Anda di halaman 1dari 15

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) OLEH

GURU DI SEKOLAH PENERIMA UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION (USO)

Rica Yanuarti1 dan Rusman2


1Pustekkom - Kemendikbud dan 2Universitas Pendidikan Indonesia

e-mail: rica.yanuarti@kemdikbud.go.id

Abstrak
Di Indonesia terdapat 122 kabupaten yang termasuk kategori wilayah tertinggal,
terdepan, terluar (3T). Wilayah tersebut harus dipastikan mendapat akses pendidikan yang
setara dengan wilayah lainnya. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan
mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam program Universal
Service Obligation (USO) untuk pendidikan di wilayah 3T. Penelitian bertujuan untuk
menginvestigasi sejauh mana pemanfaatan TIK dan akses internet, oleh guru di sekolah
penerima USO. Metode yang digunakan adalah survei penyebaran angket kepada guru di
sekolah USO, ditambah studi dokumentasi. Data dihasilkan dari 141 orang guru responden
kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas
responden guru (82.9%) sudah menggunakan alat bantu mengajar berbasis TIK. Hasil dari
penelitian ini adalah perlunya fasilitasi dan sinergi secara sistemik agar pemanfaatan TIK di
sekolah USO semakin meluas. Rekomendasi untuk riset selanjutnya adalah disarankan
mengambil responden dan korelasi data yang lebih besar agar hasil penelitian dapat
digeneralisasi.

Kata Kunci: Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), akses internet, wilayah 3T,
Universal Service Obligation (USO)

UTILIZATION OF INFORMATION AND COMMUNICATION (ICT) BY


TEACHERS IN UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION (USO) SCHOOLS

Abstract
There are 122 regencies in Indonesia that belonging to the category of disadvantaged,
frontier, remoted (3T) regions. Those regions should be accessed to education equivalent to
other regions. One of the government's efforts is to integrate information and communication
technology (ICT) within education in 3T regions named Universal Service Obligation (USO)
programme. The study attempt to investigate the effectiveness of ICT and internet access
utilization, by teachers at USO schools. The method used was distributing questionnaires to
survey teachers in USO schools, supplemented by documentary studies. Data generated from
141 respondent and analyzed descriptively. The results show that the majority of the
respondent (82.9%) have used ICT-based teaching aids. The result of this research is the
need for systemic facilitation and synergy to widespread the ICT utilization in USO schools.
Recommendation for further research, it is advisable to take the more respondent and
correlate the bigger data so that the research result can be generalized.

Keywords: Information and Communication Technology (ICT), internet access, 3T


regions, Universal Service Obligation (USO)

PENDAHULUAN globalisasi yakni transformasi sistemik.


Abad 21 yang tengah berlangsung Definisi globalisasi menurut OECD (The
saat ini sangat erat dengan istilah Organization for Economic Cooperation
globalisasi. Beragam bidang kehidupan, and Development) adalah gambaran
termasuk pendidikan, terkena dampak peningkatan internasionalisasi pasar untuk

69
70

barang dan jasa, sarana produksi, sistem yang baik, diharapkan tercipta manusia
keuangan, persaingan, perusahaan, sebagai pelaku pembangunan yang berjiwa
teknologi, dan industri. Rizvi dkk (2005) pembaharu, yang dapat mengembangkan
menafsirkan globalisasi sebagai proses segala potensi diri dan mengambil peran
sosial dan fenomenologis yang diawali dalam pembangunan berbagai aspek
dari gerakan ekonomi berupa integrasi kehidupan (BPS, 2017).
pasar, kapitalisme modern yang lebih Tantangan dalam membangun
terbuka, trans-nasional, serta dipengaruhi pendidikan nasional adalah peningkatan
oleh pesatnya perkembangan teknologi. kualitas dan pemerataan pendidikan sesuai
Globalisasi menggambarkan kondisi dunia tujuan global Sustainable Development
yang saling terhubung dan ketergantungan Goals (SDG). Dikatakan sebagai
karena mengaburnya batas negara, serta tantangan karena Indonesia merupakan
proses pertukaran komoditas yang makin negara dengan jumlah penduduk sangat
cepat dan instan. banyak yang tersebar di 17.899 pulau, dan
Ciri-ciri globalisasi antara lain hanya 10 yang termasuk pulau besar
informasional, berjejaring, berbasis (Warsihna, 2013). Persebaran penduduk
pengetahuan, post-industrial, dan yang masih terpusat di wilayah tertentu,
berorientasi layanan. Selain terkait erat kondisi geografis beragam membuat
dengan ekonomi dan politik, globalisasi kualitas maupun kuantitas aspek
juga memiliki dampak budaya dan pendidikan di Indonesia belum merata.
pendidikan, karena kepentingan budaya Standar pendidikan nasional menyebutkan
melekat pada pendidikan (Wong ed., pentingnya kesetaraan dalam layanan,
2006). Pengaruh globalisasi dalam fasilitas, hingga akses untuk pendidikan di
pendidikan diawali dengan maraknya semua wilayah bagi seluruh warga.
upaya riset dan pengembangan untuk Sedangkan di Indonesia masih ada daerah
menghasilkan produk-produk yang yang sulit dijangkau karena terpencil,
memiliki nilai tambah, sarat akan muatan terdepan, dan terluar (3T) yang memiliki
ilmu pengetahuan mutakhir, sehingga hak untuk mendapat layanan pendidikan
unggul dan berpeluang untuk yang sama dengan wilayah lain. Salah satu
memenangkan pasar (BSNP, 2010). upaya pemerataan pendidikan di wilayah
Persaingan, gerakan ekonomi, dan 3T adalah dengan memanfaatkan teknologi
kesetaraan global turut mendorong informasi dan komunikasi (TIK) untuk
terjadinya reformasi pendidikan. Bentuk- pendidikan dan pembelajaran.
bentuk reformasi untuk peningkatan Fokus penelitian ini adalah
pendidikan adalah desentralisasi, pemanfaatan TIK di wilayah 3T yang
standarisasi, peningkatan manajemen dan dilaksanakan melalui program Kewajiban
sumber daya, kompetensi guru, hingga Pelayanan Universal atau Universal
pemanfaatan teknologi (Carnoy, 1999). Service Obligation (USO). Program USO
Untuk mencapai tatanan global, suatu bidang pendidikan diinisiasi sejak tahun
bangsa-negara perlu mempersiapkan diri 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan
dengan baik pada level lokal (nasional). Kebudayaan (Kemendikbud) bekerjasama
Hal ini dikenal dengan kerangka kerja etik dengan Kementerian Komunikasi dan
think globally act locally yang bersifat Informatika (Kemkominfo). Sinergitas dua
universal sekaligus berkelanjutan kementerian ini bertujuan untuk
(Hudson, 2010; Galli dkk, 2018). mewujudkan percepatan penyediaan akses
Di Indonesia, pembangunan nasional internet secara berkelanjutan dalam rangka
juga didasari oleh wawasan global. peningkatan kualitas pembelajaran di
Pendidikan memiliki peranan strategis sekolah, khususnya di daerah 3T. Serta
dalam pembangunan nasional dan upaya mewujudkan salah satu agenda
dijadikan sebagai investasi terbentuknya Nawacita yang dicanangkan presiden
SDM berkualitas. Melalui pendidikan Republik Indonesia. Dua dasar hukum

