Anda di halaman 1dari 10

Kelompok IV :

1. Adam Muzakir
2. Adi Pamungkas
3. Aninda Nuraini
4. Damar Fajar Meyhandika
5. Kirey Mahalani
6. Shella Putri Sisna
7. Syehqi Putra Hersyah
Pemberontakan G 30 S / PKI
Pemberontakan G 30 S / PKI adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada
1 Oktober 1965, yang menyebabkan Tujuh Perwira TNI AD beserta
beberapa orang lainnya dibunuh dalam sebuah usaha kudeta yang
dilakukan oleh PKI.
Mereka menculik dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Mayjen
R.Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I.
Panjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre A. Tendean.
Jasad mereka dimasukkan ke dalam sumur di Desa Lubang Buaya,
Jakarta Timur. Inilah sumur tua sedalam 12 M dan berdimeter 75 Cm
yang digunakan PKI untuk mengubur Tujuh Jenazah Pahlawan Revolusi.

Adapun korban lainnya dalam peristiwa ini yaitu Aiptu K.S. Tubun dan
Ade Irma Suryani, putri Jendral A H Nasution.
PERISTIWA TIGA DAERAH

( 4 NOVEMBER 1945)

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, kelompok


Komunis bawah tanah mulai muncul. Mereka
memasuki organisasi-organisasi massa dan pemuda
seperti Angkatan pemuda Indonesia (API), Angkatan
Muda Republik Indonesia (AMRI).
Dengan menggunakan organisasi-organisasi massa
pemuda, orang-orang Komunis memimpin aksi
penggantian para pejabat pemerintahan di tiga
Kabupaten Keresidenan Pekalongan yang meliputi
Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang.Usaha untuk
meredam gerekan mereka dilakukan oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Tegal tetapi
gagal. Pada tanggal 8 Oktober 1945 AMRI Slawi di bawah pimpinan Sakirman tokoh komunis
bawah tanah,dan AMRI Talang melakukan terror. Mereka menangkapi pejabat pemerintah dan
dan emlakukan pembunuhan yang mengerikan di jembatan Talang. Pada tanggal 4 November
1945 pasukan AMRI dan massa menyerang kabupaten dan markas TKR, namun berhasil
digagalkan. Setelah gerakan di Tegal gagal, tokoh-tokoh komunis membentuk Gabungan Badan
pengembangan Tiga Daerah yang dipimpin oleh K.Mijaya, melakukan perebutan kekuasaan di
Keresidenan Pekalongan.
AKSI TEROR GEROMBOLAN CE’MAMAT

( 9 DESEMBER 1945)

Ce’Mamat, tokoh komunis1926 yang


terpilih sebagai ketua Komite Nasional
Indonesia (KNI) Serang menuduh
pemerintah RI di Banten sebagai
kelanjutan Pemerinta Kolonial. Rakyat
dihasut untuk tidak mempercayai pejabat
pemerintah. Pada tanggal 17 Okrober
1945 ia membentuk Dewan Pemerintah
Rakyat Serang dan merebut Pemerintah Keresidenan Banten. Selanjutnya ia menyusun
pemerintah model Soviet.
Untuk memperkuat kekuasaanya. Ce’Mamat dan para pengikutnya antara lain Laskar Gulkut
melakukan berbagai terror, merampok harta benda rakyat, menculik dan membunuhpejabat
pemerintah. Bupati Lebak R.nHardiwinangun termasuk salah seorang pejabat pemerintah yang
menjadi korban. Kesempatan membunuh bupati ini terbuka ketika Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Moh.Hatta berkunjung ke daerah Banten. Dengan dalih dipanggil oleh presiden.
Ce’Mamat dan anak buahnya menjemput R. Hadiwinangun dari rumahnya di Rangkasbitung.
Ternyata ia dibawa ke desa Panggarangan bukan ke Serang. Pagi hari tanggal 9 Desember 1945,
mereka membunuh R. Hardiwinangun dengan tembakan di jembatan sungai Cimancak dan
membuang jenazahnya kesungai.
PEMBERONTAKAN PKI DI CIREBON

( 14 FEBRUARI 1946)

