Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-

Nya kepada kita semua. Selawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada nabi kita

Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam yang penuh dengan ilmu

pengetahuan. Alhamdulillah penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini yang

merupakan tugas dari mata kuliah Obstetri Fisiologi.

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing Prof. Dr.

dr. Yusrawati, SpOG (K) serta kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak

langsung telah membantu penulis dalam menyelasaikan makalah ini, semoga Allah

senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua.

Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,

oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi

kesempurnaan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat berguna bagi

kita semua, terima kasih.

Padang, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................1
B. Tujuan.............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................................3
A. Pengertian Desidua.........................................................................................3
B. Struktur Desidua.............................................................................................4
C. Fungsi Desidua...............................................................................................5
D. Reaksi Desidua...............................................................................................7
E. Pendarahan Desidua.......................................................................................9
F. Histologi.........................................................................................................9
G. Penuaan Desidua...........................................................................................11
H. Prolaktin Dalam Desidua..............................................................................12
BAB III PENUTUP....................................................................................................15
Kesimpulan.............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara biologis, fungsi uterus yang paling bermanfaat adalah

akomodasi konseptus (kehamilan). Di luar kehamilan, endometrium atau

miometrium tidak diketahui memiliki fungsi endokrin atau fisiologis lain yang

dapat mempengaruhi homeostasis metabolik atau kesejahteraan fisik wanita

yang bersangkutan. Tidak terdapat bukti bahwa tindakan pengangkatan

sederhana miometrium, endometrium, dan serviks (histerektomi) dapat

menurunkan rentang harapan hidup atau keseluruhan kondisi kesehatan wanita

yang bersangkutan.

Endometrium (desidua) merupakan lokasi anatomis terjadinya aposisi

dan implantasi. Endometrium adalah lapisan mukosa rongga uterus sedangkan

desidua adalah endometrium pada masa kehamilan yang mengalami modifikasi

khusus. Transformasi endometrium sekretorik menjadi desidua bergantung pada

kerja estrogen dan progesteron dan rangsangan lain yang dihasilkan oleh

blastokista yang berimplantasi selama invasi trofoblas ke endometrium dan

pembuluh darahnya. Sel-sel desidua berdeferensiasi dari sel-sel stroma

endometrium dibawah pengaruh progesteron dan rangsangan lain. Selain itu

pada endometrium dan desidua normal terdapat banyak sel yang berasal dari

sum-sum tulang (berbagai limfosit dan leukosit). Arteri-arteri spirali yang unik

terdapat disalah satu bagian desidua (parietalis), tetapi arteri-arteri ini

1
mengalami invasi dan modifikasi ke trofoblas pada desidua (basalis) yang

terletak dibawah tempat implantasi.

Satu-satunya fungsi fisiologis dan metabolik endometrium/desidua

adalah sebagai penghubung jaringan maternal dalam kehamilan. Endometrium

merupakan tempat optimal untuk implantasi blastokista dan berkembangnya

mudigah-janin/ plasenta. Sel-sel desidua berdiferensiasi dari sel-sel stroma

endometrium di bawah pengaruh progesteron dan rangsangan lain. Selain itu,

pada endometrium dan desidua normal terdapat banyak sel yang berasal dari

sumsum tulang (berbagai limfosit dan leukosit). Arteri-arteri spiralis yang unik

terdapat di salah satu bagian desidua (parietalis), tetapi arteri-arteri ini

mengalami invasi dan modifikasi oleh trofoblas pada desidua (basalis) yang

terletak di bawah tempat implantasi.

B. Tujuan

1. Memahami tentang pengertian Desidua

2. Memahami tentang struktur desidua

3. Memahami tentang fungsi desidua

4. Memahami tentang reaksi desidua

5. Memahami tentang perdarahan disidua

6. Memahami tentang histologi

7. Memahami tentang penuaan desidua

8. Memahami tentang prolactin dalam desidua

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Desidua

Endometrium yang telah mengalami modifikasi khusus terhadap

kehamilan disebut desidua. Transformasi endometrium sekretorik menjadi

desidua bergantung pada kerja estrogen dan progesteron dan rangsangan lain

yang dihasilkan oleh blastokista yang berimplantasi selama invasi trofoblas ke

endometrium dan pembuluh darahnya. Sel-sel desidua berdeferensiasi dari sel-

sel stroma endometrium dibawah pengaruh progesteron dan rangsangan lain.