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


71

program USO bidang pendidikan adalah: pelaksanaannya, serta memperluas jang-


1) Nota Kesepahaman antara kauan peluang bagi masyarakat miskin
Kemendikbud dan Kemkominfo No.583/ atau terpencil (Tinio, 2003). Salah satu
M.KOMINFO/HK.03.02/8/2015 & No. kesulitan terbesar yang dialami masya-
06/VIII/NK/2015 tentang Pemanfaatan rakat miskin, dan orang lain yang tinggal
Teknologi Informasi dan Komunikasi di negara-negara tertinggal adalah rasa
untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan keterasingan. Internet berpeluang mengu-
dan Kebudayaan, dan 2) Perjanjian ranginya dan membuka akses terhadap
Kerjasama antara Sesjen Kemendikbud pengetahuan dengan cara yang luar biasa.
dengan Dirjen PPI Kemkominfo terkait TIK untuk pendidikan yang diman-
penyediaan akses internet dalam rangka faatkan optimal berpotensi meningkatkan
peningkatan kualitas pembelajaran di lima hal berikut: 1) expanding access, 2)
sekolah 3T melalui program Universal promoting efficiency, 3) improving the
Service Obligation (USO) atau kontribusi quality of learning, 4) enhancing the
Kewajiban Pelayanan Universal (KPU). quality of teaching, dan 5) improving
Pemerintah menyatakan ada 122 management system (Haddad & Draxler,
kabupaten yang masuk dalam kategori 2002; Tinio, 2003). Meski pada awalnya
wilayah 3T dalam Perpres No.131 Tahun internet tidak dikembangkan untuk tujuan
2015 tentang Penetapan Daerah Terting- pendidikan, namun kini internet menjadi
gal Tahun 2015-2019. Program USO salah satu sarana peningkatan akses
menyasar sekolah tingkat SD, SMP, SMA, pendidikan, penyebaran konten edukasi,
maupun SMK di wilayah 3T agar memiliki dan strategi peningkatan pendidikan
fasilitas TIK yang dapat dimanfaatkan lainnya (Bokova & Touré, 2013). Integrasi
untuk pendidikan, baik e-pembelajaran pemanfaatan TIK dan internet untuk
maupun e-administrasi. Layanan TIK yang pendidikan dan kurikulum bertujuan agar
dimaksud dalam program USO adalah value pendidikan menjadi lebih tepat
gelaran akses internet sekolah. Tidak sasaran, inovatif, dan transformatif
sesederhana memberikan bantuan akses (Shahmir dkk, 2010; Smaldino, 2011).
saja, program layanan TIK dalam USO Data Balitbang Kemkominfo 2017
bersifat sistemik meliputi regulasi dan (https://statistik.kominfo.go.id/site/data)
kebijakan; peren-canaan; sarana dan memaparkan bahwa mayoritas masyarakat
prasarana; penguatan SDM; dan evaluasi. Indonesia menggunakan internet untuk
Semua komponen sistem layanan harus membuka situs jejaring sosial (73.30%).
dipenuhi oleh dua instansi penyelenggara Kemudian penelitian mengenai Lanskap
USO dalam bentuk pelaksanaan kewajiban Digital di Indonesia Tahun 2017 oleh
berupa pendataan terpadu; penyiapan organisasi We Are Social (2017) menun-
fasilitas dasar (infrastruktur, komputer, jukkan bahwa dengan total populasi
dan jaringan); pelatihan TIK bagi guru dan mencapai 265.4 juta jiwa, Indonesia
tenaga kependidikan (tendik); pemberian merupakan pasar pengguna internet yang
dukungan teknis dan helpdesk; serta potensial. Jumlah pengguna ponsel se-
pengendalian, monitoring dan evaluasi. banyak 177.9 juta orang, sebanyak 132.7
Internet kini menjadi trend global. juta orang merupakan pengguna internet,
Namun akses internet dipilih sebagai 130 juta orang aktif menggunakan sosial
layanan pendidikan program USO karena media, dan 120 juta orang menggunakan
kebutuhan yang dapat difasilitasi internet ponsel dalam bersosial media.
memang semakin tinggi. Kehadiran Pemanfaatan internet untuk pendidi-
internet memudahkan perolehan dan kan merupakan salah satu bentuk
penyerapan pengetahuan, menawarkan implementasi revolusi industri keempat
kesempatan kepada negara berkembang yang cirinya antara lain teknologi digital
untuk meningkatkan sistem pendidikan, dan interkoneksi keilmuan (Nordin &
memperbaiki perumusan kebijakan dan Norman, 2017). UNESCO (2016) me-

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru


72

nyatakan bahwa teknologi revolusi industri penelitian untuk memperoleh gambaran


keempat harus dimanfaatkan dengan pemanfaatan TIK oleh guru di sekolah USO
prinsip pemerataan, kesetaraan, inklusi, dan tidak hanya menarik tapi juga penting untuk
membangun ketahanan atas dasar nilai dilakukan.
bersama dan etika. Hal ini sangat relevan
dengan program USO di sekolah 3T yang METODE
mengupayakan keadilan layanan sekaligus Metode yang digunakan dalam pene-
memperkuat ketahanan nasional melalui litian adalah survei tipe cross-sectional,
pendidikan di daerah garis depan. karena penyebaran instrumen untuk guru di
Apakah pemanfaatan TIK dan sekolah USO dilaksanakan dalam satu
internet untuk pendidikan di wilayah 3T waktu pengambilan data (Creswell, 2014;
sudah terlaksana dengan baik? Penelitian Ali, 2014). Pengumpulan data dengan
ini berupaya mengkaji sejauh mana TIK instrumen berupa angket dilakukan selama
dimanfaatkan oleh guru di sekolah Maret 2018 sesuai jadwal Monitoring dan
penerima USO. Ranah utilization sesuai Evaluasi periode pertama yang dilakukan
dengan Domain of the Fields dalam salah satu instansi penyelenggara USO
Teknologi Pembelajaran (Seels & Richey, (Pustekkom Kemendikbud). Responden
1994) dijadikan acuan mengkaji peman- dalam penelitian ini adalah 141 orang guru
faatan. Menurut Seels and Richey, yang tersusun atas:
“utilization is the act of using processes
and resources for learning; utilization Tabel 1. Sebaran Responden
concentrates on the learner; the interface Guru Tingkat
No Jumlah
between the learner and instructional Sekolah
materials and systems. Ranah pemanfaatan 1 Guru SD 17 orang
paling banyak berhubungan langsung 2 Guru SMP 32 orang
dengan pengguna, kebijakan, aturan, dan 3 Guru SMA 62 orang
standar yang berlaku. 4 Guru SMK 30 orang
Peneliti memilih guru sebagai objek
kajian dalam pemanfaatan TIK. Karena Penetapan sampel penelitian dila-
walau paradigma pembelajaran kini kukan dengan menggunakan teknik pe-
berpusat pada peserta didik dan berubah nyampelan seadanya (Sudjana, 2013).
menjadi proses transformasional, namun Jumlah 141 orang responden berasal dari
peran guru tetaplah vital (McBeath, 1994). empat tingkatan sekolah diasumsikan
Guru adalah bagian dari penye-lenggara mewakili populasi guru di sekolah
pendidikan, partisipan pengem-bangan penerima USO. Semua guru di sekolah
kurikulum, sekaligus implemen-tator penerima USO dianggap memiliki kriteria
utama kurikulum (Ornstein & Hunkins, sama, peneliti hanya menunggu berapa pun
2013; Theodorou, Philippou & jumlah angket yang kembali dalam jangka
Kontovourki, 2017). Salah satu kualitas waktu yang telah ditentukan. Indikator yang
guru ditunjukkan dengan penguasaan ditanyakan dalam angket meliputi: 1)
empat kompetensi sesuai Undang-Undang penggunaan alat bantu mengajar berbasis
No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan TIK, 2) pemanfaatan media sosial, 3)
Dosen. Kemampuan memanfaatkan TIK pengembangan konten pembelajaran ber-
untuk pembelajaran melekat pada kompe- basis TIK, 4) kompetensi TIK yang
tensi pedagogik, profesional, sosial, dan dimiliki, 5) akses web dan internet. Data
kepribadian guru. Keterbatasan dan tan- angket kemudian diolah dan disajikan
tangan dalam mengajar di wilayah 3T tentu dalam bentuk persentase dan grafik.
membuat tugas guru semakin berat. Selanjutnya data dianalisis secara deskrip-
Mengingat betapa potensialnya TIK untuk tif, yaitu dengan mendeskripsikan hasil
pendidikan, dan krusialnya kemampuan yang diperoleh kemudian memaknainya
guru dalam mendayagunakan TIK, maka (Creswell, 2015).

