Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Mutakhir


Penelitian ini mengacu terhadap referensi-referensi yang terkait dengan
penelitian yang telah ada, dimana masing-masing penulis menggunakan metode
penelitian yang berbeda tergantung atas permasalahan yang akan dikaji.
Penggunaan beberapa referensi ini akan membedakan pembahasan yang dibahas
penulis dengan Tugas Akhir yang telah ada sebelumnya. Berikut referensi dari
Tugas Akhir yang telah ada.

1. Referensi yang pertama merupakan sebuah penelitian yang berjudul


“Simulasi Link Budget Pada Sel Femto Teknologi Telekomunikasi LTE”
oleh Budi Utomo, 2013. Kualitas sinyal (SINR) pada pengguna (downlink)
baik dari sel femto atau sel makro akan dikaji berdasarkan perhitungan link
budget dengan memperhitungkan fenomena interferens yang mungkin
terjadi menggunakan perangkat lunak LabView2009. Dari hasil simulasi
rugi – rugi propagasi indoor sel femto memiliki nilai yang lebih rendah
dari sel makro sebesar 85,8137dB sedangkan sel makro 144,4035dB.
Nilai SINR sel femto downlink ketika tidak ada pengaruh dari sel makro,
nilai SINR maksimum adalah 36,0838 dB dan nilai SINR terkecil adalah
20,0865 dB dan ketika terdapat sebuah sel makro dan FAP yang melayani
pengguna berada di ruang lingkup sel makro tersebut maka nilai SINR
terbesar menjadi hanya 23,3947 dB sedangkan SINR terkecil adalah
20,0863dB.

2. Referensi yang kedua merupakan sebuah penelitian yang berjudul


“Analisis Perencanaan Coverage Area LTE 1900 Mhz Dengan
Memperhitungkan OBQ (Offered Bit Quantity)” oleh Bagus Prima, 2014.
Profil kota Denpasar dengan kepadatan penduduk yaitu sebesar 4.170
jiwa/km2 dengan jumlah penduduk 532.860 jiwa dan luas wilayah 127,78
km2. Dalam perancangan ini, jari-jari sel menurut kapasitas dan jari-jari sel

6
7

menurut radio link budget yang dijadikan perbandingan agar dapat


memenuhi kedua metode tersebut dimana berfungsi untuk menentukan
coverage wilayah Kota Denpasar, serta menentukan jumlah eNode B yang
dibutuhkan. Untuk model propagasi yang digunakan adalah model Cost-
231 Hatta.

Tabel 2.1 Tinjauan Mutakhir (State of The Art)


No. Nama Penulis Judul Metode Hasil

1 Budi Utomo Simulasi Link Perhitungan Link Rugi –rugi propagasi indoor
Budget Pada Bidget dengan sel femto memiliki nilai yang
Teknologi Sel memperhitungk- lebih rendah daripada sel
Femto an fenomena makro sebesar 85,8137dB
Teknologi Interference sedangkan sel makro
Telekomunikasi 144,4035dB.
LTE

2 Bagus Prima Analisis Memperhitungk- Dengan jari-jari sel sebesar


Perencanaan an OBQ (Offered 0,68 km menurut Link
Coverage Area Bit Quantity) Budget, maka OBQ yang
LTE 1900 Mhz dibandingkan dihasilkan adalah 250.171,5
Dengan dengan Link Kbps/km2 nya.
Memperhitungk Budget dan Model
an OBQ Propagasi
(Offered Bit
Quantity)

Pada penelitian kali ini membahas mengenai analisis pengaruh jarak antara
user equipment dengan eNodeB terhadap nilai RSRP (Reference Signal Received
Power) pada LTE di frekuensi 900 MHz. RSRP merupakan level sinyal yang
diterima oleh User Equipment dari eNodeB pada teknologi LTE. Pada penelitian
ini akan membuktikan bahwa teori penurunan nilai RSRP pada saat kondisi User
Equipment yang bergerak menjauhi eNodeB dengan melakukan pengukuran
secara drive test dan melakukan perhitungan Link Budget dengan model
8

propagasi. Berpedoman pada hasil pengukuran secara drive test maka akan
diambil beberapa titik jarak secara konstan yaitu setiap 0,01 km mulai dari jarak
0,34 km hingga 0,42 km. Hasil pengukuran RSRP secara drive test dijadikan
acuan untuk dibandingkan dengan hasil perhitungan RSRP menurut Link Budget
dengan model propagasi Okumura Hatta dan W.C.Y. Lee untuk mengetahui
model propagasi yang lebih mendekati dengan hasil pengukuran secara drive test
untuk wilayah kota Denpasar.

2.2. Tinjauan Pustaka


2.2.1 Konsep Jaringan
Konsep jaringan komunikasi yang direncanakan disini menggunakan
konsep jaringan komunikasi seluler. Komponen utama jaringan selular secara
umum terdiri dari base station, MTSO (mobile telecommunications switching
office), dan perangkat mobile telephone. Base station secara umum berfungsi
untuk memberikan jalur hubungan komunikasi radio dengan perangkat-perangkat
komunikasi seluler yang ada di dalam wilayah seluler. MTSO berfungsi sebagai
pengatur lalu-lintas komunikasi yang menghubungkan jaringan seluler dengan
jaringan yang lain, memonitor kualitas sinyal dan komunikasi serta mengontrol
perpindahan mobile station dan pengontrol base station yang melayani mobile
station. Gambar desain jaringan seluler secara umum ditunjukkan pada gambar
2.1.
Dalam penggunaan konsep jaringan seluler memiliki karakteristik-
karakteristik dasar, diantaranya adalah :
1. Pengalokasian bandwidth kecil.
2. Efisiensi pemakaian frekuensi tinggi, dengan penggunaan Frequency
reuse.
3. Modulasi digital.
4. Kapasitas system menjadi meningkat.
5. Daerah pelayanan dibagi atas daerah-daerah kecil yang disebut sel.
6. Daya yang digunakan kecil.
9

7. Mendukung Handover.
8. Efisiensi kanal tinggi karenan menggunakan metode akses jamak.
9. Terhubung ke jaringan lain.

Gambar 2.1 Desain jaringan seluler (Ardyan, 2010)

2.2.2. Konsep Seluler


Seluler merupakan system komunikasi yang memberikan layanan
komunikasi data, voice, dan video yang dapat dilakukan dalam keadaan bergerak.
Yang mana pada konsep seluler ini pengguna dapat melakukan hubungan
komunikasi dengan pengguna lain tanpa bergantung adanya media fisik. Cell
merupakan bagian kecil dari cakupan suatu wilayah, Pembagian sel-sel dalam
sistem seluler dimodelkan dalam bentuk hexagonal dimana tiap sel nya memiliki
satu frekuensi, yang mana frekuensi antar sel tidak boleh berdekatan agar tidak
terjadi overlapping. (IT Telkom, 2008)
10

Gambar 2.2 Konsep Sel (IT Telkom, 2008)

Terdapat empat jenis sel berdasarkan jari-jari sel, yaitu :


