Anda di halaman 1dari 4

Nama : Berlyan Made Putu Wijaya

NIM : 410018068

Mata Kuliah : Geologi Sejarah

1. Teori Pembentukan Bumi.

Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk
seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:

 Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau
perbedaan unsur.

 Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi.


Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat
jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.

 Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar,
dan kerak bumi.

 Teori Big Bang

Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar
tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya.
Putaran tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian
besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu
meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula.

Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku
dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian
membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi
mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat.
Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.

Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa.
Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta
bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa
Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka
unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
 Teori Kontraksi dari James Dana dan Elie de Baumant

Dalam teori ini dinyatakan bahwa bumi mengalami pengerutan karena pendinginan di bagian
dalam bumi akibat konduksi panas,sehingga mengakibatkan bumi tidak rata.

 Teori Descartes dan Suess

Dalam teori ini dikatakan bahwa pada saat bola bumi mendingin maka terjadilah proses
pengerutan dan semakin menyusut.Kerutan-kerutan itulah sebagai pegunungan,lipatan yang kita
kenal sampai sekarang.Teori Descartes dan Suess ini disebut teori kontraksi.

 Teori Geosinklin

Teori ini dikonsep oleh Hall pada tahun1859 yang kemudian dipublikasikan oleh Dana pada
tahun 1873. Teori ini bertujuan untuk menjelaskan terjadinya endapan batuan sedimen yang
sangat tebal, ribuan meter dan memanjang seperti pada Pegunungan Himalaya, Alpina dan
Andes.

Teori geosinklin menyatakan bahwa suatu daerah sempit pada kerak bumi mengalami depresi
selama beberapa waktu sehingga terendapkan secara ekstrim sedimen yang tebal. Proses
pengendapan ini menyebabkan subsidence (penurunan) pada dasar cekungan. Endapan sedimen
yang tebal dianggap berasal dari sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk
pengunungan lipatan dan selama proses ini endapan sedimen yang telah terbentuk akan
mengalami metamorfosa.

Batuan yang terdeformasi didalamnya dijelaskan sebagai akibat menyempitnya cekungan karena
terus menurunnya cekungan, sehingga batuan terlipat dan tersesarkan. Pergerakan yang terjadi
adalah pergerakan vertikal akibat gaya isostasi.

Teori ini mempunyai kelemahan tidak mampu menjelaskan asal-usul aktivitas vulkanik dengan
baik dan logis. Keteraturan aktivitas vulkanik sangatlah tidak bisa dijelaskan dengan teori
geosinklin.

 Hipotesa Pengapungan Benua (Continental Drift)

Tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli meteorologi Jerman mengemukakan konsep
Pengapungan Benua (Continental drfit). Dalam The Origin of Continents and Oceans. Hipotesa
utamanya adalah satu “super continent” yang disebut Pangaea (artinya semua daratan) yang
dikelilingi olehPanthalassa (semua lautan). Selanjutnya, hipotesa ini mengatakan 200 juta tahun
yang lalu Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil. Dan kemudian bergerak menuju
ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini. Sedangkan hipoptesa lainnya menyatakan bahwa
pada mulanya ada dua super kontinen , yaitu pangea utara yang disebut juga Laurasia, dan
pangea selatan disebut Gondwanaland.
2. Bagaimana Terbentuknya Planet Dalam dan Planet Luar.

Kelompok Planet Dalam merupakan planet-planet yang posisinya paling dekat dengan Matahari,
seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Dimana planet ini merupakan planet yang tersusun
oleh batuan. Gas yang menyelubungi didorong keluar planet akibat angina matahari (solar wind)

Sedangkan kelompok Planet Luar merupakan planet yang tejauh dari Matahari, seperti Jupiter,
Saturnus, Uranus, dan Neptunus.Kelompok planet yang gas masih tetap menyelbungi sehingga
disebut planet gas, kelompok planet luar juga disebut dengan Gas Raksasa (Gas Giant).