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


73

Untuk memperkuat penelitian survei, Dari isian angket 141 responden dan
dilakukan studi dokumentasi yang studi terhadap beberapa dokumen terkait,
merupakan salah satu metode dalam diperoleh hasil penelitian Pemanfaatan TIK
pendekatan penelitian kualitatif (Creswell, oleh Guru di Sekolah Penerima USO
2014; Ali, 2014). Jenis dokumen yang sebagai berikut:
dijadikan sumber data adalah: 1) catatan
lapangan dari lokasi sekolah USO yang 1. Redesign Program USO
divisitasi oleh petugas Monitoring dan Untuk meningkatkan pemanfaatan
Evaluasi dari Pustekkom Kemdikbud pada dan efektifitas bantuan layanan USO
Maret 2018, dan 2) desain penyelenggaraan berupa BTS, akses internet, dan Desa
program USO. Konten dalam dokumen Broadband, pada tahun 2017,
yang ada kemudian dianalisis dan penanggungjawab USO merumuskan
dideskripsikan maknanya (Bungin, 2005). skema baru rancangan dengan merevisi
beberapa aspek dari rancangan lama tahun
HASIL DAN PEMBAHASAN 2015, yaitu:
Hasil
Tabel 2. Perubahan Desain Program USO

No USO Sebelumnya Redesign USO


1 Koordinasi lemah, utilisasi rendah Menggunakan prinsip bottom up,
komprehensif, piloting, sinergi
2 Hanya infrastruktur Dilengkapi ekosistem dan
pemberdayaan masyarakat
3 Kontrak rigid Kontrak sederhana melalui e-katalog
4 Check and balance kurang akuntabel Check and balance lebih akuntabel
5 Penyelesaian masalah kontrak existing Redesign USO dilaksanakan dengan
diselesaikan task force struktur baru

2. Implementasi Program USO SMA, dan SMK yang tersebar di berbagai


Sejak digagas pada tahun 2015, kabupaten kategori 3T di 33 propinsi
jumlah sekolah yang memperoleh program seluruh Indonesia (kecuali propinsi DKI
akses internet USO terus bertambah. Jakarta). Jumlah dalam grafik tersebut
Berikut grafik jumlah sekolah penerima dan bersifat akumulatif setiap tahunnya.
pengusul USO:
3. Bantuan Akses Internet Sekolah
JUMLAH SEKOLAH
Besaran bandwidth yang diberikan
PENERIMA USO kepada masing-masing sekolah USO
bervariasi antara 512 Kbps, 1024 Kbps, dan
1000
843
687
2048 Kbps. Bandwidth ini bersifat dinamis,
605
398 397 yakni besaran bandwidth bisa dinaikkan
500
0
atau diturunkan sesuai dengan frekuensi
0 pemakaian. Monitoring jaringan dilakukan
2015 2016 2017 dengan menggunakan Network Monitoring
Usulan Implementasi System (NMS) terhadap titik akses sekolah.
Jika dalam 3 bulan uptime dan akses
Gambar 1. Implementasi Program Akses pemanfaatan sangat rendah, maka besaran
Internet di Sekolah USO bandwidth akan diturunkan. Besaran
bandwidth secara default adalah 2048
Jumlah 687 sekolah yang dilayani Kbps. Berikut hasil evaluasi kapasitas
program USO terdiri dari tingkat SD, SMP, bandwidth sesuai kontrak:

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru


74

EVALUASI BANDWIDTH
Belum USO 2017 4. Hasil Survei Pemanfaatan TIK
Baru
implement optimal Rekapitulasi data hasil angket yang
12.9% (89
asi 4.3%
sekolah) diperoleh dari 141 responden guru dalam
(29
sekolah) memanfaatkan TIK dan internet di sekolah
Baru implementasi
4.3% (29 sekolah) penerima USO adalah sebagai berikut:
Belum optimal 12.9% Alat Bantu Mengajar Berbasis TIK
(89 sekolah) Sebanyak 117 responden (82.9%)
Sudah Sudah sesuai 82.8% menjawab sudah menggunakan alat bantu
sesuai (569 sekolah) mengajar berbasis TIK, sedangkan sisanya
82.8% (569
sekolah) 24 responden (17.1%) menjawab belum
Gambar 2. Evaluasi Kesesuaian Kontrak menggunakan. Selanjutnya jenis alat bantu
Bandwidth untuk Sekolah USO mengajar berbasis TIK dari 117 responden
tersusun atas 3 kategori yaitu:
Ada tiga jenis media untuk akses - 104 responden (88.9%) menggunakan
internet di sekolah USO, yakni VSAT jenis offline seperti ekspositori ditambah
(Parabola), Serat Optik (Fiber Optic/FO), dengan media audio, film, e-book
dan Nirkabel (Wireless). Untuk - 8 responden (6.8%) menggunakan jenis
pembangunan nasional dengan prioritas hybrid seperti penggunaan media sosial
dari wilayah perbatasan atau pinggiran, atau surel untuk pembelajaran
mayoritas sekolah USO menggunakan - 5 responden (4.3%) menggunakan jenis
media VSAT. Karena kondisi wilayah 3T online seperti penggunaan learning
memang belum banyak terhubung dengan management system.
jalur FO atau sinyal 3G/4G. Berikut ini
grafiknya: Media Komunikasi yang Digunakan
Komunikasi antara guru dengan
peserta didik merupakan hakikat
JUMLAH SEKOLAH USO
BERDASARKAN JENIS MEDIA pembelajaran. Gambaran pemanfaatan
AKSES media komunikasi berbasis TIK oleh
Jenis Media 652 23 12 responden guru di sekolah penerima USO
adalah:
620 640 660 680 700
VSAT FO Nirkabel