1. Makrosel, yaitu jenis sel yang digunkaan untuk daerah urban. Dimana
pada daerah ini merupakan daerah yang padat akan penduduk dan banyak
terdapat gedung-gedung tinggi.
2. Mikrosel digunakan untuk ketinggian antena yang tidak lebih dari 25
meter, yang merupakan sel dengan wilayah coverage lebih kecil
dibandingkan makrosel. Mikrosel merupakan salah satu solusi yang bisa
digunakan apabila makrosel sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan
pelanggan yang padat. Suatu daerah dengan user yang padat tidak cukup
hanya dilayani dengan makrosel dikarenakan pelayanan yang didapat tidak
merata. Maka diperlukan adanya pembagian daerah coverage yang lebih
kecil untuk mencover daerah yang tidak dijangkau oleh makrosel dan
berfungsi sebagai penambah jaringan kapasitas pada daerah yang
penggunaan selulernya padat. Penempatan mikrosel ini tidak memerlukan
wilayah yang cukup luas seperti hal nya penempatan makrosel dan
diletakkan pada gedung-gedung atau diatas bangunan.
3. Piko Sel merupakan penempatan sel yang terdapat di dalam gedung atau
ruangan yang berfungsi sebagai penopang trafik yang terjadi di dalam
ruangan dan juga berfungsi untuk mengatasi adanya interferensi yang
terjadi di dalam gedung akibat pemantulan dinding gedung.
4. Femto Sel merupakan Base Transceiver Station mini yang dipasang pada
wilayah bersinyal rendah yang mana penempatan femto cell ini dipasang di
11

dalam ruangan dengan ukuran yang kecil sehingga tetap bisa memberikan
pelayanan seluler terhadap pelanggan yang berada di dalam ruangan.
Fungsi femto cell dapat meningkatkan konektivitas, availabilitas,
mobilitas dan juga performansi layanan. Selain itu adanya femto sel ini
bertujuan untuk meningkatkan coverage dan kapasitas di dalam ruangan
dikarenakan sinyal dari BTS outdoor ke indoor tidak maksimal. (Ridwan,
A, 2012)

Gambar 2.3 Makrosel. Mikrosel, Pico Sel dan Femto Sel (Anonim, 2012)

2.2.2.1 Sel Hexagonal


Sel hexagonal dipilih dalam perencanaan dikarenakan dapat menutupi
wilayah tanpa celah dan juga tidak terjadi tumpang tindih antara sel satu dengan
sel yang lainnya, yang mana bentuk sel hexagonal dapat dilihat pada dibawah.

Gambar 2.4 Sel Hexagonal (Sudiarta, P.K, t.t)


12

Untuk rumusan luas sel hexagonal, dilakukan dengan persamaan :

……………………………………………………………………………….. (2.1)

Dimana :

2.2.3 Pengenalan LTE


Long Term Evolution (LTE) adalah sebuah nama yang diberikan kepada
suatu proyek dalam The Third Generation PartnershipProject (3GPP) untuk
mengembangkan standar komunikasi bergerak Universal Mobile
Telecommunication System (UMTS) dalam mengatasi kebutuhan mendatang.
Menurut standar, LTE memberikan kecepatan uplink hingga 50 megabit per detik
(Mbps) dan kecepatan downlink hingga 100 Mbps. Tidak diragukan lagi, LTE
akan membawa banyak manfaat bagi jaringan selular. Perkembangan
telekomunikasi menurut standar 3GPP terlihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Evolusi 3GPP (Riyansyah, 2010)


13

Berdasarkan Gambar 2.5 dapat dilihat bahwa 3GPP Release 99/4 atau
yang biasa disebut dengan WCDMA merupakan awal dari adanya LTE.
Kecepatan downlink hanya 384 kbps, dan kecepatan uplinknya 128 kbps.
Teknologi ini menggunakan CDMA (+ Diversity). Kemudian berkembang
menjadi 3GPP Release 5/6 yang biasa disebut HSDPA/HSUPA. Perkembangan
terus terjadi hingga 3GPP Release 8, ini yang disebut dengan LTE. Untuk data
kecepatan downlink, kecepatan uplink dan teknologi yang digunakan dapat dilihat
pada Gambar 2.5.

2.2.3.1 Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA)


Teknologi LTE Menggunakan OFDM-based pada suatu air interface yang
sepenuhnya baru, dan merupakan suatu langkah yang radikal dari 3GPP.
Merupakan pendekatan evolusiner berdasar pada peningkatan advance dari
WCDMA. Teknologi OFDM-based dapat mencapai data rates yang tinggi dengan
implementasi yang lebih sederhana menyertakan biaya relatif lebih rendah dan
efisiensi konsumsi energi pada perangkat kerasnya. Data rates jaringan WCDMA
dibatasi pada lebar saluran 5 MHz. LTE menerobos batasan lebar saluran dengan
mengembangkan bandwidth yang mencapai 20 MHz. Sedangkan nilai capaian
antena pada bandwidth di bawah 10 MHz, HSPA+ dan LTE memiliki performa
yang sama. LTE menghilangkan keterbatasan WCDMA dengan mengembangkan
teknologi OFDM yang memisah kanal 20 MHz ke dalam beberapa narrow sub
kanal. Masing-Masing narrow sub kanal dapat mencapai kemampuan
maksimumnya dan sesudah itu sub kanal mengkombinasikan untuk menghasilkan
total data keluarannya.
14

Gambar 2.6 Orthogonal Frequency Division Multiple Access (Riyansyah, 2010)

Gambar 2.6. merupakan modulasi OFDMA yang menghindari


permasalahan yang disebabkan oleh pemantulan multipath dengan mengirimkan
pesan per bits secara perlahan. Beribu-ribu subkanal narrow menyebar untuk
mengirimkan banyak pesan dengan kecepatan yang rendah secara serempak
kemudian mengkombinasikan pada penerima kemudian tersusun menjadi satu
pesan yang dikirim dengan kecepatan tinggi. Metode ini menghindari distorsi
yang disebabkan oleh multipath. Subkanal narrow pada OFDMA dialokasikan
pada basis burst by burst menggunakan suatu algoritma yang memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi RF (Radio Frequency) seperti kualitas saluran,
loading dan interferensi. LTE menggunakan OFDMA pada downlink dan single
carrier – Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) pada uplink nya.

2.2.3.2 Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SCFDMA)


Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SCFDMA)
merupakan modifikasi dari OFDMA yang digunakan pada teknologi LTE pada
sisi uplink. Pada sisi transmitter data yang berupa simbol dibuat dari domain
waktu ke domain frekuensi menggunanakan Discrete Fourier Transform (DFT).
Setelah dilakukan pemetaaan dari resources didalam frekuensi domain data
diubah kembali kedalam domain waktu dengan menggunakan IFFT. Kemudian
data ditransmisikan dengan ortoghonal subcarrier seperti pada OFDMA hanya
15

saja yang membedakan disini adalah SCFDMA subcarrier ditransmisikan secara


berurutan (sequential) tidak paralel seperti pada OFDMA.