Dengan dalih untuk memeriahkan konferensi Laskar


Merah pada Januari 1946, pimpinan PKI Mr.
Joesoeph dan Mr. Soeprapto mendatangakan Laskar
Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Cirebon
sebanyak 3000 orang. Jumlah itu masih ditambah
dengan kekuatan Laskar Merah Cirebon. Dengan
pasukan itu PKI melakukan unjuk kekuatan. Mereka
berbaris keliling kota sekaligus memancing insiden
dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Polisi.
Pada tanggal 12 Februari 1946 Laskar Merah melucuti
TRI, menguasai kota dan gedung vital yaitu stasiun
radio dan pelabuhan. Hotel Ribbrinck mereka jadikan markas untuk merebut kekuasaan
pemerintah daerah.
Untuk mencegah pertumpahan darah,pimpinan Divisi II/Sunan Gunung Jati mencoba
menyelesaikan peristiwa ini secara musyawarah dengan pimpinan PKI dan meminta agar
senjata TRI dikembalikan. Oleh karena itu pihak PKI menolak, maka pada tanggal 14 Februari
1946 TRI melancarkan serangan untuk merebut dan menguasai kembali Kota Cirebon. Pos
penjagaan PKI berhasil dilumpuhkan dan markas besar PKI Di Hotel Ribbrinck dapat dikuasai.
Sebagian pasukan Laskar Merah menyerahkan diri dan sebagian lain melarikan diri. Pemimpin
PKI MR.joesoeph dan Mr. Soeprapto ditangkap, kemudian diajukan ke pengadilan Militer untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya.
PERISTIWA REVOLUSI SOSIAL DI LANGKAT

( 9 MARET 1946 )

Lahirnya Republik Indonesia belum


sepenuhnya diterima oleh kerajaan-kerajaan
yang masih ada di Sumatera Timur. Akibatnya
timbul rasa tidak puas pada sebagian rakyat
dan menuntut agar system kerajaan dihapus.
Situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok
komunis (PKI dan Pesindo) untuk
menghapuskan pemerintah dengan cara
kekerasan. Pada tanggal 3 Maret 1946, apa
yang disebut revolusi social dimulai. Revolusi itu bukan gerakan massa secara spontanitas tetapi
gerakan yang sudah direncanakan. Revolusi tidak hanya ditunjukan untuk menghapus
pemerintah kerajaan tetapi juga membunuh raja-raja dan keluarganya serta merampas harta
benda kerajaan.
Pada hari pertama aksi terror dan pembunuhan terjadi di Sanggul, Tanjung Balai, Rantau
Prapat dan Pemantang Siantar. Walaupun pada tanggal 5 Maret 1946 1946 Kerajaan Langkat
secara resmi dibubarkan dan ditempatkan dibawah pemerintah RI di Sumatera Timur, namun
Sultan Langkat dan keluarganya tidak luput dari tindak kekerasan. Pada malam hari tanggal 19
Maret 1946 massa PKI dibawah pimpinan tokoh PKI Usman Parinduri dan Marwan, menyerang
istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura. Malam ini juga istana diduduki massa PKI.
Sultan dan keluarganya ditawan dan dibawa ke Batang Sarangan. Beberapa orang anggota
keluarga Sultan dibunuh.
PEMBUNUHAN DI KAWADENAN NGAWEN
( 20 SEPTEMBER 1948 )
Pada tanggal 18 September 1948,
Markas Kepolisisan Distrik Ngawen
( Blora ) diserbu oleh pasukan PKI.
Dua puluh empat anggota polisi dan
tujuh orang yang masih muda
dipisahkan, mereka ditelanjangi
kemudian disekap di sebuah
ruangan sempit di belakang
Kawedanan Ngawen. Selama
disekap tanpa busana, mereka makan diberi sekali, kemudian dating perintah dari pimpinan PKI
Blora agar mereka dihukum mati.
Tanggal 20 September 1948, tujuh orang anggota polisi itu dikeluarkan dari tahanan dibawa ke
suatu tempat terbuka kakus di belakang kawedanan. Dengan pengawalan ketat mereka disuruh
duduk di tanah. Dua orang PKI datang membawa dua batang bambu yang sudah diikat
ujungnya. Acara penghukuman dimulai. Secara bergantian tahanan dipanggil dan disuruh
berdiri. Dua batang bambu dipegang ujungnya oleh dua orang PKI kemudian dijepitkan ke leher
anggota polisi. Pasukan PKI bersorak- sorak ketika tawanan mengerang kesakitan. Para tahanan
lain disuruh menonton. Setelah tawanan mati, jenazahnya diangkat beramai-ramai dilempar
kedalam lubang kakus. Untuk meyakinkan bahwa para tahanan sudah mati, tembakan salvo
diarahkan ke dalam lubang kakus.
PEMBEBASAN GORANG-GARENG
( 28 SEPTEMBER 1948 )
Pada waktu PKI melakukan
pemberontakan di Madiun, mereka
menculik lawan-lawan politiknya
seperti alim-ulama, tokoh
masyarakat, raja, dan polisi.
Tindakan ini dilakukan tidak hanya di
Madiun tetapi juga dilakukan di
daerah-daerah lain, termasuk
Gorang-Gareng, sebelah baratdaya
Madiun. Ditempat ini terdapa pabrik
gula Rejosari, yang menjadi markas
pasukan komunis. Di pabrik gula ini
PKI mengumpulkan sejumlah tawanannya. Pemerintah dan rakyat setempat tidak berdaya
untuk melakukan perlawanan terhadap tindakan sewenang-wenang pihak komunis.
Pada tanggal 28 September 1948, batalnya Sambas yang sedang bergerak untuk membebaskan
kota Madiun tiba di Gorang-Gareng. Mereka mematahkan perlawanan pasukan PKI yang
mencoba menghadang gerak maju pasukan TNI. Dalam usaha mengamankan daerah itu dari
cengkraman komunis, TNI membebaskan tawanan yang belum sempat dibunuh dan merawat
yang luka-luka. Di Gorang-Gareng ini pasukan Sambas menemukan puluhan orang yang sudah
dibunuh oleh PKI, termasuk yang dibunuh di pabrikgula Rejosa
PENGHANCURAN PKI DI SOOKO

