Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada

kita semua. Selawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada nabi kita Muhammad SAW yang

telah membawa kita ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Alhamdulillah penulis telah

dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan tugas dari mata kuliah Obstetri Fisiologi.

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing Prof. Dr. dr.

Yusrawati, SpOG (K) serta kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah

membantu penuis dalam menyelasaikan makalah ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan

karunia-Nya kepada kita semua.

Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena

itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan dimasa yang

akan datang. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua, terima kasih.

Padang, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................................................1
B. Tujuan...................................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................................3
A. Endometrium Dan Desidua...................................................................................................3
B. Siklus Endometrium.............................................................................................................6
C. Siklus Menstruasi................................................................................................................18
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................23
Kesimpulan................................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................24

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan dan karakteristik endometrim manusia adalah suatu

hal yang unik. Pada wanita usia subur, sel – sel epitel (kelenjer),sel- sel

stroma (mesenkim), dan pembuluh darah endometrium mengalami replikasi

secara siklis dengan kecepatan tinggi. Endometrium mengalami regenerasi

pada tiap daur endometrium (ovarium- menstruasi). Dua pertiga superfisial

dari keseluruhan endometrium dilepaskan dengan rata – rata sebagian besar

wanita mengalami regenerasi hampir 500 kali selama usia subur. Pada

manusia tidak ada lagi contoh lain terjadinya pengelupasan dan dan

regenerasi seluruh jaringan yang berlangsung secara siklik.

Endometrium adalah lapisan mukosa rongga uterus mengalami

perkembangan sempurna. Pada puncak perkembangannya, dan terdiri –dari

epitel kolumner selapis dari kelenjer tubuler yang mengarah ke bawah

kelamina propria tebal yang biasa disebut stroma endometrial. Untuk

memandang menstruasi berulang ini pada tempatnya, perlu disadari bahwa

pengeluaran darah kumulaitif seumur hidup yang berkaitan dengan pelepasan

endometrium adalah 10 – 20 liter atau lebih, yaitu jumlah darah yang

mengandung paling sedikit tiga kali total kandungan besi tubuh seorang

wanita dewasa rata – rata.

1
Produksi kumulatif progesteron selama masa subur 38 tahun oleh

korpus luteum dan plasenta pada wanita yang memilih dua kali hamil tetapi

mengalami 450 kali siklus ovarium non fertil adalah sekitar 150. 000 mg

(150G), yang setara dengan jumlah kumulatif kortisol yang dikeluarkan oleh

kortek adrenal selama 38 tahun yang sama. Investasi luar biasa dalam

pertumbuhan jaringan endometrium ini, .

B. Tujuan

1. Memahami tentang Endometrium Dan Desidua

2. Memahami tentang Siklus Endometrium

3. Memahami tentang Siklus Menstruasi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Endometrium Dan Desidua

Desidua-Endometrium merupakan lokasi anatomis tempat

melekatnya dan melekatnya blastokista serta perkembangan plasenta.

Trofobals milik blastokista menginvasi arteri-arteri endometrium ini sewaktu

implantasi dan plasentasi untuk membentuk pembuluh uteroplasenta.

Endometrium terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan fungsional

letaknya superfisial yang akan mengelupas setiap bulan dan lapisan basal

yaitu tempat lapisan fungsional berasal yang tidak ikut mengelupas. Epitel

lapisan fungsional menunjukkan perubahan proliferasi yang aktif setelah

periode haid sampai terjadi ovulasi, kemudian kelenjar endometrium

mengalami fase sekresi. Kerusakan yang permanen pada lapisan basal akan

menyebabkan amenore. Perubahan normal dalam histologi endometrium

selama siklus haid ditandai dengan perubahan sekresi dari hormon steroid

ovarium.

Fungsi Endometrium-Desidua

fungsi fisiologis dan metabolik endometrium/desidua adalah

sebagai penghubung jaringan maternal dalam kehamilan.

1. Respositas terhadap hormon, perubahan fenotik pada sel–sel

endometrium/ desidua memfasilitasi aposisi dan implantasi blastokista

3
2. Desidua berfungsi sebagai jaringan imunologis khusus

3. Endometrium/ desidua dan arteri spiralis menerima invasi trofoblas dan

mempersiapkan nutrisi bagi mudigah janin

4. Desidua menghasilkan berbagai sitokin dan faktor pertumbuhan yag

membantu pertumbuhan dan fingsi plasenta serta menghambat apoptosis

(trofoblas).