Gambar 2.7 Transmitter dan Receiver SCFDMA (Ardyan, 2010)

Alasan subcarrier ditransmisikan secara berurutan adalah untuk


mengurangi fluktuasi envelope pada bentuk gelombang yang ditransmisikan
sehingga memiliki peak-to-average power ratio yang lebih rendah jika
dibandingkan OFDMA.

2.2.3.3 Multiple Input Multiple Output (MIMO)


LTE mendukung teknik MIMO untuk mengirimkan data pada sinyal path
secara terpisah yang menduduki bandwidth RF yang sama pada waktu yang
bersamaan, sehingga dapat mendorong pada peningkatan data rates dan throughput.
Sistem antena MIMO merupakan metode pada suatu layanan broadband sistem
wireless memiliki kapasitas lebih tinggi serta memiliki performa dan keandalan yang
lebih baik. MIMO adalah salah satu contoh teknologi dengan kualitas yang baik dari
LTE pada kecenderungan teknologi yang berkembang saat ini. Saat ini fokus adalah
untuk menciptakan frekuensi yang dapat lebih efisien. Teknologi seperti MIMO dapat
menghasilkan frekuensi yang efisien yaitu dengan mengirimkan informasi yang sama
dari dua atau lebih pemancar terpisah kepada sejumlah penerima, sehingga
mengurangi informasi yang hilang dibanding bila menggunakan system transmisi
tunggal. Pendekatan lain yang akan dicapai pada system MIMO adalah teknologi
16

beam forming yaitu mengurangi gangguan interferensi dengan cara mengarahkan


radio links pada penggunaan secara spesifik. Fleksibilitas di dalam penggunaan
spektrum adalah suatu corak utama pada teknologi LTE, tidak hanya bersifat tahan
terhadap interferensi antar sel tetapi juga penyebaran transmisi yang efisien pada
spektrum yang tersedia. Hasilnya adalah peningkatan jumlah pengguna per sel bila
dibandingkan dengan WCDMA. LTE dirancang untuk mampu ditempatkan di
berbagai band frekuensi dengan sedikit perubahan antarmuka radio. Juga dapat
digunakan di bandwidth 1.4, 1.6, 3, 3.2, 5, 10, 15 dan 20 MHz.

2.2.4. Perbandingan Karakteristik LTE dengan UMTS/HSPA


Karakteristik Kunci LTE dengan perbandingan jaringan UMTS/ HSPA
yang ada saat ini, antara lain:
a. Peningkatan Air interface memungkinkan peningkatan kecepatan data :
LTE dibangun pada all-new jaringan akses radio didasarkan pada
teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).
Ditetapkan dalam 3GPP Release 8, Air interface untuk LTE
menggabungkan OFDMA-based dan skema akses multiple untuk
downlink, dan SC-FDMA (Single Carrier FDMA) untuk uplink. Hasil dari
fitur Air interface ini adalah peningkatan kinerja radio secara signifikan,
dapat menghasilkan sampai lima kali rata-rata throughput HSPA.
Kecepatan data puncak pada downlink diperluas hingga maksimum secara
teoretis 300 Mbit/s per 20 MHz dari spektrum. Demikian juga, tingkat
uplink LTE teoretis dapat mencapai 75 Mbit/s per 20 MHz dari spektrum.
b. Efisiensi spektrum yang tinggi : efisiensi spektrum LTE yang lebih besar
memungkinkan operator untuk mendukung peningkatan jumlah pelanggan
di dalam alokasi existing dan spektrum alokasi yang akan datang, dengan
suatu pengurangan biaya pengiriman per bit nya.
c. Perencanaan radio yang fleksibel : jangkauan cell LTE dapat mencapai
performa yang optimum hingga 5 km. Hal tersebut, masih mampu untuk
mengirimkan hingga capaian efektif di dalam ukuran sel hingga radius 30
km, dengan capaian maksimal batasan sel hingga radius 100 km.
17

d. Mengurangi Latency : Dengan mengurangi waktu round-trip ke 10 ms


atau bahkan lebih (dibandingkan dengan 40–50ms untuk HSPA), LTE
dapat memberikan kepada user sesuatu yang lebih responsif. Hal ini
memungkinkan, layanan secara real-time seperti high-quality konferensi
audio/video dan permainan multi-player.
e. Lingkungan All-IP : salah satu fitur yang paling signifikan adalah transisi
LTE menuju 'flat', jaringan inti berbasis all-IP dengan arsitektur yang
disederhanakan dan open interfaces.

2.2.5. Layanan-layanan LTE


Melalui kombinasi downlink dan kecepatan transmisi (uplink) yang sangat
tinggi, lebih fleksibel, efisien dalam penggunaan spektrum dan dapat mengurangi
paket latensi, LTE menjanjikan untuk peningkatan pada layanan mobile
broadband serta menambahkan layanan value-added baru yang menarik. Manfaat
besar bagi pengguna antara lain streaming skala besar, download dan berbagi
video, musik dan konten multimedia yang semakin lengkap Untuk pelanggan
bisnis LTE dapat memberikan transfer file besar dengan kecepatan tinggi, video
conference berkualitas tinggi dan nomadic access yang aman ke jaringan
korporat. Semua layanan ini memerlukan throughput yang signifikan lebih besar
untuk dapat memberikan quality of service. Tabel 2.2. Berikut menggambarkan
beberapa layanan dan aplikasi LTE :
18

Tabel 2.2 Klasifikasi layanan mobile pada LTE

(Sumber : Riyansyah, 2010)


19

2.2.6. Arsiterktur Jaringan LTE


Arsitektur jaringan LTE lebih sederhana dari pada teknologi jaringan yang
telah ada sebelumnya. Seperti yang ditunjukkan gambar 2.8, keseluruhan
arsitektur LTE terdiri dari beberapa eNode-B yang menyediakan akses dari UE ke
E-UTRAN. Sesama eNode-B saling berhubungan satu sama lain melalui interface
yang disebut X2. MME/SAE gateway menyediakan koneksi antara eNode-B
dengan EPC (Evolved Packet Core) dengan interface yang disebut S1. X2 dan S1,
keduanya mendukung UE dan SAE Gateway. Keduanya juga menyediakan
dynamic schedulling dari UE. Layanan penting lainnya dari eNB adalah header
compression dan enkripsi dari aliran data pengguna.

