Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PEMULIAAN TANAMAN

HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK

Disusun oleh:
Nama : Rahma Arum Wulan
NIM : 18/427871/PN/15651
Gol./Kel. : A2/3

RUANG MENDEL
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2020
HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK

A. Hasil Pengamatan
1. Heritabilitas
Varian genotipe (𝝈𝟐𝑮 ) = 5,81
Varian sesatan (𝝈𝟐𝜷 ) = 0,58
Varian fenotipe (𝝈𝟐𝑷 ) = varian Genotipe(𝜎𝐺2 ) + varian blok (𝜎𝛽2 )
= 6,39
𝜎𝐺2
Heritabilitas (H2) = = 0,91
𝜎𝑃2

Kesimpulan = Heritibilitas tinggi karena H2 > 0.2, artinya keragaman fenotipe


suatu individu tanaman hampir seluruhnya dipengaruhi oleh faktor
genetik. Faktor genetik berperan besar dalam mengendalikan sifat
tanaman dibandingkan dengan faktor lingkungan. Sifat yang
diwariskan dari tetua ke keturunannya sebesar 91%.

2. Kemajuan Genetik
Tabel 1. (dari populasi 1)
Populasi 100 tanaman 3 tanaman 5 tanaman 10 tanaman
Rerata 9,8600 14,0000 13,7000 13,0200
Std deviasi 2,0108 0,4082 0,5099 0,8268
S 4,1400 3,8400 3,1600
I 2,0589 1,9097 1,5715
R 3,7640 3,4912 2,8730
Populasi baru 13,6240 13,3512 12,7330
Tabel 2. (dari populasi 2)
Populasi 100 tanaman 3 tanaman 5 tanaman 10 tanaman
Rerata 20,1580 34,2000 33,7000 32,6700
Std deviasi 6,3272 0,6164 0,8075 1,3297
S 14,0420 13,5420 12,5120
I 2,2193 2,1403 1,9775
R 12,7666 12,3120 11,3755
Populasi baru 32,9246 32,4700 31,5335

a. Diagram distribusi normal populasi awal 1 dan 2

Gambar 1. Diagram Distribusi Normal Tinggi Seratus Tanaman Populasi 1

Gambar 2. Diagram Distribusi Normal Tinggi Seratus Tanaman Populasi 2


b. Perbandingan diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,03

Gambar 3. Perbandingan Diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,03


c. Perbandingan diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,05

Gambar 4. Perbandingan Diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,05