Sebagai respons terhadap perubahan siklis kecepatan sekresi

hormon steroid seks ovariom ini, terjadi lima tahap utama pada siklus

endometrium secara berurutan:

1. Reepitelisasi menstruasi/ pascamenstruasi.

2. Proliferasi endometrium sebagai respons terhadap stimulasi (secara

langsung atau tidak langsung) oleh estradiol.

3. Sekresi kelenjer berlebih, sebagai respons terhadap efek kombinasi

estrogen dan progesteron.

4. Iskemi pramenstruasi, akibat involusi volume jaringan endometrium,

yang menyebabkan statis darah di arteri-arteri spiralis.

5. Menstruasi, yang didahului dan disertai oleh vasokonstriksi hebat arteri-

arteri spiralis endometrium kecuali stratum basale.

Desidua adalah endometrium yang telah mengalami modifikasi


khusus terhadap kehamilan. Transformasi endometrium sekretorik menjadi
desidua bergantung pada kerja estrogen dan progesteron dan rangsangan lain

4
yang dihasilkan oleh blastokista yang berimplantasi selama invasi trofoblas
ke endometrium dan pembuluh darahnya. Sel-sel desidua berdeferensiasi dari
sel-sel stroma endometrium dibawah pengaruh progesteron dan rangsangan
lain. Selain itu pada endometrium dan desidua normal terdapat banyak sel
yang berasal dari sum-sum tulang (berbagai limfosit dan leukosit). Arteri-
arteri spirali yang unik terdapat disalah satu bagian desidua (parietalis), tetapi
arteri-arteri ini mengalami invasi dan modifikasi ke trofoblas pada desidua
(basalis) yang terletak dibawah tempat implantasi.

Dengan terjadinya ovulasi, suasana hormonal dalam uterus berubah


dominan estrogen menjadi dominan progesteron. Sebagai respon terhadap
perubahan ini, mitosis di dalam epiel kelenjar berhenti dan sel membentuk
satu lapis kolumnar didalam kelenjar. Dalam dua hari ovulasi, vakuola
subnuklear yang berukuran kecil terbentuk didalam sitoplasma sel kolumnar.
Vakuola sekretorik ini banyak mengandung glikogen dan lipid dan empat hari
setalah ovulasi, vakuola bermigrasi ke sisi lumen. Dalam dua hari kemudian,
vakuola mengeluarkan sekretnya kedalam lumen kelenjar. Bersamaan dengan
perubahan kelenjar ini terjadi perubahan nyata pada sel stroma endometrium.

Dengan ovulasi sel stroma membesar dan tampak berbusa yang


merupakan tanda peningkatan metabolisme. Sel menjadi sangat eosinofilik
dan dikenal sebagai desidua. Desidualisasi endometrium dimulai di sekitar
arteri spiralis yang memanjang dan bergelung-gelung. Desidualisasi ini
kemudian menyebar di bawah epitel permukaan dan kelenjar saat 10 hari
pasca ovulasi. Jika implantasi tidak terjadi pada suatu siklus menstruasi, maka
produksi progesteron oleh korpus luteum berhenti pada hari ke 13-14
pascaovulasi. Endometrium mengalami nekrosis iskemik dan meluruh. Jika
terjadi kehamilan maka masa hidup korpus luteum yang memanjang akan
memperpanjang produksi progesteron dan desidualisasi stroma akan
berlanjut.

5
Fungsi desidua adalah sebagai jaringan imunologis khusus, desidua
dan arteri spiralis menerima invasi trofoblas dan mempersiapkan nutrisi bagi
mudigah dan janin, desidua menghasilkan berbagai sitokin dan faktor
pertumbuhan yang membantu pertumbuhan dan fungsi plasenta serta
menghambat apoptosis. Desidua dengan sel-selnya yang berasal dari sum-
sum tulang, mula-mula berfungsi menerima, tetapi kemudian membatasi
invasi trofoblas kedalam jaringan maternal.

Desidua juga merupakan suatu jaringan endokrin serba guna yang


menghasilkan prolaktin, 1,25-dihidro-vitamin D 3
, corticotropin
releasing hormone, parathyroid hormone-related protein, relaksin, prorenin,
somatostatin, oksitosin, aktivin, inhibin, globulin pengikat kortikosteroid,
protein pengikat kortikosteroid, protein pengikat insulin like growth factor
dan protein spesifik untuk kehamilan ganda.