Gambar 2.8 Arsitektur jaringan LTE


20

2.2.6.1 E-UTRAN
Jaringan Evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (EUTRAN)
melakukan pemrosesan paket IP dikelola pada core EPC, memungkinkan waktu
respons yang lebih cepat untuk penjadwalan dan transmisi ulang dan juga
meningkatkan latency dan throughput. RNC (Radio Network Controller) telah
sepenuhnya dihapus dan sebagian besar dari fungsionalitas RNC pindah ke
eNodeB yang terhubung langsung ke evolved packet core. E-UTRAN memiliki
beberapa fungsi sebagai berikut,
a. Inter-cell Radio Resource Management (RRM)
b. Resource Block Control
c. Connection Mobility Control
d. Radio Admission Control
e. eNB Measurement Configuration and Provisioning
f. Dynamic resource allocation (schedulling)

Sebuah EPS yang diilustrasikan dalam gambar 2.9 terdiri dari UTRAN
yang berevolusi, EPC dan blok IMS. Entitas utama yang bekerja dalam arsitektur
jaringan LTE terletak pada jaringan akses radio dan berkembang dalam sebuah
evolusi jaringan inti. Dalam E-UTRAN, Node-B yang berevolusi menjadi eNodeB
digunakan untuk memudahkan hubungan akses radio antara UE dan EPC, dan
antarmuka S1 digunakan oleh eNode-B agar dapat terhubung dengan EPC. Tidak
seperti sistem 3G, LTE terdiri dari suatu elemen jaringan tunggal dalam jaringan
akses radio. Sedangkan jaringan inti (EPC) terdiri dari elemen jaringan logic yang
memfasilitasi UE agar dapat melakukan komunikasi yang baik. Semua entitas
EPC ini saling berhubungan dengan antarmuka yang berbeda.
21

Gambar 2.9 Evolusi E-UTRAN (Ida Anisah, 2012)

2.2.6.2 eNode-B
Sebuah eNode-B adalah bagian radio akses dari LTE. Setiap eNode-B
setidaknya terdapat sebuah radio pemancar, penerima, bagian kontrol, dan power
supply. Di samping radio pemancar, dan penerima, eNode-B juga mempunyai
resource management dan fungsi pengontrolan yang pada mulanya terdapat pada
Base Station Controller (BSC) atau Radio Network Controller (RNC). Hal ini
menyebabkan eNode-B mempunyai kapabilitas untuk dapat berkomunikasi satu
sama lain, yang pada akhirnya dapat mengeliminasi adanya Mobile Switching
Center (MSC), BSC/RNC. e-NodeB adalah untuk Radio Resorce Management,
yaitu :
a. Radio Bearer Control : Mengontrol dan mengawasi pengiriman pesan
yang dibawa oleh sinyal radio.
b. Radio Admission Control : Berperan dalam autentikasi atau mengontrol
kelayakan pesan atau data yang akan melewati eNode B.
c. Connection Mobility Control : Mengontrol atau mengatur pengkoneksian
sesuai keinginan User Equipment (UE).
22

2.2.6.3 EPC (Evolved Packet Core)


Untuk arsitektur jaringan LTE terdapat core network yang diusulkan 3GPP
rel.8 dan disebut sebagai Evolved Packet Core (EPC). EPC didesain untuk
beberapa hal, yaitu :
a. Kapasitas tinggi
b. All IP
c. Mengurangi latency
d. Menurunkan biaya
e. Men-support aplikasi media dan real time
Arsitektur Evolved Packet Core (EPC) terdiri dari beberapa bagian, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.10.

Gambar 2.10 Arsitektur Evolved Packet Core (Ida Anisah, 2012)

Evolved Packet Core pada LTE adalah arsitektur jaringan yang telah
disederhanakan, dirancang untuk seamless integrasi dengan komunikasi berbasis
jaringan IP. Tujuan utamanya adalah untuk menangani rangkaian dan panggilan
multimedia melalui konvergensi pada inti IMS. EPC memberikan sebuah jaringan
all-IP yang memungkinkan untuk konektivitas dan peralihan ke lain akses
teknologi, termasuk semua teknologi 3GPP dan 3GPP2 serta WiFi dan fixedline
broadband seperti DSL dan GPON.
23

2.2.6.4 Serving Gateway (SGW)


Serving Gateway (SGW) terdiri dari 2 bagian, yaitu :
a. S-GW
S-GW digunakan untuk menghubungkan LTE dengan jaringan LTE.
Untuk setiap UE yang terhubung dengan EPC akan terdapat S-GW khusus yang
menangani beberapa fungsi seperti mobility anchor point untuk handover,
charging, forwarding, packet routing, dan lain-lain.
b. PDN-GW
PDN-GW (Packet Data Network Gateway) digunakan untuk
menghubungkan LTE dengan jaringan non 3GPP. Merupakan bagian yang
menyediakan akses dari UE ke Packet Data Network (PDN) dengan menetapkan
alamat IP dari PDN kepada UE disertai fungsi-fungsi lain.

2.2.6.5 Mobility Management Entity (MME)


Mobility Management Entity (MME) terdapat interface yang
menghubungkan EPC dengan eNB adalah S1-MME interface. MME memiliki
beberapa fungsi sebagai berikut :
a. Autentikasi pengguna (dengan bantuan HSS).
b. Mengontrol fungsi signaling.
c. Mengatur mobilitas control plane antara LTE dengan 2G dan 3G access
network.
d. Memperbarui temporary IP (location update).
e. Memilih MME untuk handover dengan MME lain.
f. Memilih SGSN untuk handover dengan jaringan akses 2G atau 3G.
24

2.2.6.6 Policy and Charging Rules Function (PCRF)


Kemajuan yang ada pada realease 7 dari 3GPP dalam hal policy dan
charging melahirkan definisi baru untuk sebuah aturan dalam konvergensi antar
arsitektur jaringan untuk memungkinkan optimalisasi interaksi antara kebijakan
(policy) dan aturan (rules). Pada R7 evolusi ini melibatkan node jaringan baru,
yang dinamakan dengan PCRF (Policy and Charging Rules Function), yang
merupakan gabungan dari Policy Decision Function (PDF) dan Charging Rules
Function (CR). (Alfin , 2014)
Sedangkan pada release 8 lebih meningkatkan fungsi PCRF dengan
memperluas ruang lingkup Policy dan Charging Control (PCC) yaitu sebuah
kerangka kerja yang digunakan untuk memfasilitasi akses non-3GPP ke dalam
network (Wifi atau IP fix broadband). Dalam proses Control Policy dan Charging
Enforcement Function (PCEF) yang berperan dalam mendukung pendeteksian
aliran layanan data, policy enforcement dan aliran (flow) berbasis charging. Ada
juga bagian yang dikenal dengan Application Function (AF) yang berfungsi untuk
mengontrol beberapa fungsi – fungsi policy dan charging dari jaringan luar yang
akan masuk ke EPC. Seperti contoh pada IMS, AF dilaksanakan oleh Proxy Call
Session Control Function (P-CSCF). PCRF merupakan bagian dari arsitektur
jaringan yang mengumpulkan informasi dari dan ke jaringan , system pendukung
operasional, dan sumber lainnya (seperti portal) secara real time, yang
mendukung pembentukan aturan dan kemudian secara otomatis membuat
keputusan kebijakan untuk setiap pelanggan aktif di jaringan.