d. Perbandingan diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,10

Gambar 5. Perbandingan diagram distribusi populasi 1 dengan p=0,10


e. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,03

Gambar 6. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,03


f. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,05

Gambar 7. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,05


g. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,10

Gambar 8. Perbandingan diagram distribusi populasi 2 dengan p=0,10


B. Pembahasan
Pertanian merupakan sektor fundamental dan penting keberdaannya sebagai sumber
kebutuhan pangan, pemasok bahan baku industri hingga sumber penghasilan devisa negara.
Namun, hal yang menjadi prioritas utama pembangunan pertanian adalah menyediakan
pangan bagi seluruh penduduk yang terus meningkat. Permintaan akan komoditas pangan akan
terus meningkat sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk serta perkembangan industri
dan pakan. Dengan demikian, baik sekarang maupun di masa yang akan datang, upaya
peningkatan produksi tanaman pertanian perlu untuk dilakukan dengan memperhatikan
efesiensi, daya saing produksi hingga keberadaan tanaman tersebut dalam kaitannya dengan
kelestarian lingkungan.
Peningkatan produksi suatu tanaman dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan bahan
tanam melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Seleksi merupakan salah satu faktor penting yang
menentukan keberhasilan program pemuliaan. Akan tetapi pelaksanaan seleksi secara visual
belum tentu dapat menjadi indikator seleksi berjalan efektif dan memberikan hasil yang
memuaskan. Seleksi secara visual perlu berpedoman pada nilai parameter genetiknya seperti
nilai keragaman genetik, heritabilitas, dan kemajuan genetik harapan (Wulandari et al. 2016).
Menurut Govindaraj et al. (2015), keragaman genetik tanaman dapat memberikan
kesempatan bagi para pemulia tanaman untuk mengembangkan kultivar baru dengan karakter
tertentu yang diinginkan seperti benih yang potensial dan memiliki ketahanan terhadap hama
dan penyakit, dan lain sebagainya. Sejak penelitian mengenai pemuliaan tanaman dan
pengembangan kultivar digunakan dalam upaya meningkatkan produksi makanan,
ketersediaan dan akses ke berbagai sumber keragaman genetik tanaman dikatakan menjadi
lebih berkelanjutan. Selanjutnya, dengan adanya variabilitas genetik dalam tanaman, hal yang
sangat penting adalah perbaikan lebih lanjut varietas dan hibrida baru. Perbaikan atau
perubahan yang lebih baik ini dapat diamati melalui sifat fenotipik dan juga karakter
molekuler dari sumber tanaman yang memiliki keragaman genetik.
Peningkatan produktivitas tanaman dapat dilakukan melalui manipulasi atau
pengaturan lingkungan tumbuh dan memperbaiki potensi genetik tanaman. Perbaikan potensi
genetik tanaman hanya dapat dilakukan melalui pemuliaan tanaman. Variabilitas genetik
merupakan bahan baku dalam pemuliaan tanaman, tanpa itu tak akan ada perbaikan potensi
genetik tanaman. Seleksi pada tanaman agar supaya efektif, perlu diketahui beberapa
parameter genetiknya, seperti: variabilitas genetik dan heritabilitas karakter-karakter yang
akan dijadikan kriteria seleksi. Variabilitas genetik dalam arti luas merupakan salah satu syarat
efektifnya program seleksi. Seleksi untuk karakter yang diinginkan akan lebih berarti jika
karakter tersebut mudah diwariskan. Mudah tidaknya suatu karakter diwariskan dapat
diketahui dari besarnya nilai heritabilitas karakter tersebut. Seleksi pada tanaman bertujuan
untuk mendapatkan genotipe unggul untuk keperluan budidaya dan untuk mendapatkan calon
tetua unggul untuk keperluan hibridisasi tanaman tersebut. Seberapa besar kemungkinan suatu
karakter diwariskan, diukur dengan nilai heritabilitas karakter tersebut (Pangemanan et. al.,
2013).
Variabilitas genetik menunjukkan kriteria keanekaragaman genetik. Seleksi merupakan
suatu proses pemuliaan tanaman dan merupakan dasar dari seluruh perbaikan tanaman untuk
mendapatkan kultivar unggul baru. Variabilitas genetik yang luas merupakan salah satu syarat
efektifnya program seleksi dan seleksi suatu karakter yang diinginkan akan lebih berarti
