Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH TERAPI PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION TERHADAP

KECEMASAN DAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN DIABETES MELLITUS


TIPE 2 DI RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Abdul Rokhman1, Ahsan2, Lilik Supriati2


Mahasiswa Program Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya 2 Staf Pengajar Program Magister Keperawatan Fakultas Kedokter-
an Universitas Brawijaya

ABSTRAK
Penyakit diabetes mellitus yang tidak bisa disembuhkan secara total sering berdampak pada
terjadinya kecemasan dan penurunan kualitas hidup. Untuk menurunkan kecemasan dan
meningkatkan kualitas hidup pasien dapat dilakukan terapi progressive muscle relaxation.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi PMR (Progressive Muscle Relaxa-
tion) terhadap kecemasan dan kualitas hidup pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di RS Mu-
hammadiyah Lamongan. Metode quasi eksperimental dengan pendekatan pre-post test control
group design dengan simple random sampling. Jumlah sampel 50 orang dibagi menjadi 2 ke-
lompok perlakuan dan kontrol masing-masing 25 orang. Alat ukur menggunakan kuisioner
HARS untuk kecemasan dan DQOL (Diabetes Quality of Life) untuk kualitas hidup. Hasil an-
alisis kecemasan dengan uji t pada kelompok perlakuan p 0,000, kelompok kontrol p 0,746.
Analisis kualitas hidup pada kelompok perlakuan nilai p 0,000 dan kelompok kontrol p 0,098.
Perbedaan kecemasan pada kelompok perlakuan dan kontrol p 0,019. Perbedaan kualitas hidup
pada kelompok perlakuan dan kontrol p 0,076. Pengaruh faktor pendidikan terhadap kualitas
hidup pada pasien DM tipe 2 sesudah diberikan terapi progressive muscle relaxation sebesar
4,9 % setelah dikontrol variabel lain. Terapi progressive muscle relaxation efektif untuk
menurunkan kecemasan dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Ter-
api progressive muscle relaxation dapat dimasukkan kedalam intervensi keperawatan pada
pelayanan rumah sakit.

Kata Kunci: Diabetes M ellitus tipe 2, Kecemasan, Kualitas Hidup, Terapi Progressive Mus-
cle Relaxation

ABSTRACT
Diabetes mellitus is an uncured disease and often have an impact on the occurrence of anxiety
and the decrease of quality of life of its sufferers. A therapy named the progressive muscle re-
laxation (PMR) therapy can be carried out by the patients to reduce the anxiety and improve
the patients’ quality of life. This study aims to determine the effect of PMR therapy toward the
anxiety and quality of life of patients with type 2 diabetes mellitus in Muhammadiyah Hospi-
tal, Lamongan. The study employed the quasi-experimental method with pre and post-test con-
trol group design. There were 50 people selected as the sample of study which were chosen
through simple random sampling. The sample were divided into two groups; a treatment and
control group, consisted of 25 people each. HARS questionnaire was used to measure the anxi-
ety level and DQOL (Diabetes Quality of Life) to measure the quality of life.
The t-test analysis showed that the p-value of anxiety in the experimental group was 0.000,
and 0.746 in the control group. The analysis of the quality of life showed that the p-value of
the treatment group was 0.000 and 0.098 in the control group. The findings also found that
there was a difference on anxiety level between the treatment and control group (p = 0.019)
and there was a difference in the quality of life of the treatment and control group (p = 0.076).
The effect of education to the quality of life of diabetic patients after treated with progressive
muscle relaxation therapy was 4.9%. The result was found after controlling other variables
involved. Progressive muscle relaxation therapy is effective to reduce anxiety and effective to
improve the quality of life of patients with type 2 diabetes. Progressive muscle relaxation ther-

45
Terapi Progressive
apy can be incorporated into nursing interventions in hospitals.

Keyword : Type 2 Diabetes Mellitus, Anxiety, Quality of life, Progr essive muscle r elaxa-
tion therapy