2.2.6.7 Home Subcription Service (HSS)


Home Subcription Service (HSS) merupakan tempat penyimpanan data
pelanggan untuk semua data permanen user. HSS juga menyimpan lokasi user
pada level yang dikunjungi node pengontrol jaringan, seperti MME. HSS adalah
server database yang diperlihara secara terpusat pada premises home operator.
(Alfin , 2014)
25

HSS menyimpan copy master profil pelanggan , yang berkisaran informasi


pelanggan tentang layanan yang layak untuk user tersebut, termasuk informasi
tentang diijinkannya koneksi PDN, dan apakah roaming ke jaringan tertentu
diijinkan atau tidak. Untuk mendukung antara mobility non 3GPP, HSS juga
menyimpan identitas yang digunakan P-GW. Kunci permanen yang digunakan
untuk menghitung pada arah Authentication yang dikirim ke jaringan yang dituju
untuk authentication user dan memperoleh serangkaian kunci untuk enkripsi dan
perlindungan secara integritas, disimpan pada Authentication Center (AuC), yang
mana secara khusus bagian dari HSS. HSS melakukan koneksi dengan setiap
MME pada semua jaringan, dimana UE diijinkan untuk berpindah. Pada tiap UE,
HSS merekam pada MME suatu waktu, dan segera melaporkan MME baru yang
melayani UE tersebut, HSS akan membatalkan lokasi dari MME sebelumnya.

2.2.7. 4G LTE Drive Test


2.2.7.1 Pengertian Drive Test
Drive test merupakan salah satu bagian pekerjaan dalam optimasi
jaringan radio. Drive test bertujuan untuk mengumpulkan informasi jaringan
secara real dilapangan. Informasi yang dikumpulkan merupakan kondisi Actual
Radio Frekuensi (RF) di suatu eNodeB. (Alfin , 2014)

2.2.7.2 Tujuan Drive test


Secara umum tujuan drive test adalah untuk mengumpulkan informasi
jaringan radio frekuensi secara real dilapangan. Dimana informasi yang diperoleh
dapat digunakan untuk mencapai tujuan – tujuan berikut ini :
1. Mengetahui coverage sebenarnya dilapangan apakah sudah sesuai dengan
coverage prediksi pada saat perencanaan
2. Mengetahui parameter jaringan dilapangan apakah sudah sesuai dengan
parameter perencanaan
3. Mengetahui adanya interferensi dari eNodeB tetangga
26

4. Mengetahui adanya RF issue, sebagai contoh berkaitan dengan adanya


drop call atau blocked call
5. Mengetahui adanya poor coverage
6. Mengetahui perfomansi jaringan competitor (benchmarking).

2.2.7.3 Perangkat Drive test


Perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan drive test diantaranya :
1. Laptop
2. Software yang terinstal software drive test (Probe, TEMS, Nemo, dll)
3. LTE Datacard
4. GPS dan Battereis
5. DC Power Supply (untuk laptop)
6. Peta MapInfo
7. Data engineering parameter atau cellfile yang terupdate , data
engineering berisi nama site, kordinat (Longitude dan Latitude), PCI,
eNodeB ID, Sektor ID, Local ID, Cell ID, azimuth dan EARFCN.

2.2.7.4 Software Pendukung Drive Test


Berikut dibawah ini merupakan beberapa jenis software yang sering
digunakan untuk menunjang dalam melakukan pengukuran dengan metode drive
test.
1. Software Nemo Analyze
Nemo Analyzer Merupakan software pengolah data hasil drive test yang
biasa digunakan untuk menganalisa logfile. Selain untuk plotting hasil
drive test juga dapat digunakan untuk melihat KPI yang dapat langsung
diproses dengan software tersebut sehingga memudahkan dalam melihat
hasil yang diperoleh dari hasil drive test dengan membuat report dari
hasil keseluruhan proses drive test yang telah dilakukan sebelumnya.
(Dewantoro, 2014)
27

2. Tems Investigation
Tems Investigation merupakan software untuk drive test diluar ruangan
(Outdoor), namun mulai versi 4 sudah dapat digunakan untuk drive test
dalam ruangan (indoor). Menggunakan GPS (Global Positioning System)
sebagai alat navigasi dan plotting parameter pada rute drive test yang
dilalui. (Mahardika, 2014)
3. G-Net Track
G-Net Track merupakan software untuk drive test yang dapat diinstal pada
handphone yang berbasis android untuk menghasilkan logfile hasil drive
test yang dapat di export ke dalam aplikasi google earth. G-Net tracks
lebih simple dibandingkan dengan software drive test pada umumnya
karena hanya membutuhkan 1 perangkat handphone yang sudah didukung
dengan GPS internal dan SIM Card serta spesifikasi teknologi jaringan
yang digunakan dalam handphone tersebut misalnya EDGE/GPRS,
EVDO/CDMA, UMTS/WCDMA, HSPA+, dan LTE. (Alfin, 2014)
4. Map Info 10.5
MapInfo adalah aplikasi Sistem Informasi Geografis yang dikembangkan
oleh MapInfo corp. sejak tahun 1986. Sebuah perusahaan yang didirikan
oleh empat orang mahasiswa (waktu itu) Institut Politeknik Rensellaer,
Troy, New York. MapInfo merupakan salah satu perangkat lunak
pemetaan (SIG) desktop yang dikembangkan dan kemudian dipasarkan
untuk memenuhi (sebagian besar) kebutuhan-kebutuhan di lingkungan
bisnis. Perangkat lunak SIG ini memungkinkan para penggunanya utnuk
memvisualisasikan dan menganalisa data-data yang menjadi masukannya
secara geografis lebih cepat dan menyediakan informasi yang diperlukan
di dalam proses pengambilan keputusan. MapInfo sering digunakan untuk
membuat report dari logfile hasil drive test untuk mengetahui secara visual
geografis dari suatu jaringan yang diukur secara drive test. (Alfin, 2014)
28

2.2.7.5 Major Quality of Service (QoS) KPI pada LTE


Berikut dibawah ini merupakan mayoritas Kualitas layanan yang
digunakan dalam Teknologi LTE.
1. Accessbility
Kemampuan user mengakses jaringan untuk menginisiasi komunikasi.
Contoh pada jaringan 4G LTE yang termasuk dalam kategori Accessbility
adalah ERAB Success Rate (%) , LTE RRC Setup Success (%), Call Setup
Success Rate (%) LTE attach Success Rate (%), Service Request (EPS)
Success Rate (%).

Tabel 2.3. Accessbility pada software drive test


Accessbility
ERAB Success Rate (%) 100.00
LTE RRC Setup Success (%) 100.00
Call Setup Success Rate (%) 100.00
LTE attach Success Rate (%) -
Service Request (EPS) Success Rate (%). 100.00

(Sumber : Alfin , 2014)


2. Retainability
Bagaimana cara menjaga jaringan pada perfomansi yang bagus. Contoh
pada jaringan 4G LTE yang termasuk dalam kategori Retainability adalah
: Service Drop Rate (%).

Tabel 2.4. Retainability pada software drive test

KPI Moving DL
LTE
Retainability
Service Drop Rate (%). 0.00

(Sumber : Alfin , 2014)


29

3. Mobility
Bagaimana pengguna dapat bergerak dengan mudah dari suatu tempat ke
tempat lain tanpa terjadi pemutusan hubungan. Contoh pada jaringan 4G
LTE yang termasuk dalam kategori Mobilty adalah sebagai berikut intra
freq HO Attemp Success Rate (%), Intra Freq HO Success Rate (%) dan
lain – lain.
Tabel 2.5. Mobility pada software drive test

Mobilty
Intra Freq HO Attemp Success Rate (%)
Intra Freq HO Success Rate (%)
Intra Freq HO Success Rate (%)
TA Update Success Rate (%)
Inter RAT Handover Success Rate (%)
Inter RAT Redirection Success Rate (%)

(Sumber : Alfin , 2014)

4. Integrity
Bagaimana trafik besar di dalam jaringan. Contoh pada jaringan 4G LTE
yang termasuk dalam kategori Integrity adalah sebagai berikut , MAC
Troughput Uplink dan Downlink Average (Kbit/s) dan lain – lain.