apabila karakter tersebut mudah diwariskan (Wahyuni dkk., 2004). Evaluasi variasi genetik
akan mendapatkan perbaikan-perbaikan sifat disamping juga diperolehnya keleluasaan dalam
pemilihan suatu genotipe unggul (Bari dan Sjamsudin., 1982).
Variabilitas genetik atau ragam genetik merupakan penyebab utama ketidaksamaan
antar kerabat. Tingkat keragaman tersebut akan diwariskan dan diukur oleh parameter yang
disebut dengan heritabilitas. Heritabilitas merupakan perbandingan antara besaran ragam
genotip dengan besaran total ragam fenotip dari suaru karakter. Hubungan ini mengakibatkan
seberapa jauh fenotipe dapat merefleksikan genotipe (Syukur et al., 2012). Menurut Usman et
al. (2014), heritabilitas juga dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan kekerabatan yang
mana karakter dari individu tersebut dapat diturungkan dari induk kepada keturunannya. Maka
dari itu, heritabilitas sering disebut sebagai tingkat genetic control terhadap beberapa sifat
penting.
Heritabilitas dinyatakan dengan persen (%) dan dituliskan dengan huruf H atau h2.
Heritabilitas merupakan parameter paling penting dalam pemuliaan tanaman. Semakin tinggi
nilai heritabilitas suatu sifat yang diseleksi, maka semakin tinggi peningkatan sifat yang
diperoleh setelah seleksi. sedangkan jika nilai heritabilitas rendah, maka sebaiknya seleksi
dilakukan berdasarkan kelompok. Rendahnya nilai heritabilitas disebabkan oleh rendahnya
variasi genetik dan tingginya variasi lingkungan (Syukur et al, 2011).
Perkiraan heritabilitas merupakan komponen penting dalam memahami mekanisme
yang memungkinkan hewan beradaptasi dengan kondisi yang berubah. Dengan kata lain, kita
tidak dapat mengetahui nilai kebugaran dari sifat-sifat kognitif dan neural tanpa juga
mengetahui sejauh mana ciri-ciri ini akan diwariskan. Demikian pula, pemahaman penuh
tentang plastisitas tidak dapat dicapai tanpa mengukur heritabilitas, karena plastisitas dan
heritabilitas mewakili 2 sisi dari mata uang yang sama. Namun, perkiraan heritabilitas
sebagian besar hilang dari studi variasi kognitif adaptif dalam sistem nonmodel (Thornton dan
Lukas 2012 cit. Croston et al., 2015).
Informasi mengenai variasi genetik dan heritabilitas berguna untuk menentukan
kemajuan genetik yang diperoleh dari seleksi (Suprapto dan Kairudin, 2007). Seleksi pada
tanaman akan menunjukkan kemajuan genetik yang tinggi jika sifat yang dilibatkan dalam
seleksi mempunyai variasi genetik dan heritabilitas yang tinggi. Jika nilai heritabilitas tinggi,
sebagian besar variasi fenotip disebabkan oleh variasi genetik, maka seleksi akan memperoleh
kemajuan genetik. Seleksi terhadap sifat yang mempunyai nilai heritabilitas tinggi dapat
dilakukan pada generasi awal, sedangkan sifat yang menunjukkan nilai heritabilitas rendah,
seleksi dapat dilakukan pada generasi akhir (Suprapto dan Kairudin, 2007). Sifat-sifat yang
dikendalikan oleh gen-gen bukan aditif menyebabkan kemajuan genetik yang rendah. Hal ini
disebabkan pengaruh tindak gen bukan aditif tidak diwariskan dan akan lenyap semasa seleksi
(Yap et. al., 1990).
Ada dua konteks definisi heritabilitas, yaitu heritabilitas dalam arti luas yang diberi
symbol H2 dan heritabilitas dalam arti sempit dengan lambang h 2. Heritabilitas, dalam arti luas
(H2), didefinisikan sebagai keseluruhan variasi fenotipik individu yang dijelaskan oleh varians
genetik, tetapi dalam kepraktisan, dapat sulit untuk mengukur dan memartikan secara tepat.
Kontribusi utama untuk H2 adalah arti sempit atau heritabilitas aditif (h 2), yang dapat lebih
akurat dikuantifikasi. Baru-baru ini, metode baru didirikan untuk memperkirakan variasi
fenotipe total yang diatribusikan ke variasi genetik aditif menggunakan data genotip SNP
genome-lebar 16-19. Metode ini telah diterapkan pada lusinan ciri-ciri yang diuji GWAS dan
diperluas untuk memeriksa bersama-sama ko-heritabilitas penyakit terkait (Li et al., 2015).
Heritabilitas dalam arti luas dapat didefinisikan sebgai bagian dari keragaman total
suatu sifat yang dibebabkan oleh pengaruh genetic. Definisi tersebut dapat diilustrasikan
sebagai melalui rumusan berikut
2
𝜎𝑔2 𝜎𝑎2 + 𝜎𝑑2 + 𝜎𝑖2
𝐻 = 2=
𝜎𝑝 𝜎𝑝2