LATAR BELAKANG kecemasan pada pasien diabetes mellitus ada-


Diabetes mellitus merupakan seke- lah penurunan kualitas hidup. Hal ini dibuk-
lompok penyakit metabolik dengan karakter- tikan oleh penelitian yang dilakukan oleh
istik terjadinya peningkatan kadar glukosa (Yusra, 2011) bahwa tingkat kecemasan pada
darah (hiperglikemi), yang terjadi akibat ke- durasi penyakit yang panjang dapat berakibat
lainan sekresi insulin, aktivitas insulin dan terhadap penurunan kualitas hidup pasien
keduanya (Smeltzer & Bare, 2008). diabetes mellitus. Sehingga kecemasan juga
Prevalensi penderita diabetes mellitus dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien
di Propinsi Jawa Timur pada usia15 tahun diabetes mellitus.
sebesar 2,5 %, angka tersebut masih tinggi Untuk menangani masalah tersebut
jika dibandingkan dengan prevalensi pen- perlu adanya penatalaksanaan kecemasan
derita diabetes melitus di Indonesia sebesar yang baik jadi bukan hanya penatalaksanaan
2,1 % (Depkes, 2013). Dengan tingginya secara fisik. Penatalaksanaan kecemasan
prevalensi DM maka akan memberikan dam- secara umum meliputi terapi obat dan terapi
pak bagi pasien maupun negara. psikologis. Manajemen kecemasan yang sa-
Beberapa dampak yang dialami oleh lah satu tindakannya yaitu dengan relaksasi.
pasien diantaranya dampak fisik dan dampak Terapi relaksasi ini ada bermacam-macam,
psikologis. Dampak fisik yaitu retinopati dia- salah satunya adalah relaksasi otot progresif
betik, nefropati diabetic, dan neuropati dia- (Progressive Muscle Relaxation (PMR)).
betic. Sedangkan dampak psikologis yang Progressive Muscle Relaxation (PMR)
terjadi yaitu kecemasan, kemarahan, berduka, yaitu suatu prosedur relaksasi pada otot me-
malu, rasa bersalah, hilang harapan, depresi, lalui dua langkah (Richmond, 2007).
kesepian, tidak berdaya (Smeltzer & Bare, Langkah pertama yaitu pada suatu kelompok
2008), juga dapat menjadi pasif, tergantung, otot diberikan suatu tegangan, dan kedua te-
merasa tidak nyaman, bingung dan merasa gangan tersebut dihentikan kemudian memu-
menderita (Purwaningsih & Karlina, 2012). satkan perhatian terhadap bagaimana otot
Penyakit diabetes mellitus tidak bisa tersebut menjadi relaks, merasakan sensasi
disembuhkan secara total, namun dapat relaks secara fisik dan tegangannya
dikendalikan. Berdasarkan konsensus para menghilang.
ahli diabetes di Indonesia disepakati ada 5 Zhou, et al. (2014) dalam penelitiannya
pilar utama pengelolaan DM, yaitu menunjukkan bahwa terapi PMR dapat
perencanaan makan (diit), latihan jasmani, menurunkan skor kecemasan pada pasien
obat hipoglikemik, edukasi, dan pemantauan kanker payudara secara siginifikan yaitu (r =
kadar glukosa darah secara mandiri (home 0,457, P< 0,01). Kemudian Yildirim et al.
monitoring) (Batubara, 2013; Subekti, 2013). (2007) dari hasil penelitian yang dilakukann-
Dari 5 pilar tersebut belum ada pengelolaan ya menyebutkan bahwa PMR menurunkan
terhadap dampak psikologis pada pasien DM. kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup
Padahal pengelolaan secara psikologis juga pasien yang menjalani dialisis.
penting untuk pasien agar dapat mengontrol Berdasarkan hasil studi pendahuluan
kadar gula darah dengan baik, dimana salah yang dilakukan oleh peneliti di RS Muham-
satu dampak psikologis yang sering terjadi madiyah Lamongan didapatkan data jumlah
yaitu kecemasan. pasien diabetes mellitus sepanjang tahun
Keadaan cemas pada pasien diabetes 2014 sebanyak 589 pasien di instalasi rawat
mellitus bisa berdampak terhadap tidak ter- inap, sedangkan yang di instalasi rawat jalan
kontrolnya kadar glukosa darah. Hal ini akan sebanyak 3304 pasien. Pada bulan Januari-
semakin mempersulit untuk pengobatan Februari 2015 ini di instalasi rawat inap
pasien diabetes mellitus. Dampak lain dari sebanyak 87 pasien, sedangkan di instalasi
46
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018
rawat inap sebanyak 87 pasien, sedangkan di progressive muscle relaxation. Penelitian ini
instalasi rawat jalan sebanyak 805 pasien. dilakukan pada pasien DM tipe 2 yang ter-
Dari hasil wawancara dari 10 (sepuluh) gabung dalam Klub DM RS Muhammadiyah
pasien DM tipe 2 didapatkan hasil bahwa 8 Lamongan dengan jumlah sampel masing-
(delapan) pasien mengalami kecemasan se- masing kelompok 25 orang. Teknik sampling
dang, 1 (satu) cemas berat dan 1 (satu) cemas yang digunakan adalah simple random sam-
ringan. Pasien yang mengalami penurunan pling. Kelompok perlakuan diberikan terapi
kualitas hidup sebanyak 7 (tujuh) orang. PMR dan kelompok kontrol diberikan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk penyuluhan.
mengetahui pengaruh terapi PMR Instrumen penelitian menggunakan
(Progressive Muscle Relaxation) terhadap kuisioner HARS untuk mengukur skor
kecemasan dan kualitas hidup pada pasien kecemasan dan kuisioner DQOL (Diabetes
diabetes mellitus tipe 2 di RS Muhammadiyah Quality of Life) untuk mengukur kualitas
Lamongan hidup pasien DM tipe 2. Analisis dalam
penelitian ini adalah analisis univariat, bivari-
METODE PENELITIAN at menggunakan uji t, uji t tidak berpasangan,
Penelitian ini menggunakan metode uji korelasi pearson & spearman. Faktor con-
quasi eksperimental dengan pre-post test founding di analisis menggunakan regresi
control group design dengan intervensi terapi linier sederhana.

HASIL
1. Karakteristik Responden
Tabel 1. Karakteristik Responden Klub DM di RS Muhammadiyah Lamongan Tahun 2015
Variabel Kelompok

Usia Perlakuan

Kontrol

Keterangan usia dalam tahun

Berdasarkan tabel 1. di atas diketahui Pada kelompok kontrol usia paling muda yai-
bahwa usia pada kelompok perlakuan usia tu 42 tahun dan usia paling tua 72 tahun
paling muda yaitu 49 tahun dan usia paling dengan nilai median 58.
tua yaitu 75 tahun dengan nilai median 59.

Tabel 2. Karakteristik Responden Klub DM di RS Muhammadiyah Lamongan Tahun 2015

Kelompok Kelompok
Perlakuan

Variabel Kategori
(N=25) (N=25)
N N
Jenis Laki-laki
Kelamin Perempuan
Total
Pendidikan SD
SMP
SMA
PT
Total

47
Terapi Progressive
Status Rendah
ekonomi Tinggi
Total
Lama < 3 tahun
menderita 3-5 tahun
DM >5 tahun
Total
Berdasarkan tabel 2. tersebut Status ekonomi pada kelompok perlakuan
diketahui bahwa pada kelompok perlakuan sebagian besar responden mempunyai status
sebagian besar responden berjenis kelamin ekonomi tinggi sebanyak 18 orang (72%).
perempuan sebanyak 13 orang (52%). Pada kelompok kontrol sebagian besar re-
Demikian juga pada kelompok kontrol ham- sponden mempunyai status ekonomi tinggi
pir sebagian responden berjenis kelamin per- sebanyak 16 orang (64%).
empuan sebanyak 19 orang (76%). Pada ke-
Lama menderita DM pada kelompok
lompok perlakuan sebagian besar responden
perlakuan sebagian besar lebih dari 5 tahun
berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 14
sebanyak 15 orang (60%). Pada kelompok
orang (56%). Pada kelompok kontrol hampir
kontrol hampir sebagian responden menderita
sebagian responden juga berpendidikan
DM lebih dari 5 tahun sebanyak 11 orang
perguruan tinggi sebanyak 11 orang (44%).
(44%).
Tabel 3. Pengaruh Terapi Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kecemasan dan Kualitas
Hidup pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Pasien DM Tipe 2 Di RS
Muhammadiyah Lamongan
Kelompok Perlakuan
(N=25) Kelompok Kontrol (N=25)
Pre-test Post Test p Pre-test Post-test p value
Varia-
bel value
Mean
Min- - Min- Mean- Min- Mean- Min- Mean- kontrol
Max SD Max SD Max SD Max SD
Kecema-
san 13-26 18,20- 12-22 15,48- 0,000 13-23 17,52- 12-25 0,019
3,588
Kualitas 40-76 64,12- 55-80 69,80- 0,000 58-79 68,04- 55-74 0,076
Hidup 5,514

Tabel 4. Indikator Kecemasan Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Progressive Muscle
Relaxation Pada Pasien DM Tipe 2 Di RS Muhammadiyah Lamongan.