Tabel 2.6. Integrity pada software drive test


Service Integrity
MAC Troughput UL Avg (kbit/s) -
MAC Troughput DL Avg (kbit/s) -
PHY Troughput UP Avg (kbit/s) -
PHY Troughput DL Avg (kbit/s)
LTE RLC Throughput UL Avg (kbit/s) -
LTE RLC Throughput DL Avg (kbit/s) -

(Sumber : Alfin , 2014)


30

2.2.7.6 Major Parameter pada Drive test 4G LTE


Berikut dibawah ini merupakan mayoritas parameter yang digunakan
dalam drive test pada teknologi LTE.
1. RSRP (Reference Signal Received Power)
Power dari sinyal reference , parameter ini adalah parameter spesifik
pada drive test 4G LTE dan digunakan oleh perangkat untuk menentukan titip
handover. Pada teknologi 2G parameter ini bisa dianalogikan seperti RxLevel
sedangkan pada 3G dianalogikan sebagai RSCP.

Tabel 2.7. Perbandingan RxLevel, RSCP, dan RSRP

Parameter GSM UMTS LTE


Daya (e)NodeB per Tx (dBm) 43 43 43
Bandwidth 0.2 5 20
Jumlah Resource Block (RB) N/A N/A 100
Daya BCCH/ Daya CPICH/ Daya RS per RE 43 33 15.2*
(dBm)
RxLevel/RSCP/RSRP -77 -87 -104.8
Kuat sinyal RS signal yang diterima -81.8

(Sumber : Alfin , 2014)

RSRP adalah kuat sinyal yang diterima dengan bandiwidth 15 KHz ,


sedangkan RSCP (UMTS) menggunakan bandwidth 5 MHz.. Tabel dibawah ini
menunjukkan contoh range RSRP yang digunakan pada suatu operator.

Tabel 2.8. Nilai RSRP dan kategorinya. untuk parameter analisis drive test

Nilai Keterangan
-70 dBm to – 90 dBm Good
-91 dBm to – 110 dBm Normal
-110 dBm to – 130 dBm Bad

(Sumber : Alfin , 2014)


31

2. SINR (S/(I+N) (Signal to Noise Ratio))


SINR adalah perbandingan kuat sinyal dibandingkan noise background.
S = Mengindikasikan daya dari sinyal yang diinginkan.
I = Mengindikasikan daya dari sinyal yang diukur atau sinyal interferensi
dari cell – cell yang lain dan dari cell inter-RAT.
N = Mengindikasikan noise background , yang bekaitan dengan perhitungan
bandwidth dan koefesien noise yang diterima.
Pada teknologi 2G parameter ini bisa dinalaogikan seperti RxQual,
sedangkan pada 3G dinalaogikan sebagai EcNo.

Table dibawah ini menunjukkan contoh range SINR yang digunakan pada suatu
operator.
Table 2.9. SINR dan nilainya untuk parameter analisis drive test

Nominal Keterangan
16 dB s/d 30 dB Good
1 dB s/d 15 dB Normal
-10 dB s/d 0 dB Bad

(Sumber : Alfin , 2014)

2.2.8. Cakupan Jaringan Dalam Perhitungan Link Budget dan Model


Propagasi
Faktor utama yang menentukan cakupan jaringan adalah luas wilayah.
Faktor lain yang berperan penting terhadap luas cakupan LTE adalah pemilihan
teknologi karena setiap teknologi akan memiliki karakter dan desain system yang
berbeda. Dengan mengetahui karakter dari teknologi juga maka dapat dilakukan
perhitungan link budget. (Riyansyah , 2010)
32

2.2.8.1 Radio Link Budget dan Path Loss


Link budget adalah perhitungan dari semua gain pemancar dan penerima
setelah melalui redaman diberbagai media transmisi hingga akhirnya diterima
oleh receiver di dalam sebuah sistem telekomunikasi. Link budget akan
memperhitungkan besarnya redaman dari sinyal termasuk di dalamnya berbagai
macam redaman propagasi yang dipancarkan selama proses propagasi
berlangsung. Ilustrasi link budget dan gambaran tentang alur propagasi sinyal
mulai dari sisi pengirim hingga ke sisi penerima. ada pada gambar 2.11 dibawah
ini.

Gambar 2.11 Ilustrasi Link Budget (Sumber : Riyansyah : 2010)


Dimana :
33

Secara umum dari ilustrasi gambar 2.11 diatas maka link budget
dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok perangkat pengirim
dan penerima serta kelompok media propagasi. Perhitungan radio link budget ini
digunakan untuk mengetahui estimasi nilai maksimum dari pelemahan sinyal
yang terjadi antara UE (User Equipment) dengan eNodeB. Path Loss adalah loss
yang terjadi ketika data / sinyal melewati media udara dari antenna ke penerima
dalam jarak tertentu. Path loss dapat timbul disebabkan oleh banyak faktor,
seperti kontur tanah, lingkungan yang berbeda, medium propagasi (udara yang
kering atau lembab), jarak antara antena pemancar dengan penerima, lokasi dan
tinggi antena. (Satwika ,2012)
a. Perhitungan EIRP
..................................................... (2.2)
Dimana :

b. Perhitungan RSRP (Reference Signal Received Power)


.……............…………………...... (2.3)
Dimana :

Berikut Tabel 2.10 merupakan deskripsi dari parameter spesifikasi


perangkat untuk system base station dan mobile station dalam menghitung Link
budget.
34

Tabel 2.10. Deskripsi Parameter spesifikasi perangkat Base Station dan Mobile station

Parameter Deskripsi

a. Tx Power daya pancar maximum yang ditransmisikan oleh


base station atau mobile station

b. Tx Antenna Gain nilai penguat yang dimiliki oleh masing-masing


antena, dimana nilai tersebut tergantung pada tipe
perangkat dan frekuensinya

c. Transmit Array Gain Penguatan karena penggunaan multiple-antena


(array) di pemancar

d. Data Channel Power Loss Due to Loss daya karena adanya sinyal pilot
Pilot

e. Cable Loss redaman yang terjadi antara base station dan


antena konektor, yang mana nilai redaman akan
tergantung terhadap spesifikasi perangkat (jenis
kabel)

f. EIRP (Effective Isotropic Radiated nilai daya pancar dari antena


Power)

g. Receiver Antenna Gain besar penguat antena yang diterima

h. Body Loss rugi-rugi yang disebabkan karena interaksi dengan


user

i. Receiver Noise Figure nilai gangguan, dimana nilai tersebut akan


tergantung terhadap implementasi desain
(rangkaian elektronik pada receiver base station)

j. Thermal Noise Density besar noise alami, yang dapat dihitung dengan
35

menggunakan rumus : N = 10 log kTB

k. Receiver Interference Density for Densitas interferensi penerima untuk kanal data
Data Channel

l. Total Noise Plus Interference Density Total densitas noise ditambah interferensi untuk
for Data Channel kanal data

m. Occupied Channel Bandwidth for Bandwidth kanal yang digunakan untuk data
Data Channel

n. Effective Noise Power for Data Daya noise efektif untuk kanal data
Channel

o. Required SNR for the Data Channel Signal Noise Ratio, yang nilai tersebut akan
bergantung terhadap modulasi dan data rate yang
digunakan.