Selain itu pada endometrium dan desidua normal terdapat banyak sel yang

berasal dari sum-sum tulang (berbagai limfosit dan leukosit). Arteri-arteri

spiralis yang unik terdapat disalah satu bagian desidua (parietalis), tetapi arteri-

arteri ini mengalami invasi dan modifikasi ke trofoblas pada desidua (basalis)

yang terletak dibawah tempat implantasi.

Dengan terjadinya ovulasi, suasana hormonal dalam uterus berubah

dominan estrogen menjadi dominan progesteron. Sel stroma membesar dan

tampak berbusa yang merupakan tanda peningkatan metabolisme. Sel menjadi

sangat eosinofilik dan dikenal sebagai desidua. Desidualisasi endometrium

dimulai di sekitar arteri spiralis yang memanjang dan bergelung-gelung.

Desidualisasi ini kemudian menyebar di bawah epitel permukaan dan kelenjar

saat 10 hari pasca ovulasi. Jika implantasi tidak terjadi pada suatu siklus

menstruasi, maka prosuksi progesteron oleh korpus luteum berhenti pada hari ke

13-14 pascaovulasi. Endometrium mengalami nekrosis iskemik dan meluruh.

3
Jika terjadi kehamilan maka masa hidup korpus luteum yang memanjang akan

memperpanjang produksi progesteron dan desidualisasi stroma akan berlanjut.

B. Struktur Desidua

William Hunter, seorang ginekolog Inggris abad ke-19, memberikan

penjelasan ilmiah pertama tentang membrana desidua. Menurut Damjanov

(1985), istilah ini diciptakan dengan memperhatikan kaidah logika formal yang

diterapkan dalam penulisan ilmiah-membrana, menunjukkan gambaran

makroskopiknya sedangkan kata sifatnya desidua, ditambahkan dengan analog

daun deciduous (berguguran) untuk menunjukkan sifatnya yang sesaat dan

kenyataan bahwa lapisan ini akan rontok atau terlepas dari uterus setelah

persalinan. Wewer dkk (1985) mengajukan bukti bahwa desidua memang dapat

dikualifikasikan sebagai membran, tidak hanya karena gambaran

makroskopiknya tetapi juga karena mengandung sebagian besar komponen

membran basal.

Lebih lanjut, setiap sel desidua matang akan dikelilingi oleh suatu

selaput yaitu membran perisel. Dengan demikian, sel-sel desidua jelas

membentuk dinding yang mengelilingi diri mereka masing-masing dan mungkin

mengelilingi janin juga. Bahkan, matriks perisel yang mengelilingi sel desidua

mungkin menjadi tempat melekatnya sitotrofoblas melalui molekul-molekul

adhesi sel dengan bertindak sebagai perancah tempat melekatnya trofoblas.

Membran sel desidua perisel juga mungkin memberi perlindungan bagi sel

desidua dari efek proteinase sitotrofoblas.

4
C. Fungsi Desidua

Adapun fungsi desidua dalam kehamilan adalah :

1. Sebagai jaringan imunologis khusus

2. Desidua dan arteri spiralis menerima invasi trofoblas dan mempersiapkan

nutrisi bagi mudigah dan janin,

3. Desidua menghasilkan berbagai sitokin dan faktor pertumbuhan yang

membantu pertumbuhan dan fungsi plasenta serta menghambat apoptosis.

4. Desidua dengan sel-selnya yang berasal dari sum-sum tulang, mula-mula

berfungsi menerima, tetapi kemudian membatasi invasi trofoblas kedalam

jaringan maternal.

5. Desidua juga merupakan suatu jaringan endokrin serba guna yang

menghasilkan prolaktin, 1,25-dihidro-vitamin D3, corticotropin releasing

hormone, parathyroid hormone-related protein, relaksin, prorenin,

somatostatin, oksitosin, aktivin, inhibin, globulin pengikat kortikosteroid,

protein pengikat kortikosteroid, protein pengikat insulin like growth factor

dan protein spesifik untuk kehamilan ganda.

6. Fungsi khusus desidua

a. Efek estrogen

Estradiol 17 merupakan estrogen alami yang dihasilkan oleh sel-

sel granulosa folikel ovarium dominan dan secara biologis poten,

meningkatkan kerja respon endometrium seperti cara kerja hormon

steroid yang klasik. Estradiol 17 masuk kedalam dari darah melalui

proses difusi sederhana, tetapi pada sel-sel peka estrogen, estradiol 17

diisolasi dengan cara berikatan kemolekul protein reseptor estrogen.