(Nurglartiningsih, 2017).
Sedangkan heritabilitas dalam arti sempit adalah bagian dari ragam total yang
disebabkan oleh gen aditif, yang ditulis dalam rumus berikut :

𝜎𝑎2
ℎ2 =
𝜎𝑝2
(Nurglartiningsih, 2017).
Menurut Nurglartiningsih (2017), nilai heritabilitas ini menggambarkan besarnya
ragam fenotipe yang ditentukan oleh faktor genetic aditif serta menggambarkan bagian dari
keunggulan tetua yang diwariskan kepada keturunannya. Heritabilitas juga merupakan ukuran
dari kemajuan genetic akibat seleksi. Salah satu faktor yang menentukan kemajuan genetic
yang dihasilkan dari seleksi adalah nilai heritabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi nilai heritabilitas suatu sifat yang digunakan sebagai kriteria seleksi, maka semakin
tinggi pula kemajuan genetic yang dicapai akibat seleksi terhadap sifat tersebut.
Nilai heritabilitas berkisar dari nol hingga satu. Nilai nol pada heritabilitas berarti en
aditif tidak berperan dalam perbedaan fenotipe yang terbentuk antar individu. Sedangkan nilai
satu pada heritabilitas menunjukkan bahwa perbedaan individu dalam sifat yang diamati
disebabkan oleh 100% gen aditif (Nurglartiningsih, 2017). Adapun nilai heritabilitas menurut
Jameela et al. (2014), kriteria dugaan heritabilitas (h2) dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelas yaitu:
• Rendah : h2 < 0.20
• Sedang : 0.20 ≤ h2 ≤ 0.50
• Tinggi : h2 >0.50
Nilai heritabilitas suatu sifat tergantung pada tindak gen yang mengendalikan sifat
tersebut (Jain cit Suprapto dan Kairudin, 2007). Jika heritabilitas dalam arti sempit suatusifat
bernilai tinggi, maka sifat tersebut dikendalikan oleh tindak gen aditif pada kadar yang tinggi.
Sebaliknya jika heritabilitas dalam arti sempit bernilai rendah, maka sifat tersebut
dikendalikan oleh tindak gen bukan aditif (dominan dan epistatis) pada kadar yang tinggi
(Singh and Murty cit Suprapto dan Kairudin, 2007).
Selain parameter variabilitas genetic dan heritabilitas yang menentukan keberhasilan
seleksi pada pemuliaan tanaman, terdapat pula parameter lain yakni kemajuan genetik.
Kemajuan genetik adalah selisih antara rerata nilai fenotipe populasi yang tetuanya berasal
dari tanaman terpilih dengan rerata nilai fenotipe populasia awal. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kemajuan genetik adalah nilai heritabilitas. Makin besar nilai heritabilitas,
makin besar kemajuan seleksi yang diraihnya dan makin cepat varietas unggul dihasilkan.
Sebaliknya, makin rendah nilai heritabilitas arti sempit, makin kecil kemajuan seleksi
diperoleh dan semakin lama varietas unggul baru diperoleh (Jameela et al., 2014).
Kemajuan genetik adalah suatu perkiraan akan peningkatan hasil sebagai akibat dari
dilakukannya seleksi. Kemajuan genetik disimbolkan dengan R dan dikatakan terjadi apabila
rata-rata nilai genetik dari keturunan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai genetik dari
generasi sebelumnya (Alonso et al., 2018). Kemajuan genetik dapat diperkirakan nilainya
dengan mengetahui diferensial seleksi dan intensitas seleksi. Diferensial seleksi dapat
diperhitungkan dengan mencari selisih antara rerata nilai fenotipe tanaman terpilih (µ s)
dengan rerata nilai fenotip tanaman populasi awal (µ0). Nilai diferensial seleksi yang semkain
besar menunjukkan bahwa perbedaan rerata populasi yang diseleksi dengan populasi awal
semakin besar, sehingga dapat dikatakan kemajuan genetik dari populasi tersebut juga
semakin besar. Adapun secara sistematis nilai diferensial seleksi dapat dicari dengan rumusan
berikut :
𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
(Nurgiantiningsih, 2017)
Selain mencari diferensial seleksi, perlu pula untuk diketahui intensitas seleksi atau
disimbolkan dengan i. Intensitas seleksi (i) yaitu nilai dari diferensiasi seleksi yang dibakukan.
Besarnya intensitas seleksi dapat diperoleh dari hasil bagi antara nilai yang diperoleh dari
diferensial seleksi (S) dengan simpangan baku suatu sifat yng diseleksi pada populasi tertentu.
Adapun, rumusan dari intensitas seleksi (i) adalah sebagai berikut :
𝑆
𝑖=
𝜎𝑃
(Nurgiantiningsih, 2017)
Selain dengan rumus diatas, nilai intensitas seleksi juga dapat ditentukan melalui
pendekatan distribusi normal, sehingga dapa dirumuskan sebagai berikut:
𝑧
𝑖=
𝑝
(Nurgiantiningsih, 2017)
Nilai intensitas seleksi akan ditentukan oleh proporsi yang diseleksi yang nilainya
dapat dilihat langsung pada tabel intensitas seleksi. Semakin sedikit proporsi populasi yang
diseleksi, maka semakin tinggi pula intensitas seleksi yang terjadi. Adapun dengan
mengetahui nilai heritabilitas dan diferensiasi seleksi, kemajuan genetik dapat dicari tanpa
perlu dilakukan penanaman suatu populasi tanaman terlebih dahulu yang memakan waktu
lama. Perhitungan nilai kemajuan genetik tersebut dapat dicari melalui rumusan berikut :
𝑅 = ℎ2 𝑆
(Nurgiantiningsih, 2017)
Namun sebenarnya, nilai kemajuan genetik dapat dicari secara manual yakni dengan
mencari selisih antara rerata nilai fenotipe populasi tanaman yang tetuanya berasal dari
tanaman terpilih (µ1) dengan rerata nilai fenotipe populasi awal (µ0). Ilustrasinya adalah
sebagai berikut:
𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
Dengan rumusan diatas maka artinya kita perlu menanam kembali populasi awal untuk
mengetahui rerata nilai fenotipenya. Hal ini akan menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga,
serta biaya yang dapat menghambat proses pemuliaan tanaman. Namun demikian untuk
menghitung kemajuan genetik dapat digunakan rumus tanpa perlu melakukan penanaman awal
terlebih dahulu yakni sebagai berikut :
R = i . H. σρ
(Kristamtini et al., 2011)