p. Receiver Implementation Margin margin yang sampai pada penerima pada saat
implementasi

q. H-ARQ Gain for the Data Channel Hybrid Automatic Request merupakan gabungan
dari Automatic Requst (AR) dengan Error
Corection (EC) yang berfungsi untuk melakukan
pengiriman kembali pada saat ada kerusakan paket
saat pengiriman

r. Receiver Sensitivity for Data Channel nilai sensitivitas minimum yang dapat diterima

s. Hardware Link Budget for Data perangkat yang digunakan dalam perhitungan link
channel budget

t. Log Normal Shadow Fading nilai standar deviasi untuk log normal shadow
Deviation margin

u. Shadow Fading Margin for Data rugi-rugi yang diakibatkan dari fading
channel
36

v. Diversity Gain gain yang dapat dihasilkan karena menggunakan


sistem antena space diversity

w. Penetration Margin rugi-rugi dari margin

x. Other Gain nilai penguat yang diakibatkan dari perangkat lain

2.2.8.2 Karakteristik Perangkat Pengirim


Perangkat pengirim dalam teknologi LTE dikenal sebagai eNodeB.
Berfungsi mengirimkan sinyal dari eNodeB ke arah perangkat penerima User
Equipment. Sinyal yang dikirimkan ini disebut dengan Down Link (DL) signal dan
menerima sinyal balikan dari perangkat User Equipment. Sinyal balikan dari User
Equipment ini disebut Up Link (UL) sinyal. (Riyansyah , 2010)
Sedangkan perangkat penerima dalam teknologi mobile LTE dikenal
dengan istilah User Equipment. Perangkat ini berfungsi mengirimkan sinyal dari
UE ke arah eNodeB (UL Signal) dan menerima sinyal balikan dari perangkat
eNodeB (DL Signal)
Disamping sinyal pengirim dan penerima ada faktor lain dari sisi perngkat
yang mempengaruhi besarnya sinyal yang diterima yakni noise figure, thermal
noise, receiver SNR, uplink subchanellization gain, dan Distorsi (Suryadipta ,
2012)
a. Noise Figure adalah pengukuran dari degradasi Signal to Noiser Ratio
(SNR) dikarenakan komponen – komponen yang ada pada RF (Radio
Frequency) signal chain. Nilai ini biasa didapatkan dari membandingkan
sinyal noise keluaran dari perangkat.
b. Thermal Noise adalah noise yang timbul karena pengaruh suhu atau panas
terhadap frekuensi yang digunakan. Semua perangkat elektronik
menghasilkan pergerakan electron yang menimbulkan peningkatan suhu.
Suhu yang meningkat disebut juga kalor atau panas. Kalor atau panas yang
37

berlebihan akan berpengaruh terhadap kinerja komponen. Karena kalor


akibat peningkatan suhu tidak dapat di hilangkan maka hal tersebut dapat
diminimalisir dengan melakukan pengaturan power output yang tepat.
c. Receiver SNR (Signal to Noise Ratio), dimana nilai pada receiver SNR
sangat bergantung pada skema modulasi yang digunakan. LTE secara
adaptif akan memilih skema penggunaan bergantung dari kondisi dan
jarak dari penggunaan terhadap eNodeB atau BTS (Base Transceiver
Station).
d. Uplink Subchanneling Gain adalah penguatan yang terjadi di sisi uplink
dikarenakan adanya pengiriman data menggunakan semua sinyal cariier
secara simultan.
e. Distorsi dapat terjadi karena kontaminasi sinyal transmisi sehingga sinyal
yang diterima mengalami cacat atau rusak. Distorsi dapat disebabkan oleh
perangkat transmitter yang mengalami kerusakan maupun medium
perambatan yang berbeda – beda (misal menembus tembok, air,
penghalang dan lain sebagainya).

2.2.8.3 Propagasi Gelombang Radio


Pengetahuan tentang karakteristik propagasi radio merupakan
prasyarat dalam perencanaan untuk mendesain sistem komunikasi seluler.
Berbeda halnya dengan komunikasi tetap, bahwa profil lingkungan komunikasi
seluler sulit untuk diprediksi. Propagasi gelombang radio sangat ditentukan oleh
profil daerah, faktor benda-benda bergerak, sifat frekuensi radio, kecepatan MS
dan sumber-sumber interferensi.
Mekanisme propagasi sinyal diantara transmitter dan receiver adalah
bervariasi, tergantung pada profil daerah disekitar lingkungan komunikasi seluler.
Mekanisme propagasi sinyal ini mengakibatkan sinyal yang diterima Mobile
Station mengalami fluktuasi. Fluktuasi sinyal dapat terjadi dalam tiga mekanisme,
yaitu ; reflection, difraction dan hamburan atau scatter.
38

a. Reflection

Reflection atau pemantulan sinyal terjadi ketika sinyal yang merambat


membentur permukaan benda yang dimensinya relatif besar
dibandingkan panjang gelombang sinyal tersebut. Pemantulan sinyal
ini mengakibatkan sinyal mengalami redaman. Redaman sinyal akibat
reflection dipengaruhi oleh faktor- faktor seperti; frekuensi radio, sudut
sinyal memantul, sifat-sifat material dan ketebalan bidang permukaan
pantulan. Reflection dapat terjadi melalui permukaan bumi, bangunan
dan permukaan dinding.

b. Difraction

Difraction (pembelokan) atau difraksi terjadi ketika sinyal yang


merambat diantara transmitter dan receiver, dihalangi oleh sisi
permukaan yang tajam. Pembelokan sinyal dapat terjadi ke berbagai arah
yang bersumber dari sisi penghalang yang dilalui sinyal tersebut.
Gelombang sekunder yang dihasilkan dari permukaan penghalang dapat
mencapai ruangan dan bahkan belakang penghalang, sehingga
menyebabkan lenturan gelombang disekitar penghalang. Pada frekuensi
tinggi, difraksi bergantung pada geometri objek, amplitudo, fasa dan
polarisasi gelombang dimana titik terjadinya difraksi.

c. Scatter

Sinyal akan mengalami scatter atau hamburan ketika membentur


benda yang memiliki dimensi disekitar atau lebih kecil dari dimensi
panjang gelombang sinyal. Benda yang dapat menyebabkan hamburan
sinyal, seperti: dedaunan, kendaraan, tiang-tiang lampu, rambu-rambu
lalu lintas dijalan dan perabot dalam ruangan. Sinyal yang terhalangi
oleh benda-benda tersebut, tersebar menjadi beberapa sinyal yang lebih
lemah sehingga sinyal asli sulit diperkirakan. Kinerja sistem komunikasi
39

dipengaruhi oleh efek propagasi sinyal, sehingga efek propagasi sinyal


perlu dipertimbangkan dalam perencanaan. Bila sinyal yang langsung
diterima oleh receiver (mobile station) secara LOS (line of sight), maka
pengaruh difraction dan scatter merupakan masalah kecil, meskipun
reflection dapat berakibat besar. Bila sinyal diterima tidak ada LOS,
maka penerimaan sinyal terutama terjadi melalui difraction dan
scatter. Pada Gambar 2.12 memperlihatkan mekanisme propagasi radio
(scatter, reflection dan difraction).