B. Siklus Endometrium

Setelah pubertas dimulai, ovarium secara terus menerus mengalami

dua fase secara bergantian : fase folikular yang didominasi oleh keadaan

folikel matang, dan fase luteal yang ditandai adanya korpus luteum. Dalam

keadaan normal, siklus ini berhenti apabila jika terjadi kehamilan dan

berakhir pada menopause. Siklus ovarium berlangsung 28 hari, tetapi hal ini

bervariasi diantara wanita dan diantara siklus pada wanita yang sama.

Folikel bekerja pada paruh pertama siklus untuk menghasilkan telur

yang matang yang siap untuk berovulasi pada pertengahan siklus. Korpus

luteum mengambil alih selama paruh terakhir siklus untuk mempersiapkan

saluran reproduksi wanita untuk kehamilan jika terjadi pembuahan telur.

6
Fase folikular (pravulasi atau proliferatif), dan fase pscavolasi

(luteal atau sekretorik) siklus ovarium/endometrium biasanya dibagi menjadi

tahap dini dan lanjut. Fase sekretorik normal daur endometrium (menstruasi)

dapat bibagi-bagi lagi secara lebih terinci (hampir hari kehari) dengan kriteria

histologis, dari segera sesudah ovulasi sampai awitan menstruasi

Siklus Endometrium Pada Wanita Mengalami Ovulasi

Fase proliferasi dini endometrium

Sekitar dua pertiga endometrium stratum fungsionale luruh dan di

keluarkan sewaktu menstruasi, tetapi, reepitelisasi sudah berlangsung bahkan

sebelum perdarahan menstruasi berhenti. Pada hari kelima siklus

endometrium (hari pertama menstruasi sama dengan hari ke-1), permukaan

epitel endometrium telah pulih dan revaskularisasi endometrium sedang

berangsung. Selama tahap awal fase proliferatif, endometrium tipis, biasanya

ketebalannya kurang dari 2 mm. Kelenjer pada tahap ini masih berupa

struktur tubular sempit yang berbentuk hampir lurus dan sejajar (satu sama

lain) dari lapisan basal hingga kepermukaan rongga endometrium. Gambaran

mitotik, terutama di epitel kelenjer, dapat terlihat hari ke-5 setelah menstruasi

dimulai, dan aktivitas mitotik baik di epitel maupun stroma menetap sampai 2

atau 3 hari setelah ovulasi. Walaupun pembuluh darah banyak dan tampak

jelas, pada tahap ini tidak terjadi ekstravasasi darah atau infiltrasi leokosit di

endometrium. Jelaslah, repitelialisasi dan angiogenesi penting untuk

7
menghentikan pendarahan endomentrium pada akhir menstruasi, dan kedua

proses ini bergantung pada pertumbuhan kembali jaringan.

Fase Folikular

Selama fase praovulasi (folikular), daur menstruasi, terjadi sekresi

estradiol -17β terutama oleh folikel dominan di salah satu ovarium dengan

jumlah semakin meningkat sampai tepat sebelum ovulasi. Dalam fase ini

endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari

hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Fase proliferasi dapat dibagi

dalam 3 subfase yaitu :

Sekitar 2/3 endometrium stratum fungsionale luruh dan dikeluarkan

sewaktu menstruasi. Hanya selapis tipis stroma endometrium yang tertinggal

dan sel-sel epitel yang tertinggal adalah terletak di bagian lebih dalam dari

kelenjar yang tersisa. Dibawa pengaruh estrogen, yang disekresi dalam

jumlah yang lebih banyak oleh ovarium selama bagian pertama siklus

bulanan, sel-sel stroma dan sel epitel berproliferasi dengan cepat. Permukaan

endometrium akan mengalami epitelisasi kembali dalam waktu 4 sampai 7

hari sesudah terjadinya menstruasi. Selama tahap awal fase proliferatife,

endometrium tipis, biasanya ketebalannya kurang dari 2 mm. Kelenjar pada

tahap ini masih berupa struktur tubular sempit yang berbentuk hampir lurus

dan sejajar satu sama lain dari lapisan basal hingga ke permukaan rongga

endometrium. Gambaran mitotic terutama di epitel kelenjar dapat terlihat

pada hari ke-5 setelah menstruasi dimulai, dan aktivitas mitotic terutama di

epitel maupun stroma menetap sampai 2-3 hari setelah ovulasi. Walaupun

8
pembuluh darah banyak dan nampak jelas, pada tahap ini tidak terjadi

ekstravasasi darah atau infiltrasi leukosit di endometrium. Jelaslah,

reepitelisasi dan angiogenesis penting untuk menghentikan perdarahan

endometrium pada akhir menstruasi dan proses ini bergantung pada

pertumbuhan kembali jaringan.