5
Estradiol 17 bekerja diendometrium dan jaringan peka estrogen lainnya

untuk semakin meningkatkan kerja estrogen dan meningkatkan

responsivitas jaringan tersebut terhadap progesteron. Sel-sel epitel

(kelenjar) endometrium merupakan sel peka estrogen, tetapi idak selalu

bereplikasi sebagai akibat langsung dari kerja estradiol 17 pada sel

epitel. Estrogen bila diberikan pada wanita yang telah dikastrasi atau

pascamenopause dapat meningkatkan pertumbuhan endometrium

terutama sel-sel epitel kelenjar.

b. Efek progesteron

Hormon ini juga masuk kedalam sel melalui proses difusi dan

pada jaringan yang peka akan berikatan dengan reseptor progesteron yang

berafinitas tinggi, tetapi berkapasitas rendah untuk progestin. Umumnya

kandungan reseptor progesteron dalam sel bergantung pada kerja estrogen

sebelumnya. Kompleks progesteon reseptor juga mendukung proses

transkripsi gen, tetapi respon terhadap progesteron sangat berbeda dari

respons yang dipicu oleh kompleks reseptor estrogen estradiol 17. Kerja

progesteron antara lain menurunkan sintesis molekul reseptor estrogen.

Ini adalah suatu cara progesteron untuk melemahkan kerja estrogen.

Progesteron juga bekerja untuk meningkatkan aktivitas enzimatik

estradiol 17 melalui peningkatan aktivitas enzim estradiol

dehidrogenase. Progesteron juga meningkatkan sulfurilasi estrogen

(Cunningham, 2006)

6
D. Reaksi Desidua

Pada kehamilan manusia, reaksi desidua dianggap tuntas hanya dengan

implantasi blastokista. Namun, perubahan-perubahan pradesidua yang mula-

mula terjadi di sel stroma endometrium yang berdekatan dengan arteriol dan

arteri spiralis, kemudian meluas bergelombang-gelombang ke seluruh mukosa

uterus dan kemudian dari tempat implantasi. Sel-sel stroma endometrium

membesar untuk membentuk sel-sel desidua yang poligonal atau bulat. Inti sel

manjadi bulat dan vesikular dan sitoplasma menjadi jernih, agak basofilik, dan

dikelilingi oleh suatu selaput bening. Pada awal kehamilan, desidua mulai

menebal, akhirnya mencapai kedalaman 5 sampai 10 mm. Dengan pembesaran,

dapat dideteksi adanya alur-alur dan banyak lubang kecil yang merupakan mulut

kelenjar uterus. Pada tahap kehamilan selanjutnya, seiring dengan, pertumbuhan

janin dan meningkatnya cairan amnion, ketebalan desidua berkurang, mungkin

karena tekanan yang ditimbulkan oleh bertambahnya isi uterus.

Bagian desidua yang terletak langsung di bawah tempat implantasi

blastokista mengalami modifikasi akibat invasi trofoblas dan menjadi desidua

basalis; bagian yang terletak di atas blastokista yang sedang membesar dan pada

awalnya memisahkan blastokista dari isi rongga uterus lainnya, adalah desidua

kapsularis dimana paling jelas tampak pada bulan kedua kehamilan, dan terdiri

dari sel-sel desidua yang dilapisi oleh sebuah lapisan sel epitel gepeng tanpa

bekas kelenjar. Di sebelah dalam, bagian desidua ini berkontrak dengan

membran janin ekstraembionik avaskular, korion laeve. Bagian uterus sisanya

dilapisi oleh desidua parietalis, yang kadang-kadang disebut desidua vera bila

desidua kapsularis dan desidua parietalis menyatu. Selama minggu-minggu awal

7
kehamilan, terdapat ruang antara desidua kapsularis dan desidua parietalis

karena kantung gestasional belum memenuhi seluruh rongga uterus. Pada

minggu ke-14 sampai 16, kantung yang terus membesar tersebut telah cukup

besar untuk memenuhi rongga uterus dan dengan menyatunya desidua kapsularis

dan parietalis maka rongga uterus secara fungsional lenyap.

