Anda di halaman 1dari 7

Mengatasi Kekuatiran Hidup

Berdasarkan Ajaran Kristus dalam Matius 6:25-34


“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu
makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada
pakaian?” (Matius 6:25)

Pendahuluan

Kekuatiran adalah “rasa takut tentang sesuatu hal yang belum pasti terjadi; merasa cemas; atau merasa
gelisah”. Kekuatiran hadir pertama kali dalam kehidupan manusia sebagai akibat dosa. Kekuatiran
merupakan dampak dari kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam dosa. Akibat dari kejatuhan
itu, dosa telah menjalar kepada semua manusia dan menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan
manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2
Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15).

Sebagaimana dosa bersifat universal, maka kekuatiran juga bersifat universal. Artinya, tidak ada seorang
pun manusia yang tidak pernah mengalami kekuatiran. Setiap orang pernah merasa kuatir tentang sesuatu
hal. Manusia selalu diserang oleh kekuatiran dan tekanan-tekanan hidup yang dapat memperburuk
keadaannya. Banyak orang yang kuatir mendererita kesulitan-kesulitan jasmani seperti: gugup, tidak bisa
tidur, gelisah, sakit kepala, sulit bernafas, keringat berlebihan, dan sebagainya. Ketidakmampuan
melepaskan diri dari kekuatiran dapat membawa seseorang kepada keadaan yang lebih serius seperti stres,
depresi dan gangguan mental lainnya, bahkan bunuh diri. Itu sebabnya, Kristus memberikan pengajaran
khusus tentang kekuatiran, dan melarang sikap kuatir ini (Matius 6:25-34)

Bentuk-Bentuk Umum Kekuatiran

Bentuk kekuatiran yang dialami manusia secara umum, yaitu: Pertama, kuatir terhadap akibat dari
kejahatan atau kesalahan yang telah dilakukan. Tatkala Adam berdosa dengan cara melanggar perintah,
maka ia mulai sadar akan dirinya, menyadari kesalahannya, dan menjadi takut kepada Tuhan. Ketakutan
ini diekspesikan dengan menyembunyikan dirinya dari hadapan Tuhan (Kejadian 3:7-11). yang
menyatakan, “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu
mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah
TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan
isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah
memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku
mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku
bersembunyi." Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang?
Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Saat ini, banyak orang yang
melakukan kesalahan atau kejahatan hidup di dalam ketakutan. Mereka kuatir bahwa apa yang telah
mereka lakukan diketahui orang lain, dan menyadari konsekuensi yang akan dialami akibat perbuatan
mereka tersebut. Supaya kesalahan atau kejahatan tersebut tidak ketahuan, maka mereka berupaya
sedemikian rupa untuk menutupinya. Tujuannya adalah supaya dosa itu tidak diketahui orang lain! Tetapi
justru hal ini yang menjadikan hidup mereka hancur karena kekuatairan akan “terbongkarnya” kesalahan
dan kejahatan terus membayangi hidup mereka.

Kedua, kekuatiran pada realiatas kematian yang pasti akan dialami. Seseorang tidak dapat memprediksi
kapan kita mati. Masalah kematian merupakan misteri yang penuh dengan berbagai teka-teki yang
membingungkan. Kapan, dimana dan bagaimana seseorang mati adalah misteri baginya. Tidak ada
seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya. Tidak ada seorang pun yang tahu
pasti berapa panjang usianya di dunia ini. Bila kita melakukan riset singkat ke kuburan, dan mencatat usia
mereka yang meninggal, pastilah kita akan menemukan berbagai jenis usia, mulai dari bayi, anak kecil,
remaja, pemuda, dewasa, dan orang tua yang usianya mungkin mencapai 100 tahun sesungguhnya kita
tidak bisa mengukur atau menebak berapa usia seseorang. Statistik dunia memberitahukan kita bahwa
setiap dua setengah detik, ada seorang manusia yang meninggal dunia. Bagaimana cara matinya pun
bervariasi. Sekali lagi, semua fakta memberikan kita teka-teki tentang misteri kematian, sekaligus
memberikan tanda peringatan agar kita bersiap-siap menghadapi kematian bila datang menjemput. Tetapi,
sayangnya banyak orang yang tidak siap ketika kematian kapan saja bisa datang menjemputnya. Pilihan-
pilihan dalam hidup kita sekarang ini akan menentukan kemana kita akan pergi setelah kematian.