Konsep kemajuan genetik didasarkan kepada perubahan dalam rata-rata penampilan


yang dicapai suatu populasi dalam setiap siklus seleksi. Satu siklus seleksi meliputi:
pembentukan sebuah populasi bersegreasi, pembentukan genotipe-genotipe untuk dievaluasi,
evaluasi genotipe-genotipe, seleksi genotipe-genotipe superior, pemanfaatan atau penggunaan
genotipe-genotipe terseleksi; varietas baru atau sebagai tetua. Penyelesaian satu siklus seleksi
akan bervariasi dari satu strategi metode-metode seleksi. Kemajuan genetik diukur dinyatakan
dalam satuan per tahun (Satriawan, 2017).
Praktikum Acara VI yang berjudul “Heritabilitas dan Kemajuan Genetik” dilakukan
pada hari Selasa, 10 Maret 2019 di Ruang Ruang Sidang Buper, Fakultas Pertanian UGM.
Pada praktikum ini digunakan padi (Oryza sativa L.) sebagai tanaman uji coba. Adapun
pengamatan dilakukan terhadap 5 varietas padi, dengan jumlah keseluruhan padi dari kelima
varietas adalah 100 tanaman padi. Dalam praktikum ini digunakan 2 buah nampan berisi
masing-masing 100 tanaman padi yang terdiri atas 5 varietas sebagai visualisasi 2 populasi
tanaman yang diamati. Selanjutnya, seluruh tanaman dari tiap varietas diukur tingginya dan
dipilih helai daun yang paling tinggi dalam satu lubang tanam. Lalu dilakukan pencatatan dan
diinput dalam aplikasi Microsoft excel. Setelah itu, data tinggi tanaman diurutkan dari nilai
tertinggi ke terendah. Setelah itu, pada data populasi 1 tanaman padi diblok dan dimasukkan
dalam aplikasi R studio untuk mendapatkan nilai yang dibutuhkan dalam perhitungan nilai
heritabilitas. Berdasarkan uji anova yang dilakukan dalam R studio dapat diketahui nilai
kuadrat tengah sampel, lingkungan, dan genetik. Nilai kuadrat tengah dari sampel memiliki
kesamaan nilai dengan varians sampel atau disimbolkan dengan 𝜎̂𝑆2 yang bernilai 6.39 dan
digunakan untuk perhitungan formula perhitungan varians lingkungan (𝜎̂𝐸2 ) dan genetik (𝜎̂𝐺2 )
hingga diperoleh hasil berturut-turut 0.58 dan 5.81. Berdasarkan nilai varians yang diperoleh
dapat dilakukan perhitungan nilai heritabilitas dengan rumusan tertentu hingga didapatkan
nilai sebesar 0.91. Berdasarkan nilai heritabilitas yang didapatkan tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa pengaruh lingkungan lebih mempengaruhi kenampakan fisik atau fenotipe
dari tanaman padi yang diamati karena nilai presentase yang diperoleh adalah 0.91 keragaman
pada tanaman padi dipengaruhi oleh faktor genetik dan 0.09 karakter tanaman padi lebih
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh sebab itu dikatakan bahwa faktor genetik lebih
dominan memberikan pengaruh terhadap fenotipe tanaman padi dibandingkan pengaruh
lingkungannya. Adapun bila dimasukkan dalam klasifikasi nilai heritabilitas menurut Jameela
et al. (2014), nilai heritabilitas yang diperoleh untuk tanaman padi pada praktikum ini
tergolong dalam kelas tinggi karena besaran berada >0.50.
Selain itu dilakukan pula perhitungan terhadap kemajuan genetik dengan menggunakan
tanaman padi. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan dua populasi tanaman padi yang
masing-masing berisi 100 tanaman padi. Tinggi tanaman yang telah diamati dalam praktikum