Indikator N Mean St. Deviasi p value


Respon kognitif pre 0,102
Respon kognitif post
Respon fisiologis pre 100 0,000
Respon fisiologis post 100
Respon perilaku pre 100 0,158
Respon perilaku post 100
Respon afektif pre 0,185
Respon afektif post

48
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018
Tabel 5. Indikator Kualitas Hidup Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Progressive Muscle
Relaxation Pada Pasien DM Tipe 2 Di RS Muhammadiyah Lamongan.
Indikator N Mean p value
Diet pre 2,95
Diet post 3,24
Hubungan dengan orang 2,84
pre 3,43
Hubungan dengan orang
post
Tingkat Energi pre 2,89
Tingkat Energi post 3,29
Memori dan Kognisi pre 3,18
Memori dan Kognisi post 3,22
3,31
Aspek Keuangan post 3,46

2. Kecemasan Pasien Diabetes Mellitus deviasi 0,763) kemudian skor rata-rata respon
Tipe 2 fisiologis sesudah intervensi turun menjadi
Berdasarkan tabel 3. diatas dapat 1,32 (standar deviasi 0,510) dengan nilai p
diketahui rata-rata skor kecemasan pasien 0,000 (p <0,05). Skor rata-rata respon per-
DM pada kelompok perlakuan sebelum inter- ilaku sebelum intervensi sebesar 1,24
vensi 18,20 (standar deviasi 3,686) dimana (standar deviasi 0,474) dan skor rata-rata re-
skor tersebut menunjukkan bahwa kecemasan spon perilaku sesudah intervensi naik men-
pasien DM termasuk cemas sedang dengan jadi 1,36 (standar deviasi 0,659) dengan nilai
skor terendah 13 dan skor tertinggi 26. Rata- p 0,158 (p >0,05). Skor rata-rata respon
rata skor kecemasan pasien DM pada ke- afektif sebelum intervensi sebesar 1,36
lompok perlakuan setelah intervensi turun (standar deviasi 0,490) dan skor rata-rata
menjadi 15,48 (standar deviasi 2,931) dimana respon afektif sesudah intervensi turun men-
skor tersebut menunjukkan bahwa kecemasan jadi 1,24 (standar deviasi 0,523) dengan nilai
pasien DM mengalami penurunan dengan p 0,185 (p >0,05).
skor terendah 12 dan skor tertinggi 22. Rata- Hasil analisis di atas indikator yang
rata skor kecemasan pasien DM pada ke- paling dipengaruhi oleh terapi progressive
lompok kontrol sebelum intervensi 17,52 muscle relaxation yaitu respon fisiologis
(standar deviasi 2,960) dimana skor tersebut dengan nilai p < 0,000 (p value < 0,05). Tera-
menunjukkan bahwa pasien DM mengalami pi progressive muscle relaxation ini mampu
kecemasan ringan dengan skor terendah 13 menurunkan respon fisiologis tubuh yang
dan skor tertinggi 23. Rata-rata skor kecema- tegang menjadi rileks.
san pasien DM pada kelompok kontrol 3. Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melli-
setelah intervensi menjadi 17,72 (standar de- tus Tipe 2
viasi 3,588) dimana skor tersebut menunjuk- Berdasarkan tabel 3. di atas dapat
kan adanya sedikit kenaikan skor kecemasan diketahui rata-rata skor kualitas hidup pasien
dengan skor terendah 12 dan skor tertinggi DM pada kelompok perlakuan sebelum inter-
25 . vensi 64,12 (standar deviasi 9,400) dimana
Berdasarkan tabel 4. di atas menun- skor tersebut menunjukkan termasuk kualitas
jukkan indikator respon kognitif sebelum in- hidup baik dengan skor terendah 40 dan skor
tervensi skor rata-rata sebesar 1,52 (standar tertinggi 76. Rata-rata skor kualitas hidup
deviasi 0,706) dan skor rata-rata respon kog- pasien DM pada kelompok perlakuan ada
nitif sesudah intervensi turun menjadi 1,35 peningkatan setelah intervensi 69,80 (standar
(standar deviasi 0,507) dengan p 0,102 (p deviasi 6,752) dimana skor tersebut menun-
>0,05). Skor rata-rata indikator respon fisiol- jukkan bahwa kualitas hidup baik dengan
ogis sebelum intervensi sebesar 1,73 (standar skor terendah 55 dan skor tertinggi 80.

49
Terapi Progressive
Pada kelompok kontrol rata-rata skor kualitas Berdasarkan tabel 3. diketahui bahwa
hidup pasien DM sebelum intervensi 68,04 skor kecemasan pada kelompok perlakuan
(standar deviasi 6,065) dimana skor tersebut mempunyai nilai p 0,000 (p<0,05). Karena
menunjukkan termasuk kualitas hidup baik nilai p<0,05 secara statistik terdapat perbe-
dengan skor terendah 58 dan skor tertinggi daan kecemasan pasien DM tipe 2 sebelum
79. Rata-rata skor kualitas hidup pasien DM dan sesudah diberikan terapi progressive
pada kelompok kontrol setelah intervensi muscle relaxation.
66,64 (standar deviasi 5,514) dimana skor Skor kualitas hidup pada kelompok
tersebut menunjukkan kualitas hidup baik perlakuan mempunyai nilai p 0,000 (p<0,05).
dengan skor terendah 55 dan skor tertinggi Karena nilai p<0,05 secara statistik terdapat
74. perbedaan kualitas hidup pasien DM tipe 2
Berdasarkan tabel 5. di atas indikator sebelum dan sesudah diberikan terapi pro-
diet memiliki skor rata-rata sebelum diberi- gressive muscle relaxation.
kan intervensi sebesar 2,95 (standar deviasi 5. Perbedaan Kecemasan dan Kualitas
0,918) dan skor rata-rata indikator diet Hidup Pasien DM Tipe 2 Pada Ke-
sesudah diberikan intervensi naik menjadi lompok Kontrol Sebelum dan Sesudah
3,24 (standar deviasi 0,721) dengan nilai p Diberikan Penyuluhan Kesehatan
0,001 (p <0,05). Skor rata-rata indikator hub- Berdasarkan tabel 3. diketahui bahwa
ungan dengan orang lain sebelum diberikan skor kecemasan pada kelompok kontrol
intervensi sebesar2,84 (standar deviasi 0,823) mempunyia nilai p 0,746 (p>0,05). Karena
dan skor rata-rata indikator hubungan dengan nilai p >0,05 secara statistik tidak terdapat
orang lain sesudah diberikan intervensi naik perbedaan kecemasan pasien DM tipe 2 sebe-
menjadi 3,43 (standar deviasi 0,661) dengan lum dan sesudah diberikan penyuluhan.
nilai p 0,000 (p <0,005). Skor rata-rata indi- Skor kualitas hidup mempunyai nilai p
kator tingkat energi sebelum diberikan inter- 0,098 (p>0,05). Karena nilai p>0,05 secara
vensi sebesar 2,89 (standar deviasi 0,967) dan statistik tidak terdapat perbedaan kualitas
skor rata-rata indikator tingkat energi sesudah hidup pasien DM tipe 2 sebelum dan sesudah
diberikan intervensi naik menjadi 3,29 diberikan penyuluhan.
(standar deviasi 0,749) dengan nilai p 0,003 6. Perbedaan Kecemasan dan Kualitas
(p< 0,05). Skor rata-rata indikator memori & Hidup Pasien DM Tipe 2 Pada Ke-
kognisi sebelum diberikan intervensi sebesar lompok Perlakuan dan Kelompok
3,18 (standar deviasi 0,914) dan skor rata-rata Kontrol
indikator memori kognisi sesudah diberikan Berdasarkan tabel 3. diketahui bahwa
intervensi naik menjadi 3,22 (standar deviasi skor kecemasan antara kelompok kontrol dan
0,760) dengan nilai p 0,694 (p >0,05). Skor perlakuan mempunyai nilai p 0,019 (p<0,05).
rata-rata indikator aspek keuangan sebelum Karena nilai p<0,05 secara statistik terdapat
intervensi sebesar 3,31 (standar deviasi perbedaan skor kecemasan pasien DM tipe 2
0,971) dan skor rata-rata indikator aspek keu- antara kelompok perlakuan dan kelompok
angan sesudah diberikan intervensi naik men- kontrol.
jadi 3,46 (standar deviasi 0,654) dengan nilai Skor kualitas hidup antara kelompok
p 0,089 (p >0,05). kontrol dan perlakuan mempunyai mempu-
Hasil analisis di atas indikator hub- nyai nilai p 0,076 (p>0,05). Karena nilai
ungan dengan orang lain yang paling di- p>0,05 secara statistik tidak terdapat perbe-
pengaruhi oleh terapi progressive muscle re- daan skor kualitas hidup pasien DM tipe 2
laxation dengan nilai p 0,000 (p value < antara kelompok perlakuan dan kelompok
0,05). kontrol.
4. Perbedaan Kecemasan dan Kualitas 7. Analisis Faktor Yang Berhubungan
Hidup Pasien DM Tipe 2 Pada Ke- Dengan Kecemasan dan Kualitas
lompok Perlakuan Sebelum dan Hidup Pasien DM Tipe 2 Setelah
Sesudah Diberikan Terapi Progressive Diberikan Terapi Progressive Muscle
Muscle Relaxation
Relaxation