Ketiga, kekuatiran terhadap hidup dan kehidupan yang harus dijalani setiap hari. Orang yang kuatir
sedemikian tercekam tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Sampai mereka lupa mengurus masa
kini. Mereka ditandai oleh kekuatiran tentang segala macam hal. Hal-hal kecil yang tak berarti akan
dibesar-besarkan. Mereka kuatir kesulitan masa depan, kuatir tentang kesehatan, kuatir tentang pekerjaan,
kuatir tentang keluarga, dan lainnya yang sebnarnya hanya ada dalam angan-angan mereka.
Alasan Mengapa Kita Tidak Perlu Kuatir?

Kristus memerintahkan agar kita tidak perlu kuatir tentang hidup kita, tentang apa yang kita makan
minum dan pakai, serta tidak perlu kuatir tentang masa depan kita (Matius Tetapi disini perlu ditegaskan
beberapa salah tafsir mengenai ajaran Yesus dalam Matius 6:25-34 ini, yaitu: (1) Ada yang beranggapan
bahwa orang Kristen tidak perlu bekerja. Ini adalah kesalahan dalam memahami ayat 32. (2) Ada juga
yang mengajarkan orang Kristen tidak perlu membuat rencana mengenai masa depan mereka. Ini adalah
kesalahan dalam memahami ayat 34. (3) Ada juga yang salah memahami ayat 33 sehingga motivasinya
bukan mencari kerajaan Allah dan kebenarannya, tetapi mencari “semua yang akan ditambahkan”. Ini
jelas keliru!

Berdasarkan yang dikatakan Tuhan Yesus tersebut beberapa alasan yang menjadikan kita tidak perlu
kuatir, yaitu:

Pertama, kita tidak perlu kuatir karena kita memiliki Allah Bapa yang mahabaik dan berkemurahan
(Matius 6:26,28-30). Dalam ayat 26 ini, Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan kepada Bapa di
Sorga dengan menggunakan contoh bagaimana Allah memelihara burung-burung itu. Walaupun burung
itu tidak menjalankan menabur dan menuai, serta mengumpulkan dalam lumbung, namun binatang itu
menerima makanan dari Tuhan. Kalau Tuhan memelihara binatang itu, apalagi anak-anak-Nya, Ia pasti
memelihara mereka. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tempat yang lebih penting dan berharga
daripada burung-burung itu.

Kemudian, dalam ayat 28-32. Tuhan Yesus mengambil contoh “bunga bakung di ladang" untuk
melukiskan kasih Allah Bapa yang memelihara. Sebenarnya, Bunga Bakung yang dimaksudkan disini
kemungkinan besar adalah bunga anemone, yang banyak sekali di lereng gunung pada bulan Februari dan
Maret di Palestina, dengan warnanya yang ungu, sama dengan pakaian kebesaran seorang raja. Kemudian
yang dimaksud dengan “rumput” dalam ayat 30 mengacu pada bunga-bunga anemone itu. Jadi, apa yang
dimaksud dalam ayat 29 merujuk kepada Raja Israel Salomo yang terkenal akan kekayaannya, bunga
anemone yang begitu singkat umurnya, dan yang tidak lama kemudian ikut terpotong bersama rumput
yang dipakai sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan manusia (lihat Yakobus 1:11). Bunga itu,
kata Yesus, mempunyai “pakaian” lebih indah daripada raja Salomo. Dan semuanya itu, karena Allah
yang menghiasinya; karena bunga itu tidak bekerja dan tidak memintal untuk memperoleh “pakaian”
tersebut. Jadi, jikalau Tuhan sedemikian rupa memelihara bunga yang dianggap sebagai tidak berharga,
maka pastilah Bapa di Sorga akan memberi pakaian kepada anak-anak-Nya yang percaya akan Dia dan
yang mau taat kepada-Nya.

Sebagai anak-anakNya, kita perlu mengetahui bahwa merupakan kesenangan bagi Bapa memenuhi semua
kebutuhan kita. Yesus sendiri menegaskan “Akan tetapi Bapamu yang disurga tahu, bahwa kamu
memerlukan semuanya itu” (matius 6:32b).