ini dicatat dalam Microsoft excel dan diurutkan dari nilai yang tertinggi ke terendah. Pada
populasi 100 tanaman padi yang pertama, rerata tinggi tanamannya adalah 9.86 cm dengan
standar deviasi 2.01. Sedangkan pada populasi 100 tanaman padi yang kedua, rerata tinggi
tanamannya adalah 20.15 cm dengan standar deviasi 6.32. Selanjutnya dilakukan seleksi
terhadap 3 tanaman padi tertinggi, 5 tanaman padi tertinggi, dan 10 tanaman padi tertinggi.
Dari masing-masing seleksi tersebut, dilakukan perhitungan terhadap nilai rerata, standar
deviasi, diferensial seleksi, intensitas seleksi, dan kemajuan genetik dari populasi seleksi.
Dalam praktikum ini, nilai kemajuan genetik dapat diperoleh tanpa harus menanam populasi
terpilih terlebih dahulu, yakni dengan menggunakan rumusan yang memanfaatkan nilai
heritabilitas, intensitas seleksi, dan diferensial seleksi. Hasil yang diperoleh kemudian
direpresentasikan dalam bentuk diagram kurva distribusi normal.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, pada populasi 100 tanaman padi yang
pertama diperoleh hasil bahwa ketiga kategori mengalami kemajuan genetik. Pada populasi
seleksi kategori 3 tanaman tertinggi mengalami kemajuan genetik sebesar 3.7640, pada
populasi seleksi kategori 5 tanaman paling tinggi mengalami kemajuan genetik sebesar 3.4912
dan pada populasi seleksi kategori 10 tanaman tertinggi juga mengalami kemajuan genetik
yakni sebesar 2.7830. Nilai kemajuan genetik dilambangkan dengan R dan dapat diperoleh
dengan perhitungan rumus, maupun juga dengan menghitung selisih antara rerata populasi
baru dengan rerata populasi awal. Dengan demikian nilai kemajuan genetik dengan rumus dan
selisih tersebut harus memberikan hasil yang sama. Adapun berdasarkan nilai kemajuan
genetik dapat diketahui bahwa kemajuan genetik yang terjadi pada populasi seleksi dalam
ketiga kategori tergolong tinggi, serta berarti memberikan kemajuan genetik karena hasil yang
diperoleh bernilai positif.
Selain itu, pada populasi tanaman padi yang kedua juga diberikan perlakuan yang sama
seperti pada populasi tanaman padi yang pertama. Pada populasi tanaman padi yang kedua,
diambil juga populasi seleksi menurut 3 kelas yaitu kelas 3 tanaman, 5 tanaman, dan 10
tanaman yang paling tinggi. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh hasil bahwa kemajuan
genetik dari tanaman padi populasi kedua kategori 3 tanaman pertama ialah sebesar 12.7666,
untuk kategori 5 tanaman pertama adalah 12.3120 dan untuk kategori 10 tanaman pertama
adalah sebesar 11.3755. Sama halnya seperti pada populasi yang pertama, kemajuan genetik
yang terjadi pada populasi seleksi dalam kategori 3 tanaman tetinggi, 5 tanaman tertinggi, dan
10 tanaman tertinggi tergolong tinggi serta mengalamai kemajuan genetik yang ditunjukkan
lewat nilai R yang positif. Semakin besar nilai kemajuan genetik maka hasil populasi baru
juga akan makin baik dari pada tetuanya.
Kesimpulan
Dalam praktikum ini, faktor genetik lebih dominan memberikan pengaruh terhadap
fenotipe tanaman padi dibandingkan pengaruh lingkungannya. Adapun bila dimasukkan dalam
klasifikasi nilai heritabilitas menurut Jameela et al. (2014), nilai heritabilitas yang diperoleh