Gambar 3. Jumlah Sekolah dan Jenis Media

Tabel 3. Jenis Media Komunikasi Guru

Blog Pos-el Facebook Lainnya


44 reponden (31.2%)
menjawab beragam
59 responden 71 responden
15 responden media lain, mayoritas
memiliki memiliki
memiliki Whatsapp, lalu ada Kelas
Pos-el Facebook
Blog (10.6%) Maya, kelase.net,
(41.8%) (50.4%)
Edmodo, sosial media
dan SMS

Jenis Konten Pembelajaran yang Dibuat sendiri media atau bahan ajar sesuai
Guru yang profesional dan kompeten kebutuhannya, termasuk yang berbasis
secara pedagogik tentu mampu TIK. Berikut rekapitulasi jumlah konten
memanfaatkan beragam media pembelajaran yang dimiliki responden,
pembelajaran, bahkan mengembangkan berdasarkan jenis kontennya

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


Tabel 4. Konten Pembelajaran yang Dimiliki Guru

Teks (PPT, Animasi Simulasi


Video
buku, Multi- Multi-
Pemb.
modul) media media
Tidak memiliki 35 orang 72 orang 72 orang 46 orang
Memiliki 106 orang 69 orang 69 orang 95 orang
Jumlah konten 724 konten 325 konten 234 konten 546 konten
Rata-rata konten 6.8 konten 4.7 konten 3.4 konten 5.7 konten

Data pada Tabel 4 hanya merekap - Jaringan komputer dasar: memiliki


jumlah konten yang dimiliki guru. Angket kemampuan instalasi LAN/WLAN dan
tidak menanyakan konten yang dimiliki/ konsep jaringan
digunakan merupakan bahan ajar yang - Troubleshooting komputer: menguasai
dikembangkan sendiri, atau memanfaatkan cara mengatasi masalah sistem operasi,
konten pada bahan ajar yang sudah tersedia aplikasi komputer, dan perangkat keras
tanpa mengembangkan sendiri. Dari jenis - Desain grafis: memiliki kemampuan
konten yang ditanyakan, terlihat bahwa teks, mengembangkan bahan ajar dengan
animasi, simulasi, dan video pembelajaran menggunakan aplikasi grafis seperti
termasuk ke dalam jenis media pembe- Coreldraw, Macromedia Flash, dan lain-
lajaran by design. lain.
- Pemrograman komputer: menguasai
Kompetensi TIK Guru Sekolah USO bahasa pemrograman komputer misalnya
Kompetensi TIK perlu dimiliki oleh PHP, Java, Foxfro, Visual Basic, dan lain-
guru karena dapat memberi dampak positif lain.
bagi guru sendiri, untuk meningkatkan core
business pendidikan maupun bagi support- Akses Portal/Web oleh Guru
ing system. Berikut ini jawaban 141 Dengan adanya akses internet dari
responden mengenai kompetensi TIK yang program USO untuk sekolah, maka
dimiliki sebagai guru: kesempatan bagi guru makin terbuka untuk
mengakses beragam situs pendidikan dan
Kompetensi TIK Guru pembelajaran. Hasil angket 141 responden
150
135
mengenai situs portal/web pendidikan yang
123 114
100 96 111 paling sering diakses dari sekolah USO
50 45 adalah 56 responden (39.7%) tidak mengisi
18 27 30
0 6 jawaban. Sedangkan 85 responden (60.3%)
menjawab sering membuka situs web/portal
berikut:

Competent Not-competent

Gambar 4. Kompetensi TIK Guru di


Sekolah USO

Kriteria masing-masing kompetensi


TIK pada Gambar 4 sesuai yang ditanyakan
dalam angket adalah sebagai berikut:
- Administrasi perkantoran: menguasai
penggunaan aplikasi pengolah kata,
spreadsheet, dan media presentasi

75
76

Tabel 5. Situs Web/Portal yang Sering 2015, yang artinya memasuki tahun
Diakses Guru keempat di tahun 2018 ini. Pendaya-
Responden gunaan TIK dalam program USO diarah-
Situs Web/Portal Pendidikan yang kan untuk mendukung pencapaian
Mengakses
pendidikan berkualitas dan berkelanjutan,
Rumah Belajar 29
Google 14 menghadapi persaingan global dan
Buku Sekolah Elektronik 12 cepatnya arus informasi. Integrasi TIK
Youtube 10 (termasuk internet) dalam pendidikan
Materi ajar 7 dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu:
Blog Guru 5 TIK sebagai alat untuk membantu proses,
Yahoo 4 sebagai konten untuk dipelajari, dan
Ilmukomputer, Wikipedia, Email, 3
Facebook (masing-masing dijawab sebagai bagian dari sistem pembelajaran
oleh 3 responden) (Somekh, 2007; Sutherland, Robertson, &
KBBI Daring, Ruang Guru, SIM 2 John, 2009; Shahmir dkk, 2010). Kemu-
PKB Guru, Dapodik (masing- dian Pelgrum (2001) menyebutkan perlu-
masing dijawab oleh 2 responden) nya peran pemerintah dalam integrasi TIK
TV Edukasi, BOS Online, DJP 1
untuk pendidikan. Penelitian lain (Hearne,
Online, Brainly.co.id, Gramedia
(masing-masing dijawab oleh 1 2002; Tondeur, Braak, & Valcke, 2007;
responden) McGarr, 2009) memperkuat dengan per-
nyataan bahwa diperlukan peran pemerin-
Data jawaban responden pada Tabel 5 tah dalam menentukan kerangka kerja
tidak menyebutkan persentase karena dari 85 TIK, sehingga pelaksana kurikulum di
responden yang menjawab, banyak di sekolah tidak mengalami kebingungan
antaranya yang mengisi lebih dari satu situs untuk mengintegrasikan TIK.
web/portal. Angket juga menanyakan Untuk mengkaji pemanfaatan akses
beberapa situs pembelajaran resmi milik internet oleh guru di sekolah USO, peneliti
Kemendikbud (domain kemdikbud.go.id) tidak hanya mensurvei respon dari pihak
yang diketahui oleh guru di sekolah USO. guru sebagai pengguna. TIK yang ada
Hasil angket 141 responden adalah sebagai dalam sistem pendidikan akan berdampak
berikut: sistemik pula. Sehingga kajian
pemanfaatan pun ditinjau dari sudut
Akses Situs Pembelajaran Milik
pandang sistemik. Teori yang digunakan
Kemendikbud adalah sistem ranah dalam Instructional
Technology yang dikenal dengan Domain
150
35 32 63
of the Fields oleh Seels & Richey (1994),
100 77 97 107 terdiri atas ranah Desain, Pengembangan,
112
50 106 109 78 Utilisasi, Pengelolaan, dan Evaluasi. Seels
64 44 34
29
0 & Richey menyebutkan bahwa semua
ranah dan subkategorinya harus saling
berkaitan, melengkapi, dan sinergis agar
keseluruhan sistem berlangsung dengan
baik. Lebih spesifik lagi, teori fokus pada
Menggunakan Tidak menggunakan subkategori ranah utilisasi, yaitu 1)
pemanfaatan media, 2) difusi inovasi, 3)
Gambar 5. Akses Situs Pembelajaran oleh implementasi dan institusionalisasi, serta
Guru di Sekolah USO 4) kebijakan dan regulasi.
Penelitian juga mengacu teori model
Pembahasan ADDIE yang merupakan akronim dari
Program bantuan layanan TIK untuk setiap fase yang menyusun pengem-
sekolah di wilayah 3T dalam bentuk akses bangan sebuah sistem, yaitu Analysis,
internet USO sudah berlangsung sejak Design, Development, Implementation,