Kedua, kekuatiran tidak pernah menyelesaikan masalah-masalah kita (Matius 6:27). Pada ayat 27 ini,
Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa kekuatiran itu tidak berguna. Walau makanan itu penting bagi
pertumbuhan seseorang, tetapi pertumbuhan itu sendiri Allahlah yang mengendalikan. Waktu seorang
anak bertumbuh menjadi dewasa. Allah menambahkan jauh lebih daripada sehasta (46 cm). Para ahli
Alkitab memberi arti istilah Yunani “tên hêlikian” atau “tinggi badan” tersebut dengan pengertian
“umur”. Sedangkan dan kata Yunani “Pêkhun hena” atau “satu hasta” diartikan sebagai ukuran waktu
(bukan ukuran tinggi badan). Naskah asli Yunani di sini sebenarnya diterjemahkan menjadi "dengan
kekuatiran, kamu tidak dapat menambahkan satu hasta pada ketinggian badanmu". Tetapi karena jarang
ada orang yang ingin supaya tingginya bertambah dengan satu hasta, maka kebanyakan Ahli kitab
menganggap “hasta” sebagai waktu tambahan kepada umur. Dengan demikian jelaslah bahwa dengan
kekuatiran, kehidupan manusia tidak dapat diperpanjang.

Ringkasnya, kekuatiran tidak membantu kesulitan esok hari, tetapi benar-benar merusak kebahagiaan hari
ini. Semakin kita kuatir semakin sulit dan berat kehidupan yang kita jalani karena itu jangan pernah
membiarkan kekuatiran mengarahkan hidup kita. Sehari penuh kekuatiran lebih melelahkan ketimbang
sehari penuh bekerja. Kekuatiran akan hidup dan masa depan adalah pemborosan masa sekarang. Jika kita
tidak dapat menghindar dari rasa kuatir, ingatlah kuatir juga tidak akan pernah membantu kita.

Ketiga, pilihan untuk tidak kuatir adalah sikap percaya dan ketaatan pada perintah Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan memberikan perintah kepada kita untuk tidak kuatir. Berulang-ulang Ia mengingatkan kita akan
perintah tersebut yang mengatakan “janganlah kamu megkuatirkan hidupmu! (Yunani: mê merimnate tê
psukhê humôn)” (Matius 6:25). Tuhan mengajarkan agar kita menyerahkan segala keinginan kita
kepadaNya dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Bagaimana mengatasi kekuatiran kita?

Pertama, percaya dan berserah kepada Tuhan. Perhatikan frasa "hai orang yang kurang percaya" dalam
ayat 30 ini adalah kata Yunani “oligopistoi” yang berari “hai yang beriman kecil”. Ungkapan ini
dipergunakan 4 kali dalam Injil Matius, satu kali dalam Injil Lukas, sebagai dorongan pertumbuhan
maupun tegoran yaitu “jangan menjadi orang yang kurang percaya!” atau “jangan menjadi kuatir dan
gelisah!” Sementara, bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah hidup dalam kekuatiran karena mereka
tidak mengenal Bapa di Sorga; tidaklah demikian dengan orang-orang percaya yang mengenal Allah,
Bapa yang mengetahui kebutuhan anak-anak-Nya dan dengan murah hati memberi kepada kita.

Kata Yunani “dicari” dalam ayat 32 adalah “epizêtei” yang berarti “berusaha keras mencari” yang
bermakna “pencarian sekuat tenaga dengan kerja keras dan beban berat”. Orang-orang yang tidak
mengenal Allah mengejar meteri karena kekuatiran mereka dengan cara “epizêtei” ini. Tuhan tidak
menginginkan kita mengejar materi dengan cara seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah ini.
Tuhan mau supaya kita mendahulukan mencari kerajaanNya dan kebenaranNya. Saat kita melakukannya,
semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Karena itu tetaplah percaya dan setia pada Tuhan.
Pemazmur mengatakan “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan
bertindak” (Mazmur 37:5). Ketika kita tidak memiliki apapun, selain Tuhan, itu cukup bagi kita, karena
memang hanya Dia yang kita perlukan! Kita akan selalu mengalami kesulitan jika berusaha mengatasi
masalah hidup tanpa Tuhan. Carilah Dia dengan segenap hati. Selanjutnya Pemazmur mengatakan lagi
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh,
tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah
menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;
tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat” (Mazmur
37:23-26).