untuk tanaman padi pada praktikum ini tergolong dalam kelas tinggi karena besaran berada
>0.50.
Daftar Pustaka
Alonso, M. P., N. E., Mirabella, J. S. Panelo, M. G. Cendoya, A. C. Pontaroli. 2018. Selection for
high spike fertility index increases genetic progress in grain yield and stability in bread
wheat. Euphytica 214(112) : 1-12
Bari, A. S. Musa, dan E. Sjamsudin. 1982. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Croston R., C.L. Branch, D.Y. Kozlovsky, R. Dukas, and V.V. Pravosudov. 2015. Heritability
and the evolution of cognitive traits. International Society for Behavioral Ecology.
26(6), 1447–1459
Govindaraj, M., M. Vetriventhan, and M. Srinivasan. 2015. Importance of genetic diversity
assessment in crop plants and its recent advances : An overview of its analytical
perpective. Genetics Research International : 1-14.
Jameela, H., A.N. Sugiharto dan A. Soegianto. 2014. Keragaman genetik dan heritabilitas
karakter komponen hasil pada populasi F2 buncis (Phaseolus vulgaris L.) hasil
persilangan varietas introduksi dengan varietas local. Jurnal Produksi Tanaman 2: 324-
329.
Kristamtini, Sutarno, E.W. Wiranti., dan S.Widyayanti. 2016. Kemajuan genetik dan heritabilitas
karakter agronomi padi beras hitam pada populasi f2. Penelitian Pertanian Tanaman
Pangan 35 (2): 119-124.
Li Yun R, Sihai D. Zhao, Jin Li, Jonathan P. 2015. Genetic sharing and heritability of paediatric
age of onset autoimmune diseases. Nature Communications. DOI: 10.1038.
Nurglartiningsih, A. 2017. Pengantar Parameter Genetik pada Ternak. UB Press. Malang. Hal
:14-16.
Pangemanan V., D.S. Runtunuwu dan J. Pongoh. 2013. Variabilitas genetik dan heritabilitas
karakter morfologis beberapa genotipe kentang. Jurnal Eugenia 19: 146-152.
Satriawan,I. B., A. N. Sugiharto dan S. Ashari. 2017. Heritabilitas dan kemajuan genetik tanaman
cabai merah (Capsicum Annuum L.) Generasi F2. Jurnal Produksi Tanaman Vol.5 (2)
Suprapto dan N.M. Kairudin. 2007. Variasi genetik, heritabilitas, tindak gen dan kemajuan
genetik kedelai (Glycine max Merrill) pada ultisol. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 9: 183 –
190.
Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti. 2012. Teknik Pemulian Tanaman. Penerbit Swadaya,
Jakarta.
Usman, Mangaji G., Malek., Rafii, M.Y., Ismail, M.R., Malek, M.A., Latif, Mohammad Abdul.
2014. Heitibility and genetic among chili pepper genotypes for hat tolerance and
morphophysiological characteristics. Hindawi Publishing Corporation. Scientific World
Journal. 1-14.
Wahyuni, T. S., R. Setiamihardja, N. Hermiati, dan K. H. Hendroatmodjo. 2004. Variabilitas
genetik, heritabilitas, dan hubungan antara hasil umbi dengan beberapa karakter
kuantitatif dari 52 genotipe ubi jalar di kendalpayak malang. Zuriat 15:109-117.
Wulandari, J.E., I. Yulianah, dan D. Saptadi. 2016. Heritabilitas dan kemajuan genetik harapan
empat populasi F2 tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) pada budidaya organik.
Jurnal Produksi Tanaman 4(5):361-369.
Yap, T.C., M. Chai and M.S. Saad. 1990. Pembiakbakaan tumbuhan. Dewan Bahasa dan Pustaka
Kementeriaan Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur.
Lampiran