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


77

dan Evaluation. Model ini tidak asing definisi TIK menurut The Teacher Training
dalam Instructional Design maupun Agency (TTA) yaitu beragam teknologi
Instructional Technology (Molenda, yang dapat digunakan untuk
2003). Model ADDIE dijadikan acuan mengkomunikasikan informasi, meliputi
sistemik untuk meneliti integrasi TIK komputer, internet, CD-ROM dan software
dalam pendidikan di sekolah USO. Dalam lainnya, televisi, radio, kamera, dan
model ADDIE disebutkan bahwa semua sebagainya. Pemanfaatan TIK dalam artikel
fase harus saling terkait dan berpengaruh. ini fokus pada penggunaan akses internet
Pemanfaatan TIK termasuk ke dalam fase oleh guru di sekolah penerima program
implementasi. Maka dengan mengacu pada USO. Sasaran USO adalah memberikan
ranah utilisasi dan model ADDIE, serta layanan TIK untuk pendidi-kan di wilayah
berdasarkan data-data yang diper-oleh dari 3T yang menjadi prioritas pembangunan
beberapa sumber, kajian pemanfaatan TIK sekaligus memperkuat keta-hanan nasional
oleh guru di sekolah penerima USO dapat dari daerah pinggiran.
dianalisis dan dideskripsikan ke dalam ke Sesuai dengan kaidah sistemik,
beberapa sub bahasan. Aspek-aspek yang sebelum implementasi program dilakukan
berpengaruh pada proses pemanfaatan TIK dan dimanfaatkan, tentu harus melalui
(khususnya akses internet) oleh guru juga tahap analisis. Berdasarkan kajian doku-
dikaji dan dideskripsikan. men program yang telah berjalan, diketahui
bahwa tidak dapat disangkal jika program
Perencanaan Program USO USO untuk pendidikan mem-butuhkan
Gagasan besar program USO adalah anggaran biaya yang amat besar. Selain
kewajiban pemberian layanan bidang skema pembiayaan, perencanaan program
telekomunikasi dan informatika bagi yang perlu dipersiapkan agar program
publik yang tujuan utamanya untuk gelaran akses internet dapat berjalan dan
mengurangi kesenjangan digital di daerah bermanfaat, berikut ini analisis hingga
khususnya pedesaan, tertinggal, dan perancangan sistem yang dilakukan oleh
terluar, yang secara ekonomi sulit penyelenggara program:
dilakukan oleh penyelenggara telekomu- 1) Analisis kebutuhan pendidikan di
nikasi komersial. Program layanan USO lapangan yang dapat difasilitasi oleh
yang telah berlangsung diawali dengan adanya internet
layanan dasar (voice) hingga layanan data 2) Mempersiapkan infrastruktur dasar dan
(internet). Layanan USO bergerak dengan pendukung yang tepat untuk
menggandeng berbagai bidang seperti karakteristik wilayah 3T
perdagangan hingga pendidikan. Sesuai 3) Rancangan besar dan sistemik
dengan bidang layanan program USO termasuk Prosedur Operasional Sistem
yakni telekomunikasi dan informatika (POS) untuk beragam standar layanan
serta perkembangan teknologi yang tengah TIK untuk program USO untuk
memasuki revolusi industri keempat, maka pendidikan di wilayah 3T
merupakan hal yang lumrah bila terjadi 4) Desain pemanfaatan yang tepat berisi
fusi antara kedua hal tersebut. TIK adalah layanan-layanan pendidikan yang
solusi yang dipilih. dapat ditingkatkan melalui peman-
Pemanfaatan teknologi dalam faatan internet di sekolah USO.
proses pengelolaan informasi dan proses Pemanfaatan internet di sekolah harus
komunikasi menghasilkan fusi yang disebut mencakup bidang core business
dengan TIK. Pengertian TIK menurut Tinio (misalnya e-pembelajaran) maupun
(2003) adalah diverse set of technological supporting system pendidikan (misal-
tools and resources used to communicate, nya e-administrasi).
and to create, disseminate, store, and 5) Penguatan SDM pendidikan di wilayah
manage information. Kemudian, Haydn 3T terkait pengelolaan dan
(2004) dalam penelitiannya mengutip pemanfaatan yang benar serta efektif.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru


78

Penguatan SDM meliputi lingkup di wilayah dengan karaketeristik


manajemen, teknis, pembelajaran, khusus tersebut
hingga masyarakat dan komunitas. 4) Menentukan batasan waktu capaian
6) Pengelolaan (perencanaan pengor- target yang justru menjadi pemacu
ganisasian, koordinasi, dan supervisi) untuk meraih keberlanjutan program
keseluruhan sistem mencakup SDM (sustainability).
dan sumber daya lainnya, sistem
penyampaian, dan pengelolaan infor- Jadi, sinergitas antara kebijakan dari
masi. pusat dengan implementasi program USO
7) Evaluasi dan keberlanjutan (sustain- di daerah harus diakomodir dengan strategi
ability) program USO. dan perencanaan yang terkoordinasi
dengan baik. Dengan mencermati Tabel 2
Kebijakan Program diketahui bahwa kebijakan program USO
Untuk mendukung keberlang- mengalami revisi. Bila sebelumnya top
sungannya, sebuah program harus didu- down sangat dominan, maka selanjutnya
kung kebijakan dan regulasi yang tepat. sifat bottom up lebih diutamakan. Hal ini
Demikian pula dengan program USO ditengarai dari hasil monitoring dan
sebagai layanan TIK pendidikan. evaluasi tahun sebelumnya bahwa
Kebijakan penyelenggaraan dan penguat- pemanfaatan internet di sejumlah sekolah
an akses internet untuk sekolah di wilayah masih rendah. Maka untuk meningkatkan
3T berawal dari gagasan pemerintah. efektifitas peman-faatan, prioritas program
Artinya kebijakan bersifat top down. bergeser pada sekolah yang mengusulkan,
Kebijakan program USO bukan hanya karena lebih berdasarkan pada kebutuhan
kebijakan teknis mengenai infrastruktur lokal dan masyarakat. Upaya peningkatan
seperti pengadaan, namun juga melibatkan layanan program USO supaya lebih
kebijakan pendidikan. bermanfaat dilakukan secara komprehensif
Sifat kebijakan pendidikan harus melibat-kan ekosistem sekolah, misalnya
mempertimbangkan dan mencerminkan pember-dayaan komunitas lokal untuk
konteks geografis, demografi, ekonomi, mengisi konten pembelajaran berbasis
sosial, budaya, dan politik suatu negara TIK. Tidak hanya mengagendakan gelaran
(UNESCO, 2013). Konteks kebijakan infra-struktur TIK, program USO juga
pendidikan untuk wilayah 3T harus mengarah pada piloting, memberikan
mewakili segala macam kekhasan dan dukukan pada sekolah dan daerah yang
tantangan yang ada di wilayah tersebut. siap memanfaatkan TIK. Serta mening-
Kebijakan top down program USO katkan proses pengawasan untuk menjaga
menjadi titik awal pengembangan kesinambungan program bagi stake
pendidikan dengan memanfaatkan TIK holders, sejak tahap perencanaan, pelak-
yang harus ditindaklanjuti dengan sanaan, hingga evaluasi.
penentuan strategi yang tepat, kemudian
disusul dengan perumusan rencana Proses Implementasi
integrasi TIK dengan pendidikan melalui Apabila tahap analisis, perencanaan,
USO yang lebih spesifik, misalnya: dan perancangan telah disusun dan
1) Menyusun raod map integrasi didukung dengan kebijakan yang sesuai,
pemanfaatan internet untuk pembela- maka idealnya tahap implementasi dan
jaran dan administrasi pendidikan di pemanfaatan, akan berlangsung dengan
wilayah 3T baik. Untuk program USO yang telah
2) Menetapkan target dan output spesifik diimplementasikan hingga saat ini
3) Mengidentifikasi sumber daya yang diketahui perbaikan layanan terus
dibutuhkan serta pengelolaan yang dilakukan. Sesuai dengan aspek dalam
tepat agar selalu melayani kebutuhan ranah utilisasi, kebijakan dan regulasi