50
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018

Tabel 6. Faktor yang berkontribusi terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2 Sesudah Diberi-
kan Terapi Progressive Muscle Relaxation

Karakteristik B SE Beta R
Square
(Constant) 62,918
Pendidikan 1,410 0,262
Berdasarkan tabel 6. di atas dapat 0,000 (p< 0,05). Efek yang dihasilkan dari
diketahui bahwa p 0,066 (p value > 0,05), progressive muscle relaxation yaitu membuat
yang artinya korelasi pendidikan dengan seluruh otot dan saraf tubuh rileks sehingga
kualitas hidup pasien DM tipe 2 secara statis- menurunkan ketegangan yang ada pada otot
tik tidak bermakna. R-square sebesar 0,049 maupun system saraf. Pendapat Copstead dan
menunjukkan bahwa ada sekitar 4,9% Banasik (2000) mengatakan bahwa kerja sis-
pengaruh pendidikan terhadap kualitas hidup tem saraf pusat parasimpatis akan di aktifkan
pasien DM tipe 2 setelah dikontrol dengan oleh relaksasi otot. Kerja sistem saraf para-
variabel lain. Nilai beta 0,262 dimana simpatis berlawanan dengan saraf simpatis
menunjukkan kekuatan korelasi positif yang bekerja pada saat tubuh memerlukan
lemah. Persamaan yang didapat yaitu: Kuali- banyak energi seperti dalam kondisi cemas
tas hidup = 62,918 + 1,410 pendidikan. sehingga berlawanan dengan ciri-ciri kecema-
san.
PEMBAHASAN Mekanisme terapi progressive muscle
1. Perbedaan Kecemasan Pasien DM relaxation membutuhkan sebuah konsentrasi
Tipe 2 Pada Kelompok Perlakuan seperti saat meditasi. Saat proses terapi
Sebelum dan Sesudah Diberikan pasien diminta untuk memejamkan mata
TerapiProgressiveMuscle Relaxa- dengan memfokuskan pikirannya untuk me-
tion rasakan setiap ketegangan atau relaksasi dari
Hasil penelitian yang telah dilakukan masing-masing otot yang ditegangkan dan
menunjukkan terdapat perbedaan kecemasan dirilekskan. Dalam proses progressive muscle
pasien DM tipe 2 sebelum dan sesudah relaxation terdapat pembelajaran dimana
diberikan terapi progressive muscle relaxa- individu diajarkan untuk membedakan
tion. Hasil uji statistik nilai p 0,000 (p< perasaan disaat tegang maupun rileksasi. Hal
0,005) dengan selisih perbedaan kecemasan itu dilakukan secara berulang-ulang sehingga
sebelum dan sesudah diberikan terapi sebesar secara tidak langsung individu mampu
2,72. mempelajari mekanisme koping yang harus
Hal itu menunjukkan bahwa terapi pro- dilakukan saat terjadi kecemasan. Salah satu
gressive muscle relaxation efektif untuk mekanisme koping yang sering dilakukan
menurunkan kecemasan. Terapi progressive oleh seseorang dalam menurunkan atau
muscle relaxation merupakan salah satu menghilangkan kecemasan yaitu dengan
teknik manajemen stress dan kecemasan. represi. Represi adalah proses penyimpanan
Terapi tersebut dalam pelaksanaannya impuls yang tidak tepat ke dalam alam bawah
mengkombinasikan relaksasi pikiran dan juga sadar sehingga impuls tersebut tidak dapat
melibatkan ketegangan dan relaksasi dari diingat kembali (Stuart, 2007).
berbagai macam otot tubuh. Sehingga selain Snyder & Lyndquist (2009), menga-
bisa untuk menurunkan kecemasan secara takan bahwa terapi progressive muscle relax-
kognitif juga mampu mengurangi dampak ation bertujuan untuk mengurangi konsumsi
kecemasan secara fisiologis. oksigen tubuh, laju metabolisme tubuh, laju
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernapasan, ketegangan otot, penurunan
dari indikator kecemasan yang paling ber- tekanan darah sistolik dan meningkatkan ge-
pengaruh terhadap terapi progressive muscle lombang alpha otak, meningkatkan beta en-
relaxation yaitu respon fisiologis dengan p dorphin dan meningkatkan imun seluler.