Fase proliferasi lanjut endometrium

Pada fase proliferatif lanjut, endometrium sudah lebih tebal, karena

hiperpalsia kelenjer dan meningkatnya bahan dasar stroma (edema dan bahan-

bahan mengandung protein). Stroma yang longgar tampak jelas, dan kelenjer

di bagian superfisial endometrium (stratum fungsionale jauh terpisah satu

sama lain dibandingkan dengan kelenjer yang terletak lapisan yang paling

dalam, yang berimitan dan berkelok-kelok dan stromanya lebih padat. Pada

pertengahan siklus, seiring dekat ovulasi, epitel kelenjer telah semakin tinggi

dan mengalami pseudostratifikasi.

Fase proliferasi akhir endometrium

Pada fase ini, endometrium sudah lebih tebal, karena hyperplasia

kelenjar dan meningkatnya bahan dasar stroma (edema dan bahan-bahan yang

mengandung protein). Stroma yang longgar nampak jelas dan kelenjar di

bagian superficial endometrium (stratum fungsionale) jauh terpisah satu sama

lain dibandingkan dengan kelenjar yang terletak di lapisan yang jauh lebih

dalam, yang berimpitan dan berkelok-kelok, dan stromanya lebih padat. Pada

9
pertengahan siklus, seiring dengan mendekatnya ovulasi, epitel kelenjar

semakin tinggi dan mengalami pseudostratifikasi.

Pada fase proliferatif, tidak mungkin dilakukan penentuan usia

endometrium hari demi hari dengan kriteria histologis karena besarnya variasi

di antara wanita dalam lama fase folikular siklus. Fase luteal atau fase

folikular (pascaovalasi) siklus memiliki durasi sangat kostan diantara wanita

(12 sampai 14 hari), tetapi lama fase proliferatif atau folikular (praovulasi)

sangat bervariasi. Pada wanita subur yang tampak normal, fase folikular

mungkin hanya 5 sampai 7 hari atau malah 21 sampai 30 hari.

Vaskularisasi Endometrium

Arteri spiralis endometrium berasal dari arteri-arteri arkuata , yang

merupakan cabang dari pembuluh uterus. Sifat morfologis dan fungsional

pembuluh-pembuluh ini unik dan penting untuk menimbulkan perubahan

10
aliran darah yang memungkinkan terjadinya menstruasi. Karakterisitk penting

endometrium fase sekresi adalah pertumbuhan dan perkembangan yang

mencolok dari arteri bergelung ini, yang pada tahap ini menjadi lebih

berkelok-kelok. Modifikasi spesifik siklus ovarium/endometrium terhadapan

kecepatan aliran darah di arteri spiralis penting untuk inisiasi menstruasi dan

pembatasan pengeluaran darah saat menstruasi

Perubahan aliran darah arteri spiralis endometrium

Endometrium mendapat darah dari dua jenis pembuluh:

1. Arteri lurus, yang memperdarahi sepertiga basal endometrium.

2. Arteri berbentuk kumpran atau spiral (ikal) yang memperdarahi dua

pertiga superfisial jaringan ini.

Sebelum dan selama menstruasi, arteri-arteri lurus dan tidak

berkontraksi. Selama fase pertumbuhan endometrium, arteri spiralis

memanjang dengan laju yang lebih cepat dibanding laju peningkatan

ketinggian atau ketebalan jaringan endometrium.ketidak harmonisan

pertumbuhan antara kedua jaringan ini jelas menyebabkan arteri-arteri yang

sudah berbentuk spiral menjadi spiral menjadi semakin berkelok-kelok. Perrot

Applanat dan rekan (1988) menjelaskan adanya reseptor progesteron dan

estrogen di sel otot polos arteri-arteri uterus, termasuk arteri spiralis. Namun,

besar kemungkinan sel-sel stroma (dan sel eptel) endometrium

mengahasilkan bahan-bahan angiogenik spesifik sebagai respons terhadap

estrogen (zhang dkk, 1995).