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


79

mempengaruhi pelaksanaan program Fase implementasi model ADDIE


layanan USO. yang diterapkan dalam pendidikan dan
Sebagaimana diketahui dari Gambar pembelajaran fokus pada isu sistem
1 sebenarnya kebijakan implementasi penyampaian (delivery system) yang akan
program USO sudah memiliki semangat mempengaruhi proses maupun hasil. Pada
bottom up, dengan menampung usulan dari pelaksanaan program layanan USO, sistem
pihak dinas pendidikan daerah mengenai penyampaian dapat diasosiasikan dengan
sekolah di wilayah 3T yang layak jenis media atau teknologi yang dipilih.
menerima bantuan program USO. Sebagaimana yang ditampilkan pada
Meskipun pada prakteknya kebijakan top Gambar 3 yakni sekolah penerima USO
down lebih mendominasi pelaksanaan dibedakan atas akses VSAT, FO, dan
program USO. Penentuan sekolah yang Nirkabel. Perbedaan dan kekhasan kondisi
memperoleh bantuan TIK berupa akses wilayah 3T menyebabkan tiga jenis
internet lebih dominan bersifat keputusan teknologi tersebut dipilih dalam
pusat. Perubahan formulasi kebijakan pada memberikan layanan akses internet. Selain
tahun 2017 kini mengutamakan usulan terkait dengan alat, sistem penyampaian
bottom up supaya kebermanfaatan akses pun dapat berupa program. Untuk
internet lebih tepat sasaran dan sesuai pelaksanaan program USO di sekolah,
kebutuhan di lapangan. Perubahan supaya pemanfaatan TIK di sekolah
kebijakan menunjukkan bahwa: meskipun tercapai sesuai tujuan, maka diperlukan
kebijakan bersifat terpusat, namun karena program yang sesuai dan sistemik.
yang melaksanakan adalah level daerah, Pelibatan berbagai komponen sekolah
maka kebijakan harus fleksibel untuk berguna untuk mendukung dan
mengakomodir kebutuhan implementator mengoptimalkan pemanfaatan TIK di
dan stakeholders. Kebijakan pendidikan, sekolah. Meskipun guru adalah imple-
in a particular stance, aiming to explore mentator utama kurikulum sekaligus motor
solutions to an issue (UNESCO, 2013). penggerak pembelajaran, SDM lain di
Contoh lain adalah penerapan kebijakan sekolah akan saling terkait dalam
untuk besaran bandwidth yang pada memberikan layanan pembelajaran ke-
akhirnya diberikan secara dinamis. Hal ini pada peserta didik. Sesuai dengan aturan
bertujuan untuk memotivasi penggunaan pemerintah, TIK tidak lagi berdiri sebagai
internet yang lebih optimal untuk mata pelajaran tersendiri bukan karena
pendidikan. dianggap tidak penting melainkan dapat
Di dalam tahap utilisasi ada pula dipelajari atau diaplikasikan dalam bentuk
faktor pemanfaatan jenis media ataupun aktivitas belajar lain. Kompetensi TIK
teknologi yang sifatnya meningkatkan dapat dikuasai dengan beragam cara.
fungsi dan proses. Seels & Richey (1994) Literasi TIK di sekolah bukan hanya
menyebutkan difusi dan inovasi sebagai tanggung jawab guru. Manajemen sekolah
salah satu determinan dalam tahap perlu mengkoordinasikan pelibatan SDM,
utilisasi. TIK, khususnya akses internet dan sumber daya lainnya termasuk biaya
dalam program USO adalah media yang serta program-program sekolah. Dari sisi
dimaksud dalam ranah utilisasi. Akses penanggungjawab layanan, sosialisasi dan
internet yang dimanfaatkan dengan baik pendampingan menjadi keharusan agar
tentu telah melewati tahap penerimaan implementasi program lebih efektif.
sebagai inovasi dan digunakan karena Inisiatif pemanfaatan TIK dan internet di
sesuai dengan kebutuhan. Penerimaan sekolah harus senantiasa digagas, misalnya
pengguna akan akses internet sebagai program peningkatan kompe-tensi TIK
media sekaligus difusi inovasi terkait erat untuk guru, tendik, hingga masyarakat dan
dengan kepuasan pengguna (user komunitas. Usulan aktif dari tataran
satisfaction). grassroots menunjukkan apresiasi
pemanfaatan TIK yang baik, dan tidak