Desidua parietalis dan desidua basalis seperti endometrium sekretorik,

masing-masing terdiri dari tiga lapisan yaitu stratum kompaktum yang

merupakan sebuah lapisan permukaan yang padat. Stratum spongiosum

merupakan bagian tengah yang berpori dengan sisa-sisa kelenjar dan banyak

pembuluh darah kecil dan stratum basale yang merupakan lapisan basal. Stratum

kompaktum dan spongiosum bersama-sama membentuk lapisan fungsional

(stratum fungsionale). Stratum basale tidak terlepas saat persalinan dan

membentuk endometrium baru.

Gambar. Endometrium yang sudah mengalami desidualisasi


membungkus mudigah

8
E. Pendarahan Desidua

Pendarahan desidua berubah sebagai konsekuensi dari implantasi.

Pasokan darah ke desidua kapsularis lenyap seiring dengan membesarnya

mudigah-janin dan ekspansinya memenuhi rongga uterus. Suplai darah ke

desidua parietalis melalui arteri spiralis tetap ada, seperti pada fase luteal siklus

endometrium. Arteri spiralis pada desidua parietalis mempertahankan dinding

otot polos dan endotelnya sehingga tetap responsif terhadap zat-zat vasoaktif

yang bekerja pada otot polos atau sel endotel pembuluh ini.

Namun, sistem arteri (spiralis) yang memperdarahi desidua basalis yang

terletak tepat di bawah implantasi blastokista hingga ruang antarvilus yang

mengelilingi sinsitiotrofoblas akan mengalami banyak perubahan. Arteri dan

arteriol spiralis ini diinvasi oleh sitotrofoblas, selama proses ini, dinding

pembuluh akan dirusak, meninggalkan hanya suatu selubung tanpa otot polos

atau sel endotel. Akibatnya, pembuluh darah maternal ini, yang kini menjadi

pembuluh uteroplasenta menjadi tidak responsif terhadap zat-zat vasoaktif.

Sebaliknya, pembuluh korionik janin yang mengangkut darah dari plasenta ke

janin, mengandung otot polos dan berespons terhadap zat vasoaktif, seperti

halnya arteri spiralis ibu.

F. Histologi

Stratum kompaktum desidua terdiri dari sel-sel epitelioid, poligonal,

berwarna muda dan berinti bulat vesikular yang besar dan tersusun rapat.

Banyak sel stroma terlihat seperti stelata/ berbentuk bintang (terutama apabila

desidua mengalami edema) dengan tonjolan-tonjolan panjang sitoplasma yang

beranastomosis dengan tonjolan-tonjolan sel di dekatnya. Juga terdapat banyak

9
sel bulat kecil, yang sitoplasmanya sangat sedikit, tersebar diantara sel desidua,

terutama pada awal kehamilan. Sel-sel ini adalah limfosit natural-killer tipe

khusus yang disebut sebagai limfosit granular besar uterus. Sel-sel ini berasal

dari sumsum tulang yang pada suatu saat masuk ke endometrium dari darah

perifer; tetapi sesudah itu, limfosit-limfosit granular besar ini terbentuk terutama

melalui replikasi in situ di endometrium pada waktu-waktu tertentu dalam siklus.

Pada awal kehamilan, stratum spongiosum desidua terdiri dari kelenjar-

kelenjar besar yang mengalami peregangan dan sering memperlihatkan

hiperplasia yang jelas tetapi hanya dipisahkan oleh sedikit stroma. Mula-mula

kelenjar dilapisi oleh epitel silindris khas uterus dengan aktivitas sekretorik yang

besar. Diperkirakan sekresi kelenjar ini ikut berperan dalam pemberian makan

blastokista selama fase histotrofiknya, sebelum sirkulasi plasenta terbentuk.

Seiring dengan kemajuan kehamilan, epitel secara bertahap menjadi kuboid atau

bahkan menggepeng, kemudian mengalami degenerasi dan terlepas ke dalam

lumen kelenjar. Pada kehamilan tahap akhir, unsur-unsur kelenjar desidua

umumnya sudah lenyap. Dengan membandingkan desidua parietalis pada usia

gestasi 16 minggu dengan endometrium fase proliferatif dinin pada wanita tidak

hamil, tampak jelas bahwa terjadi hipertrofi mencolok tetapi hanya sedikit

hiperplasia dari stroma endometrium selama transformasi desidua.