Lampiran 1. Perhitungan
A. Populasi 1
➢ P = 0,03 ➢ P=0,05
Diferensial seleksi Diferensial seleksi
𝑆 = 𝜇𝑠 − 𝜇0 𝑆 = 𝜇 𝑠 − 𝜇0
𝑆 = 14,0000 − 9,8600 𝑆 = 13,7000 − 9,8600
𝑆 = 4,1400 𝑆 = 3,8400

Intensitas Seleksi Intensitas Seleksi


𝑆 𝑆
𝑖= 𝑖=
𝜎𝑝 𝜎𝑝
4,1400 3,8400
𝑖= 𝑖=
2,0108 2,0108
𝑖 = 2,0589 𝑖 = 1,9097

Kemajuan Genetik (R) Kemajuan Genetik (R)


𝑅 = ℎ2 𝑆 𝑅 = ℎ2 𝑆
𝑅 = 0,9092 × 4,1400 𝑅 = 0,9092 × 3,8400
𝑅 = 3,7640 𝑅 = 3,4912

Populasi baru Populasi baru


𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0 𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0 𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0
𝜇1 = 3,7640 + 9,860 𝜇1 = 3,4912 + 9,8600
𝜇1 = 13,6240 𝜇1 = 13,3512
➢ P=0,1 Populasi 2
Diferensial seleksi ➢ P = 0,03
𝑆 = 𝜇𝑠 − 𝜇0 Diferensial seleksi
𝑆 = 13,0200 − 9,8600 𝑆 = 𝜇𝑠 − 𝜇0
𝑆 = 3,1600 𝑆 = 34,2000 − 20,1580
𝑆 = 14,0420
Intensitas Seleksi
𝑆 Intensitas Seleksi
𝑖=
𝜎𝑝 𝑆
𝑖=
3,1600 𝜎𝑝
𝑖=
2,01080 14,0420
𝑖=
𝑖 = 1,5715 6,3272
𝑖 = 2,2193
Kemajuan Genetik (R)
𝑅 = ℎ2 𝑆 Kemajuan Genetik (R)
𝑅 = 0,9092 × 3,1600 𝑅 = ℎ2 𝑆
𝑅 = 2,8730 𝑅 = 0,9092 × 14,0420
𝑅 = 12,7666
Populasi baru
𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0 Populasi baru
𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0 𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
𝜇1 = 0.4548 + 16.3770 𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0
𝜇1 = 16.8318 𝜇1 = 12,7666 + 20,1580
𝜇1 = 32,9246
➢ P=0,05 𝑆
𝑖=
Diferensial seleksi 𝜎𝑝

𝑆 = 𝜇𝑠 − 𝜇0 12,5120
𝑖=
6,3272
𝑆 = 33,7000 − 20,1580
𝑖 = 1,9775
𝑆 = 13,5420

Kemajuan Genetik (R)


Intensitas Seleksi
𝑅 = ℎ2 𝑆
𝑆
𝑖= 𝑅 = 0,9092 × 12,5120
𝜎𝑝
13,5420 𝑅 = 11,3755
𝑖=
6,3272
𝑖 = 2,1403 Populasi baru
𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
Kemajuan Genetik (R) 𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0
𝑅 = ℎ2 𝑆 𝜇1 = 11,3755 + 20,1580
𝑅 = 0,9092 × 33,700 𝜇1 = 31,5335
𝑅 = 12,3120

Populasi baru
𝑅 = 𝜇1 − 𝜇0
𝜇1 = 𝑅 + 𝜇0
𝜇1 = 12,3120 + 20,1580
𝜇1 = 32,4700

➢ P = 0,1
Diferensial seleksi
𝑆 = 𝜇 𝑠 − 𝜇0
𝑆 = 32,6700 − 20,1580
𝑆 = 12,5120

Intensitas Seleksi
Lampiran 2. Histogram sebaran tinggi tanaman
Populasi nampan 1

Populasi nampan 2
urnal