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru


80

mustahil berdampak pada level lebih guru adalah tipe paparan untuk membantu
tinggi. Pada jurnal yang ditulisnya, metode ekspositori. Jenis bahan belajar
Warsihna (2013) menyimpulkan bahwa berbasis TIK lainnya, yang lebih interaktif
keberhasilan implementasi TIK untuk dan dapat digunakan untuk belajar mandiri
pendidikan di wilayah 3T sangat seperti animasi, simulasi atau video
dipengaruhi oleh penerapan lima prinsip, pembelajaran juga makin berkem-bang
yakni: 1) pemberdayaan, 2) bottom up, 3) pemanfaatannya. Adanya akses internet di
sustainability, 4) pendekatan pembe- sekolah memperluas kesem-patan untuk
lajaran modern, dan 5) kemitraan. mengeksplorasi aneka sumber belajar.
Berdasarkan hal ini, diasumsikan bahwa
Hasil Penelitian dan Kebermanfaatan implementasi program layanan TIK di
Sebagai SDM utama dalam core sekolah USO meningkatkan akses global
business pendidikan, guru dipilih sebagai terhadap beragam sumber belajar berupa
responden kajian pemanfaatan TIK di Open Education Resources (OERs).
sekolah penerima USO. Peneliti me- TIK terus berkembang, baik berupa
nyadari bahwa jumlah 141 responden tidak hardware maupun software. Hal ini perlu
cukup mewakili banyaknya guru yang ada diimbangi dengan peningkatan brainware
di sekolah penerima USO. Maka peneliti atau kemampuan pengguna. Tidak hanya
tidak melakukan generalisasi, hanya terampil secara teknis, namun juga
memaparkan gambaran peman-faatan TIK bijaksana dalam menggunakan TIK.
oleh guru di sekolah USO sesuai data yang Berdasarkan hasil angket yang ditampilkan
diperoleh dari 141 responden. pada Gambar 4, mayoritas dari 141
Mayoritas responden (sebesar responden memiliki kompetensi TIK yang
82.9%) menyatakan sudah menggunakan cukup baik. Kemampuan TIK yang paling
TIK sebagai alat bantu dalam banyak dikuasai adalah pengunaan TIK
pembelajaran. Meskipun baru sebagian untuk administrasi perkantoran seperti
kecil dari responden pengguna TIK yang pengolah kata dan presentasi. Sedangkan
memanfaatkan TIK berbasis daring. kemampuan TIK yang lebih spesifik
Sejalan dengan pesatnya perkembangan seperti kemampuan jaringan komputer
TIK dan semakin terbukanya akses, dasar, troubleshooting, desain grafis, dan
penggunaan media komunikasi serta sosial pemrograman tidak terlalu banyak guru
media, guru pun memanfaatkannya. yang kompeten. Hal ini menunjukkan
Sebagian besar aktivitas penggunaan bahwa kompetensi TIK guru di wilayah 3T
internet di Indonesia adalah untuk sosial atau sekolah penerima USO perlu terus
media dan komunikasi teks (chatting), ditingkatkan. Bentuk peningkatan
maka hal ini pun terjadi di wilayah 3T. kompetensi TIK yang paling lazim adalah
Penggunaan media sosial dan sarana pelatihan. Kemampuan teknis TIK
komunikasi yang cukup populer adalah biasanya tidak terlalu dianggap penting
Facebook dan artinya kepemilikan pos oleh guru mata pelajaran karena dirasa
elektronik (e-mail) adalah hal yang lazim. tidak berdampak langsung untuk keperluan
Pentingnya memanfaatkan TIK mengajar. Namun sesuai dengan
dalam pembelajaran disebutkan dalam kebutuhan zaman bahwa mengajar tidak
Permendikbud No.81A Tahun 2013 sekadar menyam-paikan materi pelajaran,
tentang Implementasi Kurikulum. TIK maka guru pun harus terus belajar agar
menjadi bagian dari strategi pembe- kompetensinya sesuai dengan kondisi
lajaran. Salah satu bentuk yang paling lokal hingga global. Kolaborasi antar SDM
umum adalah penggunaan bahan belajar pendidikan sema-kin diperlukan agar
berbasis TIK oleh guru. Dari jawaban 141 pencapaian tujuan sistemik pendidikan
responden mengenai konten pembelajaran lebih efektif.
berbasis TIK di Tabel 4, diketahui bahwa Peningkatan kompetensi TIK guru,
bahan belajar yang paling banyak dimiliki tendik, dan SDM pendidikan lainnya

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


81

merupakan sebuah kebutuhan, dan dengan ranah implementasi atau utilisasi, ranah
sendirinya akan berdampak pada peman- analisis, perancangan, dan pengembangan
faatan TIK di sekolah. Untuk wilayah 3T, program pun perlu ditelaah untuk menge-
kompetensi TIK pada SDM pendidikan tahui apabila terjadi kesenjangan antara
tidak hanya bermanfaat untuk bidang perencanaan dengan praktek implemen-
pendidikan, namun bisa memberi efek tasi.
lingkup nasional. Pembangunan pendi- Berdasarkan hasil survei terhadap
dikan dari wilayah garda depan bertujuan guru sekolah penerima USO, pemanfaatan
untuk mewujudkan ketahanan nasional. TIK dan internet untuk pembelajaran
Berbagai layanan pendidikan dan sudah cukup baik. Internet tidak lagi
administrasi kini banyak memanfaatkan dianggap sebagai teknologi yang terlalu
basis daring, oleh karena itu pemanfaatan rigid, karena memang sudah menyentuh
internet harus semakin meningkat dan tingkat kebutuhan guru. Dukungan
merata terutama dari wilayah 3T yang sistemik juga diperlukan guru dalam
tantangannya lebih kompleks dari wilayah memanfaatkan TIK yang terintegrasi
lainnya di Indonesia. Kemendikbud selaku dengan kurikulum. Pemanfaatan TIK di
penanggungjawab penyeleng-garaan sekolah akan lebih efektif apabila sekolah
pendidikan nasional tentu saja melakukan pelibatan sekuruh komponen
mengembangkan layanan pembelajaran pendidikan termasuk manajemen sekolah,
maupun administrasi pendidikan berbasis guru dan tendik, hingga masyarakat dan
TIK untuk dimanfaatkan seluas-luasnya komunitas. Tingginya frekuensi peman-
bagi pendidikan nasional. Beberapa faatan internet untuk pendidikan oleh guru
layanan daring berbasis web ditanyakan di wilayah 3T menjadi salah satu tujuan
dalam angket. Hasil Tabel 5 dan Gambar 5 program layanan USO yang ditetapkan
memberikan sedikit gambaran peman- oleh penyelenggara layanan. Pemanfaatan
faatan layanan web-based Kemendikbud. TIK oleh guru terkait dengan kemampuan
Cukup banyak responden yang menge- atau kompetensi guru. Harapannya,
tahui dan memanfaatkan layanan TIK dengan kompetensi TIK yang baik maka
pendidikan tersebut. Apabila layanan TIK pemanfaatan TIK akan lebih berkembang.
berbasis web yang ada terus ditingkatkan Maka, supaya pemanfaatan TIK oleh guru
dan disosialisasikan dengan baik, maka menjadi makin efektif sebaiknya program
diasumsikan penyebarannya akan lebih layanan TIK USO menyelaraskan antara
luas. Bahkan bisa memberikan dampak bantuan teknis/perangkat dengan program
berupa peningkatan pemanfaatan TIK dan pening-katan kompetensi TIK guru dan
internet di sekolah termasuk wilayah 3T SDM pendidikan lainnya.
yang menerima layanan USO. Penelitian ini masih memiliki banyak
keterbatasan, misalnya terlalu kecilnya
PENUTUP jumlah sampel atau kurangnya perspektif
Pemanfaatan TIK oleh guru di kajian. Oleh karena itu, tidak menutup
sekolah penerima USO tidak hanya kemungkinan untuk diteliti lebih jauh,
memberikan gambaran keberhasilan pe- dengan data yang lebih besar atau aspek
nyelenggara program USO. Dengan sudut kajian yang lebih tajam dan bera-gam.
pandang sistemik yang digunakan, akan
tampak berbagai aspek yang UCAPAN TERIMA KASIH
mempengaruhi pemanfaatan TIK oleh Peneliti mengucapkan terimakasih
guru di sekolah. Kondisi sekolah pene- kepada pimpinan dan staf Pustekkom
rima USO yang termasuk wilayah 3T Kemendikbud, khususnya di bidang
dengan karakteristik dan tantangan yang Pengembangan Jejaring, atas akses data yang
dihadapi tentu menjadi salah satu faktor diberikan.
yang mempengaruhi. Sebelum mengkaji
pemanfaatan TIK yang termasuk dalam