51
Terapi Progressive
2. Perbedaan Kecemasan Pasien DM Tipe Intervensi pada kelompok perlakuan dengan
2 Pada Kelompok Kontrol Sebelum dan memberikan terapi progressive muscle relax-
Sesudah Diberikan Terapi Penyuluhan ation. Pada terapi tersebut pasien diminta
Kesehatan untuk memejamkan mata dan melakukan
Hasil penelitian menunjukkan tidak relaksasi pada pikiran dan beberapa otot.
terdapat perbedaan kecemasan pasien DM Dengan relaksasi tersebut maka akan terjadi
tipe 2 sebelum dan sesudah diberikan peningkatan gelombang alfa otak. Bersamaan
penyuluhan kesehatan. Hasil uji statistik nilai dengan pasien melakukan relaksasi terapis
p 0,746 (p>0,05) dengan selisih perbedaan kemudian memasukkan sugesti kepikiran
kecemasan pasien DM tipe 2 sebelum dan pasien untuk merasakan perbedaan relaksasi
sesudah diberikan penyuluhan kesehatan dan ketegangan yang dirasakan kemudian
sebesar -0,2. memberikan sugesti untuk mempertahankan
Hal itu terjadi karena pada kelompok rasa nyaman dan rileks yang dirasakannya.
kontrol hanya mendapatkan informasi ten- Dengan metode seperti itu akan membuat
tang kecemasan yang terdiri dari pengertian, pasien mampu untuk melakukan mekanisme
penyebab masalah, dampak, dan penatalaksa- koping saat terjadi masalah kecemasan
naan. Namun tidak dilakukan praktik secara dengan melakukan relaksasi secara mandiri.
langsung cara penanganan untuk menurunk- Hal itulah yang tidak didapatkan dari metode
an kecemasan. Hal itu bisa mempengaruhi penyuluhan kesehatan pada pasien diabetes
daya serap informasi yang mempengaruhi mellitus. Dimana penyuluhan kesehatan han-
kemampuan klien dalam menyelesaikan ma- ya memberikan informasi pada pasien.
salah. Pada penyuluhan kesehatan seringkali Hal itu sesuai dengan pendapat dari
tujuan jangka pendek yang diinginkan adalah Arya (2013) gelombang alfa adalah gelom-
merubah pengetahuan atau kognitif dari bang otak (brainwave) yang terjadi pada saat
pasien. Namun respon yang terjadi pada individu mulai mengalami relaksaksi atau
pasien yang mengalami kecemasan ada mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mu-
berbagai aspek yaitu respon fisiologis, kogni- lai menutup atau mulai mengantuk. Setiap
tif, perilaku, dan afektif. individu menghasilkan gelombang alfa setiap
Pasien yang mengalami kecemasan akan tidur, yaitu pada masa peralihan antara
cenderung mengalami penyempitan lapang kondisi sadar dan tidak sadar. Fenomena ge-
persepsi. Jika pasien sudah mengalami lombang alfa banyak dimanfaatkan oleh ahli
penyempitan lapang persepsi maka informasi hypnosis untuk mulai memberikan sugesti
yang diberikan akan sulit untuk dapat kepada pasiennya. Orang yang memulai
diterima oleh pasien. Hal tersebut sesuai meditasi (meditasi ringan) juga menghasilkan
dengan pendapat Supriati (2010), hasil self gelombang alfa.
evaluasi menunjukkan bahwa klien dengan 3. Perbedaan Kualitas Hidup Pasien DM
gangguan fisik yang mengalami ansietas Tipe 2 Pada Kelompok Perlakuan Sebe-
menunjukkan penurunan belajar dan tidak lum dan Sesudah Diberikan Terapi
mampu mengambil hikmah dari penyakit Progressive Muscle Relaxation
yang diderita, terkadang sulit berpikir hal lain Hasil penelitian menunjukkan terdapat
dan hanya terfokus pada kondisi sakit. Se- perbedaan kualitas hidup pasien DM tipe 2
dangkan secara observasi, perubahan kognitif sebelum dan sesudah diberikan terapi pro-
yang terjadi adalah klien fokus terhadap hal gressive muscle relaxation. Hasil uji statistik
yang penting yaitu kondisi sakitnya saja. Hal p 0,000 (p < 0,05), dimana selisih perbedaan
ini sesuai dengan pendapat Suliswati (2005) kualitas hidup pasien DM tipe 2 sebelum dan
yang mengatakan bahwa respon kognitif sesudah diberikan terapi progressive muscle
pada ansietas dapat mempengaruhi kemam- relaxation sebesar -5,68.
puan berpikir seseorang seperti ketidak mam- Pasien yang mengalami penyakit kro-
puan memperhatikan, konsentrasi menurun, nis seringkali mengalami penurunan fungsi
mudah lupa, menurunnya lapang persepsi tubuh. Demikian halnya dengan pasien yang
dan bingung. menderita penyakit DM tipe 2. Penurunan
fungsi tubuh tersebut jika tidak mampu diat-

52
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018
asi oleh pasien maka akan menyebabkan gelombang alfa banyak dimanfaatkan oleh
turunnya kualitas hidup. Kualitas hidup meru- ahli hypnosis untuk mulai memberikan
pakan sebuah persepsi individu terhadap kon- sugesti kepada pasiennya. Orang yang memu-
disi kehidupan mereka dalam kontek budaya lai meditasi (meditasi ringan) juga
dan nilai dimana mereka hidup dan berhub- menghasilkan gelombang alfa. Dengan mem-
ungan dengan tujuan hidup. berikan sugesti tentang kenyamanan pada
Hal itu dibuktikan oleh penelitian pasien dengan terapi progressive muscle re-
yang dilakukan oleh Spasic, et. al. (2014) laxation pasien akan terbiasa untuk tetap
menunjukkan bahwa orang dengan DM tipe 2 rileks dan mampu menggunakan pikiran posi-
memiliki kualitas hidup yang lebih rendah tif serta mekanisme koping yang konstruktif.
dalam semua hal dibandingkan orang tanpa Dengan pikiran positif, mekanisme koping
diabetes. Selain itu, adanya penyakit penyerta konstruktif, dan kondisi yang rileks secara
juga memiliki dampak lebih besar pada tidak langsung akan berefek pada beberapa
penurunan kualitashidup. Penelitian tersebut domain kualitas hidup yang diantaranya ada-
telah menunjukkan bahwa penyakit penyerta lah kepuasan diet, hubungan dengan orang
yang paling sering yaitu hipertensi, lain, memori dan kognisi serta tingkat energi.
dyslipidemia 19,67%, komplikasi oftalmologi Hasil penelitian yang dilakukan oleh
15,54%, dan polyneuropathy 23%. Reibel, et. al. (2001) yang mempelajari efek
Menurut Prawitasari (2002) dasar relaksasi terhadap pengurangan stress pada
dari metode latihan relaksasi adalah di dalam kesehatan yang berhubungan dengan kualitas
sistem saraf manusia terdapat sistem saraf hidup pada populasi pasien yang heterogen.
pusat dan sistem saraf otonom. Sistem saraf Efek relaksasi dan teknik-teknik yang ada
pusat berfungsi dalam mengendalikan pada PMR dapat mengubah nilai kualitas
gerakan yang dikehendaki, misalnya gerakan hidup, respon emosional, dan respon imu-
tangan, kaki, leher dan jari jari. Sistem saraf nologi (Nayeri & Hajbaghery, 2011).
otonom berfungsi sebagai kendali gerakan 4. Perbedaan Kualitas Hidup Pasien DM
otomatis misalnya fungsi digestif dan kardio- Tipe 2 Pada Kelompok Kontrol Sebe-
vaskuler. Sistem saraf otonom terdiri dari dua lum dan Sesudah Diberikan Penyulu-
subsistem yaitu saraf simpatis dan saraf para- han Kesehatan
simpatis yang kerjanya saling berlawanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Saraf simpatis bekerja memacu organ-organ tidak terdapat perbedaan kualitas hidup
tubuh, memacu peningkatan denyut pasien DM tipe sebelum dan sesudah diberi-
jantung dan pernafasan serta menimbulkan kan penyuluhan. Hasil statistik menunjukkan
vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan p 0,098 (p> 0,05) dengan selisih perbedaan
vasodilatasi dari pembuluh darah pusat, kualitas hidup sebelum dan sesudah diberikan
menurunkan temperatur dan daya tahan kulit penyuluhan kesehatan sebesar 1,4.
serta akan menghambat proses digestif dan Penyuluhan yang diberikan sifatnya
seksual. Saraf parasimpatis bekerja menstim- hanya satu arah meskipun dalam pelaksa-
ulasi naiknya semua fungsi yang diturunkan naannya terdapat kegiatan tanya jawab. Na-
oleh sistem saraf simpatis. mun pasien lebih banyak mendapatkan infor-
Teknik terapi progressive muscle masi dari petugas kesehatan, tidak ada komu-
relaxation mengkombinasikan relaksasi otot nikasi dua arah yang intensif. Peneliti
dan pemberian sugesti kepada pasien untuk berasumsi bahwa kegiatan penyuluhan
merasakan perbedaan perasaan tegang dan kesehatan hanya bersifat menambah penge-
rileks serta mensugesti agar mempertahankan tahuan dan mengubah perilaku dari pasien
kenyamanan yang dirasakan setiap saat. namun tidak mengubah beberapa domain dari
Disaat seseorang relaksasi maka gelombang kualitas hidup. Domain tersebut diantaranya
otak alfa akan meningkat. Menurut Arya adalah kesehatan fisik, psikologis, tingkat
(2013), gelombang alfa adalah gelombang ketergantungan, lingkungan, serta spiritual,
otak (brainwave) yang terjadi pada saat indi- dan agama.
vidu mulai mengalami relaksaksi. Fenomena