11
Seiring dengan terjadi regresi pertumbuhan endometrium, yang

dimulai secara bersamaan dengan berkurang nya fungsi korpus luteus selama

siklus ovarium nonfertil, arteri spiralis semakin berkelok-kelok. Apabila

pembentukan kelok-kelok dari arteri spiralis ini sudah demikian hebat,maka

resistensi terhadap aliran darah di pembuluh ini juga akan sangat meningkat

sehingga terjadi stasi yang menyebabkan hipoksia. Beberapa saat

kemudian,yaitu 4 sampai 24 jam sebelum dimulai pendarahan ke dalam

endometrium yang terbentuk saat vasokonstriksi arteri spiralis ini mungkin

sangat nyata. Markee juga menekankan bahwa periode vasokonstriksi yang

mendahului awitan menstruasi merupakan kejadian yang paling mencolok

dan konstan pada daur menstruasi. Berdasarkan urutan perubahan vascular

endometrium, markee menyimpulkan bahwa vasokonstriksi kuat pada arteri

spiralis berfungsi membatasi keluarnya darah menstruasi. Namun,

berkurangnya aliran darah arteri dan spiralis dan statis ditimbulkannya

sebelum vasokonstriksi merupakan kausa utama eskemi endometrium yang

berlanjut dengan degenerasi jaringan.

Markee berhipotesis bahwa, menyimpulkan bahwa sel-sel stroma

endometrium menghasilkan suatu vasokonstriktor. Endotelin-1 adalah salah

satu kandidat vasokonstriktor sel stroma di prediksi oleh markee (Casey and

Mcdonald, 1993,1996; Economos dkk,1992).

12
Markee juga menemukan bahwa apabila masing-masing arteri yang

membentuk kumparan tersebut melemas, setelah suatu periode konstriksi,

akan terjadi pendarahan dari arteri tersebut atau cabang-cabangnya. Setelah

itu, secara berurutan, arteriol dari arteri yang mengalami pendarahan;

kelanjutan pendarahan-pendarahan kecil dari masing-masing arteriol atau

kapiler berlangsung dalam waktu bervariasi tetapi sangat singkat (beberapa

detik sampai beberapa menit). Walaupun urutan vasokonstriksi, relaksasi, dan

pendarahan tampaknya mudah dimengerti, namun mekanisme (-mekanisme)

yang sebenarnya menyebabkan darah keluar dari pembuluh belum diketahui

pasti. Mungkin terjadi kerusakan terhadap dinding pembuluh-pembuluh

tersebut saat berlangsung vasokonstriksi intensif, yang memudahkan

rupturnya pembuluh setelah segmen yang berkonstriksi melemas dan aliran

darah kembali normal.

13
Infiltrasi leukosit di endometrium

Karakteristik histologik lain yang mencolok pada fase

pramenstruasi di endometrium adalah infiltarasi stroma oleh leukosit

polimorfonuklear, yang menyebabkan jaringan yang memperlihatkan

gambaran pseudo inflamasi.infiltrasi neutrofil terutama terjadi pada satu atau

dua hari sebelum awitan menstruasi. Sel epitel dan stroma endometrium

menghasilkan interleukin-8 (IL-8), suatu faktor kemotik/aktivator untuk

neutrofil (Arici dkk,1993). IL-8 mungkin merupakan salah satu zat yang

berfungsi merekrut neutrofil ke endometrium tepat sebelum awitan

menstruasi. Demikian monocyte chemotatic protein-1 (MCP-1), suatu

chemoattractant kuat bagi monosit (Arici dkk., 1995) kecepatan sintetis IL-8

dan MCP-1 di sel stroma endometrium tampaknya mengalami perubahan

sebagian oleh hormon steriod seks dan transforming growth factor-β (Arici

dkk, 1996a,b).

14
Interleukin-15 (IL-15) juga diekspresikan di endometrium dan

terutama selama fase sekretorik (Okada dkk., 2000). Verma dan rekan (2000)

membuktikan bahwa IL-15 bekerja menginduksi proliferasi sel natural killer

desidua. Temuan-temuan ini mengisyaratkan bahwa IL-15 yang diproduksi

insitu berperan dalam replikasi sel natural killer yang terjadi pada

endometrium fase sekretorik.