Desidua basalis ikut serta dalam membentuk lempeng basal (basal

plate) plasenta, dan secara histologis berbeda dari desidua parietalis dalam dua

aspek penting :

10
1. Stratum spongiosum desidua basalis terutama terdiri dari arteri dan

vena yang melebar dan pada kehamilan aterm kelenjar hampir lenyap

sama sekali.

2. Desidua basalis mengalami invasi oleh sel trofoblastik raksasa yang

muncul pada saat implantasi.

Gambar. Potongan melalui taut korion dan desidua basalis pada usia
gestasi 4 bulan

Jumlah dan kedalaman penetrasi sel raksasa ke endometrium sangat

bervariasi. Walaupun secara umum terbatas pada desidua, sel-sel ini dapat

menembus miometrium. Pada keadaan seperti ini, jumlah dan daya invasi sel-sel

ini mungkin sedemikian hebat sehingga memberi gambaran koriokarsinoma bagi

pengamat yang kurang berpengalaman.

G. Penuaan Desidua

Di tempat trofoblas bertemu dengan desidua, terbentuk suatu zona

degenerasi fibrinolitik yang disebut lapisan Nitabuch. Apabila terdapat kelainan

pada desidua seperti pada plasenta akreta, lapisan Nitabuch biasanya tidak

11
ditemukan. Juga terdapat pengendapan fibrin yang tidak konstan, stria Rohr, di

dasar ruang antarvilus dan di sekeliling vilus pengikat. McCombs dan Craig

(1964) mendapatkan bahwa nekrosis desidua merupakan suatu fenomena normal

pada trimester pertama dan juga mungkin trimester kedua. Dengan demikian,

adanya desidua nekrotik yang diperoleh melalui kuretase setelah abortus spontan

pada trimester pertama tidak harus diinterpretasikan sebagai suatu kausa atau

akibat dari abortus.

H. Prolaktin Dalam Desidua

Riddick dkk (1979) serta Golander dkk (1978) menyajikan bukti-bukti

meyakinkan bahwa desidua merupakan sumber prolaktin yang terdapat dalam

jumlah besar di dalam cairan amnion selama kehamilan manusia. Prolaktin

desidua jangan dicampur adukkan dengan laktogen plasenta (hPL), yang

diproduksi hanya oleh sinsitiotrofoblas. Prolaktin desidua adalah produk dari

gen yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior.

Kadar prolaktin dalam cairan amnion selama usia kehamilan 20 sampai

24 minggu dapat mencapai 10.000 ng per ml. Konsentrasi prolaktin dalam cairan

amnion sangat tinggi bila dibandingkan dengan kadar tertinggi prolaktin pada

janin (sampai sekitar 350 ng/ ml) atau plasma ibu (sampai sekitar 150 atau 200

ng/ ml). Prolaktin yang dihasilkan di desidua biasanya masuk ke dalam cairan

amnion dan hanya sedikit atau tidak ada yang masuk ke darah ibu. Ini adalah

contoh klasik lalu lintas molekul yang aneh antara jaringan ibu dan janin pada

sisi parakrin sistem komunikasi janin ibu.

Faktor-faktor yang mengendalikan sekresi prolaktin di desidua masih

belum dapat dipastikan. Sebagian besar zat yang diketahui berpengaruh, secara

12
negatif atau positif, terhadap kecepatan sekresi prolaktin oleh hipofisis anterior

misalnya dopamin dan agonis dopamin serta thyrotropin releasing hormone

tidak mengubah kecepatan sekresi prolaktin oleh desidua (baik in vivo maupun

in vitro). Brosens dkk (2000) membuktikan bahwa progestin (yaitu,

medroksiprogesteron asetat) bekerja secara sinergis dengan AMP siklik pada sel

stroma endometrium dalam biakan untuk meningkatkan ekspresi prolaktin.

Temuan para peneliti ini menunjukkan bahwa proses desidualisasi, seperti

ditandai oleh produksi prolaktin, ditentukan oleh kadar reseptor progesteron.

Dilaporkan bahwa asam arakidonat, bukan PGF2α atau PGE2α, memperlemah

kecepatan sekresi prolaktin oleh desidua (Handwerger dkk, 1981). Selain itu,

berbagai sitokin, termasuk interleukin-1 dan interleukin-2, bekerja untuk

menurunkan sekresi prolaktin oleh desidua, demikian juga endotelin-1 (Chao

dkk, 1994; Frank dkk, 1995; Kanda dkk, 1999). Blithe dkk (1991), mendapatkan

bahwa molekul ”alfa bebas” merangsang sintesis prolaktin dan sekresi prolaktin

oleh sel desidua manusia. Yang dimaksud dengan ”alfa bebas” adalah subunit-α

dari beberapa hormon glikoprotein termasuk hCG, follicle stimulating hormone

(FSH), luteinizing hormone (LH), dan thyroid stimulating hormone (TSH).