53
Terapi Progressive
Hal itu sesuai dengan penelitian Mar- kontrol dengan nilai p 0.019 (p< 0,05) dan
tin-Valero et. al. (2013) bahwa pada ke- perbedaan skor rata-rata -2,240.
lompok kontrol yang hanya diberikan Pemberian terapi progressive muscle relaxa-
penyuluhan tidak menunjukkan perbe- tion pada kelompok intervensi mampu
daan. Hasil uji klinisnya menunjukkan hanya menurunkan kecemasan yang terjadi pada
terjadi peningkatan aktivitas fisik namun tid- pasien DM tipe 2. Peneliti berpendapat bah-
ak meningkatkan kualitas hidup. Promosi wa terapi progressive muscle relaxation
kesehatan dengan menggunakan pendekatan mampu memberikan rasa nyaman dan tenang
sosioekologi efektif untuk mempromosikan pada pikiran seseorang yang mengalami
kesehatan jiwa, fisik, meningkatkan fungsi kecemasan. Dari segi kognitif, jika seseorang
sosial dan dukungan sosial (Sun, Buys, dan mampu merilekskan pikirannya maka pikiran
Merrick, 2013). cemas yang dirasakan bisa ditekan dan di-
Penekanan konsep penyuluhan hilangkan. Hal ini sesuai dengan pendapat
kesehatan lebih pada upaya mengubah per- Brown (1997, dalam Snyder dan Lyndquist,
ilaku sasaran agar berperilaku sehat terutama 2009) yang mengatakan bahwa respon stres
pada aspek kognitif (pengetahuan dan pema- merupakan bagian dari jalur umpan balik
haman sasaran), sehingga pengetahuan sasa- yang tertutup antara otot-otot dan pikiran.
ran penyuluhan telah sesuai dengan yang di- Penilaian terhadap stressor mengaki-
harapkan oleh penyuluh kesehatan maka batkan ketegangan otot yang mengirimkan
penyuluhan berikutnya akan dijalankan sesuai stimulus ke otak dan membuat jalur umpan
dengan program yang telah direncanakan balik. Pemberian terapi progressive muscle
(Maulana, 2009). Tujuan penyuluhan relaxation akan memberikan dampak
kesehatan diantaranya tercapainya perubahan relaksasi otot yang akan menghambat jalur
perilaku seseorang dalam menjaga dan me- tersebut dengan cara mengaktivasi kerja sis-
melihara perilaku sehat, terbentuknya per- tem saraf parasimpatis dan manipulasi
ilaku sehat pada seseorang sesuai konsep hipotalamus melalui pemusatan pikiran untuk
hidup sehat (Effendy, 2001). Menurut WHO memperkuat sikap positif sehingga rangsan-
(2004) tujuan penyuluhan kesehatan adalah gan stres terhadap hipotalamus menjadi mini-
untuk merubah perilaku perseorangan dan mal.
atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Data penelitian menunjukkan tingkat
Asumsi dari peneliti, pada ke- kecemasan pada pasien DM tipe 2 yang
lompok kontrol tidak terdapat perbedaan diberikan terapi progressive muscle relaxa-
kualitas hidup sesudah diberikan penyuluhan tion yang tidak cemas sebanyak 6 orang teta-
kesehatan karena pemberian penyuluhan pi pada kelompok yang diberikan penyuluhan
kesehatan bersifat informatif dan tanpa dis- yang tidak cemas sebanyak 1 orang. Hal itu
ertai adanya kegiatan yang dapat mengubah juga sesuai dengan penelitian dari Lee, et. al.
perilaku. Untuk bisa tercapai perubahan per- (2012), bahwa kecemasan antara kelompok
ilaku dari pasien butuh waktu yang relatif yang mendapat terapi progressive muscle re-
lama dan dilakukan penyuluhan kesehatan laxation sangat jelas penurunannya. Dengan
yang sering. Hal ini sesuai dengan penelitian membandingkan dari tiap-tiap sesi,
Osaba, et. al. (2012), bahwa untuk membuat penurunan kecemasan sangat besar pada sesi
komitmen perawatan diri dan hidup sehat terakhir. Menurut peneliti hal ini dikarenakan
dibutuhkan kegiatan penyuluhan kesehatan karena efek relaksasi dari progressive muscle
selama 8 minggu dengan kegiatan yang tera- relaxation yang memberikan efek kenya-
tur. manan dan relaksasi sehingga mempunyai
5. Perbedaan Kecemasan Pasien DM Tipe dampak terhadap emosional dan pikiran
2 Pada Kelompok Perlakuan dan Ke- pasien.
lompok Kontrol Selain itu, hasil penelitian didapatkan
Hasil penelitian menunjukkan terdapat respon fisiologis pasien yang mandapatkan
perbedaan skor kecemasan pasien DM tipe 2 terapi progressive muscle relaxation men-
antara kelompok perlakuan dan kelompok galami perbedaan yang signifikan. Meskipun

