandung memiliki
frekuensi kejadian lebih besar bila dibandingkan dengan sumber gempa lain, hal
ini ditunjukan dengan nilai b 0.55.

STABILITAS LERENG AKIBAT GEMPA


Pergerakan pada tanah biasanya terjadi karena adanya perubahan keseimbangan
daya dukung tanah dan akan berhenti setelah mencapai keseimbangan baru. Pada
umumnya, longsoran terjadi jika tanah sudah tidak mampu lagi menahan berat
lapisan tanah diatasnya karena terdapat penambahan beban pada permukaan
lereng dan berkurangnya daya ikat antara butiran tanah relief.
Gempa sangat berpengaruh terhadap kestabilan tanah. Apabila terjadi gempa
bumi, maka yang pertama akan merasakan getaran adalah tanah disekeliling pusat
gempa yang kemudian akan disebarkan kesegela penjuru. Selama getaran
menjalar dari pusat gempa sampai ke permukaan tanah maka faktor tanah sebagai
penghantar getaran memiliki peran yang sangat penting. Kondisi geologi dan
kondisi tanah tertentu akan menyebabkan respon tanah akibat beban dinamis.
1. Tekanan Tanah Akibat Beban Gempa

Gempa bumi dapat mengakibatkan gerakan dan keruntuhan lereng alam


maupun buatan. Kecuali itu, gempa bumi dapat adanya :
1. Liquefaction pada massa tanah (terutama pada tanah-tanah granular).
2. Perubahan tekanan air pori dan tegangan efektif dalam massa tanah.
3. Timbulnya retak-retak vertikal yang dapat mereduksi kuat geser tanah.

Gaya gempa arah lateral akibat tekanan tanah dihitung dengan menggunakan
pendekatan yang diusulkan oleh Mononobe-Okabe pada tanah non kohesif.
Pendekatan ini merupakan metode yang paling umum digunakan. Besarnya
tekanan tanah akibat pengaruh gempa ditentukan berdasarkan koefisien
gempa horizontal (Kh) dan faktor keutamaan (I).

2. Teori Analasis Stabilitas Lereng Tanpa Gempa

Maksud analisis stabilitas lereng adalah untuk menentukan faktor aman dari
bidang longsor. Faktor aman didefinisikan sebagai nilai banding antara
gayayang menahan dan gaya yang menggerakan atau,
τ
F =
τd
(1)
Dengan :
τ = tahanan geser maksimum yang dapat dikerahkan oleh tanah;
τd = tegangan geser yang terjadi akibat gaya berat tanah yang akan longsor;
F = faktor aman
Mohr – Coulomb, tahanan geser (τ ) yang dapat dikerahkan tanah sepanjang
bidang longsornya dinyatakan ;
τ = c + σ tan ϕ’

(2)

Dimana nilai c dan ϕ’ adalah parameter kuat geser tanah disepanjang bidang
longsornya. Persamaan geser yang terjadi akibat beban tanah dan beban lain
pada bidang longsornya;
τd = cd + σ tan φd

(3)

Dengan cd dan φd adalah kohesi dan sudut gesek dalam yang terjadi atau yang
dibutuhkan untuk keseimbangan pada bidang longsornya. Sehingga
persamaan menjadi :
c +σ tan φ
F =
c a +σ tan φ a
(4)
atau,
c tan φ
cd + σ tan φd = +σ
F F
(5)
dengan,
c
Fc =
cd
(6)
dan,
tan φ
F φc=
tan φ d

(7)

3. Teori Analasis Stabilitas Lereng dengan Gempa


Untuk menjelaskan metode ini perhatikan kemiringan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1 menjadi uji coba permukaan. Perhatikan bahwa
ABC adalah busur dari lingkaran dengan pusatnya dititik O tanah di atas
permukaan dibagi menjadi beberapa irisan. Panjang setiap irisan tidak perlu
sama untuk lapis ke-n pertimbangkan ketebalan satuan di sudut kanan untuk
penampang yang ditampilkan. Berat dan kekuatan inersia adalah masing-
masing Wn dan kh Wn. Pn dan Pn+1 adalah gaya normal yang bekerja pada sisi
potongan Tn dan Tn+1 namun gaya Pn dan Pn+1 , Tn dan Tn+1 sulit untuk
ditentukan. Jadi resisting gaya tangensial Tr dapat ditentukan sebagai
berikut :
1
τr = ¿ (8)
FS
1
τr = ¿ (9)
FS
Gambar 1. Metode Irisan Konvensional
Sekarang ambil momen O untuk semua irisan
p p
R
∑ (W n R sin αn ¿ + k h W n Ln )¿ =∑ ¿¿ (10)
n =1 n =1 Fs
Atau,
p
Fs = ∑ ¿¿ ¿ (11)
n =1

Dimana :
Kh = koefisien gaya gempa horizontal;
W = luas tiap irisan;
c = kohesi;
R = jari-jari longsor;
h = tinggi rata-rata irisan;
b = lebar irisan;
x = jarak horizontal dari pusat massa irisan terhadap pusat moment;
α = sudut kemiringan.