Neuron hipotalamus melepas gonadotrophin releasing hormones

(GnRH) yang mengontrol pelepasan gonadotrophin (FSH dan LH) oleh

hiposis anterior. Sekresi hormon yang mensekresi folikel merangsang

prtumbuhan folikel pada ovarium. Folikel yang berkembang, mensekreasi

estradiol yang merangsang pertumbuhan endometrial dan dideferensi asi

selama fase proliferatif siklus menstruasi . Estradiol yang mencapai kadar

puncak nya sebagai pendekatan pertengahan siklus bekerja balik pada

hipotalamus, pulsa GnRH yang dihasilkan menyebabkan surge pertengahan

siklus luteinzing hormone (LH) yang mencatumkan ovulasi dan transformasi

folikel kolaps ke dalam korpus luteum. Sekresi progesteron oleh korpus

luteum, pada fase sekretoris siklus, menginduksi perubahan lanjut pada

endometrium, mempersiapkan untuk implantasi dan nutrisi blastokista yang

berkembang dari ovum di buahi selama transfor melalui oviduct. Jika siklus

anovulatori, atau ovum tidak di buahi, endometrium hancur setelah 2

minggu,dilakukan oleh menstruasi.

Feedback hormon ovarium yang berlebihan terhadap hipotalamus

untuk mengurangi pelepasan GnRH adalah dasar metode umum kontrol

15
konsepsi yang diberikan secara oral yang analog steriod avarium bekerja pada

hipotalamus untuk menekan surge LH yang perlu untuk ovulasi.

Zat Vasoaktif yang Dihasilkan Di Endometrium

Aliran darah di endometrium di arteri spiralis, nampaknya

dikendalikan oleh hormone steroid seks secara endokrin melalui modifikasi

sistem vasoaktif atau peptide lokal (parakrin).

Prostaglandin

Autachoid (hormone local) jaringan bioaktif ini umumnya

disintesis oleh sel yang sama dengan sel tempat zat ini bekerja atau oleh sel

disekitarnya. Dengan demikian, prostaglandin biasanya lebih merupakan

suatu agen otokrina atau parakrin daripada sebagai hormone endokrin

(humoral). Prostaglandin bekerja melalui serangkaian reseptor terkait protein

G membrane plasma yang berbeda-beda tetapi spesifik yang sedikit banyak

menentukan spesifisitas kerja berbagai prostaglandin. Prostaglandin cepat

mengalami penguraian di jaringan asal misalnya endometrium atau jaringan

di dekatnya, dan ditempat yang jauh, misal paru, dalam suatu reaksi yang

dikatalisis oleh enzim prostaglandin dehidrogenase.

Banyak penelitian mengisyaratkan adanya peran prostaglandin,

terutama PGF-2 suatu, vasokontriktor, dalam inisiasi menstruasi. Di dalam

darah menstruasi terdapat prostaglandin dalam jumlah besar dan pemberian

PGF2-α kepada wanita juga menimbulkan gejala yang mirip dengan gejala

dismenorea yang sering berkaitan dengan menstruasi ovulatorik normal.

16
Besar kemungkinan hal ini disebabkan oleh kontraksi miometrium

dan iskemi uterus. Pemberian PGF2-α kepada wanita tidak hamil juga

menyebabkan menstruasi ; respon ini diperkirakan disebabkan oleh

vasokontriksi arteri spiralis endometrium yang dipicu oleh PGF-2α .

Penjelasan alternatif adalah bahwa prostaglandin diproduksi di

endometrium pada saat menstruasi secara cepat sebagai respon terhadp

peradangan, hipoksia dan trauma. Hidrolisis gliserofosfolipid membran

dipercepat oleh trauma jaringan; hal ini menyebabkan pelepasan asam

arachidonat (precursor prostaglandin) yaitu rute utama untuk metabolisme

asam arachidonat. Pembentukan prostaglandin di endometrium dibantu oleh

hipoksia yang ditimbulkan oleh statis darah di arteri spiralis yang sangat

berkelok-kelok dalam fase regresi pertumbuhan endometrium. Pembentukan

prostaglandin juga mungkin menjadi penyebab, paling tidak sebagian, dari

apa yang diamati oleh Markee sebagai vasodilatasi yang sering disertai oleh

statis aliran darah di arteri spiralis. PGE-2 dan PGi2 (prostasiklin), sama-

sama menyebabkan vasodilatasi. Akibatnya percepatan pembentukan

prostaglandin di endometrium kemungkinan besar merupakan akibat dari, dan

bukan sebab hipoksia jaringan dan menstruasi.