54
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018
dari segi kognitif, perilaku dan afektif perbe- Hal itu sesuai dengan penelitian dari
daannya tidak signifikan. Dapat disimpulkan Yusra (2011), bahwa ada hubungan yang ber-
bahwa terapi progressive muscle relaxation makna antara tingkat pendidikan dengan nilai
mempunyai dampak langsung terhadap kualitas hidup pasien DM tipe Pendidikan
penurunan tanda dan gejala fisiologis dari merupakan faktor penting dalam memahami
kecemasan. Snyder & Lyndquist (2009), penyakit, perawatan diri, pengelolaan DM
mengatakan bahwa terapi progressive muscle tipe 2 serta pengontrolan gula darah. Pendidi-
relaxation bertujuan untuk mengurangi kon- kan dalam hal ini terkait dengan pengetahuan.
sumsi oksigen tubuh, laju metabolisme tubuh, Disampaikan pula oleh Mier et al (2008) bah-
laju pernapasan, ketegangan otot, penurunan wa pendidikan berhubungan secara signifikan
tekanan darah sistolik dan meningkatkan ge- dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 (p
lombang alpha otak, meningkatkan beta en- value = 0.000 α = 0.05). Gautam et al (2009),
dorphin dan meningkatkan imun seluler. yang menyampaikan bahwa kualitas
6. Perbedaan Kualitas Hidup Pasien DM hidup yang rendah berhubungan dengan
Tipe 2 Pada Kelompok Perlakuan dan rendahnya pendidikan yang dimiliki pasien
Kelompok Kontrol DM tipe 2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hal lain yang bisa menjadi penyebab
tidak terdapat perbedaan kualitas hidup pada tidak terdapat perbedaan kualitas hidup antara
pasien DM tipe 2 yang diberikan terapi pro- kelompok perlakuan dan kelompok kontrol
gressive muscle relaxation dan penyuluhan adalah prosedur post test yang dilakukan satu
kesehatan. Nilai p 0,076 (p >0,05) dengan hari setelah diberikan terapi. Hal itu dimung-
selisih perbedaan 3,160. kinkan pada pasien DM tipe 2 belum ada pe-
Terapi progressive muscle relaxation rubahan perilaku ataupun persepsi terkait
telah menunjukkan manfaat dalam mengu- kualitas hidup. Karena untuk menilai peru-
rangi kecemasan dan meningkatkan kualitas bahan tersebut membutuhkan waktu. Menurut
hidup dengan mempengaruhi berbagai gejala Soekanto (2002) yang mengatakan bahwa
fisiologis dan psikologis. Pada saat seseorang perubahan perilaku seseorang dapat terjadi
kondisi fisiologis maupun psikologisnya ba- melalui proses belajar. Belajar didefinisikan
gus maka akan dapat mempengaruhi kualitas sebagai suatu proses perubahan perilaku yang
hidup. Dimana salah domain dari kualitas didasari oleh perilaku terdahulu dan memer-
hidup yaitu kesehatan fisik dan psikologis. lukan waktu yang cukup lama. Penelitian ini
Hasil penelitian menunjukkan antara menggunakan metode crossectional sehingga
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol peneliti mengukur perubahannya dalam sekali
kualitas hidup tidak terdapat perbedaan. Hal waktu.
itu mungkin bisa disebabkan oleh beberapa 7. Analisis Faktor Yang Berhubungan
faktor diantaranya usia, jenis kelamin, pen- Dengan Kecemasan dan Kualitas
didikan, status ekonomi, dan lama menderita. Hidup Pasien DM Tipe 2 Setelah
Karakteristik responden pada penelitian ini Diberikan Terapi Progressive Muscle
jika dilihat tingkat pendidikan, pada ke- Relaxation
lompok perlakuan sebagian berpendidikan Hasil penelitian menunjukkan hanya
perguruan tinggi sebesar 56 % dan kelompok faktor pendidikan yang berhubungan dengan
kontrol sebagian juga berpendidikan perguru- kualitas hidup pasien DM tipe 2. Dimana ada
an tinggi sebesar 44 %. Asumsi dari peneliti, sekitar 4,9% pendidikan mempengaruhi
semakin tinggi pendidikan seseorang maka kualitas hidup pasien DM tipe 2 setelah
tingkat pengetahuan juga semakin tinggi dan dikontrol variabel lain.
kesadaran akan kesehatan juga tinggi. Apala- Kedua kelompok responden baik ke-
gi semua responden pada penelitian ini ter- lompok perlakuan maupun kelompok kontrol
gabung dalam klub DM yang sering rata-rata responden berpendidikan perguruan
mendapat tambahan pengetahuan terkait ma- tinggi. Seseorang yang mempunyai pendidi-
najemen terapi DM. kan tinggi maka pengetahuan yang dimiliki

55
Terapi Progressive
akan tinggi juga. Jika pengetahuan tinggi secara statistik tidak terdapat pengaruh yang
akan berpengaruh terhadap kesadaran akan signifikan antara tingkat pendidikan dengan
pentingnya kesehatan. Informasi terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2.
pencegahan penyakit akan mudah diterima
dan perilaku juga lebih mudah di ubah se- SIMPULAN DAN SARAN
hingga akan meningkatkan kualitas hidup Simpulan
seseorang. Dari hasil penelitian tersebut dapat
Menurut peneliti, pendidikan merupa- disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi
kan faktor penting dalam memahami suatu progressive muscle relaxation terhadap
penyakit, perawatan diri, manajemen terapi kecemasan dan kualitas hidup pada pasien
DM tipe 2 serta pengontrolan gula darah. DM tipe 2. Namun pada kualitas hidup antara
Pendidikan dalam hal ini terkait dengan kelompok perlakuan dan kontrol setelah
pengetahuan. Sehingga dapat dianalisa diberikan intervensi menunjukkan tidak ter-
dengan pendidikan dan pengetahuan yang dapat perbedaan kualitas hidup. Faktor yang
telah dimiliki akan memberikan kecender- berpengaruh terhadap kualitas hidup yaitu
ungan terhadap pengontrolan kadar gula faktor pendidikan.
darah, mengatasi tanda gejala yang muncul Saran
pada DM secara tepat serta mencegah ter- Hendaknya pada tatanan pelayanan di
jadinya komplikasi. Sejalan dengan penelitian rumah sakit umum mulai memberikan asuhan
Gautam, et. al. (2009), yang menyampaikan keperawatan jiwa pada pasien yang mengala-
bahwa kualitas hidup yang rendah berhub- mi penyakit kronis yang salah satunya penya-
ungan dengan rendahnya pendidikan yang kit DM tipe 2 untuk menurunkan kecemasan
dimiliki pasien DM tipe 2. dan meningkatkan kualitas hidup. Sehingga
Pasien dengan pendidikan tinggi akan asuhan keperawatan yang diberikan pada
dapat mengembangkan mekanisme koping pasien dilakukan secara holistik.
yang konstruktif dalam menghadapi stresor.
Hal ini disebabkan karena pemahaman yang KEPUSTAKAAN
baik terhadap suatu informasi, sehingga indi- Arya, B. (2013). Penjelasan teknis
vidu tersebut akan menyikapi dengan positif teknologi gelombang otak. http://
serta akan mengambil tindakan yang tepat www.gelombangotak.com/tekn olo-
dan bermanfaat untuk dirinya. Hasil gi_gelombang_otak.htm. Diakses pada
penelitian Yusra (2011), hubungan antara tanggal 10 September 2015.
tingkat pendidikan dengan kualitas hidup Batubara, J. R. (2013). Penatalaksanaan Dia-
menunjukkan ada hubungan yang bermakna betes Melitus Pada Anak. In S.
antara tingkat pendidikan dengan nilai kuali- Soegondo, P. Soewondo & I. Subekti
tas hidup responden. Disampaikan pula oleh (Eds.), Penatalaksanaan Diabetes Meli-
Mier, et. al. (2008) bahwa pendidikan tus Terpadu (2nd ed.). Jakarta: FKUI.
berhubungan secara signifikan dengan kuali- Copstead, L.C. & Banasik, J.L. (2000).
tas hidup pasien DM tipe 2 (p value = 0.000 α Pathofisiology (2nd ed.) Philadelphia:
= 0.05). W.B. Saunders Company.
Menurut Kaawoan (2012), kemampuan Depkes, R. I. (2013). Riset Kesehatan Dasar
self care pasien juga akan menentukan kuali- 2013. Jakarta: Depkes RI.
tas hidup pasien itu sendiri. Kaitannya Effendy, N. (2001). Dasar-
dengan tingkat pendidikan yaitu pasien yang Dasar Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
memiliki tingkat pendidikan yang tinggi EGC.
memiliki hubungan dengan kemampuan self Gautam, Y., Sharma, A. K., Agarwal, A. K.,
care behaviour dan kepatuhan terhadap pen- Bhatnagar, M. K., & Trehan, R. R.
gobatan. Selain itu tingkat pendidikan juga (2009). A cross sectional study of QOL
berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang of diabetic patient at tertiary care hos-
terhadap manajemen pengobatan yang dijal- pital in Delhi. Indian Journal of Com-
aninya (Moser & Watkins, 2008). Namun munity Medicine, 34(4), 346-350.
berdasarkan penelitian Spasic (2014), bahwa Kaawoan, A. Y. A. (2012). Hubungan Self