Planet Dalam dan Planet Luar dipisahkan oleh sabuk asteroid, di mana ada ribuan asteroid yang
mengelilingi matahari di antara Mars dan Jupiter.

3. Apa Yang Terjadi di Awal Pembentukan Bumi.

Bumi muncul melalui sejarah panjang. Sejarah pembentukan bumi berlangsung sangat
lama hingga terbentuk seperti sekarang ini. Para ilmuwan terus mempelajari tentang proses
pembentukan bumi ini dan menyatakan bahwa proses ini telah berlangsung selama bermiliar-
miliar tahun silam.

Kira-kira, pembentukan bumi telah dimulai sejak 4.600.000.000 tahun lalu dan terus
mengalami proses perkembangan hingga saat ini. Secara umum, zaman sejarah pembentukan
bumi terbagi dalam 4 zaman, meliputi (1) zaman prakambrium, (2) zaman paleozoikum, (3)
zaman mesozoikum dan (4) zaman kenozoikum.

Pada masing-masing zamannya, terdapat beberapa periode lagi. Secara lebih terperinci, berikut
adalah empat zaman pembentukan bumi :

1. Zaman Prakambrium (4,5 Milyar – 290 juta tahun lalu)

Zaman Prakambrium adalah zaman paling awal dalam sejarah pembentukan bumi, berlangsung
pada 4,5 Milyar sampai 290 juta tahun yang lalu. Zaman ini dibagi lagi dalam dua periode, yakni
Zaman Arkeozoikum (4,5 – 2,5 milyar tahun lalu) dan Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta
tahun lalu).

a. Zaman Arkeozoikum (4,5 milyar – 2,5 milyar tahun lalu)

Arkeozoikum berarti Masa Kehidupan Purba. Pada masa ini, terjadi pembentukan batuan kerak
bumi yang paling awal. Kerak bumi ini terbentuk melalui pendinginan yang terjadi di bagian tepi
“balon bumi” atau bakal calon bumi.
Selanjutnya, barulah batuan ini mengalami perkembangan menjadi protokontinen. Batuan yang
terbentuk pada masa ini banyak ditemukan di bagian dunia yang disebut kraton/ perisai benua.

Batuan tertua yang ditemukan tercatat memiliki usia sekitar 3.800.000.000 tahun. Pada masa ini
pula, terbentuk plate tectonic atau Lempeng tektonik yang saat ini dikenal sering menyebabkan
gempa.

Pada masa tersebut, lingkungan hidup yang ada menyerupai lingkungan di sekitar mata-air
panas. Masa ini juga merupakan masa awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer. Pada masa ini
pula, kehidupan primitif mulai muncul di dalam samudera yang berupa mikro-organisma (bakteri
dan ganggang).

Fosil tertua dari masa ini yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria yang
diperkirakan memiliki umur 3.500.000.000 tahun.

b. Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu)

Proterozoikum berarti masa kehidupan awal. Pada Masa Proterozoikum terjadi pembentukan
hidrosfer dan atmosfer. Kehidupan mulai berkembang di masa ini, yang semula berupa
organisme bersel tunggal, berkembang menjadi organisme bersel banyak (enkaryotes dan
prokaryotes).

Enkaryotes inilah yang kemudian berkembang menjadi tumbuhan, sementara prokaryotes


kemudian berkembang menjadi binatang. Pada akhir masa di zaman Proterozoikum, organisme
berkembang menjadi lebih kompleks.

Beberapa organisme yang muncul pada masa ini seperti jenis invertebrata bertubuh lunak seperti
ubur-ubur, cacing dan koral yang berada di laut-laut dangkal. Hal ini dibuktikan dari penemuan
fosil sejati pertama yang diperkirakan berasal dari masa tersebut.

Pada awal perkembangan bumi, bumi padat dan relative dingin. Banyaknya hujan meteor dan
masih banyaknya unsur radioaktif, kerak mengalami pemanasan yang mencapai titik lebur
mineral mengandung logam/besi (Rahardjo). Pada masa Archean unsur radioaktif masih
melimpah di lithosfer dan melepaskan panas.