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru


82

DAFTAR PUSTAKA parameters, and prospect. Paris and


Ali, M. (2014). Memahami riset perilaku Washington DC: UNESCO and
dan sosial. Jakarta: Bumi Aksara. Academy for Educational
BPS - Badan Pusat Statistik. (2017). Potret Development.
pendidikan Indonesia – statistik Haydn, T.A. (2004). The use of the
pendidikan 2017. Jakarta: Badan information and communication
Pusat Statistik. technology in history teaching in
BSNP - Badan Standar Nasional secondary schools in England and
Pendidikan. (2010). Paradigma Wales 1970-2003. (Thesis of Doctor
pendidikan nasional abad xxi. of Philosophy). Institute of
Jakarta: Badan Standar Nasional Education, University of London,
Pendidikan. London.
Bokova, I. and Touré, H.I. (2013). Hearne, U. (2002). Changing the culture of
Technology, broadband, and a primary school: The case of
education – advancing the education introducing ICT across the
for all agenda. Paris: UNESCO. curriculum. Irish Educational
Bungin, B. (2005). Analisis data penelitian Studies, 21(2), 65-75.
kualitatif: Pemahaman filosofis dan Hudson, M. (2010). Think globally, act
metodologis ke arah penguasaan locally: collective consent and the
model aplikasi. Jakarta: Raja ethics of knowledge production.
Grafindo Persada. International Social Science Journal,
Carnoy, M. (1999). Globalization and 60(195). 125-133. doi:
educational reform: What planners https://doi.org/10.1111/j.1468-
need to know. Retrieved from 2451.2009.01706.x.
http://unesco.amu.edu.pl/pdf/Carnoy. McBeath, R.J. (1994). The impact of
pdf. paradigm shift on education.
Creswell, J.W. (2014). Research design – Educational Media International,
pendekatan metode kualitatif, 31:3, 165-170.
kuantitatif, dan campuran, edisi 4. McGarr, O. (2009). The development of
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ICT across the curriculum in Irish
Creswell, J.W. (2015). Riset pendidikan – schools: A historical perspective.
perencanaan, pelaksanaan, dan British Journal of Educational
evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Technology, 40(6), 1094-1108.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Molenda, M. (2003). In search of the
Data dan Statistik Kementerian elusive ADDIE model. Performance
Komunikasi & Informatika RI. Improvement, 42(5), 34-36. doi:
(2017). Aktivitas menggunakan https://doi.org/10.1002/pfi.49304205
internet oleh individu pada tahun 08.
2016. Retrieve from Nordin, N. and Norman, H. (2017, 20-21
https://statistik.kominfo.go.id/site/dat November). Mapping the fourth
a?idtree=424&iddoc=1521. industrial revolution global
Galli, A., Durovic, G., Hanscom, L., & transformations on 21st century
Knezevic, J. (2018). Think globally, education. Paper presented at The 2nd
act locally: Implementing the of International Conference on
sustainable development goals in Education and Regional
Montenegro. Enviromental Science Development 2017.
and Policy, 84(2018), 159-169. doi: Ornstein A.C. and Hunkins, F.P. (2013).
https://doi.org/10.1016/j.envsci.2018 Curriculum foundations, principles,
.03.012. and issues – sixth ddition. United
Haddad, W.D. and Draxler, A. (2002). States of America: Pearson.
Technology for education potentials,

JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN Volume 11, Nomor 2, September 2018


83

Pelgrum, W.J. (2001). Obstacles to the Theodorou, E., Philippou, S. and


integration of ICT in education: Kontovourki, S. (2017). Caught
Results from a worldwide educational between worlds of expertise:
assessment. Computers & Education, Elementary teachers amidst official
37(2001), 163-178. curriculum development processes in
Perpres No.131 Tahun 2013 tentang Cyprus. Curriculum Inquiry. doi:
Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 10.1080/03626784.2017.1283591.
2015-2019. Tinio, V.L. (2003). ICT in education. Asia
Permendikbud No.81A Tahun 2013 tentang Pasific: UNDP Asia Pasific
Implementasi Kurikulum. Development Information
Rizvi, F., Engel, L., Nandyala, A., Programme.
Rutkowski, D., & Sparks, J. (2005). Tondeur, J. van Braak, J. and Valcke, M.
Globalization and recent shifts in (2007). Curricula and the use of ICT
educational policy in the Asia in education: Two world apart.
Pacific: An overview of some critical British Journal of Educational
issues. Retrieved from Technology, 38(6), 962-976. doi:
http://unesdoc.unesco.org/images/00 https://doi.org/10.1111/j.1467-
15/001529/152964e.pdf. 8535.2006.00680.x
Seels, B. B., & Richey, R. C. (1994). Undang-Undang No.14 Tahun 2005
Instructional technology: The tentang Guru dan Dosen.
definition and domains of the field. UNESCO. (2013). UNESCO handbook on
Washington, DC: Association for education policy analysis and
Educational Communications and programming. Bangkok: UNESCO.
Technology. UNESCO. (2016). The 4th industrial
Shahmir, S., Hamidi, F., Bagherzadeh, Z., revolution must be a development
and Salimi, L. (2010). Role of ICT in revolution - UNESCO at Davos.
the curriculum educational system. Retrieved from
Procedia Computer Science, 3(2011), https://en.unesco.org/news/4th-
623-624. industrial-revolution-must-be-
doi:10.1016/j.procs.2010.12.104. development-revolution-unesco-
Smaldino, S.E. (2011). Preparing students davos-0.
with 21st century ICT literacy in math Warsihna, J. (2013). Pemanfaatan teknologi
and science education. Journal of informasi dan komunikasi (TIK)
Curriculum and Instruction, 5:1, 1-3. untuk pendidikan di daerah terpencil,
doi:10.3776/joci.2011.v5n1p1-3 tertinggal, dan terdepan (3T). Jurnal
Somekh, B. (2007). Pedagogy and learning Teknodik, 17(2), 238-245.
with ICT. London and New York: We Are Social. (2017). Digital in Southeast
Routledge Taylor & Francis Group. Asia in 2017. Retrieve from
Sudjana. (2013). Metode statistika. https://wearesocial.com/special-
Bandung: PT Tarsito Bandung. reports/digital-southeast-asia-2017.
Sutherland, R., Robertson, S. and John, P. Wong, L. (Ed). (2006). Globalization and
(2009). Improving classroom education for sustainable
learning with ICT. London and New development sustaining the future.
York: Routledge. Retrieved from
The Organization for Economic http://unesdoc.unesco.org/images/00
Cooperation and Development. 14/001492/149295e.pdf.
(2013). Glossary of statistical terms:
Globalization. Retrieved from
https://stats.oecd.org/glossary/detail.
asp?ID=1121.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh Guru