56
JRKN Vol. 02/No. 01/April/2018
Care dan Depresi Dengan Kualitas related quality of life in a heterogene-
Hidup Pasien Heart Failure Di RSU ous patient population. Gen Hosp Psy-
Prof Dr.R.D. Kandou Manado. chiatry, 23(4), 183-192.
Universitas Indonesia, Jakarta. Richmond, R. L. (2007). A guide to psychol-
Lee, E.-J., Bhattacharya, J., Sohn, C., & ogy and its practice. from
Verres, R. (2012). Monochord sounds www.guidetopsychology.com/p mr.
and progressive muscle relaxation re- Diakses pada tanggal 5 Januari 2015.
duce anxiety and improve relaxation Smeltzer, S., & Bare. (2008). Brunner &
during chemotherapy: A pilot EEG Suddarth’s Textbook of
study. Complementary Therapies in Medical Surgical Nursing.
Medicine, 20, 409-416. Philadelpia: Lippincott.
Martin-Valero, R., Cuesta-Vargas, A. I., & Snyder, M., & Lyndquist, R. (2009).
Labajos-Manzanares, M. T. (2013). Complementary/ alternative Therapies
Effectiveness of the physical activity in Nursing (6th ed.). New York:
promotion programme on the quality Springer Publishing Company.
of life and the cardiopulmonary func- Soekanto, S. (2002). Sosiologi Suatu Pengan-
tion for inactive people: Randomized tar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
controlled trial. BMC Public Health, Spasic, A., Radovanovic, R. V., Dordevic, A.
13(127), 1-7. C., Stefanovic, N., & Cvetkovic, T.
Maulana, H. D. J. (2009). Promosi (2014). Quality of life in type 2 diabet-
Kesehatan. Jakarta: EGC. ic patients. Scientific Journal Of The
Mier, N., Alonso, A. B., Zhan, D., Zuniga, Faculty Of Medicine In Nis, 31(3), 193
M. A., & Acosta, R. I. (2008). Health- -200.
related quality of life in a binational Stuart, G. W. (2007). Buku Saku Keperawa-
population with diabetes at the Texas- tan Jiwa (5th ed.). Jakarta: EGC.
Mexico border. Rev Panam Salud Pub- Subekti, I. (2013). Apa itu diabetes: Patofisi-
lica, 23(3), 154-163. ologi, Gejala dan Tanda. In S.
Moser, D.K., & Watkins, J.F. (2008). Con- Soegondo, P. Soewondo & I. Subekti
ceptualizing self care in heart failure: a (Eds.), Penatalaksanaan Diabetes Meli-
life course model of patient character- tus Terpadu (2nd ed.). Jakarta: FKUI.
istic. Journal of Cardiovascular Nurs- Sun, J., Buys, N., & Merrick, J. (2013).
ing, 23 (3), 205-218. Health promotion to improve quality of
Nayeri, N. D., & Hajbaghery, M. A. (2011). life and prevent depression and anxie-
Effects of progressive relaxation on ty. Int Public Health Journal, 5(4), 381-
anxiety and quality of life in female 382.
Suliswati, (2005). Konsep Dasar Keperawa-
students: A non-randomized controlled trial. tan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Complementary Therapies in Medi- Supriati, L. (2010). Pengaruh terapi thought
cine, 19, 194-200. stopping dan progressive muscle relax-
Osaba, M.-A. C., Val, J.-L. D., Lapena, C., ation terhadap ansietas pada klien
Laguna, V., Garcia, A., Lozano, O., et dengan gangguan fisik di RSUD Dr.
al. (2012). The effectiveness of a Soedono Madiun. Tesis. Tidak Dipub-
health promotion with group interven- likasikan, Universitas Indonesia, Jakar-
tion by clinical trial. Study protocol. ta.
BMC Public Health, 12(209), 1-6. WHO. (2004). Introducing the WHOQOL
Prawitasari, J. E. (2002). Psikoterapi: Pen- instruments. From http://
dekatan Konvensional dan Kontem- dept.washington.edi/yqol/docs/
porer. Yogyakarta: Unit Publikasi whoqol_infopdf. Diakses pada tanggal
Fakultas Psikologi UGM. 22 November 2014.
Reibel, D., Greeson, J., Brainard, G., & Yusra, A. (2011). Hubungan antara dukungan
Rosenzweig, S. (2001). Mindfulness- keluarga dengan kualitas hidup pasien
based stress reduction and health- diabetes mellitus tipe 2 di Poliklinik

57
Terapi Progressive
Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum
Pusat Fatmawati Jakarta. Tesis. Tidak
Dipublikasikan, Universitas Indonesia,
Jakarta.
Yildirim, A., Akinci, F., Gozu, H., Sargin,
H., Orbay, E., & Sargin, M. (2007).
Translation, cultural adaptation, cross-
validation of the Turkish diabetes
quality of life (DQOL) measure. Qual-
ity Life Research, 16, 873-879.
Zhou, K., Li, X., Li, J., Liu, M., Dang, S.,
Wang, D., et al. (2014). A clinical ran-
domized controlled trial of music ther-
apy and progressive muscle
relaxation training in female breast
cancer patients after radical mastecto-
my: Results on depression, anxiety
and length of hospital stay. European
Journal of Oncology Nursing, 1-6.

58