Kedua, mencari kerajaan Allah dan Kebenarannya. Ayat 33 : Adalah ucapan yang monumental, kalau
Tuhan Yesus mengatakan: “Carilah (lebih) dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran Allah”. Frase
Yunaninya adalah “zêteite prôton tên basileian tou theou kai tên dikaiosunên autou”. Kata “carilah”
dalam ayat ini adalah “zeteite” berasal dari kata “zeteo” yang yang berarti “mencari” adalah bentuk kata
kerja aktif yang bermakna “menunjuk terjadinya keasyikan terus-menerus ketika mencari sesuatu;
berusaha dengan sungguh-sungguh dan tekun untuk memperoleh sesuatu”. Sedangkan kata Yunani untuk
kata “dahulu” dalam ayat 33 ini adalah “proton” yang berarti “pertama dalam urutan atau kepentingan;
menempati tempat yang tertinggi dari semua kesenangan kita”. Ini artinya, kita diminta untuk
mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya diatas segala hal. Jadi prioritas pertama dan utama kita
setiap hari adalah mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya. Dan saat kita melakukannya, maka kita
akan mengalami “panta prostethêsetai humin”, yaitu “semua akan diberikan dan ditambahkan kepadamu”.
Kata Yunani “prostithêmi” dapat diterjemahkan dengan “diberikan” atau “ditambahkan”. Kedua arti
tersebut, baik “diberikan” maupun “ditambahkan” dapat kita pergunakan secara bersama-sama. Hal ini
dapat dipahami karena Allah yang mengetahui kebutuhan kita, Ia juga akan menyediakan, memberikan,
dan menambahkan yang kita perlukan baik jasmani maupun rohani (Bandingkan 2 Korintus 9:8).

Lalu, apakah yang dimaksud dengan “mencari kerajaan Allah dan KebenaranNya?” Yang dimaksud
dengan frasa “tên basileian tou theou” atau “kerajaan Allah” adalah otoritas dan pemerintahan Allah. Kita
harus menempatkan sungguh-sungguh kepemimpinan, otoritas dan supremasi Allah dinyatakan melalui
kehidupan kita. Dengan mencari kerajaan Allah berarti bahwa kita hendak melakukan dan
memberlakukan kehendak dan otoritas Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Sedangkan kata “tên
dikaiosunên autou”, atau “kebenaran-Nya” disini berkaitan dengan sifat atau karakter yang ada pada
Allah. Mencari kebenaran disini berarti kita berkata, bertindak dan bertingkah laku yang sesuai dengan
karakter Allah. Pertama-tama kebenaran yang kita cari adalah kedudukan kita yang benar dihadapan
Allah melalui anugerah yang kita terima dalam Kristus (Roma 5:17). Kedua, dengan augerahNya kita
tetap berpegang pada kebenaran melalui kasih dan ketaatan kepada Allah (Efesus 4:16). Dengan
demikian, mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya berarti kita mengutamakan dan
memberlakukan terus menerus supremasi dan perintah Allah dalam hidup kita. Menempatkan Allah
sebagai yang pertama dan terutama, berarti kita merelakan Dia memerintah atas hidup kita.

Penutup

Tuhan kita, Yesus Kristus mengakhiri ajaranNya tentang kekuatiran ini dengan berkata, “Sebab itu
janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan
sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Frase Yunani untuk ayat ini adalah “mê oun merimnêsête eis
tên aurion hê gar aurion merimnêsei ta eautês arketon tê hêmera hê kakia autês”, dapat diterjemahkan
menjadi “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok akan mengurus persoalan-
persoalannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”. Terjemahan yang lebih ringkas tetapi
tepat adalah sebagai berikut: "Biarkanlah besok mengurus persoalan-persoalannya sendiri". Dalam bahasa
Yunani, kata “merimnêsei” berarti “akan mengkuatirkan” (kata kerja dalam bentuk future active
indicative (future tense)) kadang-kadang dipakai dengan arti "biarkanlah" (imperatif). Sedangkan yang
dimaksud dengan frase “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari", mengandung makna bahwa kesusahan
yang dimaksud jelas jasmaniah maupun batiniah, mengacu kepada persoalan-persoalan yang mungkin
timbul. Dengan demikian maknanya jelas, bahwa kita tidak perlu menambahkan masalah esok kepada
masalah hari ini.
Tuhan mengetahui bahwa di dalam kehidupan kita masing-masing setiap hari ada persoalan, entah kecil
atau besar, yang harus kita hadapi dengan pertolongan Tuhan. Jika kita mengkuatirkan hari esok, maka
beban kita justru akan bertambah. Disini, kita mendapat pelajaran yang berharga dari Yesus Kristus,
Tuhan kita, agar kita “Janganlah kuatir tentang apapun juga”. Hal yang sama juga dikatakan Paulus
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal
keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Demikian
juga dengan Petrus yang menasihati supaya “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia
yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7). Amin.