Aktifitas prostaglandin dehidrogenase juga lebih besar pada

endometrium sekretorik dini dibandingkan endometrium sebelum ovulasi.

Namun, aktifitas enzim ini terutama terbatas pada epitel kelejar dan mungkin

lebih berkaitan erat dengan proses implantasi daripada dengan inisiasi

menstruasi.

17
C. Siklus Menstruasi

Menstruasi merupakan suatu proses meluruhnya jaringan

endometrium yang disertai perdarahan dan bergantung pada perubahan aliran

darah dalam arteri spiralis yang dikendalikan hormone seks steroid. Pada

siklus ovarium yang ovulatorik tetapi tanpa fertilisasi, menstruasi

menyebabkan deskuamasi endometrium. Pertumbuhan dan perkembangan

endometrium baru harus dimulai pada tiap siklus sehingga maturasi

endometrium kurang lebih sebanding dengan kesempatan terjadinya

implantasi dan kehamilan.

Jika ovum tidak dibuahi, kira-kira 2 hari sebelum akhir siklus

bulanan korpus luteum di ovarium berinvolusi dan hormon-homon ovarium

menurun dengan tajan (estrogen dan progesteron) sampai kadar sekresi

rendah, terjadilah menstruasi.

Menstruasi terjadi karena berkurangnya estrogen dan progesteron,

terutama progesteron pada akhir siklus bulanan. Efek pertama adalah

penurunan rangsangan terhadap sel-sel endometrium oleh kedua hormon ini,

yang diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium sendiri menjadi kira-

kira 65% dari ketebalan semula. Kemudian selama 24 jam sebelum terjadinya

menstruasi, pembuluh darah yang berkelok-kelok yang mengarah ke lapisan

mukosa endometrium akan menjadi vasospastik yang mungkin diakibatkan

oleh efek involusi.

18
Vasospasme, penurunan zat nutrisi endometrium, dan hilangnya

rangsangan hormonal pada endometrium menyebabkan mulainya proses

nekrosis pada endometrium khususnya pada pembuluh darah. Sebagai

akibatnya darah akan merembes ke lapisan vaskular endometrium dan daerah

perdarahan akan bertambah besar dengan cepat dalam waktu 24 -36 jam,

perlahan lapisan nekrotik bagian luar dari endometrium akan terlepas dari

uterus pada daerah perdarahan tersebut sampai kira-kira 48 jam setelah terjadi

menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium sudah berdeskuamasi.

Massa jaringan deskuamasi dan darah dalam kavum uteri, ditambah efek

kontraksi dari prostaglandai atau zar-zat lainnya di dalam lapisan yang telah

terdeskuamasi, seluruhnya bersama-sama akan merangsang kontraksi uterus

yang menyebabkan dikeluarkannya isi uterus,

Dalam waktu 4-7 hari sesudah dimulainya menstruasi, pengeluaran

darah akan berhenti karena pada saat ini endometrium sudah mengalami

epitelisasi kembali.

19
Siklus menstruasi terdiri dari tiga fase yaitu fase haid, fase proliferatif dan fase

sekretorik (progestasional) :

1. Fase haid

Fase haid adalah fase yang ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium

dari vagina. Hari pertama haid dianggap sebagai permulaan siklus baru. Saat ini

bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan dimulainya fase folikular.

Sewaktu korpus luteum berdegenarasi karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum

yang dibebaskan selama silkus sebelumnya, kadar estrogen dan progesteron darah turun

tajam. Karena efek akhir progesteron dan estrogen adalah mempersiapkan endometrium

untuk implantasi ovum yang dibuahi maka terhentinya sekresi kedua hormon ini

menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien ini kehilangan

hormon-hormon penunjangnya.

Turunnya kadar hormon ovarium juga merangsang pembebasan suatu

prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh

endometrium, menghambat aliran darah keendometrium. Penurunan penyaluran O2 yang

terjadi kemudian menyebabkan kematian endometrium, termasuk pembuluh darahnya.

Perdarahan yang terjadi melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan

endometrium yang mati kedalam lumen uterus. Sebagian besar lapisan dalam uterus

terlepas selama haid, kecuali sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel epitel dan

kelenjar, yang menjadi asal regenerasi endometrium. Prortaglandin uterus yang sama juga

merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus. Kontraksi ini membantu

mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus keluar melalui vagina

20
sebagai darah haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan

prostaglandin menyebankan kram haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita.