( 28 SEPTEMBER 1948 )

Setelah gagal merebut kota Trenggalek,


Batalyon Maladi Yusuf, membuat kubu
pertahanan di desa Sooko, dikaki gunung
Wilis, Ponorogo. Disini terdapat pula
pasukan PKI lainnya dibawah pimpinan
Soebardi, dan pasukan Panjang
Djokopriyono sehingga pertahanan
pasukan PKI bertambah kuat. Lawan-
lawan politiknya, antara lain Asisten
Wadana ( Camat ) Sooko, sudah lebih
dulu dibersihkan.

Pada tanggal 28 September 1948, Kompi


Sumandi dari Batalyon Sunandar dan
Kompi Sobirin Muchtar dari Batayon
Mujayin melakukan serbuan terhadap
kubu pertahanan pasukan PKI tersebut dari dua arah. Kompi Sumandi menyerbu dari bagian selatan
berhasil merebut Thuk Puyangan sebuah bukit yang tidak jauh dari markas komando pasukan PKI.
Maladi Yusuf tertembak dibagian pahanya, kompi Sobirin Muchtar menyerbu dari arah utara. Karena
terkepung Maladi Yusuf mengarahkan seluruh kekuatan pasukannya untuk membendung serbuan TNI.
Usaha itu tidak berhasil. Pasukan PKI terdesak dan tidak mampu lagi bertahan di desa Sooko.
Pertempuran yang mulai berlangsung sejak pukul 10.00 pagi baru berakhir pada senja hari setelah
pasuka Maladi Yusuf dipukul mundur dengan meninggalkan banyak korban dan senjata antaralain 5
pucuk SMB 12,7.
RAKYAT JAKARTA MENYAMBUT PEMBUBARAN PKI
( 12 MARET 1966)

Pada malam hari tanggal 11 Maret


1966 Mentri/Panglima Angakatan
Darat Letjen TNI Soeharto menerima
surat perintah yang dikenal dengan
nama surat perintah 11 Maret atau
Supersemar dari Presiden Sukarno.
Surat perintah tersebut berisi
wewenang untuk mengambil
tindakan yang dianggap perlu guna
menjamin keamanan dan ketertiban.
Untuk memenuhi aspirasi dan
tuntutan masyarakat, berdasarkan
surat pemerintah tersebut pada
tanggal 12 Maret 1966 Letjen TNI
Soeharto atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi,
mengeluarkan keputusan tentang pembubaran PKI dan organisasi massaa yang seazas, bernaung, dan
berlindung dibawah PKI.PKI juga dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh indonesia.
Keputusan ini diambil setelah melihat kenyataan bahwa PKI baik secara faktual maupun yuridis telah
melakukan pemberotankan terhadap pemerintah yang syah melalui G 30 S/PKI. Keputusan pembubaran
dan pelarangan PKI diumumkan melalui siaran RRI pada pukul 06.00 taggal 12 Maret 1966. Keputuasan
itu mendapat sambutan hangat dri seluruh masyarakat indonesia. Masyarakat Jakarta mengadakan
pawai keliling di jalan-jalan sambil membawa poster sebagai ungkapan rasa gembira dan terimakasih.