Gambar 2.12 Mekanisme propagasi radio.


40

2.2.8.4 Faktor Geografis


Seperti yang telah disebutkan diatas selain pemilihan teknologi, faktor
geografis juga memiliki andil dalam menentukan cakupan dari LTE. Dengan luas
tertentu maka harus diperhitungkan berapa perangkat yang harus terpasang.
Gambar 2.13 merupakan wilayah Kota Denpasar dengan luas wilayah 127,98
km2 atau 127,98 Ha. Kota Denpasar merupakan kota dengan kepadatan penduduk
tertinggi di bali dan dengan tingkat mobilitas pengguna jaringan telekomunikasi
yang sangat tinggi. (Sumber, www.denpasarkota.go.id)

Gambar 2.13 Tampilan Geografis Kota Denpasar, Bali (Sumber : Google Earth)

Dari gambar 2.13 diatas melalui tampilan satelite pada google maps dapat
dilihat banyak terdapat gedung dan bangunan perumahan yang padat penduduk di
daerah kota Denpasar. Terdapat banyaknya gedung dan bangunan di wilayah kota
Denpasar secara otomatis akan banyak terdapat obstacle (Penghalang) yang
mempengaruhi perbedaan besarnya Nilai RSRP (Reference Signal Received
Power) di beberapa titik jarak atau bisa disebut dengan kuat sinyal pada sisi
penerima yang dipancarkan oleh eNodeB ke User Equipment pada jaringan LTE.
41

2.2.8.5 Model Propagasi


Jarak dan halangan antar eNodeB dengan User Equipment menimbulkan
berbagai redaman yang timbul karena berbagai faktor. Beberapa parameter lain
yang digunakan dalam perhitungan link budget adalah :
a. Implementation Loss adalah redaman yang muncul karena adanya error
yang tidak diharapkan saat proses instalasi berlangsung, baik itu muncul
dari perangkat atau faktor manusia sebagai pelaku implementasi
perangkat.
b. Interference margin adalah rugi – rugi akibat adanya interferensi co-
channel saat pengembangan jaringan dengan frekuensi re-use. Sebagai
dampaknya pelanggan yang berada di batas sektor akan mengalami
penurunan dalam kualitas koneksi. dan level sinyal penerima.
c. Penetration Loss adalah redaman yang muncul sebagai akibat adanya user
yang berada di dalam gedung. Saat perangkat UE digunakan di dalam
gedung maka kualitas sinyal akan berukurang.
d. Fade Margin adalah redaman yang muncul saat pengguna melintasi
rerimbunan pohon atau berada di daerah pantulan. Hal ini juga akan
berpengaruh pada kuat lemah sinyal yang diterima.

Pemilihan model propagasi didasarkan pada tipe daerah, ketinggian


antena, frekuensi yang digunakan dan beberapa parameter lainnya. Beberapa
model yang sering digunakan untuk memprediksi propagasi gelombang radio
beserta karakteristiknya adalah seperti dibawah ini :

1. Model Okumura, cocok untuk daerah urban dan sub-urban.


2. Model Hatta cocok untuk daerah urban, sub-urban dan rural, frekuensi
pembawa antara 150-1500 MHz.
3. Model Okumura-Hatta adalah pengembangan dari model Hatta dan
Okumura, cocok dengan frekuensi pembawa antara 150-1500 MHz, tinggi
42

antena 30-200 meter, tinggi mobile station 1-20 m dan jarak antara antena
dan mobile station 1-20 km.
4. Model Cost 231-Hatta adalah pengembangan dari Okumura-Hatta model
yang cocok untuk frekuensi carrier 1500-2000 MHz, tinggi 30-300 m.
5. Model W.C.Y. Lee adalah Model propagasi yang diturunkan dari data
eksperimen yang dilakukan dibeberapa kota besar didunia. Parameter
referensi yang digunakan yaitu pada frekuensi 900 MHz, pada tinggi
antenna 30,5 m, dengan daya transmisi 10 W.

Dengan model propagasi ini, akan didapatkan rugi-rugi lintasan antara


pengirim dan penerima. Parameter yang digunakan pada pengukuran model
propagasi seperti pada gambar 2.14.

hb
dm
ho
dm
hm
dm

do
d
Gambar 2.14 Parameter Model Propagasi

Parameter yang digunakan :

2.2.8.6 Model Propagasi Okumura-Hatta


43

(Alfin , 2014) Model propagasi ini merupakan pemodelan untuk luar


ruangan (outdoor), dan digunakan pada frekuensi 150 MHz sampai 1500 MHz.
Model propagasi Okumura – Hatta ini lebih tepat diaplikasikan untuk
perencanaan jaringan LTE dan persamaan nya sebagai berikut :

........…………………………………………………………...…(2.4)

Faktor koreksi untuk daerah perkotaan dengan luas daerah kecil dan menengah
menggunakan persamaan berikut :

.……………………………(2.5)

Sedangkan untuk daerah perkotaan yang memiliki luas daerah yang luas ,
menggunakan persamaan berikut :
………………..…(2.6)

………………....(2.7)

keterangan :

2.2.8.7 Model W.C.Y. Lee


44

Model propagasi Lee diturunkan dari data eksperimen yang dilakukan


dibeberapa kota besar didunia. Parameter referensi yang digunakan yaitu pada
frekuensi 900 MHz, pada tinggi antenna 30,5 m, dengan daya transmisi 10 W.
persamaan matematika model Lee ini diberikan berikut ini. (Wirasati , 2011)

Dengan :

Nilai dan diperoleh dari data eksperimen, yaitu seperti yang ditunjukkan oleh
tabel:
Tabel 2.11 Parameter Model Propagasi W.C.Y. Lee

Environment LO (dB)
Free space 91.3 20.0
Open (rural) 91.3 43.5
Suburban 104.0 38.0
Urban :
Tokyo 128.0 30.0
Philadelphia 112.8 36.8
Newark 106.3 43.1

(Sumber : Wirasati , 2011)


45

Sedangkan nilai FO diberikan oleh persamaan :

Dengan :

.................................................. (2.8)

........................................................... (2.9)

................................................ (2.10)

.............................................. (2.11)

........................................................... (2.12)