Faktor aman didefenisikan dengan memperhatikan tegangan geser rata-rata


sepanjang bidang longsor yang potensial dan kuat geser tanah rata-rata
sepanjang permukaan longsoran. Jadi kuat geser tanah mungkin terlampaui di
titik-titik tertentu pada bidang longsornya, padahal faktor aman hasil hitungan
lebih besar 1. Lereng dianggap stabil jika faktor amannya memenuhi syarat
yang ditentukan, yaitu:
F ≥ 1.5 tanpa gempa
F ≤ 1.2 ada gempa

4. Stabilitas Lereng

Metode yang paling umum digunakan dalam analisis kestabilan lereng


didasarkan pada metode keseimbangan batas. Pada metode ini akan diperoleh
faktor keamanan suatu lereng dengan cara membandingkan gaya
mempertahankan masa tanah agar tetap stabil dengan gaya yang
menggerakkan massa tanah sepanjang bidang longsor. Gaya/momen yang
mempertahankan massa tanah untuk tetap stabil diperoleh dari gaya
perlawanan geser tanah itu sendiri, dengan membandingkan kedua gaya
tersebut maka diperoleh faktor keamanan stabilitas lereng (Fs).
gaya yang menahan
Fs = (12)
gaya penggerak

Tabel 1. Hubungan Nilai Faktor Keamanan Lereng dengan Intensitas


Longsor

5. Metode Penelitian
IAIN Manado terletak di daerah ringroad manado, berada pada 1°28'3.55"N
124°53'1.29"E dalam penulisan tanah sampel A dan B berada pada lokasi
yang sama namun berbeda titik pengambilan. Di sekitaran lokasi
pengambilan sampel terdapat gedung perkuliahan yang baru saja dibangun.
Dan tepat di bawah lokasi pengambilan sampel terdapat pemukiman warga
daerah malendeng. Lereng dilokasi penelitian memiliki tinggi ± 25m lebar
±13 m dan kemiringan 50º.

Dalam melakukan analisa digunakan program Plaxis v8.2 dengan pemodelan


mohr-coloumb yang membutuhkan beberapa data seperti E, v, φ, c, γ sat, γunsat,
kx, y. Nilai Young modulus (E), Poison ratio (v), Permeabilitas (kx,y), dapat
diketahui dengan mengetahui jenis tanah, nilai φ, c dengan triaxial UU, γ unsat
dengan melakukan percobaan pemadatan tanah, γsat dengan rumus :
γ w +(Gs + e)
γsat = (13)
1+ e

Berikut percobaan yang harus di lakukan untuk mendapatkan nilai-nilai


tersebut :
a. Pemeriksaan Kadar Air
b. Pemeriksaan Berat Spesifik Tanah
c. Pemeriksaan Batas Cair Tanah
d. Pemeriksaan Batas Plastis dan Indeks Plastis
e. Pemeriksaan Distribusi Ukuran Butiran (Analisa Saringan)
f. Pengujian Konsolidasi
g. Pengujian Triaksial Pada kondisi ‘‘Unconsolidated Undrained“
h. Pengujian Pemadatan Tanah

6. Hasil dan Pembahasan

Tabel 2. Hasil Pengujian Laboratorium


a. Menghitung Analisis Stabilitas Lereng
Berikut ini beberapa data yang diperoleh dari hasil laboratorium dan
dibutuhkan oleh penginputan data untuk program PLAXIS :
 Tanah A
 γsat : 19.183 kN/m3
 γunsat : 15.2 kN/m3
 Kx,y : 10E+6 m/day
E : 5000 kN/m2
v : 0,3
c : 15.9 kN/m2
Ø : 6.7o

 Tanah B
 γsat : 16.421 kN/m3
 γunsat : 13.2 kN/m3
 Kx,y : 10E+4 m/day
E : 5000 kN/m2
v : 0,3
c : 4.11 kN/m2
Ø : 11.4o
Gambar 2. Hasil Perhitungan Plaxis untuk Kestabilan Lereng Tanpa

Gempa

Tabel 3. Frekuensi dan Faktor Keamanan Hasil Analisis dengan Plaxis


untuk
Analisis Gempa
Frekuensi
FS
(Hz)
1 1,024
2 1,001
3 1,026
4 1,021
5 0,976

Gambar 3. Grafik Hubungan antara Faktor Keamanan dan Frekuensi

Tabel 4. Hasil Perhitungan Manual (Menggunakan Ms. Excel)


7. Kesimpulan

a. Hasil perhitungan faktor keamanan lereng tanpa menggunakan gempa


adalah 1.053. Namun, ketika lereng diberi beban faktor keamanannya
menurun menjadi 0.994.
b. Angka aman bagi kestabilan lereng akibat gempa yaitu 1.026 dengan
menggunakan frekuensi gempa sebesar 3 Hz. Namun dengan hasil yang
seperti ini dapat dikatakan bahwa lereng tersebut lereeng kritis, ada
kemungkinan daerah penelitian pernah terjadi longsor.
c. Semakin besar frekuensi yang tesrjadi akibat gempa, semakin kecil nilai
faktor keamanan bagi lereng. Namun, pada saat menggunakan frekuensi 3
Hz hasilnya lebih besar dibandingkan menggunakan frekuensi 2 Hz dan 1
Hz.
d. Perhitungan menggunakan program komputer (Plaxis) dilakukan dengan
cara menggunakan nilai frekuensi dari gempa, sedangkan perhitungan
secara manual (Excel) menggunakan nilai koefisien gempa (kh). Dari
hasil kedua perhitungan ini didapat nilai faktor keamanan yang sama yaitu
ketika menggunakan frekuensi 3 Hz hasil faktor keamanannya sama
ketika menggunakan nilai kh sebesar 0.014 g yaitu : 1.03.