Plasenta menghasilkan subunit-α bebas, dan kadar subunit-α bebas dalam darah

ibu meningkat seiring dengan kemajuan kehamilan. Hal ini sebagian disebabkan

karena sintesis subunit-β hCG (bukan subunit-α) membatasi pembentukan hCG

lengkap di sinsitiotrofoblas.

Peran fisiologis prolaktin yang dihasilkan oleh desidua tidak diketahui.

Karena semua (atau hampir semua) prolaktin yang diproduksi oleh desidua

masuk ke dalam cairan amnion, beredar spekulasi bahwa hormon ini mungkin

13
berperan dalam transpor air dan zat terlarut menembus korio-amnion, sehingga

hormon ini berperan dalam pemeliharaan homeostasis volume cairan amnion.

Namun, telah dibuktikan juga bahwa reseptor prolaktin terdapat di sejumlah sel

imun yang berasal dari sum-sum tulang dan bahwa prolaktin bekerja pada sel

tulang untuk memodifikasi beberapa fungsi imun (Pellegrini dkk, 1992). Banyak

limfosit yang berasal dari sumsum tulang dijumpai di endometrium dan desidua

sepanjang kehamilan dan fungsi sel-sel imun ini mengalami cukup banyak

modifikasi pada jaringan ini. Dengan demikian, prolaktin yang dihasilkan di

desidua mungkin berfungsi mengendalikan fungsi imun di jaringan ini selama

kehamilan. Walaupun masih berupa spekulasi, prolaktin juga diperkirakan

memiliki berbagai peran lain.

14
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Endometrium yang telah mengalami modifikasi khusus terhadap

kehamilan disebut desidua. Transformasi endometrium sekretorik menjadi

desidua bergantung pada kerja estrogen dan progesteron dan rangsangan lain

yang dihasilkan oleh blastokista yang berimplantasi selama invasi trofoblas ke

endometrium dan pembuluh darahnya. Pendarahan desidua berubah sebagai

konsekuensi dari implantasi. Pasokan darah ke desidua kapsularis lenyap seiring

dengan membesarnya mudigah-janin dan ekspansinya memenuhi rongga uterus.

Wewer dkk (1985) mengajukan bukti bahwa desidua memang dapat

dikualifikasikan sebagai membran, tidak hanya karena gambaran

makroskopiknya tetapi juga karena mengandung sebagian besar komponen

membran basal. Lebih lanjut, setiap sel desidua matang akan dikelilingi oleh

suatu selaput yaitu membran perisel. Dengan demikian, sel-sel desidua jelas

membentuk dinding yang mengelilingi diri mereka masing-masing dan mungkin

mengelilingi janin juga.

Perubahan-perubahan pradesidua yang mula-mula terjadi di sel stroma

endometrium yang berdekatan dengan arteriol dan arteri spiralis, kemudian

meluas bergelombang-gelombang ke seluruh mukosa uterus dan kemudian dari

tempat implantasi. Sel-sel stroma endometrium membesar untuk membentuk sel-

sel desidua yang poligonal atau bulat. Dengan membandingkan desidua

parietalis pada usia gestasi 16 minggu dengan endometrium fase proliferatif dini

15
pada wanita tidak hamil, tampak jelas bahwa terjadi hipertrofi mencolok tetapi

hanya sedikit hiperplasia dari stroma endometrium selama transformasi desidua.

Riddick dkk (1979) serta Golander dkk (1978) menyajikan bukti-bukti

meyakinkan bahwa desidua merupakan sumber prolaktin, yang terdapat dalam

jumlah besar di dalam cairan amnion selama kehamilan manusia.

16
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary et al. 2006. Obstetri William. Edisi 21. EGC, Jakarta.

Heffner, LJ dan Schust, DJ. 2010. At a Glance Sistem Reproduksi. Edisi 2.


Erlangga, Jakarta.

Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. PT. Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo, Jakarta.

Varney, H. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. EGC, Jakarta.

17