Pengeluaran darah rerata selama satu kali haid adalah 50 sampai 150 ml. Darah

yang merembes pelan melalui endometrium yang berdegenerasi membeku didalam

rongga uterus, kemudian diproses oleh fibrinolisin, suatu pelarut fibrin yang menguraikan

fibrin pembentuk anyaman bekuan. Karena itu, darah haid biasanya tidak membeku

karena telah membeku didalam uterus dan bekuan tersebut telah larut sebelum keluar

vagina. Namun jika darah mengalir deras melalui pembuluh yang rusak maka darah

menjadi kurang terpajan fibrinolisin sehingga jika darah haid banyak dapat terlihat

bekuan darah. Selain darah dan sisa endometrium darah haid mengandung banyak

leukosit. Sel-sel darah putih ini berperan penting dalam mencegah infeksi pada

endometrium yang terbuka ini.

2. Fase Proliferatif

Setelah darah haid berhenti, maka fase proliferatif siklus uterus dimulai

bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika endometrium mulai

memperbaiki diri dan berproliferasi dibawah pengaruh estrogen dari folikel-folikel yang

baru berkembang. Saat aliran darah haid berhenti, yang tersisa adalah laipsan

endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm. Estrogen merangsang proliferasi

sel epitel, kelenjar dan pembuluh darah di endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan

ini menjadi 3-5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen ini berlangsung dari

akhir haid hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi

penyebab ovulasi.

21
3. Fase Sekretorik

Setelah ovulasi ketika terbentuk korpus luteum baru, uterus masuk ke fase

sekretorik yang bersamaan waktunya dengan fase lutela ovarium. Korpus luteum

mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah

endometrium tebal yang telah dipersiapkan estrogen menjadi jaringan kaya vaskular dan

glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena kelenjar endometrium aktif

mengeluarkan glikogen yaitu lapisan subur endometrium yang mampu menopang kehidupan

mudigah. Jika pembuahan dan implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi

dan fase folikular dan fase haid baru dimulai kembali (Sherwood, 2011).

22
BAB III

PENUTUP

D. Kesimpulan

Siklus yang yang terjadi pada endometrium dibedakan menjadi beberapa fase :

Fase proliferasi : Tebal endometrium 1 -4 mm: kelenjer lurus dan sempit; mitosis pada

setiap lapisan : tidak ada arteri yang berliku- liku pada ketiga diatas, Fase sekretoris : tebal

endometrium 4-6 mm, kelenjer lebar , sinus dan besakulasi, sel epitel panjang dengan bleb

permukaan , edematosa stroma superfisial, mitosis terbatas pada ateri yang berkelok – kelok

yang meluas sampai dekat permukaan,Fase pre menstrual : tebal endometrium 4-5 mm

lumen kelenjar lebar dan tepinnya irreguler , arteri sangat berkelo – kelok , stroma relatif

padat dan dan terinfiltrasi dengan leukosit,Fase menstruasi : tebal endometrium 0,5 – 3 mm

dan epitel permukaan gundul kelenjer kolap dan pendek , darah ekstravasasi pada stroma

superfisial padat dan arteri lurus.

Fase siklus endometrial : Fase pra ovulasi (folikuler) adur menstruasi, terjadi

sekresi estradiol -17β- terutama oleh folikel dominan disalah satu ovarium dengan jumlah

semakin meningkat sampai tempat ovulasi, Selama fase pascaovulasi (luteal ) daur

menstruasi, terjadi sekresi progesteron oleh korpus luteum dengan jumlah semakin

meningkat (hingga 40 – 50 mgper minggu) sampai fase midluteal, Mulai sekitar 7 sampai 8

hari setelah oovulasi, laju sekresi progesteron dan estrogen oleh korpus luteum mulai

berkurang dan menurun progresif sebelum menstruasi .

23
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham.FG.2006.Obstetri Williams; Edisi 21, EGC. Jakarta

Heffner, LJ dan Schust, DJ. 2010. At a Glance Sistem Reproduksi. Edisi 2. Erlangga,
Jakarta.

Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo, Jakarta.

Sherwood.L.2011.Fisiologi Manusia : Dari sel ke sistem,edisi 6. EGC. Jakarta

Varney, H. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. EGC, Jakarta.

24